• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DATA

A. Kategori Kata Interferensi leksikal bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jawa pada JAGAD Jawa Harian Umum SOLOPOS

1. Interferensi Leksikal Kategori Kata Benda

Data 6. Konsep (Kalawarti III/No145/Maret/2010)

Critane Yanusa Nugroho, penulis kondhang, kang tau gawe konsep pagelaran wayang kulit purwa.

‘Ceritanya Yanusa Nugroho, penulis ternama, yang pernah membuat konsep pagelaran wayang kulit purwa.’

Penggunaan unsur leksikal bahasa Indonesia yang sudah ada padanannya dalam bahasa Jawa pada konteks tersebut adalah kata konsep yang artinya

31 21

rancangan yang artinya ‘rancangan’ , untuk mengetahui apakah tetap cocok pada kalimat tersebut dapat diuji dengan teknik ganti sebagai berikut:

Critane Yanusa Nugroho, penulis kondhang, kang tau gawe

rancangan pagelaran wayang kulit purwa.

‘Ceritanya Yanusa Nugroho, penulis ternama, yang pernah

membuat rancangan pagelaran wayang purwa.’

Berdasarkan hasil analisis di atas, dapat diketahui bahwa kalimat di atas dapat diterima dan tidak berubah maknanya walaupun ada penggantian kata konsep dengan kata rancangan.

Kata konsep pada data 6 berfungsi sebagai objek, kata konsep termasuk dalam kelas kata benda yang mempunyai ciri sintaksis sebagai berikut:

a. Nomina+yang+adjektif / Nomina + sing + adjektif

Bila kata konsep dan rancangan dimasukkan dalam rumusan di atas, akan menjadi:

Konsep yang rapi. dalam bahasa Jawa Rancangan sing rapi.

‘konsepyang rapi.’

b. Dalam bentuk ingkar, dapat didahului oleh dudu ‘bukan’.

bukan konsep

dudu rancangan.

‘bukan rancangan.’

Kata konsep rancangan’ bisa diikuti kata yang ‘sing’ dan adjektif serta dalam bentuk ingkar dapat didahului kata bukan ‘dudu’, maka kata konsep termasuk kata benda (nomina). commit to user

Jejere Tilarsih, tilas wanita planyahan kuwi sing dadi uderaning gosip.

‘Sosoknya Tilarsih, bekas wanita jalang itu yang menjadi

pusat gosip.’

Penyimpangan pada kalimat tersebut terdapat pada kata gosip yang artinya ‘isu’, di dalam bahasa Jawa kata ini berpadanan dengan kata rerasan yang artinya ‘rerasan’ . Berdasarkan teknik ganti maka kalimat dapat diubah menjadi:

Jejere Tilarsih, tilas wanita planyahan kuwi sing dadi uderaning rerasan.

‘Sosok Tilarsih, bekas wanita jalang itu yang menjadi pusat

perbincangan.’

Berdasarkan analisis di atas dapat diketahui penggantian kata gosip dengan kata rerasan dalam kalimat tersebut tetap menghasilkan kalimat yang gramatikal dan tidak mengubah makna kalimat.

Kata gosip pada data 7 berfungsi sebagai objek, kata gosip termasuk dalam kelas kata benda yang mempunyai ciri sintaksis sebagai berikut:

a. Nomina + yang +adjektif / Nomina + sing + adjektif

Bila kata gosip dan rerasan dimasukkan dalam rumusan di atas, akan menjadi:

Gosip yang terbaru. Dalam bahasa Jawa Rerasan sing anyar.

‘gosip yang terbaru.’

b. Dalam bentuk ingkar (negatif) dapat didahului dudu‘bukan’.

‘Bukan perbincangan’

Kata gosip ‘isu’ bisa diikuti kata yang ‘sing’ dan adjektif serta dalam bentuk ingkar dapat didahului kata bukan ‘dudu’, maka kata gosip termasuk dalam kata benda (nomina).

Data 8. Etika (Kalawarti II/No 89/Januari/2009)

Kajaba saka iku uga tinemu perangan etika kang nyakup babagan becik-ala, bener kleru lan liya-liyane.

‘Selain itu juga ditemukan perihal etika yang mencakup tentang baik-buruk, benar salah dan lain-lain.’

Penyimpangan pada kalimat tersebut terdapat pada kata etika yang artinya

kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak dan kewajiban moral’ atau ‘tatakrama’ di dalam bahasa Jawa kata ini berpadanan dengan kata tatakrama yang artinya ‘tatakrama’. Berdasarkan teknik ganti maka kalimat tersebut dapat diubah menjadi:

Kajaba saka iku uga tinemu perangan tatakrama kang nyakup babagan becik-ala, bener kleru lan liya-liyane.

‘Selain itu juga ditemukan perihal tatakrama yang mencakup

tentang baik-buruk, benar salah dan lain-lain.’

Berdasarkan analisis diatas dapat diketahui penggantian kata etika dengan kata tatakrama dalam kalimat tersebut tetap menghasilkan kalimat yang gramatikal dan tidak mengubah makna kalimat.

Kata etika pada data 8 berfungsi sebagai subjek, kata etika termasuk dalam kategori kata benda yang mempunyai ciri sintaksis sebagai berikut:

atas, akan menjadi:

Etika yang baik. Dalam bahasa Jawa Tatakrama sing becik.

‘Tatakrama yang baik.’

b. Dalam bentuk ingkar dapat didahului kata dudu ‘bukan’.

Bukan etika Dudu tatakrama.

‘Bukan tatakrama.’

Kata etika tatakrama’ bisa diikuti kata yang ‘sing’ dan adjektif serta dalam bentuk ingkar dapat didahului kata bukan ‘dudu’, maka kata etika termasuk dalam kata benda (nomina).

Data 9. Koleksi (Kalawarti III/No 122/Oktober/2009)

Museum Radyapustaka pancen ora nyimpen koleksi bathik.

‘Museum Radyapustaka memang tidak menyimpan koleksi

bathik’.

Interferensi pada kalimat tersebut terdapat pada kata koleksi yang artinya

kumpulan’ di dalam bahasa Jawa kata ini berpadanan dengan kata kumpulan yang artinya ‘kumpulan’. Berdasarkan teknik ganti maka kalimat tersebut dapat diubah menjadi:

Museum Radyapustaka pancen ora nyimpen kumpulan

bathik.

‘Museum Radyapustaka memang tidak menyimpan kumpulan bathik.’

dengan kata kumpulan dalam kalimat diatas tetap menghasilkan kalimat yang gramatikal dan tidak mengubah makna kalimat.

Kata koleksi pada data 9 berfungsi sebagai objek, kata koleksi termasuk dalam kelas kata benda yang mempunyai ciri sintaksis sebagai berikut:

a. Nomina + yang + adjektif / Nomina + sing + adjektif

Bila kata koleksi dan kumpulan dimasukkan dalam rumusan di atas, akan menjadi:

Koleksi yang banyak. Dalam bahasa Jawa Kumpulan sing akeh.

‘Koleksiyang banyak.’

b. Dalam bentuk ingkar (negatif) dapat didahului kata dudu

‘bukan’.

bukan koleksi dudu kumpulan.

‘bukan kumpulan.’

Kata koleksi kumpulan’ bisa diikuti kata yang ‘sing’ dan adjektif serta dalam bentuk ingkar dapat didahului kata bukan ‘dudu’, maka kata koleksi

termasuk dalam kata benda (nomina).

Data 10. Profesi (Kalawarti III/No 110/ Juli/2009)

Profesi saliyane dhalang pranyata bisa nglairake dhalang-dhalang kang nduweni bakat.

dhalang yang mempunyai bakat.’

Interferensi pada kalimat tersebut terdapat pada kata profesi yang artinya ‘pekerjaan, keterampilan,kejuruan yang dilandasi pendidikan keahlian’, di dalam bahasa Jawa kata ini berpadanan dengan kata pagawean atau panggaotan yang artinya ‘pekerjaan’ atau ‘pekerjaan’ . Berdasarkan teknik ganti maka kalimat dapat diubah menjadi:

Pagawean saliyane dhalang pranyata bisa nglairake dhalang-dhalang kang nduweni bakat.

‘Pekerjaan selain dalang ternyata bisa melahirkan dalang-dalang yang mempunyai bakat.

Panggaotan saliyane dhalang pranyata bisa nglairake dhalang-dhalang kang nduweni bakat.

‘Pekerjaan selain dalang ternyata bisa melahirkan dalang-dalang yang mempunyai bakat.

Berdasarkan analisis diatas dapat diketahui penggantian kata profesi dengan kata pagawean dan panggaotan dalam kalimat diatas tetap menghasilkan kalimat yang gramatikal dan tidak mengubah makna kalimat serta dapat berterima.

Kata profesi pada data 10 berfungsi sebagai subjek, kata profesi termasuk dalam kata benda yang mempunyai ciri sintaksis sebagai berikut:

a. Nomina + yang + adjektif / Nomina + sing + adjektif

Bila kata profesi, pagawean dan panggaotan dimasukkan dalam rumusan di atas, akan menjadi:

Profesi yang mapan. Dalam bahasa Jawa

‘Pekerjaan yang mapan.’

Panggaotan sing mapan.

‘Pekerjaan yang mapan.’

b. Dalam bentuk ingkar dapat didahului kata dudu‘bukan’.

bukan profesi

dudu pagawean ‘Bukan pekerjaan’

dudu panggaotan ‘bukan pekerjaan’

Kata profesi ‘pagawean’ bisa diikuti kata yang ‘sing’ dan adjektif serta dalam bentuk ingkar dapat didahului kata bukan ‘dudu’, maka kata profesi

termasuk dalam kata benda (nomina).

Data. 11 inisiatif (Kalawarti III/No 167/September/2010)

Bojoku banjur nduweni inisiatif golek koskosan.

‘Istriku kemudian mempunyai inisiatif mencari koskosan.’

Interferensi pada kalimat tersebut terletak pada penggunaan kata dari bahasa Indonesia yaitu kata inisiatif yang artinya prakarsa’ di dalam bahasa Jawa kata ini berpadanan dengan kata ada-ada atau reka yang artinya akal

atau ‘rerigen’. Untuk mengetahui apakah penggantian kata tersebut cocok dapat diuji dengan teknik ganti, maka kalimat tersebut akan berubah menjadi:

Bojoku banjur nduweni ada-ada golek koskosan.

‘Istriku kemudian mempunyai akal mencari koskosan’.

Bojoku banjur nduweni reka golek koskosan.

dengan kata ada-ada dan reka dalam kalimat diatas tetap menghasilkan kalimat yang gramatikal dan tidak mengubah makna kalimat dan bisa berterima.

Kata inisiatif pada data 11 berfungsi sebagai keterangan, kata inisiatif termasuk dalam kata benda yang mempunyai ciri sintaksis sebagai berikut:

a. Nomina + yang + adjektif / Nomina + sing + adjektif

Bila kata inisiatif, ada-ada dan reka dimasukkan dalam rumusan di atas, akan menjadi:

Inisiatif yang bagus. Dalam bahasa Jawa Ada-ada sing becik.

‘Prakarsa yang bagus.’

Reka .sing becik.

‘Prakarsa yang bagus.’

b. Dalam bentuk ingkar (negatif) dapat di dahului kata dudu

‘bukan’.

bukan inisiatif

dudu ada-ada ‘bukan prakarsa’

dudu reka ‘bukan prakarsa’

Kata inisiatif prakarsa’ bisa diikuti kata yang ‘sing’ dan adjektif serta dalam bentuk ingkar dapat didahului kata bukan ‘dudu’, maka kata inisiatif

termasuk dalam kata benda (nomina).

Data. 12 materi (Kalawarti II/No 88/Januari/2009)

kanggo ngemudheni uripe.

‘Uang itu sebangsa materi, maka orang hidup perlu

memperhatikan itu untuk mengemudikan hidupnya.’

Penyimpangan pada kalimat tersebut terletak pada penggunaan kata dari bahasa Indonesia yaitu kata materi yang artinya ‘benda, bahan, segala sesuatu yang tampak’ di dalam bahasa Jawa kata ini berpadanan dengan kata bandha. Untuk mengetahui apakah penggantian kata tersebut cocok dapat diuji dengan teknik ganti, maka kalimat tersebut akan berubah menjadi:

Dhuwit iku ewoning bandha, mula wong urip prelu ngluru iku kanggo ngemudheni uripe.

‘Uang itu sebangsa barang berwujud, maka orang hidup perlu memperhatikan itu untuk mengemudikan hidupnya.

Berdasarkan analisis diatas dapat diketahui penggantian kata materi dengan kata bandha dalam kalimat diatas tetap menghasilkan kalimat yang gramatikal dan tidak mengubah makna kalimat dan bisa berterima.

Kata materi pada data 12 berfungsi sebagai keterangan, kata materi termasuk dalam kata benda yang mempunyai ciri sintaksis sebagai berikut:

a. Nomina + yang + adjektif / Nomina + sing + adjektif

Bila kata materi dan bandhadimasukkan dalam rumusan di atas, akan menjadi:

Materi yang banyak. Dalam bahasa Jawa Bandha sing akeh.

‘Barang berwujud yang banyak.’

‘bukan’.

bukan materi

dudu bandha ‘bukan barang berwujud’

Kata materi ‘benda’ bisa diikuti kata yang ‘sing’ dan adjektif serta dalam bentuk ingkar dapat didahului kata bukan ‘dudu’, maka kata materi termasuk dalam kata benda (nomina).

Data.13 insting (Kalawarti III /No 110/Juli/2009) Dheweke nduweni insting.

‘Dia mempunyai insting.’

Interferensi pada kalimat diatas terletak pada penggunaan kata dari bahasa Indonesia yaitu kata insting yang artinya ‘pola tingkah laku yang bersifat turun-temurun yang dibawa sejak lahir, naluri, garizat’ di dalam bahasa Jawa kata ini berpadanan dengan kata naluri sakabehing tumindak gawaning urip sing turun-tumurun’. Untuk mengetahui apakah penggantian kata tersebut cocok dapat diuji dengan teknik ganti, maka kalimat tersebut akan berubah menjadi:

Dheweke nduweni naluri.

‘Dia mempunyai naluri.’

Berdasarkan analisis diatas dapat diketahui penggantian kata insting dengan kata naluri dalam kalimat diatas tetap menghasilkan kalimat yang gramatikal dan tidak mengubah makna kalimat dan bisa berterima.

Kata insting pada data 13 berfungsi sebagai subjek, kata insting masuk dalam kata benda yang mempunyai ciri sintaksis sebagai berikut:

Bila kata insting dan naluri dimasukkan dalam rumusan di atas, akan menjadi:

Insting yang tajam. Dalam bahasa Jawa Naluri sing landhep.

‘Naluri yang tajam.’

b. Dalam bentuk ingkar (negatif) dapat didahului kata dudu ‘bukan’.

Bukan insting

Dudu naluri ‘bukan naluri’

Kata insting naluri’ bisa diikuti kata yang ‘sing’ dan adjektif serta dalam bentuk ingkar dapat didahului kata bukan ‘dudu’, maka kata insting

termasuk dalam kata benda (nomina).

Data.14 nilai (Kalawarti II/No 89/ Januari/2009)

Nilai sing kacakup minangka wohing budi kang makarti

‘Nilai yang tercakup sebagai hasil dari perbuatannya.

Penyimpangan pada kalimat diatas terletak pada penggunaan kata dari bahasa Indonesia yaitu kata nilai yang artinya ‘banyak sedikitnya isi, mutu, kadar’ di dalam bahasa Jawa kata ini berpadanan dengan kata bobot. Untuk mengetahui apakah penggantian kata tersebut cocok dapat diuji dengan teknik ganti, maka kalimat tersebut akan berubah menjadi:

Bobot sing kacakup minangka wohing budi kang makarti.

‘ Bobot yang tercakup sebagai buah dari perbuataanya.

dengan kata bobot dalam kalimat diatas tetap menghasilkan kalimat yang gramatikal dan tidak mengubah makna kalimat dan bisa berterima.

Kata nilai pada data 14 berfungsi sebagai objek, kata nilai termasuk dalam kata benda yang mempunyai ciri sintaksis sebagai berikut:

a. Nomina + yang+ adjektif / Nomina + sing + adjektif

Bila kata nilai dan bobot dimasukkan dalam rumusan di atas, akan menjadi:

Nilai yang tercakup. Dalam bahasa Jawa Bobot sing kacakup.

‘Bobot yang tercakup.’

b. Dalam bentuk ingkar (negatif) dapat didahului kata dudu‘bukan’.

bukan nilai

dudu bobot ‘bukan bobot’

Kata nilai mutu, kadar’ bisa diikuti kata yang ‘sing’ dan adjektif serta dalam bentuk ingkar dapat didahului kata bukan ‘dudu’, maka kata nilai

termasuk dalam kata benda (nomina).

Data. 15 versi (Kalawarti III/ No 169/ September/2010)

Sawetara sumber nyebutake kesenian reyog iku ngamot crita nganti sawetara versi.

‘Sekian sumber menyebutkan kesenian reyog itu memuat cerita sampai sekian versi.’

bahasa Indonesia yaitu kata versi yang artinya ‘model, menurut cara’ di dalam bahasa Jawa kata ini berpadanan dengan kata modhel ‘conto, cara anyar’. Untuk mengetahui apakah penggantian kata tersebut cocok dapat diuji dengan teknik ganti, maka kalimat tersebut akan berubah menjadi:

Sawetara sumber nyebutake kesenian reyog iku ngamot crita nganti sawetara modhel.

‘Sekian sumber menyebutkan kesenian reyog itu memuat cerita sampai

sekian model.

Berdasarkan analisis di atas dapat diketahui penggantian kata versi dengan kata modhel dalam kalimat diatas tetap menghasilkan kalimat yang gramatikal dan tidak mengubah makna kalimat dan bisa berterima.

Kata versi pada data 14 berfungsi sebagai keterangan, kata versi ter masuk dalam kata benda yang mempunyai ciri sintaksis sebagai berikut:

a. Nomina + yang + adjektif / Nomina + sing + adjektif

Bila kata versi dan modhel dimasukkan dalam rumusan di atas, akan menjadi:

Versi yang baru. Dalam bahasa Jawa Modhel sing anyar.

‘Model yang baru.’

b. Dalam bentuk ingkar (negatif) dapat didahului kata dudu

‘bukan’.

bukan versi

Kata versi model’ bisa diikuti kata yang ‘sing’ dan adjektif serta dalam bentuk ingkar (negatif) dapat didahului kata bukan ‘dudu’, maka kata versi termasuk dalam kata benda (nomina).

Data.16 interpretasi (Kalawarti III/No 173/Oktober/2010)

Sejatine interpretasi iku oleh-oleh wae, nanging aja nganti pengarang mateni karaktere pengarang.

‘Sejatinya interpretasi itu boleh-boleh saja, tapi jangan sampai pengarang membunuh karakter pengarang.

Interferensi pada kalimat tersebut terletak pada penggunaan kata dari bahasa Indonesia yaitu kata interpretasi yang artinya ‘tafsiran, pandangan teoritis terhadap sesuatu’ di dalam bahasa Jawa kata ini berpadanan dengan kata tapsiran ‘tapsiran’. Untuk mengetahui apakah penggantian kata tersebut cocok dapat diuji dengan teknik ganti, maka kalimat tersebut akan berubah menjadi:

Sejatine tapsiran iku oleh-oleh wae, nanging aja nganti pengarang mateni karaktere pengarang.

‘Sejatinya tafsiran itu boleh-boleh saja, tapi jangan sampai pengarang membunuh karakternya pengarang.

Berdasarkan analisis diatas dapat diketahui penggantian kata

interpretasi dengan kata tapsiran dalam kalimat diatas tetap

menghasilkan kalimat yang gramatikal dan tidak mengubah makna kalimat dan bisa berterima.

interpretasi masuk dalam kata benda yang mempunyai ciri sintaksis sebagai berikut:

a. Nomina + yang + adjektif / Nomina + sing + adjektif

Bila kata interpretasi dan tapsiran dimasukkan dalam rumusan di atas, akan menjadi:

Interpretasi yang benar. Dalam bahasa Jawa Tapsiran sing bener.

‘Tafsiran yang benar.’

b. Dalam bentuk ingkar (negatif) dapat didahului kata dudu

‘bukan’.

bukan interpretasi

bukan tapsiran ‘bukan tafsiran’

Kata interpretasi tafsiran’ bisa diikuti kata yang ‘sing’ dan adjektif serta dalam bentuk ingkar (negatif) dapat didahului bukan ‘dudu’, maka kata interpretasi termasuk dalam kata benda (nomina).

Data.17 inspirasi (KalawartiIII /No173/Oktober/2010)

Samubarang kang ana lan dumadi ing alam utawa Jagad iki dadi sumber inspirasi kang banjur nglairake sesanti utawa unen-unen.

‘Semua yang ada dan tercipta di alam atau Jagat ini menjadi sumber inspirasi yang kemudian melahirkan nasihat atau petuah.

dari bahasa Indonesia yaitu kata inspirasi yang artinya ilham’ di dalam bahasa Jawa kata ini berpadanan dengan kata ilham atau wisik ‘pituduh’. Untuk mengetahui apakah penggantian kata tersebut cocok dapat diuji dengan teknik ganti, maka kalimat tersebut akan berubah menjadi:

Samubarang kang ana lan dumadi ing alam utawa Jagad iki dadi sumber ilham kang banjur nglairake sesanti utawa unen-unen.

‘Semua yang ada dan tercipta di alam atau Jagat ini menjadi

sumber ilham yang kemudian melahirkan nasihat atau petuah. Samubarang kang ana lan dumadi ing alam utawa Jagad iki dadi sumber wisik kang banjur nglairake sesanti utawa unen-unen.

‘Semua yang ada dan tercipta di alam atau Jagat ini menjadi

sumber ilham yang kemudian melahirkan nasihat atau petuah. Berdasarkan analisis diatas dapat diketahui penggantian kata inspirasi dengan kata ilham dan wisik dalam kalimat diatas tetap menghasilkan kalimat yang gramatikal dan tidak mengubah makna kalimat dan bisa berterima.

Kata inspirasi pada data 17 berfungsi sebagai keterangan, kata inspirasi termasuk dalam kata benda yang mempunyai ciri sintaksis sebagai berikut:

a. Nomina + yang + adjektif / Nomina + sing + adjektif

Bila kata inspirasi dan ilham dimasukkan dalam rumusan di atas, akan menjadi:

Inspirasi yang bagus. Dalam bahasa Jawa Ilham sing becik. commit to user

b. Dalam bentuk ingkar (negatif) dapat didahului dudu ‘bukan’.

bukan inspirasi

dudu ilham ‘bukan ilham’

Kata inspirasi ilham’ bisa diikuti kata yang ‘sing’ dan adjektif serta dalam bentuk ingkar (negatif) dapat didahului kata bukan ‘dudu’, maka kata inspirasi termasuk dalam kata benda (nomina).

Data 18. prinsip (Kalawarti III/No 185/Januari/2011)

Antarane yakuwi prinsip urip rukun utawa gotong-royong.

‘Diantaranya yaitu prinsip hidup rukun atau gotong

-royong’.

Interferensi pada kalimat tersebut terletak pada penggunaan kata dari bahasa Indonesia yaitu kata prinsip yang artinya ‘asas, dasar’ di dalam bahasa Jawa kata ini berpadanan dengan kata dhasar atau wewaton

‘dhasar’. Untuk mengetahui apakah penggantian kata tersebut cocok dapat diuji dengan teknik ganti, maka kalimat tersebut akan berubah menjadi:

Antarane yakuwi dhasar urip rukun utawa gotong-royong.

‘Diantaranya yaitu dasar hidup rukun atau gotong-royong.’

Antarane yakuwi wewaton uriprukun utawa gotong-royong .

‘Diantaranya yaitu dasar hidup rukun atau gotong-royong.’

Berdasarkan analisis diatas dapat diketahui penggantian kata prinsip dengan kata dhasar dan wewaton dalam kalimat diatas tetap menghasilkan kalimat yang gramatikal dan tidak mengubah makna kalimat dan bisa berterima. commit to user

termasuk dalam kata benda yang mempunyai ciri sintaksis sebagai berikut:

a. Nomina + yang + adjektif / Nomina + sing + adjektif

Bila kata prinsip dan dhasar dimasukkan dalam rumusan di atas, akan menjadi:

Prinsip yang kukuh. Dalam bahasa Jawa Dhasar sing kukuh.

‘Dasar yang kuat.’

b. Dalam bentuk ingkar (negatif) dapat didahului dudu ‘bukan’.

Bukan prinsip

Dudu dhasar ‘bukan dasar’

Kata prinsip dasar, asas’ bisa diikuti kata yang ‘sing’ dan adjektif serta dalam bentuk ingkar (negatif) dapat didahului kata bukan ‘dudu’, maka kata prinsip termasuk dalam kata benda (nomina).

Data 19. Dialog (Kalawarti III/No 138/Januari/2010)

Ngajak pamirsa padha melu rembugan ing saperangan dialog.

‘Mengajak pemirsa untuk ikut berdiskusi di beberapa dialog.’

Penyimpangan pada kalimat tersebut terletak pada penggunaan kata dari bahasa Indonesia yaitu kata dialog yang artinya ‘percakapan’ di dalam bahasa Jawa kata ini berpadanan dengan kata rembug ‘omong

diuji dengan teknik ganti, maka kalimat tersebut akan berubah menjadi:

Ngajak pamirsa padha melu rembugan ing saperangan rembug.

‘Mengajak pemirsa ikut berdiskusi di beberapa percakapan.’

Berdasarkan analisis diatas dapat diketahui penggantian kata dialog dengan kata rembug dalam kalimat diatas tetap menghasilkan kalimat yang gramatikal dan tidak mengubah makna kalimat dan bisa berterima.

Kata dialog pada data 18 berfungsi sebagai keterangan, kata dialog termasuk dalam kata benda yang mempunyai ciri sintaksis sebagai berikut:

a. Nomina + yang + adjektif / Nomina + sing + adjektif

Bila kata dialog dan rembugdimasukkan dalam rumusan di atas, akan menjadi:

Dialog yang jelas. Dalam bahasa Jawa rembug sing cetha.

‘Percakapan yang jelas.’

b. Dalam bentuk ingkar (negatif) dapat didahului dudu ‘bukan’.

Bukan dialog

Dudu rembug ‘bukan percakapan’

Kata dialog percakapan’ bisa diikuti kata yang ‘sing’ dan adjektif serta dalam bentuk ingkar (negatif) dapat didahului kata bukan ‘dudu’, maka kata prinsip termasuk dalam kata benda (nomina).

Data 20. antusias (Kalawarti III/No 110/ Juli/ 2009)

Kabeh padha antusias, raketang amung nyekel wayang sik.

‘Semua ikut antusias, walaupun hanya memegang wayang dulu.’

Interferensi pada kalimat tersebut terdapat pada kata antusias yang artinya ‘bersemangat’di dalam bahasa Jawa kata ini berpadanan dengan kata karep banget atau mempeng yang artinya ‘bersemangat’.

Dokumen terkait