• Tidak ada hasil yang ditemukan

Interpretasi Hasil Analisis Regresi Linier Berganda

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3. Interpretasi Hasil Analisis Regresi Linier Berganda

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah suatu data mengikuti sebaran normal atau tidak. Dalam penelitian ini uji normalitas menggunakan metode Kolmogorov Smirnov. Adapun hasil dari pengujian normalitas adalah :

Tabel 8. : Hasil Uji Normalitas

Variabel-Variabel Penelitian Kolmogorov

Smirnov

Tingkat signifikan

Receivable Turn Over (X1)

Working Capital Turn Over (X2)

Total Assets Turn Over (X3)

Pertumbuhan laba (Y)

2,461 0,490 0,606 2,598 0,000 0,970 0,857 0,000 Sumber : Lampiran 7

Berdasarkan tabel 8. di atas dapat ditunjukkan bahwa variabel Working

Capital Turn Over (X2) dan Total Assets Turn Over (X3) berdistribusi normal, karena tingkat signifikan yang dihasilkan lebih dari 5% (sig > 0,05). Sedangkan

Receivable Turn Over (X1) dan pertumbuhan laba (Y) tidak berdistribusi normal, karena tingkat signifikan yang dihasilkan kurang dari 5% (sig < 0,05).

Dengan mempertimbangkan central limit theorem untuk sampel yang lebih besar dari 30 (n = 36), sehingga distribusi data variabel Receivable Turn

Over (X1) dan pertumbuhan laba (Y) dianggap berdistribusi normal (Mulyono, 2006:178-181).

4.3.2. Uji Asumsi Klasik

Tujuan utama menggunakan uji asumsi klasik adalah untuk mendapatkan koefisien yang terbaik linier dan tidak bias (BLUE : Best Linier Unbiassed

Estimator).

Penelitian ini menyimpulkan bahwa model regresi linier berganda yang dihasilkan adalah BLUE (Best Linier Unbiassed Estimator), karena tidak multikolinieritas, heteroskedastisitas dan autokorelasi. Hasilnya adalah sebagai berikut :

1. Multikolinieritas

Adapun nilai VIF dari variabel Receivable Turn Over (X1), Working Capital Turn Over (X2) dan Total Assets Turn Over (X3) adalah sebagai berikut :

Tabel 9. : Nilai VIF (Variance Inflation Factor)

No. Variabel Bebas VIF

1. 2. 3.

Receivable Turn Over (X1)

Working Capital Turn Over (X2)

Total Assets Turn Over (X3)

1,167 1,406 1,523 Sumber : Lampiran 8

Berdasarkan tabel 9. dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak terjadi multikolinieritas, karena besaran VIF yang dihasilkan oleh variabel

Receivable Turn Over (X1), Working Capital Turn Over (X2), dan Total Assets Turn Over (X3) kurang dari angka 10.

2. Heteroskedastisitas

Adapun nilai koefisien korelasi rank spearman dan tingkat signifikan pada variabel Receivable Turn Over (X1), Working Capital Turn Over (X2) dan Total Assets Turn Over (X3) adalah sebagai berikut :

Tabel 10. : Korelasi Rank Spearman

Variabel Bebas Koefisien korelasi

Rank Spearman

Tingkat signifikansi

Receivable Turn Over (X1)

Working Capital Turn Over (X2)

Total Assets Turn Over (X3)

-0,184 0,295 -0,263 0,283 0,080 0,121 Sumber : Lampiran 8

Berdasarkan tabel 10. di atas, dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas, karena tingkat signifikansi yang dihasilkan oleh variabel Receivable Turn Over (X ), Working Capital Turn

Over (X2) dan Total Assets Turn Over (X3) lebih besar dari 0,05 (sig > 5%).

3. Uji Autokorelasi

Uji statistik yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi adalah uji Durbin Watson. Dibawah ini merupakan hasil uji Durbin Watson, yaitu:

Tabel 11. : Hasil Uji Durbin Watson Model Summaryb .174a .030 -.061 2509.84072 2.048 Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin- Watson Predictors: (Constant), x3, x1, x2 a. Dependent Variable: y b. Sumber : Lampiran 8

Nilai DW (durbin watson) yang dihasilkan sebesar 2,048 berada diantara dU (1,127) dengan 4-dU (4 - 1,813 = 2,187) (Lampiran 9), maka dapat disimpulkan bahwa antar residual (kesalahan pengganggu) tidak terdapat korelasi atau model regresi linier berganda yang digunakan tidak terjadi autokorelasi, karena nilai DW yang dihasilkan berada pada selang 1,127 sampai dengan 2,187.

4.3.3. Persamaan Regresi Linier Berganda

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda. Berikut ini model atau persamaan regresi linier berganda yang digunakan :

Tabel 12. : Model Regresi Linier Berganda

Model Koefisien regresi

Konstanta

Receivable Turn Over (X1)

Working Capital Turn Over (X2)

Total Assets Turn Over (X3)

1336,569 0,015 -4,136

2,104 Sumber : Lampiran 8

Persamaan regresi linier berganda yang dihasilkan adalah sebagai berikut : Y = 1336,569 + 0,015 X1 – 4,136 X2 + 2,104 X3

Konstanta (a) yang dihasilkan sebesar 1336,569 menunjukkan besarnya nilai pertumbuhan laba (Y), apabila Receivable Turn Over (X1), Working Capital Turn Over (X2) dan Total Assets Turn Over (X3) adalah konstan atau nol.

Koefisien regresi untuk variabel Receivable Turn Over (X1) (b1) sebesar 0,015 berarti setiap kenaikan Receivable Turn Over (X1) satu satuan maka nilai pertumbuhan laba (Y) akan naik sebesar 0,015 dengan asumsi variabel bebas lainnya adalah konstan.

Koefisien regresi untuk variabel Working Capital Turn Over (X2) (b2) sebesar -4,136 berarti setiap kenaikan Working Capital Turn Over (X2) satu satuan maka nilai pertumbuhan laba (Y) akan turun sebesar 4,136 dengan asumsi variabel bebas lainnya adalah konstan.

Koefisien regresi untuk variabel Total Assets Turn Over (X3) (b3) sebesar 2,104 berarti setiap kenaikan Total Assets Turn Over (X3) satu satuan maka nilai pertumbuhan laba (Y) akan naik sebesar 2,104 dengan asumsi variabel bebas lainnya adalah konstan.

4.3.4. Uji Kecocokan Model (Uji F)

Uji F dapat digunakan untuk mengetahui apakah model yang digunakan adalah cocok atau sesuai untuk mengetahui pengaruh Receivable Turn Over (X1), Working Capital Turn Over (X2) dan Total Assets Turn Over (X3) terhadap pertumbuhan laba (Y).

Tabel 13. : Hasil Uji F

ANOVAb 6279482 3 2093160.573 .332 .802a 2E+008 32 6299300.427 2E+008 35 Regression Residual Total Model 1 Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Predictors: (Constant), x3, x1, x2 a.

Dependent Variable: y b.

Sumber : Lampiran 8

Berdasarkan tabel 13. diperoleh Fhitung sebesar 0,332 dengan tingkat signifikan sebesar 0,802 diatas 5% (sig > 0,05) maka H0 diterima dan H1 ditolak yang artinya model regresi linier berganda yang digunakan adalah tidak cocok untuk mengetahui pengaruh Receivable Turn Over (X1), Working Capital Turn Over (X2) dan Total Assets Turn Over (X3) terhadap pertumbuhan laba (Y).

4.3.5. Koefisien Determinasi (R2)

Tidak berpengaruhnya Receivable Turn Over (X1), Working Capital Turn Over (X2) dan Total Assets Turn Over (X3) terhadap pertumbuhan laba (Y), bisa disebabkan karena kontribusi Receivable Turn Over (X1), Working Capital Turn Over (X2) dan Total Assets Turn Over (X3) terhadap pertumbuhan laba (Y) sangat rendah. Hal ini dapat dilihat dari koefisien determinasi (R2) yaitu :

Tabel 14. : Koefisien Determinasi (R2) Model Summaryb .174a .030 -.061 2509.84072 2.048 Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin- Watson Predictors: (Constant), x3, x1, x2 a. Dependent Variable: y b. Sumber : Lampiran 8

Nilai Koefisien Determinasi (R2) yang dihasilkan sebesar 0,030 yang artinya variabel Receivable Turn Over (X1), Working Capital Turn Over (X2) dan Total Assets Turn Over (X3) mempengaruhi pertumbuhan laba (Y) hanya sebesar 3% sedangkan sisanya 97% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dibahas pada penelitian ini.

4.3.6. Uji t

Hasil uji F menunjukkan bahwa model regresi linier berganda yang digunakan adalah tidak cocok untuk mengetahui pengaruh Receivable Turn Over (X1), Working Capital Turn Over (X2) dan Total Assets Turn Over (X3) terhadap pertumbuhan laba (Y), sehingga ada kecenderugan secara parsial Receivable Turn

Over (X1), Working Capital Turn Over (X2) dan Total Assets Turn Over (X3) juga tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba (Y). Berikut ini hasil uji t :

Tabel 15. : Hasil Uji t

Variabel Bebas thitung Sig

Receivable Turn Over (X1)

Working Capital Turn Over (X2)

Total Assets Turn Over (X3)

0,072 -0,916 0,603 0,943 0,367 0,551 Sumber: Lampiran 8

Berdasarkan tabel 15. menunjukkan bahwa Receivable Turn Over (X1), Working Capital Turn Over (X2) dan Total Assets Turn Over (X3) secara parsial tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba (Y), sehingga hipotesis-hipotesis penelitian ini yaitu :

1. H1 : Diduga Receivable Turn Over berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan laba pada PT. Dipo Valasindo, tidak teruji kebenarannya. 2. H2 : Diduga Working Capital Turn Over berpengaruh secara signifikan

terhadap pertumbuhan laba pada PT. Dipo Valasindo, tidak teruji kebenarannya.

3. H3 : Diduga Total Assets Turn Over berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan laba pada PT. Dipo Valasindo, tidak teruji kebenarannya.

4.4. Pembahasan Hasil Penelitian

Penelitian ini menyimpulkan bahwa variabel independent yaitu Receivable

Turn Over (X1), Working Capital Turn Over (X2), dan Total Assets Turn Over (X3) tidak berpengaruh terhadap variabel dependent yaitu pertumbuhan laba (Y), hal ini dapat dilihat dari hasil uji F, nilai koefisien determinasi dan uji t, yang sudah dilakukan. Kemungkinan tidak terbuktinya hasil penelitian, terdapat banyak faktor yang mempengaruhi diluar model, sehingga ada beberapa faktor yang bisa dibahas seperti pada paragraf di bawah ini.

Menurut Raharjaputra (2009: 204), Receivable Turn Over merupakan rasio yang digunakan untuk memperkirakan berapa kali dalam suatu periode, jumlah arus kas masuk ke perusahaan yang diperoleh dari piutang, semakin cepat

piutang atau tagihan masuk akan semakin baik karena akan menambah aktivitas perusahaan dan dapat mempengaruhi pertumbuhan laba.

Menurut Kasmir (2010: 182), rasio Working Capital Turn Over mengukur seberapa besar efektif modal kerja bersih yang digunakan untuk menghasilkan penjualan. Working Capirtal Turn Over yang semakin tinggi menunjukkan modal operasional perusahaan besar dibandingkan dengan jumlah aktivanya (total

assets). Modal kerja yang besar akan memperlancar kegiatan operasi perusahaan

sehingga perusahaan mampu membayar hutangnya, dengan demikian pendapatan yang diperoleh meningkat. Working Capital Turn Over merupakan perbandingan antara penjualan bersih dengan modal kerja, yaitu kemampuan untuk mengukur atau menilai keefektifan modal kerja selama periode tertentu. Tinggi rendahnya

Working Capirtal Turn Over menunjukkan efisiensi dalam penggunaan dan

perputaran modal kerja. Working Capirtal Turn Over yang tinggi menghasilkan perputaran piutang atau saldo kas yang terlalu kecil, sebaliknya Working Capirtal

Turn Over yang rendah menghasilkan perputaran persediaan atau piutang serta

saldo kas yang terlalu besar. Dengan demikian tinggi rendahnya Working Capirtal

Turn Over juga akan mempengaruhi tinggi rendahnya perputaran persediaan atau

piutang serta saldo kas pada pertumbuhan laba.

Menurut Kasmir (2010:185), rasio Total Assets Turn Over digunakan untuk mengukur perputaran semua aktiva yang dimiliki perusahaan dan mengukur berapa jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap rupiah aktiva. Kemampuan perusahaan dengan melihat rasio ini, mengetahui efektivitas penggunaan aktiva dalam menghasilkan penjualan. Total Assets Turn Over merupakan perbandingan

antara penjualan dengan rata-rata total aktiva, yaitu kemampuan untuk mengukur semua aktiva yang dimiliki perusahaan. Tinggi rendahnya Total Assets Turn Over menunjukkan efisiensi dan likuid dalam penggunaan dan pengelolaan Total aktiva terhadap pertumbuhan laba.

Suatu perusahaan sudah dapat dikatakan menderita kesulitan keuangan pada tahun pertama aliran kas kurang dari kewajiban jangka panjang yang jatuh tempo (Whitaker, 1999). Aliran kas didefinisikan sebagai pendapatan bersih ditambah beban-beban non kas. Perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan umumnya mengalami penurunan dalam pertumbuhan, kemampulabaan, dan aset tetap, serta peningkatan dalam tingkatan persediaan relatif terhadap perusahaan yang sehat (Kahya dan Theodossiou, 1999). Di samping itu kesulitan keuangan dapat juga dilihat dari melemahnya kondisi keuangan, kreditur yang mulai mengambil tindakan, pemasok yang mungkin tak mengirim bahan baku secara kredit, investasi modal yang menguntungkan mungkin harus dilepas, dan pembayaran dividen yang terganggu (Keown et al., 1997).

Storey (1994) dalam Dylan (1996) menyampaikan faktor-faktor yang mempengaruhi perusahaan, yaitu:

1. Umur perusahaan, semakin lama perusahaan berdiri, kecil kemungkinan gagal 2. Ukuran perusahaan, semakin besar perusahaan, kecil kemungkinan gagal

3. Pertumbuhan, perusahaan yang tumbuh lebih mungkin survive 4. Kondisi ekonomi makro, tingkat kegagalan meningkat selama resesi 5. Sektor, tingkat kegagalan tinggi pada beberapa sektor industri

6. Manusia, ada bukti-bukti bahwa tingkat kegagalan berbanding terbalik terhadap tingkat pendidikan, umur dan pengalaman terdahulu pemilik

7. Tipe perusahaan, terdapat sedikit kegagalan dalam usaha waralaba 8. Lokasi – tingkat kegagalan agak rendah di daerah pedesaan.

Penyebab-penyebab yang dikemukakan oleh Dylan (1996) tentang perusahaan antara lain :

Pasar

• Penurunan pasar (atau terlalu optimis)

• Peningkatan persaingan

• Kurang daya saing Keuangan

Overtrading (perdagangan berlebih) atau satu proyek besar

• Banyak hutang

• Kurang modal

• Pengurusan kas yang tidak memadai

• Pengawasan tidak memadai

• Pengambilan uang berlebihan

• Operasional Lokasi bisnis

• Terlalu ambisi dalam memulai bisnis

Manusia

• Bidang pengurusan tidak seimbang atau tidak memadai

• Kurang perhatian atau dorongan dari pemilik – manajer

• Kurang kepemimpinan dan pengarahan

• Rekruitmen tidak memadai atau tidak tepat Sumber : http://www.usupress.usu.ac.id

Dari hasil uji kecocokan model uji F dan uji t, Fhitung yang diperoleh sebesar 0,332 dengan tingkat signifikan 0,802 diatas 0,05 artinya model regresi linier berganda yang digunakan tidak cocok untuk mengetahui pengaruh

Receivable Turn Over (X1), Working Capital Turn Over (X2) dan Total Assets Turn Over (X3) terhadap pertumbuhan laba (Y), sedangkan hasil uji t tingkat signifikan Receivable turn over sebesar 0,943 diatas 0,05 artinya model regresi linier berganda tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba, Working capital

turn over sebesar 0,367 diatas 0,05 artinya model regresi linier berganda tidak

berpengaruh terhadap pertumbuhan laba, Total assets turn over 0,551 diatas 0,05 artinya model regresi linier berganda tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba, dan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,030.

Berdasarkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,030 (3%), maka dapat dijelaskan dimana Receivable turn over, Working capital turn over, dan

Total assets turn over mempengaruhi pertumbuhan laba PT. Dipo Valasindo

hanya sebesar 3% sedangkan 97% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar dari pembahasan, kemungkinan penyebab-penyebab dari 97% tersebut bisa dilihat dari (1)Umur perusahaan; karena umur PT. Dipo Valasindo baru 6 tahun, dan

perusahaan juga belum go public, sehingga untuk mengetahui data sebelum tahun amatan tidak bisa diperoleh, dan perusahaan masih belum bisa dikatakan sukses (berhasil) karena pada penelitian ini tahun 2008, 2009, dan 2010 selalu rugi, (2)Pasar; kemungkinan karena penurunan pasar, peningkatan persaingan dan kurang daya saing, sebab penjualan valas (mata uang asing) selalu tidak pasti dan bisa berubah-ubah nilainya sewaktu-waktu, (3)Keuangan; kemungkinan terdapat banyak hutang, kurang modal, piutang yang tidak tertagih, serta pengambilan uang yang berlebihan atau karena kondisi ekonomi makro perusahaan, (4)Lokasi Bisnis; kemungkinan lokasi yang digunakan kurang strategis, (5)Manusia; kemungkinan kurang perhatian atau dorongan dari pemilik, kurang kepemimpinan dan pengarahan, karyawan yang tidak jujur dan mungkin tingkat kegagalan lain bisa dilihat dari tingkat pendidikan , umur serta pengalaman-pengalaman didalam maupun luar lingkungan perusahaan.

Alasan-alasan lain yang mengakibatkan PT. Dipo Valasindo selalu merugi, kemungkinan karena kurangnya upaya mengawasi kondisi keuangan sehingga penggunaan uang tidak sesuai dengan keperluan, akibatnya perusahaan kekurangan uang untuk membayar gaji, membayar hutang-hutang yang berlebihan (highly leverage), kualitas manajemen rendah, dan pegawai yang tidak jujur, modal tidak mencukupi, piutang tidak tertagih, aliran kas tidak mencukupi, kerugian karena, karyawan tidak berpengalaman, karyawan kurang pandai, penagihan piutang yang macet, perusahaan bermasalah, pembelian yang berlebihan, aset yang hilang, lokasi yang tidak sesuai, persaingan yang ketat,

penentuan harga tidak tepat, biaya penjualan yang tinggi, serta kegagalan mengurus modal kerja.

Akan tetapi walaupun PT. Dipo Valasindo dalam penelitian ini tahun 2008, 2009, dan 2010 selalu merugi, PT. Dipo Valasindo masih beroperasi dan ingin menunjukkan eksistensinya, untuk tetap hidup melangkah menuju masa depan yang lebih baik dengan bermacam-macam usaha dan perbaikan dalam kinerja maupun manajemen serta mempelajari sifat dan prinsip laporan keuangan yang salah satu prinsip yang mendasari sifat dari ciri laporan keuangan adalah

going concern.

Going Concern merupakan salah satu konsep penting akuntansi. Inti going concern terdapat pada Balance Sheet perusahaan yang harus merefleksikan nilai

perusahaan untuk menentukan eksistensi dan masa depannya. Lebih detil lagi,

going concern adalah suatu keadaan di mana perusahaan dapat tetap beroperasi

dalam jangka waktu ke depan, dimana hal ini dipengaruhi oleh keadaan financial dan non financial. Kegagalan mempertahankan going concern dapat mengancam setiap perusahaan, terutama diakibatkan oleh manajemen yang buruk, kecurangan ekonomis dan perubahan kondisi ekonomi makro seperti merosotnya nilai tukar mata uang dan meningkatnya inflasi secara tajam akibat tingginya tingkat suku bunga.(http://www.google/ajidedim.com)

4.4.1. Implikasi Bagi Penelitian Berikutnya

Penelitian ini memberikan implikasi bagi penelitian dimasa yang akan datang yang ingin melakukan penelitian tentang rasio aktivitas ataupun tentang rasio-rasio keuangan, maka hendaknya untuk menambahkan obyek atau periode tahun yang digunakan untuk hasil yang lebih baik, kemudian untuk obyek yang diambil disarankan perusahaan industri atau perusahaan yang memang menyediakan data-data yang dibutuhkan oleh peneliti, agar hasilnya cocok dan sesuai dengan apa yang diharapkan, serta menambah variabel penelitian yang termasuk dalam rasio aktivitas, atau meneliti selain rasio aktivitas (seperti : rasio likuiditas, solvabilitas, profitabilitas,) yang mempengaruhi pertumbuhan laba dan memperluas jangkauan populasi.

4.4.2. Perbedaan Penelitian Sekarang dengan Penelitian Terdahulu

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Receivable Turn Over (X1), Working Capital Turn Over (X2), dan Total Assets Turn Over (X3) tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba (Y). Berikut ini hasil penelitian dari beberapa penelitian-penelitian terdahulu, yaitu R.M. Riadi (2006), IG.K.A. Ulupui (2006), Ayu Wilujeng Rahayu (2009), Panuto Galih Aji (2010), dan penelitian yang sekarang yang dilakukan oleh Rusmanto (2011):

Tabel 16. : Perbedaan Hasil Penelitian Sekarang dengan Penelitian Terdahulu

No Nama Peneliti Variabel Penelitian Hasil Penelitian

1 R. M. Riadi (2006) variabel independen berupa perputaran piutang, perputaran persediaan, perputaranaktiva tetap, perputaran total aktiva dan variabel dependen berupa rentabilitas

ekonomi

Berdasarkan variabel yang digunakan, perputaran aktiva tetap dan perputaran total asset tidak berpengaruh terhadap rentabilitas ekonomi, sedangkan perputaran piutang dan perputaran persediaan berpengaruh negatif terhadap rentabilitas ekonimi.

2 IG.K.A. Ulupui (2006)

Variabel dependen dalam penelitian adalah return saham dan untuk variabel independen menggunakan rasio likuiditas, debt, aktivitas dan profitabilitas

Hasil pengujian menunjukkan currten rasio dan ROA berpengaruh positif dan signifikan, sedangkan debt to equity rasio hasilnya positif tetapi tidak signifikan begtu juga dengan tota asset turn over hasilnya negatif dan tidak signifikan terhadap return saham. 3 Ayu Wilujeng

Rahayu (2009)

Variabel independen dalam penelitian ini meliputi: rasio aktivitas, leverage, dan

profitabilitas, sedangkan variabel dependennya adalah laba.

Secara parsial rasio aktivitas berpengaruh terhadap laba PT. Aqua, sedangkan rasio leverage dan profitabilitas tidak berpengaruh terhadap laba PT. Aqua,dan secara parsial juga rasio aktivitas leverage dan

profitabilitas tidak berpengaruh terhadap laba PT. Ades.

4 Panuto Galih Aji (2010)

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pertumbuha laba, sedangkan variabel independennya berupa Inventory turn over, Average collection period, Working capital turn over, Fixed assets turn over dan Total assets turn over.

Secara parsial diketahui bahwa Fixed assets

turn over dan Total assets turn over

berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan laba, sedangkan Inventory turn

over, Average collection period, Working capital turn over tidak berpengaruh secara

signifikan terhadap pertumbuhan laba.

5 Rusmanto (2011)

Receivable Turn Over

(X1), Working Capital

Turn Over (X2), dan

Total Assets Turn Over

(X3) sebagai variabel

bebas, dan pertumbuhan laba (Y) sebagai variabel terikat

Receivable Turn Over (X1), Working Capital

Turn Over (X2 dan Total Assets Turn Over

(X3) tidak berpengaruh terhadap

pertumbuhan laba (Y)

4.4.3. Keterbatasan Penelitian

Meskipun peneliti telah berusaha merancang dan mengembangkan penelitian sedemikian rupa, namun ada keterbatasan dalam penelitian ini, diantaranya :

1. Variabel bebas yang digunakan hanya 3 (tiga) variabel yaitu Receivable

Turn Over, Working Capital Turn Over, dan Total Assets Turn Over,

sehingga penelitian yang akan datang diharapkan menambah variabel lain yang dapat mempengaruhi pertumbuhan laba, seperti : rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas, dan lain sebagainya.

2. Perusahaan yang digunakan hanya 1 (satu) obyek penelitian yaitu PT.DIPO Valasindo, Surabaya selama 3 (tiga) periode pengamatan, sehingga penelitian yang akan datang diharapkan memperluas jangkauan populasi dan menambah periode pengamatan.

3. Disarankan untuk penelitian berikutnya, apabila ingin melakukan penelitian tentang pertumbuhan laba, maka sebaiknya data-data yang digunakan dan dibutuhkan harusnya laba setiap periode amatan yang digunakan, walaupun pertumbuhan labanya kecil. Jangan sampai terdapat data yang negative atau perusahaan mengalami rugi, karena akan mempengaruhi pertumbuhan laba jika dalam periode amatan terdapat data perusahaan yang rugi. Sehingga diharapkan untuk penelitian yang akan datang lebih spesifik lagi dalam menanyakan data-data yang dibutuhkan dengan menanyakan bagaimana perputaran laba tahun berjalan perusahaan, agar penelitian yang dilakukan sesuai dengan hipotesis-hipotesis peneliti.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Penelitian ini menyimpulkan bahwa rasio aktivitas yang terdiri dari

Receivable Turn Over, Working Capital Turn Over, dan Total Assets Turn Over

tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba, karena koefisien determinasi (R2) hanya sebesar 0,03 (3%) dan bisa dikatakan Receivable Turn Over, Working

Capital Turn Over, dan Total Assets Turn Over mempengaruhi pertumbuhan laba

hanya sebesar 3%, sedangkan sisanya 97% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar penelitian ini, sehingga hipotesis-hipotesis penelitian ini tidak teruji kebenarannya.

5.2. Sar an

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka saran-saran yang diajukan adalah :

1. Bagi perusahaan, perusahaan sebaiknya lebih mengawasi dan memperhatikan segi pasarnya, keuangan perusahaan, lokasi perusahaan, manusia (karyawan) itu sendiri, sehingga untuk tahun-tahun berikutnya bisa dicapai target yang sudah terprogram dan hendak dicapai.

2. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan menambah variabel penelitian yang termasuk dalam rasio aktivitas, atau meneliti selain rasio aktivitas (seperti : rasio likuiditas, solvabilitas, profitabilitas) yang mempengaruhi pertumbuhan laba dan memperluas jangkauan populasi.

Buku Teks :

Anonim, 2010, Pedoman Penyusunan Usulan Penelitian dan Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”, Jawa Timur.

Arifin, Zaenal, 2005, Teori Keuangan & Pasar Modal, Edisi 1, Cetakan Pertama, Penerbit Ekonisia UII, Yogyakarta.

Ashari, Darsono, 2005, Pedoman Praktis Memahami Laporan Keuangan, Penerbit Andi, Yogyakarta.

Ferdinand, Prof.Dr.Augusty, MBA, 2006, Metode Penelitian Manajemen, Edisi 2, penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

Hanafi, Mamduh M. dan Abdul Halim, 2008, Analisis Laporan Keuangan, Edisi Ketiga, Penerbit ISBN, Jakarta.

Harahap, Sofyan Safri, 2002, Analisa Kritis Atas Laporan Keuangan, Cetakan Ketiga, Penerbit PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.

IAI, 2009, Standar Akuntansi Keuangan. Per 1 Juli 2009, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Kasmir, 2010, Analisis Laporan Keuangan , Cetakan Ketiga, Penerbit PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Mulyono, Sri, 2006, Statistika Untuk Ekonomi dan Bisnis, Edisi Ketiga, Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

PT. Dipo Valasindo, 2009, Laporan bulan Januari s/d Desember, Laporan Keuangan, Surabaya.

PT. Dipo Valasindo, 2010, Laporan bulan Januari s/d Desember, Laporan Keuangan, Surabaya.

Raharjaputra, Hendra S., 2009, Buku Panduan Praktis Manajemen Keuangan dan

Akuntansi untuk Eksekutif Perusahaan, Penerbit Salemba Empat,

Jakarta.

Santoso, Singgih, 2000, Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik, Penerbit PT Elex Media Komputindo, Jakarta.

Suwardjono, 2008, Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan, Cetakan Ketiga, Penerbit BPFE, Yogyakarta.

Tampubolon, Prof.Dr. Manahan P., 2005, Manajemen Keuangan konseptual,

problem, dan studi kasus, Cetakan Pertama, Penerbit Ghalia Indonesia,

Bogor.

Umar, Husein, 2004, Metode Penelitian Untuk Skripsi dan tesis Bisnis, Cetakan Keenam, Penerbit PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Usman, Bachtiar, 2003, Analisis dan Rasio Keuangan, Edisi Pertama, Penerbit Ekonisia UII, Yogyakarta.

Pada Tobacco Manufacture Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI), Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jatim.

Riadi, R.M., 2006, Analisis Pengaruh Rasio Aktivitas Terhadap Rentabilitas

Ekonomi Pada Perusahaan Plastics and Glass Products Yang Go Publik Di Bursa Efek Jakarta Selama Tahun 2002-2005, JRAI, Staff Pengajar

pada FKIP.

Suprihatmi, S.W., 2008, Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Kemampuan

Memprediksi Perubahan Laba Pada Pperusahaan-Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di PT. Bursa Efek Jakarta, Pascasarjana

Dokumen terkait