• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN UMUM DESA JAMBESARI

D. Interpretasi Data

Terciptanya kehidupan yang rukun antara pengikut golongan Sunni dan Syiah di desa Jambesari, di tentukan dengan terjalinnya komunikasi antarbudaya diantara kedua golongan tersebut. Mustahil akan tercipta kerukunan jika tidak terjadinya komunikasi, sedangkan komunikasi sulit dipisahkan dari budaya, sebagaimana dikatakan Edward T.Hall bahwa komunikasi adalah budaya, dan budaya adalah komunikasi. Jelas berbeda budaya golongan Sunni dan Syiah. Pengikut golongan Syiah mengacu kepada Iran, negara terbesar penganut ajaran Syiah, sebagai rujukan untuk melaksanakan tradisi-tradisi keIslaman maupun dalam berperilaku sehari-hari. Sedangkan golongan Sunni lebih condong ke Arab, karena mengikuti para

24

Wawancara pribadi dengan H.Abdullah, tokoh masyarakat Sunni, 10 Mei 2016. Pukul 10.00 WIB.

leluhur terdahulu yang banyak belajar keislaman dari tanah Arab. Adanya perbedaan-perbedaan dalam kebudayaan ini akan menununjukkan adanya perbedaan-perbedaan pula pada praktik-praktik komunikasinya. Sebagaimana dikatakan Mulyana, bahwa kebudayaan merupakan landasan komunikasi, bila budaya beraneka ragam, maka beraneka rragam pula praktik-praktik komunikasinya.

Berdasarkan hasil temuan dilapangan, golongan Syiah hadir dan diakui keberadaannya di desa Jambesari, dikarenakan beberapa hal;

1. Para anggota kelompok mampu berkembang dan bertahan dengan mempunyai jumlah tertentu. Dalam hal ini, pengikut golongan Syiah yang mulanya hanya beberapa orang saja yakni hanya keluarga besar ahmad Rawi, saat ini menyebar kepada masyarakat yang tinggal disekitar kediaman Ahmad Rawi, yakni sekitar 300 orang, hal ini berdasarkan data keanggotaan milik Mukhlis.

2. Kehadiran Syiah diterima karena tidak membawa bibit perpecahan. Sejak kehadirannya pada tahun 2006, para pengikut golongan Syiah melaksanakan ritual keagamaanya dengan bebas, meskipun terdapat konflik pada tahun tersebut, hal ini disebabkan karena terdapat kesalahpahaman antara pengikut kedua golongan tersebut dalam memahami ajarannya masing-masing. Pada akhirnya, dengan munculnya kesadaran mengenai terdapat kesamaan-kesamaan dalam ajaran, kesamaan dalam kebudayaan, serta tidak membawa bibit

90

perpecahan, menjadikan golongan Syiah diterima dan diakui oleh masyarakat Jambesari.

3. Adanya kesamaan nilai antar golongan Sunni dan Syiah yang diimani secara sadar, sehingga menumbuhkan rasa untuk selalu bersama-sama. Dengan meyakini bahwa Tuhan Maha Esa dan Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul-Nya, menuntut pengikutnya selalu menciptakan kedamaian di muka bumi. Berdasarkan kesadaran akan hal tersebut, menjadikan pengikut Golongan Sunni dan Syiah hidup berdampingan dengan penuh kerukunan.

4. Membangun komunikasi dalam kelompok secara teratur. Dalam hal ini baik masyarakat golongan Sunni dan Syiah, saling mengingatkan dan menasehati perihal perilaku yang telah diajarkan dalam keyakinannya. 5. Golongan Syiah Mampu menentukan perbedaan ciri-ciri golongannya

dengan golongan yang lainnya. Golongan Syiah di desa Jambesari memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan golongan Sunni setempat. Dalam ritual keagamaan golongan Syiah sering kali mengadakan pengajian-pengajian untuk mengenang hari kelahiran maupun hari wafatnya 12 imam mereka, ataupun berbagai perbedaaan yang lainnya. Adanya perbedaan antara kedua golongan ini, bukan berarti faktor untuk dijadikan bibit perpecahan, melainkan dijadikan alat untuk saling melengkapi kekurangan satu dengan yang lainnya, serta dijadikan alat untuk lebih mengedepankan persamaan dari perbedaannya.

91 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan data-data yang peneliti kumpulkan mengenai komunikasi antarbudaya dan agama golongan Sunni dan Syiah pada masyarakat desa Jambesari, peneliti dapat menyimpulkan bahwa:

Pertama, komunikasi antarbudaya dan agama golongan Sunni dan Syiah di Jambesari dapat terjalin dengan baik, sehingga terciptanya kehidupan yang rukun diantara keduanya. Hal ini, terbukti bahwa yang mulanya masyarakat saling tidak menyapa, sekarang sudah menjalin hubungan dengan baik. Masyarakat golongan Syiah yang mulanya tidak mendapat pekerjaan, sekarang sudah mendapat pekerjaan, serta saling membantu tanpa memandang dari golongan mana berasal. Selain itu, yang mulanya dalam melaksanakan tradisi keagamaan semacam, tahlilan, maulidan, isra’mi’raj, dan lainnya mereka melaksanakan hanya dengan golongannya masing-masing, namun sekarang mereka sudah menyatu dan merayakan bersama tradisi keagamaan dalam Islam tersebut. Kecuali, tradisi keagamaan yang jelas berbeda dengan golongan Sunni, yakni Asyuro, Ghadirkhum, pembacaan do’a Kumayl, golongan Syiah melaksanakan hanya di intern golongannya. Hal ini, dibebaskan oleh masyarakat golongan Sunni dengan syarat tidak meresahkan masyarakat Jambesari. Sikap toleransi, dan keluwesan serta rendahnya

92

etnosentrisme menjadikan komunikasi antarbudaya dan agama kedua golongan efektif. Selain, dalam pelaksanaan tradisi keagamaan yang memiliki kesamaan, peran pemerintah setempat yakni pimpinan desa Jambesari yang tidak membeda-bedakan golongan juga merupakan faktor terciptanya kehidupan masyarakat desa Jambesari yang rukun dan damai.

Kedua, terciptanya kerukunan masyarakat pada Jambesari ini di tetentukan oleh beberapa faktor, yakni (1) Faktor Kognitif, berupa pengetahuan masyarakat Jambesari terhadap adanya perbedaan dan kesamaan pada kedua golongan tersebut. Semakin masyarakat mengetahui lebih banyaknya kesamaan dari pada perbedaan menjadikan pengikut kedua golongan tersebut semakin dewasa dalam menyikapi hal tersebut. (2) Faktor gaya pribadi berupa perilaku keseharian masyarakat golongan Sunni dan Syiah desa Jambesari, meliputi: a) Etnosentrisme b) Toleransi, sikap mendua dan keluwesan c) Empati d) Keterbukaan e) Kompleksitas kognitif f) Kenyamanan antarpribadi g) Kontrol pribadi h) Kemampuan inovasi i) Harga diri j) Keprihatinan dan kecemasan komunikasi. Serta (3) Faktor Lain, meliputi: a) Faktor keramahtamahan b) Faktor motivasi c) faktor akulturasi d) faktor umur dan e) faktor pekerjaan. Masyarakat Jambesari, dalam hal ini pengikut golongan Sunni dan Syiah berhasil meminimalisir faktor-faktor yang dapat menghambat efektifitas komunikasi antarbudaya dan agama, yang hal ini terekam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jambesari. Sehingga

menjadikan masyarakat golongan Sunni dan Syiah desa Jambesari hidup dengan penuh kedamaian dan kerukunan.

B. Saran

Setelah peneliti memberikan kesimpulan terkait dengan komunikasi antarbudaya dan agama masyarakat golongan Sunni dan Syiah di desa Jambesari, peneliti mengemukakan beberapa saran;

1. Peneliti berharap masyarakat golongan Sunni dan Syiah di desa Jambesari tetap dan terus menjaga kerukunan antar golongan. Dengan menanamkan

dalam diri bahwa “perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan, yang tak perlu dipermasalahkan”. Sehingga masyarakat Jambesari dapat menjadi contoh bagi masyarakat di daerah lainnya.

2. Sebagai umat Islam dan mengaku sebagai pecinta Nabi Muhammad SAW, hendaknya menjadi pelopor dalam perdamaian dengan berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, terhadap sesama muslim atau bahkan kepada non-Muslim sekalipun, sehingga terciptanya dimuka bumi ini kehidupan yang rukun dan penuh dengan kedamaian.

94 DAFTAR PUSTAKA A. Buku dan Artikel

Agil Husin Al-Munawar, Said, Fikih Hubungan Antaragama, Jakarta:Ciputat Press, 2003.

Anastianah, Ita, Elite dan Konflik Komunal Keagamaan: Studi Kasus Konflik

Sunni Syiah Sampang, Kudus: Parist, 2012.

Arifin, Samsul, Komunikasi Antarbudaya Melalui Folklo “Haul Cuci Pusaka

Keramat Tajug” Di Kelurahan Cilenggang Serpong Tangerang Selatan,

Jakarta: Skiripsi Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013.

A.Samovar, Larry, dkk. Komunikasi Lintas Budaya, Jakarta: Salemba Humanika, 2010.

Attamimy, HM, SYI’AH; Sejarah, Doktrin dan Perkembangan di Indonesia, Yogyakarta: Graha Guru, 2009

Bungin, Burhan, Metode Penelitian Kualitatif: Komunikas, Ekonomi, kebijakan

Publik, dan Ilmu sosial Lainnya, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2005. Cet ke-1

Cangara, Hafied, Ilmu Komunikasi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007.

Daulay, M.Zainuddin, Mereduksi Eskalasi Konflik Antarumat Beragama di

Indonesia, Jakarta:Badan Litbang Agama da Diklat Keagamaan Departemen Agama RI, 2001.

Depag RI, Bingkai Teologi Kerukunan Hidup Umat Beragama Di Indonesia, Jakarta; Badan Penelitian dan Pengembangan Agama Proyek Peningkatan Kerukunan Umat Beragama di Indonesia, 1997.

Devito, Joseph A, Komunikasi Antarmanusia, Jakarta: Profesional Books, 1997 Effendy, Onong Uchajana, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, Bandung:

Remaja Rosdakarya, 2006.

Faisal Bakti, Andi, Communication and Family Planning in Islam in Indonesia:

South Sulawesi Muslim Perception of a Global Development Program, Jakarta: INIS, 2004.

Ja’far al-hadar, Husein, Sunni-Syiah di Indonesia: Jejak dan Peluang

Rekonsiliasi dalam Syiah, Sektarianisme dan Geopolitik, Jakarta; MAARIF Institute, 2015. Vol.10, No.2.

Kriyantono, Rachmat, Tehnik Praktis Riset Komunikasi, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009. Cet ke-4.

Liliweri, Alo, Gatra-gatra Komunikasi Antar Budaya, Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2001.

Liliweri, Alo, Dasar-dasar Komunikasi Antar Budaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013.

Mulyana, Deddy, dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antarbudaya Panduan

Berkomunikasi dengan Orang-orang Berbeda Budaya, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009.

96

Mulyana, Deddy, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung: PT Remaja Rosadakarya, 2000.

Mulyana, Deddy, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010. Cet ke-7.

Nazir, Moh, Metode Penelitian, Bogor: Ghalia Indonesia, 2013. Cet ke-8.

Patton, Michael Quinn, How to Use Qualitative Methods in Evaluation, London: SAGE Publications, 1991.

Raco, J.R. Metode Penelitian Kualitatif, Jenis Karakter dan Keunggulannya, Jakarta: PT Grasindo, 2010.

Rafi’I, Mustofa. Islam Kita: Titik Temu Sunni-Syiah, Jakarta: Fitrah, 2013. Rakhmat, Jalaluddin, Metode Penelitian Komunikasi dilengkapi contoh analisis

statistic, Bandung: Remaja Rosdakarya 2000.

Syaukani, Imam, Kompilasi Kebijakan Dan Peraturan Perundang-Undangan

Kerukunan Umat Beragama, Jakarta, Puslitbang, 2008.

Sihabudin, Ahmad, Komunikasi Antarbudaya; Satu Perspektif Multidiensi, Jakarta; Bumi Aksara, 2013.

Shihab, M.Quraish, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, Jakarta; Lentera Hati, 2007.

Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta, 2010.

The Wahid Institute, Laporan tahunan kebebasan beragama/ berkeyakinan dan

B. Sumber dari Internet

http://www.gusdurian.net/id/article/opini/Jalan-Tasawuf-Kebangsaan-Gus-Dur/ m.republika.co.id/berita/dunia-Islam/Islam-nusantara.

http://mediamadura.com/madura-budaya-unik/

C. Wawancara Pribadi

1. Bapak Qurdi (Sekretaris Desa Jambesari) 2. Bapak H.Abdullah (Golongan Sunni) 3. Bapak Abdur Rahim (Golongan Sunni) 4. Bapak Ahmad Rawi (Golongan Syiah) 5. Bapak Mukhlis (Golongan Syiah)

LAMPIRAN-LAMPIRAN FOTO

Foto.1: Peneliti saat wawancara dengan H.Abdullah (Tokoh Masyarakat Golongan Sunni)

Foto.4: Masyarakat Jambesari sedang bekerja di sawah. Foto.5: Perangkat desa doa bersama pada acara Anjangsana

Dokumen terkait