BAB II KAJIAN PUSTAKA
3. Pemikiran Julia Kristeva tentang Intertekstualitas
Julia Kristeva adalah seorang pemikir postrukturalis Perancis yang pertama
kali memperkenalkan istilah intertekstualitas. Teori intertekstual yang digagas oleh
Julia Kristeva dalam bukunya Desire in Language: A Semiotic Approach to
Literature and Art (1980) adalah sebagai berikut.
“Intertextuality (intertextualité). This French word was (originally)
introduced by Kristeva and met with immediate success; it has since been
much used and abused on both sides of the Atlantic. The concept, however,
has been generally misunderstood. It has nothing to do with matters of
influence by one writer upon another or with sources of a literary work; it
does, on the other hand, involve the components of a textual such as the novel,
for nstance. It is defined in La Revolition du Langage Poetique as the
transposition of one or more of signs into another, accompanied by a new
articulation of the enunciative and denotative position. Any signifying
practice (q.v.) is a field (in the sense of space traversed by lines of force) in
which various signifyings undergo such a transposition (Kristeva, 1980: 15).”
Terlihat jelas konsep intertekstualitas bukanlah berbicara pengaruh dari satu
pengarang ke pengarang yang lain atau pengaruh dari karya sastra yang dibaca.
Konsep intertekstualitas di atas juga tidak menyinggung persamaan dan perbedaan
antarkarya sastra dan juga tidak untuk menemukan hipogram dari teks tersebut.
Namun, gagasan intertekstual yang diperkenalkan oleh Kristeva ada dalam sebuah
ruang teks terdapat berbagai ujaran atau tuturan yang diambil dari teks lain. Teks
tersebut silang-menyilang dan menetralisir satu sama lain (Kristeva, 1980: 7;
Abrams & Harpham, 2011: 401).
18
Berdasarkan penjelasan Kristeva, dinyatakan bahwa konsep intertekstual:
pertama, bukan menyandingkan dua buah karya yang berbeda dan menganggap
karya yang lebih awal sebagai hipogram dari karya sesudahnya. Dalam konteks ini,
teks PKP, TSB dan SDDL merupakan karya kreatif dari seorang pengarang yang
bernama Faisal Oddang. Kedua, intertekstual sebagai perpindahan dari satu tanda
atau lebih tanda ke tanda lain disertai dengan artikulasi (pengucapan) baru yang
denotatif. Intertekstualitas di sini, berkaitan dengan munculnya teks dari “teks
sosial” tetapi juga berkelanjutan dalam sosio-historis (Allen, 2011: 36).
Selain Kristeva, ada nama-nama ahli lain yang menggagas intertekstual
diantaranya Michael Rifaterre, Roland Barthes, dan Jonathan Culler.
Masing-masing dari mereka memiliki konsep tersendiri mengenai interteks dan tidak
mungkin dipersamakan dengan yang lain. Riffaterre dalam jurnalnya yang berjudul
Intertextual Representation: On Mimesis as Interpretive Discourse terbit tahun
1984 memunculkan suatu pemahaman untuk menghindari kebingungan dalam
intertekstual. Interteks bukan konteks yang dapat menjelaskan teks atau
pengaruhnya kepada pembaca atau pun konteks yang dapat dijadikan komparasi
untuk menunjukkan orisinalitas penulis. Beberapa cendekiawan atau sarjana
(scholars) beranggapan keliru mengenai interteks, dan tampaknya berpikir bahwa
intertekstualitas hanya nama baru untuk pengaruh atau imitasi. Jelas bahwa
interteks tidak menandakan koleksi karya sastra yang mungkin telah memengaruhi
teks atau mungkin telah ditiru (Riffaterre, 1984: 142). Lain halnya dengan Barthes
dalam bukunya Image, Music, Text terbit tahun 1977.
19
Intertekstual merupakan teks yang dipegang. Interteks sendiri menjadi teks
dari teks-teks lain untuk mencoba menemukan sumber pengaruh karya sastra adalah
melihatnya lewat mitos atau kebudayaan (Barthes, 1977: 160). Barthes menggali
interteks dengan cara menganggap karya sebagai anonimitas. Sementara itu bagi
Culler konsep intertekstualitas dimaknainya sama Kristeva “bahwa setiap teks
terbentuk sebagai mosaik kutipan, penyerapan, dan transformasi teks-teks lain.”
The vraisemblable is thus the basis of the important structuralist
concept of intertextualité: the relation of a particular text to other texts. Julia
Kristeva writes that ‘every text takes shape as a mosaic of citations; every
text is the absorption and transformation of other texts. The notion of
intertextuality comes to take the place of the notion of intersubjectivity’
(Semiotikè, p. 146). A work can only be read in connection with or against
other texts, which provide a grid through which it is read and structured by
establishing expectations which enable one to pick out salient features and
give them a structure. And hence intersubjectivity– the shared knowledge
which is applied in reading – is a function of these other texts (Culler, 2002:
163).
Jurnalnya yang berjudul Presupposition and Intertextuality terbit 1976
kembali menyebut konsep interteks Kristeva, yakni konsep Kristeva menganggap
teks sebagai hal yang dapat dipahami dan disignifikasikan dalam teks-teks lain yang
diserap dan ditransformasikan lewat intertekstual (Culler, 1976: 2).
Konsep intertekstual Riffateree, Barthes dan Culler memiliki kemiripan atau
relasi dengan gagasan intertekstual Kristeva. Riffaterre memfokuskan interteks
tidak menandakan bahwa karya sastra yang mungkin telah dipengaruhi dan
mungkin telah ditiru, tetapi orosinalitasnya dari penulis. Sementara itu, Barthes
menggali interteks dengan cara menganggap karya sebagai anonimitas dari mitos
kebudayaan. Culler lebih menerima konsep Kristeva karya dapat dibaca dengan
teks-teks lain, sehingga teks disusun melalui kisi-kisi yang diterapkan lewat
20