• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

D. Analisis SWOT pada Produk gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota

1) Internal Faktor dan Eksternal Faktor Evaluasi

Internal faktor evaluation (IFE) matrik berguna untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keadaan perusahaan dari kekuatan dan kelemahan yang ada pada perusahaan.

a) Kekuatan (strength)

Kekuatan adalah kelebihan atau keunggulan yang dimiliki khusus dari perusahaan di dalam suatu produk dan pelayanan serta mendukung perkembangan usaha.

Adapun faktor yang menjadi kekuatan dari produk gambir yang ada di Kabupaten Lima Puluh Kota adalah sebagai berikut :

I. Kapasitas lahan produksi cukup besar

Dalam produksi gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota cukup besar, karena luas dari lahan produksi gambir mencapai 16 778,63 (Ha) dan mampu memproduksi

sebesar 6794,00 ton. Hal ini menjadi salah satu kekuatan bagi petani gambir untuk bisa memproduksi dalam jumlah yang besar.

II. Tanaman gambir memiliki banyak khasiat dan manfaat

Banyaknya khasiat dari tanaman gambir mampu menjadikan gambir menjadi komoditas unggulan di Kabupaten Lima Puluh Kota, diantara manfaat dari gambir selain dari digunakan untuk makan sirih, juga bermanfaat untuk sakit gigi, diare, sakit perut, maag dan masih banyak lagi manfaat yang lainnya, mulai dari daun,gagang batang sampai ke serbuk gambir semuanya memiliki manfaat.

III. Adanya regulasi yang mendukung pengembangan gambir

Regulasi yang mendukung pengembangan gambir ditandai dengan adanya Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Peraturan Bupati tentang Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Daerah, serta regulasi-regulasi lain yang mengatur pengembangan wilayah, sumber daya ekonomi dan komoditas unggulan daerah.

IV. Sumber daya manusia yang cukup banyak

Sebanding dengan luasnya lahan produksi gambir yang ada di Kabupaten Lima Puluh Kota, Petani gambir juga cukup banyak yang bermata pencaharian gambir dan hal ini bisa menjadi kesempatan untuk mengembangkan gambir menjadi produk yang berbeda dan bisa membantu perekonomian masyarakat.

V. Petani menguasai keterampilan budidaya gambir bertahun-tahun.

Masyarakat petani gambir mempertahankan produk gambir secara turun-temurun agar perkebunan gambir tetap menjadi komoditas unggulan dan mata pencaharian utama di Kabupaten Lima Puluh Kota.

b) Kelemahan (Weakness)

1) Lemahnya kemampuan sumber daya manusia Kurangnnya pendidikan dan pengetahuan dari kebanyakan petani gambir, sehingga kebanyakan dari petani gambir mengambil langkah untuk melakukan produksi gambir secara turun-temurun, dan tidak terlalu antusias untuk membuat produk gambir menjadi lebih berkembang, namun jika dilakukan pelatihan terhadap petani mereka juga setuju dan terbuka untuk itu, karena petani juga perlu arahan berharap bisa untuk menciptakan inovasi baru dari produk gambir.

2) Terbatasnya kemampuan petani dalam teknologi produksi gambir

Petani masih kekurangan kemampuan dalam menghasilkan produk gambir yang lebih tinggi dan menghasilkan produk gambir lebih lanjut dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Karena petani pada umumnya masih menggunakan alat-alat produksi yang diwariskan secara turun-temurun.

3) Petani yang belum disiplin dalam mempertahankan kualitas gambir

Beberapa petani gambit yang masih terpengaruh dengan harga tinggi sehingga masih ada yang berbuat curang mencampurkan gambir dengan bahan yang lain, sehingga tidak lagi mengedepankan kualitas dari gambir

4) Belum efektifnya pengawasan pemerintah terhadap manajemen permasalahan dan pengembangan gambir kedepannya

Pemerintah sudah berusaha untuk melakukan pengawasan terhadap petani gambir dan menanggapi semua permasalahan yang terjadi, namun hal ini belum berjalan efektif.

5) Dana yang kurang memadai dalam usaha pengembangan gambir

Dalam melakukan sebuah usaha, dan melakukan inovasi produk maka akan memerlukan biaya yang begitu besar, sehingga pengelolaan manajemen, kelembagaan, permodalan gambir bisa berjalan dengan bagaimana semestinya. Untuk saat ini dana dari masyarakat maupun pemerintah belum memadai.

Tabel 4.4

Analisis faktor Internal pada produk gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota

Kekuatan (Strength) Kelemahan (Weakness)

Kapasitas lahan produksi cukup besar

Lemahnya kemampuan sumber daya manusia

Tanaman gambir memiliki banyak khasiat dan manfaat

Terbatasnya kemampuan petani dalam teknologi produksi gambir

Adanya regulasi yang mendukung pengembangan

Belum efektifnya pengawasan pemerintah terhadap manajemen dalam usaha pengembangan gambir

Sumber : Wawancara Lapangan 2020

b) Analisis Eksternal Faktor Evaluation (EFE)

Eksternal Factor Evaluation (EFE) matriks yang berguna untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perusahaan dilihat dari peluang dan ancaman yang ada.

a) Peluang (Opportunity)

1) Adanya dukungan dari pemerintah pusat yang dapat dimanfaatkan

Pemerintah sangat mendukung terhadap pengembangan gambir, baik itu dukungan kebijakan,

program, dan kegiatan sekaligus anggaran yang akan dialokasikan bagi pengembangan gambir.

2) Berkembangnya pengetahuan mengenai zat-zat yang terkandung dalam gambir

Banyaknya perkembangan mengenai uji labor tentang apa saja kandungan yang ada pada tanaman gambir, akan menambah wawasan dan pengetahuan bahwa gambir memiliki banyak manfaat dan khasiat bagi tubuh.

3) Peluang pasar yang masih besar

Masih besarnya peluang pasar pada daerah lain yang memanfaatkan produk gambir Kabupaten Lima Puluh Kota, terutama daerah-daerah yang memiliki industri atau kawasan indutri yang membutuhkan gambir sebagai bahan baku, peluang lain tentunya adalah negara lain yang memiliki teknologi tinggi yang dapat menciptakan diversifikasi produk gambir.

4) Kemajuan teknologi dalam memproduksi produk gambir

Dengan adanya kemajuan teknologi petani gambir bisa memanfaatkan teknologi modern yang ada pada saat ini

5) Lokasi daerah yang sangat strategis ditinjau dari aspek geoekonomi

Lokasi yang strategis ditinjau dari aspek geoekonomi yang maksudnya srategis dari sisi geografis yang sangat cocok bagi pembudidayaan gambir dan strategis dalam jalur perdagangan antar daerah.

b) Ancaman (Threats)

1) Adanya daerah lain yang mengembangkan gambir Ada beberapa daerah yang ikut mengembangkan gambir yaitu Kampar di Riau Musi Banyuasin di Sumatera Selatan, Pak-Pak Barat di Sumatera Utara, Karimun/Kundur di Kepulauan Riau serta beberapa Kabupaten di Sumatera Barat sendiri.

2) Tertutupnya informasi pasar

Begitu kurangnya informasi pasar, sehingga pasar gambir menjadi tidak menentu dan harga tidak bisa diprediksikan dengan baik. Disamping itu kurangnya informasi pasar akan menghambat kelancaran promosi dan perluasan pasar.

3) Ketergantungan yang tinggi pada pasar ekspor

Terutama India yang menyebabkan keguncangan harga setiap ada perubahan kebijakan pada negara tersebut.

4) Adanya Produk substitusi yang dapat menggantikan peran gambir

Yaitu komoditas lain dari daerah lain yang menghasilkan senyawa seperti katechin, tanin, dan lain-lain dengan harga lebih bersaing. Disamping itu juga dikhawatirkan terjadinnya penggantian komoditas gambir kepada komoditas lain pada lahan gambir yang sudah ada bila harga gambir tidak lagi menguntungkan.

Tabel 4.5

Analisis Faktor Eksternal pada produk gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota

Peluang Ancaman

1

Adanya dukungan dari pemerintah pusat yang dapat dimanfaatkan zat-zat yang terkandung dalam gambir

2

Tertutupnya informasi pasar

3

Peluang pasar yang masih

besar 3

Ketergantungan yang tinggi pada pasar ekspor

4

Kemajuan teknologi dalam memproduksi produk

gambir 4

adanya produk substitusi yang dapat menggantikan peran gambir

5

Lokasi daerah yang sangat strategis ditinjau dari aspek geoekonomi

Sumber : Wawancara Lapangan 2020

c) Analisis Matriks IFE dan EFE

Analisis matriks IFE adalah menganalisa, menjelaskan serta mengevaluasi faktor-faktor yang ada dilingkungan internal produk gambir berupa kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh produk gambir tersebut. Sedangkan analisis matriks EFE adalah mengevaluasi, menjelaskan faktor-faktor yang ada diluar lingkungan produk gambir yaitu peluang dan ancaman.

a) Analisis matriks IFE

Tabel 4.6

Hasil Analisis Matrik IFE

No Faktor Internal Bobot Rating Skor

5

0,10 : Sedang 2: Kelemahan yang kecil 0,15 :Tinggi 1: Kelemahan yang besar

Berdasarkan hasil matrik IFE di atas dapat disimpulkan bahwa total bobot skor adalah 2,35. hal ini menggambarkan bahwa total dari bobot skor kekuatan adalah 1,30 sedangkan total bobot skor kelemahan adalah 1,05. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan dari produk gambir ini lebih besar dari pada kelemahan yang telah ada.

b) Analisis Matrik EFE

Tabel 4.7

Hasil Analisis Matrik EFE

No

Faktor Internal Bobot Rating Skor Bobot

4

Sumber : Analisis Data Primer

Keterangan :

Berdasarkan hasil matrik EFE di atas dapat disimpulkan bahwa total bobot skor adalah 3,10. hal ini menggambarkan bahwa total dari bobot skor peluang adalah 1,60 sedangkan total bobot skor ancaman adalah 1,50. Hal ini menunjukkan bahwa peluang dari produk gambir ini lebih besar dari pada ancaman yang akan terjadi.

Tabel 4.8

Tabel Bobot Skor matrik SWOT

Internal

Sumber : Analisis Data Primer

Berdasarkan hasil tabel bobot skor pada matrik SWOT diatas terlihat Strategi SO memiliki skor tertinggi yaitu 2,90 dibandingkan dengan strategi lainnya, maka petani gambir dapat menggunakan strategi SO untuk mengembangkan produk gambir kedepannya sehingga dapat bertahan menjadi komoditas unggulan di bidang perkebunan. Strategi SO merupakan strategi yang menggabungkan antara kekuatan dan peluang yang dimiliki oleh produk gambir.

d) Matrik SWOT Produk Gambir

Dengan analisis SWOT memungkinkan perusahaan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempegaruhi baik positif maupun negatif dari dalam dan luar perusahaan. Peran kunci SWOT adalah untuk membantu megembangkan kesadaran penuh dari semua faktor yang dapat mempengaruhi perencanaan strategi dan pengambilan keputusan, tujuan yang dapat diterapkan pada hampir semua aspek industri. Hasil matrik SWOT produk gambir diantaranya.

Tabel 4.9

Matrik SWOT Strategi Inovasi dalam meningkatkan nilai tambah Produk Gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota

Internal Faktor

Eksternal Faktor

Kekuatan (Strength)

1. Kapasitas lahan produksi cukup

mengenai zat-zat yang terkandung dalam gambir

3. Peluang pasar yang masih besar

4.Kemajuan teknologi dalam memproduksi produk gambir

5. Lokasi daerah yang sangat strategis yang tinggi pada pasar ekspor

3.Melakukan diversifikasi produk gambir agar tidak bergantung hanya untuk mengekspor produk gambir

Sumber : Analisis Data Primer

Menggunakan analisis faktor internal dan eksternal seperti yang sudah dijelaskan, maka dapat diketahui empat strategi yang terangkum dalam matrik SWOT yang dapat dijadikan pertimbangan perusahaan untuk diterapkannya.strategi tersebut adalah Strengths Opportunity (SO), Strengteats (ST), Weakness Opportunity (WO), dan Strategi Weakness Threats (WT).

e) Hasil Perhitungan Nilai Tambah produksi sebelum dan sesudah melakukan inovasi produk gambir

Dari hasil wawancara yang penulis lakukan dengan pemilik teh gambir bahwasanya proses produksi yang dilakukan pada produk teh celup gambir dilakukan dari proses pemetikan daun pucuk gambir.

Pucuk gambir yang dipetik kemudian dipisahkan antara daun dengan tangkainya atau disebut Sortasi. Kemudian pencucian daun dan dilanjutkan dengan pelayuan bertujuan untuk mengurangi kandungan air dan melemaskan daun agar mudah tergulung, selanjutnya yaitu penggulungan daun gambir yang telah dilayukan untuk membuka sel-sel daun, kemudian pengirisan dan dimekarkan, setelah itu baru

melakukan fermentasi dengan menutup dan membiarkan selama 12 jam, kemudian pengeringan, pemberian aroma melati dengan menambahkan 10% melati kedalam teh daun gambir dan terakhir baru pengemasan.

Kegiatan produksi teh gambir dilakukan oleh 10 orang , sekali proses produksi memerlukan waktu 2 hari dan produksi dilakukan apabila ada pemesanan dari konsumen. Dalam satu kali proses produksi memerlukan sekitar 50 kg daun gambir, dan menghasilkan sebanyak 50 kotak teh celup gambir, namun dalam menghasilkan produk dalam seminggu tidak tetap karena tidak menentunya pemesanan dari produk teh celup ini. Untuk biaya yang dikeluarkan tentu tidak banyak, karena memang semuanya sudah difasilitasi. Kami hanya menyediakan daun gambir untuk diolah, semua alat-alat untuk pembuatan sudah disediakan.

Satu kotak teh celup dijual dengan harga Rp.15000 Rupiah, dan jika dibandingkan dengan harga jual gambir saat ini yaitu Rp.13000 Rupiah satu kilo. Sehingga jika perusahaan mampu menghasilkan 50 kg gambir untuk 1 kali produksi, maka akan mengahasilkan Rp.750000 Rupiah. Sedangkan jika gambir hanya dijual 50 kg hanya menghasilkan Rp.650000 Rupiah. Nilai tambah dari produk gambir ini sebesar Rp.100000 Rupiah.

f) Hasil Analisis Penulis

Hal yang akan penulis analisa adalah apa saja strategi inovasi produk gambir dalam meningkatkan nilai tambah produk gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota. Analisis data yang digunakan adalah analisis SWOT, analisis IFE, Dn EFE dan matrik SWOT. Teknik pengumpulan data yang penulis lakukan yaitu wawancara dan observasi langsung.

Berdasarkan analisis data yang dilakukan sebelumnya, maka untuk meningkatkan pengembangan produk gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota yaitu dengan memanfaatkan Strategi SO (Strength dan Opportunity), dimana strategi SO merupakan strategi yang menggabungkan antara kekuatan dan peluang yang dimiliki oleh produk gambir untuk meningkatkan nilai tambah produk gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota. Strategi yang dapat dimanfaatkan oleh petani gambir tersebut adalah :

1) Memperhatikan strategi inovasi produk gambir dengan Meningkatkan

Dokumen terkait