• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS DAN WEWENANG

C. Syarat Terjadinya Interaksi Sosial 1. Kontak Sosial

1. Proses-proses Asosiatif a. Kerja Sama (Cooperation)

Kerja sama merupakan bentuk interaksi sosial yang pokok dan kerja sama merupakan proses utama dari segala bentuk-bentuk interaksi sosial. Kerja sama yang dimaksud ialah sebagai salah suatu usaha para atlet untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Di dalam kehidupan para atlet sejak kecil sudah ditanamkan oleh setiap keluarga ke dalam jiwa para atlet yaitu merupakan suatu pandangan hidup bahwa seseorang tidak mungkin hidup sendiri tanpa adanya

kerja sama antar umat beragama. Pandangan hidup demikian ditingkatkan dalam taraf para atlet sehingga kerja sama sering kali diterapkan untuk menyelenggarakan suatu kepentingan di Organisasi Taekwondo Sibayak Club.

Dalam taraf ini kerja sama sering kali diterapkan untuk menyelenggarakan suatu kepentingan para atlet sehingga dapat dikatakan dari bentuk kerja sama merupakan unsur sistem nilai- nilai budaya dan nilai-nilai sosial yang menyadari bahwa para atlet mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap individu para atlet untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut; Kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta yang penting dalam kerja sama yang berguna, Kerja sama yang dimaksud ialah sebagai berikut:

1. Kerja Sama dalam membantu Rekan Atlet dalam Mengikuti Pertandingan Kerja sama para atlet dalam membantu salah satu rekan atlet yang sedang

mengikuti pertandingan, tindakan tersebut menunjukkan bahwa para atlet merupakan makhluk sosial yang tidak lepas dari bantuan para atlet lainnya, sehingga para atlet akan secara spontan ikut andil dalam membantu individu yang sedang mengikuti pertandingan. Proses ini biasanya bekerja sama tanpa disadari dan dilakukan oleh semua para atlet. Seperti yang dijelaskan oleh Ahmadi (1997:

25), bahwa di dalam hubungan antar manusia dengan manusia lain, yang penting ialah reaksi sebagai akibat dari hubungan interaksi.

Reaksi ini yang menyebabkan hubungan antar para atlet bertambah luas, misalnya dalam suatu pertandingan Taekwondo harus membutuhkan bantuan para atlet lainnya, karena dalam suatu pertandingan memerlukan persiapan untuk memakai perlengkapan pengaman diri. Memakai perlengkapan tersebut tidaklah mudah untuk dilakukan seorang diri pasti membutuhkan tenaga para atlet lainnya.

Peristiwa tersebut pasti memerlukan reaksi berupa bantuan dari para atlet lain guna untuk mendorong suatu tindakan selanjutnya.

Di dalam memberikan reaksi tersebut maka muncullah hubungan timbal balik yaitu aksi dan reaksi. Hal ini harus membutuhkan bantuan para atlet lainnya, karena dalam suatu pertandingan butuh persiapan untuk memakai perlengkapan pengaman diri. Memakai perlengkapan tersebut tidaklah mudah untuk dilakukan seorang diri pasti membutuhkan tenaga para atlet lainnya. Jadi, dalam bertanding sangat penting dalam bekerja sama dalam untuk membantu rekan atlet yang sedang bertanding.

Foto 09. Kerja Sama membantu Rekan Atlet dalam Mengikuti Pertandingan Sumber: Dokumentasi Pribadi

2. Kerja Sama Gotong Royong (membersihkan lingkungan tempat latihan)

Para pelatih menanamkan nilai kebudayaan yang mengarahkan dan mendorong terjadinya kerja sama berupa “gotong royong” yang diwajibkan harus dilakukan kepada para atlet sebelum dimulainya latihan rutin. Penanaman nilai seperti inilah pelatih membiasakan para atlet menjadi pribadi yang disiplin dengan dimulai dari hal terkecil yaitu mengutip sampah sebelum latihan dimulai.

Dipandang dari sudut itu, maka system pengetahuan lah yang berkembang ke dalam suatu kebudayaan yaitu seperti mengutip sampah di lingkungan ditempat latihan.

Foto 10. Membersihkan lingkungan Tempat Latihan Sumber: Dokumentasi Pribadi

3. Kerja Sama (Berbagi Takjil di Bulan Ramadhan)

Kerukunan dan keharmonisan hidup beragama adalah suatu kondisi sosial dimana semua golongan agama bisa hidup bersama-sama tanpa mengurangi hak dasar masing-masing untuk melaksanakan agamanya. Masing-masing pelatih dan para atlet hidup sebagai pemeluk agama yang baik dalam keadaan rukun dan harmonis. Pelatih dan para atlet yang beragama islam dan agama kristen bekerja sama dalam mengadakan kegiatan berbagi takjil, bentuk kerja sama pelatih dan

para atlet yaitu pelatih bertugas memesan kue kepada pedagang kue, dan tugas para atlet mengambil kue ke pedagang tersebut dan mempersiapkan kue tersebut di dalam suatu kotak untuk di bagikan kepada masyarakat luas. Berbagi takjil salah satu bentuk dari kerukunan dan keharmonisan pelatih dan para atlet yang berpegang kepada prinsip masing-masing agama menjadikan pelatih dan para atlet sebagai golongan terbuka, sehingga memungkinkan dan memudahkan untuk saling berhubungan. Jika pelatih dan para atlet telah berhubungan dengan baik dengan antar umat beragama, akan terbuka kemungkinan untuk mengembangkan hubungan dalam berbagai bentuk kerja sama seperti kerja sama dalam membagikan takjil di bulan Ramadhan.

Foto 11. Para Atlet berbagi takjil di bulan ramadhan Sumber: Dokumentasi Pribadi

b. Akomodasi (Accomodation)

Akomodasi menunjuk pada suatu keadaan dan menunjuk pada suatu proses.

Akomodasi yang menunjuk pada suatu keadaan,berarti adanya suatu keseimbangan (equilibrum) dalam interaksi antara orang-perorangan atau

kelompok-kelompok para atlet Taekwondo Sibayak Club. Hal tersebut berkaitan dengan nilai-nilai budaya dan nilai-nilai sosial serta norma-norma sosial yang berlaku di Organisasi Taekwondo Sibayak Club. Sebagai suatu proses akomodasi menunjuk pada usaha-usaha para atlet untuk meredakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha untuk mencapai kestabilan dalam diri para atlet.

c. Asimilasi (Assimilation)

Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Asimilasi ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok para atlet dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan bersama. Apabila para atlet melakukan asimilasi di Organisasi Taekwondo Sibayak Club atlet tidak lagi membedakan dirinya dengan kelompok tersebut yang mengakibatkan bahwa mereka dianggap sebagai orang asing. Dalam proses asimilasi, para atlet mengidentifikasikan dirinya dengan kepentingan-kepentingan serta tujuan-tujuan kelompok. Apabila para pelatih mengadakan asimilasi,batas- batas antara kelompok yang berbeda agama akan hilang dan keduanya lebur menjadi satu kelompok.

Foto 12. Asimilasi Sumber: Dokumentasi Pribadi

Dari gambar diatas, para atlet dan pelatih makan bersama-sama serta minum bersama-sama tanpa ada merasakan perbedaan yang dialami oleh mereka di dalam suatu organisasi. Serta tidak adanya fanatisme bagi salah satu agama khusunya bagi para atlet yang beragama islam. Contoh: Para atlet yang muslim tidak ada kata

“jijik” untuk memakan atau meminum satu mulut dengan yang beragama krsiten.

Karena sudah percaya bahwasannya sikap toleransi yang ditanamkan oleh pelatih melunturkan hal ketakutan untuk memakan dan meminum satu mulut dengan yang beragama kristen tersebut. Sikap toleransi terhadap suatu kelompok sosial dengan kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan sendiri hanya mungkin tercapai dalam suatu akomodasi. Apabila toleransi tersebut mendorong terjadinya komunikasi, faktor tersebut mempercepat asimilasi.