BAB II KAJIAN PUSTAKA
4. Intertekstualitas sebagai suatu Ideologeme
Kristeva dalam upayanya untuk menghubungkan keterjalinan sastra dengan
konteks sosial menggunakan istilah ideologeme (idéologème) yang di pinjam dari
konsep Mikhail Bakhtin (Kauppi, 2016: 34). Konsep ideologeme mengungkapkan
Teks yang ada
sebelumnya
Teks yang ada
selanjutnya
21
bahasa tertentu dalam karya sastra dengan mengandaikan novel selalu merupakan
cara khusus untuk memandang dunia dalam upaya memaknai keadaan sosial
(Bakhtin, 2010: 333). Gagasan Bakhtin tersebut mengindikasikan bahwa lewat
ideologeme ini dalam karya sastra tidak bisa dilepaskan dengan keadaan sosial atau
pun juga kesejarahan. Oleh karena itu, suatu karya sastra hanya dapat dibaca dalam
hubungannya atau pertentangannya dengan lain (Ekasiswanto & Pradopo, 2004: 3).
Gagasan ideologeme dirumuskan juga oleh Fredric Jameson kritikus Marxis dengan
salah satu objek kajiannya mengenai analisis karya sastra. Jameson menyebut
ideologeme sebagai satuan yang ditemukan dalam narasi, yang bisa menjadi unit
analisis ketika menerapkan analisis sastra (Roberts, 2000: 90).
Jameson memberikan contoh aplikasi dari analisis ini menggunakan epik
Tennyson yang berjudul Idylls of the King yang merepresentasikan Kerajaan
Inggris pada abad ke-19. Karya tersebut menunjukkan adanya keterjalinan kisah
Raja Arthur menaklukan Inggris dan memaksakan kode tatanan patriarki tertentu
sebagai sarana untuk mengekspresikan makna sosial-politik pada abad ke-19 yang
berusaha dirayakan oleh penulis Tennyson. Jameson (2013: 142) dalam bukunya
juga yang berjudul The Political Unsconscious membuktikan kembali analisisnya
lewat karya-karya Honore de Balzac bahwa di dalam narasi cerita-ceritanya, akan
tetap mengantar pembaca pada relasi karya dengan sejarahnya. Fundamen analisis
Jameson ini memberikan kaitan abadi antara sebuah karya dengan sejarahnya.
Paparan Bakhtin dan Jamerson tersebut memandang ideologeme sebagai teks
yang tidak memiliki kesatuan atau makna yang menyatu pada dirinya, mereka
sepenuhnya terhubung dengan proses budaya dan sosial yang sedang berlangsung.
22
Sedangkan Kristeva memberikan pandangan mengenai konsep ideologeme konsep
yang menentukan prosedur semiotika dengan memelajari teks sebagai
intertekstualitas sehingga dianggap sebagai teks yang ada di dalam masyarakat dan
sejarah. Ideologeme sebagai teks fokusnya ada dalam ranah rasionalitas dalam
memahami transformasi ucapan (teksnya tidak dapat direduksi) sehingga teks
menjadi totalitas dalam teks sosial dan sejarah (Kristeva, 1980: 37). Bagi kristeva
ideologeme adalah untuk menekankan fakta bahwa semua bentuk wacana (teks)
dibangun oleh ruang sosial di mana mereka diucapkan (Kristeva, 1986: 62).
Ideologeme merupakan fungsi baca intertekstual sebagai sesuatu yang terwujud
ditingkat struktural yang berbeda dari setiap teks, dan membentang pada seluruh
lintasan, sehingga memberikan keselarasan antara sosial dan sejarah.
Buku Séméiotiké: Recherches pour une sémanalyse, Kristeva (1969: 114)
menjelaskan intertekstualitas dapat dibaca ketika itu diwujudkan pada berbagai
tingkat struktur yang memberikan teks korelasi sosial dan sejarah. Teks bukanlah
suatu objek yang bersifat individual dan terisolasi, melainkan suatu kompilasi
tekstualitas budaya. Struktur dan makna teks tidak spesifik milik teks itu sendiri,
dan untuk menekankan hal ini Kristeva memandang teks, atau setidaknya
masing-masing bagian penyusunnya sebagai ideologeme (Allen, 2011: 37). Karena itu,
Kristeva dalam intertekstual memperkenalkan gagasan ideologeme untuk
mendefinisikan organisasi tekstual yang dibentuk oleh kekuatan sosio-historis dan
budaya di luar teks (Lechte, 2013: 103). Cara pandang seperti ini harus memandang
teks sebagai relasi dari bagian teks sosial dan sejarah. Makna teks dipahami sebagai
susunan unsur yang bersifat sementara dengan makna yang telah hadir sebelumnya
23
dalam proses budaya dan sosial masyarakat. Misalnya untuk mempresentasikan
gambar, mitos, ide (konsep) yang dihubungkan dengan konsep historis.
Terminologi baru untuk teks disebut sebagai ideologeme kerena
keberadaannya sebagai tempat pluralitas sosial dan kesejarahan memiliki
keterjalinan dalam wacana (Saeed & Fatima, 2018: 30). Oleh karena itu,
keterjalinan wacana ini Kristeva mewujudkannya dalam novel atau karya sastra
(Kristeva, 1980: 63). Dalam karya dilihat sebagai sebuah teks yang dapat berupa
kata, kalimat, dan paragraf sebagai praktik semiotik yang dapat dibaca lewat
intertekstualitas. Menganalisisnya terlebih dahulu harus memelajari fungsi yang
menyatukan beberapa teks dalam sebuah karya.
Penemuan ideologeme sesuai pemikiran Kristeva dapat dilakukan dengan
bentuk analisis suprasegmental dan analisis intertekstual. Kedua analisis tersebut
tidak dapat dipisahkan karena memiliki relasi diantara keduanya. Analisis
suprasegmental bergerak dari tuturan yang ada dalam kerangka novel sehingga
akan mengungkapkannya sebagai teks terikat. Sementara itu analisis intertekstual
bergerak dari luar atau asal-usul teks tersebut, hal ini menggambarkan hubungan
sinkronik teks yaitu sebagai bagian dari tekstualitas sosial, budaya, dan sejarah yang
lebih luas membentuk pluralisme sosial (Kristeva, 1980: 38; Vargova, 2007: 442).
Kristeva sarat memvisualisasikan teks sebagai perwujudan konflik masyarakat atas
makna kata atau kalimat. Ia menyangkal segala kemungkinan teks sebagai makna
yang jelas dan stabil. Ia melihat teks terkait sepenuhnya dengan proses sosial dan
budaya, sehingga teks tidak memiliki kesatuan atau makna yang menyatu dalam
dirinya (Kabthiyal & Dangwal, 2016: 300).
24
Dapat disimpulkan, maksud Kristeva mengenai interteks yakni melihat
makna teks dipahami sebagai pengaturan sementara unsur-unsur dengan makna
yang sudah ada sebelumnya secara sosial. Perspektif seperti itu memungkinkan
makna dilihat sebagai teks “di dalam” pandangan pembaca dan “di luar” pengaruh
masyarakat yang berada secara bersamaan. Ideologeme sebagai teks menjelaskan
adanya pengaruh melalui tiga proses makna, yaitu oposisi, transformasi, dan
transposisi.
a. Oposisi
Istilah oposisi selalu eksklusif dengan memberikan ilusi suatu struktur
terbuka, tidak mungkin selesai, dengan akhir yang sewenang-wenang, tidak pernah
saling melengkapi, dan tidak pernah dapat didamaikan. Oposisi dalam ranah
intertekstualitas Kristeva adalah berhubungan dengan teks sosio-budaya yang ada
di tengah-tengah masyarakat seperti membandingkan, mengakui, menghalangi,
atau merugikan sesuatu hal yang dipertentangkan. Dalam oposisi, Kristeva
menjelaskan adanya alethic dan deontic. Alethic yaitu oposisi yang berlawanan dan
bertentangan, sedangkan deontic yaitu terjadinya reuni oposisi (Kristeva, 1980: 44).
Konsep oposisi ini menjelaskan mengenai sesuatu yang berlawanan dalam arah
karya sastra itu sendiri, sehingga muncul nuansa spirit kekuasaan, agama, sosial,
dan lain sebagainya.
b. Transformasi
Transformasi adalah adanya perubahan bentuk dari satu teks ke teks yang
lain. Dalam hal ini, teks dilihat sebagai milik pengarang, dan menyisipkan dirinya
sendiri dengan menulis ulang teks tersebut sehingga dalam tulisan tersebut yang
25
diakronis bisa berubah menjadi sinkronis. Pandangan ini menyebutkan pengarang
dalam menulis teks bukan hanya dari pikiran mereka sendiri, melainkan hasil
kompilasi dari teks sebelumnya (Kristeva, 1980: 36). Dari konsep ini, teks-teks
yang hadir (unsur—dalam) merupakan jejak dari penelusuran teks lain (unsur—
luar). Prinsip ini disebabkan timbulnya keinginan pengarang untuk mengambil
sebuah teks ke dalam karyanya, menyesuaikannya dengan masyarakat, budaya,
politik, dan pemikiran pembaca (Yusuff & Sahad, 2013: 39).
c. Transposisi
Transposisi sebagai proses perlintasan dari satu sistem tanda ke sistem tanda
lain. Sepanjang perlintasan ini, satu (atau beberapa) sistem tanda digunakan untuk
menghancurkan (destruction) satu (atau beberapa) sistem tanda sebelumnya.
Penghancuran ini dapat berupa penghapusan posisi lama yang telah menjadi
referensi, dan menggantinya dengan sistem tanda atau posisi yang baru. Dengan
kata lain, transposisi telah terjadi proses perpindahan sehingga mengakibatkan
perpindahan ke sistem kedua dengan sistem artikulasi (pengucapan) baru (Kristeva,
1984: 59-60). Hutcheon & O’flynn (2013: 7-8) menambahkan bahwa transposisi
ini sebuah adaptasi yang mengakibatkan pergeseran atau perubahan bingkai dan
konteks dalam menceritakan kisah yang sama dari sudut pandang yang berbeda.
Transposisi ini berupa pergeseran dari yang nyata (the real) ke fiksi (fictional), dari
catatan sejarah, biografi ke narasi atau drama yang difiksikan. Transposisi
mencakup pergantian, dan permutasi (Allen, 2011: 54).
Pemaknaan ideologeme antara transformasi dan transposisi banyak para
akademisi mencampuradukkan bentuk tersebut. Para peneliti banyak yang
26