Guru di sekolah
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Interpretasi Hasil Penelitian
a. Perkembangan Kemandirian anak usia 3-4 tahun
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap “Perkembangan Kemandirian anak usia 3-4 tahun (Studi Kasus di KB TK Gemintang),” bahwa orangtua dan lingkungan mempengaruhi kemandirian masing-masing anak. Walaupun SA dan GE memiliki kesamaan sebagai anak pertama dan cucu pertama, namun memilki perbedaan dalam hal perkembangan kemandirian.
Kemandirian pada anak mulai berkembang diusia 3 – 4 tahun atau ketika anak memasuki tahapan autonomy vs shame and doubt menurut teori perkembangan psikososial Erikson. Ketika
memasuki tahapan ini, anak mulai merasa kalau dirinya sudah besar dan berusaha untuk melepaskan diri dari Caregiver atau orang – orang yang dekat dengan mereka dengan cara menjadi mandiri. Bentuk kemandirian anak ditahapan ini biasanya ditunjukkan dengan adanya penolakan terhadap bantuan yang
83
ditawarkan. Misalnya menolak dibantu saat berpakaian, ingin makan sendiri meskipun ada yang tercecer, ingin membereskan mainan sendiri meskipun belum rapi benar, ingin jalan sendiri dan lain semacamnya (Papalia, Ods, & Feldman, 2009).
Keseharian sikap dan perilaku SA dipengaruhi oleh orangtua dan lingkungannya,SA selalu dibantu dan di dampingi dalam setiap kegiatan yang dilakukan disekolah maupun dirumah, seperti pada saat makan, mandi dan membereskan mainannya. Ibu dan Nenek selalu ada di dekat SA setiap saat.
SA bersikap ketergantungan saat berada disekolah, ia selalu minta didampingi oleh ibu atau neneknya, saat pendamping berusaha untuk meninggalkannya, SA merengek dan menangis tanpa bisa dibujuk, dan membuat pendamping tidak tega untuk meninggalkannya dan kembali menemani SA di sekolah.
Sikap orangtua yang selalu membantu menyelesaikan kegiatan yang diberikan oleh sekolah membuat SA menjadi kurang kreatif, dan belum dapat mengarahkan diri.
Menurut Sutari Imam Barnadib dalam Yamin (2010:90) kemandirian meliputi perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Pendapat tersebut juga diperkuat oleh Kartini dan Dali dan Yamin
84
(2013:91) yang mengatakan bahwa kemandirian adalah hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu bagi diri sendiri.
Pribadi yang mandiri menurut Dowling dalam Yamin (2013:92) adalah kemampuan hidup yang utama dan salah satu kebutuhan setiap manusia diawal usianya. Anak meskipun usianya masih sangat muda namun diharuskan memiliki pribadi yang mandiri, alasan mengapa hal ini diperlukan karena ketika anak terjun di luar rumah sudah tidak tergantung kepada orangtua, Misalnya ketika anak sudah mulai sekolah, orangtua tidak perlu selalu menemani anak setiap saat.
SA selalu disuapi oleh orangtuanya, Nenek juga hanya mengajak main SA di sekitar pekarangan rumah, dan menakuti-nakuti SA saat ingin main keluar rumah. Hal ini membuat SA kurang berinteraksi dengan lingkungan diluar rumah dan tidak dapat menentukan pilihannya sendiri.
Menurut Bachruddin Musthafa dalam Susanto (2017:35) kemandirian merupakan kemampuan untuk mengambil pilihan dan menerima konsekuensi yang menyertainya. Kemandirian pada anak-anak terlihat ketika anak menggunakan pikirannya sendiri dalam mengambil berbagai keputusan.
Dalam upaya mendorong tumbuhnya kemandirian anak usia dini, Bachrudin Musthafa dalam Susanto (2017:36) menyarankan agar orangtua dan guru perlu memberikan berbagai pilihan dan
85
memberikan gambaran kemungkinan konsekuensi yang menyertai pilihan yang diambilnya.
Berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh GE. Hal ini terlihat saat motivasi yang diberikan Ibu membuat GE mulai mau masuk kelas, membuka sepatu sendiri dan menyimpannya tanpa dibantu oleh ibunya. Ibu langsung memberinya pujian kepada GE. Saat masuk kelas GE langsung mengarahkan diri nya untuk bergabung dengan teman-temannya dan bermain bersama.
GE bersemangat melakukan kegiatan fingerpainting. Dan dapat mememunculkan sikap kreatif dan percaya diri yang terlihat dengan mengutarakan kemauannya dalam memilih warna dan langsung mengarahkan tangannya ke wadah cat.
Menurut Zimmerman yang dikutip oleh Tiilman dan Weiss, dalam Susanto (2017:37) bahwa anak yang mandiri itu adalah anak yang mempunyai kepercayaan diri dan motivasi intrinsik yang tinggi. Zimmerman yakin bahwa kepercayaan diri dan motivasi intrinsik tersebut merupakan kunci utama bagi kemandirian anak. Dengan kepercayaan dirinya, anak berani tampil dan menentukan pilihan sendiri, sementara itu motivasi intrinsic atau motivasi bawaan dapat membawa anak untuk berkembang lebih cepat, terutama perkembangan otak atau kognitifnya. Anak yang memilki motivasi yang tinggi dapat terlihat dari perilaku yang aktif, kreatif, dan memiliki sifat ingin tahu (curiosity) yang tinggi. Anak
86
tersebut biasanya selalu banyak bertanya dan serba ingin tahu, selalu mencobanya, mempraktikkannya, dan memcoba sesuatu yang baru.
GE diberikan pilihan oleh ibunya saat ingin menoton TV dengan memberikan remote control pada GE untuk dapat menyalakan TV sendiri dan menonton acara kesukaannya. Dan sang ibu dapat menyuapi makan GE dengan tenang. Namun GE mulai insitaif untuk meminta pegang sendok dan mencoba makan sendiri. Sikap ibu hanya menuruti keinginan anaknya.
Untuk mendorong pertumbuhan dan kemadirian anak, Tracy Hogg dan Melinda Blau dalam bukunya” Secrets of the Baby Whisperer for Toddlersa” memperkenalkan konsep baru yang disebut dengan HELP
(Hold your self back, Encourage exploration, Limit, and Praise), menjelaskan lebih lanjut bahwa dengan menahan diri kita sebagai orangtua akan banyak mengumpulkan informasi, dengan memperhatikan, mendengarkan, dan menyerap seluruh gambar untuk menentukan karakter anak sehingga dapat mengantisipasi kebutuhan dan memahami proses respons anak tersebut pada lingkungan sekitar. Dengan menahan diri, kita juga dapat mengirimkan sinyal bahwa ia kompeten dan kita mempercayai anak melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya (Susanto, 2017:42).
GE adalah anak pertama dan cucu pertama dari Ibu, dan keseharian selalu ditemani ibu tanpa bantuan asisten rumah tangga. GE selalu didampingi saat main, mandi, dan menonton televisi serta saat bermain keluar rumah.
87
Susanto (2017:43) menyebutkan kegiatan membatasi (limit), orangtua melakukan perannya sebagai orang dewasa, menjaga anak dalam batas aman, membantunya membuat pilihan yang tepat, dan melindungi anak tersebut dari situasi berbahaya baik secara fisik maupun secara emosional. Kegiatan ini merupakan cara orangtua untuk memberikan contoh kepada anak agar dapat menjalani kehidupan.
Pujian (praise) dapat memberikan pembelajaran yang telah diberikan, pertumbuhan, dan perilaku yang bermanfaat bagi anak ketika memasuki dunia dan berinteraksi dengan anak-anak, serta orang dewasa lainnya. Hasil riset menunjukkan bahwa anak-anak yang diberi pujian dengan benar, ia semakin terdorong untuk belajar lebih, dan dapat menikmati kerjasama yang terjalin antara dirinya dengan orangtuanya. Anak yang biasa diberikan pujian dengan benar dapat lebih menerima masukan dari orangtuanya. Pujian hanya diberikan jika anak telah melakukan pekerjaan dengan baik. Tujuan pujian, bukanlah untuk membuat anak senang, melainkan untuk menekankan bahwa pekerjaan yang telah dilakukan dengan baik. Dengan pujian, anak akan tahu ia telah melakukan sesuatu dengan baik dan benar. Kasih sayang dan cinta yang proporsional merupakan unsur penting menjadi orangtua. Rasa dicintai dan disayangi membuat anak merasa aman dan ingin menyenangkan orangtuanya.
Itulah temuan peneliti terhadap perkembangan kemandirian anak usia 3-4 tahun, menurut peneliti SA belum dapat
88
memaksimalkan perkembangan kemandiriannya meskipun ia sudah masuk kesekolah. Kurangnya kemandirian SA dipengaruhi oleh pola asuh yang diberikan oleh orang tua SA dirumah yang membuat SA begitu ketergantungan dan kurang percaya diri, terlihat dari tindakannya pada saat peneliti melakukan pengamatan dan jawaban yang diberikan ibu, nenek dan guru di sekolah pada saat peneliti melakukan wawancara, yang juga menjadi salah satu informan dalam penelitian ini.
Sementara GE mulai tumbuh perkembangan kemandiriannya, karena GE diberi motivasi dan dukungan dari orangtua dan gurunya, GE dibiarkan untuk mencoba mengerjakan segala sesuatu saat berkegiatan di rumah dan disekolah. Orangtua dan guru melatih GE untuk dapat mengungkapkan perasaan dan keinginannya. Dengan cara berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman sebayanya. Kemandirian GE pun mulai tumbuh terlihat dari tindakannya pada saat peneliti melakukan pengamatan dan jawaban yang diberikan ibu dan guru di sekolah pada saat peneliti melakukan wawancara, yang juga menjadi salah satu informan dalam penelitian ini. terlihat dari tindakannya pada saat peneliti melakukan pengamatan dan jawaban yang diberikan ibu, nenek dan guru di sekolah pada saat peneliti melakukan wawancara, yang juga menjadi salah satu informan dalam penelitian ini.
89
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul “Perkembangan Kemandirian anak usia 3-4 tahun (Studi Kasus di KB TK Gemintang, Bojongsari Depok).” Penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: Perkembangan kemandirian SA belum berkembang dengan baik, meskipun usia SA sudah dapat di stimulasi kemandiriannya. Namun orangtua membuat SA belum mampu memutuskan dan menentukan pilihan sendiri, belum dapat percaya diri dan bersikap ketergantungan pada orangtuanya, terbukti dari keseharian SA saat dengan teman-teman dan guru-guru di sekolah, Pola asuh orangtua dan lingkungan terdekat mempengaruhi perkembangan kemandirian anak .
Sementara sikap dan perilaku GE mulai menunjukkan perkembangan kemandirian, terlihat pada keseharian GE yang mulai mau menentukan pilihan, bertanggung jawab, percaya diri dan mengarahkan dirinya dalam berkegiatan di rumah dan di sekolah. Peran orangtua membantu memaksimalkan perkembangan kemandirian GE.
Dapat dipahami bahwa setiap anak itu cenderung untuk mandiri dan memilki potensi mandiri. Hal tersebut karena setiap anak
90
dikaruniai perasaan, pikiran, kehendak sendiri, yang kesemuanya itu merupakan totalitas psikis dan sifat-sifat, serta struktur yang berlainan pada tiap fase-fase perkembangannya. Selain itu, kemandirian anak juga sangat dipengaruhi oleh perlakuan orangtua atau saudara-saudaranya dalam keluarga. Anak yang diawasi secara ketat, banyak dicegah atau selalu dilarang dalam setiap aktivitasnya dapat berakibat patahnya kemandirian anak. Sikap yang bijak dan perlakuan yang wajar pada anak dapat memicu tumbuhnya kemandirian anak. Orangtua yang terlalu protektif pada anaknya, terlalu mengawasi anak, anak banyak dicegah, dengan alasan takut kotor, takut merusak, atau kekhawatiran terjadi kecelakaan, pada akhirnya bisa berdampak pada anak. Bermaksud untuk melindungi atau menjaga anak, tetapi malah membuat anak menjadi penakut, kurang percaya diri, serta serba ketergantungan pada orang lain.
B. Saran
Dari hasil penelitian ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai sumbangsih pemikiran penulis untuk dijadikan bahan masukan dan arahan oleh orang tua ataupun guru dalam menstimulasi perkembangan sosial bagi anak usia dini.
1. Bagi Guru
Guru merupakan orangtua kedua yang ikut serta berperan dalam memberikan pendidikan kepada anak, guru juga memiliki tanggung jawab atas perkembangan kemandirian anak selama anak di
91
sekolah. maka dari itu, peran guru juga sangat berpengaruh dalam perkembangan anak supaya berkembang secara optimal.
2. Bagi Orang Tua
Orang tua merupakan orang yang paling pertama dalam memberikan pengasuhan dan pendidikan kepada anak sampai dewasa, orang tua juga orang yang memiliki tanggung jawab paling besar dalam memberikan pengasuhan dan pendidikan kepada anaknya sampai dewasa, oleh karena itu peran dari orang tua sangat berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan anak supaya anak dapat berkembang secara optimal.
3. Bagi Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini
Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini juga memiliki peran yang sangat penting sebagai wadah atau tempat untuk membantu anak didik berkembang dengan baik, guru di sekolah dapat mencatat apa saja yang telah dilakukan oleh anak dalam keseharian nya dan juga memberikan perhatian kepada peserta didiknya. Agar terlihat peningkatan perkembangan yang sudah di capai oleh anak, guru juga harus menjalin hubungan baik dengan orang tua dan bekerja sama dengan baik oleh orang tua dirumah supaya pendidikan yang sudah diberikan di sekolah dapat seimbang dengan pendidikan di rumah.
92 4. Bagi Peneliti Lain
Peneliti lain juga memiliki peran penting dalam perkembangan anak supaya berkembang secara optimal, karena saat peneliti lain yang akan melakukan penelitian, peneliti lain juga ikut serta dalam mendidik dan memberikan stimulasi kepada anak usia dini.
93