BAB II LANDASAN TEORI
C. Pendidikan
4. Investasi Sumber Daya Manusia dalam Pendidikan
Negara sedang berkembang dihadapkan kepada suatu realitas bahwa produktivitas tenaga kerja rendah. Hal ini disebabkan karena kualitas sumber daya manusia masih rendah. Sedangkan di negara maju, pendidikan dapat menjadi sebagai suatu investasi modal manusia. Akibatnya kualitas SDM nya tinggi sehingga produktivitas tenaga kerjanya juga tinggi.
a) Teori Human Capital
Asumsi dari teori ini adalah bahwa seseorang dapat meningkatkan penghasilannya melalui peningkatan pendidikan. Setiap tambahan satu tahun sekolah, dapat berarti bahwa di satu pihak dapat meningkatkan kempuan kerja dan penghasilan seseorang, tetapi di pihak lain akan menunda penerimaan penghasilan selama satu tahun dalam masa sekolah.
Penerapan-penerapan dari pendekatan teori human capital antara lain dilakukan dalam hal :41
1) Pendidikan dan latihan
Pendidikan dan latihan meningkatkan keterampilan bekerja sehingga meningkatkan produktivitas kerja. Hubungan pendidikan dengan produktivitas kerja dapat tercermin dalam tingkat penghasilan. Pendidikan yang tinggi mengakibatkan produktivitas kerja yang lebih tinggi dan memungkinkan penghasilan yang lebih tinggi pula. Sudah tentu perbedaan tingkat pendapatan
41 Amiruddin Idris, “Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia“, (Yogyakarta : DEEPUBLISH, 2018), Hal.46-48
tersebut tidak saja disebabklan oleh perbedaan tingkat pendidikan, akan tetapi juga faktor lain seperti pengalaman kerja, keahlian, sektor usaha, jenis usaha, lokasi, dan lain-lain.
2) Migrasi dan Urbanisasi
Di bidang migrasi atau perpindahan penduduk, asumsi dasarnya adalah bahwa seseorang mau atau berusaha pindah kerja dari suatu tempat ke tempat lain untuk memperoleh penghasilan yang lebih besar. Urbanisasi adalah salah bentuk migrasi. Dalam perpindahan biasa dari suatu daerah ke daerah lain pada umumnya seseorang memutuskan pindah setelah memperoleh kepastian bahwa di tempat tujuan terdapat tingkat kesempatan kerja dengan tingkat upah yang lebih tinggi. Lain halnya dengan urbanisasi, banyak orang yang pindah dari desa ke kota tanpa mempunyai tingkat kepastian akan kesempatan kerja. Namun, karena perbedaan tingkat upah yang cukup besar antara wilayah kota dan desa maka hal ini pendorong urbanisasi.
3) Perbaikan Gizi dan Kesehatan
Perbaikan gizi dan kesehatan sangat penting untuk meningkatkan produktivitas sehingga perbaikan gizi dan peningkatan di bidang kesehatan masyarakat menjadi tanggung jawab besar bagi pemerintah. Rendahnya tingkat gizi dan kesehatan ini disebabkan oleh pendapatan yang rendah yang tercermin dalam tingkat pengeluaran keluarga yang rendah dan tingkat upah yang rendah.
b) Internal Rate Of Return (IRR)
Internal Rate Of Return dari melanjutkan sekolah dalam waktu tertentu adalah tingkat discount yang mempersamakan hasil dari melanjutkan sekolah tersebut dengan biaya total. Biaya total untuk melanjutkan sekolah adalah jumlah biaya tidak langsung dan biaya langsung. Biaya langsung yang dikeluarkan, meliputi biaya SPP, biaya untuk pemebelian buku dan biaya-biaya lain. Biaya tak langsung yaitu pendapatan yang hilang karena melanjutkan ke perguruan tinggi.
Jumlah pendapatan yang hilang ini tergantung apakah bekerja secara paruh waktu atau penuh. Keuntungan yang diperoleh apabila melanjutkan kuliah keperguruan tinggi adalah pendapatan yang tinggi dikemudian hari sesuai dengan tingkat pendidikan yang diperoleh.
Analisis atas investasi dalam bidang pendidikan menyatu dalam pendekatan modal manusia. Modal manusia adalah istillah istilah yang sering digunakan oleh para ekonom untuk pendidikan, kesehatan, dan kapasitas manusia yang lain yang dapat meningkatkan produktivitas. Soleh dan Yuni mengemukakan bahwa keadaan pendidikan penduduk secara umum dapat diketahui dari beberapa indicator seperti angka partisipasi sekolah, tingkat pendidikan yang diatamatkan, angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah. Aspek pendidikan dianggap memiliki peran penting dalam menentukan kualitas manusia, karena melalui pendidikan manusia dianggap memperoleh pengetahuan dan dengan
pengetahuannya manusia diharapkan dapat membangun keberadaan hidupnya dengan lebih baik.42
5. Putus Sekolah
Kriteria putus sekolah adalah mereka yang pernah duduk pada salah satu tingkat pendidikan, akan tetapi pada saat suvei mereka tidak terdaftar pada salah satu pendidikan formal, atau putus sekolah pada kelas terakhir yang diselesaikan.
Kedua adalah mereka yang telah menamatkan pendidikan sekolah akan tetapi pada saat survei tidak terdaftar kesalah satu tingkat pendidikan.
Gomez, Lloyddan Blank dalam Elfindri menyatakan bahwa putus sekolah disebebkan oleh kemiskinan dan rendahnya pendidikan orang tua. Kemiskinan ini indikatornya adalah banyaknya tanggungan dalam sebuah keluarga, pendapatan dan rendahnya tingkat pendidikan dasar yang bisa dikecap seseorang.
Selain itu Todaro mengungkapkan bahwa tingkat pendidikan yang dienyam oleh seseorang secara umum dapat dipandang sebagai hasil yang ditentukan oleh kekuatan permintaan pendidikan. Faktor penentu dari sisi permintaan terhadap pendidikan ada dua hal yang paling berpengaruh terhadap jumlah atau tingkat pendidikan yang diinginkan, yaitu pertama, harapan bagi seorang siswa yang lebih baik pada sektor modern dimasa yang akan datang. Kedua, biaya-biaya
42 Azyumardi Azra,”Ekonomi Pembangunan Edisi kelima”, ( Yogyakarta : STIE YKPN, 2002), Hal. 68
pendidikan baik bersifat langsung maupun tidak langsung yang harus dikeluarkan oleh siswa atau keluarganya.43
6. Hubungan Pendidikan Terhadap Kemiskinan
Menurut Mulyadi pendidikan berfungsi menyiapkan salah satu input dalam proses produksi. Selanjutnya akan mendorong peningkatan output yang dihaapkan bermuara pada kesejahteraan penduduk. Teori pertumbuhan baru menekankan pentingnya peranan pemerintah terutama dalam meningkatkan pembangunan modal manusia (human capital) dan pengembangan untuk meningkatkan produktivitas manusia. Melakukan investasi pendidikan akan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang diperlihatkan dengan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka pengetahuan dan keahlian juga akan meningkat sehingga akan mendorong peningkatan produktivitas kerjanya. Rendahnya produktivitas kaum miskin dapat disebabkan oleh rendahnya akses mereka untuk memperoleh pendidikan.44
Pendidikan dapat dikatakan peningkatan kemampuan seseorang, dimana akan mempengaruhi kinerja dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika masyarakat ditempatkan di profesi yang sesuai dengan kemampuan yang
43Maulidya Rahmi dan Melti Roza Adry, “Pengaruh Tingkat Putus Sekolah , Kemiskinan dan Pengangguran Terhadap Kriminalitas di ‘indonesia”, Jurnal Ecosains, Vol. 7, No. 2, 2018 : 147-154
44 Anggit Yoga Permana dan Fitrie arianti, “ Analisis Pengaruh PDRB, Pengangguran, Pendidikan, dan Kesehatan terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2044-2009”, Journal Of Economics, Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012, Halaman 3
dimiliki, maka produktivitas dalam bekerja dapat di capai, sehingga nantinya dapat mengurangi kemiskinan.
D. Kajian Terdahulu
Dalam penelitian ini penulis memaparkan beberapa penelitian dahulu yang relevansi gunanya untuk memperjelas masalah dan mengetahui apa yang sudah dihasilkan orang lain bagi penelitian yang serupa serta bagian mana permasalahan yang belum terpecahkan. Berikut ini penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu :
N O
Nama Penulis
Tahun Tema Penelitian Hasil Penelitian
1. Abdul signifikan dan positif terhadap tingkat konsumsi masyarakat migran di Kota Makasar
3. pendidikan tidak
berpengaruh signifikan dan berpengaruh negatif terhadp tingkat kemiskinan masyarakat migran di Kota Makasar.
4. pendapatan berpengaruh signifikan dan berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan masyarakat migran di Kota Makasar.
5. konsumsi tidak berpengaruh signifikan dan berpengaruh negatif terhadap kemiskinan masyarakat migran.
6. pendidikan berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan melalui konsumsi masyaraat migran.
7. pendapatan berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan melalui konsumsi masyarakat migran.
2. Suripto dan
1. variabel tingkat pendidikan tidak berpengaruh signifikan memiliki pengaruh negatf dan signifikan terhadap kemiskinan.
4. indeks pembangunan manusia memiliki pengaruh negatif terhadap dan signifikan terhadap kemiskinan.
2. investasi tidak berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan.
Timur.
3. kesehatan merupakan faktor
yang paling dominan serta berpengaruh posisitf dan signifikan.
4. pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh signifikan
kemiskinan. negatif dan signifikan terhadap kemiskinan. negatif dan signifikan terhadap kemiskinan.
9. Edi Dores 2014 Pengaruh harapan
Dari hasil penelitian di atas, dapat disimpukan faktor-faktor penyebab kemiskinan, yaitu :
1. Pendidikan 2. Konsumsi 3. Kesehatan 4. Pendapatan
5. Pertumbuhan
6. Pembangunan manusia 7. Pengeluaran pemerintah 8. Pengangguran
9. Laju PDRB
Maka dari itu peneliti tertarik untuk menganalis kondisi kesehatan, pendidikan dan kemiskinan di Kabupaten Agam, karena di Kabupaten Agam mayoritas penduduk bekerja di sektor pertanian. Masyarakat yang bekerja di sektor pertanian lebih erat kaitan dengan kesehatan, serta pendidikan, jika kemampuan yang dimiliki rendah, maka untuk pengelolaan pertanian kurang produktif, oleh karena itu pendidikan diperlukan dalam masyarakat yang bekerja di bidang pertanian. Kemudian yang menjadi pembeda penelitian ini dengan terdahulu yaitu dari segi data penelitian tidak ada persamaan, dari segi tahun yang jadi bahan penelitian juga terdapat perbedaan, dan juga dari segi data yang diperolleh juga berbeda, serta teknis analisis yang digunakan.
52 A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif.penelitian dekskriptif kualitatif adalah penelitian kualitatif yang memusatkan pada kegiatan ontologis. Data yang dikumpulkan terutama berupa kata-kata, kalimat atau gambar yang memiliki makna dan mampu memacu timbulnya pemahaman yang lebih nyata daripada sekedar angka atau frekuensi. Peneliti menekankan catatan dengan deskripsi kalimat yang rinci, lengkap, mendalam yang menggambarkan situasi yang sebenarnya guna mendukung penyajian data.45
B. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal Mei 2021 sampai dengan persetujuan skripsi untuk munaqasah dibulan November 2021.
C. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang digunakan dalam bentukyang sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah oleh pihak lain.
45 Frida Nugrahani, “Metode Penelitian Kualitatif dalam Penelitian Pendidikan Bahasa”, (Surakarta, 11 Juni 2014), Hal. 96
Sumber data dalam peneltian ini adalah dokumen yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Agam pada tahun 2010-2019. Menurut Guba dan Lincoln yang dimaksud dengan dokumen dalam penelitian kualitatif adalah setiap bahan tertulis ataupun film yang dapat digunakan sebagai pendukung bukti penelitian.46 Serta jurnal-jurnal dan artikel yang relevan dengan penelitian ini.
Data yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Agam yaitu kesehatan indikatornya Angka harapan hidup, pendidikan indikatornya angka putus sekolah, dan kemiskinan indikatornya jumlah penduduk miskin.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi.
Teknik dokumentasi atau studi dokumentasi adalah cara pengumpulan data melalui peninggalan arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori, dalil-dalil atau hukum-hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian. Adapun teknik pengumpulan data yaitu Membaca, menelaah ,mengukur presentasi dari data angka di Badan Pusat Statistik Kabupaten Agam (BPS) tentang kemiskinan yang dinyatakan dengan jumlah penduduk miskin, kesehatan yang dinyatakan angka harapan hidup, dan pendidikan yang dinyatakan dengan angka putus sekolah tingkat SD dan SMP di tahun 2010-2019.
46 Frida Nugrahani, “Metode Penelitian Kualitatif dalam Penelitian Pendidikan Bahasa”, (Surakarta, 11 Juni 2014), Hal. 109
E. Teknik Analisis Data
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif.
Analisis deskriptif menggambarkan data apa adanya. Data disajikan dalam bentuk tabel. Adapun langkah-langkah yan digunakan dalam menganalisis data deskriptif kualitatif yaitu :
1. Mengumpulkan data yang diperlukan yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik berupa data kesehatan, pendidikan dan kemiskinan di tahun 2010-2019.
2. Menyusun data berdasarkan tahun yang akan dianalisis, dengan membagi dua periode data.
3. Menganalisis data dan mengaitkan dengan teori, tujuannya untuk mengetahui rumusan masalah dalam penelitian.
4. Menarik kesimpulan dari data penelitian.
55
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Penelitian 1. Kondisi Geografis
Kabupaten Agam terletak antara 00001′34" − 00028′43" lintang Selatan dan 99046′39" − 100032′50"Bujur Timur. Ketinggian diatas permukaan laut sebesar 0-2877 m dari permukaan laut. Kemudian batas-batas daerah di Kabupaten Agam sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat. Sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Lima Puluh Kota, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Tanah Datar, dan sebelah barat berbatasan dengan Samudera Indonesia.
Kabupaten Agam memiliki luas wilayah 2. 232, 4 Km2, merupakan bagian dari Sumatera Barat. Kabupaten Agam terdiri dari 16 kecamatan yaitu Tanjung Mutiara, Libik Basung, Ampek Angkek, Tanjung Raya, Matur, IV Koto, Malalak, Banuhampu, Sungai Pua, Ampek Angkek, Canduang, Baso, Tilantang Kamang, Kamang Magek, Palembayan, dan Palupuh. Lima Kecamatan terluas di Kabupaten Agam yaitu pertama, kecamatan palembayan dengan luas wilayah 349, 81 Km2, kecamatan Lubuk Basung dengan luas wilayah 278,4 Km2, kecamatan Ampek Nagari dengan luas
wilayah 268,69 Km2, kecamatan Tanjung Raya luas wilayah sebesar 244, 03 Km2, dan Kecamatan Palupuh luas wilayahnya 237,08 Km2.
2. Kondisi Iklim dan Topografi
Curah hujan di Kabupaten Agam selama tahun 2019 adalah 2517 mm dengan total hari hujan selama 186 hari. Kemudian sepanjang tahun 2019 pada bulan April merupakan suhu tertinggi sebesar 23,5 C. Di bulan Februari terjadi kelembapan udara terendah sebesar 78%. Sedangkan kelembapan tertinggi terjadi pada bulan Juli sebesar 93%. Kemudian curah hujan terendah teradi pada bulan Agustus sebesar 75 mm, untuk curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Oktober sebesar 268 mm.
3. Potensi Wilayah
Perekonomian masyarakat Kabupaten Agam didukung oleh sektor pertanian, Kehutanan, dan perikanan. Ini dapat kita lihat dari hasil produksi pertanian di Kabupaten Agam pada tahun 2019 meningkat sebesar 7,13 %.
Kemudian dilihat dari luas panen padi di Kabupaten Agam seluas 71. 991 Ha dengan produktivitas 5,7 ha/ton. Penyumbang terbesar dari produksi padi yaitu kecamatan Lubuk Basung sebesar 70.528 ton. Sedangkan produksi padi terendah di Kecamatan Banuhampu sebesar 9. 457 ton.
Jikadilihat dari produksi kelapa sawit, produksi terbesar di Kecamatan Tanjung Mutiara sebesar 9.44, 2 ton. Sedangkan untuk produksi kelapa terbesar beradadi Kecamatan dengan total produksi pada tahun 2019 sebesar
7.804 ton. Oleh karena itu kabupaten Agam dapat dikatakan masyarakatnya mayoritas bekerja sebagai petani.
B. Deskripsi Data Penelitian 1. Angka Harapan Hidup
Angka harapan hidup adalah indikator untuk melihat perkembangan kesehatan di wilayah Kabupaten Agam. Angka harapan hidup merupakan rata-rata lamanya usia hidup penduduk di suatu wilayah. Oleh karena itu angka harapan hidup di Kabupaten Agam di analisis dari tahun 2010-2019 dengan membagi dua periode, dimana satu periode 5 tahun.
2. Angka Putus Sekolah
Angka putus sekolah merupakan proporsi antara jumlah murid putus sekolah pada jenjang pendidikan tertentu dengan jumlah murid seluruhnya jenjang pendidikan tersebut. Penelitian ini mengambil data angka putus sekolah dari keseluruhan jenjang pendidikan sekolah dasar (SD) dan tingkat sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Agam tahun 2010-2019.
3. Kemiskinan
Kemiskinan dapat dilihat dari berbagai kondisi, namun dalam penelitian ini indikator untuk melihat kemiskinan yaitu jumlah penduduk miskin, yaitu penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan yang ada di kabupaten Agam. Kemiskinan dikabupaten Agam dalam waktu 10 tahun terkahir dari
tahun 2010-2019 mengalami fluktuatif, dimana pada tahun 2010 merupakan nilai tertinggi jumlah penduduk miskin yaitu sebesar 44, 90 ribu jiwa.
C. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Kesehatan dan Kemiskinan
Untuk melihat kondisi antara kesehatan dan kemiskinan, dapat dilihat dari tabel di bawah ini :
Tabel 1.1
Angka Harapan Hidup dan Kemiskinan di Kabupaten Agam Tahun 2010-2015
Tahun Angka Harapan hidup
Jumlah Penduduk Miskin (ribu)
Persentase Penduduk
Miskin
2010 69,04 44,900 9,86
2011 69, 23 43,280 9,39
2012 69,90 39,300 8,43
2013 69,43 36,100 7,68
2014 70,80 33,280 7,02
Angka harapan hidup di tahun 2010 sebesar 69, 04 tahun, jumlah penduduk miskin sebesar 44,90 ribu jiwa, tahun 2011 mengalami kenaikan sebesar 69,23 per tahun, jumlah penduduk miskin menurun sebesar 43,280 ribu jiwa dibandingkan tahun 2010, hal ini menunjukkan nilai yang negatif artinya angka harapan hidup yang tinggi akan mengurangi jumlah penduduk miskin.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Idris Thahir, Baharuddin Semmaila dan Aryati Arfah dengan hasil peneltiian bahwa kesehatan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kemiskinan artinya bahwa semakin tinggi angka kesehatan akan mengurangi angka kemiskinan.
Di tahun 2012 angka harapan hidup naik sebesar 69,90 pertahun, dimana jumlah penduduk miskin mengalami penurunan sebesar 39,300 ribu jiwa dibanding tahun 2011, hal ini memperlihat bahwa nilai negatif antara kesehatan dan kemiskinan, dimana angka harapan hidup yang naik sejalan dengan penurunan angka jumlah penduduk miskin, hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Idris Thahir, Baharuddin Semmaila dan Aryati Arfah.
Di tahun 2013 angka harapan hidup turun sebesar 69,43 tahun, sementara itu jumlah penduduk miskin berkurang sebesar 36,100 ribu jiwa, tetapi persentase penduduk miskin menurun. hal ini memperlihatkan nilai positif artinya penurunan angka harapan hidup, tidak membuat angka jumlah penduduk miskin naik. Namun setidaknya dapat mengurangi persentase penduduk miskin. Hasil analisis ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Idris Thahir, Baharuddin Semmaila dan Aryati Arfah.
Kemudian di tahun 2014 angka harapan hidup mengalami kenaikan di banding tahun 2013 sebesar 70,80, sedangkan jumlah penduduk miskin menurun sebesar 33,280 ribu jiwa, hal ini menunjukkan nilai yang negatif
dimana kenaikan angka harapan hidup, jumlah penduduk miskin mengalami penurunan. Hasil analisis data ini sesuai dengan peneltian yang dilakukan oleh Muhammad Idris Thahir, Baharuddin Semmaila dan Aryati Arfah, selain itu juga sesuai dengan hasil peneltian oleh Anggit Yoga Permana dan Fitrie Arianti dengan hasil penelitian bahwa kesehatan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan artinya semakin tinggi derajat kesehatan maka akan mengurangi tingkat kemiskinan. Kesehatan merupakan fenomena ekonomi yang dapat dinilai sebagai investasi, sehingga fenomena kesehatan menjadi variabel yang nantinya dapat dianggap sebagai suatu faktir produksi untuk meningkatkan nilai tambah barang dan jasa, atau sebagai suatu sasaran dari berbagai tujuan yang ingin dicapai oleh individu.
Tabel 1.2
Angka Harapan Hidup, Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin di Kabupaten Agam Tahun 2015-2019
Tahun Angka Harapan
Sumber : BPS Kabupaten Agam 2015-2019
Angka harapan hidup di tahun 2015 sebesar 71, 30 per tahun, dengan jumlah penduduk miskin sebesar 36.060 ribu jiwa. Di tahun 2016 angka harapan hidup mengalami kenaikan sebesar 71,44 per tahun, angka ini sudah mencapai rata-rata angka harapan hidup di Indonesia di tahun 2016 sebesar 70,28 per tahunnya. Sedangkan jumlah penduduk mengalami peningkatan di bandingkan tahun 2015 sebesar 37,550 ribu jiwa. Ini menunjukkan nilai yang positif artinya kenaikan angka harapan hidup seiiring dengan naiknya jumlah penduduk miskin. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Amelia Sestu Rahajeng, Sri Muljaningsih, dan kiky Asmara dimana kesehatan yang di ukur dengan angka harapan hidup berpengaruh positif terhadap kemiskinan, artinya angka harapan hidup yang naik tidak bisa mengurangi kemiskinan.
Di tahun 2017 angka harapan hidup naik sebesar 71,57 per tahun dibandingkan tahun 2016, angka harapan hidup di tahun 2017 ini juga sudah mencapai rata-rata angka harapan hidup di Indonesia di tahun 2017 sebesar 71,28 per tahunnya. Kemudian jumlah penduduk miskin mengalami penurunan sebesar 36,568 ribu jiwa. Ini menunjukkan nilai yang negatif artinya kenaikan angka harapan hidup dapat menurunkan jumlah penduduk miskin. Analisis ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Edi Dores yang menghasilkan bahwa angka harapan hidup berpengaruh negatif dan signifikan terhadap jumlah penduduk miskin artinya semakin tinggi nilai angka harapan hidup maka akan berdampak terhadap semakin rendah pula jumlah penduduk miskin.
Pada tahun 2018 angka harapan hidup mengalami kenaikan sebesar 71,83 per tahunnya, angka ini sudah mendekati angka harapan hidup di Indonesia pada tahun tersebut sebesar 71,51 per tahunnya. Dan jumlah penduduk mengalami penurunan sebesar 32,920 ribu jiwa di banding tahun 2017. Hal ini menunjukkan nilai yang negatif artinya angka harapan hidup yang naik akan mengurangi jumlah penduduk miskin, hasil analisis ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Edi Dores, dan peneltitian yang dilakukan oleh Muhammad Idris Thahir, Baharuddin Semmaila dan Aryati Arfah.
Kemudian, di tahun 2019 angka harapan hidup mengalami penurunan sebesar 71,17 per tahun, dan jumlah penduduk miskin naik sebesar 33,100 ribu jiwa dibandingkan tahu 2018, artinya angka harapan hidup yang mengalami penurunan, maka jumlah penduduk miskin mengalami kenaikan. Kondisi kesehatan di tahun 2019 sama halnya di tahun 2016.
Dari analisis diatas dapat dikatakan bahwa besar dan kecil nya kenaikan angka harapan hidup dapat mempengaruhi jumlah penduduk miskin di Kabupaten Agam. Di tahun 2010, 2012, 2014, 2015, 2017, dan 2018 kesehatan yang di ukur dari angka harapan hidup mengalami kenaikan berdampak pada penurunan jumlah penduduk miskin. Menurut Todaro dan Smith kemiskinan yang terjadi di negara berkembang akibat dari fasilitas dan pelayanan kesehatan buruk dan sangat terbatas, kekurangan gizi dan banyaknya wabah penyakit sehingga tingkat kematian bayi naik. Berdasarkan teori tersebut di tahu
2010,2012, 2014, 2015, 2017, dan 2018 Pemerintah Kabupaten Agam berhasil meningkatkan kualitas pelayanan di bidang kesehatan bagi masyarakatnya.
Sedangkan di tahun 2013, 2016, dan 2019 angka harapan hidup sudah mencapai rata-rata angka harapan hidup di Indonesia tetapi kenaikan tersebut tidak berdampak pada penurunan ataupun kenaikan jumlah penduduk miskin, hal ini bisa terjadi karena dampak dari faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat kemiskinan. Faktor-faktor yang dapat di anggap mempengaruhi terjadinya kemiskinan menurut Nazara, yaitu : pekerjaan, gender, infrastruktur dan lokasi geografis.
Angka harapan hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya, maka pemerintah Kabupaten Agam dapat dikatakan berhasil dalam menangani masalah kemiskinan, walaupun demikian kemiskinan harus menjadi perhatian bagi pemerintah.
Menurut Lincolin intervensi untuk memperbaiki kesehatan dari pemerintah juga merupakan suatu alat kebijakan penting untuk mengurangi kemiskinan. Adapun hal yang harus menjadi perhatian bagi pemerintah Kabupaten Agam yaitu :
1. meningkatkan sarana dan prasarana di Kabupaten Agam
1. meningkatkan sarana dan prasarana di Kabupaten Agam