• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS DAN WEWENANG

C. Syarat Terjadinya Interaksi Sosial 1. Kontak Sosial

1. Interaksi di Arena Berlatih

3.1 Interaksi Sosial Antar Umat Beragama Organisasi Taekwondo Sibayak Club

Pelatih dan para atlet terdiri dari dua agama yaitu agama islam dan agama kristen. Agama yang memilikijumlah anggota yang lebih banyak adalah agama kristen. Para atlet yang beragama kristen merupakan jumlah anggota terbanyak dibandingkan dengan jumlah para atlet yang beragama islam. Jumlah anggota yang beragama islam yaitu berjumlah 10 orang termasuk pelatih, dan atlet yang beragama kristen berjumlah 137 orang termasuk pelatih. Para pelatih dan para atlet berinteraksi di Taekwondo Sibayak Club, mereka tidak memandang jumlah anggota agama kristen yang terbanyak dibandingkan jumlah anggota yang beragama islam, hal tersebut tidak menjadi penghalang untuk mereka membangun kebersamaan dan kekeluargaan di Organisasi Taekwondo Sibayak Club. Melihat latar belakang agama pelatih dan para atlet juga berbeda. Hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi pelatih dan para atlet mempunyai hubungan yang rukun dan harmonis.

Hubungan pelatih dan para atlet yang rukun dan harmonis merupakan dambaan setiap pelatih dan para atlet. Salah satu nilai universal yang dapat mewujudkan hubungan yang rukun dan harmonis adalah pelatih paham akan pentingnya hubungan yang rukun dan harmonis sehingga pelatih menanamkan nilai-nilai serta norma yang dibangun atas dasar toleransi melalui ikatan solidaritas yang dapat mengayomi dengan menghargai perbedaan agama di Organisasi Taekwondo Sibayak Club.

Dari pengamatan peneliti terhadap interaksi sosial antar umat beragama yang terjalin di Organisasi Taekwondo Sibayak Club yaitu mereka sangat memegang erat tali persaudaraan yaitu terjalinnya hubungan antar umat beragama yang dilandasi toleransi melalui ikatan solidaritas seperti saling pengertian, saling menghormati, saling menghargai, saling menolong, dan saling mengasihi dalam bingkai perbedaan agama yang dianut para pelatih dan para atlet. Pelatih membimbing para atlet melalui nilai budaya, nilai sosial, dan norma karena pandangan hidup para atlet mengandung dari nilai-nilai yang telah diberikan oleh pelatih kepada setiap individu para atlet bertujuan untuk mendukung para atlet berinteraksi dan mengatur cara berfikir para atlet untuk bertingkah laku menjadi pribadi yang lebih tearah dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Kondisi Interaksi Sosial Antar Umat Beragama di Organisasi Taekwondo Sibayak Club

Interaksi sosial antar umat beragama yang terjalin antara pelatih dan para atlet melalui aktivitas-aktivitas dan kegiatan-kegiatan antara pemeluk agama kristen dan agama islam sehingga membangun kebersamaan menjadi satu kelompok, tanpa membeda-bedakan agama yang dianut seperti dalam urusan pelaksanaan ibadah diantara pemeluk agama kristen dan agama islam. Para atlet mendapatkan hak yang sama yaitu hak dalam menjalankan ajaran agama mereka masing-masing tanpa adanya membeda-bedakan satu sama lain. Seperti para atlet yang beragama kristen, disaat para atlet beragama kristen melaksanakan ibadah gereja, para atlet yang beragama islam menghargai mereka yang beribadah gereja.

Contoh kegiatan lainnya seperti berdoa pada saat makan bersama , para atlet yang beragama kristen dan yang islam mereka berdoa dengan kepercayaan masing-masing. Mereka mengangkat tangan untuk berdoa sebelum makan dimulai dengan ajaran mereka masing-masing Kegiatan berdoa tersebut dipimpin oleh salah satu atlet yang beragama islam, para atlet beragama kristen menghargai doa yang dibawakan oleh atlet beragama islam. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa mereka dapat hak yang sama yaitu hak dalam menjalankan ajaran agama mereka masing-masing tanpa adanya membeda-bedakan agama satu sama lain.

Dalam pelaksanaan kegiatan hari raya masing-masing agama saling bersilaturahmi meskipun bukan memperingati hari raya agamanya. Para atlet saling mengunjungi dan saling berisilaturahmi ketika memperingati hari raya yang diperingati oleh agama islam maupun agama kristen. Para atlet juga memiliki kegiatan seperti berbagi takjil di bulan Ramadhan, yang diikuti semua para atlet Taekwondo Sibayak Club yang beragama kristen tanpa memandang agama yang menjalankan ajaran tersebut. Hal tersebut salah satunya bentuk dari saling pengertian para atlet yang beragama kristen untuk bekerja sama dalam kegiatan membagikan takjil kepada masyarakat luas tanpa memandang agama.

Dari aktivitas-aktivitas dan kegiatan para atlet diatas bahwa hal tersebut tidak lepas dengan adanya sikap toleransi yang berkembang di Organisasi Taekwondo Sibayak Club dalam hal perbedaan antar agama yang dianut pelatih dan para atlet. Sikap toleransi yang ada di Organisasi Taekwondo Sibayak Club diharapkan dapat menjadi contoh agar Taekwondo club lain mampu menerapkan

sikap toleransi antar umat beragama di club masing-masing agar terciptanya hubungan yang rukun dan harmonis sehingga dapat meminimalisir konflik.

Dalam interaksi sosial, konflik adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari namun dapat diminimalisir dengan cara memperbaiki bangunan interaksi sosial dalam suatu organisasi yaitu dengan adanya sikap toleransi, konflik dan perpecahan di Organisasi Taekwondo Sibayak Club dapat diminimalisir karena adanya peran pelatih dalam menanamkan nilai dan norma serta dapat pemantauan dari nilai-nilai dan norma tersebut. Hal tersebut sangat penting untuk diperhatikan mengingat para atlet mempunyai latar belakang perbedaan agama. Sikap toleransi patut ditanamkan demi menjaga keutuhan persaudaraan, tanpa memandang perbedaan.

Terbangunnya suatu interaksi sosial antara pelatih dan para atlet tidak selalu menimbulkan hasil yang positif seperti terbangunnya kerukunan dan keharmonisan, bahkan dengan adanya interaksi sosial pun dapat pula menimbulkan hal yang negatif seperti terjadinya perselishan yang berujung pada konflik. Sebuah interaksi sosial akan berujung pada konflik apabila antara pihak- pihak yang berinteraksi tidak saling memahami motivasi, tujuan dan makna tindakan yang mereka lakukan.

Konflik yang terjadi di Organisasi Taekwondo Sibayak Club tidak pernah menyangkut mengenai persoalan agama, namun konflik yang terjadi di Organisasi Taekwondo Sibayak Club seperti Interaksi mengarah kepada bentuk perselisihan atau konflik yang berwujud persaingan (competition), kontravensi (sikap menentang dengan tersembunyi), pertentangan berujung konflik.

Salah satu bentuk persaingan antar atlet yaitu adanya persaingan yang terjadi antar sesama atlet untuk bersaing mengikuti kejuaraan dalam perwakilan membawa nama Organisasi Taekwondo Sibayak Club di tingkat Daerah, Nasional, dan Internasional. Disini para atlet sama-sama berjuang dengan latihan bersungguh-sungguh, tetapi penentuan ikut atau tidaknya suatu pertandingan yaitu dalam kendali pelatih. Hal tersebut membuat para atlet yang tidak dipilih oleh pelatih dan merasa kecewa karena tidak bisa mengikuti pertandingan. Tetapi dalam bentuk persaingan tersebut, kekecewaan atlet yang tidak dipilih dalam mengikuti pertandingan tidak menjadikan hubungan pelatih antar atlet atau hubungan atlet antar atlet terpecah belah karena dalam prinsip atlet walaupun tidak terpilih mereka tetap berusaha latihan yang lebih keras lagi sehingga pelatih dapat memilih para atlet yang merasa kecewa karena tidak terpilih.

Sementara itu salah satu satu bentuk kontravensi ( sikap menentang dengan tersembunyi) yaitu seperti para atlet yang sedang latihan dengan program latihan yang dibawakan oleh salah satu asisten pelatih, para atlet menentang dengan tersembunyi karena program latihan yang dibawakan oleh asisten pelatih tidak sesuai dengan program latihan yang diba wakkan oleh pelatih seperti biasanya.

Tetapi para atlet ragu untuk mengungkapkan bahwasanya program latihan yang dibawakan oleh asisten pelatih tidak sesuai dengan program latihan yang dibawakkan pelatih oleh karena itu para atlet tidak ingin asisten pelatih merasa kecewa yang berujung konflik. Kemudian salah satu bentuk dari sikap pertentangan berujung konflik yang dimaksud dalam Organisasi Taekwondo

Sibayak Club yaitu pertentangan dalam sistem senioritas dan pertentangan karena menjalani hubungan (pacaran) berbeda agama.

Interaksi sosial yang mengarah kepada bentuk perselisihan atau konflik yang berwujud persaingan (competition), kontravensi (sikap menentang dengan tersembunyi), dan pertentangan berujung konflik. Konflik yang terjadi di Organisasi Taekwondo Sibayak Club adalah suatu konflik yang tidak dapat dihindari namun dapat diminimalisir dengan cara memperbaiki bangunan interaksi sosial dalam suatu organisasi yaitu dengan adanya sikap toleransi, konflik di Organisasi Taekwondo Sibayak Club bisa diminimalisir karena adanya peran pelatih dalam menanamkan nilai dan norma serta dapat pemantauan dari nilai-nilai dan norma tersebut.

Pelatih sangat berharap para atlet pemeluk agama di Organisasi Taekwondo Sibayak Club mampu memelihara sikap toleransi demi menjaga keutuhan persaudaraan. Sebagai sikap, toleransi merupakan sikap dan tindakan saling pengertian, saling meghormati, saling menghargai, saling mengasihi, dan saling tolong-menolong sehingga hubungan sosial antar umat beragama di Organisasi Taekwondo Sibayak rukun dan harmonis. Hal tersebut dapat diketahui berdasarkan hasil wawancara mengenai kondisi interaksi sosial antar umat beragama di Organisasi Taekwondo Sibayak Club yaitu dengan pendapat para informan sebagai berikut:

Berikut penjelasan serta pendapat para informan yaitu “pelatih dan para atlet” mengenai kondisi interaksi sosial antar umat beragama yang terjalin antara pelatih dengan pelatih, antara pelatih dengan atlet, dan antara atlet dengan atlet di Organisasi Taekwondo Sibayak Club, yaitu sebagai berikut: