• Tidak ada hasil yang ditemukan

Interpretasi FMEA

Dalam dokumen BAB 2 LANDASAN TEORI (Halaman 28-35)

2.12 FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) .1 Sejarah dan Definisi FMEA

2.12.5 Interpretasi FMEA

Kegagalan terjadi ketika suatu produk atau proses tidak bekerja sebagaimana mestinya atau beberapa bagiannya tidak berfungsi saat penggunaan. Sesederhana apapun suatu produk atau proses tetap mempunyai peluang untuk mengalami kegagalan. Kemungkinan suatu produk atau proses dapat gagal disebut kecenderungan gagal (Failure Mode). Setiap kecenderungan kegagalan memiliki efek yang potensial, dan

beberapa efek lebih sering terjadi dibanding yang lainnya.

Prinsip dasar FMEA adalah mengidentifikasi dan mencegah kegagalan potensial sampai ke tangan pelanggan. Untuk melakukannya diperlukan beberapa asumsi yang membantu dalam memprioritaskan tindakan korektif terhadap proses atau design demi mencegah kegagalan. Prioritas suatu kegagalan dan efeknya ditentukan oleh tiga faktor :

‐ Severity (keseriusan) .

Occurence (keseringan) . 

‐ Detection (pendeteksian).

‐ Severity (keseriusan), yaitu konsekuensi dari suatu kegagalan yang seharusnya terjadi.

Tabel 2.2 Rating Severity

Ranking Kriteria Verbal

1

Neglible Severity, kita tidak perlu memikirkan akibat ini akan

berdampak pada kinerja produk. Pengguna akhir tidak akan memperhatikan kecacatan atau kegagalan ini.

2 3

Mild Severity, akibat yang ditimbulkan hanya bersifat ringan,

4 5 6

Moderate Severity, pengguna akhir akan merasakan akibat penurunan

kinerja atau penampilan namun masih berada dalam batas toleransi.

7 8

High Severity, pengguna akhir akan merasakan akibat buruk yang

tidak dapat diterima, berada di luar batas toleransi. 9

10

Potential Safety Problem, akibat yang ditimbulkan adalah sangat

berbahaya dan bertentangan dengan hukum.

Catatan : Tingkat severity berbeda beda tiap produk, oleh karena itu pembuatan rating disesuaikan dengan proses dan berdasarkan pengalaman dan pertimbangan rekayasa (engineering judgement)

   

Occurence (keseringan), yaitu frekuensi terjadinya kegagalan untuk tiap modus

kesalahan. 

Tabel 2.3 Rating Occurrence

Ranking Kriteria Verbal Probablitas Kegagalan

1

Tidak mungkin penyebab ini mengakibatkan kegagalan

1 dalam 1000000

2 3

Kegagalan akan jarang terjadi 1 dalam 20000 1 dalam 4000

4 5 6

Kegagalan agak mungkin terjadi 1 dalam 1000 1 dalam 400

7 8

Kegagalan adalah sangat mungkin terjadi

1 dalam 40 1 dalam 20 9

10

Dipastikan bahwa kegagalan akan terjadi

1 dalam 8 1 dalam 2 Catatan : probabilitas kegagalan berbeda beda tiap produk, oleh karena itu pembuatan rating disesuaikan dengan proses dan berdasarkan pengalaman dan pertimbangan rekayasa (engineering judgement)

‐ Detection (pendeteksian), yaitu probabilitas dari kegagalan yang dapat di deteksi sebelum dampak dari efeknya terjadi dan disadari.

Tabel 2.4 Rating Detectability

Ranking Kriteria Verbal

Tingkat Kejadian Penyebab

1

Metode pencegahan atau deteksi sangat efektif. Tidak ada kesempatan bahwa penyebab akan muncul lagi.

1 dalam 1000000

2 3

Kemungkinan bahwa penyebab itu terjadi adalah sangat rendah.

1 dalam 20000 1 dalam 4000 4

5 6

Kemungkinan penyebab bersifat moderat, Metode deteksi masih memungkinkan kadang kadang penyebab itu terjadi.

1 dalam 1000 1 dalam 400

1 dalam 80 7

8

Kemungkinan bahwa penyebab itu masih tinggi. Metode pencegahan atau deteksi

1 dalam 40 1 dalam 20

kurang efektif, karena penyebab masih berulang lagi

9 10

Kemungkinan bahwa penyebab itu terjadi sangat tinggi. Metode deteksi tidak efektif. Penyebab akan selalu terjadi

1 dalam 8 1 dalam 2

Catatan : tingkat kejadian penyebab berbeda beda tiap produk, oleh karena itu pembuatan rating disesuaikan dengan proses dan berdasarkan pengalaman dan pertimbangan rekayasa (engineering judgement)

Cara untuk menentukan komponen tersebut berdasarkan pedoman kriteria resiko, dimana pendekatan secara kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan secara kualitatif dilakukan berdasarkan perilaku komponen teoritis (yang diharapkan). Pedoman secara kuantitatif banyak digunakan karena lebih tepat dan spesifik karena menggunakan data aktual, data statistical process control (SPC), data historis atau data pengganti untuk

evaluasinya. Berikut adalah tabel pedoman kriteria penilaian proses menurut Stamatis (2003, p173):

Tabel 2.5 Pedoman Kriteria Untuk Penilaian Proses

Jika Maka digunakan Pilihan

Proses dalam pengawasan SPC

Data statistik: data kehandalan, process capability, distribusi

aktual, model matematis, simulasi

Data aktual atau CPK

Proses sama dengan yang lainnya atau terdapat data

historis

Data statistik dari salah satu system pengganti: distribusi aktual. Data

kehandalan, proses

capability, model

matematis, simulasi

Data aktual atau CPK

Tabel 2.6 Pedoman Kriteria Untuk Penilaian Proses (lanjutan)

Jika Maka digunakan Pilihan

Sejarah kegagalan tersedia dalam desainnya atau part

penggantinya

Data historis didasarkan pada kehandalan, proses aktual, distribusi aktual,

modek matematika, simulasi, data kumulatif

Data aktual dan jumlah kumulatif dari

kesalahan

Proses masih baru dan tidak tersedia perhitungan tipe

data

Keputusan tim Kriteria subjektif, penggunaan konsensus

tim yang konservatif

Pengurusan kriteria bisa beragam dan tidak ada standar baku dalam penggunaannya. Beberapa organisasi yang telah menerapkan FMEA menyesuaikan skala FMEA dengan kondisi yang ada. Ada dua macam pengurutan peringkat yang umum digunakan saat ini yaitu skala 1-5 dan skala 1-10. Skala 1-5 bersifat terbatas,

kurang sensitif dan akurat untuk jumlah yang spesifik dan biasanya digunakan untuk

service FMEA. Skala 1-10 paling banyak dianjurkan karena mudah dalam interpretasi,

akurat dan presisi terhadap jumlah data. Dengan menggunakan data dan pengetahuan tentang proses atau produk, setiap kecenderungan kegagalan potensial dan efeknya masing-masing dirata-ratakan dalam tiga faktor tersebut (Severity, Occurence, Detection) dengan skala 1-10.

RPN atau Risk Priority Number, didapatkan dengan mengalikan rata-rata ketiga

faktor tersebut (S x O x D). RPN biasa digunakan untuk mengurutkan kebutuhan akan tindakan perbaikan untk menghilangkan atau mengurangi kecenderungan kegagalan potensial. Kecenderungan kegagalan dengan RPN tertinggi harus mendapat perhatian lebih dulu, meskipun perhatian khusus juga harus diberikan disaat derajat keseriusannya suatu fungsi juga tinggi (9 atau 10).

Disaat tindakan rekomendasi telah diambil atau diimplementasikan, maka RPN yang baru ditentukan dengan mengevaluasi ulang urutan Severity, Occurence dan Detection. Nilai RPN yang baru ini disebut Resulting RPN. Tindakan perbaikan dan

peningkatan harus dilakukan berkesinambungan sampai hasil RPN merupakan keluaran dengan tingkat yang dapat diterima untuk semua kecenderungan kegagalan potensial. Prinsip dan langkah-langkah yang mendasari semua jenis FMEA adalah sama secara umum meskipun tujuannya berbeda.

Dalam dokumen BAB 2 LANDASAN TEORI (Halaman 28-35)

Dokumen terkait