• Tidak ada hasil yang ditemukan

Interaksi Sosial Antara Etnis Batak Toba dengan Etnis Mandailing

KEHIDUPAN MASYARAKAT BATAK TOBA DI LUMBAN PINASA TAHUN 1916-2010

4.1 Interaksi Sosial Antara Etnis Batak Toba dengan Etnis Mandailing

Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup sendiri, tetapi saling berhubungan dengan manusia lain. Manusia membutuhkan peran orang lain dimanapun dan kapanpun menusia akan senantiasa memerlukan kerja sama dengan orang lain. Dengan saling terhubung dengan orang lain maka akan terjadi interaksi satu sama lain. Proses sosial tersebut merupakan interaksi timbal balik yang saling mempengaruhi antara manusia yang satu dengan lainnya dan hubungan ini berlangsung seumur hidup di masyarakat.

Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang berkaitan antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok.

Jika tidak ada interaksi sosial maka tidak akan kehidupan bersama, setiap kelompok tidak akan bisa hidup perdampingan dengan kelompok lain, individu dengan individu tidak akan pernah berkumpul menjadi kelompok. Hal tersebut juga yang terjadi dengan masyarakat Batak Toba dengan Mandailing, mereka tidak akan bisa tinggal berdampingan satu sama lain jika tidak ada interaksi sosial antara keduanya.

Menurut Soerjono Soekanto interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorang, antara orang dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok. Interaksi sosial terjadi apabila

52

adanya kontak sosial: merupakan awal terjadinya interaksi sosial diaman masing-masing pelaku saling bereaksi mesi tidak bersentuhan langsung. Selain kontak sosial, komunikasi juga mejadi syarat terjadinya interaksi sosial. Komunikasi: proses penyampaian dan penerimaan pesan dari satu pihak kepada pihak lainnya. Ciri-ciri interaksi sosial dilihat dari pelakunya berjumlah lebih dari satu orang, adanya komunikasi antar pelaku, adanya dimensi waktu, dan dengan tujuan-tujuan tertentu.

Batak Toba sebagai masyarakat yang datang ke daerah baru senantiasa membutuhkan etnis Mandailing sebagai masyarakat yang ada di Lumban Pinasa. Jika pada saat pertama kali masyarakat Batak Toba sampai ke Bonan Dolok memiliki sifat yang kasar dan tidak melakukan pendekatan maka Lumban Pinasa tidak akan ada hari ini. Karena sifat yang baik dan melakukan pendekatan melalui interaksi sosial membuat raja Bonan Dolok memberikan tanah kepada masyarakat Batak Toba untuk mendirikan perkampungan mereka sendiri dan yang sekarang di kenal dengan Lumban Pinasa.

Dalam lingkungan yang baru, sebuah komunitas yang baru dengan sendirinya akan melakukan proses penyesuaian, baik itu secara kultur maupun dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini merupakan keharusan alam untuk menghindari konflik antara komunitas yang satu dengan komunitas lainnya. Proses penyesuaian ini dengan

53

segala bentuk trasformasi sosial menjadikan berbagai komunitas masyrakat tersebut yang dapat saling memahami dan menerima.32

Interaksi sosial yang umum terjadi dalam masyarakat adalah gotong royong.

Gotong royong atau bekerja bersama-sama mengeratkan hubungan kekeluargaan dalam masyarakat. Gotong royong dalam pembuatan fasilitas umum, gotong royong saat terdapat pesta adat dan lainnya. Selain gotong royong, toleransi juga merupakan bentuk dari interaksi sosial. Teloransi dalam kehidupan antar umat beragama, hidup berdampingan dengan damai. Interaksi sosial dalam pernikahan antara dua orang yang berbeda etnis dan ras.

Merujuk pada penjelasan diatas masyarakat Batak Toba dan Mandailing melakukan interasi sosial antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lain. Masyarakat Batak Toba dan Mandailing berkomunikasi antar pihak satu sama lain dan memilki tujuan-tujuan tertentu dengan proses penyampain dan penerimaan pesan antar satu pihak dengan pihak lainnya yang dimana hal tersebut sudah memenuhi syarat kontak sosial dan komunikasi.

Interaksi sosial yang terjadi antara masyarakat Batak Toba dengan masyarakat Mandailing, seperti:

a. Gotong Royong

Gotong royong yang dilakukan keduanya seperti pembangunan jalan umum menuju ladang persawahan dan perkebunan yang dilewati bersama,

32 Edyta Sianturi, “Masyarakat Batak Toba di Desa Serdang Kecamatan Beringin Kabupaten Deli Serdang (1954-1990)”, Skiripsi S1, belum diterbitkan, Medan: Prodi Ilmu Sejarah FIB USU, 2014, hal. 33.

54

pembangunan irigasi air untuk persawahan, saling membantu dalam bertani, yang biasa disebut Marsiadapari. Marsiadapari adalah salah satu contoh gotong royong yang terjadi antara Batak Toba dan Mandailing.

Lahan pertanian etnis Batak Toba di Lumban Pinasa berbatasan langsung dengan lahan milik etnis Mandailing di Bonan Dolok. Maka tidak mengherankan bahwa mereka akan saling membantu jika sedang masa menanam padi dan masuk pada musim panen.

b. Toleransi

Toleransi beragama merupakan salah satu pengamalan dari pancasila yaitu sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan harus diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Toleransi dalam kehidupan antar umat beragama dan hidup berdampingan dengan damai merupakan suatu hubungan yang indah. Sikap saling menghormati dan menghargai antar penganut agama, tidak memaksakan kehendak orang lain untuk menganut agama kita, tidak mencela atau menghina agama yang berbeda dengan kita dan tidak mengganggu umat agama lain untuk malakukan ibadah. Di Kecamatan Siabu khususnya di Lumban Pinasa dengan Bonan Dolok ataupun dengan Simangambat tidak pernah terjadi konflik antar umat beragama. Masyarakat Batak Toba dengan dominasi agama Kristen Protestan dan masyarakat Mandailing yang beragama Islam hidup berdampingan dengan damai selama bertahun-tahun dan tidak mengusik kepercayaan orang lain.

55 c. Pernikahan antar etnis

Pernikahan antar etnis Batak Toba dan Mandailing sering terjadi di Lumban Pinasa. Dalam pernikahan yang menyangkut kedua etnis ini akan di bicakan terlebih dahulu adat siapa yang akan digunakan dan siapa yang akan melakukan perpindahan agama. Kebiasaan yang terjadi adalah akan mengikuti darimana pihak laki-laki berasal. Jika pihak laki-laki berasal dari etnis Batak toba beragama Kristen Protestan Pihak perempuan akan mengikuti adat dan agama pihak laki-laki dan begitu juga sebaliknya, jika pihak laki-laki berasal dari etnis Mandailing dan beragama maka pihak perempuan akan mengikuti adat dan agama pihak laki-laki. Tapi ada juga yang melangsungkan pernikahan dengan kedua adat tersebut dan tidak ada satupun dari pihak laki-laki atau perempuan yang berpindah agama.

Pada pesta pekawinan mereka akan saling mengundang dan membantu satu sama lain, seperti menyiapkan hidangan untuk pesta dan pekerjaan lainnya. Jika yang mengadakan pesta adalah masyarakat Batak Toba yang mana menganut agama Kristen Protestan maka pihak yang mengadakan pesta akan secara khusus menyediakan hidangan yang bisa di makan oleh etnis Mandailing. Dalam memasak hidangan juga dilakukan oleh masyarakat Mandailing sendiri karena dengan kesadaran masyarakat Batak Toba bahwa etnis Mandailing yang beragama Islam

56

tidak bisa memakan makanan mereka. Biasanya penyedia pesta akan menyiapkan Itik atau kambing sebagai hidangan daging untuk etnis Mandailing.33

Tetapi perlakuan tersebut tidak berlaku jika yang mengadakan pesta adalah ernis Mandailing. Makanan yang disediakan untuk semua tamu sama tanpa ada perbedaan. Hal tersebut bukanlah menjadi masalah karena etnis Batak Toba tidak keberatan dengan hidangan yang akan mereka dapatkan.34

Di masa yang sudah serba mudah ini, kegiatan tersebut hanya akan dijumpai pada beberapa pesta perkawinan saja. Sekarang masyarakat lebih memilih menggunakan jasa catering untuk mempersingkat waktu dan menghemat tenaga.

Padahal kegiatan tersebut merupakan bentuk hubungan toleransi yang indah, dengan mengerti satu sama lain di antara kedua etnis tersebut. Bukan hanya itu, kegiatan tersebut merupakan budaya yang melibatkan kedua etnis dan terjadi interaksi sosial seperti adanya kontak sosial dan komunikasi sosial yang baik.

Selain di pesta perkawinan terdapat juga melayat saat terjadi kemalangan.

Kedua etnis ini akan saling melayat satu samalain juga terdapat kemalangan seperti kematian. Hubungan masyarakat yang baik akan menciptakan kehidupan yang baik juga. Hidup berdampingan bertahun-tahun dengan menjunjung gotong royong dan toleransi menjadikan terjadinya sedikit gesekan dalam masyarakat seperti konflik, konflik akan tetap terjadi di dalam kehidupan tetapi dengan tingkat yang berbeda dan

33 Wawancara Wilper Gultom, tanggal 10 Maret 2020 di Lumban Pinasa

34 Wawancara Hotnida Siregar, tanggal 9 Maret 2020 di Sihepeng

57

denga penyelesain ycang tepat konflik tidak akan berkepanjangan dan tidak menciptakan dendam.