• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konflik Antara Etnis Batak Toba dengan Etnis Mandailing

KEHIDUPAN MASYARAKAT BATAK TOBA DI LUMBAN PINASA TAHUN 1916-2010

4.2 Konflik Antara Etnis Batak Toba dengan Etnis Mandailing

Masyarakat terdiri dari individu-individu yang membentuk kelompok dan memiliki pandangan yang berbeda-beda. Perbedaan pendapat dalam suatu masyarakat sangat wajar terjadi karena tidak samanya pola pikir dari setiap individu. Karena itu, tidak jarang terjadi gesekan di dalam masyarakat yang menyebabkan terjadinya konflik. Konflik merupakan gejala sosial yang hadir dalam kehidupan, bersifat inheren yang artinya konflik akan terjadi dalam setiap ruang dan waktu, kapan saja dan dimana saja.

Dalam pengertian lain, konflik adalah suatu proses sosial yang berlangsung dengan melibatkan orang-orang atau kelompok yang saling menentang dengan ancaman kekerasan.35 Konflik identik dengan kekerasan dan perdamain. Maka, setiap konflik tidak hanya diakhiri dengan kekerasan dan peperangan tetapi juga bisa berakhir dengan perdamain dan dapat diselesaikan. Perdamaian ini dapat dicapai jika kedua belah pihak yang terlibat konflik saling pengertian, memahami dan tidak mementingkan pihak sendiri.

Konflik bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Terlebih di satu daerah yang dihuni oleh dua kelompok masyarakat yang memiliki perbedaan suku, agama, dan

35 J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, Jakarta:

Kencana Prenada Media Group, 2005, hal. 68.

58

ras. Hal tersebut merupakan fakror penyebab konflik yaitu kemajemukan horizontal yaitu struktur majemuk masyarakat. Selain itu, terdapat juga kemajemukan vertikal yang merupakan struktur majemuk masyarakat yang terpolarisasi, seperti perbedaan kekayaan, jabatan, dan status sosial.

Sama seperti kelompok masyarakat lainnya konflik bisa terjadi pada masyarakat Batak Toba di Lumba Pinasa dengan masyarakat Mandailing di Bonan Dolok. Konflik tersebut tidak sampai menimbulkan kekerasan antara kedua etnis, tidak sampai menimbulkan dendam pada setiap kelompok. Hal tersebut terjadi karena pengertian dan penyelesain antara keduanya. Masyarakat Batak Toba yang merupakan pendatang ke Lumban Pinasa memiliki pengertian terhadap keberatan yang diajukan oleh masyarakat Mandailing yang merupakan warga setempat.36

Perbedaan budaya menjadi penyebabnya, menurut masyarakat Batak Toba memilihara babi termasuk adat atau ternak adat terpenting. Tidak ada peristiwa upacara adat tanpa hidangan babi didalamnya. Bukan hanya untuk lauk pauk pesta, tetapi juga untuk keperluan penegasan posisi sosial didalam etnis Batak Toba melalui pembagian “jambar juhut”. Jambar juhut adalah bagian-bagian tertentu dari tubuh babi yang diberikan tuan rumah kepada kerabatnya pada saat pesta yaitu, hula-hula, dongan tubu, dan boru.

Pembagian Jambar juhut ini tidak sembarangan, tidak boleh salah karena hal tersebut menyangkut kehormatan dan pengakuan pada penegasan posisi sosial di

36 Wawancara Tiopan Gultom, tanggal 9 Maret 2020 di Lumban Pinasa.

59

dalam etnis Batak Toba. Bagian untuk hula-hula adalah kepala atas (namarngingi), dan rusuk/iga (somba-somba), untuk boru adalah bagian rahang bawah (isang) dan dongan tubu adalah bagian paha (soit). Dengan melihat pembagian jambar juhut dalam acara adat Batak Toba kita akan tahu siapa tuan rumah, hula-hula, boru, dan dongan tubu.

Babi juga sangat penting dalam ekonomi masyarakat Batak Toba. memelihara babi tidak hanya untu dimakan tetapi juga diternakkan dan dijual. Terdapat pendapat etnis Batak Toba yang mengatakan “anak Batak disekolahkan babi” karena lazimnya babi dijual untuk biaya sekolah anak. Jika pemeliharaan babi dilakukan baik dan menghasilkan ternak yang besar dan sehat akan menjadi tabungan bagi pemelihara dan jika dijial akan mendapat uang yang cukup besar dan bisa memenuhi keperluan hidup keluarga.

Pemeliharaan babi yang di lakukan etnis Batak Toba di Lumban Pinasa membuat masyarakat Mandailing keberatan. Babi yang dipelihara oleh etnis Batak Toba tidak di kandangkan dan dibiarkan liar ke pemukiman masyarakat. Hal tersebut yang membuat masyarakat Mandailing tidak suka dan protes terhadap masyarakat Batak Toba. Selain faktor ketidaknyamanan yang dirasakan oleh masyarakat Mandailing tetapi diikuti juga karena babi merupakan hewan yang haram di dalam hukum islam.

Dampaknya bukan hanya masyarakat Mandailing di sekitar Lumban Pinasa tidak setuju bahwa masyarakat Batak Toba memelihara dan membiarkan ternak babi mereka berkeliaran tetapi juga tidak boleh memelihara babi walaupun sudah

60

diternakkan dengan baik didalam perkampungan Batak Toba sendiri. Konflik tersebut di namai sebagai Porang Babi atau perang babi bagi kedua masyarakat yang terjadi pada awal tahun 2000-an.37

37 Wawancara Timbul Nasution, tanggal 9 Maret di Sihepeng.

61 BAB V KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan

Etnis Batak Toba adalah salah satu etnis yang ada di Sumatera Utara. Etnis ini mendiami daerah Tapanuli bagian Utara di dataran tinggi Toba. Etnis Batak Toba merupakan etnis yang sangat menjungjung tinggi Dalihan Na Tolu dan memiliki cita-cita 3H (Hamoraon, Hasangapon, Hagabeon). Untuk menggapai cita-cita-cita-citanya mereka rela migrasi dari dataran tinggi Toba yang merupakan kampung kelahirannya.

Melakukan migrasi untuk memiliki hidup yang layak, membuka perkampungan baru maupun menempati kampung yang memiliki penghuni dengan melakukan pendekatan dengan masyarakat setempat.

Etnis Batak Toba bermigrasi kedaerah lain disekitarnya, seperti ke Dairi, Simalungun dan Tapanuli Selatan. Perpindahan dimulai dari awal tahun 1900-an setelah Kolonial Belanda dan Zending mulai masuk ke dataran tinggi Toba. Salah satu penyebab migrasi adalah kurangnya lahan dan semakin banyaknya angka kelahiran. Lahan tidak lagi cukup untuk masyarakat Batak Toba yang ingin membuka pertanian atau membuat permukiman. Tujuan migrasi adalah untuk mencari lahan yang lebih luas baik untuk pertanian maupun permukiman.

Lumban Pinasa yang berada di daerah Tapanuli selatan menjadi salah satu tujuannya. Batak Toba tinggal dan bertani di Lumban Pinasa yang dulu merupakan bagian Bonan Dolok. Setelah raja kampung memberikan tanah bagi etnis Batak Toba mereka mendirikan perkampungan pada tahun 1916. Mulai mengajak sanak saudara

62

untuk datang dan tinggal bersama disana. Mendirikan gereja manonith sebagai tempat untuk beribadah bersama.

Lumban Pinasa memiliki lahan yang di harapkan oleh etnis Batak Toba.

bukan hanya permukiman saja tetapi juga lahan pertanian yang menjadi mata pencaharian mereka. Lumban Pinasa menjadi tempat bagi etnis Batak Toba untuk tinggal Hidup berdampingan dengan kelompok etnis yang berbeda tidak membuat etnis lupa pada budayanya sendiri, dan tetap menghargai budaya kelompok lain.

Menjadi kelompok pendatang yang jelas jumlahnya kalah dengan masyarakat setempat tetap saja mengalami kesulitan. Tidak diperbolehkannya etnis Batak Toba memelihara babi mempersulit mereka dalam ekonomi.

Interaksi antara etnis Batak Toba dan etnis Mandailing terjalin dengan baik.

Walaupun terdapat streotip yang dilakukan oleh etnis Mandailing terhadap etnis Batak Toba, tetapi tidak pernah terjadi konflik yang berarti. Kehidupan kedua etnis ini berjalan baik-baik saja dimulai dari mereka melakukan migrasi di tahun 1912 sampai hari ini. Melakukan budaya masing-masing dan menghargai satu sama lain.

Toleransi beragama juga terlihat antara kedua etnis ini.

Kehidupan bermasyarakat yang baik dapat tercapai jika setiap kelompok satu sama lain dalam bermasyarakat tidak saling mengganggu dan menjungjung tinggi gotong royong dan rasa tolerasi. Masyarakat Batak toba dan masayarakat Mandailing yang hidup berdampingan bukan tidak memiliki konflik satu sama lain, tetapi dengan saling mengerti dan mendapat penyelesaian yang sesuai menjadikan konflik yang ada tidak berlarut-larut.

63 5.2 Saran

Saran yanng dapat penulis rekomendasikan dalam penelitian ini adalah diharapkan litelatur dan data disimpan dengan baik oleh pemerintah Lumban Pinasa, karena bisa menjadi sebagai bahan acuan dalam penelitian berikutnya. Diharapkan pelestarian nilai-nilai budaya antara kedua suku bisa berjalan dengan baik tanpa menghilangkan keunikan masing-masing etnis. Diharapkan kehidupan yang harmonis dan toleransi yang dijunjung antara kedua etnis Batak Toba dan etnis Mandailing terus berlanjut dimasa depan.

64