• Tidak ada hasil yang ditemukan

Interrelasi Disosiatif

Dalam dokumen PEDAGANG KAKI LIMA DAN INTERRELASI AKTOR (Halaman 26-37)

Terdapat tiga bentuk interrelasi disosiatif, terkait dengan aktivitas PKL di pantai Losari, yaitu persaingan, kontravensi, dan pertentangan.

Bentuk persaingan antar-individu atau kelompok yang terjadi dari interaksi sosial sesama PKL, misalnya persaingan antara PKL dengan pemasok barang dan atau pemilik toko di kawasan pantai Losari.

Bentuk persaingan antara pihak terkait dengan PKL khususnya di pantai Losari semakin memperkuat hasil penelitian De Soto (1989) yang menjelaskan adanya persaingan antara pedagang formal dan pedagang jalanan di Kota Lima, Peru, yaitu ketika pedagang jalanan menyamai jenis dagangannya dengan pedagang formal, sehingga para pedagang formal minta perlindungan kepada pernerintah untuk mengatur pedagang jalanan. Dari analisis persaingan di atas, nampak jelas adanya persaingan antara pertokoan dan PKL terutama dalam jenis dagangan.

Keberadaan para PKL harus diakui sebagai tindakan kelompok, karena saling berhubungan satu sama lain. Dalam hal ini, tindakan kelompok tersebut adalah perilaku PKL yang bersifat kelompok dan berlandaskan atas kepentingan kelompoknya. Tindakan Integratif, adalah tindakan individu yang diintegrasikan dengan tindakan kelompok. Dari berbagai jenis tipe tindakan sosial jika sudah saling berhubungan akan menjadi interaksi sosial. Oleh karena itu, interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara individu dengan individu sebagaimana halnya perlaku atau tindakan PKL di kawasan pantai losari.

Syarat-syarat interaksi sosial terhadap kontak sosial, yang dilakukan PKL di pantai losari yaitu berhubungan antar individu PKL dengan pemasok barang, masyarakat sekitar pantai losari, dan pembeli atau pengunjung. Dalam hal ini, individu PKL berkomunikasi, menyampaikan pesan dari satu pihak ke pihak yang lain sehingga terjadi saling pengertian. Selain itu, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap interaksi sosial PKL sesuai dengan fakta yang diperoleh adalah tindakan meniru sikap perilaku orang lain yang positif maupun negatif terkait dengan pekerjaan mereka untuk memperoleh hasil yang diharapkan.

Hasil penelusuran lapangan tentang interaksi sosial antar PKL di kawasan pantai losari dan hasil analisis data menunjukkan bahwa, selain dalam interaksi tersebut menimbulkan kerjasama, persaingan, dan konflik. Bentuk konflik atau pertentangan yang pernah terjadi dalam interaksi sosial antara beberapa jenis PKL di kawasan pantai losari, yaitu PKL penjual pisang

Kongres APSSI II dan Konferensi Nasional Sosiologi IV di Manado, 20-23 Mei 2015 505

epe dengan PKL penjual makanan maupun sesama konsumen biasa terjadi karena dari faktor

pelayanan dengan kesalah pahaman dalam bentuk konflik non fisik.

Konflik yang sering terjadi terkait dengan interaksi sosial antar PKL dan pihak lain adalah sebatas kesalahpahaman atau ketidakpuasan yang ditimbulkan oleh pengunjung atau pembeli maupun sesama PKL, sehingga tidak menimbulkan dampak atau efek luas terhadap sektor lain maupun suasana tidak aman di kawasan pantai losari karena ketika terjadi konflik atau kesalahpahaman tersebut, langsung diselesaikan. Dengan demikian, konflik yang penulis maksud dalam penelitian ini bukan suatu proses sosial ketika individu-individu atau kelompok individu berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan dengan ancaman atau kekerasan.

Konflik yang sering terjadi antar PKL dengan pihak-pihak terkait hanya sebatas konflik non fisik sebagai akibat dari kesalahpahaman atau perbedaan pendapat yang dapat diselesaikan dengan saling pengertian dan menghormati satu sama lain. Selanjutnya interaksi antara PKL dengan lembaga pemerintah biasanya terjadi saat akan dilakukan operasi penertiban PKL yang dilakukan oleh lembaga pemerintahan seperti: Kecamatan, kelurahan dan Satpol PP. Hal ini biasanya terjadi konflik yang dialami oleh PKL yang keberadaan mereka berdagang menyalahi aturan Pemerintah kota Makassar dengan payung hukum seperti: Perda No 10 tahun 1990, tentang Pembinaan PKL; SK Walikota Makassar No. 44 tahun 2002, tentang Penunjukan beberapa tempat pelataran yang dapat dan yang tidak dapat dipergunakan oleh PKL dalam wilayah kota; SK Walikota Makassar No. 651/Kep/180/2007 Kawasan Segi Empat Jalan sebagai Percontohan Kebersihan dan Penegakan Daerah.

Keberadaan PKL sering mengundang konflik pemanfaatan tata mang, karena menyebabkan kemacetan lalu-lintas, kesemerawutan kota, dan kekumuhan lingkungan. Akhirnya operasi penertiban atau penggusuran oleh aparat Pemda dalam hal ini Satpol PP biasa terjadi pada aktivitas PKL yang menempati ruas ruang jalan untuk berdagang yang tidak sesuai dengan penunjukan beberapa tempat pelataran yang dapat dan yang tidak dapat dipergunakan oleh PKL dalam wilayah kota.

Interaksi sosial antara PKL dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Lembaga Ketahanan Masyarakat (LKM), ini terjadi apabila terjadi konflik antara PKL dengan instansi pemerintah akibat adanya operasi penertiban atau penggusuran, akibat Perda yang dilanggar oleh

Kongres APSSI II dan Konferensi Nasional Sosiologi IV di Manado, 20-23 Mei 2015 506

PKL. Peran pihak LSM atau LKM sebagai tempat mengadu untuk menjembatani mencarikan solusi kepada pemerintah kota atau wakil rakyat yang berada di DPRD kota Makassar.

Konflik atau benturan yang melibatkan antara PKL dengan petugas Satpol PP khususnya di kawasan pantai losari berbeda dengan penertiban PKL di kasawan lain dalam wilayah kota Makassar, misalnya; di kawasan Pintu I Universitas Hasanuddin beberapa waktu, begitu juga di tempat lain seperti di pasar-pasar tradisional yang sering menimbulkan bentrokan atau konflik kekerasan yang melibatkan PKL yang dianggap liar dengan petugas yang hendak menertibkan kawasan tersebut sesuai dengan kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Perda yang berlaku.

Kebijakan kota yang diberlakukan tersebut, mengancam keberadaan PKL pisang epe

yang berdagang di sekitar pantai losari dan PKL yang beraktivitas di sekitar Mesjid Al-Markas, direspon dengan tindakan kolektif dalam bentuk protes atau aksi demontrasi dengan melibatkan LSM atau LKM untuk menjembatani kepada pemerintah, dengan berdemo ke Balaikota dan Gedung DPR kota Makassar untuk mencari solusi terbaik dengan keberadaannya.

Dengan demikian, pola interaksi sosial tidak sesama pedagang, yang terjadi dalam bentuk kerjasama (mutualisme) yaitu pada sektor formal dengan sektor informal (PKL) di lokasi perkantoran dan perdagangan, selanjutnya di lokasi pertokoan adanya persaingan antara pertokoan dan PKL terutama dalam jenis dagangan. Meskipun ada persaingan yang terjadi, justru keberadaan PKL di depan pertokoaan sangat membantu dalam rasa aman dan mempererat tali kekerabatan antar mereka atau senasib sama-sama mencari nafkah untuk hidup. Selanjutnya bentuk konflik yang terjadi dalam bentuk non fisik seperti: perang mulut atau omelan. Sedangkan konflik yang terjadi antar pemerintah dengan adanya operasi penertiban atau penggusuran.

Interaksi sosial (pertentangan atau konflik) antara pihak terkait dengan PKL seringkali merupakan kelanjutan dari persaingan yang tidak sehat, dalam hal ini aktivitas salah pihak mengganggu dan merugikan pihak lain sehingga terjadi perlawanan atau ancaman. Lokasi aktivitas dalam satu kawasan perdagangan berpotensi untuk menjadi penyebab konflik antara pihak terkait dengan PKL. Di samping itu, bentuk interaksi akomodatif, merupakan bentuk interaksi yang saling meredakan ketegangan yang terjadi untuk menghindari konflik.

Kebijakan pemerintah yang tidak jelas dan lemahnya penegakan hukum mengakibatkan pedagang formal cenderung “pasrah” dalam menghadapi situasi kawasan, yang dipenuhi dengan

Kongres APSSI II dan Konferensi Nasional Sosiologi IV di Manado, 20-23 Mei 2015 507

aktivitas PKL. Bentuk interaksi ini cenderung kepada penerimaan secara sosial (saling memahami terhadap kondisi yang ada) antara pihak terkait dengan PKL dalam beraktivitas. Berdasarkan hasil analisis data tentang interaksi sosial antar-PKL dengan pihak terkait di pantai losari kota Makassar menunjukkan adanya hubungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Demikian halnya hubungan antar-PKL di pantai losari dalam melakukan aktivitas dagangan atau jualan makanan dan minuman guna memenuhi kebutuhan hidup. Melalui hubungan itu individu dalam hal ini PKL ingin menyampaikan maksud, dengan tujuan barang dagangan atau jualannya laku karena banyak masyarakat yang berkunjung di kawasan pantai Losari.

D. Pembahasan

Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan antara individu, antara kelompok maupun antara individu dengan kelompok. Interaksi terjadi terjadi apabila seorang individu melakukan tindakan, sehingga menimbulkan reaksi dari individu-individu yang lain. Dalam hal ini PKL melakukan tindakan dengan menawarkan barang dagangan (jualan) baik berupa makanan maupun minuman kepada pengunjung atau masyarakat sekitar. Hal ini karena itu interaksi terjadi dalam suatu kehidupan sosial. Interaksi pada dasarnya merupakan siklus perkembangan dari struktur sosial yang merupakan aspek dinamis dalam kehidupan sosial. Perkembangan inilah yang merupakan dinamika yang tumbuh dari pola-pola perilaku individu yang berbeda menurut situasi dan kepentingan PKL yang diwujudkan dalam proses hubungan sosial.

Hubungan-hubungan sosial yang dimaksud pada awalnya merupakan proses penyesuaian nilai-nilai sosial dalam kehidupan sosial, termasuk PKL. Kemudian meningkat menjadi semacam pergaulan yang ditandai adanya saling mengerti tentang maksud dan tujuan masing-masing pihak yang terkait, dalam ini antara PKL, masyarakat (pengunjung), pemerintah (pengelola pantai losari), dan pembeli. Oleh karena itu, sudah menjadi hukum alam dalam kehidupan individu bahwa keberadaan dirinya adalah sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Dalam hal ini, kebutuhan dasar individu adalah untuk melangsungkan kehidupannya membutuhkan makan, minum untuk menjaga kesetabilan suhu tubuhnya dan keseimbangan organ tubuh yang lain (kebutuhan biologi).

Kongres APSSI II dan Konferensi Nasional Sosiologi IV di Manado, 20-23 Mei 2015 508

Individu membutuhkan pula perasaan tenang dari ketakutan, keterpencilan, kegelisahan, dan berbagai kebutuhan kejiwaan lainnya. Kebutuhan individu yang mendasar juga diperlukan yaitu kebutuhan untuk berhubungan dengan individu lainnya, kebutuhan meneruskan keturunan, kebutuhan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, kebutuhan untuk belajar kebudayaan dari lingkungan agar dapat diterima atau diakui keberadaannya oleh warga masyarakat lain setempat. Dalam kehidupan masyarakat, setiap individu terikat dalam struktur-struktur sosial yang ada dalam masyarakatnya.

Masing-masing struktur sosial dapat mengatur kedudukan masing-masing anggota individu dalam kaitannya dengan kedudukan-kedudukan dari individu yang lain yang secara keseluruhannya memperhatikan corak-corak tertentu yang berada dari struktur sosial yang lain. Adanya kedudukan-kedudukan yang diatur oleh struktur sosial tersebut menuntut dan menghasilkan adanya peranan-peranan sesuai dengan kedudukan yang dimiliki individu. Sebagai makhluk sosial individu manusia dilahirkan sendiri dan memiliki ciri-ciri yang berbeda antara satu dengan lainnya. Perbedaan ini adalah keunikan dari manusia tersbut. Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan individu lain untuk memenuhi segala kebutuhannya, dari sinilah terbentuk kelompok yaitu khidupan bersama individu dalam suatu ikatan, dimana dalam suatu ikatan tersebut terdapat interaksi sosial dan ikatan organisasi antar masing-masing anggotanya. Dalam proses sosial, interaksi sosial merupakan sarana dalam melakukan hubungan dengan lingkungan sekitarnya.

Interaksi sosial antar-PKL dengan pihak terkait merupakan pengembangan dasar dari proses sosial yang menunjukan adanya komunikasi dan hubungan yang dinamis dalam melakukan aktivitas di pantai Losari. Interaksi sosial yang dinamis tersebut meliputi: interaksi sosial PKL dengan konsumen (pengunjung, pembeli), interaksi sosial PKL dengan pemasok barang atau pemilik modal, interaksi sosial PKL dengan pengelola pantai Losari, dan interaksi sosial PKL dengan Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) kota Makassar.

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa, dampak positif dan negatif interaksi sosial disosiatif yang mendasari penggunaan gabungan teori Pilihan Rasional dan Voluntaristik dalam penelitian ini. Untuk menjelaskan tindakan pilihan rasional dan voluntaristik terhadap PKL yang melakukan aktivitas di pantai Losari kota Makassar dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup

Kongres APSSI II dan Konferensi Nasional Sosiologi IV di Manado, 20-23 Mei 2015 509

dan meningkatkan ekonomi keluarga. Demikian, Teori Pilihan Rasional Coleman tampak jelas dalam gagasan dasarnya bahwa tindakan perseorangan mengarah pada suatu tujuan dan tujuan itu ditentukan oleh nilai atau pilihan, seperti dijelaskan (Ritzer, 2007:394). Dalam hal ini, teori pilihan rasional Coleman, memusatkan perhatian pada aktor (misalnya PKL), dipandang sebagai manusia yang mempunyai tujuan dan tindakan untuk mencapai tujuan tersebut. Kemudian teori tindakan voluntaristik Parsons, ternyata mendukung teori pilihan rasional. Teori pilihan rasional menegaskan bahwa, para pelaku bertindak untuk mengejar kepentingan secara rasional (memaksimalkan) tujuan yang hendak dicapai.

Teori Pilihan Rasional dan Tindakan Voluntaristik memiliki keterbatasan-keterbatasan. Artinya, ada kalanya suatu tindakan pengambilan keputusan tentang aktivitas PKL yang sudah diperhitungkan secara matang ternyata memiiiki akibat akhir yang tidak diharapkan, dan kadang kala tidak diantisipasi sebelumnya. Hasil penelitian ini juga menunjukan tidak semua para PKL di kota Makassar, termasuk di pantai Losari sukses mencapai apa yang diharapkan. Meskipun ada yang sukses tapi presentasinya sangat kecil dan sebagian besar atau pada umumnya belum mencapai apa yang diharapkan, kalau tidak dikatakan gagal.

Bertambahnya PKL di kawasan pantai Losari seiring dengan perubahan dan perkembangan kawasan pantai Losari sebagai ruang publik, bertambah pula tantangan yang dihadapi oleh para PKL terutama dalam hal persaingan dengan sektor informan non-PKL, seperti usaha makanan siap saji, café, dan lain-lain yang lebih direspon oleh pemerintah keberadaannya dalam mendukung promosi pantai Losari sebagai objek wisata yang sedang dikembangkan.

Pedagang kaki lima seringkali didefinisikan sebagai sektor usaha yang memerlukan modal relatif sedikit, berusaha dalam bidang produksi dan penjualan untuk memenuhi kebutuhan kelompok konsumen tertentu. Sektor usaha informal (PKL) tersebut juga menjadi harapan bagi masyarakat dan pendatang baru untuk membuka usaha di perkotaan, karena sektor ini sering dianggap lebih mampu bertahan hidup 'survive' dibandingkan sektor usaha yang lain. Hal ini disebabkan karena adanya ciri khas yang fleksibel, relatif mudahnya membuka usaha (tidak memerlukan modal yang besar) dan tidak memerlukan prosedur yang rumit serta mudah beradaptasi dengan lingkungan usahanya. Oleh karena itu kegiatan sektor usaha informal (PKL) juga dianggap sebagai kantung penyelamat.

Kongres APSSI II dan Konferensi Nasional Sosiologi IV di Manado, 20-23 Mei 2015 510

Kebijakan Pemerintah tentang keberadaan PKL dianggap ilegal, karena menempati ruang-ruang public, seperti bahu/badan jalan, trotoar, di atas drainase, dan taman yang mengakibatkan ruang publik tersebut tidak dapat dimanfaatkan dengan baik sesuai dengan fungsinya. Di samping itu, masalah kebersihan, tata ruang, dan keindahan kota sering diabaikan. Kondisi tersebut, seringkali menjadi target utama penegakan kebijakan pemerintah kota dengan operasi penertiban dan penggusuran. Dalam operasi penertiban dan penggusuran sering terjadi bentrok antara PKL dengan petugas Satpol PP. Namun berbagai upaya yang dilakukan terkait kebijakan tersebut terbukti belum efektif karena banyak PKL yang kembali beraktivitas khususnya di pantai Losari kota Makassar.

Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa dampak positif dari interaksi sosial disosiatif adalah upaya penertiban PKL di kawasan pantai Losari sebagai icon, agar tetap menjadi kebanggaan masyarakat dalam menikmati suasana pantai dengan berbagai keunikan yang dimiliki. Namun, dampak negatif dari interaksi sosial disosiatif yang sering terjadi adalah upaya penertiban tersebut dilakukan oleh Satpol PP dengan tindakan kekerasan, sehingga menimbulkan bentrokan dan mendapat perlawanan dari PKL. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi dampak negatif dari interaksi sosial disosiatif antara PKL dengan pihak-pihak terkait khususnya Satpol PP perlu diperbaiki terutama dalam hal komunikasi dan saling memahami tugas dan fungsi, serta tanggung jawab (kewajiban) masing-masing sesuai dengan ketentuan ang berlaku. Hal ini

dijelaskan oleh beberapa informan PKL (penjul pisang epe) bahwa mereka melakukan unjuk

rasa dan menginap di kantor DPRD kota Makassar, karena pemerintah kota melarang mereka berjualan di kawasan pantai losari.

Strategi yang dikembangkan para PKL untuk mempertahankan kehidupan di kota dengan melakukan kegiatan ekonomi seperti berjualan di kawasan pantai Losari. Dalam hal ini, jaringan sosial yang berbasis sektor informan tentang kondisi PKL di kota Makassar khususnya di kawasan pantai Losari agar tetap bertahan hidup dan berhasil menjalankan aktivitasnya sebagai PKL sesuai dengan jenis usaha (dagangan) yang ditekuni. Terbentuknya jaringan sosial berbasis sektor informal dengan memperkuat kerjasama antar-PKL dan pihak-pihak terkait dalam bentuk komunikasi dan hubungan-hubungan yang dinamis antar PKL dengan PKL, antar PKL dengan pelanggan (masyarakat atau pembeli) maupun antar PKL dengan kerabat termasuk tetangga di kota dan daerah asal yang sudah terjalin. Dengan adanya intensitas komunikasi dan interaksi

Kongres APSSI II dan Konferensi Nasional Sosiologi IV di Manado, 20-23 Mei 2015 511

antara PKL dengan pihak-pihak terkait yang telah dilakukan sebelum memutuskan untuk menjadi PKL.

Secara ekonomi PKL merupakan salah satu sektor informal, dimana para pelaku pada umumnya memiliki latar belakang bervariasi dan status sosial rendah. Mereka berasal dari pedesaan atau pinggiran, menghadapi tekanan ekonomi dan kemiskinan. Penghasilan yang diperoleh hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan subsistem, padahal mereka harus memikul beban domestik yang makin berat. Di saming itu, timbul kesadaran akan adanya persamaan (senasib) diantara mereka. Perasaan senasib tersebut membuat hubungan kerjasama diantara PKL dengan pihak terkait semakin erat, akrab dan harmonis. Hubungan kerjasama antar-PKL dengan pihak terkait dalam melakukan aktivitas berdagang, bukan merupakan persaingan tetapi seorang keluarga atau teman yang senasib, sama-sama mencari nafkah untuk menghidupi keluarga.

Mencermati beberapa contoh atau kasus yang dialami PKL kawasan pantai losari di atas yang mengidentifikasikan ada persamaan suku bangsa, budaya, dan bahasa yang digunakan dalam berinteraksi satu sama lain. Hasil pengamatan dan analisis data tentang pola interaksi yang terjadi setiap hari diantara PKL yang berasal dari daerah yang sama atau satu suku yang sama, umumnya menggunakan bahasa daerah dan bila memungkinkan menggunakan bahasa Indonesia. Para PKL yang berasal dari luar Makassar, berusaha untuk mengetahui dan menggunakan bahasa Makassar agar dapat berinteraksi sesama PKL maupun dengan konsumen. Meskipun bahasa yang dia ketahui hanya sepatah kata saja yang lazim digunakan untuk menjual.

Penggunaan bahasa yang mereka gunakan untuk berinteraksi dengan para pembeli (konsumen) menjadi perekat hubungan di antara PKL dan pihak terkait, baik itu dari satu daerah maupun dari daerah lain. Dengan demikian bahasa yang mereka gunakan merupakan simbol identitas dengan latar belakang suku bangsa, bahasa dan budaya, sehingga rasa kebersamaan tetap terjalin. Olehnya itu, mereka tetap menjaga dan menghormati nilai budaya yang berlaku, serta tetap menjalin hubungan sosial agar kerukunan dan keharmonisan sesama PKL dan pihak-pihak terkait dalam memeliharan ruang publik di pantai Losari sebagai kmilik bersama akan terbangun dengan sendirinya.

Bentuk hubungan kerjasama yang biasa dilakukan sesama PKL seperti: (a) memberikan informasi menempati lokasi berdagang; (b) tolong menolong dalam kegiatan pinjam meminjam

Kongres APSSI II dan Konferensi Nasional Sosiologi IV di Manado, 20-23 Mei 2015 512

modal usaha dan lainnya; (c) menentang perlawanan apabila terjadi operasi sepihak dari Satpol PP. Dari bentuk hubungan kerjasama di atas, salah satu aspek yang paling dominan adalah memperkuat hubungan sesama PKL, untuk melakukan perlawanan apabila akan terjadi penertiban dengan dalih kebersihan kota dari Satpol. Bekerja sebagai PKL ialah sebuah bentuk perjuangan untuk tetap bertahan hidup, karena sewaktu-waktu harus menghadapi berbagai tindakan represif yang dilakukan aparat pemerintah.

E. Penutup

Interrelasi sosial yang bersifat asosiatif yang dikembangkan PKL di pantai losari kota Makassar, adalah diwujudkan dalam bentuk kerjasama, akomodasi, dan asimilasi. Interaksi sosial dalam bentuk kerjasama, adalah proses komunikasi dan hubungan timbal balik antara individu (PKL) maupun kelompok dengan individu atau kelompok lain (pembeli, konsumen, pelanggan) dan masyarakat dengan tujuan saling mempengaruhi dalam suatu situasi atau kondisi tertentu.

Interrelasi sosial disosiatif antar PKL dengan pihak-pihak terkait di pantai Losari kota Makassar, adalah bentuk interaksi sosial yang diwujudkan dalam proses sosial antara individu atau kelompok PKL dengan pembeli/konsumen, antara PKL dengan pengelola pantai Losari. Interaksi sosial disosiatif meliputi; persaingan, pertentangan (konflik), dan kontravensi. Interaksi sosial yang bersifat disostiatif PKL di pantai Losari dalam bentuk persaingan, adalah proses sosial yang timbul akibat persaingan harga, kualitas barang atau jualan, kebersihan, dan lain-lain dalam menarik simpatik pengunjung atau konsumen di kawasan pantai Losari. Interaksi sosial PKL yang bersifat disosiatif dalam bentuk pertentangan (konflik) terjadi karena ada perbedaan pendapat dan/atau kesalahpahaman antara PKL dengan pihak terkait, misalnya antara Satpol PP dengan PKL dalam operasi penertiban (pembersihan) aktivitas PKL di pantai Losari. Sedangkan kontravensi adalah bentuk interaksi sosial yang berada di antara persaingan dengan pertentangan (konflik), misalnya sikap PKL yang melakukan penolakan, perlawanan, atau menghalang-halangi petugas satpol PP melakukan penertiban PKL di kawasan pantai Losari, melakukan perbuatan atau tindakan provokasi, menghasut, memfitnah, dan lain-lain.

Oleh karen itu, kepada pihak-pihak terkait perlu mempertimbangkan hal-hal berikut: (1) Pemerintah perlu meninjau kembali perda dan Surat Keputusan Walikota Makassar yang masih berlaku saat ini, kurang relevan lagi digunakan dengan arah perubahan sosial dalam pemanfaatan potensi usaha masyarakat kecil pada sektor informal PKL, seperti: Perda No. 10 Tahun 1990,

Kongres APSSI II dan Konferensi Nasional Sosiologi IV di Manado, 20-23 Mei 2015 513

Dalam dokumen PEDAGANG KAKI LIMA DAN INTERRELASI AKTOR (Halaman 26-37)

Dokumen terkait