• Tidak ada hasil yang ditemukan

Intervensi keperawatan

Dalam dokumen OLEH: DEWI NIRMALA SARIE NIM: (Halaman 73-82)

HASIL DAN PEMBAHASAN

3. Intervensi keperawatan

Pada tahap perencanaan tindakan penulis membuat suatu rencana keperawatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar klien Tn.

“S”. Pada teori ada 7 perencanaan tindakan yang penulis rencanakan yaitu:

a. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan statis urine.

Intervensi :

1) Pertahankan sistem kateter steril, berikan perawatan 2) Ambulasi dengan kantung drainase dependent

3) Awasi tanda vital, perhatikan demamringan, menggigil, nadi dan pernapasan cepat, gelisah, peka, disorientasi

4) Berikan anti biotic sesuai indikasi

b. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan sumbatan saluran pengeluaran pada kandung kemih: Benigna Prostat Hiperplasia.

Intervensi :

1) Lakukan penilaian kemih yang komprehensif berfokus pada inkontinensia

2) Gunakan kekuatan sugesti dengan menjalankan air atau disiram toilet.

3) Sediakan waktu yang cukup untuk pengosongan kandung kemih (10 menit).

4) Gunakan spirit wintergreen dipispot atau urinal.

c. Nyeri berhubungan dengan agent injuri (spasme kandung kemih).

Intervensi :

1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi 2) Observasi reaksi nonverbal dari ketidak nyamanan

3) Gangguan tehnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien

4) Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri

d. Resiko perdarahan berhubungan dengan trauma efek samping pembedahan

Intervensi :

1) Monitor ketat tanda-tanda perdarahan

2) Catat nilai Hb dan HT sebelum dan sesudah terjadinya perdarahan 3) Monitor TTV ortostatik

4) Pertahankan bed rest selama perdarahan aktif e. Resiko ketidak efektifan perfusi ginjal

Intervensi :

1) Observasi status hidrasi (kelembaban membrane mukosa, TD ortostatik, dan keadekuatan dinding nadi)

2) Monitor HMT, ureum, albumin, total protein, serum osmolatitas dan urine

3) Observasi tanda-tanda cairan berlebih/retensi (CVP meningkat, oedem, distensi vena leher dan asites)

4) Pertahankan intake dan output secara akurat f. Retensi urine

Intervensi :

1) Monitor intake dan output

2) Monitor penggunaan obat antikolianergik 3) Monitor derajat distensi bladder

4) Instruksikan pada pasien dan keluarga untuk mencatat output urine g. Ansietas berhubungan dengan perasaan takut terhadap tindakan

pembedahan.

Intervensi :

1) Gunakan pendekatan yang menenangkan

2) Nyatakan dengan jelas harapan terhadap perilaku pasien

3) Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur 4) Pahami prespektif pasien terhadap situasi stress

Sedangkan pada kasus cuma ada 3 perencanaan tindakan yang penulis rencanakan yaitu :

e. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan statis urine.

Intervensi :

1) Pertahankan sistem kateter steril, berikan perawatan 2) Ambulasi dengan kantung drainase dependent

3) Awasi tanda vital, perhatikan demamringan, menggigil, nadi dan pernapasan cepat, gelisah, peka, disorientasi

4) Berikan anti biotic sesuai indikasi

f. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan sumbatan saluran pengeluaran pada kandung kemih: Benigna Prostat Hiperplasia.

Intervensi :

1) Lakukan penilaian kemih yang komprehensif berfokus pada inkontinensia

2) Gunakan kekuatan sugesti dengan menjalankan air atau disiram toilet.

3) Sediakan waktu yang cukup untuk pengosongan kandung kemih (10 menit).

4) Gunakan spirit wintergreen dipispot atau urinal.

g. Nyeri berhubungan dengan agent injuri (spasme kandung kemih).

Intervensi :

1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi 2) Observasi reaksi nonverbal dari ketidak nyamanan

3) Gangguan tehnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien

4) Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri

Rencana keperawatan yang dilakukan pada kasus sesuai dengan rencana pada teori maka kesenjangannya pada teori terdapat 4 rencana keperawatan yang tidak sesuai pada kasus karena rencana keperawatan tersebut tidak ada hubungannya dengan proses operasi.

4. Implementasi

Implementasi adalah pelaksanaan rencana yang telah diterapkan agar kebutuhan klien Tn.“S” dapat terpenuhi secara optimal. Rencana pelaksanaan yang dibuat diaplikasikan dalam tahap pelaksanaan tindakan keperawatan yang diberikan pada klien merupakan rangkaian dari seluruh rencana tindakan yang dibuat sebelumnya. Dalam melaksanakan tindakan tersebut meliputi tindakan mandiri, pendidikan kesehatan, dan kolaborasi.

a. Resiko infeksi berhubungan dengan statis urine, yaitu:

Pertahankan sistem kateter steril, berikan perawatan, Ambulasi dengan kantung drainase dependent, Awasi tanda vital, perhatikan demamringan, menggigil, nadi dan pernapasan cepat, gelisah, peka, disorientasi, Berikan anti biotic sesuai indikasi.

b. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan sumbatan saluran pengeluaran pada kandung kemih: Benigna Prostat Hiperplasia, yaitu:

Melakukan penilaian kemih yang komprehensif berfokus pada inkontinensia, menggunakan kekuatan sugesti dengan menjalankan air atau disiram toilet, menyediakan waktu yang cukup untuk

pengosongan kandung kemih (10 menit), menggunakan spirit wintergreen dipispot atau urinal.

c. Nyeri berhubungan dengan agent injuri (spasme kandung kemih), yaitu:

Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, mengkarakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi, mengobservasi reaksi nonverbal dari ketidak nyamanan menggunakan tehnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien, mengkaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri.

5. Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap akhir dalam proses keperawatan, evaluasi bertujuan untuk menilai keberhasilan tujuan intervensi.

a. Resiko infeksi berhubungan dengan statis urine.

Diagnosa ini belum teratasi karna masih merasakan nyeri pada bagian bekas operasi.

b. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan sumbatan saluran pengeluaran pada kandung kemih: Benigna Prostat Hiperplasia.

Diagnosa ini belum teratasi karena kateter klien masih terpasang.

c. Nyeri berhubungan dengan agent injuri (spasme kandung kemih).

Diagnosa ini belum teratasi karena klien menyatakan masih merasakan nyeri dengan skala 3 (ringan)

BAB V

PENUTUP

Setelah penulis menguraikan pembahasan Asuhan Keperawatan Klien yang mengalami Post Operasi Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) dengan masalah keperawatan Resiko Infeksi di RS. Bhayangkara mappa oudang Makassar tanggal 30 Maret-01 April 2017, maka penulis dapat menyimpulkan dan menyarankan beberapa hal yaitu sebagai berikut :

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dari Asuhan Keperawatan dan pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan :

1. Pada pengkajian penulis mendapatkan data dari klien, keluarga, perawat ruangan dan dari status klien. Data-data ditemukan meliputi nyeri saat buang air kecil pada penis, klien tampak meringis saat BAK terpasang kateter pada penis klien, urine bag berisi 500 cc dan infuse set pada tangan kanan klien, klien Nampak meringis saat nyeri muncul.

2. Pada diagnose keperawatan terdapat 7 diagnosa keperawatan menurut teori yang sering muncul pada kasus Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) dan pada kasus ini cuma 3 pula diagnose yang muncul yaitu Resiko infeksi berhubungan dengan statis urine, Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan sumbatan saluran pengeluaran pada kandung kemih:

Benigna Prostat Hiperplasia, Nyeri berhubungan dengan agent injuri (spasme kandung kemih).

3. Dalam menentukan rencana keperawatan pada klien Tn. “S” dengan gangguan sistem perkemihan Benigna Prostat Hiperplasia (BPH), pada dasarnya rencana yang diterapkan oleh penulis berpedoman pada rencana keperawatan yang ada pada konsep teori.

4. Pada tahap implementasi yang dilakukan pada klien Tn. “S” dengan gangguan sistem perkemihan Benigna Prostat Hiperplasia (BPH), penulis melakukan implementasi keperawatan yang sesuai dengan perencanaan yang ada pada teori. Adapun faktor pendukung dalam melaksanakan implementasi keperawatan adalah klien dan keluarga cukup kooperatif sehingga dapat diajak kerja sama dalam melaksanakan tindakan keperawatan yang dilakukan, partisipasi pembimbing dan penguji dalam memberi bimbingan serta pengawasan selama penulis melaksanakan penelitian pada klien. Sedangkan faktor yang menjadi penghambat implementasi adalah kurangnya waktu yang diberikan untuk selalu bersama klien terutama dalam melakukan implementasi, serta penjelasa-penjelasan yang berhubungan dengan masalah.

5. Dari hasil evaluasi pada Tn. “S” dengan gangguan sistem perkemihan Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) semua diagnose keperawatan yang diangkat pada kasus dapat teratasi semua, klien juga sudah diperbolehkan pulang atau istirahat dirumahnya.

B. Saran

1. Diharapkan pada pihak Rumah Sakit terutama perawat dalam mengumpulkan data menggunakan berbagai sumber informasi dengan menggunakan tehnik seperti : wawancara, observasi, pengkajian fisik dan

dokumentasi, agar data yang dikumpulkan akurat dan komprehensif, sehingga proses pengkajian dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

2. Diharapkan kepada perawat agar tetap memperhatikan proses klien yang berbeda-beda terhadap masalah kesehatan melalui pengkajian bio-psikososial-spiritual yang komprehensif.

3. Dalam memberikan perencanaan, tindakan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi klien, sehingga implementasi dapat terlaksana dengan baik.

4. Untuk perkembangan keperawatan dimasa yang akan datang dianjurkan untuk memberikan perawatan lanjutan dirumah bagi klien yang sudah pulang.

Dalam dokumen OLEH: DEWI NIRMALA SARIE NIM: (Halaman 73-82)

Dokumen terkait