• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.3. HASIL ESTIMASI 1 Tahap Pertama

4.3.1.3 Persamaan 4 : Kejadian Kriminalitas

4.3.1.4.2 Uji-t Persamaan Kriminal

Tabel 4.9 Uji t Persamaan Kriminal

Variabel Koefisien t-statistik Probalitas Keterangan Konstanta -12418,52 -0,848086 0.3966 Tidak Signifikan

HLS -13,65870 -0,014551 0,9884 Tidak Signifikan Pengangguran 64,31020 0,121987 0.9029 Tidak Signifikan Kemiskinan -22,86295 -0,199284 0.8421 Tidak Signifikan Gini 36844,290 1,949980 0.0515 Signifikan α =10%

Produktivitas 98230,59 3,315687 0.0010 Signifikan Sumber: diolah dari output Eviews

Dari tabel di atas diketahui bahwa variabel yang signifikan mempengaruhi variabel riminal adalah variabel Produktivitas Tenaga erja dan Gini pada α

=10%) sedangkan variabel HLS, Tingkat Pengangguran dan Tingkat Kemiskinan tidak signifikan mempengaruhi nilai variabel Kejadian Kriminalitas.

4.3.1.4.3 Interpretasi Model

Model persamaan Kejadian Kriminalitas adalah sbb :

Kriminal = -12418,52- 13,689 HLS + 64,310 Pgrn - 22,863 Kmskn +36844,290 Gini + 98320,590 Produktivitas

Variabel Harapan Lama Sekolah memiliki koefisien regresi bertanda negatif artinya jika nilai variabel HLS naik 1 tahun maka nilai Kejadian Kriminalitas turun sebesar 13,689 kasus. Tingkat Pengangguran bertanda postif;

jika terjadi kenaikan tingkat pengangguran 1 % maka akan terjadi peningkatan Kejadian Kriminal sebesar 64,310 kasus. Variabel Tingkat Kemiskinan (Kemiskinan) memiliki tanda koefisien regresi negatif ; jika terjadi kenaikan tingkat kemiskinan 1 % maka akan terjadi penurunan Kejadian Kriminal sebesar 22,863 kasus. Variabel Gini memiliki koefisien regresi bertanda positif ; jika terjadi kenaikan indeks Gini 1 satuan maka akan terjadi peningkatan Kejadian Kriminal sebesar 36844,290 kasus. Sedangkan variabel Produktivitas Tenaga.

Kerja juga memiliki hubungan yang searah ; jika terjadi kenaikan tingkat Produktivitas tenaga kerja 1 miliar rupiah maka akan terjadi peningkatan Kejadian Kriminal sebesar 819 kasus..

Variabel Harapan Lama Sekolah (HLS) yang merupakan proksi bidang pendidikan berpengaruh negatip tetapi tidak signifikan terhadap nilai variabel kejadian kriminalitas(KKrim). Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa Harapan lama Sekolah dapat mempengaruhi kejadian kriminal karena semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang , maka kemungkinan untuk melakukan tindakan kriminal semakin rendah. Hal ini disebabkan peluang mereka untuk memilih bidang pekerjaan lebih tinggi dibandingkan seseorang yang memiliki pendidikan rendah.

Tingkat pengangguran mencerminkan kondisi perekonomian yang tidak baik bagi suatu negara karena terdapat sejumlah penduduk yang tidak memiliki sumber pendapatan.

Menurut Keynes setiap individu memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Ketika seseorang yang tidak memiliki pekerjaan terdesak untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut dan kesulitan mendapatkan pekerjaan karena tidak memiliki keterampilan serta pendidikan rendah, berpotensi memilih melakukan tindakan kriminal seperti pencurian, perampasan dll. Sebagaimana pendapat Becker(1968) yang menyatakan jika pekerjaan yang tersedia lebih banyak, dan jika imbalan uang dari pekerjaan itu meningkat, pencari kerja cenderung memilih bekerja daripada melakukan tindakan kriminal. Karena keuntungan relatif dari kriminal menurun, kejahatan akan berkurang. Temuan empiris penelitian ini bahwa pengangguran memiliki pengaruh positif tidak signifikan terhadap kejadian kriminal. Hasil ini tidak sejalan dengan hipotesis, bahwa jika tingkat pengangguran meningkat maka kejadian kriminalitas juga meningkat. Tetapi pengaruh tersebut tidak signifikan,artinya pengangguran di Indonesia tidak memiliki kecenderungan melakukan tindakan kriminal. Selain tidak riilnya data kriminalitas peneliti melihat penyebab pelanggaran hipotesis karena di Indonesia dijumpai fenomena semakin tinggi pendidikan seseorang tidak menjamin dia segera mendapat pekerjaan. Penduduk yang berpendidikan rendah cenderung menerima pekerjaan di bidang apa saja.

Menurut data BPS jika dilihat dari sisi pendidikan angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) SMK pada tahun 2017 tertinggi yaitu 11,41 % dan TPT berpendidikan SMA 8,29 % dan terendah adalah TPT berpendidikan SD ke

bawah yakni 2,62 %. Tren yang terjadi pada tiga tahun terakhir , lulusan perguruan tinggi dan SMA/SMK persentase menganggurnya selalu bertambah.

Variabel eksogen berikutnya pada persamaan Kejadian Kriminal adalah Tingkat Kemiskinan. Dari temuan empiris tingkat kemiskinan berpengaruh positif tidak sinifikan terhadap kejadian kriminalitas di Indonesia artinya jika tingkat kemiskinan meningkat maka kejadian kriminalitas juga meningkat.

Sebagaimana Tingkat Pengangguran, Tingkat Kemiskinan pengaruhnya tidak signifikan dan hasil ini melanggar hipotesis akibat tidak riilnya data kriminalitas.

Argumentasi lain adalah dikarenakan kemiskinan yang terjadi di Indonesia akibat kemiskinan struktural. Masyarakat miskin hanya mampu bekerja di sektor informal dan mendapatkan penghasilan yang rendah karena tidak memiliki keahlian dan pendidikan yang cukup. Dengan demikian mereka secara produktif bekerja tetapi masih miskin. Dengan pekerjaan yang mereka miliki, mereka tidak terlibat dalam kegiatan kriminalitas.

Variabel eksogen keempat pada persamaan Kriminal adalah Gini rasio yaitu suatu parameter untuk mengukur ketimpangan pendapatan pada suatu wilayah tertentu. Semakin tinggi angka Gini maka semakin senjang tingkat pendapatan pada suatu wilayah; dan kecenderungan lebih didominasi oleh kelompok yang berpendapatan rendah. Hal ini yang dapat mendorong terjadinya kejadian kriminalitas pada wilayah tersebut. Temuan empiris pada penelitian ini variabel Gini berpengaruh positif signifikan terhadap variabel Kriminal , artinya semakin tidak merata distribusi pendapatan di Indonesia semakin tinggi angka kejadian kriminalitas.

Variabel eksogen terakhir pada persamaan Kriminal adalah produktivitas tenaga kerja dimana variabel ini merupakan cerminan prestasi sumber daya manusia. Semakin tinggi produktivitas tenaga kerja maka semakin tinggi jumlah produksi barang dan jasa; konsekuensi logisnya kinerja perekonomian semakin membaik dan kesejahteraan meningkat dan kejadian kriminalitas menurun.

Tetapi hasil empiris penelitian ini menunjukkan produktivitas tenaga kerja berpengaruh positif signifikan terhadap kejadian kriminalitas di Indonesia. Hasil ini tidak sejalan dengan hipotesis seperti halnya pengaruh variabel eksogen pada pembahasan sebelumnya akibat tidak riilnya data kriminalitas di Indonesia.

Argumentasi lain hasil telusuran peneliti, bahwasanya nilai produktivitas tenaga kerja merupakan hasil bagi total output dengan jumlah tenga kerja di Indonesia.

Kontribusi terbesar terhadap total output berasal dari sektor industri pengolahan yakni 20,16 %, lebih tinggi dibandingkan kontribusi sektor pertanian sebesar 13,14 % (BPS,2017).

Kemampuan daya serap tenaga kerja di sektor industri pengolahan di Indonesia saat ini 16,3 juta orang , sementara daya serap tenaga kerja sektor pertanian masih dominan walaupun trennya makin menurun yakni 39,68 juta orang atau 31,86% dari jumlah penduduk bekerja sebesar 124,54 juta orang.

Dampaknya, persentase tingkat pengangguran menurun relatif lambat, sementara produktivitas tenaga kerja meningkat seiring dengan kemajuan teknologi. Pelaku industri memilih untuk melakukan pengalihan tenaga kerja dengan menggunakan teknologi tinggi. Dampaknya produktivitas tenaga kerja meningkat namun pengangguran relatif tinggi.