• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERJASAMA ENERGI AFRIKA SELATAN DENGAN TIONGKOK PERIODE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KERJASAMA ENERGI AFRIKA SELATAN DENGAN TIONGKOK PERIODE"

Copied!
110
0
0

Teks penuh

(1)

KERJASAMA ENERGI AFRIKA SELATAN DENGAN TIONGKOK PERIODE 2011-2016

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh:

Muhammad Aria Kusuma Wardhana 11141130000094

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1442 H/2021 M

(2)

i PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

Skripsi yang berjudul:

KERJASAMA ENERGI AFRIKA SELATAN DENGAN TIONGKOK PERIODE 2011-2016

1. Merupakan karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya saya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 02 Juli 2021

Muhammad Aria Kusuma W

(3)

ii PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI

Dengan ini, Pembimbing Skripsi menyatakan bahwa mahasiswa:

Nama : Muhammad Aria Kusuma Wardhana NIM : 11141130000094

ProgramStudi : Ilmu Hubungan Internasional

Telah menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul:

KERJASAMA ENERGI AFRIKA SELATAN DENGAN TIONGKOK 2011-2016

dan telah memenuhi syarat untuk diuiji.

Jakarta, 02 Juli 2021

Mengetahui,

Ketua Program Studi

Menyetujui, Pembimbing,

Faisal Nurdin Idris, M.Sc., Ph.D

(4)

PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI

SKRIPSI

KERJASAMA ENERGI AFRIKA SELATAN DENGAN TIONGKOK PERIODE 2011-2016

oleh

Muhammad Aria Kusuma Wardhana 11141130000094

telah dipertahankan dalam sidang ujian skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 03 Agustus 2021. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada Program Studi Hubungan Internasional.

Ketua, Sekretaris,

Faisal Nurdin Idris, M.Sc., Ph.D NIP. 197711032009121004

Friane Aurora, M.Si NIP. 198606172011012009

Penguji II,

Robi Sugara. M.Sc NIP.

Khoirun Nisa, MA.Pol NIP. 198503112018012001

Diterima dan dinyatakan memenuhi syarat kelulusan pada tanggal 05 Agustus 2021.

Ketua Program Studi Hubungan Internasional FISIP UIN Jakarta

Faisal Nurdin Idris, M.Sc., Ph.D NIP. 197711032009121004

iii Penguji I,

(5)

iv ABSTRAK

Penelitian ini menjelaskan dan menganalisa terkait hubungan kerjasama yang tercipta antara Afrika Selatan dengan Tiongkok pada periode 2011-2016, kekayaan alam yang dimiliki Afrika Selatan tidak membuat GDP di negara tersebut menjadi tinggi karena keterbatasan dalam pengolahan sumber daya alam seperti tenaga kerja dan juga modal. Afrika Selatan pun mulai melakukan Kerjasama bilateral dengan Tiongkok guna membangun negaranya dan memanfaatkan sumber daya alamnya guna meningkatkan GDP negaranya berdasarkan penandatatangan MoU kerjasama di bidang energi di tahun 2011.

Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif serta deskriptif analisis guna menjawab pertanyaan dari rumusan masalahnya, dalam hal ini teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis adalah melalui teknik studi pustaka. Penulis menganalisa hubungan kerjasama antara Afrika Selatan dengan Tiongkok menggunakan konsep kepentingan nasional, kerjasama internasional dan juga konsep interdepedensi. Hal ini dikarenakan Afrika Selatan mau melakukan kerjasama dengan Tiongkok guna memenuhi kepentingan nasional mereka dalam pembangunan perusahaan minyak nasional mereka yaitu PetroSA. Maka dari itu, melalui hubungan bilateral antara Afrika Selatan dengan Tiongkok terciptalah suatu MoU yang mengatur terkait kerjasama mereka di bidang energi. MoU ini secara khusus merupakan kerjasama antara PetroSA dengan Sinopec Corp. Melalui kerjasama ini Afrika Selatan berharap ada peningkatan pada GDP mereka serta pengurangan angka pengangguran di negaranya. Konsep interdepedensi juga menjadi salah satu konsep yang dirasa sesuai untuk menganalisa hubungan antara Afrika Selatan dengan Tiongkok karena terdapat hubungan timbal balik diantara kedua negara. Kerjasama internasional yang mereka jalin menjadikan sebuah kepentingan absolut atau mutlak., dimana Afrika Selatan memandang kepentingan dan kerjasama terhadap Tiongkok sebagai keharusan untuk melanjutkan kehidupan negaranya

Kata Kunci: Afrika Selatan, Tiongkok, Kepentingan Nasional, Kerjasama Internasional, Interdepedensi, Kerjasama Energi, PetroSA, Sinopec Corp dan MoU.

(6)

v KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan ridho dan rahmat dari Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan penelitian skripsinya yang berjudul “KERJASAMA ENERGI AFRIKA SELATAN DENGAN TIONGKOK PERIODE 2011-2016”. Skripsi ini ditujukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) di studi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Selama proses penulisan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak motivasi serta bantuan yang berupa materi maupun moral. Proses penyusunan skripsi ini mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak. Maka dari itu dalam kesempatan kali ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Allah SWT, terimakasih atas rahmat dan kehendakmu sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.

2. Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, Lc., M.A. selaku Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Prof. Ali Munhanif, M.A., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Faisal Nurdin Idris, M.Sc., Ph.D selaku Kepala Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, beserta seluruh staf dan jajarannya.

(7)

vi 5. Febri Dirgantara Hasibuan, S.E., M.M selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu, tenaga, serta pikirannya untuk memberikan bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih banyak Pak dan maafkan saya jika saya banyak melakukan kesalahan, semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan berkah-Nya kepada Bapak beserta keluarga.

6. Seluruh Bapak/Ibu Dosen Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, yang telah memberikan berbagai ilmu yang berguna sehingga membantu penulis dalam penyelesaian proses pembuatan skripsi ini.

7. Seluruh staff Tata Usaha (TU) yang telah membantu penulis dalam pengurusan surat.

8. Ayah dan Mama yang selalu memberikan semangat kepada penulis baik itu secara materil ataupun moral serta selalu mendorong penulis untuk segera menyelesaikan penulisan skripsi ini, juga Mas dan Adik saya yang selalu menanyakan kapan skripsi ini selesai.

9. Saudari Diah Andam Suri dan Lathifa Rulia Sadiah selaku teman dekat penulis yang selalu memberikan semangat serta masukkan selama penulisan skripsi ini dan juga menenangkan penulis ketika menghadapi masalah.

10. Kepada teman-teman kontrakan/Sekretariat Aqil Aulia Wafda Amin, Roby Haryanto, Akbar Aliyafie, Aziz Fikri yang telah sabar tinggal bersama penulis selama +/- 7 tahun dan memberikan warna dalam dunia perkuliahan penulis, serta tekanan serta motivasi untuk segera menyelesaikan skripsi ini.

(8)

vii 11. Teman-teman Mahasiswa dan Mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional angkatan 2014 khususnya seluruh teman-teman kelas HI-C dan juga seluruh teman- teman kontrakan inhutani yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, Terima kasih telah memberikan keceriaan serta semangat kepada penulis, memberikan rasa kebersamaan dan keakraban yang terjalin selama kurang lebih dari 4,5 tahun.

Penulis berharap dapat terus melanjutkan silaturahmi dengan kalian semua.

12. Saudari Sena Maulida Santang selaku teman penulis yang selalu ada juga siap dalam kondisi apapun -/+ 5 tahun, termasuk menyemangati penulis untuk fokus dalam menyusun skripsi dan segera menyelesaikan kuliah.

13. Teman-teman KKN Kelompok 034 yang telah memberikan pengalaman berharga dalam menyelesaikan tugas KKN.

Jakarta, 02 Juli 2021

Muhammad Aria Kusuma W

(9)

viii DAFTAR ISI

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... ii

PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR SINGKATAN ... xii

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Pertanyaan Penelitian. ... 6

1.3. Tujuan Penelitian. ... 6

1.4. Manfaat Penelitian... 7

1.5. Tinjauan Pustaka. ... 7

1.6. Kerangka Konseptual ... 14

1.6.1. Kepentingan Nasional ... 14

1.6.2. Kerjasama Internasional ... 17

1.6.3. Interdependensi... 21

1.7. Metode Penelitian. ... 23

1.8. Sistematika Penulisan ... 24

BAB II ... 27

SUMBER DAYA ALAM DAN ENERGI DI AFRIKA SELATAN PERIODE 2011-2016 ... 27

2.1. Sumber Daya Alam di Afrika Selatan 2011-2016 ... 27

2.2. Produksi Dan Konsumsi Energi di Afrika Selatan ... 32

2.3. Sumber Daya Alam Yang Menjadi Penopang Utama di Afrika Selatan 2011- 2016... 39

BAB III ... 50

KERJASAMA AFRIKA SELATAN DENGAN TIOGKOK ... 50

(10)

ix

3.1. Kerjasama Afrika Selatan Dengan Tiongkok... 50

3.1.1 Petro SA ... 55

3.1.2 Sinopec Corp ... 58

3.2. Kerjasama Afrika Selatan Dengan Tiongkok di Bidang Energi ... 59

BAB IV ... 68

ANALISIS AFRIKA SELATAN MELAKUKAN KERJASAMA ENERGI DENGAN TIONGKOK PERIODE 2011-2016 ... 68

4.1. Kepentingan Nasional Afrika Selatan dalam Kerjasama Tiongkok ... 68

4.1.1. Aspek Kepentingan Ekonomi ... 72

4.1.2. Aspek Kepentingan Lainnya ... 74

4.2. Kerjasama antara Afrika Selatan dengan Tiongkok ... 75

4.3. Interdepedensi Afrika Selatan terhadap Tiongkok ... 79

BAB V ... 86

5.1. KESIMPULAN ... 86

5.2. SARAN ... 88

DAFTAR PUSTAKA ... 89

(11)

x DAFTAR TABEL

Tabel 1. GDP Afrika Selatan Tahun 2011-2016 ………. 28

Tabel 2. Grafik Konsumsi dan Produksi Gas Alam Afrika Selatan Tahun 2000-2016 ………....………...…... 30

Tabel 3. Grafik Impor Minyak Mentah Afrika Selatan Tahun 2016 ... 31

Tabel 4. Grafik Total Cadangan Energi Primer Tahun 2015 ... 33

Tabel 5. Grafik Kapasitas Produk Kilang Afrika Selatan Tahun 2017... 35

Tabel 6. Grafik Produksi Batu Bara Afrika Selatan Tahun 2007-2018... 36

Tabel 7. Grafik Konsumsi Batu Bara Afrika Selatan Tahun2007-2018... 37

Tabel 8. Grafik Impor Minyak Mentah Afrika Selatan Tahun 2008- 2019..………….……….……….………...….. 38

Tabel 9. Grafik GDP Afrika Selatan Tahun 2009-2020 ………....…. 53

(12)

xi DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Peta Lokasi Kilang Minyak Afrika Selatan …...…...…... 41 Gambar 2. Peta Penyebaran Hasil Minyak Bumi Afrika Selatan …...….. 63

(13)

xii DAFTAR SINGKATAN

SINOPEC China Petroleum and Chemical Corporation

PETROSA The Petroleum, Oil and Gas Corporation of South Africa NOC National Oil Company

CEF Central Energy Fund

PDB BRIC BRICS

Produk Domestik Bruto Brasil, Rusia, India, China

Brasil, Rusia, India, China, South Africa FOCAC Forum On China-Africa Cooperation

SDA Sumber Daya Alam

PBB Perserikatan Bangsa-Bangsa IMF International Monetary Fund

EIA U.S Energy Information Administration GDP Gross Domestic Product

DOE Department of Energy

SSA Sub-Sahara Africa

CTL GTL NERSA MPRDA

Coal To Liquid Gas To Liquid

National Energy Regulator of South Africa

Mineral and Petroleum Resources Development Act

(14)

xiii SADC

SAPIA UKM FEED JSA SEI CDC MoU UU NGO TOE

The Southern African Development Community South African Petroleum Industry Association Usaha Kecil dan Menengah

Front End Engineering Design Joint Study Agreement

Sinopec Engineering Incorporation Coega Development Corporation Memorandum of Understanding Undang-undang

Non-Governmental Organization The Tonne of Oil Equivalent

(15)

xiv

(16)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perkembangan pada era pasca perang dingin di dunia internasional mulai bergeser dari awalnya negara-negara berfokus untuk menjaga stabilitas politik dan juga keamanan, kini telah mengalami beberapa perubahan menjadi kearah ekonomi. Hal ini yang mendorong munculnya isu-isu dalam ekonomi politik internasional. Terdapat beberapa persoalan penting yaitu, hubungan antara politik dan ekonomi, pembangunan dan keterbelakangan di dunia ketiga, dan meluasnya sifat globalisasi ekonomi.

Dalam konteks ini, liberalisme ekonomi di implementasikan dalam bentuk kerjasama ekonomi baik secara bilateral maupun multilateral.1

Republik Afrika Selatan atau Uni Afrika selatan adalah sebuah negara di Afrika bagian selatan, yang berbatasan langsung dengan Nimibia, Bostwana dan Zimbabwe di utara, l`valu Mozambik, Swazilan di bagian timur laut. Afrika Selatan merupakan salah satu negara tertua di Benua Afrika.Ada banyak suku yang telah menjadi penghuninya termasuk Suku Khoi, Bushmen, Xhosa dan Zulu.2

Afrika Selatan adalah sebuah negara yang mengandung kelimpahan sumber daya alam, sangat kaya akan bahan tambang bernilai tinggi

1 RobertJackson & George Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (2009). Hlm. 227-228.

2 “African History Timeline”, West Chester University of Pensilvania, diakses dari, http://courses.wcupa.edu/jones/his311/timeline/t-19saf.pdf pada 28 Oktober 2017.

(17)

2 termasuk lahan pertanian subur dan sumber daya mineral yang unik.

Tambang Afrika Selatan adalah pemimpin dunia dalam produksi berlian dan emas serta logam strategis seperti platinum.3 Kekayaan alam di Afrika Selatan tidak serta merta membuat warga negara Afrika Selatan menjadi sejahtera dikarenakan kekayaan alam Afrika Selatan yang melimpah dieksploitasi.

PetroSA (The Petroleum, Oil and Gas Corporation of South Africa) National Oil Company (NOC) of South Africa adalah perusahaan minyak nasional Afrika Selatan dan terdaftar sebagai entitas komersial di bawah hukum Afrika Selatan. PetroSA adalah anak perusahaan dari Central Energy Fund (CEF), yang sepenuhnya dimiliki oleh Negara dan melapor ke Departemen Energi.4

Perusahaan minyak ini memiliki portofolio aset yang mencakup rantai nilai minyak bumi, dengan semua operasi berjalan sesuai dengan standar keselamatan dan lingkungan kelas dunia. PetroSA dibentuk pada tahun 2002 setelah penggabungan Soekor E dan P (Pty) Limited, Mossgas (Pty) Limited dan bagian-bagian dari Pendanaan Bahan Bakar Strategis yang merupakan anak perusahaan lain dari CEF.

Visi PetroSA 2020 meliputi seluruh tujuan strategis adalah menjadi perusahaan minyak nasional yang terintegrasi secara penuh dan kompetitif secara komersial, memasok setidaknya 25% dari kebutuhan bahan bakar

3 “The History of Aparheid in South Africa”, diakses dari http://www-cs- students.stanford.edu/~cale/cs201/apartheid.hist.pdf, pada 28 Oktober 2017.

4 http://www.petrosa.co.za/discover_petroSA/Pages/Our-Company.aspx, pada 20 Juli 2019

(18)

3 cair Afrika Selatan pada tahun 2020. Komoditas utama yang dihasilkan meliputi bensin tanpa timbal, minyak tanah (parafin), diesel, propana, oksigen dan nitrogen cair, sulingan, bahan bakar nabati dan alkohol. Bahan bakar dan petrokimia sintetis kelas dunia dipasarkan secara internasional.

Adapun PetroSA memiliki visi untuk menjadi perusahaan minyak nasional yang terbaik.

Luas wilayah Afrika Selatan ini mencapai 1,221,03744 km2. Namun letaknya berada di Benua Afrika dianggap menjadi kurang menarik untuk pengembangan ekonomi, sehingga Afrika Selatan ini terus berusaha untuk dapat menghilangkan paradigma yang ada tersebut. Salah satunya dengan mengadakan kerjasama bilateral dengan Tiongkok.

Kawasan Timur tengah selaku sebagai kepemilikan minyak dan hasil alam yang melimpah terbesar dunia ini yang selama ini menjadi sumber investasi di bidang energi mengalami pergolakan politik di beberapa negaranya sehingga hal ini membuat negara-negara yang sedang mengalami peningkatan ekonomi seperti Tiongkok harus mencari kawasan lain untuk berinvestasi yang menjadikan Afrika Selatan ini berupaya untuk menonjolkan dirinya diranah internasional khususnya dihadapan Tiongkok.

Perjalanan panjang Tiongkok menuju dominasi ekonomi global di abad 21 merupakan salah satu contoh dari transformasi ekonomi yang sukses diterapkan oleh suatu negara.Memasuki abad ke-21, tidak diragukan lagi bahwa pengaruh Tiongkok yang semakin signifikan, baik dalam kancah

(19)

4 perpolitikan maupun perekonomian global sangatlah dipengaruhi oleh integrasi perekonomian Tiongkok ke dalam perekonomian global.

Justin Yifu Lin dalam artikelnya tahun 2011 berjudul Tiongkok And The Global Economy mendeskripsikan laju pertumbuhan ekonomi

Tiongkok : Pada tahun 1990, perekonomian Tiongkok hanya mencakup 1,6% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) dunia, dan 19 tahun kemudian, ekonomi Tiongkok merupakan ekonomi terbesar kedua di dunia dan telah mencakup 8,6 % dari PDB dunia.5 Statistik perdagangan Tiongkok di Afrika menunjukkan angka mengesankan. Perdagangan antara Tiongkok dan Afrika Selatan dalam waktu 15 tahun meningkat pesat, dari 1,5 miliar menjadi 10 miliar dollar AS.

Sinopec Corp adalah perusahaan Tiongkok pertama yang bergerak di bidang energi dan kimia yang terintegrasi dari hulu, tengah dan hilir yang telah terdaftardi Hong Kong, New York, London dan Shanghai. Operasional utama Sinopec Corp dan anak perusahaan meliputi mengeksplorasi, mengembangkan, memproduksi dan memperdagangkan minyak mentah dan gas alam, pengolahan minyak mentah menjadi produk minyak sulingan, produksi, perdagangan, pengangkutan, pendistribusian dan pemasaran produk olahan minyak, dan memproduksi dan mendistribusikan produk kimia. Namun sayangnya, Sinopec Corp tidak mampu mencukupi

5 Justin Yifu Lin. 2011. Tiongkok and the Global Economy, diakses dari, http://siteresources.worldbank.org/DEC/Resources/UST-Justin-Lin-Hongkong.pdfpada28 Oktober 2017.

(20)

5 kebutuhan minyak domestik, sehingga memaksa melakukan kerjasama dengan negara produsen minyak.

Negara-negara kaya minyak menjadi sasaran bagi Tiongkok sendiri sebagai pemasok bagi minyaknya tersebut. Sumber utama bagi minyak Tiongkok masih berasal dari negara-negara Arab namun disoroti belakangan ini adalah bagaimana hubungan Tiongkok dan Afrika dalam hal ini. Tiongkok telah memperluas pengaruhnya hingga Afrika dimana kemudian kepentingan Tiongkok adalah untuk kebutuhan minyak dan energi bagi negaranya. Tiongkok melalui kebijakan luar negerinya melakukan kerjasama dengan pemerintah di Afrika untuk membangun pipa minyak dan melakukan investasi.

Marcus Power dan Giles Mohan (2012) menyebutkan bahwa Tiongkok menggunakan soft power ketika berinteraksi dengan kondisi negara di Afrika yang tidak stabil secara politik dan sering terjadi konflik antar negara maupun perang sipil. Datang dengan kepentingan untuk memenuhi kebutuhan energinya, Tiongkok menggunakan geopolitics of oil dibandingkan menggunakan keinginan untuk merubah kondisi pemerintahan di Afrika ataupun memakai isu-isu hak asasi manusia ketika menjalin hubungan. Melalui penggunaan soft power ini, Tiongkok juga mengusung sikap non-intervensi dan lebih penting lagi menggunakan oil diplomacy untuk menciptakan kondisi yang bebas dari konflik yang

kemudian akan mempermudah bagi Tiongkok mengamankan kepentingannya dalam energi. Pernyataan terkait besarnya pengaruh

(21)

6 Tiongkok di Afrika ini dijelaskan dalam suatu pernyataan di laporan IMF pada tahun 2011, penjelasan terkait pernyataan ini adalah sebagai berikut:

Dengan masih besarnya pengaruh Tiongkok terhadap perekonomian dunia, maka tiga faktor — Ukuran ekonomi, Tiongkok sebagai pusat perdagangan dunia, dan pengaruh permintaan domestik Tiongkok — menggarisbawahi dampak dari dinamika perekonomian Tiongkok terhadap perekonomian dunia yang semakin besar.

(IMF, People Republic of Tiongkok: Spillover Report, Juli 2011)

1.2. Pertanyaan Penelitian.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti akan mengangkat masalah mengenai “Mengapa Afrika Selatan Melakukan Kerjasama Energi Dengan Tiongkok Periode 2011-2016?”

1.3. Tujuan Penelitian.

Dengan diadakannya penelitian ini, peneliti memiliki beberapa tujuan dengan mengambil penelitian ini, yaitu:

1. Menginformasikan terkait kekayaan sumber daya alam yang terdapat di Afrika Selatan;

2. Mengetahui jumlah produksi dan konsumi energi di Afrika Selatan, serta negara-negara mitra perdagangan dalam bidang energi Afrika Selatan selain Tiongkok;

3. Mengidentifikasi alasan-alasan mengapa Afrika Selatan dalam hal ini perusahaan minyak nasional mereka, PetroSA, memilih bekerjasama dengan Tiongkok melalui perusahaan minyak mereka yaitu Sinopec Corp, sehingga dapat dianalisa bagaimana perkembangan Ekonomi yang terjadi di Afrika Selatan

(22)

7 1.4. Manfaat Penelitian.

Adapun manfaat dari dilakukan penelitian ini adalah untuk:

1. Menambah dan juga memperluas wawasan bagi para pembaca khususnya mahasiswa/i Hubungan Internasional terkait hubungan kerjasama yang terjalin antara Afrika Selatan dengan Tiongkok di bidang energi itu sendiri;

2. Menjadikan penelitian ini sebagai bahan untuk studi perbandingan yang dapat dikembangkan lebih jauh lagi dan untuk dikemudian hari menjadi referensi oleh peneliti selanjutnya.

1.5.Tinjauan Pustaka.

Pada bagian ini peneliti menggunakan beberapa penelitian lain yang juga membahas terkait bagaimana perkembangan yang terjadi di Afrika Selatan, maupun yang mengambil judul tentang bagaimana Tiongkok dalam Sinopec Corp sangat berdampak kepada pertumbuhan ekonomi di Afrika.

Dalam hal ini peneliti menggunakan penelitian tersebut sebagai bahan tinjauan Pustaka dari penelitiannya guna membantu penelitian ini dalam membahas hubungan yang tercipta antara Afrika Selatan dengan Tiongkok.

Adapun beberapa penelitian terdahulu yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Penelitian pertama yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian terdahulu yang ditulis oleh Eko Nordiansyah, penelitian tersebut berjudul

“Pertumbuhan Ekonomi Afrika Selatan Setelah Bergabung di BRICS”. Eko menjelaskan BRIC (Brasil, Rusia, India, Tiongkok) adalah akronim dari

(23)

8 Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan lima negara yang pertumbuhan ekonominya pesat, menurut Goldman Sachs, pada tahun 2050, gabungan ekonomi keempat negara itu akan mengalahkan negara-negara terkaya di dunia saat ini. Bagaimana awal mula terbentuknya BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, South Afrika), lalu proses bergabung nya Afrika Selatan ke BRICS dan dampaknya terhadap Afrika Selatan Setelah masuk ke BRICS.

BRIC (Brazil, Rusia, India dan Tiongkok) pertama kali disusun oleh seorang ekonom dari Goldman Sachs sebagai permodelan ekonomi untuk tren ekonomi global selama abad berikutnya. Setiap tahunnya sejak tahun 2009, para pemimpin negara BRIC selalu mengadakan pertemuan untuk membahas mengenai isu kerjasama-kerjasama yang akan dibentuk. Hingga di tahun 2010, Afrika Selatan memulai upayanya untuk bergabung di BRIC ini dan proses masuknya secara formal dimulai pada bulan Agustus tahun 2010, dan resmi menjadi anggota BRIC pada 24 Desember 2010 sehingga namanya berubah menjadi BRIC yang mana S ini untuk South Africa.

Sebelum masuknya Afrika Selatan ke BRIC negara ini kerap kali telah melakukan hubungan kerjasama dalam bilateral dengan Tiongkok, dan hingga Afrika Selatan mengalami perkembangan yang pesat.

Tiongkok yang mengetahui adanya potensi terkait SDA yng dimiliki Afrika Selatan mengundang Afrika Selatan untuk ikut bergabung ke dalam BRIC. Melalui forum kerjasama ini Afrika Selatan mengharapkan bahwa kerjasama negaranya dengan Tiongkok ini sebagai bagian dari upaya

(24)

9 memproyeksikan Afrika Selatan untuk muncul sebagai kekuatan baru dan juga sebagai pemimpin di kawasan Afrika. Dengan bergabungnya Afrika Selatan ke dalam BRIC juga diharapakan dapat memperkuat hubungan bilateral antara Afrika Selatan dengan anggota-anggota BRIC lainnya.

Berdasarkan penjelasan dan juga isi dari penelitian yang ditulis oleh Eko ini terdapat beberapa persamaan dan juga beberapa perbedaan dengan penelitian ini. Dikarenakan dalam penelitian yang ditulis Eko juga membahas Afrika Selatan dan juga Tiongkok sebagai variabel penelitiannya, hal tersebutlah yang menjadikan peneliti menggunakan penelitian yang ditulis Eko sebagai salah satu bahan tinjauan pustakanya.

Akan tetapi, meskipun terdapat persamaan variabel secara garis besar, dalam penelitiannya Eko lebih memfokuskan hubungan kerjasama yang tercipta antara Afrika Selatan dengan BRIC, sedangkan dalam penelitian ini peneliti berfokus pada hubungan bilateral antara Afrika Selatan dengan Tiongkok saja.6

Selanjutnya, penelitian yang ditulis Eko juga menggunakan konsep kerjasama dalam melihat hubungan antara Afrika Selatan dengan BRIC, hal tersebut juga menjadi salah satu persamaan antara penelitian yang ditulis Eko dengan peneliti. Meskipun, menggunakan konsep kerjasama dalam melihat hubungan antara Afrika Selatan dengan BRIC, penelitian yang ditulis Eko juga menggunakan teori Neoliberal dan juga konsep

6 Eko Nordiansyah. Dampak Bergabung nya Afrika Selatan ke BRICS Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Afrika Selatan. Skripsi Sarjana Universitan Islam Syarif Hidayatullah Jakarta. (2014). Hlm.19-34.

(25)

10 regionalisme. Kedua pandangan tersebut yang menjadikan pembeda antara penelitian yang ditulis oleh Eko dan juga peneliti.7

Penelitian kedua yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian yang dilakukan oleh Indah Rahmayeni. Penelitian yang dilakukan Indah menunjukan bagaimana Tiongkok dapat mempengaruhi perkembangan Sudan melalui kerjasama energi minyak. Dalam penelitiannya Indah menyebutkan bahwa Tiongkok merupakan salah satu anggota tetap dari Dewan Keamanan PBB, sehingga tentunya peran yang dimiliki Tiongkok dalam tatanan dunia internasional sangatlah penting.

Kemajuan industri yang sangat pesat membuat Tiongkok harus banyak menjalin kerjasama dengan banyak negara, salah satunya adalah dengan negara-negara di Afrika. Kerjasama yang terjalin dengan negara- negara di Afrika sangat penting untuk Tiongkok karena Afrika banyak mempunyai sumber daya alam yang sangat dibutuhkan untuk menopang perindustrian Tiongkok. Indah juga menjelaskan banyak upaya kerjasama yang telah dilakukan Tiongkok dengan Afrika, diantaranya, menetapkan dana pembangunan Tiongkok – Afrika senilai US$5 miliar untuk mendorong perusahaan-perusahaan Tiongkok menanam modal di Afrika.

Mengirim 100 ahli pertanian ke Afrika dan membangun 30 rumah sakit dan 100 sekolah pedesaan, dan menambah jumlah beasiswa Pemerintah

7 Eko Nordiansyah. Dampak Bergabung nya Afrika Selatan ke BRICS Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Afrika Selatan. Skripsi Sarjana Universitan Islam Syarif Hidayatullah Jakarta. (2014). Hlm.19-34

(26)

11 Tiongkok bagi mahasiswa Afrika dari 2000 orang menjadi 4000 orang per- tahun 2009.

Kemudian, dapat diketahui mengapa penulis menggunakan penelitian yang dilakukan oleh Indah karena adanya kesamaan subjek penelitian dalam hal ini Tiongkok. Meski sama–sama menggunakan Tiongkok sebagai subjek dalam penelitiannya, penelitian yang ditulis Indah menggunakan subjek lain yaitu Sudan yang mana dalam hal ini peneliti menggunakan Afrika Selatan sebagai subjek penelitiannya. Kemudian, secara garis besar penelitian yang dilakukan Indah menjelaskan terkait kontribusi yang dilakukan Tiongkok dalam bekerjasama dengan Sudan.8

Penjelasan tersebut menjadi pembeda antara penelitian ini dengan penelitian yang ditulis oleh Indah, karena dalam penelitian ini berfokus pada perkermbangan yang terjadi di Afrika Selatan pada saat melakukan kerjasama dengan Tiongkok. Selanjutnya, peneliti menggunakan penelitian yang ditulis Indah karena adanya kesamaan konsep dalam melihat hubungan antara Tiongkok dengan negara Afrika, yaitu kerjasama dan kerjasama internasional.9

Penelitian selanjutnya yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian yang ditulis oleh Okki Anggoro. Dalam penelitiannya Okki menjelaskan terkait diplomasi komersial yang dilakukan oleh Tiongkok

8 Indah Rahmayeni.Kebijakan Tiongkok Melakukan Kerjasama Energi Minyak dengan Sudan (2019-2012). Jurnal Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Riau. Vol. 1 No. 2. Oktober 2014. Hlm. 2-3.

9 Indah Rahmayeni.Kebijakan Tiongkok Melakukan Kerjasama Energi Minyak dengan Sudan (2019-2012). Jurnal Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Riau. Vol. 1 No. 2. Oktober 2014. Hlm. 2-3.

(27)

12 terhadap Afrika Selatan melalui pelayanan-pelayanan diplomasi komersial yang ada untuk mencapai kepentingannya dalam hal ekonomi perdagangan dan investasi. Diplomasi komersial yang dilakukan Tiongkok terhadap Afrika Selatan melalui kerjasama bilateral dan juga kerjasama multilateral.10

Kerjasama bilateral Tiongkok dengan Afrika Selatan terbagi dalam dua tahap, yaitu sebelum dan sesudah dibukanya hubungan diplomatik.

Pada sebelum dibukanya hubungan diplomatik, kerjasama Tiongkok-Afrika Selatan dilakukan setelah adanya Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955 di Bandung, Indonesia.Dalam kerjasama multilateralnya, Tiongkok dan Afrika Selatan melakukannya melalui pembentukan FOCAC (Forum On China-Africa Cooperation) tahun 2000 bersama negara-negara Afrika

lainnya. Melalui Komisi Bi-Nasional dan FOCAC, Tiongkok telah mengembangkan kerjasamanya secara pesat terhadap Afrika khususnya Afrika Selatan, dimana pada tahun 2003-2008, peningkatan perdagangan kedua belah pihak mencapai angka yang signifikan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Penelitian yang ditulis Okki memiliki kesamaan dengan penelitian ini yaitu penggunaan Tiongkok dan Afrika Selatan sebagai subjek penelitiannya. Namun terdapat perbedaan antara penelitian yang ditulis Okki dengan penelitian ini, penelitian yang ditulis Okki membahas bagaimana diplomasi yang dilakukan Tiongkok secara umum dan bebas

(28)

13 serta periode hubungan antara Afrika Selatan dengan Tiongkok dalam penelitian ini berfokus selama tahun 2003-3008,11 sedangkan pada penelitian ini, peneliti membahas hubungan antara Afrika Selatan dengan Tiongkok selama tahun 2011 hingga 2016.

Ketiga bahan tinjauan pustaka ini digunakan oleh peneliti karena dirasa dapat membantu peneliti dalam menyelesaikan penelitiannya. Karena pada penelitian yang dilakukan oleh Eko terdapat kesamaan subjek penelitian yaitu Tiongkok dan juga Afrika Selatan, serta kesamaan penggunaan konsep kerjasama dalam melihat hubungan antara Tiongkok dengan Afrika Selatan di dalam BRICS. Selanjutnya, penelitian yang dilakukan Indah digunakan peneliti sebagai bahan tinjauan pustaka lainnya karena kesamaan konsep dalam memandang hubungan Tiongkok dengan negara di Afrika lain (Sudan) yaitu kerjasama internasional.

Penelitian lainnya yang digunakan oleh peneliti sebagai bahan tambahan dari tinjauan pustaka dari penelitian ini adalah penelitian yang ditulis oleh Okki di tahun 2013. Kesamaan antara penelitian ini dengan penelitian yang ditulis oleh Okki terletak pada kesamaan subjek penelitian yaitu Afrika Selatan dan Tiongkok. Meski, subjek penelitian yang digunakan sama dengan penelitian ini, akan tetapi, terdapat perbedaan periode kerjasama yang terjalin antara Afrika Selatan dengan Tiongkok.

11 Okki Anggoro, Diplomasi Komersial Tiongkok Terhadap Afrika Selatan, Other thesis, UPN "Veteran" Yogyakarta 2013.

(29)

14 1.6. Kerangka Konseptual

Berdasarkan pertanyaan atau rumusan masalah yang telah peneliti jelaskan, maka peneliti menggunakan konsep kepentingan nasional, konsep kerjasama internasional dan juga konsep interdependensi untuk menjawab pertanyaan di rumusan masalah.

1.6.1. Kepentingan Nasional

Guna menjawab mengapa Afrika Selatan mau melakukan kerjasama dengan Tiongkok, peneliti menggunakan konsep kepentingan nasional.

Kepentingan nasional pertama kali dicetuskan oleh Hans Morgenthau di dalam esainya yang berjudul “The Primacy of the National Interest”.12 Hans Morghentau menyebutkan bahwa konsep kepentingan nasional itu sendiri ditentukan oleh power dari suatu negara sebagai aktor internasional. Adanya power suatu negara akan memiliki kekuasaan yang mampu mengendalikan aktor internasional lainnya sesuai kepentingan dari pemilik kekuasaan.13

Hans J. Morghenthau mendefinisikan bahwa kepentingan nasional merupakan fondasi utama dalam mendukung politik luar negeri dan juga politik internasional dari suatu negara.14 Konsep kepentingan sendiri merupakan suatu substansi politik yang abadi serta tidak dapat dipengaruhi oleh waktu dan juga tempat. Hal ini dikarenakan selama

12 Hans J. Morghentau, Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace, 1978.

13 Hans J. Morghentau, Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace, 1978.

14 Mochtar Mas’oed, Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi, Jakarta, LP3ES, 1990, hal 163.

(30)

15 tatanan dunia masih secara politis mengorganisasikan ke dalam suatu negara. Maka dari itu, bagian penting dari kepentingan nasional adalah kelangsungan hidup.15

Kepentingan Nasional menjadi sebuah konsep utama dalam Hubungan Internasional. Semua negara selalu ingin kepentingan nasionalnya terpenuhi. Masing-masing negara dalam menentukan kebijakan nasionalnya berdasarkan dengan kepentingan negara itu sendiri, dan mengamankan tujuan untuk mencapainya. Maka dari itu dalam mengamankan kepentingan disetiap negara, menjadi suatu hak yang bisa diterima secara universal.16

Guna mencapai kepentingan nasional tidak bisa dilepas dari aspek- aspek hubungan internasional di dalamnya, yaitu aspek politik, aspek hukum, aspek ekonomi dan aspek diplomasi. Aspek politik merupakan suatu aspek yang bersangkutan dengan hal-hal material seperti kepentingan militer, ekonomi, dan kebudayaan. Aspek hukum merupakan aspek formal yang merupakan format atas solusi prosedural dari sekian banyak kepentingan dari suatu negara. Sehingga pada akhirnya, kepentingan itu dapat dan mesti diputuskan sebagai kepentingan politik juga. Aspek ekonomi berkaitan dengan kepemilikan sumber daya ekonomi dan pemenuhan sumber daya ekonomi negara

15 Kiyonno, Ken, A Study on the Concept of The National Interest of Hans J. Morgenthau:

as The Standard of American Foreign Policy‖, NAOSITE 49 hal: 1-20, 1969, diakses melalui http://naosite.lb.nagasaki- u.ac.jp/dspace/bitstream/10069/27783/1/keieikeizai49_03_04.pdf, pada 16 Juni 2017.

16 Marianus Suwarman, Eufronius., dkk, Rivalitas Geopolitik Amerika Serikat – Tiongkok Di Myanmar, Journal Asia Pasific Studies, Vol. 2 No.2, 2018, hal 182.

(31)

16 tersebut. Kemudian, aspek diplomasi berkaitan dengan kemampuan suatu negara dalam bernegosisasi dengan negara lainnya guna mencapai kepentingan nasional mereka.17

Thomas W. Robinson mengelompokkan kepentingan nasional ke dalam enam kategori berdasarkan peringkat kepentingan itu sendiri, yaitu, kepentingan primer, kepentingan sekunder, kepentingan permanen, kepentingan berubah-ubah, kepentingan umum dan kepentingan khusus. Kepentingan primer merupakan kepentingan dasar yang di dalamnya meliputi perlindungan teritori, budaya serta identitas mereka dari ancaman di luar. Kepentingan sekunder merupakan kepentingan yang meliputi perlindungan dan juga jaminan bagi warga negara mereka di luar negeri. Kepetingan permanen merupakan kepentingan jangka panjang dari suatu negara yang mana kepentingan tersebut sulit untuk dirubah.18

Kepentingan berubah-ubah adalah kepentingan yang berasal dari kepentingan individu ataupun kelompok di suatu negara yang nantinya akan membentuk kebutuhan nasional. Kepentingan umum adalah kepentingan yang berkaitan dengan kondisi dari suatu negara dengan negara lainnya, hal ini biasanya merujuk pada satu bidang seperti

17 Sitepu, Anthonius. P, Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011, hal 20.

18 Urmila Sharma, S.K Sharma, Principles and Teory in Political Science Vol 1, (New Delhi: Atlantic Publishers and Distributors, 2007), 127-128.

(32)

17 ekonomi. Kepentingan khusus merupakan hasil dari pengembangan kepentingan umum suatu negara yang tertuju pada batasan tertentu.19

Pada dasarnya kepentingan nasional dari setiap negara meliputi berbagai hal seperti integritas nasional, melindungi serta mepertahankan martabat dari suatu negara, dan juga untuk membangun kekuasaan dari suatu negara.20 Tujuan kepentingan nasional dari suatu negara yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya dilakukan dengan cara memajukan serta mengembangkan ekonomi di negaranya.

Karakteristik kepentingan nasional lainnya dijelaskan oleh Daniel S.

Papp yang membagi beberapa bentuk karakteristik nasional salah satunya adalah karakteristik ekonomi. Kepentingan dengan karakteristik ekonomi memiliki fokus utama pada keberlanjutan kebutuhan masyarakatnya. Selain itu tujuannya adalah melakukan perbaikan tingkat perdagangan dengan meningkatkan ekspor dan pembangunan ekonomi domestiknya.21

1.6.2. Kerjasama Internasional

Dalam menjawab pertanyaan dari rumusan masalah, peneliti juga menggunakan konsep kerjasama internasional guna menjelaskan hubungan yang tercipta antara Afrika Selatan dengan Tiongkok.

19 Urmila Sharma, S.K Sharma, Principles and Teory in Political Science Vol 1, (New Delhi: Atlantic Publishers and Distributors, 2007), 127-128.

20 Carlton, Clymer Rodee, dkk, Pengantar Ilmu Politik, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000, hal 501-504.

21 Hans J. Morgenthau. Politics Among Nations. 7th edition. (New York: McGraw Hill, 2006), 4-16.

(33)

18 Penjelasan terkait kerjasama internasional sendiri dijelaskan oleh KJ.

Holsti, KJ. Holsti mendefinisikan kerjasama internasional sebagai sebuah harapan dari suatu negara bahwa kebijakan yang diputuskan oleh negara lain yang melakukan kerjasama dengannya akan membantu mereka untuk mencapai kepentingan dan nilai-nilai dari negaranya.

Kerjasama internasional ini akan menciptakan transaksi antar negara untuk memenuhi persetujuan mereka.22

Setiap negara yang melakukan kerjasama internasional bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dari negaranya perlu bantuan dari negara lain sehingga terciptalah kerjasama internasional. Untuk itu, negara tersebut perlu memperjuangkan kepentingan nasionalnya di luar negeri.

Maka dari itu, diperlukan suatu kerjasama yang terjalin guna mencapai kepentingan nasional antar negara tersebut. Dalam kerjasama antar negara masalah bukan hanya terletak pada identifikasi sasaran-sasaran bersama dan metode untuk mencapainya, tetapi terletak pada pencapaian sasaran itu. Pada dasanya kerjasama akan dilakukan, jika manfaat yang diperoleh lebih besar daripada konsekuensi yang harus ditanggung.

Terdapat dua jenis dari kerjasama itu sendiri, yaitu kerjasama multilateral dan kerjasama bilateral. Dalam penelitian ini bentuk dari kerjasama yang tercipta antara Afrika Selatan dengan Tiongkok dapat

22 K.J Holsti, Politik Internasional, Kerangka Untuk Analisis, Jilid II, Terjemahan M. Tahrir Azhari. Jakarta: Erlangga, 1988, hal. 652-653

(34)

19 dikategorikan sebagai kerjasama bilateral. Kerjasama bilateral diartikan sebagai suatu keadaan dimana suatu kepentingan yang mendasari kesepakatan antara dua negara untuk berinteraksi dalam suatu bidang tertentu dengan cara serta tujuan yang telah disepakati oleh kedua negara tersebut. Kemudian, konsep hubungan bilateral digunakan dalam kerjasama yaitu untuk memperkokoh kerjasama yang terjalin dengan saling menggunakan pengaruh dari masing-masing negara sehingga dapat mencapai tujuan nasional mereka. 23

Kerjasama internasional dikelompokkan ke dalam empat bentuk berdasarkan sifatnya menurut Dr. Budiono, yaitu kerjasama global, kerjasama regional, kerjasama fungsional dan kerjasama ideologi.

Kerjasama global merupakan suatu kerjasama yang terjalin berdasarkan adanya hasrat yang kuat dari berbagai negara untuk membentuk suatu wadah yang dapat mempersatukan cita-cita mereka bersama. Sejarah kerjasama global sendiri tidak dapat dipisahkan dari kerjasama Westphalia (1648). Hasil dari kerjasama global sendiri dapat dilihat dari berdirinya PBB yang merupakan forum bagi kerjasama global.

Selanjutnya, kerjasama regional merupakan kerjasama yang terjalin antarnegara yang secara geografis letaknya berdekatan. Selain kedekatan geografis, kesamaan pandangan politik dan kebudayaan

23 Suryadi, Agita, KEPENTINGAN INDONESIA MENYEPAKATI KERJASAMA EKONOMI DENGAN SLOVAKIA DALAM BIDANG ENERGI DAN INFRASTRUKTUR, Universitas Riau : Riau, Pekanbaru,2015, hal 6-8. Diakses melalui 32801-ID-kepentingan- indonesia-menyepakati-kerjasama-ekonomi-dengan-slovakia-dalam-bidang.pdf (neliti.com), pada tanggal 24 Juni 2021, pukul 10.25.

(35)

20 maupun struktur produktifitas ekonomi juga turut menentukan terwujudnya suatu kerjasama.

Kemudian, kerjasama fungsional, kerjasama ini berangkat dari pragmatis pikiran yang mensyaratkan adanya kemampuan pada masing- masing mitra kerjasama. Sehingga, terjalinnya kerjasama ini tidak dapat dipisahkan dari kepemilikan power dari masing-masing negara.

Cakupan dari kerjasama ini sendiri sangatlah kompleks karena melibatkan banyak lembaga politik dalam pengambilan keputusannya.

Dan yang terakhir, yaitu kerjasama ideologi. Kerjasama ini lebih banyak dipakai oleh kelompok kepentingan yang ingin berusaha mencapai tujuannya dengan memanfaatkan berbagai kemungkinan yang terbuka di forum global.24

Keberhasilan kerjasama dapat diukur dari perbandingan besarnya manfaat yang dicapai terhadap konsekuensi yang ditanggung. Di samping itu, keberhasilan kerjasama ditentukan oleh sifat dari tujuan kerjasama yang hendak dicapai. Dalam melakukan kerjasama, sekurang-kurangnya harus dimiliki dua syarat utama, yaitu, pertama, adanya keharusan untuk menghargai kepentingan nasional masing- masing anggota yang terlibat. Tanpa adanya penghargaan tidak mungkin dapat dicapai suatu kerjasama seperti yang diharapkan semula. Kedua, adanya keputusan bersama dalam mengatasi setiap persoalan yang

24 Budiono Kusumohamidjojo, Hubungan Internasional: Kerangka Analitis, (Jakarta: Bina Cipta, 1987), 62.

(36)

21 timbul. Untuk mencapai keputusan bersama, diperlukan komunikasi dan konsultasi secara berkesinambungan. Frekuensi komunikasi dan konsultasi harus lebih tinggi daripada komitmen.25

Terkait kerjasama internasional yang terjalin antara Afrika Selatan dengan Tiongkok di dasari oleh pemenuhan kepentingan energi di kedua negara. Afrika Selatan melakukan kerjasama dengan Tiongkok dikarenakan perlu adanya bantuan dari negara lain untuk mengolah sumber daya energi yang ada di negara mereka yan juga ditujukan untuk meningkatkan nilai GDP dari negara mereka. Kemudian, Tiongkok melakukan kerjasama dengan Afrika Selatan dikarenakan mereka harus memenuhi kebutuhan energi baik itu minyak, batu bara ataupun sumber daya lain untuk negara mereka. Hal ini terlihat dari bagaimana kedua negara memperjuangkan kepentingan nasional mereka di luar negeri dengan menjalin kerjasama di bidang energi.

1.6.3. Interdependensi

Selanjutnya, peneliti juga menggunakan konsep interdependensi guna melihat hubungan yang terjalin antara Afrika Selatan dengan Tiongkok. Konsep interdependensi yang digunakan oleh peneliti adalah konsep interdependensi yang dikemukakan oleh Robert O. Keohane dan Joseph S. Nye. Robert O. Keohane dan Joseph S. Nye mendefinisikan

25 Sjamsumar Dam dan Riswandi, Kerjasama ASEAN, Latar Belakang, Perkembangan, dan Masa Depan, (Jakarta: Pustaka Relajar, 1998), 16

(37)

22 teori interdependensi secara sederhana sebagai sebuah hubungan tim bal-balik atau hubungan saling ketergantungan satu sama lain dalam hubungan intemasional.26 Selanjutnya, Yanuar Ikbar mengartikan interdependensi merupakan saling ketergantungan yang mempertemukan kekurangan dari masing-masing negara melalui keunggulan komparatif masyarakat.27

Pembahasan seputar interdependensi diranah hubungan internasional pada umumnya berfokus pada hubungan ekonomi antar negara yang bisa mempengaruhi perilaku mereka. Meningkatnya interdependensi dapat mempengaruhi kepentingan-kepentingan aktor di dalamnya, dimana mereka berusaha untuk memperoleh keuntungan dari hubungan yang mereka jalin dengan negara lain.

Perjanjian Sinopec Corp dengan PetroSA ini, sudah pasti terdapat interaksi-interaksi yang berkaitan dengan ekonomi. Interaksi tersebut tentu saja memberi efek timbal balik bagi negara yang terlibat di dalamnya. Tiongkok contohnya. Saat mereka menjalin interaksi dengan negara-negara di benua Afrika, maka Tiongkok memberikan keuntungan bagi negara tersebut, begitu juga sebaliknya. Berdasarkan kerjasama Sinopec Corp dengan PertroSA ini nantinya berdampak pada perekonomian masing-masing negara tak terkecuali bagi negara Afrika Selatan.

26 RobertJackson & George Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (2009).

27 Ikbar, Yanuar. 2007. Ekonomi Politik Intemasional 2 : Implementasi Konsep dan Teori.

Bandung: P T Refika Aditama.

(38)

23 1.7. Metode Penelitian.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif guna mempermudah peneliti dalam melakukan penelitiannya.

Adapun definisi dari metode kualitatif menurut Lawrence Newman, 2000, adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk membangun realitas sosial, fokus pada proses dan kejadian interaktif serta menjadikan kebenaran sebagai kunci utama dari suatu penelitian.28

Penelitian ini menganalisa hubungan yang terjalin antara Afrika Selatan dengan Tiongkok pada tahun 2011-2016, peneliti melakukan pencarian fakta dan juga data terkait penelitiannya melalui melakukan studi kepustakaan. Studi kepustakaan merupakan pencarian data yang dilakukan melalui pengumpulan data dengan cara melakukan studi atau tinjauan pustaka terhadap beberapa literatur yang didapatkan secara tidak langsung melalui perantara buku, jurnal, artikel dan juga situs-situs yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Kemudian, berdasarkan penjelasan Newman, data yang didapatkan melalui studi kepustakaan merupakan data sekunder.

Setelah memperoleh sejumlah data terkait penelitiannya melalui studi kepustakaan. Langkah selanjutnya yang dilakukan peneliti adalah melakukan analisis data dengan metode deskriptif analitis. Pengertian teknik deskriptif analitis adalah teknik analisa data yang dilakukan dengan

28 Lawrence Newman, Social Research Methods; Qualitative and Quantitative Approaches, 4th Edition (Boston: Allyn and Bacon, 2000), 16.

(39)

24 menjabarkan masalah yang ada kemudian, melakukan Analisa Kembali terkait masalah tersebut serta menyusun analisa tersebut secara sistematis guna menjawab pertanyaan penelitian dari penelitian ini.

Kemudian, teknik penulisan yang peneliti gunakan dalam penyusunan penelitian ini adalah teknik yang mengacu pada buku Panduan dan Penyusunan Proposal dan Penulisan Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2017.

Selanjutnya, teknik pengambilan kesimpulan yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah teknik pengambilan kesimpulan secara deduktif, dimana peneliti memberikan kesimpulan berdasarkan pembahasan yang bersifat umum hingga ke pembahasan penelitian yang bersifat khusus.

1.8. Sistematika Penulisan

Pada sistematika penulisan penelitian skripsi saya ini terdiri dari lima bab dan beberapa subbab yang akan diuraikan sebagai berikut:

BAB I: Pendahuluan

Terdiri dari latar belakang masalah mengenai mengapa penelitian ini saya lakukan, Bab ini berisi latar belakang masalah, pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, kerangka pemikiran, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II: Sumber Daya Alam Dan Energi di Afrika Selatan 2011-2016 Pada bab ini berisi penjelasan terkait kondisi sumber daya alam di Afrika Selatan secara umum, cadangan energi yang ada di Afrika Selatan

(40)

25 Tiongkok. Serta dijelaskan terkait sumber daya alam yang menjadi penopang utama perekonomian dari Afrika Selatan.

BAB III: Kerjasama Afrika Selatan dengan Tiongkok

Menjelaskan bagaimana kerjasama yang tercipta antara Afrika Selatan dengan beberapa negara yang menjadi mitra dagang dibidang energi, dan juga kerjasamaAfrika Selatan dengan Tiongkok khususnya di bidang energi. mulai dengan pemberian investasi oleh Tiongkok di beberapa perusahaan yang berada di Afrika Selatan. Hal ini dilihat dari Tiongkok yang membuat perusahaan pertama mereka di Afrika yang bergerak di bidang energi dan kimia yang terintegrasi dari hulu, tengah dan hilir yang telah terdaftar, yaitu Sinopec Corp. Pada subbab selanjutnya menjelaskan Petro SA yaitu perusahaan minyak nasional milik Afrika Selatan secara umum. Dan juga menjelasakan MoU antara Sinopec Corp dengan Petro SA sebagai dasar perjanjian tertulis dari kerjasama Energi Afrika Selatan dengan Tiongkok.

BAB IV: Analisis Mengapa Afrika Selatan Kerjasama Dengan Tiongkok 2011-2016

Bab ini bertujuan untuk menunjukan bagaimana konsep Kerjasama internasional menjelaskan keterkaitan kerjasama yang terjalin antara Afrika Selatan dengan Tiongkok dan juga apa saja yang menjadi kepentingan nasional dari masing-masing negara tersebut sehingga membentuk kerjasama internasional. Bab ini dibagi menjadi beberapa subbab, penelitian

(41)

26 ini juga memberikan hasil yang relevansi antara analisis dengan konsep yang menjadi acuan penelitian.

BAB V: Penutup

Bab ini merupakan bagian akhir skripsi ini yang berisi kesimpulan dari hasil penelitian ini secara keseluruhan. Pada lembar terakhir penulis melampirkan daftar pustaka yang berguna bagi para pembaca untuk mencari sumber informasi yang penulis teliti.

(42)

27 BAB II

SUMBER DAYA ALAM DAN ENERGI DI AFRIKA SELATAN PERIODE 2011-2016

2.1. Sumber Daya Alam di Afrika Selatan 2011-2016

Afrika Selatan adalah sebuah negara yang mengandung kelimpahan sumber daya alam, sangat kaya akan bahan tambang bernilai tinggi termasuk lahan pertanian subur dan sumber daya mineral yang unik.

Tambang Afrika Selatan adalah pemimpin dunia dalam produksi berlian dan emas serta logam strategis seperti platinum.29 Meskipun negara ini memiliki kekayaan alam melimpah dan dapat dibanggakan, penduduk Afrika Selatan masih banyak hidup di bawah garis kemiskinan dan menganggur. Kekayaan alam di Afrika Selatan tidak serta merta membuat warga negara Afrika Selatan menjadi sejahtera dikarenakan kekayaan alam Afrika Selatan yang melimpah dieksploitasi.

Afrika Selatan dijadikan sebagai salah satu anggota kelima resmi BRIC karena beberapa alasan salah satunya karena memiliki perekonomian terbesar di Sub-Saharan Africa (SSA). Afrika Selatan juga didaulat sebagai Negara perwakilan Negara-negara Afrika di kancah Internasional.

Realitanya Afrika Selatan merupakan Negara besar di kawasan SSA yang menyumbang sepertiga jumlah PDB regional, Menurut Gateway House

29 The History of Aparheid in South Africa. Diakses dari

http://www-cs-students.stanford.edu/~cale/cs201/apartheid.hist.html pada 15 April 2017 pukul 20:30

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

dalam meningkatkan ekspor non- migas Indonesia ke Afrika Selatan, karena pada. dasarnya Indonesia sedikit terlambat dari negara-negara semacam India,

PENGARUH FIFA WORLD CUP PADA RETURN PASAR DI BURSA EFEK INDONESIA, MALAYSIA, TIONGKOK, KOREAi. SELATAN,

BAB III Kerjasama Militer Vietnam dengan Amerika Serikat dalam mengelola Ancaman Keamanan Laut Cina Selatan pada tahun 2011.. 3.1 Rintisan awal kerjasama militer Vietnam

Berdasarkan Kebijaksanaan Umum Bidang Energi (KUBE) dari Departemen Pertambangan dan Energi, sifat dari minyak bumi dan gas alam yang tidak terbarukan (non renewable) serta cadangan

KEPALA DINAS BIDANG LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI BIDANG MINYAK DAN GAS BUMI BIDANG GEOLOGI DAN SUMBER DAYA MINERAL BIDANG PERTAMBANGAN UMUM SEKSI PERIZINAN SEKSI

Investasi Bidang Energi Minyak dan Gas Bumi Perusahaan Multinasional PetroChina di Indonesia, Irwan Muji Hartanto, 050910101114; 2012: 75 halaman; Jurusan Ilmu Hubungan

Kerjasama Indoinesia dan Jerman dalam pengembangan energi terbarukan pada bidang panas bumi (geothermal) di tahun 2010-2016 barhasil tercapai pada tiga wilayah di Indonesia yang

Kepentingan akan kerjasama ekonomi yang lebih kuat dengan negara-negara anggota Afrika Union ini merupakan faktor pendorong utama bagi Afrika Selatan untuk