TRANSFORMASI GAYA HIDUP
PADA ESTETIKA DESAIN INTERIOR
STUDI KASUS: KOMUNITAS CRAFT DI SURABAYA
Susy Budi Astuti
Dosen Program Studi Desain Interior Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
ABSTRAKSI
Gaya hidup bukan lagi merupakan pola hidup yang tumbuh secara alami, namun sudah merupakan pola yang artificial. Menurut Chaney, gaya hidup akan menentukan tatanan individu dalam kehidupan sehari hari, yaitu sebuah eksistensial yang memiliki implikasi normative dan juga estetik.
Variabel obyek, waktu, dan ruang dipakai sebagai variabel dalam meninjau transformasi sebuah gaya hidup pada style estetika desain interior. Melalui metode penelitian pengamatan dan wawancara langsung ke suatu komunitas tertentu, dengan pendekatan 3 (tiga) variabel tersebut di atas, dihasilkan sebuah konsep diri yang menimbulkan dampak citra atau image.
Image dalam desain interior berkaitan dengan antara lain: trend estetika bentuk, warna, dan material. Keberadaan sebuah komunitas dengan gaya hidup tertentu akan sangat berkaitan dengan image desain interior yang diinginkan. Gaya Hidup dan desain interior bagaikan sebuah ruh dan raganya. Transformasi gaya hidup dalam wujud desain interior ternyata mempunyai keterkaitan yang sangat besar.
Kata Kunci: Gaya Hidup, Imaji atau Citra, Desain Interior.
PENDAHULUAN
Latar BelakangGaya Hidup adalah fenomena di masyarakat sebagai wujud identitas kebudayaan, ekonomi, sosial, simbolik maupun kreativitas. Pertumbuhan gaya hidup yang mengikuti arus faktor faktor di atas menimbulkan perubahan atau kebutuhan hidup yang berbeda. Perbedaan untuk sebuah identitas. Atau bahkan secara ekstrem dikatakan ‘lain’.
Menurut David Chaney (1996), bahwa Eksistensi gaya hidup tertentu berkembang seirama dengan waktu sebagai bentuk identitas kolektif. Dinyatakan pula bahwa gaya hidup merupakan cara hidup yang mempunyai tema khusus.
Perlunya Gaya Hidup
Wynne dalam Chaney (1996) menyatakan bahwa gaya hidup digunakan untuk menciptakan posisi sosial, yaitu antara lain dengan adanya pola perilaku penggunaan fasilitas tertentu dalam praktek ‘waktu’ luang. Pada lingkungan yang berbeda dengan struktur sosial ekonomi yang sangat berlainan, maka akan timbul praktek waktu luang yang berbeda pula. Liburan bagi masyarakat perkotaan identik dengan refreshing di tempat rekreasi, misalnya mall, bioskop, obyek wisata alam di luar kota, atau sekedar mengekploitasi hobi (memancing, berenang, bersepeda, dll). Sedangkan waktu libur di masyarakat pedesaan identik dengan bekerja membantu orangtua di sawah, ladang, kebun, atau membantu pekerjaan di rumah.
Keberadaan posisi sosial yang ‘bersaing’ dalam pola gaya hidup akan menimbulkan pula suatu ‘ruang’ sosial. Untuk selanjutnya, ruang sosial akan menjadi fasilitas konsumen/kelompok/komunitas yang membawa pada perasaan identitas. Komunitas anak muda pecinta Vespa, misalnya, akan mempunyai identitas ruang sosial di toko spare part Vespa, di gunung sebagai area touring, café sebagai area gathering, dan lain-lain.
Lebih lanjut Lee dalam Chaney (1996) menyatakan bahwa gaya hidup merupakan komoditas yang ditransformasikan dari nilai atau makna kedalam ‘obyek’. Obyek yang dimaksud tidak akan mengalami perubahan dalam hal simbolik, namun dapat dikembangkan dengan makna yang berbeda disesuaikan dengan penggunanya. Kursi sofa pada ruang tamu mempunyai simbol area publik yang ada di dalam rumah. Sebagai simbol area publik kursi sofa tersebut dapat dimaknai berbeda, yaitu dapat bermakna resmi atau santai.
Imaji atau Citra
Gaya hidup di masyarakat era modern tidak bisa lepas dari beraneka ragamnya budaya, dimana masing-masing budaya akan nampak identitas/ eksistensinya melalui penampakan visual/yang tertangkap, yaitu adanya imaji atau citra.
Imaji atau citra dapat dibedakan atas 3 (tiga) yaitu: (1) elemen grafis, misalnya warna (cerah atau lembut), bentuk (geometris atau abstrak), material (alam atau sintetis), tekstur (kasar atau halus) dan sebagainya; (2) elemen persepsi, yaitu imaji atau citra sebuah obyek sebagaimana yang ditangkap oleh persepsi si pengguna; (3) elemen optik, yaitu imaji atau citra obyek terjadi karena adanya medium optik yang membangunnya (televisi maupun film).
Imaji atau citra yang terbangun, baik melalui elemen grafis, persepsi maupun optik, akan mempunyai peran masing-masing guna mewujudkan eksistensi. Eksistensi yang bermakna yaitu yang dapat dilihat maupun dipersepsikan.
Estetika Interior
Estetika di dalam interior ditinjau atas elemen fisik yang meliputi lantai, dinding, plafon, furnitur, dan elemen dekoratifnya (lampu, lukisan, dll) serta non fisik yaitu kajian tentang komposisi, keseimbangan, keselarasan, dominansi, aksentuasi, keutuhan, dan sebagainya terhadap elemen warna, bentuk, tekstur dan material.
Daya tarik estetika dapat dibedakan atas faktor bentuk, simbol maupun emosi (ekspresi/makna). Ungkapan simbol dan emosi sangat tergantung akan referensi/wawasan yang dimiliki si pengguna. Latar belakang budaya yang menghasilkan pola berfikir yang berbeda-beda akan mentransformasikan informasi visual yang berbeda pula.
KAJIAN DAN METODE
Pokok kajian transformasi gaya hidup pada estetika interior adalah membuat kajian deskripsi konsep gaya hidup yang berdampak terbentuknya
trend estetika interiornya. Variabel kajian gaya hidup meliputi 3 (tiga)
tinjauan, yaitu:
1. Obyek, misalnya: kursi, baju, mobil, tas, jam tangan, sepatu, dll 2. Ruang, misalnya: resto, toko buku, lobby, sanggar tari, dan
sebagainya
3. Waktu, misalnya: berlibur ke pantai, bermain musik, melukis, berenang, dll
Penelitian dilakukan pada sebuah komunitas yang cukup spesifik karakternya, yaitu Komunitas Craft Surabaya. Pengamatan dan interview di lapangan terhadap anggota-anggota komunitas tersebut akan menjadi bahan pendekatan konsep ‘diri’ pada gaya hidupnya. Konsep ‘diri’ gaya hidup tersebut akan ditransformasikan pada unsur pembentuk estetika interior, yaitu dengan teknik sample image board interior.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Komunitas Craft Surabaya merupakan komunitas yang beranggotakan mayoritas ibu-ibu dan remaja putri yang mempunyai ketertarikan membuat kerajinan tangan, seperti merajut, menyulam, membuat wire jewellerry,
cabochon, dan lain lain. ‘My Sister Fungers‘ nama komunitasnya.
My Sister Fingers merupakan sebuah komunitas perempuan Indonesia (bermarkas di Surabaya) yang memiliki kepedulian dalam mengedukasi masyarakat Surabaya dan sekitarnya khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya untuk lebih mencintai handmade craft buatan anak negeri.
Gambar 1.
Contoh Karya Craft ‘My Sisters Fingers’
Sumber: Hasil Survei, 2013
Obyek
Obyek pada komunitas craft ‘My Sister Fingers‘ diamati pada benda pakai yang sering digunakan oleh para anggotanya, yaitu asesoris, tas, sepatu, baju, dan jilbab.
Aksesoris
Tabel 1. Hasil Survey Aksesoris
Responden Warna Bentuk Material Finishing 1 kontemporer ornamen plastik glossy
2 soft ornamen kawat glossy
3 soft simple kain manik glossy, doff 4 soft vintage plastik/benang doff 5 soft simple kain, manik glossy
Gambar 2.
Contoh Aksesoris Komunitas Craft
Sumber: Hasil Survei, 2013
Bros yang terbuat dari kain dan manik-manik dengan warna yang senada dengan baju menjadi karakter/identitas aksesorisnya. Bentuk geometris simple tampil secara anggun. Kalung indah dari bahan wire cukup dekoratif, namun tetap berkesan anggun.
Mereka lebih menyukai karya/buatan sendiri. Tema, bahan, dan warna disesuaikan dengan suasana kegiatan dan model baju yang dipakai, namun mempunyai kecenderungan warna soft. Bentuk aksesoris bermakna eksplorasi, yaitu mewadahi trend anak muda yang cenderung ingin berbeda (dari yang simple hingga yang dekoratif/penuh ornamen).
Material yang dipakai lebih merupakan tantangan kreativitas agar menjadi spesifik, yaitu dengan memanfaatkan kain, benang, kawat, plastik hingga manik-manik. Finishing menyesuaikan dengan tema glossy dan doff.
Aksesoris selalu mereka kenakan, baik ketika kerja/kuliah, kumpul bersama komunitas, jalan-jalan, atau menghadiri acara tertentu. Kebutuhan aksesoris selalu menyertai baju.
Baju
Tabel 2. Hasil Survey Baju
Responden Warna Bentuk Material Finishing 1 pastel simple kain lembut doff 2 soft simple kain lembut doff 3 selaras simple kain lembut doff 4 soft simple kain lembut doff 5 soft simple kain lembut doff
Secara umum trend baju yang dipilih adalah berbentuk simple dengan warna pastel/soft yang selaras. Kain cenderung bersifat lembut serta kesan
doff. Karakter tersebut lebih memberi ‘ruang’ untuk memadu-padankan
aksesorisnya.
Jilbab
Tabel 3. Hasil Survey Jilbab
Responden Warna Bentuk Material Finishing 1 Beragam simple, mixmatch kain lembut doff 2 Kontemporer simple, mixmatch kain lembut doff
3 soft simple ringan doff
4 variasi selaras mixmatch - - 5 menyesuaikan
baju mixmatch
kain
Gambar 3.
Model Baju dan Jilbab Komunitas Craft
Sumber: Hasil Survei, 2013
Identitas modis tetap nampak walau warna jilbab yang disukai cenderung soft. Bahan berkesan lembut dengan finishing doff alami. Karakter khas pada bentuk jilbab yang berani mixmatch, tetapi tetap berkesan simple.
Keselarasan jilbab dengan baju dan aksesorisnya nampak diperhatikan. Kreativitas untuk menunjukkan eksistensinya antara lain dengan bentuk jilbab.
Sepatu
Tabel 4. Hasil Survey Sepatu
RESPONDEN WARNA BENTUK MATERIAL FINISHING 1 pastel simple kain flanel doff, bertekstur 2 pastel simple kulit doff, bertekstur 3 alami simple Kulit, kain,
manik doff, bertekstur 4 pastel simple kain, kulit doff, bertekstur 5 kontemporer simple kain flanelt doff, bertekstur Tas
Tabel 5. Hasil Survey Tas
Responden Warna Bentuk Material Finishing 1 pastel simple (besar) kain, manik-manik
(handmade) doff 2 pastel simple (besar),
vintage
kain, manik-manik
(handmade) doff 3 pastel simple (besar) kain, kulit doff, bertekstur 4 pastel simple modis kain, kulit
manik-manik doff 5 pastel simple modern Kain, manik-manik
Sepatu dan tas berkesan handmate, bentuk simple bahan alami berkesan feminim dan lembut. Warna pastel selaras menjadi ciri khas kreativitas anggota komunitas. Finishing yang cenderung doff bertekstur menambah kesan kuat akan perpaduan seni dan desainnya.
Gambar 4.
Model Tas Komunitas Craft
Sumber: Hasil Survei, 2013
Ruang
Komunitas Craft adalah komunitas dengan gaya hidup ‘pamer’. Maknanya adalah bahwa perlu ada sarana atau ruang untuk menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan karya atau kegiatannya, misalnya rak display untuk meletakkan hasil craft-nya dan almari dengan susunan laci untuk menyimpan bahan dan alat.
Kebutuhan men-display pada Komunitas Craft menjadi ciri khas yang dipertimbangkan secara detail dan rapi. Estetika rak display akan berkaitan dengan benda yang akan di-display yang tentu saja dengan mempertimbangkan teknik display yang tepat. Men-display kalung dan cincin akan sangat berbeda tekniknya, sehingga kebutuhan ruangnya juga akan berbeda.
Gambar 5. Sarana Display Craft
Sumber: Hasil Survei, 2013
Waktu
Waktu luang bagi anggota Komunitas Craft dimanfaatkan untuk kegiatan yang tetap berkaitan dengan craft, misalnya: ke mall, toko buku,
galeri, bazaar atau pameran guna menambah wawasan tentang craft. Kebutuhan ruang atau space di atas untuk mengisi waktu luang.
Gambar 6. Galeri dan Toko Buku
Sumber: Hasil Survei, 2013
Konsep Estetika pada Interior
Tabel 6.
Resume Tabel Variabel ‘Obyek, Ruang dan Waktu‘
Kegiatan Baju Sepatu Hp Tas Jilbab Aksesoris Dalam
Komunitas
t-shirt, cardigan,
jeans
flatshoes BB tote bag
canvas paris bros, gelang Kuliah t-shirt, cardigan, jeans flatshoes BB postman bag paris sabuk anyaman Jalan-jalan t-shirt, dress, rok/celana kain wedges BB postman
bag civon kalung
Rumah t-shirt - BB - - -
Acara kemeja, longdress
high
heels BB tas jinjing
hijabers style
gelang, kalung, bros Warna soft pastel hitam pastel
kontem-porer
kontem-porer Bentuk simpel simpel geo-
m etris
besar vintage
besar
mixmatch ornamen Material lembut kain logam kain
pernik kain plastik Finishing doff doff glosy glosy doff glosy
Berdasarkan tabel 6 tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa Komunitas Craft ‘My Sister Fingers’ mempunyai karakter/identitas yang spesifik, yaitu dengan gaya hidup yang berkonsep ‘diri’, yaitu:
1. Feminin, dimana makna estetikanya adalah berkaitan dengan wanita, garis lengkung, warna soft-lembut, material ringan, tekstur halus, dan lighting familiar.
2. Detail dan Rapi, dimana makna estetikanya adalah suasana bersih/tidak berantakan, teratur, tuntas, spesifik, serta nyaman dan aman.
3. Simpel, dimana makna estetikanya adalah tidak rumit, mudah, serasi, selaras, dan berimbang.
Warna
Nuansa warna pastel mewakili makna feminim dan lembut. Tone warna muda pada nuansa pastel berkesan simple (ringan) dan rapi, seperti nampak pada image board interior berikut ini:
Bentuk
Secara umum bentuknya sederhana, tanpa banyak ornamen. Nampak
image kursi yang feminim dengan bentuk yang organis alami. Kesan rapi
dan simple. Pemilihan bahan kain yang lembut sebagai furnishing dekorasinya.
Gambar 7.
Image Board Interior ‘Feminim’ Sumber: Hasil Anaisis, 2013
Lace
Sering digunakan oleh anggota Komunitas Craft sebagai bahan ‘list’ atau penutup pinggir sebuah produk craft (tas, bros, tempat tissue, dll). Karakter simple dan rapi, namun justru menunjukkan sifat detailnya.
Gambar 8.
Image Board Interior ‘Detail-Rapi’ Sumber: Hasil Anaisis, 2013
Display
Kebutuhan menata dan menyimpan alat, bahan dan hasil karya menjadi karakter Komunitas Craft untuk menyediakan space display.
Gambar 9.
Image Board Interior ‘Simple-Detail-Rapi’ Sumber: Hasil Anaisis, 2013
Lantai dan Dinding
Pemilihan warna lantai dan dinding mengikuti konsep warnanya, yaitu feminim dan rapi. Karakter motif bunga dengan warna soft sering digunakan.
Gambar 10.
Image Board Interior ‘Feminim-Rapi’ Sumber: Hasil Anaisis, 2013
SIMPULAN
Gaya hidup merupakan produk artificial, yaitu sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Latar belakang lingkungan yang berlainan akan muncul berbagai eksistensi gaya hidup yang berbeda pula. Imaji atau citra menjadi
kekuatan gaya hidup. Dengan pendekatan citra grafis, citra persepsual, dan citra optik diperoleh variabel visual estetika pada Obyek, Ruang, dan Waktu.
Variabel Obyek adalah variabel elemen gaya hidup yang paling mudah ditangkap karena berkaitan langsung dengan perorangan. Variabel Ruang dan Waktu lebih merupakan elemen gaya hidup komunitas. Namun demikian, ketiga variabel tersebut saling berkaitan.
Konsep gaya hidup yang spesifik dapat ditransformasikan pada estetika interior, yaitu dengan tinjauan warna, bentuk, material, dan finishing; sehingga diperoleh makna style desainnya.
DAFTAR PUSTAKA
David, Chaney. 1996. Lifestyle. Yogyakarta: Jalasutra.
Idi, Ibrahim Subandy. 2004. Lifestyle Ecstasy: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat
Komoditas Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra.