ALKOHOLISME PAPUA DALAM TRADISI DAN GAYA HIDUP (LIFE STYLE) (Studi konsumsi minuman beralkohol dan implikasinya terhadap perubahan struktur adat
Ondofolo dalam budaya orang Sentani di Papua)
Monica Maria Nauw
ABSTRACT
Penelitian ini mengkaji Alkolisme Papua dalam Tradisi dan Gaya Hidup: Studi minuman beralkohol dan implikasinya terhadap perubahan Struktur Adat Ondofolo dalam budaya Orang Sentani. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa kecenderungan orang Papua umumnya dan khususnya orang Sentani mengkonsumsi minuman beralkohol dilatar belakangi oleh berbagai macam persoalan sosial budaya yang dihadapi, seperti berbagai tindak kekerasan terstruktur yang dilakukan oleh pemerintah dan juga struktur adat yang ketat dan konservatif. Sebagai masyarakat yang mengalami krisis sosial budaya dan termajinalkan, mereka menjadi kelompok liminal atau anti struktur. Mereka melakukan hal – hal menyimpang dari sturktur dengan mengkonsumsi minuman beralkohol. Artikel ini merupakan hasil penelitian lapangan dengan metode study kasus yang bersifat deskriptif kualitatif dengan pendekatan antropologis. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data adalah kajian pustaka, observasi, dan wawancara mendalam. Konsumsi minuman beralkohol diadopsi orang Sentani dari orang – orang Maluku yang dipekerjakan Pemerintah Belanda puluhan tahun lalu. Kemudian digunakan sebagai minuman dalam ritual adat perkawinan dan pembayaran mas kawin sebagai fungsi keramaian berkumpul. Setelah mengalami kontak kebudayaan dengan orang Belanda, Jepang dan Amerika, orang Sentani mengenal minuman beralkohol buatan Pabrik yang dikonsumsikan hingga kini serta dijadikan sebagai bagian dari gaya hidup (Life Style). Konsumsi minuman beralkohol juga digunakan sebagai media “protes sosial” terhadap ketidakadilan dan keterpinggiran yang dialami.
PAPUA ALKOHOLISM IN TRADITION AND LIFE STYLE
(Studies on the consumption of alcoholic beverages and their implications for changes in the traditional structure of Ondofolo in the culture of the Sentani people in Papua)
ABSTRACT
This study examines the Papuan Alkolism in Tradition and Lifestyle: Studies of alcoholic beverages and its implications for changes in Ondofolo Custom Structure in Sentani culture. The results of this study explain that the tendency of the Papuans in general and in particular the Sentani people consume alcoholic beverages on the background by various socio-cultural problems encountered, such as various structured violence committed by the government as well as strict and conservative custom structures. As societies experiencing socio-cultural crisis and marginalized, they become a liminal or anti-structural group. They do things that deviate from the structure by consuming alcoholic beverages. This article is a result of field research with case study method that is descriptive qualitative with anthropological approach. The methods used for data collection are literature review, observation, and in-depth interviews. The consumption of alcoholic beverages was adopted by the Sentani people of the Moluccan people employed by the Dutch Government of tens of years ago. It is then used as a drink in the customary rituals of marriage and payment of dowry as a function of gathering crowds. After experiencing cultural contact with the Dutch, Japanese and Americans, Sentani people know alcohol made by Factory which is consumed until now and made as part of lifestyle (Life Style). Alcohol consumption is also used as a medium of "social protest" against injustice and marginalization.
Keywords: Alcoholism. Papua. Tradition, Lifestyle.
PENGANTAR
Jayapura terletak di bagian utara pulau Papua. Di wilayah ini bermukim suku – suku Kayu Pulo, Kayu Batu, Tobati, Enggros, Nafri, Skow, Sentani, Abrab, tabla, Genyem, dan Ormu serta Demta. Mereka umumnya dikenal orang Papua dengan sebutan “orang Tabi”. Sebutan Tabi berkaitan dengan wilayah budaya di mana mereka dikelompokkan, yaitu wilayah budaya Tabi atau Dofonsolo. Suku – suku ini memiliki sejarah asal - usul berbeda satu sama lain, akan tetapi mereka memiliki ciri budaya khusus yang sama yakni mengenal sistem kepemimpinan ondoafi atau ondofolo dengan struktur sosial yang sangat ketat dan konservatif.
sebagai bagian dari tradisi dalam ritual perkawinan dan pembayaran mas kawin untuk menambah keramaian berkumpul.
Pada masa lalu minuman beralkohol khew phuw hanya dikonsumsi oleh orang – orang tua saja pada ritual adat perkawinan sebagai fungsi untuk mengupayakan keramaian berkumpul. Sehingga konsumsi khew phuw jumlahnya terbatas sesuai dengan jumlah orang khususnya kaum lelaki yang diundang.
Pemanfaatan konsumsi minuman tradisional pada orang Sentani berubah ketika terjadi kontak dengan kebudayaan asing, seperti Belanda, Jepang dan Amerika. Orang Sentani khususnya para pemabuk cenderung mengkonsumsi buatan pabrik. Tujuan mengkonsumsi minuman beralkohol pun berubah. Orang mengkonsumsi minuman beralkohol dengan tujuan refreshsing, menunjukkan status sosial dan sebagai media “protes sosial”.
Para lelaki Sentani khususnya para pemabuk yang sedang mngalami krisis budaya, berada dalam situasi liminal menjadikan minuman berlakohol sebagai jalan keluar dari krisis budaya yang dialami. Sebagai realisasi konkret dari krisis budaya itu mereka melakukan tindakan – tindakan yang menyimpang dari tradisi. Fenomena ini tampak dalam berbagai kasus Kekerasan dalam masyarakat dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Selain itu, muncul pula berbagai persoalan sosial lainnya, seperti tingginya angka tindak kriminal, dan meningkatnya jumlah angka kecelakaan lalulintas.
Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) pertriwulan Januari, Februari dan Maret 2016 sebanyak 11 Kasus. Kasus kekerasan dalam rumah tangga bervariasi meliputi pelecehan terhadap anak dan kekerasan yang dilakukan oleh laki – laki terhadap perempuan (Cenderawasih Pos, 2 Mei 2016)
Konsumsi minuman beralkohol juga memicu penularan penyakit menular seksual (IMS) yang menjadi pintu masuk juga bagi penyebaran HIV-AIDS (Cenderawasih Pos, 17 Mei 2016). Berbagai persoalan sosial timbul karena para pemabuk tidak merisaukan apa telah mereka lakukan. Mereka lebih mementingkan diri sendiri. Walaupun demikian, orang Papua lain merisaukan hal tersebut, terutama para ibu rumah tangga.
Fenomena konsumsi minuman beralkohol sebagai bagian perubahan gaya hidup ini menarik untuk dikaji, aktivitas mabuk merupakan sebuah fakta sosial bahwa mabuk itu mempunyai konteks sosial budaya. Selain itu juga dapat memperoleh informasi tentang mengapa para pemabuk di Sentani memilih mabuk sebagai pilihan hidup mereka. Sehingga mereka rela mengeluarkan banyak uang untuk mengkonsumsi minuman keras. Konsumsi adalah aktivitas sosial yang menyatukan ekonomi dan budaya, (Lee,2006:viii). Dengan demikian penelitian ini dapat mengungkapkan mengapa mabuk merupakan salah satu pilihan orang Papua, khususnya Sentani untuk mengatasi persoalan pribadi dan sosial,
Konsumsi minuman beralkohol merupakan salah satu isu penting dalam proses pembangunan manusia Papua. Minuman beralkohol jika dikonsumsikan secara kontinu akan menyebabkan ketergantungan dan kecanduan. Selain merusak saraf para alkoholis, juga dapat menganggu struktur sosial dalam masyarakat. Fenomena ini terjadi dalam kehidupan orang Papua umumnya dan sosial budaya orang Sentani, terutama dalam struktur adat.
Penelitian ini akan menggunakan metode studi yang bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan antropologis. Menurut stake, studi kasus adalah pemilihan terhadap obyek penelitian, bukan konsekuensi metodologis. Kasus –kasus yang dipilih mungkin bersifat sederhana, mungkin juga rumit dan kompleks, (Stake, 2009: 190- 192).
Metode pengumpulan data menggunakan kajian pustaka, pengamatan, dan wawancara. Analisis data mencakup analisis selama pengumpulan data, reduksi data sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, trasnformasi data kasar yang diperoleh dari catatan – catatan lapangan, penyajian data bersifat induktif – kualitatif.
Kajian antropologis tentang konsumsi minuman beralkohol dilakukan oleh Horton pada beberapa kebudayaan di dunia, dengan menggunakan paradigma fungsionalisme kebudayaan dan metode penelitian komparatif cross cultural, mengungkapkan bahwa fungsi minuman berkadar alkohol dalam berbagai kebudayaan dapat berkaitan dengan: (1) upacara agama, (2) upacara sosial, (3) kebiasaan rutin sehari –hari, (4) sopan- santun tanda keramahan dalam pergaulan resmi maupun tidak resmi, (5) upaya untuk meningkatkan keramaian berkumpul, (6) kebiasaan pribadi yang dilakukan secara terbuka atau (7) secara sembunyi – sembunyi, ( Horton dalam Koentjaraningrat, 1990:26).
Studi tentang minuman beralkohol dalam kebudayaan manusia juga dilakukan oleh Spicer (1977:311), menjelaskan bahwa dalam kebudayaan masyarakat Indian di Amerika, konsumsi minuman beralkohol berfungsi sebagai pendorong terbentuknya relasi sosial antar individu dan kelompok. Relasi sosial ini kemudian membentuk ikatan sosial (bond) di kalangan para pemabuk.
Alexander H. Joffe dengan menggunakan paradigma fungsional mengkaji Alcohol and social Complexity in Acient Western Asia. Joffe melakukan penelitian terhadap pemanfaatan minuman berfermentasi alkohol di beberapa wilayah Asia Barat, seperti: Mesopotamia, Mesir dan Siria. Penelitian ini mengungkapkan bagaimana pola pembuatan dan upaya perluasan produksi dan konsumsi minuman berfermentasi alkohol. Aktivitas tersebut dilakukan oleh kelompok elit dan sebagai aspek penting yang dilakukan dalam pelaksanaan ritual dan politik, sehingga pembuatan minuman fermentasi alkohol dikuasai oleh kelompok tertentu saja.
James P.Spradley dalam tulisannya dengan topik ”Beating the drunk charge”. Ia melakukan pengkajian terntang sub cutur dari para alkoholik yang tetap mencerminkan budaya Amerika dan mendeskripsikan aktivitas para alkoholik di beberapa kota di Amerika, terutama bagaimana strategi para alkoholik dalam upayanya membebaskan dari aturan – aturan dan keputusan pengadilan yang menjerat mereka ke penjara.
Crump (1987) dengan menggunakan pendekatan antropologi ekonomi, mengungkapkan bahwa dalam masyarakat yang kompleks terdapat lembaga yang tampil sebagai bentuk persaingan ekonomi antara bermacam kelompok dalam masyarakat. Minuman beralkohol (beer) sebagai salah satu benda alternatif yang turut dalam persaingan ekonomi dan menjadi salah satu benda produksi domestik.
Petrios dan Perry (2010: 142) dengan menggunakan paradigma fungsionalisme melakukan studi Antropologi tentang nilai dan fungsi minuman beralkohol pada masyarakat Kanaka Maoli di Kepulauan Hawaii. Studi ini mengungkapkan bahwa orang Hawaii mengkonsumsikan minuman beralkohol dengan tujuan untuk mempererat hubungan antar kerabat dan hubungan pertemanan dalam kehidupan sosial budaya mereka. Dalam budaya masyarakat Hawaii minuman berlakohol disebut awa memiliki sejarah dalam pembentukan kelompok sosial (social bond) dan pembentukan relasi sosial pada sesama anggota kelompok sebuah upacara ritual.
Studi lainnya tentang konsumsi minuman beralkohol pada masyarakat di Pasifik dilakukan oleh Nina T.Etkin (2006:143). Menurut hasil kajian Etkin fungsi lain dari konsumsi minuman beralkohol pada masyarakat Kanaka adalah suatu proses integrasi dalam kehidupan masyarakat dari aspek sosial, ekonomi, politik dan religi serta merupakan aktivitas paling penting dalam kehidupan sosial dan budaya.
Shigehiro (1997:5) melakukan kajian tentang konsumsi minuman beralkohol pada masyarakat Batak Toba selain tuak dikonsumsikan oleh kaum lelaki dalam upacara adat manulangi, tuak juga dikonsumsikan oleh wanita yang baru melahirkan anak. Fungsi minuman tuak untuk memperlancar ASI dan berfungsi menghangatkan tubuh sehingga tubuh mengeluarkan banyak keringat, yang turut membersihkan tubuh wanita melahirkan dari kotoran setelah melahirkan. Tuak juga disediakan mertua wanita sebagai pengganti air minum.
KERANGKA KONSEP DAN TEORITIS
Penelitian ini menggunakan beberapa konsep yang relevan dengan topik penelitian yang dikaji, seperti pengertian kata alkohol dan alkoholisme menunjuk pada dua makna yang berbeda. Kata alkohol menunjuk pada benda yakni minuman beralkohol yang dikonsumsi para pemabuk sedang kata alkoholisme lebih menunjuk pada faham atau aliran. Kata alkohol dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti cairan tidak berwarna yang mudah menguap, mudah terbakar, dipakai di industri dan pengobatan, merupakan unsusr ramuan yang memabukkan di kebanyakan minuman beralkohol (1990:23).
Selanjutnya menurut Darmono (2011:46-47), minuman berfermentasi alkohol adalah dehidrat dari hidroksi yang mempunyai ikatan maupun mata rantai bercabang dari alifatik hidrokarbon. Bentuk rantai alkohol yang sering ditemukan adalah yang mengandung tiga gugus hidroksil dengan ikatan satu gugus hidroksi dalam satu atom karbon. Jenis alkohol kedua inilah yang bersifat toksik, yaitu ethanol (ethil alkohol). Pada umumnya semakin panjang rantai karbon, maka semakin tinggi daya toksisitasnya. Ethanol adalah bahan cairan yang telah lama digunakan sebagai obat dan merupakan bentuk yang terdapat dalam minuman keras, seperti bir, anggur, wiski maupun minuman keras lainnya. Sedang fermentasi adalah suatu cara untuk mengubah produk tertentu yang dikehendaki dengan menggunakan bantuan mikroba.
Berdasarkan ketiga definisi kata alkohlisme tersebut di atas, maka yang relevan dengan penelitian ini adalah definisi alkoholisme adalah gaya hidup membudayakan alkohol, memunculkan kecenderungan anak muda untuk membudayakan konsumsi minuman beralkohol. Masyarakat Papua umumnya dan khususnya orang Sentani sebagai obyek dalam penelitian menjadikan minuman beralkohol sebagai bagian dari gaya hidup mereka. Konsumsi minuman beralkohol digunakan sebagai media untuk bersosialisasi di antara para remaja putera dan lelaki dewasa. Konsumsi minuman beralkohol sebagai gaya hidup cenderung dilakukan berulang – ulang dalam waktu yang lama sehingga tanpa disadari mereka mengalami kecanduan.
Konsumsi minuman beralkohol pada orang Sentani juga telah dikenal secara tradisi. Dalam ritual perkawinan dan pembayaran mas kawin. Pengertian kata tradisi menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990:59) adalah adat kebiasaan turun – temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan dalam masyarakat; penilaian atau anggapan bahwa cara – cara yang telah ada merupakan cara yang paling baik dan benar. Pengertian tradisional adalah sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun – temurun. Dalam kamus antropologi kata tradisi memiliki persamaan pengertian dengan kata adat dan adat – istiadat (custom),(Koentjaranigrat, dkk, 2003:2).
Terdapat beberapa konsep tentang apa itu gaya hidup (life style), menurut Chaney yang tertuang dalam bukunya life style menjelaskan gaya hidup sebagai gaya, tata cara, atau cara menggunakan barang, tempat dan waktu, khas kelompok masyarakat tertentu, yang sangat bergantung pada bentuk – bentuk kebudayaan, meskipun bukan merupakan totalitas pengalaman sosial. Gaya hidup, dengan demikian dikaitkan dengan pola penggunaan barang, ruang dan waktu tertentu oleh kelompok masyarakat yang berbeda.
Sedang, menurut Atdlin (2006:37,81), gaya hidup dari sudut pandang individual maupun kolektif, mengandung pengertian bahwa gaya hidup sebagai cara hidup mencakup sekumpulam kebiasaan, pandangan, dan pola – pola respon terhadap hidup, serta terutama perlengkapan untuk hidup. Selanjutnya gaya hidup memiliki beberapa sifat umum, yaitu : 1). Gaya hidup sebagai sebuah pola, yaitu sesuatu yang dilakukan atau tampil secara berulang – ulang; 2) gaya hidup mempunyai massa (atau pengikut) sehingga tidak ada gaya hidup yang bersifat personal, dan 3). Gaya hidup mempunyai daur hidup (life cycle) artinya ada masa kelahiran, tumbuh, puncak, surut dan mati. Dengan perkataan lain, gaya hidup dikaitkan dengan sesuatu yang secara relatif bertahan lama. Orang Sentani khususnya para konsumen minuman beralkohol menjadikan konsumsi minuman beralkohol sebagai sebuah gaya hidup. Dimana aktivitas konsumsi minuman beralkohol, dilakukan secara berulang – ulang dalam kelompok sosial mereka.
I.6.2. Kerangka Teori
Kajian ini mengambil setting waktu dimana globalisasi menjadi isu penting bagi kehidupan manusia. Globalisasi menunjuk pada proses integrasi global menuju dunia yang lebih bersatu dan homogen, (Featherstone, 1995). Orang Sentani sebagai bagian dari masyarakat global tentunya bergerak dinamis mengikuti arus globalisasi itu.
Keinginan untuk mengikuti dinamika globalisasi menuntut orang Sentani yang secara tradisional mengenal dan memiliki struktur adat ondofolo1 yang ketat dan konservatif,
1 Ondofolo/ondoaf adalaa bentuk sistem kepemimpinan tradisional pada masyarakat
berupaya melakukan perlawanan. Sebagai kelompok yang berada dalam situasi liminal, para pemabuk Sentani mengalami pengalaman dasar sebagai anggota kelompok masyarakat yang tersturktur dan diatur dengan tradisi yang ketat. Mereka tidak mampu mengekspresikan keinginan secara bebas karena terikat oleh aturan – aturan adat yang ketat. Dalam tahap ini, mereka merefleksikan berbagai tradisi dan aturan – aturan adat dalam struktur sosial yang dipandang sangat ketat dan cenderung konservatif. Sebagai kelompok yang menginginkan perubahan, berbagai cara dilakukan untuk mengubah struktur adat yang ada, salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mengkonsumsi minuman beralkohol. Pada saat inilah mereka mengalami keadaan liminalitas. Menurut Victor Turner dalam keadaan liminalitas orang mengalami ketidakberdayaan. Artinya, orang mengalami sesuatu yang lain dengan keadaan hidup sehari – hari, yaitu pengalaman yang “anti struktur”, (Turner dan Winangun, 1990: 31). Dalam keadaan inilah mereka melakukan hal – hal yang berlawanan dengan struktur adat yang terdapat dalam budaya Sentani.
Menurut Victor Turner hidup itu suatu proses, bukan sesuatu yang statis. Kita bergerak dari societas (masyarakat) ke komunitas melalui pengalaman liminal dan kembali lagi ke dalam societas dengan vitalitas, rasa, tujuan dan keinginan yang telah diperbaharui. Ini berarti bahwa pengalaman liminal itu menjadi pengalaman penting bagi manusia, tidak hanya karena pengalaman liminal menjadi tahap di mana manusia merefleksikan diri sambil membina diri tetapi juga pengalaman liminal menjadi pengalaman dasar bagi manusia (Turner dan Winangun, 1990: 39). Dalam keadaan liminalitas ini orang Sentani memanfaatkan konsumsi minuman beralkohol untuk melakukan perlawanan terhadap struktur adat yang ada dalam masyarakat mereka. Perlawanan ini kemudian mengakibatkan terjadinya perubahan dalam struktur adat tersebut.
Kelompok pemabuk yang berperan sebagai “anti struktur” tentunya menghimpun kekuatan kelompok melalui kekuatan komunal. Kelompok komunal ini tentunya membentuk ikatan sosial. Konsumsi minuman beralkohol dijadikan media untuk bersosialisasi di antara mereka, sehingga dikenal istilah “teman mabuk2”. Istilah ini menjelaskan bahwa aktivitas konsumsi minuman beralkohol ini dilakukan bersama orang lain dalam sebuah proses sosial. Fenomena ini menarik juga untuk mengkaji ikatan sosial yang terbentuk di antara mereka.
Menurut Hischi (Durkin,1999,2) ikatan sosial memiliki empat elemen utama yang harus dipenuhi. Elemen pertama adalah kasih sayang (attachments), elemen kedua adalah komitmen (commitmen), elemen ketiga adalah keterlibatan (involvement) dan elemen keempat adalah keyakinan (belief).
Empat elemen utama dalam ikatan sosial seperti yang diungkapkan oleh Hischi itu dimiliki oleh semua ikatan sosial begitu pula dalam ikatan sosial para pemabuk. Mereka memiliki elemen kasih sayang karena mereka memiliki hubungan kerabat berupa kerabat darah dan kerabat afinal. Mereka berasal dari satu kampung yang sama. Secara kolektif mereka memiliki komitmen bersama untuk melakukan perlawanan terhadap struktur sosial budaya dan kehidupan yang mengikuti pola konservatif. Berbagai cara dilakukan untuk melawan, salah satu diantaranya adalah dengan mengkonsumsi minuman beralkohol. Setelah itu mereka melibatkan diri dalam ikatannya melakukan berbagai aksi yang bertentangan dengan tradisi. Mereka juga memiliki keyakinan bahwa perlawanan yang dilakukan adalah benar, walaupun oleh para tua adat memandangnya sebagai hal yang buruk karena bertindak menentang sturktur adat ondodofolo yang telah dikenal secara tradisi.
2 “Teman mabuk” adalaa istilaa yang digunakan olea para alkoaolis untuk menyebut
Selain mengkaji ikatan sosial (social bond), pengkajian ini akan berlanjut menjadi sebuah jaringan sosial. Untuk maksud tersebut, maka penulis menggunakan metode analisis jaringan sosial yang dikemukakan oleh J.A. Barners (Koentjaraningrat, 1990:158), dengan memisahkan jaringan sosial menjadi dua jenis, yakni jaringan sosial menjadi dua jenis, yakni jaringan sosial total (unlimited social network) dan jaringan sosial bagian (limited social network).
Kebiasaan konsumsi minuman beralkohol pada orang Sentani sebenarnya juga bisa dianalisis dengan menggunakan analisis jaringan komunikasi. Rogers dan Kincard (1983:82), menjelaskan bahwa analisis ini adalah metode penelitian untuk mengidentifikasi struktur komunikasi dalam satu sistem, di mana data – data yang terkait dengan alur komunikasi dianalisis dengan menggunakan tipe – ripe hubungan interpersonal sebagai unit analisis. Sebuah jaringan komunikasi terdiri dari interkoneksi antar individu yang dihubungkan oleh pola alur komunikasi. Analisis jaringan komunikasi berupaya memberikan penjelasan lebih dalam tentang efek selanjutnya dari komunikasi.
INTERKONEKSI DENGAN DUNIA LUAR DAN SEJARAH KONSUMSI MINUMAN BERALKOHOL PADA ORANG SENTANI
Walaupun orang Eropa khususnya Belanda telah menduduki Pulau Papua pada tahun 1855 namun interkoneksi orang Sentani dengan orang asing khususnya bangsa Eropa baru terjadi pada akhir abad ke 19, ketika seorang Inggris yang bernama W. Doherty mengunjungi danau Sentani pada tahun 1892 ( Galis dalam Mansoben 1990:157).
Kunjungan orang asing kedua di danau Sentani terjadi pada tahun 1893 oleh pendeta G.L. Bink yang berada di daerah Sentani kurang lebih tiga bulan lamanya. Setelah dua kunjungan ini, kemudian danau Sentani mendapat banyak kunjungan dari orang asing lainnya.
Transformasi kebudayaan Sentani terjadi akibat interkoneksi mereka dengan orang asing. Sejarah interkoneksi budaya tersebut dapat dibagi ke dalam 4 periode yaitu; pertama periode tahun 1916 - tahun 1926; kedua periode tahun 1928 - tahun 1940- an; ketiga periode tahun 1940-an – 1969 dan periode 1970 sampai sekarang .
Diawali dengan membuka pos pemerintah Belanda yang pertama pada tahun 1916 di daerah Danau Sentani di Koyabu yang terletak di ujung timur laut danau (Pantai Waena sekarang). Kemudian pada tahun 1921, pemerintah Belanda memindahkan pos tersebut ke daerah Doyo Baru, tetapi tidak lama kemudian, yakni tahun 1926 pos pemerintah dipindahkan kembali ke Koyabu.
Periode kedua berlangsung dalam tahun 1928 - tahun 1940-an. Pada periode ini orang Sentani mulai mengenal pendidikan formal. Kedatangan orang asing khususnya Belanda ke wilayah Tabi (Jayapura) dengan misi tertentu, yaitu “mengkristenkan” penduduk. Untuk misi mengkristenkan orang Sentani dilakukan bersamaan dengan memperkenalkan pendidikan formal. Pemerintah Belanda mengumpulkan orang Sentani yang tersebar dalam kampung – kampung yang dibentuk. Membuka sekolah – sekolah dan mendatangkan guru – guru penginjil yang berasal dari wilayah lain di Jayapura, seperi Demta, Depapre dan Genyem.
Anak laki – laki Sentani banyak bersekolah di sana. Upaya Pemerintah Belanda memanusiakan orang Papua, khususnya Sentani terhenti akibat kemenangan jepang atas sekutu dalam Perang Dunia I.
Pada tahun 1941 setelah Jepang mengalahkan pasukan Amerika serikat dan sekutunya dengan menyerang Pangkalan Laut Amerika Serikat di Peral Harbour, Hawaii. Jepang menguasai daerah Papua, Belanda menyerahkan Papua bagian utara dan Papua bagian Barat kepada Jepang, sedang wilayah Papua bagian Selatan, Merauke tetap menjadi tempat pertahanan Pemerintah Belanda.
Jepang mulai menguasai wilayah Jayapura dan Sentani. Jepang membuka lapangan terbang Sentani sebagai pangkalan udaranya dengan landasan pacu pendek untuk menerbangkan 350 jenis pesawat Zero milik mereka. Tentara Jepang juga mendirikan meriam – meriam di daerah Doyo dan kota Sentani, (Muller,2008). Orang Sentani dipekerjakan sebagai tenaga kerja pada perkebunan kapas dan juga tenaga kerja untuk membuka bandara. Mereka membangun jalan dari daerah kota raja ke Abepura sampai Sentani. Tentara Jepang sering menghidangkan minuman beralkohol untuk dikonsumsi untuk pelepas lelah. Orang – orang Sentani yang bekerja bersama orang Jepang memiliki akses untuk menikmati hiburan dan mengkonsumsi minuman beralkohol.
Pada tahun 1944 tentara sekutu melakukan serangan ke Holandia (Jayapura) menghancurkan pertahanan tentara Jepang di kota Jayapura, Abepura dan Sentani. Pasukan sekutu membumi hanguskan semua armada tempur milik Jepang yang berada di Sentani. Pasukan Amerika Serikat mengambil alih kota Jayapura dan membangun berbagai fasilitas milik mereka, seperti membangun Pangkalan Militer di bawah pimpinan Jenderal Douglas Mac Arthur di daerah Ifar Gunung Sentani, membangun dermaga – dermaga militer dari dok II, dok IV, dok V, dok VII, dok VIII dan dok IX. Mereka juga membangun kantor yang disebut APO (Amerika Post Office), dan gudang – gudang militer, rumah minum atau bar di kota Jayapura. Mereka membangun jalan dari Jayapura ke Abepura dan Sentani. Dalam masa kekuasaan Sekutu Amerika Serikat di Jayapura dan Sentani, orang Jayapura umumnya dan Sentani khususnya juga telah mengenal konsumsi minuman beralkohol minuman ini diperoleh ketika mereka bekerja membantu membangun markas – markas tentara di Ifar Gunung Sentani. Mereka memiliki akses untuk mengunjungi tempat minum dalam markas tentara (Tabloid Jubi, 2016).
Belanda sebagai sekutu Amerika kembali berkuasa di wilayah Papua Utara dan Papua Barat yang telah diserahkan kepada Jepang. Sebagai upaya memuluskan misi pendidikan sesudah Perang Dunia II, pemerintah Belanda mendatangkan para guru dari Ambon dan Sangihe Talaud untuk mendidik orang Sentani pada waktu itu. Mereka mengajarkan agama Kristen,bahasa Belanda, bahasa Melayu, membaca, menulis dan berhitung. Para murid yang memiliki kompetensi dikirim mengikuti pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Sekitar tahun 1946, Pemerintah Belanda membuka sebuah sekolah di Kampung Yoka Sentani Timur. Sekolah ini menampung siswa dari seluruh tanah Papua, dengan menggunakan kurikulum dengan kualitas baik dan lebih teratur. Sekolah ini dikelola oleh yayasan Zending der Nederlandsche Geformde Kerk (ZNGK). Sekolah itu bernama Jonges Vervolog School (JVVS). Kemudian siswa lulusan JVVS direkomendasikan melanjutkan studi mereka ke sekolah lanjutan, seperti PMS, MULO, ODO dan LTS, sekolah pertanian dan sebagainya. Anak – anak Sentani yang memiliki kompetensi terpilih mengikuti pendidikan di Negeri Belanda ( Kopeuw, 2008).
dalam kehidupan mereka. Di satu pihak mereka yang telah mengenyam pendidikan barat, secara sadar perlahan – lahan mereka pun, meninggalkan kepercayaan asli yakni kepercayaan animisme dan dinamismenya. Namun di sisi lain, terdapat pula orang – orang yang masih tetap melaksanakan ritual – ritual agama tradisionalnya. Hal ini menyebabkan sehingga para misionaris dengan melakukan “tekanan halus” memaksa orang Sentani untuk membakar dan menghancurkan benda – benda yang digunakan dalam pemujaan. Pemerintah Belanda khususnya Misi Zending terus berupaya memanusiakan orang Sentani melalui sarana pendidikan, kesehatan dan juga gaya hidup barat.
Kelompok orang – orang Papua, khususnya Sentani yang telah sukses di jaman pemerintahan Belanda memperoleh pekerjaan sebagai bestuur (birokrat), legislator, guru, perawat dan anggota militer. Mereka ini memiliki akses kesehatan, pendidikan dan menikmati berbagai hiburan. Setelah mereka melakukan aktivitas yang berkaitan dengan profesi selama sepekan, biasanya mereka memperoleh akses mengunjungi tempat – tempat hiburan, seperti bar – bar atau tempat minum. Di sinilah orang Papua, khususnya orang Sentani mengenal minuman beralkohol buatan pabrik. Pada waktu itu akses terhadap tempat hiburan diatur sedemikian rupa, sehingga kunjungan ke tempat hiburan hanya dapat dilakukan pada saat free atau bebas tugas dan saat weeken. Mereka mengkonsumsi minuman beralkohol, dan berpesta dansa. Perlakuan khusus pemerintah Belanda yang cenderung “memanjakan” orang Papua pada umumnya dan khususnya orang Sentani waktu itu, mengakibatkan sehingga orang Papua cenderung mengadopsi budaya hidup barat, seperti makan, minuman, membuat pesta – pesta dansa dan menyediakan minuman beralkohol (bir) hidangan istimewa dalam pesta .
Setelah Papua berintegrasi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963. Enam tahun kemudian dilaksanakan PEPERA( Penentuan Pendapat Rakyat) pada tanggal 1 Mei 1969, rakyat Papua (Irian Barat) resmi berintergrasi dengan NKRI. Proses integrasi ini juga turut memperkenalkan sistem pemerintahan, sistem pendidikan, sistem kesehatan, dan gaya hidup yang baru pula.
Pola hidup baru yang cenderung berbeda dengan kehidupan pada jaman Belanda, di mana Kehidupan orang Papua yang “dimanjakan” berubah drastis ketika berintegrasi dengan NKRI. Bahan pokok untuk kebutuhan hidup sulit diperoleh. Terjadi pemberontakan dilakukan secara individu dan kolektif. Pemberontakan OPM (Organisasi Papua Merdeka) pada tanggal 28 Juli 1965 di Manokwari Papua Barat. Kekerasan terjadi di mana – mana, intimidasi, eksploitasi sumber daya alam dan perampasan tanah – tanah ulayat oleh pihak – pihak tertentu, dengan melibatkan kekuatan militer membuat orang Papua hidup dihantui “rasa takut”. Jika berbicara menuntut haknya berarti menentang yang “berkuasa” dan dipandang sebagai pemberontak. Mereka tidak berani beraspirasi menuntut hak – haknya. Fenomena ini mengakibatkan sehingga orang Papua khususnya Sentani yang berada dalam situasi liminal menjadikan minuman beralkohol sebagai media protes sosial.
mengembangkan pontensi daerah sebagai pemasok pendapatan asli daerahnya (PAD) menjadikan retribusi pajak minuman beralkohol sebagai pendapatan asli daerah (PAD). Keuntungan dalam bisnis minum berlakohol tampak dalam ( Tabloid suara Perempuan Papua, No. 32. Tahun II, 20 – 26 Maret 2006), Pasokan retribusi dari Perdagangan minuman beralkohol untuk Jayapura terus meningkat. Pada tahun 2002 -2003 pasokan retribusi pemerintah daerahnya sebesar Rp.1.400.000.000 (Satu Milyar empat ratus juta rupiah), tahun 2006 mengalami peningkatan menjadi Rp. 3.000.000.000,00 (Tiga milyar rupiah). Pasokan retribusi untuk Kabupaten Mimika 6.000.000.000,00 (enam milyar rupiah). Jumlah retribusi pajak perdagangan Miras ini baru berasal dari satu dua Kabupaten di Papua yakni Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Mimika. Sedang untuk retribusi pajak perdagangan Minuman beralkohol yang disetor Pemerintah Daerah Provinsi Papua ke Pusat sebagaimana yang dilaporkan salah satu media elektronik Jaya TV pada tanggal 9 Januari tahun 2014 adalah 40 milyard lebih.
Keuntungan besar yang diperoleh dari Perdagangan minuman beralkohol, berimplikasi pada menjamurnya perdagangan minuman beralkohol pada semua daerah di Papua, secara khusus Sentani. Hal ini turut mempermudah orang Papua, khususnya orang Sentani untuk memperoleh minuman beralkohol. Kebebasan mengkonsumsikan minuman beralkohol pada sembarang waktu dan tempat, mengakibatkan tidak terkontrolnya konsumen minuman beralkohol.
Konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan mengakibatkan timbulnya berbagai persolan sosial hingga mengakibatkan kematian. Fenomena ini melahirkan sebuah kalimat “
dulu kitong orang Papua mati karena malaria tetapi sekarang orang Papua mati karena minuman keras”. Kematian orang Papua sebagai akibat konsumsi minuman beralkohol terus meningkat dari tahun ke tahun, melahirkan keprihatinan dari masyarakat, terutama pihak gereja. Keprihatinan gereja tampak dalam dukungan berbagai dedominasi gereja di Tanah Papua menyerukan pelarangan dan penghentian perdagangan minuman beralkohol.
Keprihatinan juga datang dari berbagai LSM yang menjalankan misi sosial – kemanusian di Papua. Mereka mendesak pemerintah daerah Kabupaten/ kota dan Provinsi untuk merealisasikan PERDA tentang Pelarangan dan Perdagangan minuman beralkohol yang telah dibuat oleh PEMDA namun belum diaplikasikan dalam masyarakat.
Keprihatinan gereja dan LSM serta masyarakat Papua umumnya, atas kematian generasi muda Papua akibat konsumsi minuman beralkohol mendorong Pemerintah Daerah khususnya Pemerintah Daerah Provinsi Papua dan beberapa Kabupaten Kota di Papua yang telah membuat Peraturan Daerah Tentang Pelarangan Konsumsi Minuman Beralkohol di Papua untuk dilaksanakan dalam masyarakat. Demikian pula, PEMDA kabupaten dan kota yang belum membuat PERDA MIRAS agar segera memproduksi PERDA tersebut.
STUKTUR ADAT ONDOFOLO DALAM TRADISI BUDAYA ORANG SENTANI.
Kehidupan masyarakat Sentani pada umumnya cenderung untuk mengikuti tatanan pemerintahan adat dari pada pemerintahan yang berdasarkan ketentuan – ketentuan Negara. Masyarakat lebih patuh dan memegang tatanan pemerintahan adat disebabkan karena apabila dilihat keberadaannya Pemerintahan Negara yang ada sekarang ini kehadirannya relatif lebih baru. Pemerintahan adat sudah ada sebelum pemerintahan NKRI, yakni sejak jaman leluhur masyarakat Sentani dan secara turun temurun dipegang teguh ( Sumiarni, dkk. 2010:42).
Tradisi mengatur masyarakat berkaitan erat dengan struktur sosial dalam masyarakat karena sudah diatur sedemikian rupa dan bersifat baku. Di dalamnya terdapat kelompok atas dan kelompok bahwa. Otoritas tertinggi dalam struktur ini berada ditangan seorang pemimpin yang disebut Ondofolo. Dalam melaksanakan peran dan fungsinya dalam masyarakat ondofolo dibantu oleh para pembantunya. Yang dapat dilihat pada struktur soaial masyarakat Sentani di bawah ini:
Bagan 1. Struktur Pemerintahan Adat Suku Sentani Bagian Tengah
ondofolo
Keterangan: pembantunnya, yaitu Abhuafa, Yo Ondofolo, khoselo dan Akhona. Tugas mereka berbeda – beda. Struktur pemerintahan adat ini telah berlaku turun – temurun dan bersifat paten.
Ondofolo adalah seorang pemimpin yang diangkat berdasarkan keturunan ( ascribed status), sehingga ondofolo tidak dapat dijabat dari marga lain. Hanya marga/ keret yang turun – temurun ondofolo yang dapat menjabat sebagai ondofolo.
Seseorang yang berkedudukan sebagai ondofolo, mempunyai wewenang yang amat luas meliputi semua segi kehidupan dalam kampung mencakup bidang – bidang keagamaan, perekonomian, kesejahteraan sosial, keamanan dan peradilan.
Dalam bidang keagamaan, ondofolo harus mengawasi dan memelihara kehidupan beradat serta upacara – upacara dalam kampungnya. Ondofolo juga berkewajiban untuk mengaktifkan kehidupan beradat pada anggota masyarakat melalui pengawasan terhadap sikap sopan santun dalam pergaulan sehari –hari antar warga masyarakat, dan pengawasan terhadap intensifikasi upacara – upacara adat dalam lingkungan kekuasaannya. Selanjutnya peranan dalam segi keagamaan adalah bertindak sebagai kepala pemimpin upacara keagamaan, seperti pemimpin ritus inisiasi dan pemimpin upacara adat pembayaran kepala.
Wewenang ondofolo dalam bidang ekonomi tercermin dalam perencanaannya sebagai pemegang hak waris atas semua kekayaan kampung meliputi benda – benda dan berbagai sumber daya alam yang terdapat dalam wilayah kekuasaannya. Hal ini berkaitan dengan wewenang memberi izin mencari, menggunakan atau memanfaatkan sumber daya alam yang ada untuk kesejahteraan bersama masyarakatnya.
Wewenang ondofolo dalam bidang sosial tercermin pada beberapa hal. Pertama menerima sebagian harta mas kawin dari tiap anak gadis dari kampungnya yang kawin dengan laki – laki dari kampung lain. Demikian pula ondofolo berkewajiban untuk membantu membayar mas kawin dari tiap laki – laki dari kampungnya yang kawin dengan gadis dari kampung lain. Kedua, berhak mendapat hasil yang terbesar dari hasil perburuan, memangkur sagu dan hasil kebun
Wewenang ondofolo dalam bidang peradilan tercermin di dalam kedudukannya sebagai hakim yang bertugas menyelesaikan persengketaan yang timbul antara warga dari berlainan
suku dalam lingkungan kekuasaannya. Walaupun dia memiliki kekuasaan atas tanah atau telah memiliki peralatan sebagai syarat seorang ondofolo tetapi, apabila dia tidak memilih keluar dari kampung membentuk kampung baru dan menjadi ondofolo, maka dia akan tetap berada di bawah ondofolo.
Struktur Kedua dibawah ondofolo adalah Yo ondofolo dan Abhuafa. Yo Ondofolo adalah ondofolo Kampung yang memiliki wewenang dan kekuasaannya relae terbatas dalam mengatur kesejahteraan, keamanan dan kesehatan dalam kampungnya saja. Sedang Abhuafa
berperan sebagai juru bicara dan memiliki tugas dibidang hukum dan politik. Segala persoalan yang berkaitan dengan kampung akan disampaikan Yo Ondofolo dan khoselo
kepada abhuafa untuk disampaikan kepada ondofolo besar atau juga kepada Yo Ondofolo dari kampung lainnya, apabila persoalan itu dibahas dalam rumah adat (Obee).
Di bawah Yo ondofolo adalah Khoselo – khoselo atau kepala suku. Khoselo bertugas memimpin anggota akhona – akhona. Dalam menjalankan perannya sebagai kepala suku (khoselo) dibantu oleh beberapa orang pesuruh. Pesuruh bertugas menjalankan semua perintah khoselo. Akhona adalah seorang pemimpin dalam keret. Pemimpin keret ini adalah anak lelaki tertua dalam sebuah keluarga. Akhona memimpin anggota keret/famnya yang lainnya.
Ondofolo dan para pembatunya mengatur berbagai tradisi dalam masyarakat dan mereka memiliki kekuasaan (relae), misalnya tradisi kepemilikan bersama tanah kampung (yo)3. Pola penguasaann atas tanah bersama dalam kampung (Yo) terstruktur pula seperti struktur kepemimpinan itu. Ondofolo berkuasa atas tanah yang digunakan untuk kepentingan bersama. Tanah yang dikuasai oleh ondofolo kampung diserahkan kepada khoselo untuk dibagikan kepada para akhona. dan kemudian para akhona – akhona membagikan kepada tiap marga untuk digunakan sebagai lahan berkebun dan meramu sagu. Orang Sentani memiliki filosofi dari kepemimpinan adat terhadap kepemilikan tanah adat. Prinsipnya adalah” berbagi bersama untuk kepentingan bersama”.
Selain dibagi secara berjenjang sampai ke masyarakat atau keluarga – keluarga atau akhona – akhona, ada tanah yang masih dikuasai oleh ondofolo untuk kepentingan kampung. Mereka memiliki kebijaksanaan untuk menyisihkan tanah demi kepentingan bersama, misalnya untuk pembangunan obee (Rumah adat), untuk pemakaman warga kampung dan ada pula tanah kosong yang sewaktu – waktu dapat digarap untuk berkebun.
Ondofolo melakukan pembagian tanah kepada kepala suku, luas tanahnya berbeda – beda, akan tetapi pembagiannya didasarkan pada rasa keadilan serta sesuai dengan kebutuhan suku yang bersangkutan. Luas areal tanah yang dimiliki tiap kampung sulit ditentukan dan masing – masing tidak sama luas. Walaupun demikian, tiap suku mengetahui batas tanah kepemilikan mereka dengan berpatokan pada batas alam.
KONSUMSI MINUMAN BERALKOHOL SEBAGAI SEBUAH JALAN KELUAR SUATU KRISIS BUDAYA.
3 Istilaa yo mempunyai dua arti. Pertama, yo berarti rumaa besar atau rumaa tempat
Dewasa ini masyarakat telah berubah sedemikian rupa. Perubahan yang terjadi disebabkan oleh berbagai kekuatan, baik dari dalam maupun dari luar, telah menyebabkan kebudayaan masyarakat mulai berubah. Perubahan ini pun terjadi dalam kehidupan orang Sentani. Sebagai bagian dari masyarakat global, tentunya, mereka bergerak dinamis mengikuti perubahan yang terjadi.
Orang Sentani yang dahulu merupakan salah satu suku di Papua yang secara tradisional kehidupan sosial budaya masyarakatnya tersturktur dengan baik dan ketat, mulai mengalami pergeseran fungsi dan perannya dalam masyarakat. Pergeseran dalam tatanan sistem stratifikasi sosial yang berlaku secara tradisional menyebabkan mulai lunturnya nilai – nilai budaya berkaitan dengan penghormatan terhadap sturktur adat. Perbedaan kelas sosial yang dahulu tampak sangat jelas antar kelas atas dan bawah perlahan – lahan mulai hilang.
Semakin kuatnya arus globalisasi dan pentrasi budaya asing dalam kehidupan orang Sentani, menyebabkan terjadinya fragmentasi sosial dalam kehidupan sosial mereka. Dimana, kelompok orang Sentani yang telah sukses dalam pendidikan dan mapan secara ekonomi, mampu bertahan dan bersaing mengikuti arus perubahan yang terjadi. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan tidak mapan secara ekonomi cenderung tidak mampu bersaing dengan orang lain dan mengalami culture shock. Keadaan ini melahirkan sifat kecemburuan sosial di antara mereka dan juga dengan orang dari luar. Situasi ini mengakibatkan terjadinya krisis budaya dalam kehidupan orang Sentani, kelompok kedua.
Krisis budaya yang di alami orang Sentani menurt hasil penelitian ini dapat diklasifikasikan ke dalam: (1) Krisis pranata sosial; (2) krisis moda produksi; (3) krisis agraria; (4) krisis umur dan (5) krisis waktu.
1. Krisis Pranata Sosial
Krisis budaya yang terjadi dalam pranata sosial orang Sentani tampak pada pranata sosial, yaitu (1) Pranata sistem kepemimpinan Ondofolo dan (2) sistem kekerabatan (keluarga).
Pranata sistem kepemimpinan Ondofolo
Seperti telah dijelaskan bahwa dalam sistem kepemimpinan Ondofolo memiliki struktur pemerintahan adat yang tetap atau paten. Ondofolo dan bawahannya melaksanakan peran secara berstuktur. Status sosial seorang ondofolo adalah ascribed status atau melalui kelahiran/ pewarisan. Ondofolo mendapat legitimasi dari manusia dan alam sebagai pemimpin adat dan masyarakat. Pada masa lalu suara ondofolo ibarat suara Tuhan yang harus di patuhi dan dilaksanakan. Apabila masyarakat tidak mendengar, menghormati dan melaksanakan semua keputusan yang diambil oleh ondofolo, maka akan terkena kutukan dari alam dan juga hukuman dari kepala suku (khoselo) dan kepala keret/fam (akhona). Kebutuhan hidup ondofolo, berupa kebutuhan pangan menjadi tanggung jawab masyarakat pendukungnya.
yang lahir dari istri – istri selir tidak memperoleh hak secara adat untuk menjadi ondofolo. Tradisi adat ini telah mengalami pergeseran, seperti terjadi perebutan jabatan ondofolo di Kampung P, antara 2 bersaudara sebagai putra ondofo M. Terdapat 3 orang sampai 4 orang ondofolo dalam sebuah kampung , misalnya, Kasus Kampung Y.
Pada masa lalu keputusan ondofolo dan khoselo tidak dapat ditentang dan digugat oleh siapa pun. Suara ondofolo dan khoselo ibarat suaraTuhan. Tradisi penghormatan kepada pranata sosial pada saat ini mulai mengalami perubahan.
Kisah tersebut adalah salah satu dari banyak peristiwa yang terjadi dalam Kampung yang tidak dapat diselesaikan oleh Ondofolo. Peran dan eksistensi Ondofolo dalam pranata sosial mengalami perubahan. Di mana suara ondofolo yang di masa lalu ibarat suara Tuhan, tidak dapat dibantah. Kini lambat laun ditentang dan tidak dipatuhi. Persoalan – persoalan yang terjadi dalam Kampung antar kelompok keret/ marga, biasanya diselesaikan dalam rumah adat (obee4) Sehingga ada kecenderungan menyerahkan penyelesaian konflik antar individu
dan juga antar kelompok dalam kampung untuk diselesaikan oleh polisi.
1. Pranata kekerabatan (keluarga)
Krisis budaya juga terjadi dalam aspek kekerabatan orang Sentani. Beberapa tradisi penting yang terdapat dalam kehidupan orang Sentani, perlahan – lahan mulai hilang dan nyaris punah. Seperti berbagai macam ritual dan aktifitas yang dilakukan bersama –sama secara gotong- royong.
Berburu elha dan menokok sagu yang selalu dikerjakan secara bersama – sama mulai jarang dilakukan secara gotong – royong Rokhabia dalam kampung. Aktivitas ini hanya dilakukan ketika terjadi kedukaan dan hanya dilakukan oleh anggota keret/ marganya saja.
Kebersamaan yang telah dibina sejak nenek moyang mulai hilang. Orang cenderung melihat berapa besar keuntungan yang diperoleh dari sebuah hubungan. Situasi ekonomi yang semakin sulit mengakibatkan orang cenderung mengutamakan kepentingan pribadinya dari pada kelompok. Sifat individualistis mulai hadir dalam kehidupan mereka. Kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri, memunculkan kecemburuan sosial di antara kelompok kekerabatan dalam kampung.
Perasaan cemburu dan tidak puas terhadap terhadap kelompok kerabat lain berimplikasi pada keterlibatan anggota kekerabatan dalam konsumsi minuman keras. Individu yang tidak puas atau merasa cemburu cenderung memilih mengkonsumsi minuman beralkohol guna membangkitkan keberaniannya untuk menentang ketidakadilan yang dialaminya. Tindak kekerasan antar kerabat pun sering terjadi.
Krisis budaya dalam pranata keluarga terjadi juga dalam hubungan kekerabatan terutama dalam keluarga atau rumah tangga. Tradisi perkawinan orang Sentani pada masa lalu sangat ketat, dimana segala urusan berkaitan dengan perjodohan dan perkawinan dilakukan oleh pesuruh abhuakho. Pesuruh melakukannya atas permintaan kepala keret/marga akhona kepada kepala suku khoselo. Seorang laki – laki hanya boleh kawin dengan perempuan yang berasal dari “tempat kawinnya”. Tradisi ini tidak memberikan kesempatan kepada laki – laki untuk memilih pasangan sesuai dengan keinginannya. Tradisi ini meminimalisir kecenderungan laki – laki untuk berlaku semena – mena terhadap perempuan, karena nama dan derajat kepala suku, dan kepala keret dipertaruhkan. Kecenderungan untuk meninggalkan
4 Obe pengandung dua pengertian, yaitu (1) obe adalaa rumaa adat dan (2) obe dalam
atau bercerai dengan isteri tidak terjadi. Pada saat itu, hanya ondofolo yang boleh berpoligamy, sedang rakyat kebanyakan wajib melakukan perkawinan monogamy.
Hubungan individu dengan kelompok yang dahulu di atur sangat ketat dengan berbagai macam norma dan aturan – aturan adat sebagai alat kontrol sosial lambat laun mulai hilang. Mas kawin sebagai salah satu bentuk alat kontrol sosial yang mengikat hubungan antara istri dan suami, serta mengatur hubungan antar kedua kerabat, juga perlahan – lahan ditinggalkan.
Transformasi nilai budaya pembayaran mas kawin kemudian melahirkan perasaan tidak senang antar kerabat. Kerabat perempuan merasa dirugikan karena tidak memperoleh mas kawin dari anak gadis mereka, sedang anak gadisnya memberikan keturunan baru untuk kerabat suaminya. Perasaan tidak puas dan cemburu ini, cenderung memaksakan laki – laki untuk kawin masuk dan menetap di sekitar lingkungan kerabat istrinya (uxurilokal). Sebaliknya kerabat laki – laki menolaknya. Sebagai implikasi dari persoalan ini timbul berbagai tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Laki –laki cenderung mengkonsumsi minuman keras lalu melakukan tindak kekerasan psikis dan fisik terhadap istrinya.
Pertikaian dan perkelahian antar kerabat sering terjadi. Fenomena ini melahirkan pula perceraian dalam rumah tangga. Kasus perceraian dalam kehidupan mereka sering terjadi. Perempuan yang mengalami tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) cenderung memilih berpisah dengan suaminya dan menikah dengan laki – laki lain.
2. Krisis Moda Produksi
Krisis Moda Produksi termasuk dalam krisis budaya yang terjadi dalam kehidupan orang Sentani. Terdapat beberapa moda produksi yang dikenal orang Sentani secara tradisional, seperti Perahu alat transportasi di Danau, Peralatan berburu, Peralatan menangkap ikan dan peralatan memangkur sagu.
Pada masa lalu berbagai aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat berpedoman pada struktur adat yang dimiliki. Demikian pula dalam aktivitas pembuatan Perahu sebagai moda produksi dan alat transportasi di danau. Ritual pembuatan perahu merupakan tugas dari fungsionaris bidang kesejahteraan dalam struktur adat Ondofolo. Dia berkewajiban mengurus semua kebutuhan berkaitan dengan ritual pembuatan perahu. Dia juga mengumumkan kepada semua laki – laki agar dapat mengambil bagian secara gotong- royong. Calon pemilik perahu berkewajiban menyiapkan makanan dan minuman bagi para pekerja. Sebelum pergi ke hutan untuk mengerjakan perahu para laki –laki dijamu makan bersama. Mereka duduk membetuk formasi lingkaran pada saat makan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk integritas dalam menyatukan persepsi mereka. Kehadiran seseorang dalam makan bersama ini merupakan simbol yang menyatakan dia bersedia terlibat dalam aktifitas ini.
Perahu yang dibuat juga sesuai dengan status sosial dan gender pengguna. Perahu untuk ondofolo dan khoselo berbeda dengan perahu untuk masyarakat umum. Perbedaan tampak pada bentuk dan motif yang diukir pada perahu. Demikian pula, Perahu untuk laki – laki bentuknya berbeda dengan perahu untuk perempuan.
Perahu di buat sesuai dengan kesepakatan pemilik dengan para pembuat perahu. Orang yang mampu secara ekonomi dapat menyediakan makanan, minuman, rokok dan juga minuman keras. Penyediaan minuman keras biasanya disesuaikan dengan permintaan para tukang pembuat perahu. Minuman beralkohol dengan kadar alkohol 50 % seperti mension hous, jenefer dan Brandy sangat disukai oleh mereka. Menurut para informan, konsumsi minuman beralkohol bertujuan sebagai pemberi semangat bagi para pekerja. Para pembuat perahu dan para pembantu merasa kurang bersemangat dalam bekerja apabila tidak disugguhkan minuman beralkohol.
Nilai solidaritas sebagai kerabat telah mengalami perubahan. Sifat individualisme yang telah diadopsi menghilangkan tradisi bergotong – royong yang telah dikenal sejak nenek moyang. Disamping itu nilai kebutuhan ekonomi rumah tangga semakin meningkat sehingga orang cenderung meminta imbalan jasa dalam bekerja.
3. Krisis Agraria
Sebagaimana tampak dalam deskripsi tentang struktur sosial di atas, masyarakat Sentani terbagi ke dalam komuniti – komuniti yang disebut yo5 atau kampung. Masing – masing yo merupakan persekutuan hukum yang secara ekonomi dan politik berdaulat penuh dan tidak memiliki ikatan hirarkhi dengan kampung lain. Tiap Yo mempunyai wilayah atau teritorial, terdiri dari tanah dan perairan dengan batas – batas yang jelas, mempunyai sejarah asal – usul penduduk dan pendirinya dan mempunyai pemimpin dan rakyatnya.
Orang Sentani khususnya orang Sentani tengah memiliki gambaran hukum tanah adat sebagaimana diuraikan di bawah ini:
Tanah Yo atau tanah kampung merupakan hak milik bersama atau tanah adat. Tanah ini dikuasai oleh ondofolo untuk kepentingan bersama masyarakat adat dalam wilayah teritorial ondofolo tersebut. Masyarakat adat di wilayah kampung terdiri dari keret atau suku – suku. Tanah Yo yang sudah dibagikan kepada khoselo – khoselo disebut dengan yohokhela, atau tanah suku. Yohokhela adalah tanah yang telah diberikan kepada suku dan dikuasai oleh khoselo untuk kepentingan bersama seluruh anggota suku atau keret tersebut. Selain menguasai tanah adat, ondoafi dan kepala suku juga mempunyai hak milik pribadi atas tanah. Mereka menguasai tanah adat hanya untuk kepentingan bersama.
Tanah – tanah dalam kampung yang telah dibagikan kepada suku – suku/ keret- keret yang terdapat di dalam kampung bersangkutan. Tanah yang diperuntukkan bagi suku dikuasai oleh khoselo atau kepala suku. Ondofolo menguasai tanah kampung, sedangkan kepala suku menguasai tanah suku/keret. Danau adalah milik bersama orang Sentani dan dibagi – bagikan ke dalam wilayah milik kampung – kampung. Batas antara tanah kampung yang satu dengan tanah yo yang lain ditentukan atas dasar kesepakatan bersama antara ondofolo dua kampung yang saling berdekatan.Batas – batasnya juga berupa batas alam, seperti urat gunung, pohon besar, sungai, sagu duri atau batu besar.
Luas tanah yang diberikan khoselo kepada akhona atau kepala keluarga tentunya tidak sama luasannya. Meskipun tidak sama, pembagiannya didasarkan atas keadilan, misalnya berapa jumlah anggota dalam suatu akhona. Apabila jumlah anggota akhonanya banyak, maka dapat diberi tanah yang lebih luas. Prinsip pembagian luas tanah yang diberikan tergantung dari
5 Istilaa Yo mempunyai dua arti. Pertama Yo berarti rumaa besar atau tempat tinggal
kemampuan suatu suku/ keret atau akhona untuk mengelolanya, akan tetapi juga tetap ada batas – batasnya agar suku atau akhona yang lain memperoleh bagian.
Tanah kampung atau Yo telah terbagi habis dibagikan kepada khoselo dan akhona sehingga tidak terdapat lagi tanah kosong yang dapat dikuasai. Dalam perkembangan tanah milik kampung dan tanah suku banyak yang telah menjadi milik pribadi karena memang oleh kepala sukunya dibagi – bagikan kepada keluarga – keluarga atau anggota sukunya.
Tanah Yokhela yang belum dibagikan, tidak akan hilang meskipun telah digarap seseorang dalam waktu yang lama/ puluhan tahun tetap dipandang sebagai tanah milik bersama. Hak milik perorangan walaupun ditinggal dalam waktu yang lama, haknya atas tanah itu tetap dan tidak dihapus atau berubah menjadi tanah milik bersama lagi. Hak perorangan tidak mungkin berubah menjadi hak bersama lagi.
Selain tanah sebagai obyek milik bersama yang berupa tanah, hutan, gunung batu, air tanah, dan binatang buruan babi hutan juga merupakan milik bersama. Danau adalah milik bersama suatu kampung. Seseorang boleh berburu babi di hutan, akan tetapi hasilnya harus dinikmati bersama.
Tanah yang sudah dibagikan kepada para anggota suku atau keret sudah menjadi hak milik anggota suku yang bersangkutan. Tanah tersebut dinamakan Anuwrela. Jadi hak yang dapat dimiliki oleh anggota suku adalah hak milik.Terhadap hak milik tersebut anggota suku/ keret dapat mengalihkan atau menempatinya untuk tempat tinggal atau mengolah untuk berkebun. Anggota suku /keret yang sudah diberi hak atas tanah tidak ada kewajiban untuk membayar upeti atau uang.
Selain hak milik yang sudah dipunyai, anggota suku/keret juga dapat mempunyai hak pakai atau hak garap, yakni untuk mengolah tanah milik bersama kampung atau suku. Untuk mengolah tanah itu anggota keret/suku dapat mengajukan permohonan terlebih dahulu kepada ondofolo atau khoselo. Jadi hak yang dimiliki anggota suku itu adalah hak milik dan hak pakai atau menikmati.
Orang luar suku Sentani tidak diperbolehkan memanfaatkan tanah adat, kecuali kawin dengan perempuan suku Sentani dan hak nya hanyalah hak pakai bukan hak milik. Suami tidak akan memiliki tanah dari kerabat istrinya.
Secara adat sebenarnya orang luar tidak dapat memiliki tanah di Sentani. Tinggal di tanah suku Sentani boleh tetapi tidak memilikinya. Di Kampung – kampung ketentuan tersebut masih dipatuhi, akan tetapi di kota, sudah mulai ada perubahan. Ada tanah hak milik anggota suku yang mulai dijual kepada pendatang.
Yang berhak berceritera tentang asal –usul dan silsilah marga untuk kepentingan pembuktian hak atas tanah hanyalah keturunan langsung garis lurus dari ondofolo. Keterangannya dianggap otentik. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga keaslian warisan dan hak kewenangannya.
Sering ada persoalan yang berhubungan dengan tanah, misalnya tentang batas tanah. Prinsip orang Sentani: ‘sejengkal tanah adalah nyawa’. Dalam struktur masyarakat adat Sentani merupakan lambang kehidupan, tanah pun kerap dimaknai sebagai “susu ibu”, “susu ondofolo”hingga semua orang dapat melakukan aktifitas apa saja di dalam tanah adat dalam pengawasan ondofolo (Tokoro, 2013).
Berdasarkan prinsip tersebut apapun akan dilakukan apabila ada orang lain yang merampas hak tanah adat. Bila batas digeser, harus dikembalikan ke batas semula,atau disepakati bersama batas yang baru. Bila orang menduduki tanah bukan ahli waris yang sah dari pemilik tanah/nenek moyangnya, harus mengembalikan tanah tersebut. Apabila tanah telah dikembalikan tidak perlu ada denda.
Hukum adat Sentani yang sangat ketat dan prinsip orang Sentani : ‘sejengkal tanah adalah nyawa’. Sering pula menimbulkan konflik antar individu maupun antar kelompok. Pada masa kini krisis agraria sering terjadi dalam kehidupan mereka. Penjualan tanah di masa lalu oleh orang tua yang dipandang tidak menguntungkan kerabat di ambil kembali oleh mereka. Implikasi dari konflik tanah yang terjadi sering terjadi perkelahian dapat pula berakhir dengan kematian.
Persoalan tanah tanah dalam kehidupan orang Sentani merupakan suatu hal yang sangat rumit. Pelepasan tanah dari pihak ondofolo kepada pihak kedua, dan seterusnya melalui sebuah perjanjian yang disaksikan pihak lain sehingga apabila disuatu saat terjadi konflik tanah tersebut, maka terdapat saksi yang dapat memberikan informasi akurat tentang status tanah tersebut.
Fenomena yang terjadi dewasa ini dan menjadi persoalan serius, yakni status tanah yang pada masa lalu hanya dipinjamkan untuk membuka kebun,kemudian diklaim menjadi milik peminjam. Fenomena ini sering kali memicu konflik antar kerabat. Sebagai jalan keluar dari krisis agraria, orang mengkonsumsi minuman beralkohol untuk membangkitkan keberaniannya dalam menuntut haknya. Terdapat beberapa kasus, seperti kasus Kampung N tahun 2015, kasus Kampung Yb dan kasus Kampung Y tahun 2016.
4. Krisis Umur
Dalam hampir semua kebudayaan termasuk juga budaya orang Sentani daur hidup kehidupan manusia mulai dari lahir, masa kanak – kanak, remaja, kawin, tua dan meninggal dunia di laksanakan berbagai ritual berkaitan dengan hal itu. Betapa penting nilai kehidupan manusia sehingga selalu dilakukan berbagai macam ritual yang bertujuan menolak bala dalam kehidupan seseorang, juga sebagai bentuk syukur kepada sang pencipta pemberi kehidupan.
Pentingnya nilai anak dalam arti sosial dalam kehidupan orang Sentani sehingga mereka cenderung melakukan berbagai ritus yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak, namun setelah pengaruh agama Kristen semakin kuat dalam kehidupan mereka, ritual secara tradisional jarang dilakukan, umumnya mereka melakukan ibadah syukur secara kristiani. Kemudian menyanyikan kidung – kidung rohani sampai larut malam.
cenderung membuat pesta ulang tahun dengan melakukan pesta dansa diiringi musik barat, salsa, regae, rap dan polones. diselenggarakan disesuaikan dengan status sosial orang tua anak. Bila orang tua anak dan remaja itu berasal dari keluar berada, cenderung menyelenggarakan pesta ulang tahun di luar rumah, seperti menyewa ruang di kafe, hotel atau di departemen store atau mal yang ada di Sentani dan kota Jayapura. Adapula yang merayakan dengan cara mengajak keluarga berpiknik ke pantai. Untuk anak dan remaja yang berasal dari keluarga status sosial menengah ke bawah, cenderung merayakan ulang tahun di rumah.
Dalam perayaan ulang tahun berbagai makanan dan minuman dihidangkan, termasuk di dalamnya menyediakan minuman bir dan minuman beralkohol jenis lainnya. Tamu undangan, seperti para orang tua biasanya langsung berpamitan setelah santap bersama. Sedang anak remaja dan pemuda dewasa cenderung datang pada saat acara ‘bebas’ atau ‘melantai’ dilangsungkan. Pada saat inilah biasnya minuman keras, seperti bir dihidangkan untuk diminum oleh para tamu. Tujuan disuguhkan bir dalam acara ini adalah untuk menambah keramaian dalam pesta ulang tahun tersebut. Para undangan yang hadir terkadang mengkonsumsi minuman berlakohol sebelum pesta dimulai untuk menumbuhkan keberanian dan terkadang berlebihan sehingga kemeriahan pesta menjadi terganggu. Biasanya perkelahian terjadi menimbulkan permusuhan antar kelompok.
IV. 5. Krisis Waktu
Dalam kehidupan masyarakat tradisional umumnya memiliki pengetahuan tradisi tentang pengaturan waktu yang berkaitan dengan kesepakatan dalam bidang ekonomi tradisional. Seperti kesepakatan waktu untuk berperang, kesepakatan waktu untuk pembayaran mas kawin dan juga kesepakatan waktu untuk pembayaran harta kepala.
Tradisi pengaturan waktu berkaitan dengan aktivitas tersebut dalam tradisi masyarakat sentani merupakan wewenang ondofolo dan khoselo dengan dibantu oleh seorang pesuruh/juru bicara/abhuako. Semua kesepakatan mengenai waktu pelaksanaan segala sesuatu dilakukan oleh abhuako atas perintah ondofolo dan khoselo.
Demikian hal nya, dengan kesepakatan waktu untuk melaksanakan pesta – pesat berkaitan dengan momen tertentu, seperti penyelenggaraan pesta merayakan pergantian tahun. Pada masa lalu orang Sentani melakukan acara pergantian tahun dengan tradisi yosim (lemonipis). Tradisi ini hanya dilakukan dalam kampung diantara sesama anggota keret dan anggota keret yang lain dalam kampung yang sama.
Saat ini penyelenggaraan pesta perayaan tahun baru lebih meriah karena mengundang orang dari kampung lain. Penyelenggaraan acara lebih modern dengan berdansa, salsa, fals dan reggae menggunakan musik barat. Dalam pesta juga selain dihidangkan makanan dan minuman soft drink, seperti coca cola, sprite dan beer. Mereka juga menyediakan minuman keras dengan kadar alkohol tinggi, seperti Brandy, Jenifer, Mension hous dan lainnya. Fungsi minuman keras dalam pesta ini adalah sebagai menambah keramaian berkumpul para tamu pesta pada saat acara berlangsung.
KESIMPULAN
tentunya bergerak dinamis mengikuti arus globalisasi itu. Upaya pengintegrasian ini tampak dalam pengadopsian budaya global, seperti perubahan dalam pola konsumsi, makanan, minuman, rumah dan pakaian serta berbagai fasilitas modern lainnya.
Upaya memperkenalkan apa yang disebut “ peradaban “ telah dilakukan oleh para misionaris Zending dan Pemerintah. Dengan melakukan”penekanan halus,” mereka berupaya memperkenalkan sistem pendidikan modern, menyebarkan agama kristen dan memperkenalkan sistem pemerintahan modern. Mereka melarang semua aktivitas tradisional yang bertentangan dengan misi mereka. Upaya pemerintah dan misionaris Zending itu berhasil memanusiakan orang Sentani.
Orang Sentani secara perlahan – lahan menerima apa yang disebut peradaban. Mereka menerima dan mengadopsi peradaban barat dalam kehidupan sosial budayanya. Makan, minuman, rumah, dan pakaian mengikuti gaya hidup barat (life style). Perubahan ini juga diperoleh orang Sentani pada saat melakukan kontak kebudayaan dengan bangsa asing, lainnya, seperti Belanda, Jepang, dan Amerika. Salah satu tradisi yang diadopsi adalah gaya hidup barat, seperti berpesta, berdansa dan mengkonsumsi minuman beralkohol.
Fenomena ini berlangsung hingga sekarang. Konsumsi minuman beralkohol secara kontinu menyebabkan orang Papua, khususnya Sentani tidak menyadari bahwa mereka merusak tubuh sendiri. Jumlah orang Papua yang meninggal akibat minuman keras bertambah dari tahun ke tahun, terutama mereka yang berada dalam usia produktif 19 – 45 tahun.
Protes sosial yang terjadi dalam masyarakat adat, tampak jelas dalam kehidupan sosial-budaya orang Sentani. Sebagai masyarakat dengan struktur sosial baku dan paten, di mana peran dan kedudukan seorang individu sangat ditentukan eksistensinya dalam struktur tersebut. Para pemabuk merasa termaginalkan dalam struktur akibat status sosial yang mereka miliki. Mereka berada dalam situasi liminal, berada diluar struktur serta berupaya menentang struktur adat itu.
Respon sosial terhadap maraknya konsumsi minuman keraspun datang dari masyarakat Papua, pihak gereja (pastor dan pendeta) dan para pegiat sosial yang tergabung dalam LSM – LSM mendesak Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/kota di Papua untuk mengesahkan pemberlakukan PERDA MIRAS pada semua wilayah pemerintahan. Membuka pusat rehabilitasi minuman beralkohol untuk menyelamatkan orang – orang Papua dari kematian akibat konsumsi minuman beralkohol.
Pemerintah Daerah Provinsi Papua telah mengeluarkan dan mengesyahkan pelaksanaan PERDA MIRAS Nomor 15 Tahun 2013 tentang Pelarangan Produksi, Pengedaran dan Penjualan Minuman Beralkohol. Ketentuan Pidana diberikan kepada setiap orang yang melanggar ketentuan ini dengan ancaman pidana 5 tahun penjara atau denda Rp 1.000.000.000,00( satu milyar rupiah).
DAFTAR PUSTAKA
Chaney, David. 1996. Life Style: Sebuah Pengantar Komperensif. Penerjemah. Nuraeni. Jalasutra. Yogyakarta.
Colleta.N.J, Kayam,U. 1987. Kebudayaan dan Pembangunan: Sebuah Pendekatan Terhadap Antropologi Terapan di Indonesia. Penterjemah: A. Sonny Keraf dan Mien Joebhaar. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
Crump, Thomas. 1987.”The alternative economy of Alcohol in the Chiapas higland,” in Constructive drinking: Perspektive on drink from Anthropology. Edited by M. Douglas. Cambridge University.
Darmono. 2011. Toksiologi Narkoba dan Alkohol : Pengaruh Neorotoksisitasnya pada Saraf Otak. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
De Walt. B.R. 1979. Drinking behavior, economic status, and adaptive strategies of modernazation in highland Mexican community. Am, Ethanol.
Effendi dkk, 1992. Membangun Martabat Manusia: Peranan Ilmu – Ilmu Sosial Dalam Masyarakat.” Gadjah Mada Universitas Press. Yogyakarta.
Everett, Michael. 1980. Dringking as a Measure of Proper Behavior: The White Mountain Apaches. In Dringking Behavior a mong Southwestern Indians: An Anthropology Perspective. J. Waddell and M. Everett. Ed. Tucson: University of Arizona Press.
Featherstone, Mike. 1995. “localism, Globalism, Cultural Identity”, dalam M. Featherstone, dalam Undoing Culture: Globalization, Postmodernism, and Identity. London: Sage Publications.
Fox. J. James. 1996.” Panen Lontar: Perubahan Ekologi dalam Kehidupan Masyarakat Pulau Rote dan Sawu”. Pustaka sinar Harapan. Jakarta.
Frake. Charles. O. 1964. How to Ask for a Drink in Subanun. American Anthropologist. New Series Vol.66 No.6. Part 2: The Ethnography of Communication.
Graves. Theodore. 1967. Acculturation. Acces and Alcohol in a Three- Ethnic Communication. American Anthropologis.
Greeley. A.M.McCready. W.c.,Thiese. G. 1980. Ethnic Dringking Sub Cultures. New York: Praeger.
Griapon, Alexander. 2008. Jauh, Dekat, Hulu Sungai Grime: Babakan Awal Pola Pikir Orang Asli Papua. Penerbit Tabura. Jayapura. Papua.
Heath. D.B. 1987. Anthropology and Alcohol Studies: Current Issues Annual Review Anthropology. Vol. 6.
Hidayah, Zulyani. 1997. Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia. Cetakan pertama. Penerbit PT. Pustaka LP3ES Indonesia. Jakarta.
Joffe. Alexander, H. 1998. Alcohol and Social Complexity in Western Asia.” Current Anthropology. Vol.39. No.3.
Kartikasari. S.N.dkk. 2012. Ekologi Papua. Seri Ekologi Indonesia. Jilid VI. Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan Conversation Internasional. Jakarta.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cet. 3. 1990. Balai Pustaka. Jakarta.
1985. Kebudayaan, Mentaliet dan Pembangunan. Gramedia. Jakarta.
1990. Sejarah Teori Antropologi I. Gramedia. Jakarta.
1993. Membangun Masyarakat Majemuk di Irian Jaya. Djambatan Penerbit. Jakarta.
Koentjaranigrat, dkk. 2003. Kamus Istilah Antropologi. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.
Kopeuw, M., Philipus. 2014. Menggali Budaya Sentani di Papua Untuk Indonesia. Penerbit PT. Pealtwo Hiyakhe. Pres.
Kosay, Theodorus. 2006. Gaya Hidup Mahasiswa Papua di Jogyakarta. Tesis S2. Program Studi Antropologi. UGM. Yogyakarta.
Laksono, P.M. dkk. 2000. Menjaga Alam membela Masyarakat: Komunitas lokal dan Pemanfaatan Mangrove di Teluk Bintuni. Penerbit Lafadl Pustaka bekerja sama dengan PSAP Universitas Gadjah Mada.
Lee.J. Martin. 2006. Budaya Konsumen Terlahir Kembali: Arah Baru Modernitas dalam Kajian Modal Konsumsi dan Kebudayaan. Kreasi Wacana. Yogyakarta.
Levy and Kuniz. 1986. Indian Reservations, anomie and Social Pathologies. Southwestern Journal of Anthropology.
Maleong, I.J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya. Edisi Refisi.
Mansoben. J.R. 1990. Kepemimpinan Ondoafi. Universitas Cenderawasih. Jayapura.
Marshall. M. Ed. 1982. Through a Glass Darkly: Beer and Modernization in Papua New Guinea. Inst. Appl. Soc-Econ. Res. Monogr. 18. Baroko. PNG.
Muller, Kal. 2008. Mengenal Papua. Diproduksi oleh Daisy World Books. Edisi Pertama
Room. Robin. 1984. Alcohol and Ethnography: A Case of Problem Deflation. Current Anthropology.
Schoorl. 1997. Kebudayaan dan Perubahan Suku Muyu dalam Arus Modernisasi Irian Jaya. Grasindo. Jakarta.
Shigehiro. Ikegami. 1997. Tuak dalam Masyarakat Batak Toba. Laporan singkat tentang Aspek sosial Budaya.
Spradley. J.P.
1970. You Owe Yourself a Drunk: An Ethnography of Urban Nomads. Boston. Little, Brown.
1970. Beating the Drunk Charge. Boston Little, Brown.
1979. The Ethnographic Interview. New york: Holt, Rinehart and Winstons.
1980. Participant Observation . Printed in the United States of America Copyright. By Holt. Rinehart and Winston.
Soeprapto, Riyadi.H.R., 2002. Interaksionisme Simbolik: Perspektif Sosiologi Modern. Pustaka Pelajar. Yogyakarta