• Tidak ada hasil yang ditemukan

JUMLAH KELAS

B. Deskripsi Analisis Data dan Interpretasi Data 1.Analisis Data 1.Analisis Data

2. Interpretasi Data

Untuk menghitung penerapan pembinaan karakter disiplin siswa melalui tata tertib sekolah, peneliti menggunakan lembar observasi atau pengamatan berdasarkan indicator kerajinan, kerapian dan kelakuan. Di bawah ini terdapat hasil penghitungan nilai rata-rata karakter disiplin siswa.

Tabel. 4.38

Nilai rata-rata skor berdasarkan indicator karakter disiplin siswa

Dimensi Indikator NS NH (NS/NH)*4 Karakter Disiplin Siswa 1. Kerajinan 90/6=15 5x4=20 15/20x4 =3 2. Kerapian 232/6=38.6 14x4=56 38.6/56x4 =2,75 3. Kelakuan 150/6=25 9x4=36 25/36x4 =2,77 30

88

Dilihat dari penghitungan data karakter disiplin siswa berdasarkan indicator kerajinan, kerapian dan kelakuan yang diamati selama satu minggu dapat disimpulkan bahwa :

1. Indicator kerajinan pada siswa SMK Sumpah Pemuda memperoleh angka 3 yang termasuk dalam kategori baik. Dimana hanya sebagian kecil siswa yang melanggar tata tertib mengenai kerajinan dan sebagian besar siswa mentaati tata tertib tersebut.

2. Indicator kerapian pada siswa SMK Sumpah Pemuda memperoleh angka 2,75 yang termasuk dalam kategori cukup baik. Dimana sebagian besar siswa tidak memperhatikan aspek kerapian saat di sekolah. Masih banyak seragam dan sepatu siswa yang tidak sesuai dengan ketentuan di sekolah. 3. Indicator kelakuan pada siswa SMK Sumpah Pemuda memperoleh angka

2,77 yang termasuk dalam kategori cukup baik. Hal ini jelas terlihat disaat guru belum hadir dan tidak masuk, banyak siswa yang berada di luar kelas, bercanda dan bermain hp saat kegiatan belajar sedang berlangsung serta rendahnya kesadaran siswa untuk menggunakan helm saat berkendara motor ke sekolah.

Setelah dilakukan penghitungan berdasarkan indicator karakter disiplin siswa di atas, di bawah ini terdapat tabel yang menghitung keseluruhan hasil pengamatan penerapan tata tertib dan pengamatan karakter disiplin siswa.

Tabel. 4.39

Nilai Keseluruhan Hasil Pengamatan

Dimensi NS NH (NS/NH)*4 Penerapan Tata Tertib 100/6=16.6 7x4=28 16.6/28x4 =2,37 Karakter Disiplin Siswa 472/6=78.6 28x4=112 78.6/112x4 =2,8

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan tata tertib yang diamati selama satu minggu memperoleh angka 2,37 yang termasuk dalam kategori cukup baik. Hal ini terbukti dari banyaknya guru piket yang belum melakukan pencatatan terhadap siswa yang melanggar peraturan dan rendahnya ketegasan guru piket dalam memberikan teguran, hukuman dan pantauan terhadap siswa di sekolah. Sedangkan hasil penghitungan karakter disiplin siswa memperoleh angka 2,8 yang diamati selama satu minggu. Hal ini terbukti dari adanya penerapan tata tertib yang berjalan cukup baik memberikan efek terhadap karakter disiplin siswa. Dimana kerapian dan kelakuan siswa masih perlu untuk dibina dan diperbaiki serta ditingkatkan pula kerajinan siswa di sekolah.

90

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari paparan hasil penelitian, dapat dikemukakan beberapa temuan sebagai berikut, yaitu :

1. Penerapan tata tertib sekolah di SMK Sumpah Pemuda melibatkan kepala sekolah, wakil kesiswaan, ketua program jurusan, guru BK, wali kelas, guru, Pembina OSIS dan pihak berwajib. Strateginya dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:

a. Sebelum memulai pelajaran, seluruh siswa wajib untuk membaca

Al-Qur’an atau tadarusan.

b. Setiap hari jum’at diwajibkan membaca surat yasin sebelum memulai

pelajaran.

c. Melakukan sosialisasi kepada seluruh warga sekolah terkait tata tertib melalui rapat dewan guru dan upacara bendera.

d. Memberikan reward untuk siswa yang mentaati tata tertib melalui pujian dan point prestasi, tidak ada bentuk materi dalam pemberian reward.

e. Memberikan punishment bagi siswa yang melanggar tata tertib melalui peneguran, sanksi social, surat panggilan orangtua, skorsing dan drop out jika pelanggaran tersebut sudah melampaui batas serta tidak ada hukuman fisik dalam pemberian punishment.

f. Memberikan buku tata tertib siswa ke setiap wali kelas untuk mencatat siswa yang melakukan pelanggaran.

g. Memasang banner dan spanduk yang berisi perintah, anjuran dan motivasi yang diletakkan disudut dan lorong sekolah.

h. Mengikutsertakan orangtua dalam pelaksanaan tata tertib melalui surat persetujuan tata tertib, undangan rapat, surat pemberitahuan hasil rapat, informasi secara langsung saat pengambilan rapot dan kunjungan ke rumah siswa.

i. Melakukan sosialisasi dengan masyarakat, jika terdapat siswa yang kabur dari sekolah, masyarakat dapat melapor ke sekolah.

j. Melakukan evaluasi tata tertib setiap tahun ajaran baru dengan melibatkan semua pihak yang terkait.

2. Penerapan tata tertib sekolah sudah berjalan cukup baik, namun perlu dioptimalkan sebab :

a. Tidak semua guru piket mencatat siswa yang datang terlambat dan mencatat seragam siswa yang tidak sesuai ketentuan.

b. Rendahnya ketegasan dan komitmen guru piket dan guru lain dalam memberikan peneguran dan hukuman. Salah satunya hukuman membaca Al-Quran di depan pintu gerbang bagi siswa yang terlambat jarang dilakukan.

c. Kurangnya keteladanan guru kepada siswa, seperti masih adanya guru yang terlambat, tidak memakai helm dan merokok di lingkungan sekolah,

d. Kurangnya pengawasan terhadap siswa di sekolah, seperti pengontrolan kelas dan pemantauan siswa saat pulang sekolah.

3. Karakter disiplin siswa di sekolah belum seluruhnya berprilaku baik, masih terdapat siswa yang terlambat, salah seragam, tidak masuk sekolah, pemakaian seragam yang kurang rapi, make up berlebihan dan rendahnya sopan santun siswa. Meskipun tidak ada siswa yang merokok dan membawa narkoba di sekolah.

92

Berdasarkan temuan-temuan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa strategi penerapan tata tertib sekolah belum sepenuhnya mampu untuk membina karakter disiplin siswa. Terlihat dari penerapan tata tertib sekolah yang sudah berjalan cukup baik, memberikan efek terhadap aspek kerapian dan kelakuan siswa yang sebagian besar masih ada yang melanggar, meskipun pada aspek kerajinan hanya sebagian kecil siswa yang melanggar.

B. Saran

Berdasarkan temuan dan kesimpulan dari penelitian ini, maka peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut :

1. Sebaiknya kepala sekolah meningkatkan pelaksanaan tata tertib dengan cara mengecek buku piket setiap minggu dan ikut menindak siswa yang melanggar serta menegur dan memberi arahan kepada guru atau guru piket yang tidak melaksanakan tata tertib dengan baik, sehingga akan tercipta rasa peduli dan kebersamaan untuk menjalankan tata tertib sekolah.

2. Semestinya guru menjadi teladan bagi para siswa untuk tidak datang terlambat dalam mengajar, tidak merokok di lingkungan sekolah dan memakai helm saat berkendara serta lebih tegas dalam menegur dan memberi hukuman terhadap siswa yang melanggar tata tertib di dalam maupun di luar kelas.

3. Sebaiknya guru piket lebih bertanggungjawab dalam melaksanakan tugasnya dengan cara mencatat setiap siswa yang melakukan pelanggaran, memberikan peneguran dan hukuman yang tegas, mengontrol setiap kelas, mengawasi dan memantau siswa hingga pulang sekolah.

A, Doni Koesoema. Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: Grasindo, 2010.

Amin, Maswardi Muhammad. Pendidikan Karakter Anak Bangsa. Jakarta: Badouse Media Jakarta, 2011.

Arikunto, Suharsimi. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2007. Aunillah, Nurla Isna. Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter Di Sekolah.

Jogyakarta: Laksana, 2011.

Azzet, Akhmad Muhaimin. Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia Revitalisasi Pendidikan Karakter terhadap Keberhasilan Belajar dan Kemajuan Bangsa. Jogyakarta: Ar-ruzz Media, 2011.

Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2005.

Dharma, Surya. Manajemen Kesiswaan (Peserta Didik). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2007.

Gunawan, Ary H. Administrasi Sekolah Administrasi Pendidikan Mikro. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1996.

Gunawan, Heri. Pendidikan Karakter:Konsep dan Implementasi. Bandung: Alfabeta, 2012.

Imron, Ali. Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara, 2011.

Kesuma, Dharma., Cepi Triatna., dan Johar Permana. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2011. Kementrian Pendidikan Nasional. Peningkatan Manajemen melalui Penguatan

Tata Kelola dan Akuntabilitas di Sekolah/Madrasah. Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional, 2011.

Kementerian Pendidikan Nasional. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Kemendiknas, 2011.

Lickona, Thomas. Pendidikan Karakter: Panduan Lengkap Mendidik Siswa menjadi Pintar dan Baik. Bandung: Nusa Media, 2013.

Majid, Abdul., dan Dian, Andayani. Pendidikan Karakter Prespektif Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011.

Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008. Tentang Pembinaan Kesiswaan. Jakarta: Depdiknas, 2008.

Prihatin, Eka. Manajemen Peserta Didik. Bandung: Alfabeta, 2011.

Rifa’I, Muhammad. Sosiologi Pendidikan Struktur dan Interaksi Sosial di dalam Institusi Pendidikan. Jogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011.

Sabri, H.M Alisuf. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1999.

Samani, Muchlas., dan Hariyanto. Pendidikan Karakter. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011.

Jaring Pena, 2011.

Suralaga, Fadhilah., Dkk. Psikologi Pendidikan dalam Prespektif Islam. Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005.

Susilo, Sutarjo Adi, J.R. Pembelajaran Nilai Karakter Konstruksivisme dan VCT sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif. Jakarta: Rajawali Pers, 2012.

Trimansyah, Bambang. Saya Ingin Mahir Berbahasa Indonesia. Bandung: PT. Grafindo Media Pratama, 2004.

Umar, Husein. Strategic Management in Action. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002.

Wahjosumidjo. Kepemimpinan Kepala Sekolah; Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007.

Wahyu Aji. Laporan Wartawan Tribunnews.com.

http://www.tribunnews.com/nasional/2013/09/13/dalam-10-tahun-perokok-anak-meningkat-17,5-persen, Senin, 3 Febuari 2014 11.00 WIB.

Wahyu Aji. Laporan Wartawan Tribunnews.com.

http://www.tribunnews.com/metropolitan/2013/12/22/kasus-tawuran-pelajar-jakarta-terus-meningkat-tahun-ini, Senin, 3 Febuari 2014 11.00 WIB.

Yasin, A. Fatah. Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam. Malang: UIN Malang Press, 2008.

5. Bagaimana cara sekolah membangun tanggungjawab warga sekolah dalam mentaati tata tertib sekolah?

 Dalam membangun rasa tanggungjawab pada warga sekolah, sekolah telah memberikan Reward dan Punishment bagi warga sekolah yang menaati dan melanggar tata tertib sekolah. Reward yang diberikan biasanya dalam bentuk pujian, baik yang dilakukan saat mereka menaati tata tertib sekolah, saat dalam upacara bendera dan bisa pula dalam bentuk nilai moral yang dapat membantu penambahan nilai dalam raportnya. Tidak ada bentuk materi dalam memberikan reward. Pemberian punishment disesuaikan dengan bentuk pelanggaran yang dilakukan. Poin sanksi telah tertera dalam tata tertib sekolah, biasanya untuk pelanggaran ringan yang pertama dilakukan diberikan sanksi penegurun hingga 2x, ketiga kali diberikan surat panggilan orangtua, skorsing hingga dropout. Untuk pelanggaran yang berat misalnya narkoba, tawuran dan asusila, tindakan dropout langsung diberikan. 6. Bagaimana cara sekolah mengikutsertakan orangtua siswa dalam

pelaksanaan tata tertib sekolah?

 Memberikan undangan rapat antara pihak sekolah dengan orangtua mengenai tingkah laku anak dan sosialisasi tata tertib sekolah yang berlaku. Biasanya dalam rapat, orangtua hanya mengiyakan pendapat pihak sekolah dikarenakan pada umumnya latar belakang pendidikan orangtua yang rendah sehingga orangtua mengikuti saja pendapat sekolah. Selain itu, terdapat beberapa orangtua yang tidak bisa hadir dalam rapat sehingga diberikan surat pemberitahuan hasil rapat kepada seluruh orangtua. Pengambilan raport merupakan moment yang tepat untuk memberikan informasi tingkah laku anak kepada orangtua. Dengan ini tugas wali kelaslah yang berperan dalam mengajak orangtua untuk ikut terlibat dalam pelaksanaan tata tertib sekolah.

7. Apa saja peran OSIS dalam pelaksaan tata tertib sekolah?

 Peran OSIS dalam pelaksanaan tata tertib sekolah adalah menjadi contoh atau teladan yang baik untuk teman-temannya Karena yang termasuk dalam anggota OSIS adalah orang yang terpilih yang memiliki karakter dan pintar. Selain itu, Pembina OSISpun ikut terlibat dalam razia yang diselenggarakan pihak sekolah, bisa dadakan dan sesuai dengan jadwal tergantung dari situasi dan kondisi. Misalnya banyak yang menyalahgunakan pemakaian HP, maka akan diadakan razia dadakan yang meliputi razia pakaian, kuku, rambut dan sepatu. 8. Bagaimana tindakan sekolah dalam mengatasi pelanggaran tata tertib

sekolah?

 Sekolah telah memberikan Reward dan Punishment bagi warga sekolah yang menaati dan melanggar tata tertib sekolah. Reward yang diberikan biasanya dalam bentuk pujian, baik yang dilakukan saat mereka menaati tata tertib sekolah, saat dalam upacara bendera dan bisa pula dalam bentuk nilai moral yang dapat membantu penambahan nilai dalam raportnya. Tidak ada bentuk materi dalam memberikan reward. Pemberian punishment disesuaikan dengan bentuk pelanggaran yang dilakukan. Poin sanksi telah tertera dalam tata tertib sekolah, biasanya untuk pelanggaran ringan yang pertama dilakukan diberikan sanksi penegurun hingga 2x, ketiga kali diberikan surat panggilan orangtua, skorsing hingga dropout. Untuk pelanggaran yang berat misalnya narkoba, tawuran dan asusila, tindakan dropout langsung diberikan.

9. Adakah kerjasama antara sekolah dengan pihak yang berwajib dalam mengatasi pelanggaran tata tertib sekolah?

 Adanya hubungan kerja sama dengan pihak berwajib diantaranya kapolsek dan ABRI. Sebulan sekali mendatangkan Pembina upacara dari kapolsek ( bulan kemarin adalah Pak Heru). Adanya penyuluhan langsung, pada tahun kemarin datang ke ABRI melalui permintaan kepala sekolah dan ternyata dari pihak ABRI memang sedang

melaksanakan program penyuluhan bagi sekolah menengah kejuruan, maka sekitar 200 siswa ikut serta dalam kegiatan tersebut.

10.Bagaimana instrument administrasi pelanggaran tata tertib sekolah?

 Terdapat instrument tata tertib sekolah yang telah dimiliki oleh masing-masing wali kelas dalam bentuk buku.

11.Bagaimana proses evaluasi tata tertib sekolah?

 Proses evaluasi tata tertib sekolah setiap tahun diadakan mana yang kurang dan mana yang harus dipertahankan. Tahun kemarin diadakan di Bogor yang membahas mengenai penggunaan kawat gigi. Bahwa penggunaan kawat gigi yang bertujuan untuk fashion tidak boleh digunakan kecuali untuk kesehatan. Penggunaan HP dibolehkan asalkan pemakaiannya masih wajar dan untuk keperluan belajar. Membawa kendaraan bermotor pada prinsipnya dilarang, tetapi karena alasan siswa jarak rumah ke sekolah jauh dan anter jemput adiknya jadi diperbolehkan asalkan knalpot motor tidak butut.

12.Bagaimana sikap dan tingkah laku siswa saat di sekolah?

 Karena saya tidak ada di lapangan, saya tidak tahu persis tetapi biasanya ucapan dari siswa tidak kelewatan. Secara fluktuatif karakter yang ada di siswa. terkadang disiplin, terkadang ikut-ikutan temen. Biasanya ada yang melanggar dan dengan tata tertib sekolah pasti memiliki perubahan karena sekolah untuk membentuk karakter. Pada saat magang di perusahaan, sikap dan tingkah laku siswa patuh dan hormat terhadap aturan perusahaan, meskipun ada beberapa yang suka tidak masuk.

Yang sering melanggar pada umumnya adalah siswa yang tidak ikut MOS, mereka belum tahu secara keseluruhan tata tertib sekolah dan siswa pindahan.

Penerapan tata tertib sekolah sangat membantu pembinaan karakter siswa dimana siswa yang tadinya urakan, terlambat, kesiangan jadi dapat disiplin setelah diberikan arahan.

5. Bagaimana cara sekolah membangun tanggungjawab warga sekolah dalam mentaati tata tertib sekolah?

 Disampaikan dalam bentuk rapat dewan guru terkait tata tertib sekolah, bahwa sosialisasi tata tertib sekolah bukan hanya wali kelas tetapi para guru juga ikut mensosialisasikan.

Pemberian reward, dimana siswa yang memiliki point baik akan dapat menentukan kebijakan dalam kenaikan kelas yang tidak hanya dilihat dari segi nilai pelajaran siswa.

6. Bagaimana cara sekolah mengikutsertakan orangtua siswa dalam pelaksanaan tata tertib sekolah?

 Wali kelas merupakan penghubung antara orangtua dengan sekolah, jika anak didiknya melanggar maka akan berhubungan langsung dengan wali kelas dan akan dilaporkan kepada orangtua. Selain itu, guru lainpun ikut berpartisipasi dalam menilai sikap siswa.

7. Apa saja peran OSIS dalam pelaksaan tata tertib sekolah?

 Osis menjadi pionir dalam proses tata tertib sekolah. Osis akan menjadi contoh bagi teman-temannya, yang menjadi anggota osis adalah siswa yang memiliki catatan baik di sekolah dan telah mengikuti masa orientasi.

Pembina osis ikut dalam pelaksanaan razia yang dilakukan secara incidental dimana pihak sekolah mendapatkan informasi dari osis atau siswa lain tentang pelanggaran yang terjadi, misalnya ada yang membawa hp berisikan video porno, ada yang membawa rok.

8. Bagaimana tindakan sekolah dalam mengatasi pelanggaran tata tertib sekolah?

 Sebenarnya kendaraan bermotor untuk usia 17 tahun ke bawah dilarang membawa kecuali yang memiliki SIM. Adanya alasan siswa seperti rumahnya jauh, pulang menjelang magrib maka dalam

 praktiknya sulit untuk dicegah. Meskipun dilarang, mereka akan tetap membawa kendaraan dan di parker di luar sekolah sehingga jika terjadi kehilangan pihak sekolah akan direpotkan. Pada prinsipnya tidak boleh asalkan sesuai dengan aturan, knalpot tidak bising dan motor tidak bodong. Adanya biaya parkir sebesar Rp. 1000 lebih efisien daripada naik angkot yang padat dan antri. Terkait perlengkapan kendaraan sudah sering disosialisasikan seperti saat upacara tetapi banyaknya rumah siswa yang berada dalam gang maka banyak pula yang tidak memakai helm dan jaket. Hal tersebut masih dalam proses pelaksanaan.

Dahulu gadget atau HP tidak boleh dibawa, tetapi saat ini boleh dibawa asalkan pada saat belajar HP dinonaktifkan. Jika siswa melanggar akan ditahan HP tersebut.

9. Adakah kerjasama antara sekolah dengan pihak yang berwajib dalam mengatasi pelanggaran tata tertib sekolah?

 Adanya kerja sama dengan pihak berwajib, misalnya: jika terdapat suatu masalah yang besar atau berat maka wali kelas, guru BK, ketua program, wakil kesiswaan, dan kepala sekolah akan berkumpul untuk konsultasi dan memusyawarahkan kasus tersebut apakah harus dilaporkan kepolisi atau secara kekeluargaan. Sekitar 2-3 tahun yang lalu pernah terjadi kasus narkoba, tetapi kejadiannya di luar sekolah, maka langsung ditangani oleh pihak kepolisian dan pihak sekolah hanya dimintai keterangan terkait identitas siswa tersebut.

10.Bagaimana instrument administrasi pelanggaran tata tertib sekolah?

 Adanya instrument administrasi tata tertib sekolah yang dimiliki oleh masing-masing wali kelas.

11.Bagaimana proses evaluasi tata tertib sekolah?

 Proses evaluasi tata tertib sekolah dilaksanakan setiap setahun sekali atau setiap tahun ajaran baru. Kemarin diadakan di Ciawi, dimana yayasan yang menyelenggarakan dari TK-MI-SMP-SMA-SMK dan osis ikut tetapi tidak ikut dalam proses evaluasi.

6. Bagaimana cara sekolah mengikutsertakan orangtua siswa dalam pelaksanaan tata tertib sekolah?

 Adanya komunikasi antara sekolah dengan orangtua, bisa dalam bentuk kunjungan ke rumah jika siswa melanggar tata tertib sekolah lebih dari 3x dan tidak ada perwakilan yang datang. Bisa pula dengan memberitahu tata tertib sekolah saat mereka mendaftar sekolah dan adanya surat lembaran tata tertib sekolah untuk orangtua dari pihak sekolah. Jadi orangtua siswa mengetahui tata tertib sekolah yang berlaku dan diharapkan dapat membantu dalam pelaksanaan tata tertib sekolah.

7. Apa saja peran OSIS dalam pelaksaan tata tertib sekolah?

 Pembina OSIS ikut andil dalam pelaksanaan tata tertib sekolah berupa razia yang bersifat incidental dan bekerja sama dengan wali kelas, sehingga siswa tidak mengetahui adanya razia tersebut. Biasanya razia HP, pakaian.

8. Bagaimana tindakan sekolah dalam mengatasi pelanggaran tata tertib sekolah?

 Tindakan yang diberikan tergantung dari pelanggaran yang dilakukan. Tidak adanya hukuman fisik dalam sekolah ini. Jika melanggar 1x maka akan ditegur, 2x juga ditegur hingga 3x akan dipanggil orangtua. Begitu pula dengan kehadiran, jika selama 3 hari tidak masuk dengan alasan tidak jelas maka akan memanggil orangtua dan jika orangtua tidak datang diadakan kunjungan ke rumah, jika tidak ada di rumah maka titip salam dengan tetangga sekitar. Pelanggaran pakaian biasanya setelah peneguran maka rok yang gantung akan disobek, baju yang ketat disuruh diganti dengan baju sumbangan dari para alumni, tidak memakai dasi disuruh beli di koperasi sekolah. Adanya yang terlambat masuk sekolah maka disuruh membaca Al-Quran di depan pintu pagar sekolah. Jika terlambatnya melebihi 15 menit maka akan lari lapangan atau memungut sampah di sekitar sekolah. Pernah ada kasus narkoba di sekolah, maka pihak sekolah saling berunding untuk

memecahkan kasus ini. Jika siswa tersebut tidak mengakui kesalahannya maka akan dilaporkan kepada polisi, tetapi jika siswa tersebut mengakui kesalahannya maka akan di keluarkan dari sekolah. Begitupun dengan tawuran yang sekarang ini sudah jarang terjadi. Secara umum, yang sering melanggar adalah siswa kelas X dimana mereka masih menyesuaikan diri dengan kondisi sekolah yang baru. Adanya tindakan skorsing dan tidak naik kelas pun telah dilakukan. 9. Adakah kerjasama antara sekolah dengan pihak yang berwajib dalam

mengatasi pelanggaran tata tertib sekolah?

 Adanya kerja sama dengan pihak berwajib dalam membantu mengatasi kasus narkoba dan tawuran yang pernah terjadi. Dengan adanya kerja sama ini, pihak sekolah tidak begitu cemas dengan ajang tawuran. Siapapun yang memulai terlebih dahulu untuk melakukan tawuran maka akan langsung ditangkap oleh polisi.

10.Bagaimana instrument administrasi pelanggaran tata tertib sekolah?

 Instrument tata tertib sekolah dimiliki oleh setiap wali kelas, dimana jika terjadi pelanggaran akan di tulis dalam buku tersebut. Jadi siswa tidak akan mengelak jika dilaporkan kepada orangtua mereka.

11.Bagaimana proses evaluasi tata tertib sekolah?

 Evaluasi tata tertib sekolah dilakukan setiap tahun ajaran baru atau satu tahun sekali dengan melibatkan stakeholders yang terkait. Setiap peraturan yang sudah berjalan dengan baik akan terus ditingkatkan dan yang belum berjalan akan diperbaharui.

12.Bagaimana sikap dan tingkah laku siswa saat masuk sekolah?

 Secara umum baik dan tidak terlambat. Walaupun ada yang telat tetapi hanya sebagian kecil.

6. Bagaimana cara sekolah mengikutsertakan orangtua siswa dalam pelaksanaan tata tertib sekolah?

 Semua tergantung dari orangtua masing-masing. Sekitar 75% orangtua tidak peduli dalam tingkah laku anak mereka dan sekitar 25% orangtua

Dokumen terkait