• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTERKONEKSI DENGAN DUNIA LUAR DAN SEJARAH KONSUMSI MINUMAN BERALKOHOL PADA ORANG

SENTANI

Walaupun orang Eropa khususnya Belanda telah menduduki Pulau Papua pada tahun 1855 namun interkoneksi orang Sentani dengan orang asing khususnya bangsa Eropa baru terjadi pada akhir abad ke 19, ketika seorang Inggris yang bernama W. Doherty mengunjungi danau Sentani pada tahun 1892 ( Galis dalam Mansoben 1990:157).

Kunjungan orang asing kedua di danau Sentani terjadi pada tahun 1893 oleh pendeta G.L. Bink yang berada di daerah Sentani kurang lebih tiga bulan lamanya. Setelah dua kunjungan ini, kemudian danau Sentani mendapat banyak kunjungan dari orang asing lainnya.

Transformasi kebudayaan Sentani terjadi akibat interkoneksi mereka dengan orang asing. Sejarah interkoneksi budaya tersebut dapat dibagi ke dalam 4 periode yaitu; pertama periode tahun 1916 - tahun 1926; kedua periode tahun 1928 - tahun 1940- an; ketiga periode tahun 1940-an – 1969 dan periode 1970 sampai sekarang .

Diawali dengan membuka pos pemerintah Belanda yang pertama pada tahun 1916 di daerah Danau Sentani di Koyabu yang terletak di ujung timur laut danau (Pantai Waena sekarang). Kemudian pada tahun 1921, pemerintah Belanda memindahkan pos tersebut ke daerah Doyo Baru, tetapi tidak lama kemudian, yakni tahun 1926 pos pemerintah dipindahkan kembali ke Koyabu. Periode kedua berlangsung dalam tahun 1928 - tahun 1940-an. Pada periode ini orang Sentani mulai mengenal pendidikan formal. Kedatangan orang asing khususnya Belanda ke wilayah Tabi (Jayapura) dengan misi tertentu, yaitu “mengkristenkan” penduduk. Untuk misi mengkristenkan orang Sentani dilakukan bersamaan dengan memperkenalkan pendidikan formal. Pemerintah Belanda mengumpulkan orang Sentani yang tersebar dalam kampung –kampung yang dibentuk. Membuka sekolah – sekolah dan mendatangkan guru – guru penginjil yang berasal dari wilayah lain di Jayapura, seperi Demta, Depapre dan Genyem.

Pada tahun 1940-an, Pemerintah Belanda membuka sekolah pertanian di Kota Nica (sekarang Kampung Harapan Sentani). Sekolah ini merupakan sekolah pertanian pertama yang didirikan di Jayapura. Sekolah ini lebih banyak difokuskan pada praktek – praktek lapangan. Anak laki – laki Sentani banyak bersekolah di sana. Upaya Pemerintah Belanda memanusiakan orang Papua, khususnya Sentani terhenti akibat kemenangan jepang atas sekutu dalam Perang Dunia I.

Pada tahun 1941 setelah Jepang mengalahkan pasukan Amerika serikat dan sekutunya dengan menyerang Pangkalan Laut Amerika Serikat di Peral Harbour, Hawaii. Jepang menguasai daerah Papua, Belanda menyerahkan Papua bagian utara dan Papua bagian Barat kepada Jepang, sedang wilayah Papua bagian Selatan, Merauke tetap menjadi tempat pertahanan Pemerintah Belanda.

Jepang mulai menguasai wilayah Jayapura dan Sentani. Jepang membuka lapangan terbang Sentani sebagai pangkalan udaranya dengan landasan pacu pendek untuk menerbangkan 350 jenis pesawat Zero milik mereka. Tentara Jepang juga mendirikan meriam – meriam di daerah Doyo dan kota Sentani, (Muller,2008). Orang Sentani dipekerjakan sebagai tenaga kerja pada perkebunan kapas dan juga tenaga kerja untuk membuka bandara. Mereka membangun jalan dari daerah kota raja ke Abepura sampai Sentani. Tentara Jepang sering menghidangkan minuman beralkohol untuk dikonsumsi untuk pelepas lelah. Orang – orang Sentani yang bekerja bersama orang Jepang memiliki akses untuk menikmati hiburan dan mengkonsumsi minuman beralkohol.

Pada tahun 1944 tentara sekutu melakukan serangan ke Holandia (Jayapura) menghancurkan pertahanan tentara Jepang di kota Jayapura, Abepura dan Sentani. Pasukan sekutu membumi hanguskan semua armada tempur milik Jepang yang berada di Sentani. Pasukan Amerika Serikat mengambil alih kota Jayapura dan membangun berbagai fasilitas milik mereka, seperti membangun Pangkalan Militer di bawah pimpinan Jenderal Douglas Mac Arthur di daerah Ifar Gunung Sentani, membangun dermaga – dermaga militer dari dok II, dok IV, dok V, dok VII, dok VIII dan dok IX. Mereka juga membangun kantor yang disebut APO (Amerika Post Office), dan gudang – gudang militer, rumah minum atau bar di kota Jayapura. Mereka membangun jalan dari Jayapura ke Abepura dan Sentani. Dalam masa kekuasaan Sekutu Amerika Serikat di Jayapura dan Sentani, orang Jayapura umumnya dan Sentani khususnya juga telah mengenal konsumsi minuman beralkohol minuman ini diperoleh ketika mereka bekerja membantu membangun markas – markas tentara di Ifar Gunung Sentani. Mereka memiliki akses untuk mengunjungi tempat minum dalam markas tentara (Tabloid Jubi, 2016).

Belanda sebagai sekutu Amerika kembali berkuasa di wilayah Papua Utara dan Papua Barat yang telah diserahkan kepada Jepang. Sebagai upaya memuluskan misi pendidikan sesudah Perang Dunia II, pemerintah Belanda mendatangkan para guru dari Ambon dan Sangihe Talaud untuk mendidik orang Sentani pada waktu itu. Mereka mengajarkan agama Kristen,bahasa Belanda, bahasa Melayu, membaca, menulis dan berhitung. Para murid yang memiliki kompetensi dikirim mengikuti pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Sekitar tahun 1946, Pemerintah Belanda membuka sebuah sekolah di Kampung Yoka Sentani Timur. Sekolah ini menampung siswa dari seluruh tanah Papua, dengan menggunakan kurikulum dengan kualitas baik dan lebih teratur. Sekolah ini dikelola oleh yayasan Zending der Nederlandsche Geformde Kerk (ZNGK). Sekolah itu bernama Jonges Vervolog School (JVVS). Kemudian siswa lulusan JVVS direkomendasikan melanjutkan studi mereka ke sekolah lanjutan, seperti PMS, MULO, ODO dan LTS, sekolah

pertanian dan sebagainya. Anak – anak Sentani yang memiliki kompetensi terpilih mengikuti pendidikan di Negeri Belanda ( Kopeuw, 2008).

Kemajuan orang Sentani dalam pendidikan berdampak pada perubahan pola pikir. Nilai – nilai kekristenan yang telah ditabur dengan baik mulai tumbuh dan berkembang dengan baik dalam kehidupan mereka. Di satu pihak mereka yang telah mengenyam pendidikan barat, secara sadar perlahan – lahan mereka pun, meninggalkan kepercayaan asli yakni kepercayaan animisme dan dinamismenya. Namun di sisi lain, terdapat pula orang – orang yang masih tetap melaksanakan ritual – ritual agama tradisionalnya. Hal ini menyebabkan sehingga para misionaris dengan melakukan “tekanan halus” memaksa orang Sentani untuk membakar dan menghancurkan benda – benda yang digunakan dalam pemujaan. Pemerintah Belanda khususnya Misi Zending terus berupaya memanusiakan orang Sentani melalui sarana pendidikan, kesehatan dan juga gaya hidup barat.

Kelompok orang – orang Papua, khususnya Sentani yang telah sukses di jaman pemerintahan Belanda memperoleh pekerjaan sebagai bestuur (birokrat), legislator, guru, perawat dan anggota militer. Mereka ini memiliki akses kesehatan, pendidikan dan menikmati berbagai hiburan. Setelah mereka melakukan aktivitas yang berkaitan dengan profesi selama sepekan, biasanya mereka memperoleh akses mengunjungi tempat – tempat hiburan, seperti bar – bar atau tempat minum. Di sinilah orang Papua, khususnya orang Sentani mengenal minuman beralkohol buatan pabrik. Pada waktu itu akses terhadap tempat hiburan diatur sedemikian rupa, sehingga kunjungan ke tempat hiburan hanya dapat dilakukan pada saat free atau bebas tugas dan saat weeken. Mereka mengkonsumsi minuman beralkohol, dan berpesta dansa. Perlakuan khusus pemerintah Belanda yang cenderung “memanjakan” orang Papua pada umumnya dan khususnya orang Sentani waktu itu, mengakibatkan sehingga orang Papua cenderung mengadopsi budaya hidup barat, seperti makan, minuman, membuat pesta – pesta dansa dan menyediakan minuman beralkohol (bir) hidangan istimewa dalam pesta .

Setelah Papua berintegrasi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963. Enam tahun kemudian dilaksanakan PEPERA( Penentuan Pendapat Rakyat) pada tanggal 1 Mei 1969, rakyat Papua (Irian Barat) resmi berintergrasi dengan NKRI. Proses integrasi ini juga turut memperkenalkan sistem pemerintahan, sistem pendidikan, sistem kesehatan, dan gaya hidup yang baru pula.

Pola hidup baru yang cenderung berbeda dengan kehidupan pada jaman Belanda, di mana Kehidupan orang Papua yang “dimanjakan” berubah drastis ketika berintegrasi dengan NKRI. Bahan pokok untuk kebutuhan hidup sulit diperoleh. Terjadi pemberontakan dilakukan secara individu dan kolektif. Pemberontakan OPM (Organisasi Papua Merdeka) pada tanggal 28 Juli 1965 di Manokwari Papua Barat. Kekerasan terjadi di mana – mana, intimidasi, eksploitasi sumber daya alam dan perampasan tanah – tanah ulayat oleh pihak – pihak tertentu, dengan melibatkan kekuatan militer membuat orang Papua hidup dihantui “rasa takut”. Jika berbicara menuntut haknya berarti menentang yang “berkuasa” dan dipandang sebagai pemberontak. Mereka tidak berani beraspirasi menuntut hak – haknya. Fenomena ini mengakibatkan

sehingga orang Papua khususnya Sentani yang berada dalam situasi liminal menjadikan minuman beralkohol sebagai media protes sosial.

Aktivitas konsumsi minuman beralkohol secara kontinu menyebabkan ketergantungan pada minuman beralkohol. Sifat kecanduan pada minuman beralkohol ini menyebabkan para pemabuk selalu berusaha memperolehnya dengan berbagai macam cara. Bahkan konsumsi minuman beralkohol pun digunakan sebagai bagian dari gaya hidup (life style). Generasi muda pun menggunakan minuman beralkohol sebagai media sosialisasi di antara mereka. Fenomena ini tentunya menguntungkan para migran dari luar Papua, terutama para pelaku bisnis yang memandang minuman beralkohol sebagai prospek bisnis yang sangat menjanjikan. Mereka menjual minuman beralkohol secara bebas. Papua dijadikan sebagai daerah sasaran perdagangan minuman beralkohol. Berbagai jenis minuman beralkohol di datangkan ke Papua untuk diperdagangankan secara bebas. Pemerintah Daerah yang “malas” mengembangkan pontensi daerah sebagai pemasok pendapatan asli daerahnya (PAD) menjadikan retribusi pajak minuman beralkohol sebagai pendapatan asli daerah (PAD).

Keuntungan dalam bisnis minum berlakohol tampak dalam ( Tabloid suara Perempuan Papua, No. 32. Tahun II, 20 – 26 Maret 2006), Pasokan retribusi dari Perdagangan minuman beralkohol untuk Jayapura terus meningkat. Pada tahun 2002 -2003 pasokan retribusi pemerintah daerahnya sebesar Rp.1.400.000.000 (Satu Milyar empat ratus juta rupiah), tahun 2006 mengalami peningkatan menjadi Rp. 3.000.000.000,00 (Tiga milyar rupiah). Pasokan retribusi untuk Kabupaten Mimika 6.000.000.000,00 (enam milyar rupiah). Jumlah retribusi pajak perdagangan Miras ini baru berasal dari satu dua Kabupaten di Papua yakni Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Mimika. Sedang untuk retribusi pajak perdagangan Minuman beralkohol yang disetor Pemerintah Daerah Provinsi Papua ke Pusat sebagaimana yang dilaporkan salah satu media elektronik Jaya TV pada tanggal 9 Januari tahun 2014 adalah 40 milyard lebih.

Keuntungan besar yang diperoleh dari Perdagangan minuman beralkohol, berimplikasi pada menjamurnya perdagangan minuman beralkohol pada semua daerah di Papua, secara khusus Sentani. Hal ini turut mempermudah orang Papua, khususnya orang Sentani untuk memperoleh minuman beralkohol. Kebebasan mengkonsumsikan minuman beralkohol pada sembarang waktu dan tempat, mengakibatkan tidak terkontrolnya konsumen minuman beralkohol.

Konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan mengakibatkan timbulnya berbagai persolan sosial hingga mengakibatkan kematian. Fenomena ini melahirkan sebuah kalimat “ dulu kitong orang Papua mati karena malaria tetapi sekarang orang Papua mati karena minuman keras”. Kematian orang Papua sebagai akibat konsumsi minuman beralkohol terus meningkat dari tahun ke tahun, melahirkan keprihatinan dari masyarakat, terutama pihak gereja. Keprihatinan gereja tampak dalam dukungan berbagai dedominasi gereja di Tanah Papua menyerukan pelarangan dan penghentian perdagangan minuman beralkohol.

Keprihatinan juga datang dari berbagai LSM yang menjalankan misi sosial – kemanusian di Papua. Mereka mendesak pemerintah daerah Kabupaten/ kota dan Provinsi untuk merealisasikan PERDA tentang Pelarangan dan Perdagangan minuman beralkohol yang telah dibuat oleh PEMDA namun belum diaplikasikan dalam masyarakat.

Keprihatinan gereja dan LSM serta masyarakat Papua umumnya, atas kematian generasi muda Papua akibat konsumsi minuman beralkohol mendorong Pemerintah Daerah khususnya Pemerintah Daerah Provinsi Papua dan beberapa Kabupaten Kota di Papua yang telah membuat Peraturan Daerah Tentang Pelarangan Konsumsi Minuman Beralkohol di Papua untuk dilaksanakan dalam masyarakat. Demikian pula, PEMDA kabupaten dan kota yang belum membuat PERDA MIRAS agar segera memproduksi PERDA tersebut.

Peraturan daerah Provinsi Papua yang mengatur tentang Minuman beralkohol adalah Peraturan Daerah Papua Nomor 15 Tahun 2013 Tentang Pelarangan Produksi, Pengedaran dan Penjualan Minuman Beralkohol. Ketentuan pidana diberikan kepada setiap orang yang melanggar ketentuan ini dengan ancaman pidana 5 tahun penjara atau denda Rp1.000.000.000,00 (satu milyard rupiah), (PERDA MIRAS Provinsi Papua, 2013). Pemerintah Provinsi Papua juga akan berupaya membangun panti rehabilitasi untuk para pemabuk.

STUKTUR ADAT ONDOFOLO DALAM TRADISI BUDAYA

Dokumen terkait