• Tidak ada hasil yang ditemukan

Interpretasi Tema

Dalam dokumen Museum Buddhist (Simbolism Architecture) (Halaman 75-90)

BAB III ELABORASI TEMA

III.2. Interpretasi Tema

BAB III

ELABORASI TEMA

III.1. Latar Belakang

Pemilihan tema dilatarbelakangi dengan beberapa pertimbangan diantaranya adalah karena bangunan yang akan dibangun adalah bagian dari komplek Vihara Dharma Shanti – Berastagi. jadi jiwa religious harus tetap dipertahankan dalam bangunan Museum Buddhis yang akan dibangun. Untuk menampilkan jiwa religious tersebut maka digunakan symbol – symbol dalam Buddhis.

III.2. Interpretasi Tema

III.2.1. Pengertian Arsitektur Simbolik Pengertian Arsitektur

Menurut Vitruvius di dalam bukunya De Architectura (yang merupakan sumber tertulis paling tua yang masih ada hingga sekarang), bangunan yang baik haruslah memilik Keindahan / Estetika (Venustas), Kekuatan (Firmitas), dan Kegunaan / Fungsi (Utilitas); arsitektur dapat dikatakan sebagai keseimbangan dan koordinasi antara ketiga unsur tersebut, dan tidak ada satu unsur yang melebihi unsur lainnya. Dalam definisi modern, arsitektur harus mencakup pertimbangan fungsi, estetika, dan psikologis. Namun, dapat dikatakan pula bahwa unsur fungsi itu sendiri di dalamnya sudah mencakup baik unsur estetika maupun psikologis.

Menurut Sophisticity, arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur lansekap, hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut.

Arsitektur adalah bidang multi-dispilin, termasuk di dalamnya adalah matematika, sains, seni, teknologi, humaniora, politik, sejarah, filsafat, dan sebagainya. Mengutip Vitruvius, "Arsitektur adalah ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, dan dilengkapi dengan proses belajar: dibantu dengan penilaian terhadap karya tersebut sebagai karya seni". Ia pun menambahkan bahwa

seorang arsitek harus fasih di dalam bidang musik, astronomi, dsb. Filsafat adalah salah satu yang utama di dalam pendekatan arsitektur. Rasionalisme, empirisisme,fenomenologi strukturalisme, post-strukturalisme, dan dekonstruktivisme adalah beberapa arahan dari filsafat yang mempengaruhi arsitektur.

Pengertian Simbolik

Pengertian dari simbolisme jika ditinjau dari arti kata adalah sebagai berikut :

• Simbol : Lambang, sesuatu seperti tanda yang menyatakan suatu hal atau mengandung maksud tertentu. 4

• Simbol : Something associated with something else that signifies or represent (suatu fenomena yang dapat memberikan asosiasi bahwa ia dapat membawa arti penting atau dapat mewakili)

5

• Simbol : Adalah tanda dimana hubungan antara tanda dengan denotatumnya ditentukan oleh suatu peraturan yang berlaku umum, ditentukan oleh suatu persyaratan bersama atau konvensi.6

• Simbol : Sebagai tanda dapat juga menggambarkan suatu ide abstrak jadi tidak ada kemiripan antara benutk tanda dan arti terdapat yang bebas antara signified (objek atau arti yang dimaksudkan) dari rupa tanda.7

• Simbolisme : Perihal pemakaian simbol (lambang) untuk mengekspresikan ide-ide.

Simbol adalah tanda buatan manusia yang digunakan tidak hanya untuk mengenalkan suatu obyek tetapi juga sekaligus menghadirkannya (Langer, 1942). Simbol merupakan kata dari bahasa Yunani “symbolis” yang berarti tanda atau ciri yang memberitahu tentang suatu hal, maksud ataupun ide kepada orang lain. Pengertian simbol di sini mengandung suatu citra dari latar belakang ide-ide yang dipancarkan keluar. Pada dasarnya, simbol

4

Kamus Besar Bahasa Indonesia 5

Ensyclopedia Americana, 1976, hal 166 6

Drs. Dien Halim, Tesus Pasca Sarjana, ITB, hal 36 7

dimaksudkan untuk menyederhanakan sebuah pikiran, ide-ide, ataupun fenomena-fenomena yang berkembang di sekitar alam lingkungan manusia yang mempunyai makna mendalam untuk mewakili ide-ide, nilai-nilai ataupun maksud-maksud tertentu. Sifat khas dari simbol itu sendiri yaitu adanya kamungkinan-kemungkinan penafsiran makna yang meluas.

Simbolisme, yaitu suatu faham yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran manusia ke arah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam. Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan, yang diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol yang lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang memiliki daya tangkap yang berbeda-beda.8

• Sebagai ‘sign’ yang secara tidak langsung mengindikasikan suatu denotatum yang artinya mengindikasikan adanya suatu objek tertentu sebagai tanda atau ‘sign’.

Simbol adalah sebagai sign-vehicle atau alat yang menghadirkan dan sekaligus juga mengenalkan suatu objek. Fungsi simbol yaitu :

• Sebagai ‘sign’ yang secara langsung berfungsi sebagai significantum yang artinya kehadiran objek mempunyai maksud-maksud tertentu ataupun objek tersebut berasosiasi kepada suatu hal tertentu (Broadbent, 1986)

8

Menurut Charles Jencks , dalam arsitektur ketika seseorang melihat suatu bangunan , mengekspresikan bentuknya , dan menebak apa maksud yang ingin diekspresikan atau dikomunikasikan oleh bentuk tersebut.

Ungkapan simbolis dalam arsitektur erat kaitannya dengan fungsi arsitektur sendiri yang melayani dan memberikan suatu arti khusus dalam interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Ekspresi dalam arsitektur merupakan suatu hal yang mendasar di dalam tiap-tiap komunikasi arsitektur. Ekspresi selalu berhubungan dengan bentuk-bentuk. Makna dari simbol-simbol ini biasanya dipengaruhi oleh tata letak bangunan, organisasi dan karakter bangunan. Ada 3 cara untuk mengenal simbol dalam arsitektur, yaitu:

• Simbol sebagai tanda yang mengacu kepada suatu objek tertentu. Hal ini dimaksudkan dengan tujuan agar simbol dapat diinterpretasikan sesuai dengan maksud sesungguhnya.

• Iconic sebagai simbol atau tanda yang menyerupai suatu objek yang diwakili oleh suatu karakter tertentu yang dimiliki oleh objek yang sama. Di sini rancangan bangunan dimulai dengan memperbaiki beberapa citra atau image tertentu yang mewakili suatu bangunan.

• Indeks sebagai tanda dan representasi yang tidak selalu mengacu kepada suatu objek tertentu walaupun ada kesamaan atau analogi yang terdapat pada indeks tersebut. Indeks biasanya menghasilkan hubungan yang dinamis antara ruang dan objek di satu sisi dengan ingatan orang yang akan mempengaruhi tanda tersebut di sisi lainnya.

Simbol, tanda atau lambang merupakan metode ekspresi yang sangat langsung. Mereka digunakan dalam rancangan arsitektur untuk memfokuskan perhatian para pemakai bangunan dengan menyampaikan pemahaman fungsi bangunan atau ruang di dalam arsitektur.9

1. Simbol yang agak tersamar Arsitektur Simbolis

Arsitektur Simbolis adalah seni dan ilmu keteknikan bangunan yang perencanaan dan perancangannya didasari oleh tanda dan lambang yang merupakan ekspresi yang langsung. Mereka digunakan dalam rancangan arsitektur untuk memfokuskan perhatian pemakai bangunan dengan menyampaikan pemahaman fungsi bangunan atau ruang-ruang dalam bangunan. Simbolis senantiasa merupakan teknik perancangan utama yang memberi bentuk dan teknik yang dapat diterapkan mengenai hal-hal fungsional dan berdasarkan rencana untuk memperkuat suatu arti dan memberikan keutuhan pada komposisi secara menyeluruh.

Ada beberapa jenis simbol yang dikaitkan dengan simbol itu sendiri, kesan yang ditimbulkan oleh bentuk simbolis dan pesan langsung yang disampaikan oleh simbol, yang semuanya ditampilkan pada bentuk-bentuk tertentu, yaitu :

Yang menyatakan peran dari suatu bentuk, misalnya pabrik yang berbentuk gerigi. Bangunan pabrik dengan ruang yang besar dan luas sesuai dengan kebutuhan proses produksi dalam ruang tersebut. Karena luas ruangan dibutuhkan penyelesaian atap khusus untuk memasukkan cahaya agar ruangan

9

sebesar itu tidak gelap. Hasilnya berupa bentuk atap gerigi. Sebetulnya bentuk itu menggambarkan peranannya sebagai bentuk yang memasukkan cahaya ke dalam. Pemakaian bentuk tersebut digunakan berulang-ulang dengna tujaun yang sama pada pabrik, sehingga akhirnya bentuk tersebut dikenal masyarakat sebagai bentuk simbolis pabrik yang berperan sebagai bentuk yang memasukkan cahaya ke dalam.

2. Simbol Metaphora

Simbol ini berdasarkan pada pandangan seseorang terhadap bentuk bangunan yang dilihat dan diamatinya. Baik dari bentuk keseluruhan atau terhadap bagian masyarakatnya, yaitu tingkat kecerdasan dan pengalamannya, sebab seseorang itu selalu membandingkan bangunan yang diamatinya dengan bangunan atau benda lain, misalnya Nagaka Capsule Building, Tokyo.

Terdapat 3 kategori metafora dalam arsitektur10

• Intangible Metaphor (metafora yang tidak dapat diraba).

Metafora yang dipakai berangkat dari suatu konsep, ide, hakekat manusia, dan nilai-nilai seperti individualisme, naturalisme, komunikasi, tradisi dan kebudayaan.

• Tangible Metaphor (metafora yang nyata)

Metafora yang dipakai berangkat dari hal-hal yang visual serta spesifikasi/karakter tertentu dari sebuah benda seperti sebuah rumah (puri atau istana)

• Combine Metaphor (metafora kombinasi)

Merupakan gabungan intangible dan tangible metaphor dengan membandingkan suatu objek visual yang lain di mana mempunyai persamaan nilai/konsep, di mana bentuk visualnya dapat dipakai sebagai acuan kreativitas perancangan.

10

Gambar 3.1. : site plan mall di Washington

Gambar 3.2. : Place de Concorde, Obelisk dan menara Eiffel

3. Simbol Tanda Pengenal

Simbol ini berdaasarkan pada bentuk tertentu pada bangunan yang mencirikan bangunan tersebut. Sebagai contoh :

• Masyarakat mengenal mesjid dari bentuk kubahnya.

Pada umumnya bentuk kubah mewakili mesjid secara keseluruhan. Bentuk tersebut terjadi karena persyaratan struktur sebab bahan yang ada terbatas dan menuntut perlakuan struktur seperti itu. Karena pemakaian yang terus menerus pada jenis bangunan yang itu-itu saja, bentuk yang disepakati oleh masyarakat sebagai simbol mesjid, meskipun bentuk ini tidak fungsional lagi karena ada bahan-bahan lain yang tidak menuntuk perlakuan struktur yang melahirkan bentuk kubah tadi.

• Tanda bulan-bintang sebagai simbol Agama Islam

• Tanda salib sebagai simbol Agama Kristen.

• Bentuk gereja yang ditandai dengan salib, patung Bunda Maria, , dll

• Pura dijumpai ukiran-ukiran dan patung-patung dalam agama Hindu.

• Dalam Agama Buddha dijumpai lambang-lambang seperti Stupa, Mandala, Dharma Cakra, dll.

Beberapa contoh bangunan yang menjadi simbol :

• Simbolisme burung hantu,

sebuah mall di Washington DC memiliki penataan site sehingga taman dan jalan membentuk image burung hantu.

• Obelisks, merupakan simbol yang berhubungan dengan Dewa Matahari Mesir, Osiris. Gambar di samping adalah monumen Washington, Place de Concorde di Paris; sebuah obelisk Mesir dan menara Eiffel.

Gambar 3.3. : Pentagon

Gambar 3.4. : Piramida

• Pentagrams, Pentagon mengadopsi simbol ini

• Piramida di Louvre, yang terbuat dari 666 panel kaca.

Faktor-faktor yang mewujudkan bentuk : 1. Fungsi

Batasan fungsi secara umum dalam arsitektur adalah pemenuhan terhadap aktivitas manusia, tercakup di dalamnya kondisi alami. Sedangkan bangunan yang fungsional adalah bangunan yang dalam pemakaiannya memenuhi kebutuhan secara tepat dan tidak mempunyai unsur-unsur yang tidak berguna. Aktivitas timbul dari kebutuhan manusia baik itu kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Kebutuhan dapat berupa kegiatan, cahaya, udara, kebahagiaan, perlindungan, kesejukan, kenyamanan dan lainnya. Berkembang dan berubahnya fungsi tergantung dari waktu dan masyarakat.

2. Simbol

Dalam dunia arsitektur, pengenalan simbol merupakan suatu proses yang terjadi pada individu dan pada masyarakat. Melalui panca indera, manusia mendapat rangsangan dan kemudian menjadi pra persepsi, selanjutnya terjadi pengenalan objektif (fisik). Kemudian terwujudlah persepsi. Persepsi sangat dipengaruhi oleh pengalaman termasuk pengalaman pendidikan yang

menentukan tingkat intelektual manusia. Arsitek sebagai pewujud bentuk dapat menampilkan simbol sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, sehingga mudah dikenal oleh masyarakat. Simbol dapat pula timbul dari gagasan murni arsitek, tergantung pada kemampuan dan citra arsitek untuk mengeluarkan hal-hal yang baru. Simbol tadi mungkin dapat diterima dan diakui masyarakat setelah melalui proses adaptasi yang membutuhkan waktu relatif lama.

3. Teknologi struktur dan bahan

Teknologi struktur dan bahan merupakan faktor yang penting dalam arsitektur. Apakah yang dibangun hanya berupa atap sederhana, berupa ruangan besar untuk beribadah, berdagang, ruang susun tidaklah menjadi masalah. Bahan yang digunakan harus disusun dan dikonstruksikan dalam jumlah tertentu. Struktur pun mengandung keindahan karena struktur dibuat berdasarkan hukum keindahan. Dengan majunya pengetahuan manusia, struktur mengalami perkembangan baik sistem konstruksinya, bahan bangunannya maupun metode membangunnya.

Aplikasi dalam perwujudan bentuk 1. Kaitan fungsi dengan bentuk

Keberadaan fungsi menimbulkan bentuk. Pengertian fungsionil merupakan suatu hal yang menonjol dalam kaitan fungsi tertentu. Dengan kata lain, fungsi merupakan pertimbangan utama bagi suatu perancangan bentuk. Suatu fungsi dapat mempunyai bermacam-macam bentuk, tergantung dari keadaan lingkungannya, inilah yang disebut gaya.

2. Kaitan bentuk dengan teknologi

Untuk mendapatkan suatu bentuk yang mempunyai fungsi tertentu, diperlukan bahan-bahan bangunan sebagai sarana dasar bangunan. Bahan-bahan yang merupakan elemen bangunan disusun menjadi suatu kesatuan yang membentuk konstruksi. Suatu sistem tepat yang perlu dipilih sehingga akan dapat menghasilkan fungsi yang diinginkan secara maksimal.

3. Kaitan bentuk dengan simbol

Suatu bangunan diekspresikan secara simbolik jika bangunan itu menunjukkan sesuatu yang lebih tinggi dari keadaan bentuk fisik yang semula. Bangunan

Gambar 3.5. : warna – warna Bendera Buddhis

tersebut cenderung untuk mewujudkan sebuah prinsip pengakuan umum. Para arsitek menggunakan bentuk simbolis untuk menyajikan pengalaman

keindahan yang mendalam sesuai dengan daya bercitranya. Dalam dunia arsitektur juga dibutuhkan suatu penekanan kebutuhan simbol dalam perancangan.

III.2.2. simbol – Simbol dalam Agama Buddha

Ada beberapa simbol dalam Agama Buddha yang dapat diterapkan dalam desain arsitektur. Beberapa simbol itu antara lain:

 Jumlah / angka tiga dan angka depan delapan

Angka tiga dan angka delapan memiliki arti sendiri dalam agama Buddha. Angka tiga melambangkan Triratna (tiga mustika) yang terdiri dari Buddha, Dharma serta Sangha, dan Tripitaka (tiga keranjang) yang terdiri

dari Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka, dan Abhidhamma Pitaka. Sedangkan

angka delapan melambangkan Ariyo aṭṭ hagiko maggo (jalan tengah

berunsur delapan yang terdiri dari : pengertian benar, pemikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, daya upaya benar, perhatian benar dan konsentrasi benar.

Bendera Buddhis

Warna dari bendera Buddhis diambil dari warna aura tubuh Sang Buddha, ketika Beliau

mencapai penerangan sempurna di bawah pohon

Bodhi. Warna dari tubuh Sang Buddha terdiri dari lima warna, dan tiap warna tersebut berasal dari bagian – bagian tubuh Sang Buddha dan memiliki arti khusus.

Gambar 3.6. : Dharma Cakra

Warna – warna aura yang dilambangkan dalam bendera Buddhis antara lain:

o Biru (Nila) dari warna rambut Sang Buddha melambangkan bakti atau pengabdian.

o Kuning Emas (Pita) dari warna kulit Sang Buddha melambangkan kebijaksanaan.

o Merah tua (Lohita) dari warna darah Sang Buddha melambang cinta kasih.

o Putih (Odata) dari warna tulang dan gigi Sang Buddha melambang kesucian.

o Jingga (Manjettha) adalah warna yang diambil dari warna telapak tangan, kaki dan bibir Sang Buddha yang melambangkan semangat. o Untuk bagina kanan dari bendera Buddhis adalah gabungan dari

kelima faktor warna yang telah dijelaskan di atas.  Dharma Cakra

Dharma cakra dilambangkan dengan roda kereta yang merupakan representasi dari simbol pemutaran roda dharma oleh Sang Buddha tentang empat kesunyataan mulia. Lambang dari Dharma Cakra ini memiliki delapan jari – jari atau lebih, simbol ini merupakan simbol tertua yang ditemukan di India.

Jumlah jari – jari pada Dharma Cakra memiliki arti tersenndiri

o Untuk 8 jari-jari mewakili Delapan Jalan Mulia (Attha Ariya magga). o Untuk 12 jari-jari mewakili Dua Belas unsur Hukum Hukum Sebab –

Musabab yang saling Bergantungan (Paticcasamuppāda).

o Untuk 24 jari-jari mewakili Dua Belas unsur Hukum sebab – musabab yang saling bergantungan dan Dua Belas Jalan untuk menghentikan hokum sebab – musabab (Paticcasamuppāda).

Gambar 3.7. : Pilar Asoka

o Untuk 31 jari-jari mewakili keberadaan 31 alam (11 alam nafsu keinginan, 16 alam berbentuk dan 4 bentuk alam keadaan tak berbentuk).

Untuk setiap bagian pada Dharma Cakra memiliki arti tersendiri :

o Pada bagian lingkaran / roda (cakra), melambangkan kesempurnaan dari Dharma (ajaran Sang Buddha)

o Untuk bagian pust roda, melambangkan disiplin yang merupakan bagian terpenting dalam praktek meditasi.

o Untuk bagian Rim yang memegang jari – jari, melambangkan kesadaran dan Samadhi yang memegang segala sesuatu secara bersama – sama.

Pilar Asoka

Pilar Asoka adalah pilar yang dipersembahkan Raja Asoka sebagai wujud penghormatan kepada Sang Buddha. Pilar asoka didirikan pada masa pemerintahan Raja Asoka abad ke-3 SM dan banyak ditemukan di India bagian utara. Sekarang pilar Asoka yang masih bertahan hanya tinggal Sembilan belas buah.

Pada bagian atas pilar ini memiliki pucuk berbentuk empat kepala singa yang berdiri membelakangi satu sama lain dan menghadap ke empat penjuru mata angin. Lambang India modern adalah keempat singa ini. Singa selain melambangkan kekuasaan Asoka, juga melambangkan sifat kerajaan sang Buddha (singa dianggap raja hutan yang merajai semua margasatwa dan Buddha adalah seorang pangeran mahkota). Keempat singa tersebut menghadap ke empat penjuru mata angin melambangkan tujuan dari Raja Asoka untuk menyebarkan ajaran Buddha ke seluruh dunia.

Gambar 3.8. : Lambang Swastika

Gambar 3.9. : Stupa

Swastika

Swastika (Sansekerta svastika, yang artinya "semuanya baik-baik") adalah sebuah salib dengan empat lengan dengan panjang yang sama, dengan masing - masing ujung lengan bengkok di sudut kanan. Kadang - kadang titik ditambahkan antara masing - masing lengan.

Dalam ajaran Buddha, swastika menandakan keberuntungan dan nasib baik serta jejak kaki Buddha dan jantung Buddha. Swastika dikatakan berisi seluruh pikiran Buddha dan sering bisa ditemukan dicantumkan pada dada, telapak kaki atau gambar Buddha. Hal ini juga yang pertama dari 65 simbol keberuntungan pada jejak Buddha.

Swastika juga sering digunakan untuk menandai awal teks Buddha. Di Cina dan Jepang, swastika Buddhis dipandang sebagai simbol kemajemukan, keabadian, kelimpahan, kemakmuran dan umur panjang.

Swastika digunakan sebagai tanda yang menguntungkan pada candi Buddha dan sangat umum di Korea. Ini sering terlihat di sekitar perbatasan dekoratif lukisan, dan mezbah kain spanduk. Dalam Buddhisme Tibet, juga digunakan sebagai hiasan pakaian.

Stupa

Di stupa digunakan sebagai makam, tempat menyimpan abu kalangan bangsawan atau tokoh tertentu. Di kalangan tempat menyimpan abu sang buddha sendiri. Setelah wafat lalu dikremasi, abu buddha disimpan dalam delapan stupa terpisah yang didirikan di India Utara.

Gambar 3.10. : Lambang Mandala

Dalam perkembangannya, stupa menjadi lambang Buddhisme itu sendiri. Semasa pemerintahan menanandakan kedudukan Budddha sebagai agama utama di India. Demikian pula di Asia Timur dan Asia Tenggara, stupa didirikan sebagai bukti pengakuan terhadap Buddhisme di wilayah yang bersangkutan. Bagi kita sekarang, stupa dapat menjadi petunjuk seberapa luas Buddhime tersebar di suatu wilayah.

Sebagai lambang peerjalanan sang Budddha masuk ke nirwana, bangunan terdiri atas 3 bagian, yaitu andah, yanthra, dan cakra. Pembagian dan maknanya tidak jauh berbeda dengan Sedangkan di Indonesia, lebih sering dijumpai bangunan stupa yang menjadi bagian candi, seperti

Mandala

Mandala (Sansekerta:

mandala "esensi" + "memiliki" atau "berisi", juga diterjemahkan sebagai "lingkaran-lingkaran" atau "penyelesaian"; Tibet:

; Wylie: dkyil 'Khor atau dkyil-vkhor; cina:曼 荼罗; Pinyin:

Màntúluó; korea: 만다라; Vietnam: Man-Dja-la; Jepang: マンダラ Mandara), merupakan sebuah diagram konsentris memiliki makna spiritual dan ritual pada agama Buddha. Dalam cabang Tibet Buddha Vajrayana, mandalas telah dikembangkan menjadi sandpainting. Mereka juga merupakan bagian penting dari praktek meditasi tantra anuttarayoga.

Dalam berbagai tradisi spiritual, mandala dapat digunakan untuk memfokuskan perhatian para aspiran dan ahli, sebagai alat pengajaran

Gambar 3.11. : Bunga Teratai (Lotus)

spiritual, untuk mendirikan sebuah ruang suci, dan sebagai bantuan untuk meditasi dan trance induksi. Menurut David Fontana, dengan menggunakan simbol alam dapat membantu seseorang "untuk mengakses semakin lebih dalam tingkat bawah sadar, akhirnya membantu meditator untuk mengalami rasa kesatuan mistis dengan kesatuan tertinggi dari mana kosmos dalam segala bentuk manifold timbul.". Psikoanalis Carl Jung melihat mandala sebagai "sebuah representasi dari sadar diri," [rujukan?] Dan percaya pada lukisan mandalas memungkinkan dia untuk mengidentifikasi gangguan emosional dan bekerja ke arah keutuhan kepribadian.

Dalam penggunaan umum, mandala telah menjadi istilah umum untuk setiap rencana, chart atau geometris pola yang mewakili kosmos secara metafisik atau simbolik, mikrokosmos dari alam semesta dari perspektif manusia.

Bunga teratai / lotus

Lotus berakar di dalam lumpur dan pangkal batangnya tumbuh melalui air keruh. Bunganya mekar di atas kotoran dan terbuka di bawah sinar matahari, indah dan harum. Dalam ajaran Buddha, teratai melambangkan sifat sejati manusia, yang kesucian dan kebijaksanaannya telah terbuka dan naik ke atas dan terpisah dari kekotoran batin.

Teratai adalah salah satu dari Delapan Simbol Keberuntungan dalam seni Agama Buddha. Buddha dan bodhisatwa sering digambarkan duduk di atas bunga teratai (lotus) atau memegang bunga teratai.

Warna teratai juga memiliki symbol dalam Agama Buddha : o Putih melambangkan kemurnian mental dan spiritual

o Merah melambangkan cinta kasih dan, belas kasih

Gambar 3.12. : Simpul Kebahagiaan

o Merah muda melambangkan sejarah Agama Buddha  Simpul kebahagiaan (knot of Etenity)

Merupakan simpul yang tdidak memiliki unjung dan tertutup, ornamennya terdiri dari siku-siku, garis – garis yang saling terjalin. Itu merupakan perwujudan dari simbol naga kuno dan fua ular yang saling menyambung.

Garis yang saling menyambung mengingatkan kita betapa semua fenomena yang menyatu dan

Dalam dokumen Museum Buddhist (Simbolism Architecture) (Halaman 75-90)

Dokumen terkait