4.3. HASIL ESTIMASI 1 Tahap Pertama
4.3.1.1 Persamaan Produktivitas Tenaga Kerja
4.3.1.1.3 Interpretasi Model
Interpretasi yang dilakukan terhadap koefisien regresi meliputi dua hal, tanda dan besaran. Tanda menunjukkan arah hubungan. Tanda dapat bernilai positif atau negatif. Positif menunjukkan pengaruh yang searah antara variabel bebas dan variabel terikat, sedangkan negatif menunjukkan pengaruh yang berlawanan arah. Variabel IPM dan PDRB per kapita memiliki koefisien regresi bertanda positif artinya jika nilai IPM dan PDRB per Kapita meningkat maka nilai Produktivitas Tenaga Kerja juga meningkat.
Besaran menjelaskan nominal slope persamaan regresi. Penjelasan tentang besaran dilakukan pada persamaan yang diestimasi.
Adapun model persamaan pertama sbb :
Produktivitas = -1,188+ 0,002 IPM + 0,109 PDRB_Kap – 0,0000000772 KKrim -0,002KKes
Dari persamaan di atas diketahui bahwa variabel yang sangat mempengaruhi ProduktivitasTenaga Kerja adalah PDRB per Kapita. Variabel PDRB per Kapita dan Produktivitas Tenaga Kerja memiliki hubungan positif, jika nilai PDRB per Kapita naik 10 rupiah maka nilai Produktivitas Tenaga Kerja naik sebesar 1,09%
Variabel IPM juga memiliki hubungan yang searah dengan variabel Produktivitas Tenaga Kerja; jika nilai variabel IPM naik 1 indeks maka nilai variabel Produktivitas tenaga kerja meningkat sebesar 0,02%. Sedangkan variabel
Kejadian Kriminal memiliki hubungan yang tidak searah dengan variabel Produktivitas tenaga kerja. Jika kejadian kriminalitas naik 1 kejadian maka variabel Produktivitas Tenaga Kerja turun 0,0000000772 %. Demikian juga halnya dengan variabel Keluhan Kesehatan, karena memiliki koefisien regresi negatif maka hubungan antara variabel ini dengan variabel Produktivitas Tenaga Kerja berlawanan. Jika variabel keluhan kesehatan naik 1% maka variabel Produktivitas tenaga kerja turun sebesar 0,02 %.
Berdasarkan teori Pertumbuhan Endogen (New Pertumbuhan Theory) menyajikan suatu kerangka teoritis untuk menganalisis proses pertumbuhan GNP yang bersumber dari suatu sistem yang mengatur proses produksi. Model pertumbuhan endogen menyatakan hasil investasi akan semakin tinggi bila produksi agregat disuatu negara semakin besar. Lebih lanjut model endogen ini mengasumsikan bahwa investasi swasta dan public (pemerintah) di bidang sumber daya atau modal manusia dapat menciptakan ekonomi eksternal (eksternalitas positif) dan memacu peningkatan produktivitas tenaga kerja (Rommer,2012).
Todaro dan Smith (2003) menyatakan bahwa pendidikan dan kesehatan memberikan kontribusi kepada pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan ketrampilan dan produktivitas tenaga kerja. Peran SDM sangat besar pada setiap aspek kegiatan ekonomi sehingga dibutuhkan modal manusia atau Human Capital yang berkualitas agar kinerja perkonomian menghasilkan pertumbuhan ekonomi tinggi.
Menurut Mankiw (2003) modal manusia adalah pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh oleh para pekerja melalui pendidikan mulai dari program untuk anak-anak sampai dengan pelatihan dalam pekerjaan (on the job training) untuk para pekerja dewasa. Seperti halnya dengan modal fisik, modal manusia meningkatkan kemampuan untuk memproduksi barang dan jasa. Untuk
meningkatkan level modal manusia dibutuhkan investasi dalam bentuk guru, perpustakaan dan waktu belajar. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Denison dan Chung pada tahun 1976 memperlihatkan pentingnya peran Human Capital dimana ditemukan hasil bahwa terjadi pertumbuhan ekonomi negara Jepang yang cukup tinggi sesudah perang yaitu rata-rata 8,7 % pada kurun waktu 1953 – 1971. Faktor yang mempengaruhi adalah terjadinya akumulasi ilmu pengetahuan yang berpengaruh besar terhadap peningkatan output per unit input yang merupakan tanda bahwa tingginya produktivitas tenaga kerja di Jepang dalam proses produksi.
Temuan empiris dari penelitian ini bahwa Human Capital yang diproksi dengan nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) penduduk Indonesia berpengaruh positip signifikan terhadap nilai produktivitas tenaga kerja di Indonesia. Hasil ini sesuai dengan hipotesis dan sejalan dengan hasil penelitian Aggrey(2010) yang menyatakan bahwa human capital mempunyai pengaruh positip signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja.
PDRB per Kapita atau Produk Domestik Regional Bruto perkapita digunakan sebagai salah satu indikator tingkat kemajuan atau tingkat kesejahteraan penduduk suatu wilayah. Produk Domestik Regional Bruto perkapita diperoleh dengan cara nilai Produk Domestik Regional Bruto dibagi dengan jumlah penduduk. Pada penelitian ini PDRB per Kapita berpengaruh positif signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja di Indonesia. Pengeluaran penduduk yang semakin tinggi menyebabkan tingkat pemenuhan kebutuhan dasar penduduk semakin baik. Hal tersebut mendorong tingkat konsumsi untuk pendidikan dan kesehatan semakin meningkat, sehingga berpengaruh terhadap indeks pembangunan manusia di suatu wilayah dan pada gilirannya dapat
meningkatkan produktivitas tenaga kerja dalam menghasilkan barang dan jasa.
Hasi penelitian Prados (2017) terdapat hubungan kausalitas antara GDP per head dan Labor Productivity,artinya jika PDRB per kapita naik maka Produktivitas tenaga kerja naik; sebaliknya jika produktivitas tenaga kerja meningkat akan meningkatkan PDRB per Kapita.
Kejadian kriminalitas merupakan variabel ketiga untuk menjelaskan produktivitas tenaga kerja di Indonesia. Peneliti ingin melihat apakah kejadian kriminalitas di Indonesia dapat mengganggu produktivitas tenaga kerja di Indonesia. Temuan empiris menunjukkan bahwa variabel ini berpengaruh negatip tidak signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mollick dan Saucedo (2016) yang menemukan bahwa kriminalitas di Mexico menurunkan produktivitas tenaga kerja di sana. Hanya saja di Indonesia pengaruh kejadian kriminalitas tidak signifikan menurunkan produktivitas tenaga kerja. Hal ini disebabkan data kriminal di Indonesia kurang riil dimana banyak kejadian kriminal yang tidak terdeteksi. Dari sisi korban kejahatan ada kecenderungan enggan melaporkan kejahatan yang menimpa dirinya dengan beberapa kemungkinan alasan yakni pesimisme efektifitas pelaporan yang membutuhkan waktu panjang dan biaya yang dikeluarkan selama kegiatan pelaporan. Kondisi ini membuktikan bahwa pendapat Becker berlaku juga bagi korban dan keluarga korban. Mereka juga bertidak rasional yang mempertimbangkan aspek waktu dan biaya yang dihadapkan pada hasil yang diharapkan dari tindakan pelaporan tersebut. Sementara itu tidak terdeteksinya kejadian kriminal dari sisi pelaku, pertama pelaku kejahatan melarikan diri sehingga tidak dapat diketahui alasan melakukan kejahatan. Kedua,
pada saat diinterogasi petugas, pelaku kejahatan tidak mengatakan hal yang sebenarnya.
Variabel eksogen selanjutnya pada persamaan produktivitas tenaga kerja adalah Keluhan Kesehatan (Kkes); merupakan gambaran bahwa kualitas kesehatan penduduk mengalami gangguan sehingga dapat mempengaruhi kualitas produktivitas tenaga kerja. Temuan empirik pada penelitian ini keluhan kesehatan (Kkes) berpengaruh negatif signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja di Indonesia. Hasil ini sesuai dengan hipotesis bahwa jika keluhan kesehatan tinggi maka Produktivitas Tenaga Kerja menurun. Untuk melakukan sebuah kegiatan seseorang harus dalam kondisi sehat agar mampu menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan standard yang ditetapkan baik dari segi kuantitas maupun kualitas.
Pentingnya unsur kesehatan juga dapat diketahui dari hasil penelitian dilakukan oleh Nahar dkk. pada tahun 2015 bahwa kesehatan berpengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja di Malaysia, bahkan pengaruh tersebut lebih besar dari unsur pendidikan.
4.3.1.2 Persamaan 2 : Indeks Pembangunan Manusia (IPM)