BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Interpretasi Data
Begitu juga hasil perolehan posttest pada kelas eksperimen mencapai rata-rata lebih tinggi daripada rata-rata kelompok kontrol. Nilai rata-rata kelompok eksperimen sebesar 73,9 dan nilai rata-rata kelompok kontrol 60,6. Berdasarkan analisis data berupa uji normalitas dan homogenitas, diperoleh kesimpulan bahwa 2 kelompok tersebut berdistribusi normal dan homogen.
2. Hasil Uji Hipotesis
Pada pengujian hipotesis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar kimia yang signifikan antara siswa yang diberikan pembelajaran kooperatif menggunakan model NHT dengan menggunakan model STAD. Kelas eksperimen yang diberikan perlakuan model NHT lebih unggul dari kelas eksperimen yang diberikan perlakuan model STAD.
C. Pembahasan
Setelah dilakukan pengolahan data secara statistik diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen1 73,9 dan nilai rata-rata kelas eksperimen2 60,6 kemudian di uji dengan menggunakan uji “t”, diperoleh hasil thitung = 2,40 sedangkan nilai ttabel = 1,99. Maka diperoleh thitung > ttabel, maka Ho ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar kimia yang signifikan antara siswa diberikan pembelajaran kooperatif menggunakan model NHT dengan menggunakan model STAD. Untuk lebih jelasnya, nilai
grafik berikut ini.
Gambar 4.1 Sebaran Nilai Rata-rata
Hasil belajar yang diperoleh dimungkinkan dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah oleh faktor guru, siswa, serta metode pembelajaran. Dalam pembelajaran sains perlu memperhatikan tiga aspek yaitu produk. proses, serta nilai-nilai atau sikap. Dalam mengajar guru harus mengarahkan keaktifan belajar siswa untuk berpartisipasi aktif dalam menciptakan dan menumbuhkan situasi belajar siswa agar materi menjadi mudah dipahami dan mendapatkan hasil belajar siswa yang baik dan kondusif khususnya dalam bidang studi Kimia.
Model pembelajaran yang mungkin dapat membantu guru dalam proses pembelajaran adalah dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model NHT atau model STAD.
Dari analisis data awal diperoleh bahwa data berdistribusi normal, hal ini dilihat dari nilai rata-rata ulangan siswa sebelumnya maka dapat dikatakan bahwa kedua kelompok yaitu kelompok eksperimen1 dan kelompok eksperimen2 berangkat dari keadaan yang sama atau homogen. Kemudian kedua kelompok diberi perlakuan yang berbeda yaitu kelompok eksperimen1 diberi perlakuan dengan penggunaan pembelajaran kooperatif model NHT dan kelompok eksperimen2 diberi perlakuan dengan pembelajaran kooperatif model STAD. 0 10 20 30 40 50 60 70 80 E1 E2
pembelajaran kooperatif NHT dengan membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil dengan memberikan penomoran dan pemanfaatan LKS. Keunggulan model pembelajaran kooperatif NHT ini adalah optimalisasi partisipasi siswa dalam proses pembelajaran.
Pada tahap menyajikan materi guru memanfaatkan media flash menegenai laju reaksi. Setelah itu, guru membangkitkan rasa ingin tahu siswa dengan menampilkan gambar keadaan kendaraan yang disimpan dalam ruangan terbuka dan ruangan tertutup, dan mengajukan pertanyaan “Mengapa
mobil yang diparkir di garasi terbuka akan lebih cepat berkarat daripada
mobil yang diparkir di garasi tertutup?” Dengan pertanyaan ini, diharapkan siswa memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap konsep yang akan dipelajari sehingga mereka akan mendiskusikannya untuk memenuhi rasa ingin tahu mereka.
Tahap selanjutnya adalah guru mengajukan pertanyaan yang terdapat dalam LKS sesuai dengan penomoran yang telah ditentukan diawal pertemuan. Kemudian siswa diberi waktu untuk berpikir bersama dalam pengerjaan LKS. Siswa diberi kebebasan untuk mengerjakan LKS melalui diskusi dengan kelompoknya, bertanya dan sebagainya yang mendukung kerja kelompok sehingga siswa merasa senang dan termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Hal ini memudahkan siswa memahami dan mengingat kembali apa yang telah dipelajari karena pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa sendiri baik secara personal maupun sosial.
Pembelajaran yang dilaksanakan pada kelas eksperimen2 adalah dengan menggunakan model STAD. Pembelajaran model STAD meliputi pengajaran oleh guru berupa penyampaian materi-materi pembelajaran, belajar kelompok untuk mengerjakan LKS. Pada tahap penyajian materi pada kelas eksperimen2 sama dengan penyajian materi pada kelas eksperimen2 yaitu dengan media flash. Selanjutnya mereka melakukan diskusi untuk megerjakan LKS.
mandiri. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan apa saja yang telah diperoleh siswa selama belajar dalam kelompok. Hasil kuis digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disumbangkan dalam nilai perkembangan kelompok. Pemberian penghargaan kelompok berdasarkan pada rata-rata nilai perkembangan individu dalam kelompoknya.
Dengan tahap-tahap yang telah dilakukan guru dalam pembelajaran kooperatif model NHT dan STAD ini, dapat memebrikan siswa pemahaman mengenai laju reaksi, karena siswa dirangsang untuk berpartisipasi aktif dalam menciptakan dan menumbuhkan situasi belajar siswa agar materi menjadi mudah dipahami dan mendapatkan hasil belajar siswa yang baik dan kondusif.
Seperti yang diungkapkan purwanto, salah satu yang mempengaruhi hasil belajar adalah faktor raw input yang meliputi minat, tingkat kecerdasan, bakat, motivasi, kemampuan kognitif.1 Begitu pula dalam penelitian ini, hasil belajar yang dicapai siswa pada kelas eksperimen2 dipengaruhi oleh minat dan motivasi. Kurangnya minat dan motivasi dalam pembelajaran dapat mempengaruhi hasil belajar yang dicapai. Terutama pada saat proses pembelajaran kooperatif pada tahap diskusi kelompok STAD siswa cenderung melakukan keributan dalam kelompoknya sehingga hanya beberapa yang siswa yang melakukan diskusi dalam kelompoknya. Selain itu beberapa hal yang mempengaruhinya, diantaranya adalah langkah-langkah yang digunakan dalam model NHT pada pembelajaran kooperatif adalah penomoran, guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya tanpa memberitahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompoknya tersebut. Sehingga cara ini menjamin keterlibatan total semua siswa dan upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok. Dengan adanya keterlibatan total semua siswa tentunya akan berdampak positif terhadap motivasi belajar siswa.
1
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2007, h. 107
pertanyaan pada siswa sesuai dengan nomor yang telah ditentukan sehingga siswa tidak cepat bosan karena siswa mempunyai tanggungjawab masing-masing terhadap nomor yang telah diberikan sehingga diskusi tidak monoton. Sedangkan dalam pembelajaran STAD juga melakukan diskusi, seringkali dalam diskusi siswa hanya mengandalkan kemampuan teman yang lainnya. Hal ini menyebabkan siswa berpangku tangan terhadap teman kelompoknya.2
Dalam pembelajaran NHT penilaian berdasarkan kelompok saja3. Sedangkan dalam pembelajaran STAD penilaian dilakukan pada tahap kuis.4Hal ini menyebabkan tekanan pada siswa yang akan berpengaruh pada nilai. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata kedua kelompok. Rata-rata nilai kelompok eksperimen adalah73,9 termasuk diatas rata, sedangkan rata-rata nilai kelompok kontrol adalah 60,6 termasuk diatas rata-rata-rata-rata juga. Walaupun nilai dari kedua kelompok berada diatas rata-rata, namun rata-rata peningkatan hasil belajar kelompok eksperimen1 lebih besar daripada kelompok eksperimen2.
D. Keterbatasan Penelitian
Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih terdapat banyak keterbatasan. Adapun kekurangan dari penelitian ini, di antaranya yaitu kurang lamanya waktu penelitian dengan kapasitas materi yang banyak dan sarana/fasilitas yang ada sehingga penggunaan model kooperatif ini kurang optimal. Selain hal tersebut, penelitian ini adalah hal yang baru bagi penulis. Oleh karena itu, kemampuan penulis pun terbatas untuk meneliti secara lebih mendalam.
2
Zulfiani, dkk, Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2009), h.153
3 Ibid
4
61
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kimia dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT (numbered head together) lebih efektif daripada pembelajaran kimia dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (student team
achievement division)pada konsep laju reaksi kelas XII semester 1 MA
Al-Ahliyah tahun pelajaran 2010/2011. Karena pada pembelajaran NHT siswa dituntut untuk bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan kelompoknya sehingga setiap siswa dapat memahami materi yang dipelajari dan siswa dapat belajar mengutarakan pendapatnya sedangkan pada STAD siswa cenderung berpangku tangan pada kelompoknya sehingga banyak siswa yang mengandalkan beberapa teman dalam kelompok yang mempunyai prestasi akademik.
B. Saran
1. Hendaknya guru menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT untuk meningkatkan hasil belajar kimia siswa pada pokok laju reaksi.
2. Hendaknya penerapan pembelajaran kooperatif secara bertahap karena model pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan suatu model yang baru di MA Al-Ahliyah.
3. Hendaknya guru membuat perencanaan yang matang dalam memilih materi
dan mengalokasikan waktu dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe NHT sehingga materi lebih mudah diterima siswa dan waktu yang terbuang dapat diminimalkan.
62
4. Mengingat hasil penelitian ini masih sangat sederhana, sehingga apa yang didapat dari hasil penelitian ini bukanlah merupakan hasil akhir. Adanya keterbatasan dan kelemahan penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk diadakan penelitian lebih lanjut.
63 Jakarta, Rineka.
Dimyati dan Mudjiono, 2006, Belajar dan Pemblajaran, Jakarta: Rineka Cipta
Hamalik, Oemar. 2005, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan
Sistem, Jakarta, Bumi Aksara.
Hamalik, Oemar. 1995, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara. Ibrahim, Muslim. 2000, Pembelajaran Kooperatif, Surabaya, University Press, Isjoni, 2007, Cooperatif Learning, Bandung, Alfabeta.
Lie, Anita. 2002, Cooperatif Learning Mempraktikkan Cooperatif Learning di
Ruang-ruang kelas, Jakarta: Grasindo.
Ratih, dkk. 2004, Sains Kimia 2a, Jakarta: Bumi Aksara
Ruseffendi, 2005, Dasar-dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-Eksata
Lainnya, Bandung: Tarsito.
Saifudin, La Ode. 2005, Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dan Implementasinya Pada Materi Tegangan Permukaan Zat Cair di Tingkat SMP, Wakapendik,Vol.1, No,1
Sam S Warib, Kamus Lengkap 10 Milliard, Jakarta : Sandro Jaya.
Sanjaya, Wina. 2008, Kurikulum dan Pembelajaranjakarta, Kencana Prenada Media Group.
Sharan, Shlomo. 2009, Handbook of Cooperative Learning, Yogyakarta, Imperium.
Slavin, Robert. 2010, Cooperative Learning, Bandung, Nusa Media. Syah, Muhibbin. 2004, Psikologi Belajar, Jakarata, Raja Grafindo Persada. Syaodih, Nana. 2008, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Rosdakarya. Sofyan, Ahmad. dkk. 2006, Evaluasi Pembelajaran IP A Berbasis Kompetensi,
Jakarta, UIN Jakarta Press.
64
Belajar Matematika Siswa kelas V SDN, Jurnal Varia Pendidikan, Vol.20,
No.2
Pupuh F dan M sobry, 2009 Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman
Konsep Umum dan Konsep Islami, Bandung: Refika Aditama.
Purba, Michael. 2007, Kimia untuk SMA Kelas XI, Jakarta : Erlangga Purwanto, Ngalim. 1990, Psikologi Pendidikan,Bandung, Rosdakarya.
Walpole, E Ronald. 1988, Pengantar Statistik, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Zulfiani, dkk. 2009, Strategi Pembelajran SAINS, Jakarta, UIN Jakarta Press. Zuriah, Nurul. 2007, Metodologi Pendidikan Sosial dan Pendidikan
Teori-Aplikasi, Jakarta: Bumi Akasara
Journal of Research and Development in education-Volume 29, Number 4, Summer 1996
Journal of International Social Research, EFFECTS OF STUDENT TEAMS
ACHIEVEMENTDIVISIONS STRATEGYAND MA THEMATICS
KNOWLEGDE ON LEARNING OUTCOMES IN CHEMICAL
KINETICS,Volume 2/6, Winter 2009
Journal of Social Studies Research: Student Teams Achievement Division
http://fmdarticles.com/p/articles/mi_qa3823/is_199804/ai_n8783828/print Journal of Behavioral Education, The Effects of Numbered Heads Together with
and without an Incentive Package on the Science Test Performance of a
Diverse Group of Sixth Graders, volume 15, number 1, page 24-38 Maret
2006
International Journal of Science Education: The effectiveness of student team-achievement division (STAD)for teaching high school chemistry in the
United Arab Emirates, Volume
http://www.informaworld.com/smpp/title%7Edb=all%7Econtent=t713737 283%7Etab=issueslist%7Ebranches=25 - v2525, Issue 5 May 2003 , pages 605-624
65
Lampiran 1
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (Eksperimen1)
Mata Pelajaran : Kimia
Satuan Pendidikan : SMA/MA
Kelas/Semester : XI/I
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
Pertemuan ke- : 1
Standar Kompetensi : Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan
kimia, dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dan industri.
Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan pengertian laju reaksi dengan
melakukan percobaan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.
Indikator : 1. Menghitung konsentrasi larutan.
2. Membuat larutan dengan konsentrasi tertentu.
A. Tujuan Pemblajaran
1. Siswa dapat menghitung konsentrasi larutan.
2. Siswa dapat membuat larutan dengan konsentrasi tertentu.
B. Materi Ajar
Kemolaran
Kemolaran menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam liter larutan. Kemolaran dinyatakan dalam lambing M dan satuan mol L-1.
� =
�
Untuk sistem gas, V menyatakan volum gas (volum ruangan yang ditempati gas).
1. Pengenceran Larutan
+ air
Oleh karena pengencran tidak mengubah jumlah mol zat terlarut, maka n1 = n2 atau V1M1 = V2M2
2. Membuat larutan dengan kemolaran tertentu a. Pelarutan zat padat
Contoh :
Membuat 500 ml larutan NaOH 1 M dari Kristal NaOH murni. Prosdur penyiapan larutan melalui beberapa tahap sebagai berikut.
1. Menyiapakan alat dan bahan yang diperlukan, yaitu neraca, botol timbang, labu ukur 500 ml, batang pengaduk, kristal NaOH, dan aquades.
2. Menghitung jumlah NaOH yang diperlukan
Jumlah mol NaOH = 500 ml x 1 mmol mL-1
= 500 mmol = 0,5 mol Massa NaOH = 0,5 mol x 40 g mol-1
= 20 gram
3. Menimbang 20 gram kristal NaOH
4. Melarutkan NaOH itu dengan kira-kira 300 ml akuades dalam labu ukur 500 ml. Setelah kristal NaOH itu larut seluruhnya, ditambahkan lagi akuades hingga volum larutan tepat 500 ml.
b. Pengenceran larutan pekat
Kemolaran larutan pekat dapat ditentukan jika kadar dan massa jenisnya diketahui, yaitu dengan menggunakan rumus :
� =
�� 10 ������ �Dengan, M = kemolaran ρ = massa jenis Kadar = % massa Mm = massa molar C. Model pembelajaran
Teknik numbered head together (NHT)
Ceramah
D. Media pembelajaran
Spidol dan papan tulis
E. Langkah-langkah pembelajaran
Tahapan Kegiatan
Alokasi Waktu
Peranan Guru Peranan Siswa
Kegiatan awal
3’
7’
Fase I : Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Menciptakan lingkungan belajar, seperti berdoa dan salam
Menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dari materi yang akan dibahas
Memotivasi siswa dengan
menanyakan, apakah perbedaan larutan, zat terlarut, dan pelarut?
Brdoa dan menyiapkan alat dan bahan pelajaran
Siswa antusias untuk
menjawab pertanyaan
dengan mengacungkan
tangan dalam diskusi kelas Kegiatan
inti 30’ Fase II : Menyajikan informasi Menjelaskan materi pembelajaran mengenai pengertian kemolaran, serta menyediakan larutan dengan kemolaran tertentu
Memperhatikan dan
mencatat hal-hal penting
yang berkaitan dengan
konsep pembelajaran Bertanya atau memberikan pendapat mengenai hal-hal
yang berkaitan dengan
40’
Fase III : Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
Menerapkan pembelajaran
kooperatif teknik NHT, yaitu :
Membagi siswa menjadi 5
kelompok (terdiri dari 5-6 orang) dan member nomor (numbering)
Memberikan pertanyaan dalam
bentuk Lembar Kerja Siswa
mengenai pembelajaran yang
berhubungan dengan kemolaran :
Berapa ml air harus dicampur dengan 100 ml larutan NaOH 0,5 M sehingga menjadi 0,2 M ?
Fase IV : Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Menugaskan dan membimbing
siswa dalam melakukan diskusi
kelompok untuk menjawab
permasalahan yang diajukan
(head together)
Membimbing siswa untuk saling bekerja sama dan bertanggung
jawab terhadap tugas yang
diberikan
Bertanya kepada siswa dengan menyebutkan satu nomor dari tiap kelompok untuk melaporkan hasil diskusi (answering)
Secara teratur siswa duduk membentuk kelompok dan segera mlakukan diskusi
embelajaran kooperatif
teknik NHT yang berkaitan dengan kemolaran
Aktif melakukan diskusi
dalam memecahkan
permasalahn secara
kooperatif
Melakukan kerja sama
secara kondusif dan saling mendukungsesama anggota kelompok
Siswa yang disebutkan
nomornya menjawab
permasalahan yang
diajukan dan nomor yang lain yang sama dapat
memberikan argument
berdasarkan hasil diskusi kelompoknya
Kegiatan
akhir 10’ Fase V : Evaluasi Melakukan evaluasi dengan cara menyimpulkan dan memberikan
penjelasan kembali mengenai
konsep pembelajaran yang tepat berdasarkan hasil diskusi
Mengingatkan kepada siswa
Menyimpulkan hasil diskusi pembelajaran dengan tepat Mencatat dan mendengarkan dengan tertib
untuk mempelajari lagi konsep pembelajaran hari ini
Fase VI : Memberikan Penghargaan
Memberikan penghargaan terhadap anggota terbaik dalam kelompok
dan kelompok yang terbaik Siswa merasa antusias dan
bangga terhadap hasil yang dicapai dan berupaya untuk menjadi lebih baik lagi
F. Sumber belajar
Kimia SMA kelas XI penerbit Erlangga
Lembar Kerja Siswa
G. Penilaian
1. Penilaian performance dilakukan melalui pengamatan pada saat siswa melakukan kegiatan pembelajaran
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (Eksperimen1)
Mata Pelajaran : Kimia
Satuan Pendidikan : SMA/MA
Kelas/Semester : XI/I
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
Pertemuan ke- : 2
Standar Kompetensi : Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan
kimia, dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dan industri.
Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan pengertian laju reaksi dengan
melakukan percobaan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.
Indikator : 1. Menjelaskan pengertian laju reaksi.
2. Menganalisis faktor-faktor yang
mempengaruhi laju reaksi dengan percobaan. 3. Menafsirkan grafik dari data percobaan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
A. Tujuan Pemblajaran
1. Siswa dapat menjelaskan pengertian laju reaksi.
2. Siswa dapat Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi dengan percobaan.
3. Siswa dapat menafsirkan grafik dari data percobaan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
B. Materi Ajar
Laju Reaksi
Laju menyatakan seberapa cepat atau seberapa lambat suatu proses berlangsung. Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai laju
berkurangnya pereaksi atau laju terbentuknya produk. Laju reaksi dapat ditentukan melalui percobaan yaitu dengan mengukur banyaknya pereaksi yang dihabiskan atau banyaknya produk yang dihasilkan pada selang waktu tertentu. Berikut disajikan suatu hasil percobaan.
Mg + 2HCl → MgCl2 + H2 Waktu Volum H2 0 0 1 14 2 25 3 33 4 38 5 40 6 40
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi 1. Luas permukaan 2. Konsentrasi pereaksi 3. Tekanan 4. Suhu 5. Katalis C. Model pembelajaran
Teknik numbered head together (NHT)
Ceramah
Eksperimen
D. Media pembelajaran
Spidol dan papan tulis
E. Langkah-langkah pembelajaran
Tahapan Kegiatan
Alokasi Waktu
Peranan Guru Peranan Siswa
Kegiatan awal
3’
7’
Fase I : Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Menciptakan lingkungan belajar, seperti berdoa dan salam
Menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dari materi yang akan dibahas
Memotivasi siswa dengan
menanyakan, apakah yang kalian ketahui tentang laju reaksi kimia?
Brdoa dan menyiapkan alat dan bahan pelajaran
Siswa antusias untuk
menjawab pertanyaan
dengan mengacungkan
tangan dalam diskusi
kelas Kegiatan
inti 30’
40’
Fase II : Menyajikan informasi
Guru meminta siswa meriview
materi sebelumnya
Menjelaskan materi pembelajaran mengenai pengertian laju reaksi dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
Fase III : Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
Menerapkan pembelajaran
kooperatif teknik NHT, yaitu :
Guru meminta siswa untuk tetap
berada dalam kelompoknya
seperti pertemuan sbelumnya
Guru meminta siswa
menyiapakan alat dan bahan praktikum
Memberikan pertanyaan dalam
Memperhatikan dan
mencatat hal-hal penting yang berkaitan dengan konsep pembelajaran
Bertanya atau
memberikan pendapat
mengenai hal-hal yang
berkaitan dengan
pembelajaran
Secara teratur siswa
duduk membentuk
kelompok dan segera
mlakukan diskusi
embelajaran kooperatif
teknik NHT yang
berkaitan dengan laju
reaksi
Setiap kelompok
bentuk Lembar Kerja Siswa
mengenai pembelajaran yang
berhubungan dengan laju reaksi
Fase IV : Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Membimbing siswa melakukan
praktikum
Membimbing siswa untuk saling bekerja sama dan bertanggung
jawab terhadap tugas yang
diberikan
Bertanya kepada siswa dengan menyebutkan satu nomor dari tiap kelompok untuk melaporkan hasil diskusi (answering) bahan praktikum Siswa melakukan praktikum dalam kelompoknya masing-masing
Siswa mengamati hasil
praktikum dan
menganalisisnya
kemudian menjawab
pertanyaan yang terdapat dalam lembar kerja siswa
Melakukan kerja sama secara kondusif dan saling mendukungsesama
anggota kelompok
Siswa yang disebutkan
nomornya menjawab
permasalahan yang
diajukan dan nomor yang lain yang sama dapat
memberikan argument
berdasarkan hasil diskusi kelompoknya
Kegiatan
akhir 10’ Fase V : Evaluasi Melakukan evaluasi dengan cara menyimpulkan dan memberikan
penjelasan kembali mengenai
konsep pembelajaran yang tepat berdasarkan hasil diskusi
Mengingatkan kepada siswa
untuk mempelajari lagi konsep pembelajaran hari ini
Menyimpulkan hasil diskusi pembelajaran dengan tepat Mencatat dan mendengarkan dengan tertib
Fase VI : Memberikan Penghargaan
Memberikan penghargaan terhadap anggota terbaik dalam kelompok dan kelompok yang terbaik
Siswa merasa antusias dan
bangga terhadap hasil
yang dicapai dan berupaya untuk menjadi lebih baik lagi
F. Sumber belajar
Kimia SMA kelas XI penerbit Erlangga
Lembar Kerja Siswa
G. Penilaian
1. Penilaian performance dilakukan melalui pengamatan pada saat siswa melakukan kegiatan pembelajaran
2. Kognitif
Tugas kelompok : laporan praktikum
3. Afektif
No Aspek yang dinilai Skor
1 Tanggung jawab
2 Kerja sama
3 Disiplin
Jumlah Skor
4. Psikomotorik
No Aspek yang dinilai Skor
1 Persiapan alat dan bahan
2 Keterampilan merangkai alat
3 Kesesuaian prosedur percobaan
4 Kebersihan
Rentang skor : 1 = sangat kurang; 2 = kurang; 3 = cukup; 4 = baik; 5 = baik sekali
Nilai rata-rata = (jumlah skor/20) x 100
Nilai Afektif : A : 80-100 B : 68-79 C : 56-67 D : ≤ 55
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (Eksperimen1)
Mata Pelajaran : Kimia
Satuan Pendidikan : SMA/MA
Kelas/Semester : XI/I
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
Pertemuan ke- : 3
Standar Kompetensi : Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan
kimia, dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dan industri.
Kompetensi Dasar : Memahami teori tumbukan (tabrakan) untuk
menjelaskan faktor-faktor penentu laju dan orde reaksi, dan terapannya dalam kehidupan shari- hari.
Indikator : 1. Menjelaskan pengaruh konsentrasi, luas
permukaan, suhu dan katalis terhadap laju reaksi berdasarkan teori tumbukkan.
2. Menjelaskan pengertian peranan katalis dan energi aktivasi dengan menggunakan diagram.
A. Tujuan Pemblajaran
1. Siswa dapat menjelaskan pengaruh konsentrasi, luas permukaan, suhu dan katalis terhadap laju reaksi berdasarkan teori tumbukkan
2. Siswa dapat Menjelaskan pengertian peranan katalis dan energy aktivasi dengan menggunakan diagram
B. Materi Ajar
Pengaruh dari berbagai faktor terhadap laju reaksi dapat dijelaskan dengan teori tumbukan. Menurut teori ini, suatu reaksi berlangsung sebagai hasil tumbukan antar partikel pereaksi. Akan tetapi tidak setiap tumbukan menghasilkan reaksi melainkan hanya tumbukan
antar partikel yang memiliki energi yang cukup serta arah tumbukan yang tepat. Jadi laju reaksi tergantung pada tiga hal berikut :
1. Frekuensi tumbukan
2. Energi partikel pereaksi
3. Arah tumbukan
Tumbukan yang menghasilkan reaksi, disebut tumbukan efektif. Energi minimum yang harus dimiliki oleh partikel pereaksi sehingga