Seperti yang telah diuraikan pada bab sebelumnya peribahasa Jepang yang terbentuk dari kata mizu memiliki bermacam-macam arti. Setelah penulis menganalisa refrensi yang ada pada bab II, maka berikut ini akan penulis uraikan arti peribahasa Jepang yang terbentuk dari kata Mizu, makna peribahasa tersebut, serta contoh peribahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut ini penulis akan menginterpretasikan 16 kotowaza yang terbentuk dari kata mizu.
水至りて渠成る (みずいたりてきょなる)
Peribahasa Jepang mizu itarite kyonaru memiliki arti sebagai berikut : “mizu ga nagaretekuruto, shizen ni mizo ga dekiru, shizen ni mizo ga dekiru. Gakumon fukakunaruto, shizen ni toku ga kanseisuru to iu koto o tatoete iu. Mata kikai ga touraisuru to shizen ni monogoto wa dekiagaru to iukoto” yang artinya ”ibarat air yang mengalir alami ke dermaga. Ibarat ilmu yang digali secara alami, kemudian menghasilkan kesempatan mendatangkan barang yang banyak”. Peribahasa tersebut melambangkan pada seseorang yang bila secara alamiah menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, maka apapun yang diinginkan dan dicita-citakannya akan dapat diperolehnya kelak.
Hal ini dapat diibaratkan pada air yang secara alami mengalir mencari celah, melewati berbagai saluran hingga akhirnya berhasil menempuh tujuannya untuk berkumpul di satu tempat yang sama dengan air yang lain yakni dermaga.
Jadi penulis berpendapat bahwa bila kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu maka kelak apa yang kita cita-citakan akan tercapai.
水清ければ魚棲まず (みずきよければうおすまず)
Peribahasa Jepang mizu kyokereba uo sumazu memiliki arti sebagai berikut :“mizu ga seiretsu sugiruto kaette sakana wa sumanaimonoda. Jinkaku ga amari ni seiren sugitarisuru to, kaette hito ni shitashimarenaito iu tatoe” .Yang artinya ”bagai air yang terlalu jernih malah tidak mau ditinggali ikan. Bagai karakter, orang yang suci dan jujur malah tidak bergaul dengan orang lain”. Peribahasa ini melambangkan air yang jernih dengan karakter baik dan suci seseorang dan ikan sebagai makhluk sosial.
Kita mengetahui bahwa air berhubungan erat dengan ikan. Namun dalam konteks peribahasa Jepang di atas memiliki keadaan yang berlawanan. Air yang jernih malah ikan tidak ada di dalamnya, dan bila dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari diibaratkan seseorang yang memiliki sifat yang suci malah tidak ingin bergaul dengan atau bersosialisasi dengan orang lain. Ini berarti bahwa ada 2 kemungkinan mengapa orang suci tersebut tidak ingin bersosialisasi. Kemungkinan yang pertama adalah orang tersebut merasa minder atau kurang percaya diri untuk memulai bersosialisasi, atau yang ke-dua karena dia menganggap dirinya tidak pantas bersosialisasi dengan orang disekitarnya atau lingkungannya. Hal ini dapat merugikannya kelak, karena pada dasarnya manusia atau makhluk hidup tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan makhluk hidup lainnya.
水と油 (みずとあぶら)
Peribahasa Jepang “mizu to abura” memiliki arti sebagai berikut “mizu to abura ga ko zari awanai youni, shikkurito chouwashinai koto, tagai ni shoubun no awanai koto o tatoete iu”. Yang artinya, “air dan minyak yang bercampur tidak bisa, hal yang tidak serasi dan harmoni, karena tidak ada kesesuaian sifat satu sama lainnya”.
Bila kita melakukan percobaan kimia dengan mencampurkan air dan minyak didalam satu wadah, maka apa yang terjadi?. Kita akan melihat posisi minyak berada di atas dan air
dibawahnya. Ini dikarenakan berat jenis air lebih berat daripada minyak yang mengakibatkan minyak tidak larut (menyatu) dengan air sehingga yang terlihat air terpisah dari minyak walau berada dalam satu wadah sekalipun.
Bila situasi tersebut dilambangkan dengan kehidupan sehari-hari kita, hal tersebut merupakan keadaan dimana dua karakter orang yang berbeda atau keduanya pernah memiliki permasalahan sebelumnya, bila dipertemukan pada tempat atau ruang kerja yang sama, maka keduanya tidak akan memiliki kecocokan satu dan lainnya sehingga mengakibatkan kurangnya kekompakan dalam menyelesaikan masalah atau pekerjaan.
水の底の針を捜す (みずのそこのはりをさがす)
Peribahasa Jepang“mizu no soko no hari o sagasu” memili arti sebagai berikut : “mizu no soko shizunde iru hari o sagasu. Nakanakashi gatai koto. Jouju gatai koto o iu”, yang artinya, ”mencari jarum di dasar air. Benar-benar hal yang sulit untuk dilakuakan”.
Peribahasa di atas dapat digambarkan dalam kehidupan sehari-hari. Yakni dimana bila kita menjatuhkan benda kecil ke dasar air, adalah hal yang mustahil dan sukar untuk mencarinya kembali. Ini dikarenakan membutuhkan waktu yang lama kita berada dalam air, sedangkan manusia tidak dapat bertahan lebih lama di dalam air karena manusia memerlukan oksigen untuk bernafas dan hidup.
Contoh lainnya adalah ketika kita mencari seseorang di kota yang baru kita datangi, dimana kita tidak mengetahui dengan jelas identitas orang yang kita cari. Maka kesulitanlah yang akan kita peroleh.
水の飲み置きで役に立たず (みずののみおきでやくにたたず)
Peribahasa Jepang “mizu no nomi okide yakuni tatazu” memiliki arti “mizu wa nomi dame dekizu, ikura takusan nonde mo izura kakuyouni, donna ni te o utsukushitemo
yakunonai tatoe”, yang artinya sebagai berikut , ”seberapa banayakpun meminum air tetap haus, seberapa kerasnya usaha tangan untuk menganbil air pun tidak bias menghilangkan rasa harus tersebut”.
Peribahasa ini menggambarkan orang yang merasa selalu kurangan dalam hidupnya. Ini dapat dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari, dimana seseorang yang hidupnya kaya harta dan hidupnya serba berkecukupan. Tapi dia masih melakukan segala cara apapun untuk menambah kekayaan hartanya tersebut, dan itu semua belum menutupi kekurangannya terhadap harta yang dimilikinya.
Apakah yang menyebabkan hal itu terjadi?, dan mengapa orang tersebut selalu belum merasa cukup atas harta yang dimilikinya?. Itu semua dikarenakan kurangnya rasa syukur orang tersebut terhadap nikmat yang diberikan Sang Pencipta padanya, sehingga dia terus-menerus merasa kekurangan.
水に絵を描く (みずにえをかく)
Peribahasa Jepang “mizu ni e o kaku” memiliki arti, “suimen ni e o kaku youna mono dearu. Sugu kieru koto, nanimo ato ni nokoranai koto, mata, kuroushitemo erutokoro nonai koto o tatoete iu”, yang dapat diartikan sebagai berikut : ”melukis di permukaan air. Segera terhapus dan tidak menyisakan apapun. Walau berusaha dengan sekuat tenaga pun tidak akan memperoleh hasil apapun”.
Bila kita mengambil sepotong kayu dan mencoba menulis atau menggambar sesuatu di atas air, maka hasilnya tidak akan tampak. Itu dikarenakan gambar yang kita buat terbawa oleh arus air yang mengalir, sehingga tidak meninggalkan apapun. Berbeda bila kita menggambar sesuatu di atas kertas, maka akan tampak hasil dari yang kita gambar.
Bila digambarkan dalam kehidupan sehari-hari dapat diibaratkan seseorang yang ketika masih muda dapat menerima dan dengan mudah menyerap ilmu yang diberikan
kepadanya, dan dapat mengingatnya dalam jangka waktu yang cukup lama. Namun ketika usia semakin tua, maka hal apapun yang diajarkan kepadanya sangat sulit daya pikirnya mencerna dan bahkan dengan mudanya melupakan hal atau ilmu yang ia peroleh. Ini dikarenakan daya ingatnya melemah. Jadi penulis berpendapat hendaknyalah kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu ketika usia muda, karena katika usia tua daya ingat akan melemah dan menyulitkan kita menuntut ilmu di usia tua.
水の干落ちるを待っているようなも (みずのひおちるをまっているようなも)
Peribahasa Jepang “mizu no hi ochiru o matte iruyouna mo” memiliki arti, “mizu no nagare ga kareruno o mate iru youna mono. Bakabakashii hodo ki no nagai banashi dearu to iukoto”, yang artinya sebagai berikut : “ menunggu kering air sungai. Merupakan hal yang mustahil”.
Sungai memiliki kapasitas air yang cukup banyak. Sungai tidak akan benar-benar kering atau benar-benar habis airnya walau dalam keadaan musim panas sekalipun. Karenanya hal yang mustahil dan melelahkan bila kita menunggu air sungai kering.
Situasi dalam peribahasa diatas dapat digambarkan dalam kehidupan sehari-hari. Yakni seseorang yang malas dalam berusaha, ia hanya menunggu seseorang yang kiranya baik hati dan dermawan kemudian datang padanya dengan mewariskan sebagian harta kepanya. Itu merupakan hal yang mustahil. Sama halnya dengan kita berharap turunnya hujan emas. Jadi penulis berpendapat bahwa untuk memperoleh kehidupan yang layak adalah dengan berusaha dan bekerja, karena harta tidak akan datang dengan sendirinya tanpa kita memperolehnya dengan usaha.
Peribahasa Jepang “mizu ni korite yu o jisu” memiliki arti sebagai serikut : “mizu de koritatame, mizu ni nite iru yu mademo osorete jitaisuru”, yang artinya, ”hal belajar dari pengalaman, suatu reaksi ketika menyentuh air panas”.
Ketika kita belum mengetahui bahwa teko yang akan kita sentuh adalah berisikan air panas, maka kita akan menyentuhnya seperti biasa. Namun reaksi yang kita lakukan berbeda ketika kita telah menyentuhnya dan merasakan panas dari luar teko. Dengan reaksi cepat menarik dan menjauhkan tangan kita dari teko tersebut. Ini merupakan reaksi cepat yang diberikan oleh otak, sehingga membuat kita berhati-hati ketika akan menyentunya kembali.
Bila peribahasa di atas dilambangkan dalam kehidupan sehari-hari dapat kita contohkan juga dengan seseorang yang melintasi sebuah jembatan yang terbuat dari kayu. Kemudian ia berjalan santai seperti biasa. Tapi tiba-tiba dengan reaksi cepat ia mengangkat satu kakinya dan berhenti berjalan. Ini dikarenakan ada paku yang menusuk kakinya. Setelah beberapa saat ia kembali berjalan namun kali ini lebih berhati-hati.
Jadi penulis berpendapat ketika sesuatu menyakiti diri kita maka dengan cepat otak kita melakuakan perintah pada tubuh untuk bereaksi menghindarinya. Tapi ketika kita tidak dapat menghindarinya lagi, maka reaksi yang kita lakukan adalah lebih berhati-hati dalam melakukan kegiatan yang sama.
水濁ればすなわち尾を振るうの魚無し (みずにごばすなわちおをふるうの
うおなし)
Peribahasa Jepang “mizu nigoreba sunawachi o o furuu no uo nashi” memiliki arti sebagai berikut :“mizu ga nigoru to oyogi mawaru sakana wa inakunaru. Seiji ga tadashiku okonawarete inai to, hitobito wa jiyuu ni tanoshikurasukotoga dekinakunaru”. Yang artinya, “ibarat air berlumpur tidak ada ikan yang berenang. Ibarat berpolitik, masyarakat tidak memiliki kebebasan melakukan politik yang benar”.
Ketika air jernih ikan akan bebas berenang, tapi ketika air berlumpur maka ikan akan kesulitan berenang. Sama halnya ketika politik dilaksanakan dengan jalan yang baik dan benar oleh hanya sebagian orang, namun banyak orang berpolitik dengan jalan yang salah, maka sebagian orang tersebut tidak akan leluasa dan menegakkan hal yang benar. Lama-kelamaan mereka mundur dan yang tersisa hanya politik di jalan yang salah, sehingga dapat menghancurkan negaranya secara perlahan.
水は天から貰い水 (みずはてんからもらいみず)
Peribahasa Jepang, “mizu wa ten kara morai mizu”, memiliki arti berikut : “seikatsu ni hitsuyouna mizu wa ten kara futta ame o ateru. Ido ya suidou no nai seikatsu o iu”. Yang artinya, “air yang dibutuhkan bagi kehidupan adalah berasal dari hujan yang turun dari langit. Bukan dari saluran air maupun sumur”.
Air yang mengalir memenuhi saluran air, sungai, maupun sumur adalah tidak dating dengan sendirinya. Itu semua diawali dari air hujan yang turun dari langit, kemudian mengalir mencari celah dan berkumpul di beberapa bagian di atas permukaan bumi salah satunya sungai dan sumur.
Bila dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari yakni bahwa harta yang kita peroleh walaupun dengan usaha dan kerja keras kita tapi bila tanpa kehendak dari Tuhan maka kita tidak akan dapat menikmatinya.
Jadi penulis berpendapat semua harta dan kenikmatan yang kita peroleh dari Tuhan, dan selayaknya kita bersyukur selalu kepadanya.
Peribahasa Jepang “mizu tsumorite kawa to naru”, memiliki arti berikut : “mizu ga atsumatte kawa to naru. Chiisana mono ga atsumatte dai o nasuto iu tatoe”. Yang artinya, ”air yang berkumpul menjadi sungai. Hal kecil bila ditumpuk akan menjadi besar”.
Tetesan air yang mengalir meresap ke dalam tanah dan berkumpul di tempat yang sama dengan tetesan air lainnya, sehingga membentuk sungai yang besar dan dapat dimanfaatkan oleh makhluk hidup. Ini dapat dicontohkan dari segi positif pada seseorang yang mengumpulkan uang koin demi koin, tapi lama kelamaan koin tersebut bertumpuk menjadi uang yang bila ditukarkan memiliki nominal yang besar, sehingga dengan uang tersebut ia dapat membeli sesuatu yang ia inginkan.
Contoh lainnya adalah bersifat negatif, yakni ketika suatu hari seseorang mencuci sepotong pakaian tapi tidak menyetrikanya. Hari berikutnya ia melakukan hal yang sama dan seterusnya. Maka pakaian yang tadinya hanya sepotong menjadi beberapa stel pakaian yang menumpuk, sehingga pada akhirnya ketika menumpuk ia akan kesulitan menyetrikanya karena sudah terlalu banyak dan akan membuatnya keletihan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa hal yang kecil dapat menjadi besar bila kita mengumpulkannya, namun kadang kala dapat menguntungkan kita dan dapat merugikan kita juga.
水積もりて魚集まる (みずつもりてうおあつまり)
Peribahasa Jepang “mizu tsumorite uo atsumaru”, memiliki arti berikut : “mizu ga yutakana tokoro ni wa, sakana ga yotte kuru. Ri no aru tokoro ni hito ga atsumaru tatoe”. Yang artinya, ”tempat yang kaya akan air maka ikan akan datang mendekat. Tempat yang dapat menghasilkan keuntungan maka orang akan datang mendekat”.
Ikan sangat menyukai air yang banyak atau dalam karena ia dapat leluasa berenang. Sama halnya bila diibaratkan dengan manusia dan kehidupan sehari-harinya. Manusia atau
seseorang akan cenderung memihak dan mendekatkan diri pada orang yang memberikan keuntungan padanya. Misalkan, seorang pria yang memiliki dua orang saudara kandung. Satu saudaranya orang kaya dan memiliki kedudukan di lingkungannya, dan satu lagi saudaranya adalah orang biasa yang miskin. Maka secara otomatis perlakuan seseorang tersebut terhadap kedua saudaranya sedikit berbeda. Ia lebih mengutamakan saudaranya yang berada. Mengapa?, karena ia berharap kelak bila ia dalam kesulitan maka saudaranya yang kaya tersebut akan membantunya.
Ini merupakan naluri manusiawi, karena penulis berpendapat bahwa sebagian besar manusia memiliki sifat keinginan membalas budi. Jadi, ketika seseorang berbuat baik atau berpihak kepada kita, secara otomatis kita akan berusaha untuk membalasnya.
水積もりて淵となリ、学積もりて聖となる (水積もりて淵となり、がくつもり
てせいとなる)
Peribahasa Jepang “mizu atsumorite fuchi tonari, gaku tsumorite seito naru”, memiliki arti berikut : “wazukana mizu de atsumareba ookina fuchi to nari, sukoshi zutsu demo tayumazu gakumon o tsumi kasaneru koto ni yotte, shounin no shiro ni tassuru koto ga dekiru”. Yang artinya, “sediki demi sedikit air berkumpul membentuk lubuk. Ilmu yang dikumpulkan bahkan mampu menyelesaikan istana ”.
Air yang hanya awalnya berupa tetesan saja mampu membentuk palung (bagian terdalam laut) bilaberkumpul. Ibarat seseorang yang menuntut ilmu, bila dengan sungguh-sungguh ia menuntut ilmu, bahkan dengan modal ilmunya tersebut ia dapat membangun sebuah istana. Karena ilmu yang ia peroleh dapat diterapkan ke dalam pekerjaannya sehingga menghasilkan uang. Dari uang tersebut ia dapat membayar kuli bangunan ataupun artsitektur untuk mendirikan sebuah istana untuknya.
Disini penulis dapat memberikan pendapat bahwa ilmu yang kita peroleh dengan sungguh-sungguh dan kita terapkan kedalam kehidupan kita, akan dapat membahagiakan kehidupan kita kelak.
水を知る者は水に溺る (水を知る者は水に溺る)
Peribahasa jepang ”mizu o shiru mono wa mizu ni oboru”, memiliki arti berikut : ”mizu ni nare, mizu o yoku shiru mono wa mizu no tameni mei o otosu”. Yang artinya, ”orang yang mengetahui dangan baik tentang air, maka akan menggantungkan kehidupannya pada air”.
Maksudnya peribahasa di atas dapat diibaratkan pada seseorang yang dari kecilnya sudah mengetahui tentang laut, pantai, ombak dan kehidupan di sekitarnya, maka ketika besar ia akan lebih memilih bekerja mencari nafkah dengan bidang yang ia temui sejak kecil. Itu bisa berupa menjadi pelaut, nelayan, ataupun pekerjaan yang berhubungan dengan laut. Ia memilih pekerjaan tersebut karena ia merasa sudah memahami laut dalam hidupnya.
Begitu pula anak seorang dokter. Sejak kecil kehidupan sehari-harinya berhubungan dengan pasien orang tuanya, obat-obatan, maupun alat medis. Maka pekerjaan yang ia tekuni nantinya tidak jauh hubunganya dengan bidang kesehatan, karena ia merasa medis adalah sudah menjadi bagian dari hidupnya.
水音すれば里に近し (みずおとすればさとちかし)
Peribahasa Jepang “mizu otosureba sato chikashi”, memiliki arti berikut : “sanro o tadotte kite, mizu no nagareru oto ga kikoeru youni nabera, hitozato chikazuitashirushi dearu”. Yang artinya, “berjalan di kaki gunung bila terdengar suara air mengalir menandakan sudah mendekati perkampungan penduduk”.
Ketika seseorang sering berjalan di sekitar kaki gunung, maka ia dapat mengetahui makna dari situasi tanda yang diberikan oleh alam sekitarnya, kemudian segera melakukan sesuatu bila mana jiwanya terancam. Seperti halnya ketika ia sedang berjalan, kemudian mendengar suara air yang mengalir, maka ia berfikir bahwa tidak jauh lagi ia akan menemukan perkampungan. Karena ia beranggapan bahwa dimana ada air maka disekitarnya akan ada kehidupan, karena makhluk hidup tidak dapat hidup tanpa air.
Jadi penulis menarik kesimpulan dari peribahasa di atas bahwa orang yang telah menekuni suatu kegiatan maka ia akan mengetahui makna dari tanda yang diberikan oleh keadaan alam sekitar kegiatannya tersebut. Contoh lainnya adalah seorang ahli geometri dan fisika. Para ahli tersebut dapat mengetahui bagaimana tanda-tanda yang diberikan alam ketika akan terjadi gempa, dan apa yang sebaiknya dilakukan oleh penduduk yang tingga l di sekitar gempa tersebut.
水と魚 (みずとうお)
Peribahasa Jepang “mizu to uo” memiliki arti berikut : “mizu to sakana no youna kankei, missetsuna kankei ni aru koto”. Yang artinya, ”bagai ikan dan air, yakni hubungan yang sangat erat”.
Ikan tidak akan dapat hidup tanpa air, dan sebaliknya air tidak akan tampak ada kehidupan di dalamnya bila tidak ada ikan yang hidup di dalam air tersebut. Keduanya saling berhubungan, saling membutuhkan, dan ini merupakan pertalian yang erat.
Bila diibaratkan ke dalam kehidupan, kita bisa mencontohkan hubungan antara suami dan istri. Istri membutuhkan suami sebagai kepala rumah tangga, pencari nafkah keluarga, dan sebagai pelindung keluarga. Dan begitu juga sebaliknya, suami membutuhkan istri untuk mengatur perekonomian keluarga, mendidik anak, dan tempat bertukar fikiran. Keduanya
tidak dapat dipisahkan, dan bila mana salah satu dari mereka tidak ada, maka kehidupan keluarga kurang berjalan dengan harmonis.
KESIMPULAN DAN SARAN