HASIL PENELITIAN
C. Interpretasi Data
Sebagaimana penjelasan di atas, maka penulis dapat menjabarkan peranan orang tua dalam menanamkan sikap keberagamaan anak usia sekolah dasar dalam lingkungan keluarga secara rinci yaitu :
1. Peranan orang tua dalam menanamkan sikap keberagamaan anak usia sekolah dasar
Keluarga adalah lingkungan pendidikan yang pertama sebelum sekolah dan memegang peranan penting dalam membentuk sikap keberagamaan anak. Sikap keberagamaan anak banyak ditentukan oleh lingkungan keluarga bila pada masa anak orang tua mengabaikan tanggung jawabnya dalam pendidikan yang bernuansa Islam maka dikemudian hari tampak kegagalannya dalam sikap keberagamaan pada anaknya
Dalam penelitian yang penulis lakukan di lingkungan RT 01/03 Meruyung, bersumber dari jawaban angket , wawancara serta pengamatan langsung diketahui bahwa kesadaran orang tua sebagai pendidik pertama dan utama dalam menanamkan sikap keberagamaan pada anak seperti menanamkan ajaran agama, memberikan nasehat yang baik kepada anak, mengajarkan anak tata cara shalat, mengajarkan anak membaca al-qur’an, menberikan hadiah kepada anak yang rajin menjalankan ibadah, menegur anak yang lalai menjalankan ibadah, menegur anak bila tidak sopan terhadap seseorang dan mengajak anak mengikuti kegiatan hari besar Islam, masih sangat rendah. Hal tersebut terbukti dari jawaban responden tentang menanamkan ajaran agama di dalam keluarga, yang mayoritas menjawab kadang-kadang yaitu 42,5%. Begitu pula orang tua dalam memberikan nasehat
kepada anaknya, kebanyakan responden menjawab kadang-kadang sebanyak 67,5 %, begitu juga dengan memberikan pengajaran kepada anak tentang tata cara shalat. Kebanyakan responden menjawab kadang-kadang sebanyak 50%. terlebih mengajarkan anak membaca al-qur’an, dari jawaban responden 62,5% menjawab tidak pernah. Serta 70% responden tidak pernah memberikan pujian kepada anak yang selalu rajin beribadah kepada Allah SWT. Begitu pula dengan orang tua yang menegur anak yang lalai beribadah, sebagaian besar jawaban responden kadang-kadang sebanyak 60%, serta mengur anak yang tidak sopan terhadap seseorang, kebanyakan responden menjawab kadang-kadang sebanyak 55 % dan mengajak anak mengikuti kegiatan hari besar Islam, kebanyak responden menjawab kadang-kadang 67,5%. Hanya pada mengikut sertakan anak pada lembaga pendidikan TPA saja yang terlihat baik, kebanyakan responden menjawab selalu 55%.
Dari hasil wawancara yang penulis lakukan kepada salah satu tokoh, menyatakan bahwa kesadaran orang tua tentang peran dan tanggung jawab mereka sangat rendah. Orang tua lebih sibuk dengan urusan mereka, baik dalam hal mencarai nafkah ataupun yang lainnya. Mayoritas orang tua disana sebagai wiraswasta yang memilki jam kerja yang tidak menentu serta pegawai yang pergi pada pagi hari, dan pulang malam hari. Disamping kesibukan tersebut, pendidikan juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Karena kebanyakan para ibu yang memiliki waktu lebih banyak di rumah tidak mampu menjadi seorang ibu yang sesungguhnya, yang mampu membimbing, mengarahkan serta menjadi suritauladan bagi anak-anaknya. 2. Keteladanan orang tua
Masalah keteladanan menjadi faktor penting dalam hal baik buruknya anak, jika pendidikan jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama, maka anak akan tumbuh menjadi seorang yang jujur, berakhlak mulia, berani bersikap, menjauhkan dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama
Keteladanan orang tua merupakan hal yang paling penting dalam mempersiapkan dan membentuk moral spiritual dan sosial anak. Hal ini dikarenakan keteladanan merupakan contoh yang terbaik dalam pandangan anak yang akan ditirunya dalam tindak tanduknya, dan tata santunnya.
Dari hasil penelitian yang penulis lakukan di lingkungan RT 01/03 Meruyung diketahui bahwa upaya orang tua menanamkan sikap keberagamaan terutama pada aspek keteladanan ibadah orang tua masih sangat rendah. Hal tersebut tergambar dari hasil jawaban responden dalam memberikan keteladanan kepada anak terutama pada aspek ibadah, sebagaian besar menjawab kadang-kadang sebanyak, 62,5%. Padahal memberikan keteladanan terutama pada aspek ibadah seperti membiasakan mengerjakan shalat, membaca al-quran merupakan faktor yang terpenting yang harus dilakukan oleh orang tua, jika itu terabaikan maka sikap keberagamaan seorang anak tidak akan tebentuk.
3. Ibadah keseharian anak dalam kehidupan sehari-hari seperti shalat, mengaji, puasa serta membiasakan berdo’a setiap hendak dan selesai melaksanakan kegiatan.
Mengerjakan ibadah merupakan kewajiban setiap individu muslim. Bahkan Allah SWT telah menegaskan tempat bagi manusia yang taat adalah surga dengan segala kenikmatan di dalamnya, sedangkan bagi orang yang lalai dan tidak mengerjakan apa yang telah diperintahkan maka bagi mereka siksa yang sangat pedih yaitu neraka. Bagi anak usia sekolah dasar untuk memahami hal-hal tersebut sangatlah riskan kerena mereka masih dalam keadaan yang belum matang dalam berpikir. Sehingga harus senantiasa dibimbing dan diarahkan agar dapat melekat pada jati diri mereka sikap dan pemahaman agama yang sebenarnya.
Dengan derasnya kemajuan zaman dewasa ini banyaknya acara hiburan yang terkadang tanpa disadari dapat menghilangkan nilai-nilai keagamaan bagi anak, tentu akan membuat sikap keberagamaan anak semakin jauh. Terlebih dengan keadaan lingkungan yang tidak mendukung untuk terciptanya nuansa islami akibat pengaruh wasternisasi yang merebak hingga ke pelosok
desa. Untuk itu dituntut peran aktif orang tua untuk selalu menanamkan sikap keberagamaan kepada anak
Lingkungan RT 01/03 Meruyung Kecamatan Limo Kota Depok merupakan wilayah yang berada dipinggir kota Jakarta. Sehingga kebudayaan yang berasal dari luar sangat cepat terserap oleh masyarakat. Akibatnya adalah norma-norma masyarakat yang dahulu dikenal sangat religi, kini mengalami penurunan. Hal tersebut terbukti dari hasil jawaban responden tentang melakukan diskusi tentang pentingnya beribadah kepada Allah kebanyakan responden menjawab kadang-kadang sebanyak 77,5%, selanjutnya berdiskusi mengenai Allah SWT akan memberikan ganjaran surga bagi orang yang taat beribadah, kebanyakan responden menjawab tidak pernah sebanyak 70%. Begitu juga dengan membiasakan anak melaksanakan shalat tepat waktu, kebanyakan responden menjawab kadang-kadang sebanyak 52,5%. Selanjutnya mengajak shalat berjama’ah, sebagaian responden menjawab kadang-kadang sebanyak 62,5%. Selanjutnya membiasakan anak berdo’a setelah mengerjakan shalat, kebanyakan responden menjawab kadang-kadang sebanyak 62,5%. Selanjutnya orang tua membiasakan anak mengaji setelah mengerjakan shalat magrib, kebanyakan responden menjawab tidak pernah sebanyak 67,5%. Selanjutnya membiasakan anak berpuasa pada bulan ramadhan, kebanyakan responden menjawab sering sebanyak 52.5%. selanjutnya membiasakan ank membaca basmallah ketika hendak memulai pekerjaan sebagian besar responden menjawab tidak pernah sebanyak 52,5%. Selanjutnya membiasakan anak mengucapkan Alhamdulillah setelah selesai mengerjakan pekerjaan kebanyakan responden menjawab tidak pernah sebanyak 50%. Dan membiasakan bertawaqal setelah mengerjakan pekerjaan, sebagian besar responden menjawab tidak pernah sebanyak 75%.
Berdasarkan analisi dan interpretasi yang penulis ungkapkan tersebut dimuka, lemahnya peranan orang tua dalam menanamkan sikap keberagamaan anak usia sekolah dasar. adapun faktor-faktor yang mempengaruhi menurunya sikap keberagamaan anak antara lain:
a. Kuarangnya kesadaran dari orang tua akan pentingnya menanamkan sikap keberagamaan anak sejak dini
Alasan penulis, setelah memperhatikan data-data yang ada, bahwa peranan orang tua dalam menanamkan sikap keberagamaan anak sangat lemah. Hal tersebut terbukti dari tabel 8 sampai tabel 16. Seperti, peranan orang tua untuk menanamkan ajran agama di dalam keluarga, memberikan nasehat yang baik kepada anak, mengajarkan anak tata cara shalat, mengajarkan anak membaca al-qur’an, menberikan hadiah kepada anak yang rajin menjalankan ibadah, menegur anak yang lalai menjalankan ibadah, menegur anak bila tidak sopan terhadap seseorang dan mengajak anak mengikuti kegiatan hari besar Islam.
Padahal menanamkan sikap keberagamaan merupakan tugas dan tanggung jawab orang tua, agar anak dewasa telah terbiasa menjalankan aktifitas agamanya.
b. Kurangnya keteladanan yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya, terutama pada aspek ibadah kepada Allah SWT.
Berdasarkan data yang telah diperoleh, penulis mengambil kesimpulan dari uraian diatas telah jelas bahwasannya orang tua sebagai pendidik agama dalam memberikan contoh yang baik dan teladan dalam agama pada anaknya masih lemah, ini bisa dilihat dari tabel 17 yaitu orang tua kadang-kadang mencontohkan anaknya dalam beribadah kepada Allah SWT, dengan nominal terbesar prosentasenya 62,5 %.
Hal tersebut terbukti dari kurangnya orang tua memberikan contoh kepada anaknya untuk melaksanakan ibadah dengan sebaik-baiknya. Padahal keteladanan merupakan faktor yang sangat penting dalam hal baik buruknya anak, jika anak diberikan contoh yang baik seperti selalu melaksankan printah Allah SWT seperti shalat, mengaji, berkata jujur, maka anak akan mengikuti kebiasaan yang dilakukan oleh orang tuanya.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Dari seluruh rangkaian proses penelitian yang penulis lakukan, peranan orang tua dalam menanamkan sikap keberagamaan anak usia sekolah dasar di lingkungan RT 01/03 Kelurahan Meruyung Kecamatan Limo Kota Depok. penulis dapat menyimpulkan bahwa:
1. Peranan orang tua dalam menanamkan sikap keberagamaan anak usia sekolah dasar, masih sangat rendah. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil jawaban responden berupa angket yang sebagian besar orang tua menjawab kadang-kadang. ini mengindikasikan bahwa kurangnya kesadaran dari orang tua di lingkungan RT 01/03 Kelurahan Meruyung Kecamatan Limo Kota Depok sebagai pendidik pertama dan yang paling utama dalam menanamkan sikap keberagamaan anak. Dikatakan pendidikan utama karena pendidikan dari tempat ini mempunyai pengaruh besar bagi kehidupan anak kelak dikemudian hari, karena perannya sangat penting maka orang tua harus benar–benar menyadarinya sehingga mereka dapat memerankannya sebagaimana mestinya.
2. Setidaknya terdapat beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi. menurut dari beberapa pendapat hasil dari wawancara penulis dengan beberapa tokoh masyarakat antara lain:
a. Kurangnya kesadaran dari orang tua akan pentingnya menanamkan sikap keberagamaan anak seperti menanamkan ajaran agama dalam keluarga, mengajarkan anak untuk sholat, mengaji, hal ini terbukti dengan rendahnya peranan orang tua untuk menanamkan ajaran agama di dalam keluarga, memberikan nasehat yang baik kepada anak,
mengajarkan anak tata cara shalat, mengajarkan anak membaca al-qur’an, menberikan hadiah kepada anak yang rajin menjalankan ibadah, menegur anak yang lalai menjalankan ibadah, menegur anak bila tidak sopan terhadap seseorang dan mengajak anak mengikuti kegiatan hari besar Islam,meluangkan waktu duduk bersama dengan orang tua mereka saat menonton tayang hiburan di televisi
b. Kurangnya keteladanan yang dberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya, terutama pada aspek ibadah kepada Allah SWT. Hal tersebut terbukti dari kurangnya orang tua memberikan contoh kepada anaknya untuk melaksanakan ibadah dengan sebaik-baiknya. Padahal keteladanan merupakan faktor yang sangat penting dalam hal baik buruknya anak, jika anak diberikan contoh yang baik seperti selalu melaksankan printah Allah SWT seperti shalat, mengaji, berkata jujur, maka anak akan mengikuti kebiasaan yang dilakukan oleh orang tuanya.
B Saran
Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan, ada beberapa hal yang perlu disarankan untuk lebih meningkatkan perhatian orang tua dalam menanamkan sikap keberagamaan anak sebagai berikut:
1. Bagi orang tua agar lebih meningkatkan dalam menanamkan sikap keberagamaan anak agar anaknya menjadi baik menurut ajaran agama Islam, karena anak adalah infestasi yang sangat berharga kelak dikemudian hari, kalau semenjak kecil anak sudah ditanamkan sikap keberagamaan yang baik seperti dengan melakukan pengajaran agama dengan melalui pembiasaan dan contoh yang baik kepada anak, maka dewasa anak akan terbiasa untuk melakukan kewajiban sebagai manusia yang beragama.
2. Tokoh masyarakat, ketua lingkungan dan pengurusnya, harus lebih giat lagi memperhatikan kondisi masyarakat, terutama tentang peran orang tua
67
dalam menanamkan sikap keberagamaan anak, hal tersebut bisa dilakukan dengan cara mengadakan pertemuan warga melalui pengajian atau penyuluhan-penyuluhan. Agar bisa tercipta lingkungan yang religius, yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama yang diyakininya.
2003
Arikunto, Suharsini, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rinike Cipta,1998
Arifin, Psikologi Dakwah, Jakarta: Bumi Aksara, 1994
Arifin, Muzzayin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan Dan Penyuluhan Agama, Jakarta: PT Golden Terayon Press, 1991
Departemen Agama RI, Al-qur’an Dan Terjemah, Bandung: CV Jumanatul ‘ali-ART, 2005
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 1988
Daradjat, Zakiah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara , 2006
--- Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental, Jakarta : PT Toko Gunung Agung, 2001
--- Kesehatan Mental, Jakarta: Toko Gunung Agung, 2001
--- Pendidikan Islam Dalam Keluarga Dan Sekolah, Jakarta: CV Ruhama, 1993
Djuwaeli, Irsyad Pembaharuan Kembali Pendidikan Islam, Ciputat: Karsa Utama Mandiri dan PB Mathla’ul Anwar,1998
Harun, Yusuf, Muhamad, Pendidikan Anak Dalam Islam, Jakarta: Yayasan Al-Sofwa, 1997
Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2007
Munawwir, Warson, Ahmad, Kamus Al- Munawwir Arab – Indonesia Terlengkap, Surabaya : Pustaka progressif, 1997
Mazhahiri, Husain Pintar Mendidik Anak ( Panduan Lengkap Bagi Orang Tua, Guru, dan masyarakat berdasarkan Ajaran Islam ), Jakarta : PT Lentera Basritama, 1999
Ramayulius dkk., Pendidikan Islam Dalam Rumah Tangga, Jakarta: Kalam Mulia,1987
Sabri, Alisuf, Pengantar Psikologi Umum Dan Perkembangan, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1993
--- Pengantar Psikologi Umum, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2001 --- Ilmu Pendidikan, Jakarta : CV. Pedoman Ilmu Jaya, 1999,
Sunarto, Ahmad, dkk., Tarjamah Shahih Bukhari, Semarang : CV, Asy- Syifa, 1993
Sokanto, Soejono Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Press, 1982 Sarwono, Wirawan, Sarlito Teori-Teori Psikologi Sosial, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2000
Thoha, Chabib, Muhamad, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta : Pustaka Belajar, 1996
Undang–undang RI No. 20, Sistem Pendidikian Nasional, Jakarta : PT. Kloang Putra Timur, 2003
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia,
Jakarta: Balai Pustaka, 2002.
Purwanto, Ngalim, Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1995 Panuju, Panut, Psikologi Remaja, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999
Proyek Pembinaan Prasarana Dan Perguruan Tinggi Agama/IAIN di Jakarta,
Metodologi Pengajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Direktorat Jendral Pembinaan dan Kelembagaan Agama Islam, 1984
Poerwadarmanita, W.J.S Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: PN. Balai Pustaka, 1985
Petunjuk
1. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar dan sungguh-sungguh.
2. Berilah tanda silang pada salah satu jawaban yang di anggap menurut anda betul.
1. Apakah bapak/ibu senantiasa menanamkan ajaran agama di dalam keluarga?
a. Selalu c. Kadang-kadang b. Sering d. Tidak pernah
2. Apakah bapak/ibu senantiasa memberikan nasehat kepada anak?
a. Selalu c. Kadang-kadang b. Sering d. Tidak pernah
3. Apakah bapak/ ibu menegur bila anak lalai dalam menjalankan ibadah?
a. Selalu c. Kadang-kadang b. Sering d. Tidak pernah
4. Apakah Bapak/Ibu senantiasa memberikan perhatian terhadap perilaku anak?
a. Selalu c. Kadang-kadang b. Sering d. Tidak pernah 5. Apakah Bapak/Ibu senantiasa memberikan sauritauladan
kepada anak ?
a. Selalu c. Kadang-kadang b. Sering d. Tidak pernah
6. Apakah Bapak/Ibu sentiasa memberikan hadiah kepada anak yang taat dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT?
a. Selalu c. Kadang-kadang b. Sering d. Tidak pernah 7. Apakah Bapak/Ibu senantiasa mengarahkan bila anak
melakukan perbutan yang tidak baik?
a. Selalu c. Kadang-kadang b. Sering d. Tidak pernah
9. Apakah Bapak/Ibu senantiasa membatasi waktu anak untuk bermain di luar rumah?
a. Selalu c. Kadang-kadang b. Sering d. Tidak pernah
10.Apakah bapak/Ibu senantiasa mematikan televisi pada waktu-waktu shalat ?
a. Selalu c. Kadang-kadang b. Sering d. Tidak pernah 11.Apakah Bapak/Ibu senantiasa menghukum anak yang
menonton televisi pada waktu shalat ?
a. Selalu c. Kadang-kadang b. Sering d. Tidak pernah
12.Apakah bapak/Ibu senantiasa berdiskusi tentang pentingnya melaksanakan ibadah kepada Allah SWT ?
a. Selalu c. Kadang-kadang b. Sering d. Tidak pernah 13.Apakah Bapak/Ibu senantiada berdiskusi bahwa Allah akan
memberikan ganjaran syurga bagi manusia yang taat kepada-Nya ?
a. Selalu c. Kadang-kadang b. Sering d. Tidak pernah 14.Apakah Bapak/Ibu senantiasa mengajak anak untuk shalat
berjamaah seperti waktu shalat maghrib atau isya ? a. Selalu c. Kadang-kadang b. Sering d. Tidak pernah 15.Apakah Bapak/Ibu senantiasa membiasakan anak untuk
berdo’a setelah shalat ?
a. Selalu c. Kadang-kadang b. Sering d. Tidak pernah
16.Apakah Bapk/Ibu senantiasa membiasakan anak untuk mengaji setelah shalat maghrib ?
a. Selalu c. Kadang-kadang b. Sering d. Tidak pernah
18.Apakah Bapak/Ibu senasntiasa membiasakan anak untuk mengerjakan puasa pada bulan ramadhan ?
a. Selalu c. Kadang-kadang b. Sering d. Tidak pernah
19.Apakah Bapak/Ibu senantiasa membiasakan anak untuk berdoa setiap melakukan pekerjaan ?
a. Selalu c. Kadang-kadang b. Sering d. Tidak pernah
20.Apakah Bapk/Ibu senantiasa memberikan suritauladan yang baik kepada anak ?
a. Selalu c. Kadang-kadang b. Sering d. Tidak pernah
Keberagamaan Anak Usia Sekolah Dasar Responden : Ahmad Fauzi
Tempat Wawancara : Di Kediaman Ahmad Fauzi RT 01/03 Meruyung, Limo, Depok
Pertanyaan :
1. Menurut bapak bagaimana situasi keberagamaan anak dewasa ini?
2. Upaya apa saja yang bapak lakukan dalam menanamkan sikap keberagamaan anak?
3. Apakah bapak senantiasa mengajak anak untuk melaksanakan shalat berjama’ah?
4. Apakah bapak senantiasa membiasakan anggota keluarga mengaji setelah melaksanakan shalat magrib?
Tanggal : 7 April 2010
Responden : Bapak Ahmad Fauzi
Tempat : Di Rumah Ahmad Fauzi RT 01/03 Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo Kota Depok.
1. Sejauh ini bisa dibilang baik-baik saja, mengingat ada lembaga-lembaga Islam seperti TPA dan Madrasah yang ada lingkungan ini, hal tersebut sangat membantu dalam membentuk sikap keberagamaan anak. Setidaknya bagi orang tua yang memiliki pengathuan agama yang kurang.
2. Upaya yang saya lakukan dalam, menanamkan sikap keberagamaan anak hanya sebatas menyekolahkannya dilembaga Islam seperti mensekolahkannya pada Madrsasah yang ada
3. Hal tersebut jarang saya laksanakan mengingat terlalu sibuknya kegiatan saya lakukan, pergi pagi pulang malam untuk mencari nafkah bagi keluarga.
4. Hal tersebut tidak pernah saya lakukan, mengenai pendidikan agama anak saya serahkan kepada TPA, yang ada dilingkugan ini.
5. saya selalu memberikan contoh yang baik kepada anak-anak saya, dengan selalu menberikan contoh yang baik kepada anak-anak saya seperti kejujuran.
Narasumber