• Tidak ada hasil yang ditemukan

Inventarisasi Data

Penutup Masukan, saran, tanggapan dan mengenai kontak alamat konsultan dan pemberi pekerjaan.

Gambar 1. 1. Wilayah KSN KAPET Bima

Bab 2 PemahamanTerhadap KSN danAplikasi WEBGIS

Kawasan Strategis Nasional (KSN)

Menurut Pasal 4 dan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (UU 26/2007), penataan ruang diklasifikasikan berdasarkan sistem, fungsi utama kawasan, wilayah administratif, kegiatan kawasan, dan nilai strategis kawasan. Penataan ruang berdasarkan nilai strategis kawasan meliputi penataan ruang kawasan strategis nasional (KSN), penataan ruang kawasan strategis provinsi, dan penataan ruang kawasan strategis kabupaten/kota. Dalam rangka perwujudan pengembangan KSN secara efisien dan efektif sebagaimana diamanatkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (PP 26/2008), perlu suatu perencanaan untuk masing-masing KSN secara baik dan benar serta implementasi RTR KSN yang disepakati oleh semua pemangku kepentingan baik di pusat maupun daerah.

Kawasan Strategis Nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya dan/atau lingkungan termasuk wilayah yang ditetapkan sebagai warisan dunia. Tipologi RTR KSN disusun berdasarkan tipologi KSN. Tipologi KSN dimaksudkan untuk menentukan muatan RTR KSN yang harus dimuat sesuai dengan kebutuhan pengembangan kawasan.

Tipologi KSN ditetapkan dengan mempertimbangkan sudut kepentingan dan kriteria nilai strategis menurut PP 26/2008; dan isu strategis nasional. Dengan mempertimbangkan 76 (tujuh puluh enam) KSN sebagaimana termuat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Nasional dan kemungkinan ditetapkannya KSN lain selain yang telah ditetapkan dalam peraturan tersebut, terdapat 10 (sepuluh) tipologi KSN sebagai berikut: kawasan

pertahanan dan keamanan (kawasan perbatasan negara dan wilayah pertahanan), kawasan perkotaan yang merupakan kawasan metropolitan, KAPET, kawasan ekonomi dengan perlakuan khusus (nonKAPET), kawasan warisan budaya/adat tertentu, kawasan teknologi tinggi, kawasan SDA di darat, kawasan hutan lindung-taman nasional, kawasan rawan bencana, dan kawasan ekosistem termasuk kawasan kritis lingkungan.

Gambar 2. 1. Kedudukan RTR KSN dalam Sistem Perencanaan Tata Ruang dan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional

Sumber: PP No 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang

RTRWN menjadi pedoman untuk penyusunan rencana pembangunan jangka panjang nasional; penyusunan rencana pembangunan jangka menengah nasional; pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah nasional; pewujudan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan

antarwilayah provinsi, serta keserasian antarsektor; penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi; penataan ruang kawasan strategis nasional; dan penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota.

Rencana Tata Ruang Pulau & Kepulauan berperan sebagai perangkat operasional dari RTRWN serta alat koordinasi dan sinkronisasi program pembangunan wilayah Pulau & Kepulauan. Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan tidak dapat digunakan sebagai dasar pemberian izin pemanfaatan ruang.

Rencana Tata Ruang Pulau & Kepulauan merupakan pedoman untuk penyusunan rencana pembangunan; perwujudan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antarwilayah provinsi dan kabupaten/kota, serta keserasian antar sektor; pemanfaatan ruang dan pengendalian; pemanfaatan ruang; penentuan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi dan penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota.

RTR KSN merupakan penjabaran RTRWN yang disusun sesuai dengan tujuan penetapan masing-masing KSN. Muatan RTR KSN ditentukan oleh nilai strategis yang menjadi kepentingan nasional dan berisi aturan terkait dengan hal-hal spesifik di luar kewenangan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. Kepentingan nasional pada KSN merupakan dasar pertimbangan utama dalam penyusunan dan penetapan RTRW provinsi dan RTRW kabupaten/kota. RTR KSN juga menjadi acuan teknis bagi instansi sektoral dalam penyelenggaraan penataan ruang.

Dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Kawasan Strategis Nasional (KSN) diartikan sebagai wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia.

Dalam penyelenggaraan penataan ruang, pemerintah memiliki wewenang terhadap KSN, yaitu dalam penetapan kawasan strategis nasional, perencanaan tata ruang kawasan stategis nasional, pemanfaatan ruang serta pengendalian ruang kawasan strategis nasional. Tetapi, dalam pelaksanaan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan strategis nasional dapat dilaksanakan pemerintah daerah melalui dekonsentrasi dan/atau tugas pembantuan. Kewenangan Pemerintah dalam pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan strategis nasional mencakup aspek yang terkait dengan nilai strategis yang menjadi dasar penetapan kawasan strategis. Pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota tetap memiliki kewenangan dalam penyelenggaraan aspek yang tidak terkait dengan nilai strategis yang menjadi dasar penetapan kawasan strategis. Dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), KSN menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan. Di dalam RTRWN ditetapkan kawasan-kawasan yang menjadi Kawasan Strategis Nasional. Penetapan kawasan-kawasan strategis pada setiap jenjang wilayah administratif didasarkan pada pengaruh yang sangat penting terhadap kedaulatan negara, pertahanan, keamanan, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk kawasan yang ditetapkan sebagai warisan dunia. Pengaruh aspek kedaulatan negara, pertahanan, dan keamanan lebih ditujukan bagi penetapan kawasan strategis nasional, sedangkan yang berkaitan dengan aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan, yang dapat berlaku untuk penetapan kawasan strategis nasional, provinsi, dan kabupaten/kota, diukur berdasarkan pendekatan ekternalitas, akuntabilitas, dan efisiensi penanganan kawasan yang bersangkutan.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 disebutkan bahwa RTRWN merupakan pedoman untuk penataan ruang kawasan strategis nasional, yang didalamnya mengatur kebijakan dan strategi pengembangan kawasan strategis nasional.

Kebijakan pengembangan kawasan strategis nasional meliputi:

1. Pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan keanekaragaman hayati, mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan, melestarikan keunikan bentang alam, dan melestarikan warisan budaya nasional;

2. Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara;

3. Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan perekonomian nasional yang produktif, efisien, dan mampu bersaing dalam perekonomian internasional;

4. Pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat;

5. Pelestarian dan peningkatan sosial dan budaya bangsa;

6. Pelestarian dan peningkatan nilai kawasan lindung yangditetapkan sebagai warisan dunia, cagar biosfer, danramsar; dan

7. Pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangikesenjangan tingkat perkembangan antar kawasan.

Adapun strategi dari masing-masing kebijakan dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 2. 1. Kebijakan Dan Strategi Pengembangan Kawasan Strategis Nasional

No Kebijakan Strategi

1 Pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan keanekaragaman hayati,

1. Menetapkan kawasan strategis nasional berfungsi lindung;

2. Mencegah pemanfaatan ruang di

kawasan strategis nasional yang berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan;

3. Membatasi pemanfaatan ruang di sekitar kawasan strategis nasional yang berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan;

4. Membatasi pengembangan prasarana dan sarana di dalam dan di sekitar kawasan

No Kebijakan Strategi

mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan, melestarikan keunikan bentang alam, dan melestarikan warisan budaya nasional

strategis nasional yang dapat memicu perkembangan kegiatan budi daya;

5. Mengembangkan kegiatan budi daya tidak terbangun di sekitar kawasan strategis nasional yang berfungsi sebagai zona penyangga yang memisahkan kawasan lindung dengan kawasan budi daya terbangun; dan

6. Merehabilitasi fungsi lindung kawasan yang menurun akibat dampak pemanfaatan ruang yang berkembang di dalam dan di sekitar kawasan strategis nasional.

2 Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara

7. Menetapkan kawasan strategis nasional dengan fungsi khusus pertahanan dan keamanan;

8. Mengembangkan kegiatan budi daya secara selektif di dalam dan di sekitar kawasan strategis nasional untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan; dan 9. Mengembangkan kawasan lindung

dan/atau kawasan budi daya tidak terbangun di sekitar kawasan strategis nasional sebagai zona penyangga yang memisahkan kawasan strategis nasional dengan kawasan budi daya terbangun. 3 Pengembangan dan

peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan

perekonomian nasional yang produktif, efisien, dan mampu bersaing dalam perekonomian internasional

10.Mengembangkan pusat pertumbuhan berbasis potensi sumber daya alam dan kegiatan budi daya unggulan sebagai penggerak utama pengembangan wilayah;

11.Menciptakan iklim investasi yang kondusif; 12.Mengelola pemanfaatan sumber daya

alam agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung kawasan;

13.Mengelola dampak negatif kegiatan budi daya agar tidak menurunkan kualitas lingkungan hidup dan efisiensi kawasan; 14.Mengintensifkan promosi peluang investasi;

No Kebijakan Strategi

dan

15.Meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana penunjang kegiatan ekonomi. 4 Pemanfaatan sumber

daya alam dan/atau teknologi tinggi secara optimal untuk

meningkatkan kesejahteraan masyarakat

16.Mengembangkan kegiatan penunjang dan/atau kegiatan turunan dari

pemanfaatan sumber daya dan/atau teknologi tinggi;

17.Meningkatkan keterkaitan kegiatan pemanfaatan sumber daya dan/atau teknologi tinggi dengan kegiatan penunjang dan/atau turunannya; dan 18.Mencegah dampak negatif pemanfaatan

sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi terhadap fungsi lingkungan hidup, dan keselamatan masyarakat.

5 Pelestarian dan

peningkatan sosial dan budaya bangsa

19.Meningkatkan kecintaan masyarakat akan nilai budaya yang mencerminkan jati diri bangsa yang berbudi luhur;

20.Mengembangkan penerapan nilai budaya bangsa dalam kehidupan masyarakat; dan 21.Melestarikan situs warisan budaya bangsa. 6 Pelestarian dan

peningkatan nilai kawasan lindung yang ditetapkan sebagai warisan dunia, cagar biosfer, dan ramsar

22.Melestarikan keaslian fisik serta mempertahankan keseimbangan ekosistemnya;

23.Meningkatkan kepariwisataan nasional; 24.Mengembangkan ilmu pengetahuan dan

teknologi; dan

25.Melestarikan keberlanjutan lingkungan hidup. 7 Pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan tingkat perkembangan antarkawasan

26.Memanfaatkan sumber daya alam secara optimal dan berkelanjutan;

27.Membuka akses dan meningkatkan

aksesibilitas antara kawasan tertinggal dan pusat pertumbuhan wilayah;

28.Mengembangkan prasarana dan sarana penunjang kegiatan ekonomi masyarakat;

No Kebijakan Strategi

29.Meningkatkan akses masyarakat ke sumber pembiayaan; dan

30.Meningkatkan kualitas dan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan kegiatan ekonomi.

Sumber: Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008

Penetapan Kawasan Strategis Nasional dilakukan berdasarkan kepentingan pertahanan dan keamanan, pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi, serta fungsi dan daya dukung lingkungan hidup. Kriteria-kriteria kawasan strategis nasional dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 2. 2. Kriteria Kawasan Strategis Nasional

No Sudut

Kepentingan Kriteria

1 Pertahanan dan Keamanan

1. Diperuntukkan bagi kepentingan pemeliharaan keamanan dan pertahanan negara berdasarkan geostrategi nasional;

2. Diperuntukkan bagi basis militer, daerah latihan militer, daerah pembuangan amunisi dan

peralatan pertahanan lainnya, gudang amunisi, daerah uji coba sistem persenjataan, dan/atau kawasan industri sistem pertahanan; atau

3. Merupakan wilayah kedaulatan negara termasuk pulau-pulau kecil terluar yang berbatasan

langsung dengan negara tetangga dan/atau laut lepas.

2 Pertumbuhan Ekonomi

4. Memiliki potensi ekonomi cepat tumbuh; 5. Memiliki sektor unggulan yang dapat

menggerakkan pertumbuhan ekonomi nasional; 6. Memiliki potensi ekspor;

7. Didukung jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi;

No Sudut

Kepentingan Kriteria

8. Memiliki kegiatan ekonomi yang memanfaatkan teknologi tinggi;

9. Berfungsi untuk mempertahankan tingkat produksi pangan nasional dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional;

10.Berfungsi untuk mempertahankan tingkat produksi sumber energi dalam rangka mewujudkan

ketahanan energi nasional; atau

11.Ditetapkan untuk mempercepat pertumbuhan kawasan tertinggal.

3 Sosial dan Budaya

12.Merupakan tempat pelestarian dan

pengembangan adat istiadat atau budaya nasional;

13.Merupakan prioritas peningkatan kualitas sosial dan budaya serta jati diri bangsa;

14.Merupakan aset nasional atau internasional yang harus dilindungi dan dilestarikan;

15.Merupakan tempat perlindungan peninggalan budaya nasional;

16.Memberikan perlindungan terhadap keanekaragaman budaya; atau

17.Memiliki potensi kerawanan terhadap konflik sosial skala nasional.

4 Pendayagunaan Sumber Daya Alam dan/atau Teknologi Tinggi

18.Diperuntukkan bagi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan lokasi sumber daya alam strategis nasional,

pengembangan antariksa, serta tenaga atom dan nuklir;

19.Memiliki sumber daya alam strategis nasional; 20.Berfungsi sebagai pusat pengendalian dan

pengembangan antariksa;

21.Berfungsi sebagai pusat pengendalian tenaga atom dan nuklir; atau

22.Berfungsi sebagai lokasi penggunaan teknologi tinggi strategis.

No Sudut

Kepentingan Kriteria

5 Fungsi dan Daya Dukung

Lingkungan Hidup

23.Merupakan tempat perlindungan keanekaragaman hayati;

24.Merupakan aset nasional berupa kawasan lindung yang ditetapkan bagi perlindungan ekosistem, flora dan/atau fauna yang hampir punah atau

diperkirakan akan punah yang harus dilindungi dan/atau dilestarikan;

25.Memberikan perlindungan keseimbangan tata guna air yang setiap tahun berpeluang

menimbulkan kerugian negara; 26.Memberikan perlindungan terhadap

keseimbangan iklim makro;

27.Menuntut prioritas tinggi peningkatan kualitas lingkungan hidup;

28.Rawan bencana alam nasional; atau

29.Sangat menentukan dalam perubahan rona alam dan mempunyai dampak luas terhadap

kelangsungan kehidupan.

Sumber: Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 kriteria nilai strategis untuk kawasan strategis nasional, kawasan strategis provinsi, kawasan strategis kabupaten/kota ditentukan berdasarkan aspek eksternalitas, akuntabilitas, dan efisiensi dalam penanganan kawasan. Kawasan strategis nasional dapat ditetapkan sebagai kawasan strategis provinsi dan/atau kawasan strategis kabupaten/kota.

Proses penyusunan rencana tata ruang merupakan salah satu prosedur dalam penyusunan rencana tata ruang, dimana prosedur penyusunan rencanan tata ruang itu sendiri menjadi kegiatan pelaksanaan perencanaan tata ruang. Prosedur penyusunan rencana tata ruang kawasan strategis nasional, meliputi:

2. Pelibatan peran masyarakat pada tingkat nasional dalampenyusunan rencana tata ruang kawasan strategisnasional; dan

3. Pembahasan rancangan rencana tata ruang kawasan strategis nasional oleh pemangku kepentingan di tingkat nasional

Dalam perumusan rencana dalam rencana tata ruang kawasan strategis nasional harus mengacu kepada RTRWN dan pedoman dan petunjuk pelaksanaan bidang penataan ruang, serta memperhatikan rencana tata ruang pulau/kepulauan; rencana tata ruang wilayah provinsi dan/atau rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota yang menjadi bagian dari kawasan strategis nasional atau dimana kawasan strategis nasional terletak; rencana pembangunan jangka panjang nasional; dan rencana pembangunan jangka menengah nasional.

Dalam penyusunan program pengembangan kawasan strategis nasional dilakukan perumusan dan sinkronisasi program/kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat. Sumber pembiayaan program pemanfaatan ruang kawasan strategis nasional berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, pembiayaan masyarakat, dan/atau sumber lainnya yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Tipologi Kawasan Strategis Nasional

Penjabaran RTR KSN dalam implementasi RTR Provinsi/Kabupaten/Kota dapat dilakukan berdasarkan tipologi kawasan strategis nasional. Tipologi kawasan strategis nasional ini bermanfaat untuk memastikan kebutuhan penataan ruang yang sesuai dengan kebutuhan kawasan dan untuk mengantisipasi keragaman kawasan strategis nasional. Berdasarkan Pedoman Penyusunan RTR KSN, pertimbangan penetapan tipologi didasarkan pada:

1. Sudut kepentingan berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 26 tahun 2008 tentang RTRWN

2. Kriteria nilai strategis/ penetapan sudut kepentingan kawasan strategis nasional untuk masing-masing sudut kepentingan selanjutnya dikembangkan oleh tim penyusun; dan

3. Isu strategis nasional

Isu strategis ini merupakan hal-hal yang menjadi perhatian nasional yang diwujudkan dalam bentuk penataan ruang kawasan strategis nasional dalam rangka melindungi kepentingan nasional di dalamnya. Adapun isu strategis nasional tersebut tercantum dalam berbagai dokumen perencanaan nasional dan sudah dirangkum dalam Pedoman Penyusunan RTR KSN.

Berdasarkan ketiga hal di atas maka tipologi kawasan strategis nasional dibagi menjadi:

1. Tipologi Kawasan Perbatasan Negara. 2. Tipologi Kawasan Perkotaan/Metropolitan.

3. Tipologi Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET). 4. Tipologi Kawasan Ekonomi dengan Perlakuan Khusus (Non KAPET). 5. Tipologi Kawasan Warisan Budaya – Adat Tertentu.

6. Tipologi Kawasan Teknologi Tinggi.

7. Tipologi Kawasan Sumber Daya Alam (Darat). 8. Tipologi Hutan Lindung-Taman Nasional. 9. Tipologi Kawasan Rawan Bencana.

10.Tipologi Kawasan Kritis Lingkungan dan Kawasan Ekosistem Berbasis Daratan / Ekosistem Berbasis Lautan (termasuk SDA Laut).

Fokus Penanganan Setiap Tipologi Kawasan Strategis Nasional

Berdasarkan pada sudut kepentingan dan tujuan pengaturan tiap-tiap tipologi KSN, dapat dimunculkan pula fokus-fokus yang menjadi poin utama dalam penanganan Kawasan Strategi Nasional tersebut. Fokus penanganan ini, selain berguna untuk mengarahkan kebijakan yang akan disususn (ketika akan menyususn RTR KSN) , dapat pula digunakan sebagai acuan dalam proses sinkronisasi dan penjabaran muatan RTR KSN ini ke dalam RTRW Provinsi/Kabupaten/ Kota.

Fokus penanganan dari masing-masing tipologi KSN dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan muatan-muatan utama atau muatan esensial yang terkandung di dalam RTR KSN terkait. Muatan esensial tersebut kemudian menjadi poin utama yang akan disinkronkan dengan substansi RTRW Provinsi/Kabupaten/Kota.

Tabel 2. 3. Fokus Penanganan Kawasan Strategis Nasional

No RTR KSN

Tipologi KSN Fokus Penanganan

1 Kawasan Perbatasan Negara dan Wilayah Pertahanan

1. Pertahanan dan keamanan 2. Kesejahteraan 3. Kelestarian lingkungan 2 Kawasan Perkotaan (Metropolitan) 4. Sistem permukiman 5. Kegiatan perekonomian

3 KAPET 6. Sektor unggulan selektif berbasis masyarakat

7. Pertumbuhan ekonomi 4 Kawasan Ekonomi

dengan Perlakuan Khusus (Non KAPET)

8. Kawasan perekonomian 9. Insentif fiskal/nonfiskal 10.Sistem jaringan prasarana 5 Kawasan Warisan

Budaya/Adat Tertentu

11.Pelestarian budaya 6 Kawasan Teknologi Tinggi 12.Teknologi tinggi

7 Kawasan SDA di Darat 13.Keseimbangan ekosistem

14.Melindungi/memanfaatkan SDA secara aman

No RTR KSN

Tipologi KSN Fokus Penanganan

Taman Nasional taman nasional

9 Kawasan Rawan Bencana

16.Pemanfaatan ruang berbasis mitigasi dan adaptasi bencana

10 Kawasan Kritis Lingkungan dan Kawasan Ekosistem Berbasis Daratan/Lautan

17.Pemanfaatan unsur alam secara timbal balik

Sumber: Permen PU Nomor 15 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan RTR KSN

Kawasan Strategis Nasional di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Berdasarkan Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2010 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2009 – 2029, Kawasan Strategis Nasional yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat melputi:

1. Kawasan Strategis Nasional dari Sudut Kepentingan Pertahanan dan Keamanan adalah Kawasan Perbatasan Negara termasuk sembilan belas pulau kecil terluar yang berhadapan dengan laut lepas. Pulau kecil terluar yang berhadapan dengan laut lepas di Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah Pulau Sepatang yang berada di Kabupaten Lombok Barat.

2. Kawasan Strategis Nasional dari Sudut Kepentingan Ekonomi yaitu Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Bima yang berada di Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu.

3. Kawasan Strategis Nasional dari Sudut Kepentingan Lingkungan Hidup yaitu Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani yang berada di Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur.

Aplikasi WEBGIS

Geographic Information System (GIS) merupakan sistem yang dirancang untuk bekerja dengan data yang tereferensi secara spasial atau koordinat-koordinat geografi. GIS memiliki kemampuan untuk melakukan pengolahan data dan melakukan operasi-operasi tertentu dengan menampilkan dan menganalisa data. Applikasi GIS saat ini tumbuh tidak hanya secara jumlah applikasi namun juga bertambah dari jenis keragaman applikasinya. Pengembangan applikasi GIS kedepannya mengarah kepada applikasi berbasis Web yang dikenal dengan Web GIS. Hal ini disebabkan karena pengembangan applikasi di lingkungan jaringan telah menunjukan potensi yang besar dalam kaitannya dengan geo informasi. Sebagai contoh adalah adanya peta online sebuah kota dimana pengguna dapat dengan mudah mencari lokasi yang diinginkan secara online melalui jaringan intranet/internet tanpa mengenal batas geografi penggunanya.

Secara umum Sistem Informasi Geografis dikembangkan berdasarkan pada prinsip input/masukan data, managemen, analisis dan representasi data. Di lingkungan web prinsip prinsip tersebut di gambarkan dan di implementasikan seperti pada tabel berikut:

Tabel 2. 4. Prinsip Pengembangan WEB GIS

GIS Prinsip Pengembangan Web

Data Input Client

Manajemen Data DBMS dengan komponen spasial Analisys Data GIS Library di Server

Arsitektur

Untuk dapat melakukan komunikasi dengan komponen yang berbeda-beda di lingkungan web maka dibutuhkan sebuah web server. Karena standart dari geo data berbeda beda dan sangat spesifik maka pengembangan arsitektur system mengikuti arsitektur ‘Client Server’.

Gambar 2. 2. Arsitektur WEB GIS

Sumber : Arsitektur WEB GIS, Wasil, 2014

Gambar diatas menunjukan arsitektur minimum sebuah system Web GIS. Applikasi berada disisi client yang berkomunikasi dengan Server sebagai penyedia data melalui web Protokol seperti HTTP (Hyper Text Transfer Protocol). Applikasi seperti ini bisa dikembangkan dengan web browser (Mozzila Firefox, Opera, Internet Explorer, dll). Untuk menampilkan dan berinteraksi dengan data GIS, sebuah browser membutuhkan Pug-In atau Java Applet atau bahkan keduanya. Web Server bertanggung jawab terhadap proses permintaan dari client dan mengirimkan tanggapan terhadap respon tersebut. Dalam arsitektur web, sebuah web server juga mengatur komunikasi dengan

server side GIS Komponen. Server side GIS Komponen bertanggung jawab terhadap koneksi kepada database spasial seperti menterjemahkan query kedalam SQL dan membuat representasi yang diteruskan ke server. Dalam kenyataannya Side Server GIS Komponen berupa software libraries yang menawarkan layanan khusus untuk analisis spasial pada data. Selain komponen hal lain yang juga sangat penting adalah aspek fungsional yang terletak di sisi client atau di server. Gambar berikut dua pendekatan yang menunjukan kemungkinan distribusi fungsional pada system client/server berdasarkan konsep pipeline visualization.

Gambar 2. 3. Pendekatan Sistem Client/Server

Sumber : Konsep Dasar WEB GIS, Denny Charter, 2014

Pendekatan-1 : Thin Client : Memfokuskan diri pada sisi server. Hampir semua proses

Dokumen terkait