• Tidak ada hasil yang ditemukan

Internal Rate of Return (IRR)

HASIL DAN PEMBAHASAN

3. Internal Rate of Return (IRR)

Internal Rate of Return adalah tingkat suku bunga (discount rate) yang dapat membuat harga NPV dari suatu proyek bernilai nol, atau BC Ratio sama dengan satu. Dalam perhitungan IRR ini, diasumsikan bahwa setiap benefit netto tahun secara otomatis ditanam kembali dalam tahun berikutnya dan memproleh rate of return yang sama dengan investasiinvestasi sebelumnya.

Penerimaan = Rp. 1.856.086.250

Untuk menghitung discount Faktor dengan rumus sebagai berikut 1

1+i . Perhitungan discount factor (r1) yang memberikan NPV Positif (NPV1) atau dari Suku bunga rill yang sudah dihitung dan ambil discount factor lainnya (r2) yang lebih besar dari pada r1, sehingga menghasilkan NPV negatif pada (NPV2) untuk mendapatkan nilai NPV yang positf pada tingkat bunga tertentu. Dan pada NPV2

ditambahkan 2 untuk membuat NPV negatif tetapi tidak terlalu besar dan tinggi.

IRR = i1+(i2- i1) NPV1 yang dikeluarkan (Cost) dan pendapatan (Benefit) sama sejak ekowisata

38

dijalankan. Nilai IRR tersebut menunjukkan layak karena posisi nilai yang berada lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku yakni 6,56%. Menurut Nasution (2019) Nilai ini menunjukkan kemampuan modal untuk menghasilkan keuntungan karena nilai IRR lebih tinggi dari tingkat bunga pinjam modal tersebut atau tingkat opportunity cost of capitalnya (OCC) dan benar-benar menunjukkan kemampuan modal untuk menghasilkan.

Pemanfaatan Finansial Gajah untuk Masyarakat

Menurut Aryunda (2011) Menyatakan bahwa dampak pariwisata terhadap perekonomian dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif. Secara umum dampak tersebut dikelompokkan dampak terhadap penerimaan devisa, dampak terhadap pendapatan masyarakat, dampak terhadap peluang kerja, dampak terhadap harga dan tarif, dampak terhadap distribusi manfaat dan keuntungan, dampak terhadap kepemilikan dan pengendalian, dampak terhadap pembangunan;

dan dampak terhadap pendapatan pemerintah.

Dampak terhadap pendapatan masyarakat dari pemanfaatan Gajah yang ada di Tangkahan memberi dampak yang sangat besar bagi masyarakat Desa Namo Sialang dan masyarakat Desa Sei Serdang yang memanfaatkan gajah sumatra di Tangkahan yang pada awalnya sebagai patroli Kawasan atas illegal logging di daerah tersebut menjadi paket wisata yang memberi manfaat banyak kepada Masyarakat secara khusunya. Baik kepada Lembaga Pariwisata Tangkahan sebagai Lembaga masyarakat yang menjadi tempat untuk pengelolaan swadaya masyarakat, Guide sebagai pemandu untuk menikmati ekowisata tangkahan terutama gajah sumatra sebagai daya Tarik utama bahkan jalur gajah yang terkena lahan masyarakat juga diberikan retribusi jalur sejak 2004 dan bagian-bagian masyarakat lainnya dalam pemanfaatan gajah ini.

Untuk menentukan pendapatan finansial oleh Masyarakat terhadap gajah sumatra sebagai paket wisata di Tangkahan Adapun persentase pendapatan dari paket wisata kepada masyarakat yang mendapatkan pembagiannya yaitu dengan pembagian persentase berdasarkan harga paket wisata pada tabel 2 hingga 5 dengan membagi dengan jumlah total biaya paket wisata dan menentukan persentase masing-masing pembagiannya untuk menghitung Manfaat finasial kepada Masyarakat langsung dari paket wisata yang dimanfaatkan dari gajah

39

sumatra di Ekowisata Tangkahan, Taman Nasional Gunung Leuser yang disajikan dalam tabel 16 berikut.

Tabel 16. Pembagian persen pendapatan berdasarkan Harga paket wisata.

No Paket Wisata Asal Manfaat Finansial

LPT Guide Donasi Jalur

1 Elephant Washing Lokal 13,4 % 25,0 % 6,00 %

Mancanegara 13,2 % 20,0 % 2,40 %

2 Elephant Grazing Lokal 28,6 % 16,5 % 1,00 %

Mancanegara 16,4 % 13,3 % 0,80 % 3 Elephant Tracking (Low) Lokal 30,8 % 12,2 % 0,90 % Mancanegara 25,2 % 10,0 % 0,75 % 4 Elephant Tracking (High) Lokal 29,5 % 13,0 % 7,10 % Mancanegara 24,9 % 11,0 % 6,00 %

Pembagian persen pendapatan terbesar adalah kepada Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT). Ini disebabkan karena lebih besar pendapatan yang akan dibagi kepada anggota di Lembaga yang hamper seluruh masyarakat desa Namo Sialang dan Sei Serdang dengan jumlah pengurus lembaga 23 orang dan anggota lembaga lebih kurang 150 orang.

Perhitungan pendapatan finansial masyarakat dari gajah sumatra ini akan memperikarakan kesejahteraan masyarakat sekitar dengan adanya pemanfaataan gajah sumatra sebagai paket wisata di Ekowisata Tangkahan terutama kepada masyarakat yang mendapatkan pembagiannya, disajikan dalam tabel 17 berikut.

Tabel 17. Pendapatan masyarakat dari paket wisata Gajah Tangkahan

No Paket Wisata Asal Manfaat Finansial

Jumlah (Rp) LPT (Rp) Guide (Rp) Jalur (Rp)

1 Elephant Washing

Lokal 18.760.000 35.000.000 8.400.000 62.160.000 Mancanegara 115.599.000 175.150.000 21.018.000 311.767.000 2 Elephant

Grazing

Lokal 692.120 399.300 24.200 1.115.620

Mancanegara 35.055.000 28.428.750 1.710.000 65.193.750 3 Elephant

Tracking (Low)

Lokal 5.850.460 2.317.390 170.955 8.338.805

Mancanegara 28.828.800 11.440.000 858.000 41.126.800 4 Elephant

Tracking (High)

Lokal 6.294.193 2.773.712 1.514.873 10.582.780 Mancanegara 117.030.000 51.700.000 28.200.000 196.930.000 Total 328.109.573 307.209.152 61.896.028 697.214.755

Berdasarkan tabel 16 di atas menunjukkan pendapatan yang sangat besar kepada masyarakat sekitar dari paket wisata Gajah yang dimanfaatkan yaitu sebesar Rp. 697.214.755,- atu enam ratus Sembilan puluh tujuh juta dua ratus empat belas juta tujuh ratus lima puluh lima rupiah. Dengan manfaat finansial kepada Lembaga Pariwisata Tangkahan sebesar Rp. 328.109.573,- atau tiga ratus

40

dua puluh delapan juta seratus sembilan ribu lima ratus tujuh puluj tiga rupiah.

Manfaat finansial kepada Guide atau ranger di tangkahan yang jumlahnya sekitar Sembilan puluh Sembilan orang adalah Rp. 307.209.152,- atau tiga ratus tujuh juta dua ratus Sembilan ribu serratus lima puluh dua rupiah. Serta manfaat kepada masyarakat yang lahannya dilintasi Gajah sebagai jalur donasi adalah Rp. 61.896.028,- atau enam puluh satu juta delapan ratus Sembilan puluh enam dua puluh delapan rupiah.

Pendapatan masyarakat dari pemanfaatan gajah sumatra sebagai paket wisata di Tangkahan juga mendapatkan banyak manfaat finansial yang dikembangkan masyarakat dengan bentuk Homestay, Penginapan, rumah makan, Restoran, Kedai hingga Oleh-oleh tangkahan. Pengembangan ini membuktikan adanya keterjaminan jumlah pengunjung baik domestic dan mancanegara yang dating untuk menikmati paket wisata ini. Dengan terus menambahnya pengembangan tersebut membuktikan juga kesejahteraan masyarakat dengan adanya pemanfaatan gajah sumatra sebagai paket wisata di tangkahan sebagai daya Tarik utama di wilayah ini.

Selain dari meningkatnya taraf ekonomi tersebut juga terjadi perubahan pola pikir dan sikap masyarakat dalam bertanggung jawab penuh didalam pengamanan dan kelestarian Taman Nasional Gunung Leuser yang berbatasan dengan wilayah desa tersebut. Betapa pentingnya alam tersebut bagi kehipan masyarakat dan betapa susahnya alam tersebut jika dirusak kembali oleh bagian masyarakat yang jika diulangi lagi seperti sebelum 2001 dan tidak dibentuknya Lembaga Pariwisata Tangkahan ini. Sesuai yang dikatakan Wardani (2011) Ekowisata merupakan salah satu alternatif program yang dapat diterapkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat sebagai upaya yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan ekosistem.

Peningkatan finansial dan perubahan pola pikir masyarakat tersebut menunjukkan pemanfaatan gajah sumatra sebagai paket wisata ini menjadikan hal yang sangat patut untuk dikembangkan dan menjadi contoh dalam pengambangan ekowisata lainnya di Inonesia terutama memanfaatkan potensi utama sebagai daya Tarik utama ekowisata ini. Terutama Fauna agar menjadi daya Tarik luar biasa sebagai pelestarian dalam konservasi juga membiasakan masyarakat untuk tidak

41

terjadi konflik dengan manusia, juga mendatangkan peningkatan Finansial dan taraf hidup masyarakat.

Pengembangan Ekowisata Berkelanjutan

Secara konsepsual menurut Priono (2012) dan menyamakan di keadaan di lapangan ekowisata Tangkahan merupakan suatu konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sehingga memberi manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat. Secara konseptual ekowisata Tangkahan dalam pemanfaatan gajah sumatra sebagai paket wisata sudah menekankan pada prinsip dasar yaitu prinsip konservasi, prinsip partisipasi masyarakat, prinsip Ekonomi, prinsip edukasi dan prinsip wisata.

Menurut Yuniawan et al (2014) dari segi ekologi, konservasi merupakan pemanfaatan sumber daya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang.

Dalam konteks yang lebih luas, konservasi tidak hanya diartikan secara sempit sebagai menjaga atau memelihara lingkungan alam (pengertian konservasi fisik), tetapi juga bagaimana nilai-nilai dan hasil budaya dirawat, dipelihara, dijunjung tinggi, dan dikembangkan demi kesempurnaan hidup manusia. Prinsip konservasi di Kawasan Ekowisata Tangkahan pada pemanfaatan gajah sumatra ditunjukkan pada perubahan pola pikir masyarakat untuk tidak melakukan illegal logging atau pengambilan kayu kembali seperti dahulu dengan memikirkan keberlangsungan alam ke depannya demi kesempurnaan hidup manusia. Yang pemanfaatan sumber daya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang pada sector ekowisatanya.

Menuju pada prinsip keberlanjutan tersebut terdapat prinsip partisipasi masyarakat yang beralih kepada penggiat wisata alam ditunjukkan pada besarnya penyerapan tenaga kerja yang besar dari keikutsertaan masyarakat dalam pemanfaatan gajah sumatra sebagai paket wisata ini. Dari pengurus Lembaga, Guide atau pemandu, masyarakat yang membuka usaha baik souvenir, penginapan hingga makanan juga membuka peluang usaha dan menjadi pekerjaan bagi masyarakat. Seperti yang diungkapkan oleh Herman dan Bambang (2017) Kesejahteraan masyarakat diketahui dengan adanya peluang kerja serta peningkatan pendapatan melalui pengembagan potensi ekowisata.

42

Dan prinsip keberlanjutan tersebut harus terdapat prinsip edukasi yang ditujukan kepada masyarakat dalam obsesi odernisasi. Menurut Rosana (2012) Odernisasi merupakan bagian dari perubahan sosial yang direncanakan.

Perubahan yang terjadi sebagai akibat dari modernisasi tergantung dari kebijakan penguasa, bidang mana yang akan dirubah melalui modernisasi tersebut.

Masyarakat harus siap terhadap perubahan yang terjadi sebagai akibat dari modernisasi, karena dikehendaki atau tidak dikehendaki setiap masyarakat pasti akan mengalami perubahan, terutama sebagai dampak dari modernisasi yang berkembang tanpa batas. Secara tidak langsung perubahan sosial di Kawasan ekowisata Tangkahan juga terdapat obsesi atau keinginan disertai usaha keras untuk mencapai keinginannya memikirkan keberlangsungan alam ke depannya demi kesempurnaan hidup manusia.

43

Dokumen terkait