Dalam pernikahan beda agama adanya interseksi antara HAM dan kompilasi Hukum Islam ada di dalam surat al-Maidah ayat 5 yang artinya :
“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat Termasuk orang-orang merugi”.
Ayat tersebut menjelaskan bolehnya menikahi wanita wanita ahlul kitab.
Sehingga terjadi satu kepahaman bolehnya menikah beda agama. Pernikahan dengan ahlul kitab di perbolehkan walaupun para ulama memberikan syarat-syarat khusus. Jika kita tarik hukum perkawinan di Indonesia yang terkompilasi dalam Kompilasi Hukum Islam, tentang larangan menikah beda agama terdapat pada
21
pasal 40 dan 44 yang masih mungkin di legalkan pernikahan tersebut. Dalam tafsir al Misbah karya M. Quraish Shihab sebelum berbicara tentang bolehnya menikah dengan ahlul kitab di ayat tersebut menjelaskan bolehnya memakan hasil sesembelihan ahlul kitab. Kata tha’am/makanan yang di maksud oleh ayat diatas adalah sesembelihan, karena sebelum ini telah di tegaskan hal-hal yang diharamkan, sehingga selainya otomatis halal, baik sebelum maupun setelah dimiliki ahlul kitab, karena sebelum ini terdapat uraian tentang tentang penyembelihan dan perburuan. Sehingga kedua hal inilah yang menjadi pokok masalah. Ada juga yang memahami kata makanan dalam arti buah-buahan dan biji-bijian, dan semacamnya, namun pendapat ini sangat lemah. Walaupun demikian tidak semua makanan ahlul kitab halal bagi kita boleh jadi makanan yang mereka hidangkan bercampur dengan makan apa yang diharamkan oleh kaum muslimin misalnya bercampur dengan minyak babi, dan boleh jadi juga karena adanya bahan najis yang tercampur dalam makanan. Dalam konteks ini Sayyid Muhammad Thantowi, mantan Mufti Mesir dan pemimpin Tertinggi al-Azhar, menukil pendapat ulama yang bermadzhab Maliki yang mengharamkan keju dan sejenisnya karena diproduksi oleh negara non muslim, dengan alasan kenajisannya hampir dapat dipastikan.
Berbeda-beda pendapat ulama tentang cakupan makna alladzina utul kitab, setelah para ulama sepakat bahwa paling tidak mereka adalah penganut agama yahudi dan nasrani, mereka kemudian berbeda pendapat apakah penganut agama itu adalah generasi masa lalu dan keturunanya saja, atau termasuk para penganut kedua agama itu hingga kini. Ada sebagian yang menolak menamai penganut yahudi dan nasrani sekarang dengan sebutan ahlul kitab.
Penegasan kata wa tha’amukum/makanan kamu setelah sebelumnya di tegaskan kata wa tha’amuhum/makanan mereka (ahlul kitab). Adalah menggarisbawahi dalam soal makanan dibenarkanya hukum timbal balik, tetapi dalam soal pernikahan tidak adanya hukum timbal balik itu, dalam arti laki-laki Muslim dapat menikah dengan wanita ahlul kitab. Tetapi laki laki ahul kitab tidak dibenarkan menikah dengan wanita Muslimah.
Pendapat tentang boleh tidaknya menikah dengan wanita ahlul kitab tidak jauh berbeda dengan dengan pendapat pendapat sesembelihan mereka. Sementara
22
ulama berpendapat bahwa walaupun ayat ini pada dasarnya telah membenarkan pernikahan laki-laki Muslim dengan ahlul kitab tetapi ketentuan tersebut dibatalkan oleh firman Allah dalam surat al-Baqarah 221 yang artinya dalam potongan ayat tersebut “janganlah kamu menikahan orang orang musyrik pria dengan wanita wanita muslimah sampai mereka (pria-pria musyrik itu) beriman”.
Sahabat Nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Umar RA, menegaskan bahwa saya tidak mengetahui kemusyrikan yang lebih besar daripada kemusyrikan seseorang yang percaya bahwa Tuhannya adalah Isa alaihissalam atau salah seorang hamba Allah.
Pendapat Ibnu Umar ini tidak didukung oleh mayoritas sahabat-sahabat Nabi lainya. Mereka tetap berpegang kepada bunyi teks ayat al-Maidah di atas dan menyatakan bahwa walaupun akidah ketuhanan alhul kitab tidak sama sepenuhnya dengan akidah islam#iyah, tetapi al Quran tidak mempersamakan mereka dengan kaum musyrikin, bahkan membedakanya dan memberi nama khusus yakni ahlul kitab. Dalam ayat lain disurat al-Bayyinah ayat 1
ةنيبلا مهيتات ىتح نيكفنم نيكرشملا و باتكلا لها نم ورفك نيذلا نكي مل
“Orang orang kafir yakni ahlul kitab dan orang orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata”
Ayat ini membagi orang-orang kafir menjadi dua kelompok yang berbeda, yaitu ahlul kitab dan orang-orang musyrik perbedaan itu di pahami dari huruf waw pada ayat itu yang berarti dan. Huruf ini dari segi bahasa digunakan untuk menghimpun dua hal yang berbeda. Yang dilarang untuk mengkawinkanya dengan wanita muslimah adalah laki laki musyrik,sedang yang dibenarkan oleh ayat al-Maidah ini adalah mengawini wanita ahlul kitab.
Larangan pernikahan antar pemeluk agama yang berbeda ini, agaknya dilatarbelakangi oleh keinginan menciptakan “sakinah” dalam keluarga yang merupakan tujuan pernikahan. Pernikahan baru akan langgeng dan tentram jika terdapat kesesuaian pandangan hidup antara suami dan istri. Jangankan perbedaan agama, perbedaan budaya bahkan tingkat pendidikanpun tidak jarang menimbulkan kesalahpahaman dan kegagalan pernikahan.
23
Memang ayat ini membolehkan pernikahan antara laki-laki muslim dengan wanita ahlul kitab, tetapi izin ini adalah sebagai jalan keluar kebutuhan yang mendesak pada saat itu. Dimana kaum muslimin sering bepergian jauh melaksanakan jihad tanpa mampu kembali ke keluarga mereka, sekaligus juga untuk tujuan dakwah. Bahwa wanita muslimah tidak diperkenankan nikah dengan pria non muslim, baik ahlul kitab lebih lebih kaum musyrikin, karena mereka tidak mengakui kenabian Muhammad saw. Laki-laki muslim mengakui kenabian Isa, serta menggarisbawahi prinsip toleransi beragama, lakum dinukum wa liyadiin. Laki-laki biasanya dan bahkan seharusnya menjadi pemimpin rumah tangga dapat mempengaruhi istrinya, sehingga bila suami tidak mengakui ajaran agama yang dianut sang istri maka dikhawatirkan akan terjadi pemaksaan beragama baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.
Dalam ayat/wanita-wanita yang menjaga kehormatan merupakan isyarat bahwa yang seharusnya dinikahi ialah wanita wanita yang menjaga kehormatannya. Baik wanita mukminah maupun ahlul kitab. Ada juga yang memahami kata tersebut ketika dirangkaian dengan utu al kitab dalam arti wanita wanita merdeka. Memang kata itu dapat berarti merdeka, atau yang terpeliharakan kehormatanya, atau yang sudah nikah. Selanjutnya didahulukan penyebutan wanita wanita mukminah memberi isyarat bahwa mereka yang seharusnya di dahulukan, karena betapapun persamaan agama dan pandangan hidup sangat membantu melahirkan ketenangan, bahkan sangat menentukan kelanggengan rumah tangga.
Ditutupnya ayat di atas yang menghalalkan sembelihan ahlul kitab serta pernikahan laki laki muslim dengan wanita yahudi dan nasrani, dengan ancaman barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah amalanya dan seterusnya, merupakan peringatan kepada siapa yang makan dan atau merencanakan pernikahan dengan mereka, agar berhati hati jangan sampai hal tersebut mengantar mereka kepada kekufuran,karena akibatnya adalah siksa akhirat nanti.
Di sisi lain ditempatkan ayat ini sesudah pernyataan keputusasaan orang orang kafir dan sempurnanya agama Islam, memberi isyarat bahwa dihalalkanya hal-hal tersebut antara lain karena umat Islam telah memiliki kesempurnaan
24
tuntunan agama dan karena orang orang kafir sudah sedemikian lemah, sehingga telah berputus asa untuk mengalahkan kaum muslimin atau memurtadkanya. Ini sekali lagi bahwa izin tersebut menampakkan kesempuraan Islam serta keluhuran buki pekerti yang diajarkan dan diterapkan oleh suami terhadap para istri penganut agama yahudi dan nasrani itu. Tanpa harus memaksanya untuk memeluk agama Islam. Atas dasar keterangan di atas maka sangat pada tempatnya jika di katakan bahwa tidak di benarkan menjalin hubungan pernikahan dengan wanita ahlul kitab bagi yang tidak mampu menampakkan kesempurnaan ajaran islam, lebih lebih yang diduga akan terpengaruh oleh ajaran non Islam, yang dianut oleh calon istri atau agama keluarga calon istri.
Alasan yang cukup fundamental tentang dibolehkanya nikah beda agama terutama dengan non Muslim yaitu ayat al-Maidah ayat 5, ayat ini merupakan ayat madinah yang diturunkan setelah ayat pernikahan dengan orang orang musyrik sehingga mereka beriman. Ayat ini bisa di sebut “ayat revolusi” karena secara eksplisit menjawab smua keraguan bagi masyarakat muslim pada waktu itu, perihal pernikahan dengan non Muslim, ayat yang pertama menggunakan istilah musyrik yang bisa di maknai seluruh non muslim namun ayat ini mulai membuka ruang bagi wanita Nasrani dan Yahudi. Ayat tersebut bisa berfungsi dua hal sekaligus yaitu penghapus (nasikh) dan pengkhusus (mutakhosis) dari ayat sebelumnya yang melarang pernikahan denga orang orang musyrik dalam kaidah fiqh bisa diambil kesimpulan,bila terdapat dua ayat yang bertentangan antara yang satu dengan yang lainya, maka diambilah ayat yang lebih terakhir diturunkan.
Dalam diskusi penulis dengan Syaikh Quds Assammaro’i beliau dari Irak yang bermadzhab Sya’fii diskusi tersebut melalui pesan suara dengan sistem tanya jawab. Beliau berpendapat bahwa bolehnya pernikahan beda agama di Indonesia laki laki muslim dengan wanita ahlul kitab, dalam hal ini nasrani dan yahudi atau yang memiliki agama samawi, yang meyakini adanya para Nabi, meyakini kitab Injil dan Taurat. Lain halnya dengan wanita musyrik, musyrik dalam penjelasan ayat tersebut seseorang yang tidak memiliki agama atau tidak meyakini adanya Allah, masih menyembah berhala api dan lain sebagainya, lalu bagaimana jika ada seorang muslim tetapi ia masih melakukan kesyirikan, jika seperti itu tidak di
25
sebut musyrik, wanita tersebut masih Islam tetapi karena ketidaktahuan mereka tengtang agama Islam ini yang benar. Maka wanita tersebut boleh dinikahi.
5. PENUTUP 5.1. Kesimpulan
Melihat pada uraian di atas bisa kami tarik kesimpulan dalam tulisan ini.
Kesimpulan pertama, status hukum perkawinan beda agama berdasarkan Quran tidaklah bersifat pasti. Sekalipun dalam Quran khususnya dalam surat al-Baqarah ayat 221 secara tegas terdapat larangan dengan menggunakan la nahy, hal itu tidaklah berarti larangan menikah dengan non-muslim yang masuk dalam kategori ahlul kitab melainkan golongan orang-orang musyrik, sementara ahlul kitab tidak termasuk ke dalam golongan musyrik.
Kesimpulan lain dari pembahasan ini, Pernikahan Beda Agama selalu dikonotasikan terhadap pernikahan dengan ahlul kitab sehingga berdasarkan pada ketentuan surat al-Maidah ayat 5, pernikahan dengan ahlul kitab diperbolehkan sekalipun diantara para ulama memberikan persyaratan-persyaratan khusus. Jika ditarik dalam konteks hukum perkawinan di Indonesia yang terkompilasikan dalam KHI, pengaturan tentang larangan Pernikahan Beda Agama ditemukan dalam pasal 40 dan 44 yang sebenarnya masih dimungkinkan kelegalan perkawinan tersebut dengan mengembalikan dua pasal tersebut kepada pasal 3 tentang dasar-dasar perkawinan.
5.2. Saran
Saran dari penulis sendiri semoga kedepan diadakanya kembali lembaga konseling advokasi yang memfasilitasi pernikahan beda agama, lembaga agama yang memiliki pemahaman akan bolehnya Pernikahan Beda Agama, seperti ICPR (Indonesia Conference on Religion and Peace). Karena ICPR sendiri telah berdiri sejak november 2005 sampai desember 2007 telah mencatat ratusan pasangan yang menikah beda agama, tetapi karena suatu dan lain hal ICPR “menutup”
program tersebut. Sebelum ICPR berdiri adanya The Wahid Institute(WI) yang didirikan oleh Abdurahman Wahid atau yang biasa di sebut Gus Dur yang telah memfasilitasi muda mudi untuk menikah beda agama. Dengan catatan hanya
26
membolehkan pasangan beda agama antara laki-laki muslim dengan wanita ahlul kitab atau nasrani dan yahudi seperti yang tercantum dalam ayat 5 surat al-Maidah.
27 Rujukan
An-Naim, A.A.(2001), Dekonstruksi Syari’ah (Terj), Bandung: Mizan.
Al-Jaziri, (1969). Kitab fiqh ‘ala mazahibul al-arba’ah, Juz IV, Beirut .
Al-sabuni, A. (1972), Tafsir Ayat Ahkam, juz I Makkah: Dar Al-Qur’an Al-Karim.
al-Qordawi, Y.(1978). Huda al-Islam Fatawa Mu’asiraoh,Kairo: Dar Afaq.
Ali, M.D.(2005),Hukum Islam, Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada.
Azhar, S. (2009), MetodePenelitian, Yogyakarta:PustakaPelajar
Dahlan, A.A. (2006),Ensiklopedi Hukum Islam. Jakarta: PT. Ichtiyar Baru van Hoeve.
Departemen Agama RI, 1999 : Kompilasi Hukum Islam. Jakarta.: Proyek Pengadaan Departemen Agama RI.
Departemen Agama RI, 2003. Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Dalam Lingkungan Peradilan Agama,Jakarta: Depag RI.
Kartono, K. (1997), Pantologi Sosial, Jakarta: Rajawali Press.
Mahmud, (2011), MetodePenelitianPendidikan,Bandung :PustakaSetia Ridha, R. (1367), Tafsir Al-Manar, Kairo : Dar Al-Manar
Rusyd, I,(1986),Bidayatul Mujtahid, Dar al- Qolem.
Sabiq, S.(1990). Fiqh As-Sunnah, Terj. Drs. Muhammad Thalib, Bandung: PT. Al Ma’arif.
Shalaby, A.(2001),Kehidupan Sosial Dalam Pemikiran Islam, Jakarta: Amzah.
Syarifuddin, A. (2007),Garis-garis besar Fiqh, Bogor: Kencana.
Syarifuddin, A.(2007),Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Bogor: Kencana.
Syahrani, R. danAbudrrahman, (1978), Masalah-masalahHukumPerkawinan di Indonesia, Bandung
Thalib, S. (1986). Hukum Kekeluargaan di Indonesia, Jakarta: UI Press.
Utomo, S.B.(2007). Fiqh Aktual, Jawaban Tuntas Masalah Kontemporer, Jakarta:
Gema Insani.
Wantjik, S. K. (1982), HukumPerkawinan Indonesia, Jakarta :Ghalia Indonesia
28
Yanggo, C. T. dan Anshary, A.H.(1996)Problematika Hukum Islam Kontemporer, wa Nihayatul Muqtashid, Juz II, Mesir: Mustafa al-Babi al-Lahabi.
Zuhdi, M. (1994), MasailFiqhiyah, Jakarta :GunungAgung