• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL PEMANFAATAN GAJAH SUMATRA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL PEMANFAATAN GAJAH SUMATRA"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

i

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL PEMANFAATAN GAJAH SUMATRA

(Elephas maximus sumatranus) SEBAGAI PAKET WISATA DI KAWASAN EKOWISATA TANGKAHAN

TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER

SKRIPSI

ULIL AMRI DAULAY 161201137

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(2)

ii

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL PEMANFAATAN GAJAH SUMATRA (Elephas maximus sumatranus) SEBAGAI PAKET WISATA DI KAWASAN EKOWISATA TANGKAHAN

TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER

SKRIPSI

Oleh :

ULIL AMRI DAULAY 161201137/KEHUTANAN

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Kehutanan

Universitas Sumatera Utara

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(3)

PENGESAHAN SKRIPSI

Judul : Analisis Kelayakan Finansial Pemanfaatan Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) sebagai paket wisata di Kawasan Ekowisata Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser.

Nama : Ulil Amri Daulay

NIM : 161201137

Departemen : Manajemen Hutan Fakultas : Kehutanan

Disetujui, Pembimbing

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

Ketua

Mengetahui,

Dr. Bejo Slamet, S.Hut., M.Si.

Ketua Departemen Manajemen Hutan

Tanggal Lulus : 18 Mei 2020

(4)

ii

PERNYATAAN ORISINALITAS

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Ulil Amri Daulay

NIM : 161201137

Judul Skripsi : Analisis Kelayakan Finansial Pemanfaatan Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) sebagai paket Wisata di Kawasan Ekowisata Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser.

menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya sendiri. Pengutipan- pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan skripsi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Medan, 27 Mei 2020

Ulil Amri Daulay NIM 161201137

(5)

iii

ABSTRAK

ULIL AMRI DAULAY : Analisis kelayakan finansial pemanfaatan Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) sebagai paket wisata Di Kawasan Ekowisata Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser, dibimbing oleh AGUS PURWOKO.

Gajah Sumatra memiliki manfaat ekonomi yaitu dapat dijadikan objek untuk wisata. Manajemen wisata yang paling tepat adalah membuat paket wisata yang menarik, aman dan lestari. Peningkatan jumlah pengunjung di kawasan objek Wisata Alam memberikan dampak signifikan. Studi kelayakan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan, baik menolak, menerima, mempertahankan, menghentikan usaha. Oleh karena itu, diperlukan analisis kelayakan finansial untuk melihat kelayakan dalam pemanfaatan Gajah Sumatra sebagai paket wisata. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kelayakan finansial dan manfaat finansial kepada Masyarakat dari Gajah Sumatra sebagai paket wisata di Kawasan Ekowisata Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser. Metode penelitian berupa analisis deskriptif dan analisis finansial dengan menggunakan parameter NPV, BCR dan IRR. Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan (November 2019 sampai dengan Februari 2020). Hasil penelitian pada tingkat suku bunga 6,56% diperoleh nilai NPV sebesar Rp. 181.021.329,- BCR sebesar Rp. 3,806 dan IRR sebesar 117,255%, disimpulkan bahwa secara finansial layak untuk dilanjutkan dan dikembangkan. Hasil perhitungan manfaat finansial pemanfaatan Gajah Sumatra sebagai Paket Wisata di Tangkahan oleh masyarakat yang mendapatkan hasil dari ekowisata ini adalah sebesar Rp. 697.214.755,-

Kata kunci : Ekowisata, Gajah Sumatra, Kelayakan finansial, Paket Wisata

(6)

iv

ABSTRACT

ULIL AMRI DAULAY : Financial Feasibility Analysis of Sumatran Elephant (Elephas Maximus Sumatranus) use as a Tour Packages In

Tangkahan Ecotourism Area Gunung Leuser National Park, supervised by AGUS PURWOKO.

Sumatran Elephant has economic benefits that can be used as an object for tourism. The most appropriate tourism management is making the tour package attractive, safe and sustainable. The increasing number of visitors in the natural attractions area has asignificant impact. Feasibility studies can be used as a matter of consideration in taking a decision, either rejecting, accepting, retaining, stopping the effort. Therefore, financial feasibility analysis is required to see the feasibility of using Sumatran elephants as a tourism package. This research was conducted to determine the level of financial feasibilityand financial benefits to the people of sumatran elephant as a tour package in Tangkahan Ecotourism Area Gunung Leuser National Park. Research methods in the form of descriptive analysis and financial analysis using NPV, BCR and IRR parameters.

The study was conducted for 4 months (November 2019 to February 2020). The results of the research on the interest rate of 6.56% obtained NPV value of Rp.

181,021,329,- BCR of Rp. 3,806 and IRR of 117.255%, it was concluded that it was financially worthy to continue and developed. The calculation of the financial benefits of sumatran elephant use as a tour package in Tangkahan by people that get the result of this Ecotourism is Rp.697,214,755,-

Keywords: Ecotourism, Sumatran elephant, financial feasibility, tour packages

(7)

v

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Rantau Prapat pada tanggal 25 Juli 1998 dari Ayah Parmonangan Daulay dan Ibu Dra. Dalipah. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dan adik bernama Rizky Adrian Daulay.

Adapun pendidikan formal yang pernah ditempuh, pada tahun 2004 penulis memasuki pendidikan tingkat dasar di SD Negeri 117876 Cikampak dan lulus pada tahun 2010.

Pada tahun 2010 penulis memasuki pendidikan tingkat lanjut di SMP Negeri 6 Torgamba dan lulus pada tahun 2013.

Tahun 2013 penulis memasuki pendidikan tingkat atas di SMA Negeri 2 Torgamba dan lulus pada tahun 2016 dan pada tahun yang sama masuk ke Fakultas Kehutanan USU melalui jalur Ujian Masuk Bersama Perguruan Tinggi (UMB PT).

Penulis mengikuti kegiatan Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) pada tahun 2018 di Kawasan Hutan Mangrove Desa Lubuk Kertang, Kec.

Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Kegiatan tersebut dilaksanakan selama 10 hari pada pada Tanggal 10 sampai dengan 19 Juli 2018.

Kemudian pada tahun 2019, penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuwangi Utara, Banyuwangi, Jawa Timur Pada Tanggal 15 Juli Sampai Dengan 14 Agustus 2019. Selama proses perkuliahan, penulis pernah menjadi Asisten Praktikum pada Praktikum Silvika tahun 2018, Praktikum Ekologi Hutan tahun 2018 dan Praktikum Silvika tahun 2019.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif sebagai anggota Pramuka Universitas Sumatera Utara dan menjadi Ketua Dewan Ambalan Pramuka USU pada tahun 2019, Pengurus UKM JIMMKI (Jaringan Intelektual Mahasiswa Muslim Kehutanan Indonesia) tahun 2017-2019, anggota UKM Rain Forest tahun 2017- 2019, Anggota BKM (Badan Kenajiran Mushalla) Baytul Asyjaar Kehutanan USU tahun 2016-2019 dan anggota Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Fakultas Kehutanan tahun 2018.

Penulis beberapa kali mengikuti perlombaan tingkat nasional maupun regional dengan hasil menjadi juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) pada Jumpa Karya Praja Nasional di Universitas Negeri padang tanggal 22 sampai dengan 26 Oktober 2019. Menjuari tiga piala pada Gebyar Pramuka Penegak Pandega Putra Putri Kota Medan tanggal 19 sampai dengan 22 September 2019. Penulis juga beberapa kali menjadi panitia di kegiatan Universitas seperti panitia pelaksana wisuda, peringatan hari besar dan pengukuhan guru besar serta beberapa kegiatan acara di Fakultas Kehutanan.

(8)

vi

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala berkat dan anugerah-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian yang

berjudul “Analisis kelayakan finansial pemanfaatan Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) sebagai Paket Wisata di Kawasan Ekowisata

Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser”.

Pada kesempatan ini penulis berterima kasih kepada kedua orang tua penulis yang telah membesarkan, membimbing, mendidik, dan mendukung penulis dalam hal moril dan materil yang tidak dapat dihitung dalam bentuk apapun. Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. selaku komisi pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis serta memberikan berbagai masukan berharga kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Lembaga Pariwisata Tangkahan, Concervation Respon Unit (CRU), Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation (VESSWIC), masyarakat Tangkahan dan Tim penelitian di Lapangan yang bersedia memberikan dukungan materi dan moral untuk pelaksanaan dan penyusunan hasil penelitian ini serta kepada Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) yang telah memberi ijin untuk melakukan penelitian di resort tersebut.

Penulis juga tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada jajaran dekanat fakultas kehutanan, ketua departemen manajemen hutan, seluruh staf pengajar yang telah memberikan ilmunya kepada penulis sejak memulai Pendidikan di Fakultas Kehutanan, seluruh staf pegawai fakultas kehutanan dan teman-teman serta sahabat di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan semangat, bantuan atas penyelesaian skripsi ini hingga dapat selesai tepat waktu.

Penulis berharap penelitian ini dapat bermanfaat bagi para pembaca khususnya bagi penggiat lingkungan terutama bidang ekowisata, mahasiswa Kehutanan Universitas Sumatera Utara dan pengambil kebijakan keputusan dalam pengelolaan hutan lestari. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, 27 Mei 2020

Ulil Amri Daulay

(9)

vii

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN ... i

PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii

ABSTRAK ... iii

ABSTRACT... iv

RIWAYAT HIDUP ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 2

Kegunaan Penelitian ... 3

TINJAUAN PUSTAKA Ekowisata ... 4

Kondisi Umum Lokasi ... 5

Sejarah Singkat Tangkahan ... 11

Letak Geografis ... 11

Alam dan Iklim ... 11

Kependudukan ... 11

Sosial ... 11

Gambaran Umum Lokasi Tangkahan ... 11

Deskripsi Gajah Sumatra... 10

Paket Wisata ... 12

Analisis Finansial... 14

METODE PENELITIAN Tempat dan Waku Penelitian ... 17

Alat dan Bahan Penelitian ... 17

Prosedur Penelitian ... 17

Pengambilan Sampel ... 17

Pengumpulan Data ... 17

Analisis Data ... 17

Analasis Aspek Finansial... 18

Analisis Kelayakan Finansial... 18

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengelolaan dan Pemanfaatan Gajah ... 21

Analisis Penerimaan... 23

Biaya Paket Wsata ... 23

Elephant Washing ... 24

(10)

viii

Elephant Grazing ... 24

Elephant Tracking ... 25

Pemasukan dari paket Wisata Gajah ... 26

Elephant Washing ... 26

Elephant Grazing ... 27

Elephant Tracking ... 28

Pemasukan Total tahun 2019 ... 29

Analisis Biaya ... 30

Pakan Gajah per Tahun ... 31

Kesehatan Gajah per Tahun ... 32

Pelatihan Gajah per Tahun ... 33

Penunjang ... 33

Pengeluaran Total tahun 2019 ... 34

Analisis Finansial Pemanfaatan Gajah ... 34

Net Present Value (NPV) ... 35

Benefit Cost Ratio (BCR) ... 36

Internal Rate of Return (IRR) ... 36

Pemanfaatan Finansial Gajah untuk Masyarakat... 38

Pengembangan Ekowisata Berkelanjutan ... 41

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 43

Saran ... 43 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(11)

ix

DAFTAR TABEL

No Teks Halaman

1 Penjabaran Variabel Penelitian Analisis Aspek Finansial ... 18

2 Harga Paket Kegiatan Elephant Washing ... 24

3 Harga Paket Kegiatan Elephant Grazing. ... 25

4 Harga Paket Kegiatan Elephant Tracking Pada Low Sesion (Oktober 2018 – Mei 2019) ... 25

5 Harga Paket Kegiatan Elephant Tracking Pada High Sesion (Mulai Bulan Juni 2019) ... 25

6 Data Pemasukan Pengunjung Dari Kegiatan Wisata Elephant Washing Tahun 2019 ... 26

7 Data Pemasukan Pengunjung Dari Kegiatan Wisata Elephant Grazing Tahun 2019 ... 27

8 Data Pemasukan Pengunjung Dari Kegiatan Wisata Elephant Tracking Tahun 2019. ... 28

9 Total Pemasukan Dari Gajah Tahun 2019 ... 30

10 Biaya Pengeluaran Pakan Gajah Tahun 2019 ... 31

11 Biaya Pengeluaran Kesehatan Gajah Tahun 2019. ... 32

12 Biaya Pelatihan Gajah Tahun 2019... 33

13 Biaya Penunjang Keperluan Gajah Tahun 2019 ... 33

14 Biaya Pengeluaran Untuk Gajah Tahun 2019. ... 34

15 Perhitungan Suku Bunga Riil Rata-Rata (2004-2014) ... 35

16 Pembagian Persen Pendapatan Berdasarkan Harga Paket Wisata ... 39

17 Pendapatan Masyarakat Dari Paket Wisata Gajah Tangkahan. ... 39

(12)

x

DAFTAR GAMBAR

No Teks Halaman

1 Diagram Pengelolaan dan Pemanfaatan Gajah Sumatra di Tangkahan ... 22

2 Penunjung Menikmati Paket Wisata Elephant Washing ... 28

3 Penunjung Menikmati Paket Wisata Elephant Grazing... 28

4 Penunjung Menikmati Paket Wisata Elephant Tracking ... 29

(13)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

No Teks Halaman

1 Data Pengunjung Gajah Ekowsita Tangkahan ... 47

2 Data Pengunjung Anak Paket Wisata Elephant Tracking Gajah Ekowsita Tangkahan ... 77

3 Pendapatan Kegiatan Gajah Sumatra (Elephas Maximus Sumatranus) di Ekowisata Tangkahan ... 78

4 Pengeluran Biaya Kesehatan Gajah Sumatra (Elephas Maximus Sumatranus) di Ekowisata Tangkahan. ... 81

5 Pendapatan Kegiatan Gajah Sumatra (Elephas Maximus Sumatranus) di Ekowisata Tangkahan Kepada Masyarakat ... 83

6 Tingkat Inflasi Gabungan 2004-2019 ... 84

7 Suku Bunga Pasar 2004-2019... 85

8 Dokumentasi Penelitian... 87

(14)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan habitat asli sebagian besar fauna, mulai dari mamalia, burung, reptil, ampibia, ikan, dan invertebrata.

Fauna asli yang terdapat di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) adalah harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae), orangutan sumatra (Pongo abelii), badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis), gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus), tapir (Tapirus indicus), owa (Hylobathes lar), dan kedih (Presbytis thomasii). Hampir 65% atau 129 spesies mamalia dari 205 spesies mamalia besar dan kecil di Sumatra tercatat ada di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) (Dasrul et al., 2006).

Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) memiliki manfaat penting bagi kehidupan manusia secara ekologi, ekonomi, maupun sosial budaya. Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) tergolong Spesies terancam kritis (Critically Endangered) dalam Red List of Threatened Species International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) tahun 2011 dan Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Secara ekologi, gajah merupakan spesies kunci dimana gajah menjaga habitat yang dapat menjamin ketersediaan pakan bagi kelompok gajah itu sendiri.

Secara tidak langsung biodiversitas di dalam homerange akan terlindungi dari gangguan sekitar. Gajah merupakan penjaga keseimbangan ekosistem di hutan kawasan khususnya di Taman Nasional Gunug Leuser. Gajah juga berperan sebagai penyebar benih tumbuh tanaman atau pepohonan di dalam hutan, sedangkan manfaat secara ekonomi yaitu gajah dapat dijadikan objek untuk wisata.

Salah satu kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang terdapat Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) adalah Tangkahan yang berada di Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat di ujung dua desa yaitu Namo Sialang dan Sei Serdang. Kawasan Tangkahan ini memiliki keunikan sehingga menjadikannya kawasan Ekowisata dengan potensi yang cukup beragam, Kekayaan budaya serta potensi daya tarik dan keunikan

(15)

2

bentang alamnya sebagian telah berkembang dan menarik wisatawan lokal dan mancanegara untuk mengunjung Kawasan ekowisata ini.

Manajemen wisata alam yang paling tepat dalam pengelolaan gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) ini adalah membuat paket wisata yang menarik, aman dan lestari. Menurut Fiatiano (2013) Paket wisata adalah suatu produk wisata yang merupakan suatu komposisi perjalanan yang disusun dan dijual guna memberikan kemudahan dan kepraktisan dalam melakukan perjalanan wisata. Paket wisata sebagai sebuah sistem terdiri dari wisatawan, atraksi, fasilitas, dan waktu. Dari konsep tersebut, dapat diketahui bahwa paket wisata memiliki 4 komponen yang saling berkaitan, dan komponen tersebut harus dipahami dan sebelumnya mengumpulkan informasi terlebih dahulu oleh tour operator dalam pembuatan paket wisata, agar dapat membuat suatu paket wisata yang baik. Segmentasi merupakan proses mengkotak-kotakan pasar yang heterogen ke dalam kelompok-kelompok “Potential Customers” yang memiliki kesamaan kebutuhan atau karakter yang memiliki respon yang sama dalam membelanjakan uangnya (Nuriata, 2014).

Peningkatan jumlah pengunjung di sebuah kawasan objek wisata alam pastilah memberikan dampak signifikan yang secara jelas dapat dilihat dari

peningkatan pendapatan di suatu daerah objek wisata tertentu. Dan tentunya tidak kelewatan dengan tumbuh dan berkembangnya sektor-sektor lain yang

mendukung kegiatan pariwisata. Baik industri yang diciptakan pemerintah maupun masyarakat sekitar. Masyarakat sekitar objek wistaa alam

memiliki peluang besar dalam menghasilkan produk barang dan jasa sebagai pelengkap pariwisata. Dengan demikian hal ini menjadi salah satu sumber mata pencaharian masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi

masyarakat (Simanjuntak 2009).

Penilaian terhadap kelayakan usaha secara finansial, ditujukan untuk melihat manfaat yang dihasilkan, jumlah kunjungan wisatawan dan produksi yang dihasilkan. Pelaksanaan Ekowisata Tangkahan yang sudah berjalan sejak tahun 2004 ini perlu dilakukan Evaluasi dalam pelaksanaanya. Studi kelayakan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan usaha, baik menolak atau menerima rencana usaha, dan mempertahankan atau

(16)

3

menghentikan usaha yang sudah ada. Oleh karena itu, diperlukan analisi kelayakan finansial untuk melihat kelayakan dalam pemanfaatan Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) sebagai paket wisata di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser dalam menghadapi ketidakpastian risiko dunia bisnis salah satunya melalui analisis kelayakan finansial (Sofiyana et al., 2013).

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui tingkat kelayakan finansial pemanfaatan Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) sebagai paket wisata di Kawasan Ekowisata Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser.

2. Mengetahui manfaat finansial oleh Masyarakat dari Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) sebagai paket wisata di Kawasan Ekowisata Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser.

Kegunaan Penelitian

Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Dapat di gunakan oleh Pemerintah atau instansi Pemerintahan yang mengelola tempat Ekowisata Tangkahan sebagai bahan acuan untuk menentukan kebijakan pengelolaan tempat wisata.

2. Dapat digunakan untuk menambah pengetahuan dan penelitian yang berhubungan dengan pembangunan berwawasan lingkungan.

3. Dapat di gunakan untuk pihak-pihak yang membutuhkan untuk penelitian lanjutan di dalam bidang penelitian serupa sebagai bahan referensi.

(17)

4

TINJAUAN PUSTAKA

Ekowisata

Salah satu kegiatan wisata yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini, bahkan telah menjadi isu global yaitu dengan berkembangnya ekowisata (ecotourism) sebagai kegiatan wisata alam yang berdampak ringan terhadap lingkungan. Berdasarkan dua kata eco dan tourism, yang ketika diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata eko dan turisme atau eko dan wisata . Makna dasar dari 2 kata tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut , eko yang dalam bahasa Greek (Yunani) berarti rumah , dan tourism yang berarti wisata atau perjalanan.

Pengertian selanjutnya oleh beberapa ahli kata Eco dapat diartikan sebagai Ecology atau Economy sehingga dari kedua kata tersebut akan memunculkan makna Wisata ekologis (Ecological Tourism ) atau Wisata Ekonomi (Economic Tourism) dan hal ini masih terus diperdebatkan oleh para ahli mengenai makna dari kata dasar tersebut (Dirawan, 2003).

Ekowisata lebih populer dan banyak dipergunakan dibanding dengan terjemahan yang seharusnya dari istilah ecotourism, yaitu ekoturisme. Ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat. Semula ekowisata dilakukan oleh wisatawan pecinta alam yang menginginkan di daerah tujuan wisata tetap utuh dan lestari, di samping budaya dan kesejahteraan masyarakatnya tetap terjaga. Pengertian tentang ekowisata mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Namun, pada hakekatnva, pengertian ekowisata adalah suatu bentuk wisata yang bertanggung jawab terhadap kelestarian area yang masih alami (natural area), memberi manfaat secara ekonomi dan mempertahankan keutuhan budaya bagi masyarakat setempat(Mulyadi dan Fitriani, 2012).

Secara konsepsual, ekowisata merupakan suatu konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sehingga memberi manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat. Secara konseptual ekowisata menekankan pada prinsip

(18)

5

dasar sebagai berikut yang terintergrasi yaitu prinsip konservasi, prinsip partisipasi masyarakat, prinsip Ekonomi, prinsip edukasi dan prinsip wisata (Priono, 2012).

Ekowisata berbasis masyarakat merupakan usaha ekowisata yang menitik beratkan peran aktif masyarakat. Hal tersebut didasarkan kepada kenyataan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan tentang alam serta budaya yang menjadi potensi dan nilai jual sebagai daya tarik wisata, sehingga pelibatan masyarakat menjadi mutlak. Pola ekowisata berbasis masyarakat mengakui hak masyarakat lokal dalam mengelola kegiatan wisata di kawasan yang mereka miliki secara adat ataupun sebagai pengelola. Dengan adanya pola ekowisata berbasis masyarakat bukan berarti masyarakat akan menjalankan usaha ekowisata sendiri (Hijriati and Mardiana, 2014).

Kondisi Umum Lokasi

Tangkahan merupakan kawasan yang ditetapkan sebagai zona penyangga Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan kawasan wisata yang memiliki hamparan hutan hujan tropis dataran rendah yang sangat luas dan kaya akan keanekaragaman hayati baik kupu-kupu, burung hingga mamalia seperti orang utan sumatra serta Gajah Sumatra. Selain itu, kawasan penyangga Tangkahan juga telah dikembangkan masyarakat sebagai kawasan wisata alam dengan menjadikan kupu-kupu sebagai salah satu objek daya tarik wisata disamping potensi keindahan alam dan keanekaragaman jenis satwa lainnya, baik burung maupun mamalia (Irni et al., 2016).

Sejarah Singkat Tangkahan

Dalam Ritonga (2017) Kawasan Ekowisata Tangkahan pada awal abad ke 20 tahun 1900 merupakan kawasan hutan yang terdiri dari hutan lindung natur reservaat dan hutan produksi, dimana model ladang berpindah-pindah maupun untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, kayu bakar, berburu dan lainnya merupakan bahagian dari pemenuhan kebutuhan sehari-hari dalam bingkai kearifan tradisional. Walaupun begitu, beberapa pengusaha dari luar memulai pengelolaan kayu pada era 1930 melibatkan penduduk lokal sebagai tenaga kerja generasi pertama, dan proses pengelolaan kayu dengan menggunakan alat

(19)

6

tradisional dan diangkut ketepi sungai oleh beberapa ekor kerbau, dan dialirkan melalui sungai ke Tanjung Pura. Era ini merupakan langkah permulaan penduduk tersebut mencari sumber penghasilan baru selain bercocok tanam tanaman berumur panjang dengan pola persil.

Pada pertengahan tahun 1960 dimulai gelombang pengelolaan kayu generasi kedua yang lebih besar dengan melibatkan beberapa pemodal luar.

Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, pasokan kayu tetap didistribusikan ke kota Tanjung Pura yang merupakan hilir sungai Batang Serangan. Sisa eksploitasi kayu tersebut menjadi areal perladangan masyarakat melalui Surat Izin Menggarap (SIM), dan komoditi nilam adalah salah satu komoditi unggulannya, disamping itu getah mayang dan jelutung sudah mulai dipungut oleh penduduk dengan agen dari luar serta beberapa tanaman lainnya.

Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, pembukaan areal hutan untuk perkebunan semakin luas dan ditetapkannya kawasan hutan tersebut menjadi Taman Nasional pada awal 1980 tidak mampu menghentikan aktivitas pengambilan kayu yang sudah tidak terbatas antar Kawasan Hutan Produksi atau Taman Nasional. Serta selama puluhan tahun aktivitas pengambilan kayu sudah merupakan sistem nilai yang menjadi kebiasaan penduduk.

Akhir 1980, beberapa tokoh l bebas dari penjara ilegal logging, sebahagian meneruskan aktivitasnya dan sebahagian lagi menginisiatif membuka objek wisata yang selanjutnya diikuti oleh beberapa tokoh masyarakat dan pemuda di dusun setempat; Kuala Gemoh dan Kuala Buluh Desa Namo Sialang.

Kebangkitan pariwisata kembali bermula dan dipelopori oleh pemuda dan pemudi di Desa Namo Sialang dan Desa Sungai Serdang yang menginginkan perubahan sosial dan ekonomi, obsesi modernisasi. Dengan konsep pengembangan pariwisata maka dibentuklah Tangkahan Simalem Ranger pada 22 April 2001, yaitu sebuah perkumpulan yang mempelopori pengembangan bukan hanya sungai tetapi hutan juga dapat menjadi tempat pariwisata seperti di Bukit Lawang, serta upaya pemberhentian berbagai aktivitas-aktivitas pembalakan kayu dan perambahan yang dilakukan oleh orang tua mereka sendiri untuk diberhentikan. Gerakan pemuda-pemudi tersebut berubah menjadi sebuah gerakan sosial di Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang, dimana mereka aktif dalam

(20)

7

aktivitas sosial desa, musyawarah maupun berbagai kegiatan adat, yang akhirnya menarik simpati kalangan orang tua, melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mendorong terciptanya sebuah gagasan baru dan gerakan ini mempengaruhi banyak pola pikir baru masyarakat tentang nilai-nilai keorganisasian.

Akhirnya pada tanggal 19 Mei tahun 2001, atas inisiatif Tangkahan Simalem Ranger berkumpulah pemimpin-pemimpin kelompok penebang, perambah, tokoh-tokoh masyarakat, dan perangkat Desa Namo Salang serta Desa Sei Serdang yang kemarin terlibat konflik secara langsung maupun tidak langsung, bersepakat untuk mengembangkan pariwisata dengan menetapkan beberapa tokoh sebagai dewan pengurus. Musyawarah ini kemudian disebut sebagai Kongres I Lembaga Pariwisata Tangkahan melalui proses pemungutan suara untuk memilih dewan pengurus, ADART dan menyusun dasar-dasar pengembangan pariwisata. Hari itu disebut sebagai Kongres I dan merupakan tonggak penting dalam pelestarian Taman Nasional Gunung Leuser, hal ini merupakan prestasi pemuda-pemudi Lokal yang tergabung dalam Tangkahan Simalem Ranger yang mana pada saat itu hanya berpikir sederhana tentang pariwisata bukan pada aspek luas lainnya.

Seiring waktu berjalan, karena banyaknya objek wisata yang cukup menarik semua terdapat di dalam Taman Nasional, maka Lembaga Pariwisata Tangkahan menyepakati membuat sebuah kerjasama MOU dengan Balai Taman Nasional Gunung Leuser yang ditandatangani pada 22 April 2002 oleh Kepala Balai TNGL saat itu Ir. Awriya Ibrahim MSc selaku pemangku kawasan untuk memberikan hak kelola Taman Nasional kepada masyarakat Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang melalui Lembaga Pariwisata Tangkahan Njuhang Pinem sebagai ketua umum Lembaga Pariwisata Tangkahan mengatakan bahwa penandatanganan tersebut merupakan hal yang cukup berani dilakukan pada saat itu, karena merupakan dipercayakan atas property right aset kolektif seluas kurang lebih 17.500 ha zona inti TNGL batas administratif desa untuk pengembangan ekowisata. Sebagai kewajibannya masyarakat Desa Namo Sialang dan masyarakat Desa Sei Serdang bertanggung jawab penuh didalam pengamanan dan kelestarian Taman Nasional Gunung Leuser yang berbatasan dengan wilayah desa tersebut.

Seiring waktu berjalan kekhawatiran banyak pihak tentang

(21)

8

penandatanganan tersebut tidak terbukti, malah dapat menjadi moment penting di Taman Nasional Gunung Leuser selanjutnya untuk menginisiasi kolaborasi managemen sebelum diterbitkannya P.19 Tahun 2004 tentang kolaborasi managemen kawasan KPA dan KSA. Kini acuan kolaborasi tersebut serta berbagai sistem dan strategi pengembangan kawasan telah banyak diadopsi di tingkat nasional dan internasional (Ritonga, 2017).

Letak Geografis

Dalam Sufika et al (2016) Berdasarkan letak geografis, kawasan ekowisata tangkahan terletak pada 341’1”LU-98 4’28,2”BT. Tangkahan merupakan sebuah kawasan di perbatasan Taman Nasional Gunung Leuser TNGL di sisi Sumatera utara, berada pada ketinggian 130-200 meter di atas permukaan laut. Secara administratif tangkahan termasuk ke dalam Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, tepatnya di dalam Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang. Jenis tanah di kawasan ekowisata Tangkahan ini terdiri atas podsolik dan litosol dengan topografi berupa kawsasan landai, berbukit dengan kemiringan yang bervariasi.

Berdasarkan data Lembaga Pariwisata Tangkahan, kawasan yang dikembangkan sebagai salah satu kawasan ekowisata ini termasuk dalam Taman Nasional Gunung Leuser. Secara geografis Tangkahan mempunyai batas-batas sebagai berikut: Sebelah Utara berbatasan dengan perkebunan kelapa sawit milik PTPN II Kuala Sawit. Sebelah Selatan berbatasan dengan perkebunan kelapa sawit milik PT.Ganda Prima. Sebelah Timur berbatasan dengan Dusun Kuala Buluh. Sebelah Barat berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser TNGL.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Lembaga Pariwisata Tangkahan, kawasan pariwisata alternatif Tangkahan meliputi kawasan ekowisata ± 103 hektar, kawasan perkampungan seluas ± 18.526 hektar, dan kawasan hutan ± seluas 17.653 hektar, sehingga keseluruhan luas kawasan Tangkahan mencapai ± 36.653 hektar (Sufika et al., 2016).

Alam dan Iklim

Suhu udara di kawasan ekowisata Tangkahan ini adalah 21,1℃ - 27,5℃

dengan kelembaban yang berkisar antara 80-100. Musim hujan di kawasan ini berlangsung secara merata sepanjang tahun tanpa musim kering yang berarti

(22)

9

dengan curah hujan rata-rata 2000-3200 mm tahun. Karena musim hujan yang merata dan kawasan yang rata-rata masih tertutup hutan, air bukanlah masalah di daerah ini. Sebahagian besar kebutuhan air masyarakat di kawasan ini diperoleh dari unsur tanah dan sungai.

Kependudukan

Kecamatan Batang Serangan memiliki 6 wilayah Desa Sungai Serdang, Namo Sialang, Sungai Musam, Kuala Musam, Sungai Bamban dan Karya Jadi dan 1 wilayah kelurahan yaitu kelurahan Batang Serangan yang merupakan ibukota kecamatan Batang Serangan. Kecamatan Batang Serangan memiliki luas 99.332 hektar 993,32 Km2 dengan jumlah penduduk 13.776 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata 38 jiwa/km2. Tiga wilayah desa dalam wilayah administratif Kecamatan Batang Serangan tersebut memiliki berbatasan wilayah hutan Taman Nasional Gunung Leuser yaitu Desa Sungai Serdang, Desa Namo Sialang dan Desa Sungai Musam. Kecamatan Batang Serangan berbatasan di sébelah Utara dengan Kecamatan Sungai Lepan dan Sawit Seberang, di sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bahorok, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Padang Tualang dan di sebelah Barat berbatasan dengan kawasan hutan TNGL di wilayah Nangroe Aceh Darussalam (NAD).

Kawasan Ekowisata Tangkahan Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang meliputi 30 wilayah dusun yang terdiri dari dusun masyarakat kampung dan dusun kebun dari keberadaan afdeling perkebunan PTPN II Kebun kuala sawit dan wilayah afdeling perkebunan swasta PT. Prima dan PT. Puskopad.

Sosial

Kawasan Ekowisata Tangkahan merupakan kawasan yang mempunyai status sosial yang dianggap cukup baik jika dilihat dari pendapatan perkapitanya, namun jika dilihat dari perbandingan jumlah bangunan sekolah dengan jumlah penduduk, status sosial dianggap rendah karena jumlah bangunan sekolah yang ada tidak cukup menampung semua warga yang wajib sekolah dan yang sedang bersekolah.

Gambaran Umum Ekowisata Tangkahan

Tangkahan adalah sebuah kawasan di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Tangkahan diapit oleh Desa Namo

(23)

10

Sialang dan Desa Sei Serdang. Kombinasi dari vegetasi hutan hujan tropis dan topografi yang berbukit, menjadikan Tangkahan sebagai tempat yang ideal untuk berwisata. Sungai Buluh dan Batang Serangan yang membelah hutan ini merupakan tipe sungai khas hutan tropis, dilengkapi dengan beraneka ragam jenis tumbuhan aneka warna dan tebing bercorak di sepanjang sungai. Air sungai yang jernih dan bernuansa hijau menciptakan panorama dan atmosfer yang alami.

Akses menuju Tangkahan dapat ditempuh dengan perjalanan darat dari Kota Medan Sumatera Utara. Dilanjutkan melewati Kota Binjai dengan kendaraan umum melalui terminal bus Pinang Baris Medan. Jarak Medan–Tangkahan sekitar 110 kilometer. Dapat juga di tempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi dengan waktu tempuh sekitar 3,5 jam dari Kota Medan. Tangkahan adalah salah satu destinasi wisata yang potensial untuk dikembangan dikarenakan menawarkan sejumlah panorama alam yang indah dan sungai yang jernih dengan keadaan alam yang sejuk.

Deskripsi Gajah Sumatra

Berikut sistem taksonomi Gajah Sumatra.

Kingdom : Animalia Divisi : Chordata Kelas : Mamalia Ordo : Proboscidea Famili : Elephantidae Genus : Elephas Spesies : E. maximus Subspesies : E. m. Sumatranus

Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu kekayaan fauna Indonesia yang termasuk satwa langka berdasarkan UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Ekosistem Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta dalam Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Gajah Sumatra tergolong Spesies terancam kritis (Critically Endangered) dalam Red List of Threatened Species International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN)

(24)

11

tahun 2011. Satwa ini merupakan herbivora terbesar di Sumatra dengan makanan utamanya yaitu bagian tumbuhan berkeping tunggal yang lunak, meliputi rumput- rumput halus, bagian tumbuhan palem, dan batang pisang. Habitat Gajah Sumatra yaitu di hutan tropis dataran rendah dan rawa-rawa sampai ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut.

Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu anggota dari ordo proboscidea yang terancam kelestariannya. Gajah dapat dikelompokan ke dalam dua kelompok yaitu gajah Asia dan gajah Afrika. Gajah Sumatra merupakan satwa langka yang dilindungi undang-undang sejak zaman Belanda dengan Peraturan Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931 No 134 dan 266. Oleh karena itu menangkap gajah secara ilegal di habitat aslinya, memelihara tanpa izin dan memperjual-belikannya merupakan tindakan melawan hukum.

Namun gajah yang mengganggu lahan pertanian dan pemukiman penduduk dapat ditangkap oleh aparat yang berwenang. Gajah hasil tangkapan kemudian dibawa ke Pusat Latihan Gajah (PLG) yang merupakan tempat menjinakkan gajah hasil tangkapan. Wilayah penyebaran Gajah Sumatra meliputi Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung (Riba’i et al., 2013).

Dalam Rohman et al. (2019) Dalam memilih habitatnya, Gajah Sumatra memperhitungkan berbagai kondisi faktor habitat misalnya ketersediaan tempat mencari makan, penutupan tajuk sebagai tempat berlindung dan tersediannya sumber air. Selain itu satwa liar ini juga memperhitungkan waktu melakukan berbagai aktivitas harian. Perilaku harian dan pemilihan unit habitat diduga sangat dipengaruhi oleh kondisi habitat dan posisi unit habitat essensial dalam suatu ekosistem. Habitat gajah meliputi seluruh hutan di pulau Sumatra dari Lampung sampai Provinsi Aceh, mulai dari Hutan Basah Berlembah dan Hutan Payau di dekat pantai sampai Hutan Pegunungan pada ketinggian 2000 m. Kelangsungan hidup Gajah Sumatra makin terancam karena tingginya tekanan dan gangguan serta kurangnya pengetahuan tentang bagaimana cara hidup gajah di habitat aslinya yang dibutuhkan sebagai acuan pengelolaan populasi alami. Pada dasarnya gajah sangat selektif dalam memilih habitatnya, karena gajah merupakan salah

(25)

12

satu hewan yang memiliki kepekaan. Pengetahuan ekologis tentang bagaimana strategi gajah menggunakan habitat dan sumber daya masih sangat terbatas.

Dalam mencukupi kebutuhan makan dan menghindari terik matahari gajah selalu mempertimbangkan lokasi mencari makan yang optimal yaitu menghabiskan waktu di hutan primer (terlindung) pada siang hari dan keluar ke hutan bukaan (hutan skunder) pada saat panas matahari telah berkurang untuk mencukupi kebutuhan makan hariannya. Melihat karakteristik ekosistem yang masih alami, maka perlu ditinjau faktor habitat apa saja yang berpengaruh dalam pemilihan habitat oleh Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus). Namun akibat perambahan hutan kondisi lokasi habitat yang sering digunakan gajah di Ekosistem berubah serta termasuk daerah perambahan hutan yang sangat tinggi (Abdullah et al., 2012).

Gajah Sumatra memiliki manfaat penting bagi kehidupan manusia secara ekologi, ekonomi, maupun sosial budaya. Gajah Sumatra tergolong satwa terancam punah (Endangered) dalam Red List Data Book International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Secara ekologi, gajah merupakan spesies kunci dimana gajah menjaga habitat yang dapat menjamin ketersediaan pakan bagi kelompok gajah itu sendiri. Secara tidak langsung biodiversitas di dalam homerange akan terlindungi dari gangguan sekitar. Gajah merupakan penjaga keseimbangan ekosistem di hutan kawasan khususnya di Taman Nasional Way Kambas. Gajah juga berperan sebagai penyebar benih tumbuh tanaman atau pepohonan di dalam hutan, sedangkan manfaat secara ekonomi yaitu gajah dapat dijadikan objek untuk wisata (Salsabilla et al., 2013).

Paket Wisata

Dalam Suwena dan I Gusti (2017) Didalam bukunya mengemukakan bahwa Perjalanan wisata atau tur merupakan sebuah perjalanan yang memiliki ciri-ciri sebuah perjalanan, tetapi dia mempunyai ciri khas yang memperhatikan kegiatan wisata. Secara umum ciri dari sebuah tur ialah sebuah perjalanan keliling dan kembali lagi ke tempat asal; perjalanan dilaksanakan dalam keadaan santai, perjalanan bertujuan untuk memberikan kepuasan kepada peserta perjalanan, perjalanan dirangkai dari berbagai komponen perjalanan yang diperlukan dalam

(26)

13

pencapaian tujuan perjalanan, perjalanan dilengkapi dengan mengunjungi objek atau atraksi wisata, perjalanan tidak mempunyai tujuan untuk mencari nafkah bagi peserta perjalanan, uang belanja orang yang mengadakan perjalanan berasal dari uang yang diperoleh di tempat asal perjalana, peserta perjalanan tinggal untuk sementara waktu di tempat tujuan perjalanan, tidak untuk menetap dan perjalanan dilaksanakan dalam waktu yang ditentukan.

Paket wisata ini adalah suatu produk wisata yang merupakan suatu komposisi perjalanan yang disusun dan dijual guna memberikan kemudahan dan kepraktisan dalam melakukan perjalanan wisata. Paket wisata itu sendiri berdasarkan sifat pembuatannya dibedakan menjadi dua yaitu ready made tour dan tailor made tour. Ready made tour adalah suatu produk paket wisata di mana komponen-komponennya sudah ditetapkan, tidak dapat diubah-ubah dan dapat langsung dibeli oleh wisatawan, dengan kata lain produk sewaktu -waktu dapat diselenggarakan. Berbeda dengan tailor made tour yang sifat paket wisatanya dapat diubahubah komponen-komponennya sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Walaupun paket wisata berbeda sifat pembuatannya, akan tetapi tetap saja diperlukan suatu perencanaan yang matang agar fasilitas-fasilitas yang akan dipakai dalam berwisata dapat memuaskan wisatawan yang membeli paket tur tersebut. Perencanaan itu meliputi tindakan memilih dan menghubungkan fakta-fakta dan membuat serta menggunakan asumsi-asumsi mengenai masa yang akan datang dalam hal memvisualisasi serta merumuskan aktivitas-aktivitas yang diusulkan yang dianggap perlu untuk mencapai hasil-hasil yang diinginkan (Fiatiano, 2013).

Profil wisatawan dapat diartikan sebagai karakteristik spesifik dari berbagai jenis wisatawan yang beragam yang berkaitan erat dengan kebiasaan permintaan dan kebutuhannya dalam melakukan perjalanan. Penting untuk mengerti profil wisatawan agar dapat memberikan kebutuhan perjalanan dan efektivitas program promosi. Paket wisata (package tour) sebagai suatu perjalanan wisata dengan satu atau beberapa motif kunjungan yang disusun dari beberapa, fasilitas perjalanan tertentu dalam suatu acara perjalanan yang tetap, serta dijual sebagai harga tunggal yang menyangkut seluruh komponen dari perjalanan wisata.

(27)

14

Paket wisata dapat dianggap sebagai suatu sistem, yaitu sebuah tatanan yang terdiri dari unsur-unsur penyusun yang saling berketerkaitan (Dewi, 2016).

Paket wisata sebagai sebuah sistem terdiri dari wisatawan, atraksi, fasilitas, dan waktu. Dari konsep tersebut, dapat diketahui bahwa paket wisata memiliki 4 komponen yang saling berkaitan, dan komponen tersebut harus dipahami dan sebelumnya mengumpulkan informasi terlebih dahulu oleh tour operator dalam pembuatan paket wisata, agar dapat membuat suatu paket wisata yang baik.

Segmentasi merupakan proses mengkotak-kotakan pasar yang heterogen ke dalam kelompok-kelompok “Potential Customers” yang memiliki kesamaan kebutuhan atau karakter yang memiliki respon yang sama dalam membelanjakan uangnya (Nuriata, 2014).

Analisis Finansial

Dalam Analisa finansial suatu proyek beberapa perhitungan perlu diperhatikan sehingga akan terungkap jelas berapa besar kelayakan suatu proyek dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan/instansi yang melaksanakan proyek, apakah proyek milih pemerintah atau swasta (Nasution, 2019).

Analisis finansial adalah analisis kelayakan yang melihat dari sudut pandang seluruh pengelola yang berhubungan sebagai pemilik. Analisis finansial diperhatikan didalamnya adalah dari segi cash-flow yaitu perbandingan antara hasil penerimaan atau penjualan kotor (gross-sales) dengan jumlah biaya-biaya (total cost) yang dinyatakan dalam nilai sekarang untuk mengetahui kriteria kelayakan atau keuntungan suatu proyek. Hasil finansial sering juga disebut “private returns”. Beberapa hal lain yang harus diperhatikan dalam analisis finansial ialah waktu didapatkannya returns sebelum pihak-pihak yang berkepentingan dalam pembangunan proyek kehabisan modal. Aspek finansial mencakup pembiayaan proyek pembangunan yang akan atau yang sedang dilaksanakan dan relevansinya dengan manfaat yang akan diperoleh (Andayani, 2008).

Analisis finansial didasarkan pada keadaan yang sebenarnya dengan menggunakan data harga yang sebenarnya ditemukan dilapangan (real price).

Dengan mengetahui hasil analisis finansial, para pembuat keputusan dapat melihat apa yang terjadi pada proyek dalam keadaan apa adanya. Dengan mengetahui

(28)

15

hasil analisis finansial, para pembuat keputusan juga dapat segera melakukan penyesuaian (adjustment), bilamana proyek tersebut berjakan meyimpang dari rencana semula. Sebaliknya, bila proyek berjalan seperti tujuan semula dan tanpa halangan maka dapat dilihat seberapa besar manfaat proyek. Dalam analisis finansial, nilai suatu uang sebagai alat pembayaran adalah berbeda pada waktu yang berlainan, maka dalam penilaian suatu proyek sering dipakai cara-cara yang menggunakan prosedur diskonto mengingat bahwa satu rupiah yang dibayar atau diterima hari ini akan lebih tinggi nilainya daripada satu rupiah yang dibayar atau diterima di masa mendatang (Soekartawi, 1995).

Salah satu tujuan dilakukannya studi kelayakan adalah untuk mencari jalan keluar agar dapat meminimalkan hambatan dan resiko yang mungkin akan timbul di masa yang akan datang. Hal ini dilakukan karena di masa mendatang penuh dengan ketidakpastian. Semua ketidakpastian ini akan mengakibatkan semua yang sudah direncanakan menjadi tidak tercapai. Sehingga resiko kerugian tidak terelakkan. Layak di sini juga diartikan memberikan keuntungan tidak hanya bagi perusahaan yang menjalankannya akan tetapi juga bagi investor, kreditor, pemerintah dan masyarakat luas (Kasmir dan Jakfar, 2003).

Analisis finansial disusun dengan menghitung biaya yang terdiri dari biaya tetap (fixed cost), biaya tidak tetap (variable cost) dan biaya rutin (operational cost). Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh pengelola baik apakah pengelola melakukan proses produksi maupun tidak. Dengan kata lain biaya tetap tidak berubah menurut level output yang dihasilkan. Sebagai contoh, biaya tetap yang pada umumnya harus dianggarkan oleh pengelola adalah biaya untuk membangun gudang, membeli peralatan mesin pertanian dan sebagainya. Biaya variabel (variable cost, VC) adalah biaya produksi yang berubah sesuai dengan level output yang diproduksi oleh pengelola. Sebagai contoh, selama satu musim tanam, biaya variabel yang digunakan untuk memproduksi tanaman jagung adalah biaya yang dialokasikan untuk membeli input variabel seperti pupuk, benih, dan obat-obatan (Debertin dan Tatiek, 2013).

Menurut Suharjito et al (2003) analisis finansial ditelaah melalui perhitungan dan kriteria investasi yang meliputi berikut ini.

(29)

16

a. Net Present Value (NPV)

Net Present Value (NPV), yaitu nilai saat ini yang mencerminkan nilai keuntungan yang diperoleh selama jangka waktu pengusahaan dengan memperhitungkan nilai waktu dari uang atau time value of money. Suatu usaha termasuk usaha pemanfaatan Gajah Sumatra sebagai paket wisata akan dikatakan menguntungkan dan sebagai implikasinya akan diadopsi oleh masyarakat atau dapat berkembang, apabila memiliki nilai NPV yang positif.

b. Benefit Cost Ratio (BCR)

Benefit Cost Ratio (BCR) yaitu perbandingan antara pendapatan dan pengeluaran selama jangka waktu pengusahaan (dengan memperhitungkan nilai waktu dari uang atau time value of money).

c. Internal Rate of Returns (IRR)

Internal Rate of Returns (IRR) menunjukkan tingkat suku bunga maksimum yang dapat dibayar oleh suatu proyek atau usaha atau dengan kata lain merupakan kemampuan memperoleh pendapatan dari uang yang diinvestasikan.

Usaha pemanfaatan Gajah Sumatra sebagai paket wisata akan dikatakan layak apabila nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku di pasar pada saat tersebut. Analisis kelayakan finansial pengelolaan tingkat usahatani secara teori dapat diklasifikasikan menjadi beberapa dimensi waktu yaitu jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Klasifikasi tersebut antara lain dimaksudkan untuk mengetahui besarnya tingkat kelayakan finansial usahatani yang dilakukan dan kemungkinan pengembangannya apabila ada perubahan teknologi usaha yang akan dilakukan.

(30)

17

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kawasan Ekowisata Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara.

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2019 sampai dengan Februari 2020.

Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa kamera untuk dokumentasi dan visualisasi kegiatan, komputer untuk menyusun dan mengolah data, serta alat tulis. Bahan yang digunakan adalah berupa data dari sumber- sumber yang dibutuhkan untuk mengumpulkan data primer maupun data sekunder, hasil penelitian terdahulu dan sumber studi pustaka sebagai data penunjang penelitian.

Prosedur Penelitian

Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Purposive Sampling. Metode Purposive Sampling yang digunakan metode Judgment Sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah Manajer dari Lembaga Pawisata Tangkahan atau staff sebagai pengelola Ekowisata Tangkahan, Pihak Conservation Respon Unit (CRU) sebagai NGO pengelola Gajah, pihak Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation (VESSWIC) sebagai NGO untuk kesehatan Gajah dan Balai Besar Taman Nasional Gunung Lesuser.

Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan pencatatan dari sumber dokumen yang tersedia baik di tingkat individu maupun instansi. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder.

Analisis Data

Setelah pengumpulan data dilakukan, maka dilakukan analisis terhadap data-data tersebut. Analisis yang digunakan adalah sebagai berikut.

(31)

18

1. Analisis Aspek Finansial

Analisis Aspek Finansial dengan metode deskriptif digunakan untuk mengetahui dan menganalisis data yang terkumpul dari hasil wawancara, observasi dan studi pustaka. Data yang terkumpul dari hasil wawancara dinyatakan dalam bentuk tabel (tabulasi). Adapun penjabaran mengenai variabel penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Penjabaran variabel penelitian analisis aspek finansial

No Variabel Indikator Sub Indikator

1

Analisis Aspek Finansial

Penerimaan - Elephant Washing - Elephant Grazing - Elephant Tracking

2 Biaya - Pakan

- Perawatan dan Kesehatan - Pelatihan

- Penunjang

2. Analisis Kelayakan Finansial

Analisis kelayakan finansial dilakukan untuk mengetahui manfaat yang diperoleh, biaya yang dikeluarkan, dan tingkat suku bunga investasi yang memberikan manfaat. Hasil data yang diperoleh dari pengumpulan dan analisis data yaitu berupa, pengeluaran (biaya) dan pendapatan (penerimaan) dinyatakan dalam bentuk tabulasi. Nilai yang diperhitungkan saat ini dengan memperhitungkan nilai uang berdasarkan unsur waktu dilakukan dengan mengaplikasikan faktor diskonto (Discount rate) pada tingkat suku bunga riil yang berlaku. Menghitung suku bunga riil dilakukan dengan menggunakan rumus Heers dan Lefers berikut (Andayani, 2005).

i = m - f

Dimana:

i = Suku bunga riil (%)

f = Inflasi rata-rata per tahun (%) m = Suku bunga pasar (%)

Kemudian analisis kelayakan finansialnya dilakukan dengan menggunakan NPV, BCR dan IRR. Menghitung nilai NPV, BCR dan IRR dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Soeharto, 2001).

(32)

19

a. Net Present Value (NPV)

Net Present Value, nilai saat ini dari kegiatan atau usaha pemanfaatan Gajah Sumatra sebagai paket wisata, dihitung dengan rumus sebagai berikut.

NPV= ∑Bt-Ct (1+i)t

n

t=1

Dimana:

NPV = Nilai bersih saat ini

Bt = Benefit / pendapatan pada tahun t Ct = Cost / biaya pada tahun t

i = Tingkat suku bunga bank yang berlaku t = Periode waktu

Indikator:

• NPV = 0 maka nilai pengelolaan pemanfaatan Gajah Sumatra sebagai paket wisata sebesar tingkat suku bunga yang berlaku di bank

• NPV > 0 maka usaha pemanfaatan Gajah Sumatra sebagai paket wisata menguntungkan

• NPV < 0 maka usaha pemanfaatan Gajah Sumatra sebagai paket wisata rugi

b. Benefit Cost Ratio (BCR),

Benefit Cost Ratio yaitu perbandingan keuntungan terhadap biaya dari suatu kegiatan atau usaha pemanfaatan Gajah Sumatra sebagai paket wisata, dihitung dengan rumus sebagai berikut.

BCR=Bt Ct

Dimana:

BCR = Perbandingan antara pendapatan dan pengeluaran Bt = Benefit / pendapatan pada tahun t

Ct = Cost / biaya pada tahun t

(33)

20

Indikator:

• BCR > 1 maka usaha pemanfaatan Gajah Sumatra sebagai paket wisata tersebut menguntungkan

• BCR < 1 maka usaha pemanfaatan Gajah Sumatra sebagai paket wisata tersebut rugi

• BCR = 1 netral

c. Internal Rate of Return (IRR),

Internal Rate of Return merupakan parameter pada tingkat suku bunga berapa usaha pemanfaatan Gajah Sumatra sebagai paket wisata memberi keuntungan, dihitung dengan rumus sebagai berikut.

IRR=i1+(i2- i1) NPV1 NPV1- NPV2

Dimana:

IRR = Tingkat keuntungan

NPV1 = Nilai NPV yang positif pada tingkat bunga tertentu NPV2 = Nilai NPV yang negatif pada tingkat bunga tertentu I1 = Tingkat suku bunga pertama NPV positif

I2 = Tingkat suku bunga pertama NPV negatif Indikator:

• IRR ≥ i maka usaha pemanfaatan Gajah Sumatra sebagai paket wisata layak

• IRR < i maka usaha pemanfaatan Gajah Sumatra sebagai paket wisata tidak layak

(34)

21

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengelolaan dan Pemanfaatan Gajah

Kawasan Ekowisata Tangkahan yang termasuk wilayah hutan terdapat kekhawatiran dengan peningkatan jumlah penduduk, pembukaan areal hutan untuk perkebunan semakin luas dan ditetapkannya kawasan hutan tersebut menjadi Taman Nasional pada awal 1980 tidak mampu menghentikan aktivitas pengambilan kayu yang sudah tidak terbatas antar Kawasan Hutan Produksi atau Taman Nasional. Serta selama puluhan tahun aktivitas pengambilan kayu sudah merupakan sistem nilai yang menjadi kebiasaan penduduk.

Kebangkitan pariwisata kembali bermula dan dipelopori oleh pemuda dan pemudi di Desa Namo Sialang dan Desa Sungai Serdang yang menginginkan perubahan sosial dan ekonomi, obsesi modernisasi. Dengan konsep pengembangan pariwisata maka dibentuklah Tangkahan Simalem Ranger pada 22 April 2001, yaitu sebuah perkumpulan yang mempelopori pengembangan bukan hanya sungai tetapi hutan juga dapat menjadi tempat pariwisata seperti di Bukit Lawang, serta upaya pemberhentian berbagai aktivitas-aktivitas pembalakan kayu dan perambahan yang dilakukan oleh orang tua mereka sendiri untuk diberhentikan.

Akhirnya pada tanggal 19 Mei tahun 2001, atas inisiatif Tangkahan Simalem Ranger berkumpulah pemimpin-pemimpin kelompok penebang, perambah, tokoh-tokoh masyarakat, dan perangkat Desa Namo Salang serta Desa Sei Serdang yang kemarin terlibat konflik secara langsung maupun tidak langsung, bersepakat untuk mengembangkan pariwisata dengan membentuk Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT).

Seiring waktu berjalan, karena banyaknya objek wisata yang cukup menarik semua terdapat di dalam Taman Nasional, maka Lembaga Pariwisata Tangkahan menyepakati membuat sebuah kerjasama Memorandum of Understanding (MOU) dengan Balai Taman Nasional Gunung Leuser yang ditandatangani pada 22 April 2002 oleh Kepala Balai TNGL saat itu Ir. Awriya Ibrahim MSc selaku pemangku kawasan untuk memberikan hak kelola Taman Nasional kepada masyarakat Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang melalui

(35)

22

Lembaga Pariwisata Tangkahan Njuhang Pinem sebagai ketua umum Lembaga Pariwisata Tangkahan mengatakan bahwa penandatanganan tersebut merupakan hal yang cukup berani dilakukan pada saat itu, karena merupakan dipercayakan atas property right aset kolektif seluas kurang lebih 17.500 ha zona inti TNGL batas administratif desa untuk pengembangan ekowisata. Sebagai kewajibannya masyarakat Desa Namo Sialang dan masyarakat Desa Sei Serdang bertanggung jawab penuh didalam pengamanan dan kelestarian Taman Nasional Gunung Leuser yang berbatasan dengan wilayah desa tersebut.

Seiring waktu berjalan kekhawatiran banyak pihak tentang penandatanganan tersebut tidak terbukti, malah dapat menjadi moment penting di Taman Nasional Gunung Leuser selanjutnya untuk menginisiasi kolaborasi managemen sebelum diterbitkannya P.19 Tahun 2004 tentang kolaborasi managemen kawasan KPA dan KSA. Kini acuan kolaborasi tersebut serta berbagai sistem dan strategi pengembangan kawasan telah banyak diadopsi di tingkat nasional dan internasional.

Hingga saat ini terdapat juga NGO (Non Governmnet Organization) dibidang pemerhati lingkungan dalam pelestarian dan konservasi yang juga menandatangani dalam MOU dengan Taman Nasional Gunung Leuser untuk membantu dan mencapai tujuan Bersama-sama. Yaitu Conservation Respon Unit (CRU) Tangkahan yang berdiri untuk mengelola Gajah Sumatra di Tangkahan dan Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation (VESSWIC) sebagai pelayanan dan perawatan kesehatan Gajah yang ada di pulau Sumatra, yang saat ini menangani sebanyak 185 individu di 6 Pusat Latihan termasuk di Tangkahan.

Pengelolaan dan Pemanfaatan Gajah Sumatra di Tangkahan

Dibawah Taman Nasional Gunung Lesuer

Dimanfaatkan oleh masyarakat di Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) sebagai Paket

Wisata Ekowisata Tangkahan 1. 1. Elephant Washing (Memandikan Gajah) 2. 2. Elephant Grazing (Angon Gajah) 3. 3. Elephant Tracking (Menjelajah)

Dikelola bersama NGO di bidang pelestarian dan konservasi

1. Conservation Respon Unit (CRU) sebagai pengelola Gajah

2. Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation (VESSWIC) sebagai Kesehatan Gajah

Gambar 1. Diagram Pengelolaan dan Pemanfaatan Gajah Sumatra di Tangkahan.

(36)

23

Analisis Penerimaan

Setiap usaha yang berhubungan dengan pemanfaatan dilakukan oleh seseorang atau kelompok perlu diketahui kelayakan serta keuntungan yang dapat diperoleh dari usaha tersebut sehingga dapat digunakan bagi pembuat kebijakan atau pengguna instrumen informasi investasi lainnya. Penilaian kelayakan finansial Pemanfaatan gajah sumatra ini dimulai dengan melakukan analisis penerimaan agar dapat menentukan biaya yang dapat dikeluarkan dalam pengelolaan gajah sumatra yang ada di Tangkahan.

Penerimaan adalah hasil kali antara jasa yang diperoleh dengan harga jasa yang diperoleh. Analisis penerimaan dilakukan untuk mengetahui penerimaan pengelolaa dari objek wisata yang dilakukan. Pada penelitian ini, pemasukan utama dari pengelolaan dan pemanfaatan Gajah ini adalah dari Kegiatan Ekowisata yang ditawarkan kepada para Wisatawan baik Domestik dan Mancangera. Kegiatan Ekowisata di Tangkahan yang melibatkan gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) ada tiga Paket Ekowisata yaitu Elephant Washing (Mencuci Gajah), Elephant Grazing (Angon Gajah) dan Elephant Tracking (Menjelejah bersama Gajah) yang sudah ada sejak tahun 2004 hingga sekarang.

1. Biaya paket wisata

Pemasukan yang didapat akan dibagi dengan pembagian yang sudah disepakati dan ditetapkan oleh Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) dan Conservation Respont Unit (CRU) yang dibahas ketika musyawarah bersama Lembaga masyarakat ini setiap tiga tahun sekali dan membahas pembagian ini Bersama-sama dengan peruntukan, yaitu kepada:

a. Permit adalah Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang diserahkan kepada Negara melalui Taman Nasional Gunung Leuser karena berada dalam kawasan. Yang dibedakan jumlahnya berdasarkan wisatawan mancanegara atau domestik.

b. LPT (Lembaga Pariwisata Tangkahan) adalah Penerimaan kepada Lembaga Pariwisata yang dikelola oleh masyarakat sekitar dalam pemanfaatan alam dalam peruntukan sebagai ekowisata di Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang dan dibagi kepada masyarakat.

(37)

24

c. CRU (Conservation Respont Unit) adalah Penerimaan kepada CRU yang sebagai NGO yang bekerjasama dengan Taman Nasional Gunung Leuser dalam mengelola lingkup pelestarian gajah sumatra.

d. Guide adalah penerimaan kepada Guide atau pemandu yang membawa wisatawan dalam menikmati paket wisata.

e. Pisang adalah penerimaan kepada Gajah yaitu buah pisang untuk membantu pangan gajah.

f. Donasi Jalur adalah penerimaan kepada masyarakat yang wilayahnya terkena jalur dalam paket wisata bersama Gajah.

g. Snack adalah penerimaan kepada Gajah selain pisang untuk membantu pangan gajah seperti buah-buah lain di paket wisata yang berdurasi lama.

Adapun pembagian dalam harga paket wisata tersebut beradasarkan paket wisata Pemanfaatan Gajah di Tangkahan adalah sebagai berikut :

a. Elephant Washing

Kegiatan Ekowisata Elephant Washing (Mencuci Gajah) adalah kegiatan Membantu Mahout (Pawang Gajah) mencuci dan membasuh gajah di sungai batang yang menakjubkan. Para Wisatawan akan diberikan Brush Cuci untuk mencuci dan membasuh gajah dengan perintah-perintah Mahout memberi intruksi untuk memudahkan wisatawan mencuci dan membasuh Gajah yang ada di Tangkahan dan tentunya dengan pengawasan para Mahout.

Tabel 2. Harga Paket Kegiatan Elephant Washing

No Pembagian Biaya Lokal (Rp) Biaya Mancanegara (Rp)

1 Guide Rp. 25.000,00 Rp. 50.000,00

2 Pisang Rp. 10.000,00 Rp. 10.000,00

3 Donasi Jalur Rp. 6.000,00 Rp. 6.000,00

4 LPT Rp. 13.400,00 Rp. 33.000,00

5 CRU Rp. 45.600,00 Rp. 131.000,00

6 Discount Travel Rp. 0,00 Rp. 20.000,00

Total Public Rp. 100.000,00 Rp. 250.000,00

Total Agent Rp. 0,00 Rp. 230.000,00 Sumber : Harga Paket Wisata Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) tahun 2019 serta diperbaiki dan diolah oleh penulis.

b. Elephant Grazing

Kegiatan Ekowisata Elephant Grazing (Angon Gajah) adalah kegiatan Bersantai dan mengamati aktifitas gajah bersama Mahout (Pawang Gajah) saat berkeliaran dan merumput mencari makan di habitat aslinya. Dengan melihat

(38)

25

aktifitas serunya di Habitat aslinya akan membuat wisatawan akan mengalami pengalaman alam yang luar biasa.

Tabel 3. Harga Paket Kegiatan Elephant Grazing

No Pembagian Biaya Lokal (Rp) Biaya Mancanegara (Rp)

1 CRU Rp. 290.700,00 Rp. 290.700,00

2 LPT Rp. 173.300,00 Rp. 123.300,00

3 Permit Rp. 5.000,00 Rp. 150.000,00

4 Guide Rp. 100.000,00 Rp. 100.000,00

5 Snack Rp. 20.000,00 Rp. 20.000,00

6 Pisang Rp. 10.000,00 Rp. 10.000,00

7 Donasi Jalur Rp. 6.000,00 Rp. 6.000,00

Total Public Rp. 605.000,00 Rp. 750.000,00

Sumber : Harga Paket Wisata Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) tahun 2019 serta diperbaiki dan diolah oleh penulis.

c. Elephant Tracking

Kegiatan Ekowisata Elephant Tracking (Menjelejah bersama Gajah) adalah kegiatan Berjalan Bersama gajah saat mereka menjelajahi hutan selama satu jam dengan pendampingan Mahout (Pawang Gajah). Dengan harga paket, yaitu :

Tabel 4. Harga Paket Kegiatan Elephant Tracking pada Low sesion (Oktober 2018–Mei 2019)

No Pembagian Biaya Lokal (Rp) Biaya Mancanegara (Rp)

1 Permit Rp. 5.000,00 Rp. 150.000,00

2 Guide Rp. 80.000,00 Rp. 80.000,00

3 LPT Rp. 201.750,00 Rp. 201.750,00

4 Pisang Rp. 10.000,00 Rp. 10.000,00

5 Donasi Jalur Rp. 6.000,00 Rp. 6.000,00

6 CRU Rp. 352.250,00 Rp. 352.250,00

7 Discount Travel 6,5% Rp. 0,00 Rp. 65.000,00 Total Public Rp. 655.000,00 Rp. 800.000,00 Total Agent Rp. 0,00 Rp. 735.000,00 Tabel 5. Harga Paket Kegiatan Elephant Tracking High Sesion (Mulai bulan Juni 2019)

No Pembagian Biaya Lokal (Rp) Biaya Mancanegara (Rp)

1 Permit Rp. 5.000,00 Rp. 150.000,00

2 Guide Rp. 110.000,00 Rp. 110.000,00

3 LPT Rp. 249.500,00 Rp. 249.500,00

4 Pisang Rp. 10.000,00 Rp. 10.000,00

5 Donasi Jalur Rp. 6.000,00 Rp. 6.000,00

6 CRU Rp. 474.500,00 Rp. 474.500,00

7 Discount Travel 6,5% Rp. 0,00 Rp. 65.000,00 Total Public Rp. 845.000,00 Rp. 1.000.000,00 Total Agent Rp. 0,00 Rp. 935.000,00 Sumber : Harga Paket Wisata Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) tahun 2019 serta diperbaiki dan diolah oleh penulis.

Gambar

Gambar 1. Diagram Pengelolaan dan Pemanfaatan Gajah Sumatra di Tangkahan.
Gambar  2.  (a).  Pengunjung  memandikan  Gajah  di  bawah  jembatan  milik  Taman  Nasional  Gunung  Leuser
Tabel  8.  Data  Pemasukan  Pengunjung  dari  kegiatan  Wisata  Elephant  Tracking  tahun 2019
Gambar  4.  (a).  Pengujung  Mancanegara  menikmati  paket  wisata  Elephant  Tracking (b)

Referensi

Dokumen terkait

Dalam rangka mendekatkat diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah kurban, maka banyak cara yang ditempuh oleh umat Islam untuk dapat melaksanakan ibadah

Berbagai persoalan yang akan dipecahkan melalui pendekatan kearifan lokal bersama UKM mitra tahap pertama adalah meliputi hal-hal sebagai berikut: (a) Mencakup

Dengan adanya strategi yang efektif dan efisien, akan membuat suatu produk bernilai lebih, sehingga konsumen akan merasa bahwa produk tersebut memiliki nilai jual

Berdasarkan survey awal yang dilakukan kepada 15 mahasiswa psikologi yang sedang menyusun skripsi, 40% mahasiswa merasa tidak yakin pada kemampuannya untuk menghadapi hambatan

Hal tersebut menunjukkan bahwa persilangan antara pasangan tetua yang berjarak genetik dekat dapat menghasilkan progeni F 1 yang memiliki kedekatan jarak genetik terhadap salah

Dari keseluruhan lahan yang ada di Kabupaten Natuna, sebagian besar merupakan lahan yang sementara tidak diusahakan pada tahun 2016 yaitu sebesar 14.472

Siswa pada hakekatnya memiliki potensi atau kemampuan yang belum terbentuk secara jelas, maka kewajiban gurulah untuk merangsang agar mereka mampu menampilkan

Seluruh responden terbanyak yaitu mahasiswa perempuan dengan rentang umur antara 20 s/d 30 tahun sebagai pengguna aplikasi android Internet Marketing