BAB II. KAJIAN PUSTAKA
D. Interaksi Sosial pada Korban Child Abuse
Dari latar belakang dan uraian sebelumnya, tampak bahwa menjalin interaksi sosial merupakan tugas perkembangan yang penting yang harus dilakukan oleh individu pada tahap perkembangan masa kanak-kanak. Setiap tahap perkembangan yang dialami oleh individu memiliki tugas perkembangan masing-masing yang harus dipenuhi oleh individu tersebut sesuai dengan harapan masyarakat. Kegagalan dalam pelaksanaannya akan mengakibatkan pola perilaku yang tidak matang, sehingga sulit diterima oleh kelompok teman-temannya dan tidak mampu menyamai teman-teman sebaya yang sudah menguasai tugas-tugas perkembangan tersebut. Contoh tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh anak-anak pada masa akhir kanak-kanaknya, yaitu belajar kemampuan-kemampuan fisik yang diperlukan agar bisa melaksanakan permainan atau olahraga yang biasa dan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik adalah ketegangan emosional; belajar bergaul dengan teman-teman seumurnya. Dalam hal ini, keluarga dan teman sebaya merupakan agen penting dalam sosialisasi (Hurlock, 1980).
Pergaulan dengan teman sebaya atau sosialisasi sangat penting sebab interaksi anak dengan teman sebaya memberikan kesempatan untuk membagikan pengalaman, bekerja sama, mencapai tujuan, memperoleh kebebasan pribadi serta membentuk sikap-sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan institusi. Anak diharapkan mampu belajar bergaul dengan teman-teman seumurnya sehingga ia mampu membentuk sikap-sikap terhadap kelompok sosial dan mengasah intuisinya. Selain itu, anak juga berhak memperoleh kebebasan pribadi dalam hidupnya.
Dalam kasus child abuse atau tindak kekerasan terhadap anak, interaksi sosial anak banyak mengalami hambatan. Child abuse atau tindak kekerasan terhadap anak khususnya dalam keluarga adalah segala bentuk perbuatan yang tidak mencerminkan kasih sayang terhadap anak, sehingga dapat menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan anak, baik secara fisik, seksual maupun secara psikologis yang dapat mengganggu perkembangan anak. Dalam setiap kasus kekerasan, kebebasan seorang anak dapat terenggut oleh tindak kekerasan yang seringkali dilakukan oleh orang terdekatnya.
Singgih (1980) mengungkapkan bahwa anak usia 6-11 tahun merupakan usia kritis baik menyangkut masalah psikologis, fisik maupun sosial. Tindak kekerasan dapat mengganggu interaksi sosialnya dikemudian hari. Erikson (dalam Hall&Lindzay, 1993) menganggap pada tahun-tahun pertama kehidupan anak, penting untuk ditanamkan dasar mempercayai orang lain. Anak yang tidak mengalami dan memperoleh kasih sayang dan kepuasan dari kebutuhan akan mengalami kegagalan dalam mengembangkan
kepercayaan kepada orang lain dan oleh karena itu akan terganggulah hubungan sosialnya di kemudian hari. Sears mengemukakan bahwa tingkah laku yang ditunjukkan anak adalah hasil hubungannya dengan lingkungan sosial yang langsung di mana anak dibesarkan. Dalam hal ini peranan dan cara orang tua memperlihatkan sikap dan pola dalam pengasuhan anak penting sekali.
Menurut Azar dan Twentyman serta Ney, Fung dan Wickett (Alloy et al.; dalam Sukamto, 2000) salah satu efek dari terganggunya interaksi sosial seorang anak adalah perasaan tertekan yang disebabkan oleh kebebasan pribadi yang tidak dimiliki akibat tindak kekerasan yang dialaminya. Hal tersebut dapat mengakibatkan ketegangan, kecemasan, depresi, dan timbulnya rasa takut dan malu yang kemudian akan mempengaruhi interaksi sosialnya.
Pasaribu (1984) berpendapat bahwa interaksi sosial dapat terjadi jika memenuhi dua aspek yaitu kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial yang berarti predisposisi sikap yang menunjukkan kesediaan atau keinginan yang kuat yang dapat dikontrol oleh individu untuk berhubungan dengan orang lain misalnya pada saat bertemu dengan individu lain. Dalam kasus kekerasan terhadap anak, dampak pada korban dapat berupa penolakan anak untuk berbicara di depan orang tua atau pengasuh yang melakukan kekerasan, perasaan malu dan penarikan diri sehingga menimbulkan permasalahan dalam sosialisasi karena terhambatnya proses terjadinya kontak sosial. Selain itu, korban kekerasan sulit mengembangkan hubungan yang sehat karena kekejaman yang ia terima menurunkan kompetensi sosial dan membatasi
kemampuan dalam menunjukkan simpati serta berempati yang juga dapat menghambat terjadinya kontak sosial antara anak dengan orang lain. Hal tersebut juga dapat dipengaruhi oleh faktor internal yaitu proses kognitif dari dalam diri anak itu sendiri berupa ingatan tentang masa lalunya yang dapat menimbulkan kecemasan dan ketakutan terhadap kehadiran orang lain. Hal tersebut tentunya dapat menimbulkan hambatan pada terjalinnya kontak antara anak dengan orang lain.
Selain kontak sosial yang terhambat, komunikasi yang seharusnya dapat terjalin untuk dapat mewujudkan interaksi sosial juga dapat mengalami hambatan. Komunikasi merupakan proses penerimaan tanda/ pesan untuk dapat mengerti pandangan atau sikap, pikiran orang lain yang berinteraksi sosial, sebab interaksi merupakan kelanjutan dari kontak sosial yang sebagian besar ditentukan interpretasi masing-masing pihak melalui komunikasi yang terjadi baik secara verbal maupun nonverbal. Anak yang mengalami penyiksaan memperlihatkan keterlambatan perkembangan, sehingga dapat menimbulkan perilaku yang tidak diterima secara sosial misalnya penyesuaian yang tidak baik. Tindak kekerasan diterima oleh anak dapat menimbulkan rasa takut dan malu untuk berbicara pada orang lain. Implikasinya dapat berupa perubahan perilaku yang ekstrim, misalnya membuat kekacauan di kelas atau melakukan agresivitas. Masalah yang sering muncul adalah kelekatan dengan teman yang disertai rasa tidak aman, sulit mempercayai orang lain, sering mengalami konflik, dan juga dapat menimbulkan ketakutan akan intimitas. Berbagai masalah tersebut akan mempengaruhi kemampuan anak dalam
berkomunikasi dengan orang lain karena anak kesulitan dalam mengembangkan rasa aman dan kepercayaan yang ikut berpengaruh dalam proses pertukaran pesan (komunikasi).
Gambar 2.1 Skema terhambatnya interaksi sosial anak korban child abuse
Child abuse: anak
mendapat perlakuan kekerasan
Dampak tindak kekerasan :
1. Mempengaruhi kesejahteraan psikologis anak 2. Kebebasan pribadi terenggut
3. Gagal mengembangkan kepercayaan yang menimbulkan perasaan tertekan
4. Keterlambatan perkembangan
Hal-hal tersebut dapat menimbulkan : 1. Ketegangan
2. Kecemasan 3. Depresi
4. Timbul rasa takut dan malu 5. Kehilangan kepercayaan 6. Rendah diri
7. Rasa tidak aman
Interaksi sosial terhambat : 1. Kontak sosial
2. Komunikasi
Faktor yang berpengaruh pada interaksi sosial, meliputi :
1. Faktor internal : Proses kognitif, faktor biologis, faktor identifikasi dan faktor simpati
2. Faktor eksternal :
Faktor sosial (perilaku&karakter
orang lain), pengaruh lingkungan fisik, konteks budaya, faktor imitasi, dan faktor sugesti.