• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.6. Kerangka Konseptual

1.6.3. Interdependensi

Selanjutnya, peneliti juga menggunakan konsep interdependensi guna melihat hubungan yang terjalin antara Afrika Selatan dengan Tiongkok. Konsep interdependensi yang digunakan oleh peneliti adalah konsep interdependensi yang dikemukakan oleh Robert O. Keohane dan Joseph S. Nye. Robert O. Keohane dan Joseph S. Nye mendefinisikan

25 Sjamsumar Dam dan Riswandi, Kerjasama ASEAN, Latar Belakang, Perkembangan, dan Masa Depan, (Jakarta: Pustaka Relajar, 1998), 16

22 teori interdependensi secara sederhana sebagai sebuah hubungan tim bal-balik atau hubungan saling ketergantungan satu sama lain dalam hubungan intemasional.26 Selanjutnya, Yanuar Ikbar mengartikan interdependensi merupakan saling ketergantungan yang mempertemukan kekurangan dari masing-masing negara melalui keunggulan komparatif masyarakat.27

Pembahasan seputar interdependensi diranah hubungan internasional pada umumnya berfokus pada hubungan ekonomi antar negara yang bisa mempengaruhi perilaku mereka. Meningkatnya interdependensi dapat mempengaruhi kepentingan-kepentingan aktor di dalamnya, dimana mereka berusaha untuk memperoleh keuntungan dari hubungan yang mereka jalin dengan negara lain.

Perjanjian Sinopec Corp dengan PetroSA ini, sudah pasti terdapat interaksi-interaksi yang berkaitan dengan ekonomi. Interaksi tersebut tentu saja memberi efek timbal balik bagi negara yang terlibat di dalamnya. Tiongkok contohnya. Saat mereka menjalin interaksi dengan negara-negara di benua Afrika, maka Tiongkok memberikan keuntungan bagi negara tersebut, begitu juga sebaliknya. Berdasarkan kerjasama Sinopec Corp dengan PertroSA ini nantinya berdampak pada perekonomian masing-masing negara tak terkecuali bagi negara Afrika Selatan.

26 RobertJackson & George Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (2009).

27 Ikbar, Yanuar. 2007. Ekonomi Politik Intemasional 2 : Implementasi Konsep dan Teori.

Bandung: P T Refika Aditama.

23 1.7. Metode Penelitian.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif guna mempermudah peneliti dalam melakukan penelitiannya.

Adapun definisi dari metode kualitatif menurut Lawrence Newman, 2000, adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk membangun realitas sosial, fokus pada proses dan kejadian interaktif serta menjadikan kebenaran sebagai kunci utama dari suatu penelitian.28

Penelitian ini menganalisa hubungan yang terjalin antara Afrika Selatan dengan Tiongkok pada tahun 2011-2016, peneliti melakukan pencarian fakta dan juga data terkait penelitiannya melalui melakukan studi kepustakaan. Studi kepustakaan merupakan pencarian data yang dilakukan melalui pengumpulan data dengan cara melakukan studi atau tinjauan pustaka terhadap beberapa literatur yang didapatkan secara tidak langsung melalui perantara buku, jurnal, artikel dan juga situs-situs yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Kemudian, berdasarkan penjelasan Newman, data yang didapatkan melalui studi kepustakaan merupakan data sekunder.

Setelah memperoleh sejumlah data terkait penelitiannya melalui studi kepustakaan. Langkah selanjutnya yang dilakukan peneliti adalah melakukan analisis data dengan metode deskriptif analitis. Pengertian teknik deskriptif analitis adalah teknik analisa data yang dilakukan dengan

28 Lawrence Newman, Social Research Methods; Qualitative and Quantitative Approaches, 4th Edition (Boston: Allyn and Bacon, 2000), 16.

24 menjabarkan masalah yang ada kemudian, melakukan Analisa Kembali terkait masalah tersebut serta menyusun analisa tersebut secara sistematis guna menjawab pertanyaan penelitian dari penelitian ini.

Kemudian, teknik penulisan yang peneliti gunakan dalam penyusunan penelitian ini adalah teknik yang mengacu pada buku Panduan dan Penyusunan Proposal dan Penulisan Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2017.

Selanjutnya, teknik pengambilan kesimpulan yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah teknik pengambilan kesimpulan secara deduktif, dimana peneliti memberikan kesimpulan berdasarkan pembahasan yang bersifat umum hingga ke pembahasan penelitian yang bersifat khusus.

1.8. Sistematika Penulisan

Pada sistematika penulisan penelitian skripsi saya ini terdiri dari lima bab dan beberapa subbab yang akan diuraikan sebagai berikut:

BAB I: Pendahuluan

Terdiri dari latar belakang masalah mengenai mengapa penelitian ini saya lakukan, Bab ini berisi latar belakang masalah, pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, kerangka pemikiran, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II: Sumber Daya Alam Dan Energi di Afrika Selatan 2011-2016 Pada bab ini berisi penjelasan terkait kondisi sumber daya alam di Afrika Selatan secara umum, cadangan energi yang ada di Afrika Selatan

25 Tiongkok. Serta dijelaskan terkait sumber daya alam yang menjadi penopang utama perekonomian dari Afrika Selatan.

BAB III: Kerjasama Afrika Selatan dengan Tiongkok

Menjelaskan bagaimana kerjasama yang tercipta antara Afrika Selatan dengan beberapa negara yang menjadi mitra dagang dibidang energi, dan juga kerjasamaAfrika Selatan dengan Tiongkok khususnya di bidang energi. mulai dengan pemberian investasi oleh Tiongkok di beberapa perusahaan yang berada di Afrika Selatan. Hal ini dilihat dari Tiongkok yang membuat perusahaan pertama mereka di Afrika yang bergerak di bidang energi dan kimia yang terintegrasi dari hulu, tengah dan hilir yang telah terdaftar, yaitu Sinopec Corp. Pada subbab selanjutnya menjelaskan Petro SA yaitu perusahaan minyak nasional milik Afrika Selatan secara umum. Dan juga menjelasakan MoU antara Sinopec Corp dengan Petro SA sebagai dasar perjanjian tertulis dari kerjasama Energi Afrika Selatan dengan Tiongkok.

BAB IV: Analisis Mengapa Afrika Selatan Kerjasama Dengan Tiongkok 2011-2016

Bab ini bertujuan untuk menunjukan bagaimana konsep Kerjasama internasional menjelaskan keterkaitan kerjasama yang terjalin antara Afrika Selatan dengan Tiongkok dan juga apa saja yang menjadi kepentingan nasional dari masing-masing negara tersebut sehingga membentuk kerjasama internasional. Bab ini dibagi menjadi beberapa subbab, penelitian

26 ini juga memberikan hasil yang relevansi antara analisis dengan konsep yang menjadi acuan penelitian.

BAB V: Penutup

Bab ini merupakan bagian akhir skripsi ini yang berisi kesimpulan dari hasil penelitian ini secara keseluruhan. Pada lembar terakhir penulis melampirkan daftar pustaka yang berguna bagi para pembaca untuk mencari sumber informasi yang penulis teliti.

27 BAB II

SUMBER DAYA ALAM DAN ENERGI DI AFRIKA SELATAN PERIODE 2011-2016

2.1. Sumber Daya Alam di Afrika Selatan 2011-2016

Afrika Selatan adalah sebuah negara yang mengandung kelimpahan sumber daya alam, sangat kaya akan bahan tambang bernilai tinggi termasuk lahan pertanian subur dan sumber daya mineral yang unik.

Tambang Afrika Selatan adalah pemimpin dunia dalam produksi berlian dan emas serta logam strategis seperti platinum.29 Meskipun negara ini memiliki kekayaan alam melimpah dan dapat dibanggakan, penduduk Afrika Selatan masih banyak hidup di bawah garis kemiskinan dan menganggur. Kekayaan alam di Afrika Selatan tidak serta merta membuat warga negara Afrika Selatan menjadi sejahtera dikarenakan kekayaan alam Afrika Selatan yang melimpah dieksploitasi.

Afrika Selatan dijadikan sebagai salah satu anggota kelima resmi BRIC karena beberapa alasan salah satunya karena memiliki perekonomian terbesar di Sub-Saharan Africa (SSA). Afrika Selatan juga didaulat sebagai Negara perwakilan Negara-negara Afrika di kancah Internasional.

Realitanya Afrika Selatan merupakan Negara besar di kawasan SSA yang menyumbang sepertiga jumlah PDB regional, Menurut Gateway House

29 The History of Aparheid in South Africa. Diakses dari

http://www-cs-students.stanford.edu/~cale/cs201/apartheid.hist.html pada 15 April 2017 pukul 20:30

28 faktor penting lainnya yang dimiliki oleh Afrika Selatan yaitu sumber daya alam yang luas dan tak dapat dipungkiri pula kawasan Afrika yang terkenal dengan kekayaan alamnya juga dikuasai oleh Afrika Selatan. Afrika Selatan merupakan suatu negara yang terdapat sumber mineral didalamnya seperti platinum, emas, uranium, krom, manganese ore, titanium, vanadium, dan zikornium yang diestimasikan sebesar 2,5 triliun dollar Amerika Serikat. Di kawasan Afrika, Afrika Selatan juga merupakan salah satu negara yang terbilang maju dalam pembangunan, memiliki infrastruktur yang memadai, infrastruktur Afrika Selatan merupakan Infrastruktur yang sangat baik. Terkait hal ini dijelaskan pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. GDP Afrika Selatan Tahun 2011-2016

TAHUN GDP

Sumber: Data Laporan IMF, April 2019

Afrika Selatan memiliki tiga tingkatan pemerintahan, yaitu nasional, provinsi, dan lokal. Administrasi. Ibukota adalah Pretoria, sementara Parlemen duduk di Cape Town. Afrika Selatan merupakan negara berpendapatan menengah pasar dengan sumber daya alam yang melimpah, keuangan, hukum, komunikasi, energi yang berkembang dengan baik dan sektor transportasi, bursa efek peringkat diantara 20 teratas di dunia.

29 Afrika Selatan memiliki industri pertambangan batu bara besar yang intensif energi. Negara ini memiliki cadangan minyak dan gas alam yang terbatas dan menggunakan cadangan batu bara yang besar untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan energinya, khususnya di sektor listrik. Afrika Selatan juga memiliki industri bahan bakar sintetis canggih, yang memproduksi bahan bakar bensin dan solar dari pabrik Secunda coal-to-liquid (CTL) dan pabrik gas-to-coal-to-liquid (GTL) Teluk Mossel.30

Afrika Selatan merupakan negara dengan kekuatan ekonomi nomer dua di benua Afrika dibuktikan dengan jumlah (PDB) dan juga jumlah konsumsi energi. Pada tahun 2012, 72% dari total konsumsi energi primer Afrika Selatan berasal dari batubara, diikuti oleh minyak (22%), gas alam (3%), nuklir (3%), dan energi terbarukan (kurang dari 1%, terutama dari tenaga air), menurut BP Statistical Review of Energy 2013. Ketergantungan Afrika Selatan pada batubara telah menyebabkan negara untuk menjadi penghasil karbondioksida terkemuka di Afrika dan terbesar ke-14 di dunia, menurut perkiraan EIA tahun 2011.

Berdasarkan data BP Statistical Tinjauan Energi Dunia pada tahun 2016, total konsumsi energi primer Afrika Selatan sebesar 70% berasal dari batu bara yang kemudian, diikuti konsumsi minyak sebesar 22%, gas alam sebesar 4%, nuklir sebesar 3%, dan energi lain-lain sebesar kurang dari 2%.

Afrika Selatan mengekspor sekitar 30% dari produksi batubara dan

30 South Africa, U.S. Energy Information Administration, Washington DC, In https://www.eia.gov/beta/international/analysis.php?iso=ZAF

30 merupakan eksportir batubara global terbesar kelima. Sebagian besar ekspor batubara Afrika Selatan dikirim ke Asia, dengan India menjadi penerima terbesar.31

Tabel 2. Grafik Konsumsi dan Produksi Gas Alam Afrika Selatan Tahun 2000-2016

Sumber: Energy Information Administration : International Energy Agency, 2016

31 South Africa, U.S. Energy Information Administration, Washington DC, In https://www.eia.gov/beta/international/analysis.php?iso=ZAF

31 Tabel 3. Grafik Impor Minyak Mentah Afrika Selatan Tahun 2016

Sumber: Global Trade Tracker, 2016

Afrika Selatan merupakan salah satu negara penghasil dan pengolah hasil bumi terbesar di Afrika. Berdasarkan diagram dari eia menunjukkan berbagai negara di Afrika dan negara lain yang merupakan konsumen tetap minyak dari kilang minyak yang berada di Afrika Selatan. Sebesar 51%

minyak dari Afrika Selatan dikirim ke negara-negara di Afrika (Nigeria, Angola dan negara afrika lain) kemudian, sebesar 45% minyak dari Afrika Selatan di kirim ke negara-negara di Timur Tengah (Arab Saudi dan negara di Timur Tengah lainnya), lalu sebesar 4% minyak dari Afrika Selatan di kirim ke Amerika Selatan, Eropa dan China.

Negara ini juga membuka peluang besar untuk bisnis dan investasi di kawasannya, memberikan kemudahan terhadap peluang bisnis dan pembiayaannya, tingkat ekonomi m.akro dan mikro yang stabil, Memiliki sistem perbankan yang canggih dan didukung oleh peraturan yang

32 terstruktur. Dari beberapa kemudahan investasi yang diberikan Afrika Selatan.32

2.2. Produksi Dan Konsumsi Energi di Afrika Selatan

Ekonomi Afrika Selatan sangat intensif energi dibandingkan dengan standar internasional, dengan hanya segelintir negara yang memiliki intensitas lebih tinggi. Selain itu, menurut laporan final energi South Aftika industri Afrika Selatan efisiensi rata-rata jauh lebih rendah daripada di negara lain. Ini adalah faktor penting, mengingat bahwa saat ini industri dan pertambangan mengkonsumsi lebih dari 60% listrik yang dihasilkan di negara, dan masuknya perdagangan membuat angka ini hampir 75%.33

Menurut Departemen energi South Afrika, Pasokan energi Afrika Selatan didominasi oleh batu bara dengan 59% sumber energi utama pasokan energi diikuti oleh energi terbarukan sebesar 20% dan minyak mentah sebesar 16%. Gas alam menyumbang 3% sedangkan nuklir menyumbang 2% dari total pasokan primer di tahun 2015. Pasokan energi primer dalam hal ini meliputi produksi energi lokal dan sumber energi impor.34

32 Stephen Lendman. New Brics Development Bank Announced. The People’s Voice. 3 juni 2013, diakses dari http://www.thepeoplesvoice.org/TPV3/Voices.php/2013/03/28/new-brics-development-bank-announced. Diakses pada 09 Juni 2017 pada pukul 15:25.

33 Mokveld, Kees, and Steven von Eiji, “Final Energy Report South Africa”, Juli 2018, tersedia di dirvo.nl/sites/default/files/2019/01/Final-Energy-report-South-Africa.pdf diakses pada 27 Juli 2021.

34 Ratshomo, Keneilwe, “Department Energy : South Africa Energy Sector Report”, 2018, diakses dari http://www.energy.gov.za/files/media/explained/2018-South-African-Energy-Sector-Report.pdf diakses pada 27 Juli 2021

33 Tabel 4. Grafik Total Cadangan Energi Primer Tahun 2015

Sumber: Department Energy of South Africa, 2018.

Industri bahan bakar di Afrika Selatan didominasi oleh bahan bakar fosil. Negara ini memiliki cukup cadangan minyak dan gas alam yang terbatas, namun cadangan batu baranya yang melimpah telah menyebabkan untuk pembentukan industri bahan bakar sintetis yang berkembang dengan baik. Karena kurangnya cadangan, negara mengimpor lebih dari 90%

minyak mentahnya dari Arab Saudi, Nigeria dan Angola. Afrika Selatan adalah salah satu ekonomi terkemuka di Afrika serta pemain kunci dalam industri perminyakan Afrika. Selama tahap transformasi, negara memproduksi sekitar 5% dari bahan bakarnya kebutuhan dari gas (GTL), 39% dari batubara (CTL), dan 56% dari minyak mentah (DOE, Neraca Energi 2015). Mayoritas produk minyak bumi seperti bensin, solar, residu bahan bakar minyak, parafin, bahan bakar jet, bensin penerbangan, dan gas

34 minyak cair (LPG) dimurnikan di negara. Namun, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, beberapa minyak bumi produk harus diimpor untuk melengkapi kekurangan produksi.35

Afrika Selatan memiliki kapasitas penyulingan terbesar kedua setelah Mesir di Afrika sebesar 703.000 barel per hari. Ada enam kilang minyak di negara ini empat dari kilang berada di pantai dan dua di pedalaman. Dua dari kilang adalah sintetis fasilitas produksi bahan bakar yang menghasilkan bahan bakar cair dari batubara dan gas yang dimiliki oleh Sasol dan PetroSA. Sasol menggunakan teknologi Coal-To-Liquids (CTL) dan Gas-To-Liquids (GTL) untuk menghasilkan hingga 150.000 barel/hari setara produk minyak bumi. Perusahaan Minyak dan Gas Afrika Selatan (PetroSA) memproduksi hingga 45.000 bbl/hari produk sintetis menggunakan teknologi GTL. Kilang utama termasuk Sapref dan Enref di Durban, Chevron di Cape Town, dan Natref di Sasolburg. Bahan bakar cair diproduksi oleh enam kilang seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini dan kekurangannya dipenuhi melalui impor.36

35 Ratshomo, Keneilwe, “Department Energy : South Africa Energy Sector Report”, 2018, diakses dari http://www.energy.gov.za/files/media/explained/2018-South-African-Energy-Sector-Report.pdf diakses pada 27 Juli 2021.

36 Ratshomo, Keneilwe, “Department Energy : South Africa Energy Sector Report”, 2018, diakses dari http://www.energy.gov.za/files/media/explained/2018-South-African-Energy-Sector-Report.pdf diakses pada 27 Juli 2021

35 Tabel 5. Kapasitas Produksi Kilang Afrika Selatan Tahun 2017

Sumber: SAPIA, 2017

Produksi Batubara Afrika Selatan dilaporkan sebesar 143.239 TOE mn pada 2018. Rekor ini naik dibanding sebelumnya yaitu 142.983 TOE mn pada tahun 2017. Data Produksi Batubara Afrika Selatan diperbarui tahunan, dengan rata-rata 126.170 TOE mn dari 1981 sampai 2018, dengan 38 observasi. Data ini mencapai angka tertinggi sebesar 148.233 TOE mn pada 2014 dan rekor terendah sebesar 74.861 TOE mn pada 1981. Data Produksi Batubara Afrika Selatan tetap berstatus aktif di CEIC dan dilaporkan oleh British Multinational Oil and Gas Company Headquartered in London. Seperti yang tergambar pada grafik di bawah ini 37

37 CEIC Data, “Afrika Selatan Produksi Batu bara”, 2021, diakses dari https://www.ceicdata.com/id/indicator/south-africa/coal-production diakses pada 26 Juli 2021

36 Tabel 6. Grafik Produksi Batu Bara Afrika Selatan Tahun 2007-2018

Sumber: CEIC Data, 2018

Konsumsi Batubara Afrika Selatan dilaporkan sebesar 85.982 TOE mn pada 2018. Rekor ini naik dibanding sebelumnya yaitu 84.316 TOE mn di tahun 2017. Data Konsumsi Batubara Afrika Selatan diperbarui tahunan, dengan rata-rata 66.966 TOE mn dari 1965 sampai 2018, dengan 54 observasi. Data ini mencapai angka tertinggi sebesar 93.824 TOE mn pada 2009 dan rekor terendah sebesar 24.345 TOE mn pada 1966. Data Konsumsi Batubara Afrika Selatan tetap berstatus aktif di CEIC dan

37 dilaporkan oleh British Multinational Oil and Gas Company Headquartered In London.38

Tabel 7. Grafik Konsumsi Batu Bara Afrika Selatan Tahun 2007-2018

Sumber: CEIC Data, 2018

Pada tahun 2019 Minyak Mentah Impor Afrika Selatan dilaporkan sebesar 451.667 Barrel/Day. Rekor ini naik dibanding sebelumnya di tahun 2018 yaitu 436.500 Barrel/Day. Data Minyak Mentah Impor Afrika Selatan diperbarui tahunan, dengan rata-rata dari 1986 sampai 2019 sebanyak 392.000 Barrel/Day, dengan 34 observasi. Data ini mencapai angka tertinggi sebesar 523.750 Barrel/Day pada 2004 dan rekor terendah sebesar

38 CEIC Data, “Afrika Selatan Konsumsi Batubara”, 2021, diakses dari https://www.ceicdata.com/id/indicator/south-africa/coal-consumption diakses pada 26 Juli 2021

38 216.881 Barrel/Day pada tahun 1993. Data Minyak Mentah Impor Afrika Selatan tetap berstatus aktif di CEIC dan dilaporkan oleh Organization of the Petroleum Exporting Countries.39

Tabel 8. Grafik Impor Minyak Mentah Afrika Selatan Tahun 2008-2019

Sumber: CEIC Data,2018

Menurut laporan Asosiasi Industri Minyak Afrika Selatan 2002 (South African Petroleum Industry Association) SAPIA, total aset anggota SAPIA (South African Petroleum Industry Association) adalah 451 juta

39 CEIC Data, “Minyak Mentah : Impor Afrika Selatan”, 2021, diakses dari

https://www.ceicdata.com/id/indicator/south-africa/crude-oil-imports diakses pada 26 Juli 2021

39 pada Desember 2001, dan total pembayaran pajak penghasilan kepada negara adalah 68 miliar pada saat yang sama.40

Berdasarkan paparan diatas dapat dikatakan bahwa konsumsi sudah terpenuhi, sehingga memungkinkan untuk dilakukan produksi tambahan yang kemudian diekspor ke negara lain yang mejadi mitra dagang Afrika Selatan.

2.3. Sumber Daya Alam Yang Menjadi Penopang Utama di Afrika Selatan 2011-2016

Demokrasi di Afrika Selatan sampai pada tahun 2016 telah berusia 16 tahun. Jika, dilihat dalam pertumbuhan manusia, usia ini adalah usia yang memasuki masa remaja, dimana pada usia tersebut kebanyakan orang berjuang untuk menemukan identitas mereka.41 Pada usia ini juga, Afrika Selatan melakukan pencarian identitas negara mereka yang dapat dilihat dari upaya awal yang dilakukan oleh Uskup Agung Desmond Tutu dan Nelson Mandela, setelah pemilihan umum yang sepenuhnya demokratis, mereka mempromosikan Afrika Selatan sebagai 'Bangsa Pelangi' karena komposisi ras yang terdapat di Afrika Selatan sangat beragam. Akan tetapi, pada saat ini julukan “Bangsa Pelangi” tidak lagi berlaku di Afrika Selatan.

Setelah 1994, Afrika Selatan mencari sekutu di negara-negara lain di Perserikatan Bangsa-Bangsa, juga bergabung dengan The Southern

40 Mokoena, J.K.J. and P.J.D. Lloyd, (2005), A business model to overcome barriers to entry in the South African downstream petroleum industry, Journal of Energy in Southern Africa, Vol.16 No.2. hal 5

41 Erikson, E.H., 1968, Identity: Youth and Crisis (New York: W.W. Norton), Hal 336.

40 African Development Community (SADC). 2011, Afrika Selatan telah

menjadi anggota terbaru dari pengelompokan negara-negara berkembang BRICS (Brasil, Rusia, India, Cina dan Afrika Selatan) yang secara kolektif menyumbang sekitar 25% dari PDB global berdasarkan paritas daya beli.42 Negara-negara ini mencari tatanan dunia baru dengan pengaruh yang lebih besar untuk diri mereka sendiri di dunia yang masih didominasi melalui Dewan Keamanan PBB, Bank Dunia, Dana Moneter Internasional dan Organisasi Perdagangan Dunia oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa.43

Industri minyak dibagi menjadi kegiatan hulu dan hilir. Hulu mengacu pada eksplorasi dan produksi minyak mentah. Downstream mengacu pada pemurnian, transportasi dan pemasaran produk-produk pengguna akhir. Industri perminyakan merupakan komponen ekonomi yang penting dan krusial dihampir semua negara, termasuk Afrika Selatan.

Kontribusi industri terhadap ekonomi Afrika Selatan sangat besar.

Misalnya, menurut laporan Asosiasi Industri Minyak Afrika Selatan 2002 (South African Petroleum Industry Association) SAPIA, total aset anggota SAPIA (South African Petroleum Industry Association) adalah 451 juta pada Desember 2001, dan total pembayaran pajak penghasilan kepada negara adalah 68 miliar pada saat yang sama.44

42 CIA, 2011, The World Factbook. Tersedia di

https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/ Diakses pada 15 Agustus 2019.

43 Richburg, K.B., 2011, China : Other Developing BRICS Nations Seek Change In Global Economic Order. Tersedia di http://www.washingtonpost.com/world/china-other-developing-bricsnations-seek-change-in-global-economic-order/2011/04/14/AFarMgdD_story.html Diakses pada 15 Agustus 2019

44 Mokoena, J.K.J. and P.J.D. Lloyd, (2005), A business model to overcome barriers to entry in the South African downstream petroleum industry, Journal of Energy in Southern Africa, Vol.16 No.2. hal 5

41 Produk minyak bumi utama yang dijual di Afrika Selatan adalah bensin, diesel, bahan bakar jet, iluminasi parafin, bahan bakar minyak, bitumen, dan gas minyak cair (LPG). Bensin dan solar adal ah bahan bakar cair utama yang digunakan di Afrika Selatan.

Gambar 1. Peta Lokasi Kilang Minyak Afrika Selatan

Sumber : Data Laporan Lapangan SAPIA, 2013

Gambar diatas merupakan peta lokasi kilang minyak yang berada di Afrika Selatan, SAPIA (South African Petroleum Industry Association) 2013. Terdapat enam kilang minyak di negara ini, empat kilang berada di pantai dan dua kilang lainnya berada di pedalaman.

Pemerintah mengatur margin grosir dan mengendalikan harga eceran bensin. Harga minyak bumi Afrika Selatan diatur, berdasarkan formula harga paritas impor. Ini berarti bahwa harga domestik dipengaruhi

42 oleh penawaran dan permintaan untuk produk minyak bumi di pasar internasional, dikombinasikan dengan nilai tukar rand atau dolar.45

42 oleh penawaran dan permintaan untuk produk minyak bumi di pasar internasional, dikombinasikan dengan nilai tukar rand atau dolar.45

Dokumen terkait