• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh : Fauzia Amelia DOSEN PEMBIMBING Dr. Asyari, S.Ag, M. Si

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Oleh : Fauzia Amelia DOSEN PEMBIMBING Dr. Asyari, S.Ag, M. Si"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Pada Program Studi S1 Ekonomi Islam

Oleh : Fauzia Amelia

3217. 246

DOSEN PEMBIMBING Dr. Asyari, S.Ag, M. Si

PROGRAM STUDI S1 EKONOMI ISLAM

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM (FEBI) INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BUKITTINGGI

2021M/1442 H

(2)

i

KATA PENGANTAR

Assalammualaikumwr. Wb

Alhamdulillah, Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal dengan judul ANALISIS KONDISI KESEHATAN, PENDIDIKAN TERHADAP KEMISKINAN DI KABUPATEN AGAM.

Shalawat dan salam penulis ucapkan kepada Nabi junjungan Umat yakni Nabi Muhammad SAW yang telah mengajarkan umat manusia dari zaman kebodohan sampai dengan zaman yang banyak ilmu pengetahuan ini dan mewariskan Al-qur’an kepadaumatnya, serta Sunnah sebagai pentunjuk kebenaran sampai dengan akhir zaman

.

Penulisan karya ilmiah (proposal) ini merupakan salah satu syarat dalam meperolleh gelar sarjana pada program Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Penulis menyadari dalam setiap pembuatan karya tulis tentunya jauh dari kata sempurna, karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki penulis.

Dengan bantuan yang diberikan dari berbagai pihak maka terselesaikan proposal ini, maka penulis mengucapkan terimakasih tak terhingga untuk Ibunda Yunismarita dan Ayahanda Syahril yang selalu mendoakan, memberikan kasih sayang, dukungan

(3)

ii

moril dan materil, semangat dan arahan yang selalu membuat penulis tetap sabar dan semangat dalam menyelesaikan proposal ini. Terimakasih juga kepada kakak dan abang kandungku, Iis Susanti, Rohani, Irawati, Syahrudi, Rahma wati, Sepriadi, Dedi Afrila, dan adikku Wahyu Mustika Rani dan Hendra yang selalu memberikan motivasi dan arahan kepada penulis sehingga penulis bersemangat dalam menyelesaikan perkuliahan ini.

Dalam penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari arahan dan bimbingan dari berbagai pihak, untuk itu penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada :

1. Ibunda Dr.Ridha Ahida, M. Hum selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

2. Bapak Dr. Iiz Izmudin,MA selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi sekaligus sebagai Pembimbing Akademik penulis.

3. Ibunda Rini Elvira, SE.,M.Si selaku ketua program studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

4. Bapak Dr. Asyari, S.Ag, M. Selaku pembimbing ananda dalam menyelesaikan tugas akhir ini yag telah berkenan meluangkan waktu dan memberikan arahan kepada penulis dalam penyelesaian penulisan skripsi.

(4)

iii

5. Bapak/Ibu Dosen dan Staff fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam yang memberikan ilmu kepada penulis yang menambah pengetahuan dan wawasan bagi penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal ini.

6. Terimakasih juga kepada teman-teman seperjuangan baik dalam menutut ilmu sampai dengan menemani masa berjuang dari awal perkuliahan sampai dengan saat sekarang ini, Delvi Safitri dan Reda Adha Eriani, serta tak lupa untuk teman-teman Jamatur, Dyan Setiani, Indah Permata Sari, Winda Yudilla Oktami, Pipi Gusmianti, Zehriza Rina Alfira, Desi Febriani, dan teman- teman Ekonomi Islam G 2017

7. Dan tak lupa teman-teman dari Yayasan Ahsan Care for Ummah Bukittinggi yang membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan karya ilmiah ini.

Bukittinggi, Oktober 2021 Penulis

FAUZIA AMELIA 3217.246

(5)

iv ABSTRAK

Skripsi ini disusun oleh Fauzia Amelia, 2021. NIM : 321246, Program studi Starta-1 S1) Ekonomi Islam., Institut Agama Islam Negeri Bukittinggi, yang berjudul “Analisis Kondisi Kesehatan, Pendidikan Terhadap Kemiskinan Di Kabupaten Agam.”

Penelitian ini dilakukan untuk melihat kondisi kesehatan dengan kemiskinan, dan pendidikan dengan kemiskinan di Kabupaten Agam periode tahun 2010 sampai dengan 2019 yang dilihat dari angka harapan hidup untuk menggambarkan tingkat kesehatan, angka putus sekolah tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama untuk melihat pendidikan, serta kemiskinan dilihat dari jumlah penduduk miskin. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif, dengan melihat kesesuain teori terhadap fakta data di Badan Pusat Statistik Kabupaten Agam. Data diperoleh dari Publikasi Badan Pusat Statistik Kabupaten Agam tahun 2010-2019.

Data kemudian di analisis dan mengaitkan dengan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kesehatan di Kabupaten Agam di tahun 2010,2012, 2014, 2015, 2017, dan 2018 mengalami kenaikan yang berdampak pada penurunan jumlah penduduk, kemudian di tahun 2013, 2016, dan 2019 kesehatan naik tidak berdampak pada penurunan jumlah penduduk miskin. Kemudian pendidikan di tahun 2013 dan 2011 naik dan tidak dibarengi dengan kenaikan jumlah penduduk miskin, di tahun 2016,2017, dan 2018 tingkat kemiskinan naik berdampak pada penurunan jumlah penduduk miskin.

Kata kunci : Kesehatan, Pendidikan, dan kemiskinan.

(6)

v

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI... .ii

DAFTAR TABEL...vii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang...1

B. Identifikasi Masalah... 7

C. Batasan Masalah... 7

D. Rumusan Masalah... 8

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian... 9

F. Penjelasan Judul... 10

G. Sistematika Penulisan………... 12

BAB II LANDASAN TEORI A. Kemiskinan 1. Defenisi Kemiskinan... 13

2. Penyebab Kemiskinan... 17

3. Keterkaitan antara Kesehatan dan Pendidikan Terhadap Kemiskinan... 20

4. Indikator dan ukuran kemiskinan………. 22

5. Variabel kesejahteraan masyarakat yang mempengaruhi kemiskinan... 23

6. Pandangan islam terhadap kemiskinan... 24

7. Strategi penanggulangan kemiskinan……….. 28

(7)

vi B. Kesehatan

1. Pengertian Kesehatan...30

2. Tingkat Kesehatan... 32

3. Kesehatan dan Produktivitas Kerja... 33

4. Angka harapan hidup………... 34

5. Hubungan Kesehatan dengan Kemiskinan...34

C. Pendidikan... 35

1. Pengertian Pendidikan... 35

2. Indikator Pendidikan... 37

3. Konsep pendidikan yang berorientasi tenaga kerja……….. 38

4. Investasi Sumber Daya Manusia dalam Pendidikan... 39

5. Angka putus sekolah………. 42

6. Pengaruh Pendidikan terhadap kemiskinan... 43

D. Kajian Terdahulu ... 44

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian... 52

B. Lokasi Penelitian... 52

C. Jenis dan Sumber Data... 52

D. Teknik Pengumpulan Data... 53

E. Teknis Analisis Data... 54

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Penelitian... 55

1. Kondisi Geografis... 56

2. Kondisi Iklim dan Topografi... 56

3. Potensi Wilayah... 56

B. Deskripsi Data Penelitian... 57

(8)

vii

C. Kesehatan, Pendidikan dan Kemiskinan Penelitian... 58

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan……… 69 B. Saran………... 70

DAFTAR PUSTAKA

(9)

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Angka Harapn Hidup dan Kemiskinan di Kabupaten Agam tahun 2010- 2014... 58 Tabel 1.2 Angka Harapn Hidup dan Kemiskinan di Kabupaten Agam tahun 2015- 2019... 60 Tabel 1.3 Angka Putus Sekolah Dan Tingkat Kemiskinan Di Kabupaten Agam Tahun 2010-2014... 64 Tabel 1.4 Angka Putus Sekolah Dan Tingkat Kemiskinan Di Kabupaten Agam Tahun 2010-2014... 66

(10)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Permasalahan yang dihadapi oleh kebanyakan negara ialah masalah kemiskinan, terutama dinegara berkembang dimana kemiskinan selalu menjadi tolak ukur keberhasilan suatu negara dalam megelola pemeritahannya.

Kemiskinan merupakan sebuah fenomena yang belum dan tidak terhapuskan dari muka bumi ini. Kemiskinan timbul akibat perbedaan kemampuan, perbedaan kesempatan, dan perbedaan sumberdaya. Dalam penyelesaian masalah kemiskinan dan ketimpangan distribusi pendapatan adalah merupakan sumber dari semua masalah pembagunan dan merupakan tujuan utama kebijakan pembangunan di banyak negara. Kemiskinan akan menimbulkan dampak negatif yang sangat besar diantaranya timbulnya kejahatan, karena orang yang berada dalam kemiskinan tidak dapat melaksanakan berbagai kehidupan sosialnya dengan baik, tidak dapat memperoleh pendidikan dengan baik, akses kesehatan yang berkualitas, melaksanakan kewajiban secara maksimal, dan merasakan hidup yang layak.1

Kemiskinan adalah suatu keadaan dimana seseorang masyarakat tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang wajar

1 Alfi Amalia,”Pengaruh Pendidikan , Pengangguran, dan Ketimpangan Gender Terhadap Kemiskinan di Provinsi Sumatera Barat”, Jornal At-tawassuth, Vol. III, No.3, 2017 : 324-344, Hal.

325

(11)

sebagaimana anggota masyarakat umum lainnya. Kemiskinan adalah sesuatu yang berhubungan dengan keadaan fisik untuk memenuhi kebutuhan dasar minimum untuk nutrisi, perumahan, kesehatan, dan pendidikan.2

Kemiskinan dalam pandangan Islam dapat membahayakan jiwa dan iman seseorang karena sangat dekat dengan kekufuran. Dimana seseorang dalam keadaan miskin tidak dapat melaksanakan kewajiban agama secara maksimal, mereka tidak dapat menempuh pendidikan, dan akses kehidupan yang lebih layak. Kemiskinan juga dapat membuat seseorang melakukan tindakan kriminal.

Islam memeritahkan kepada umatnya untuk berusaha semaksimal mungkin dalam mengelola sumber daya alam yang ada untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga nanti tidak meninggalkan keturunan dalam keadaan lemah, baik secara agama, ilmu, maupun ekonomi. 3

Menurut World Bank ada beberapa faktor-faktor dan analisis penyebab kemiskinan di Indonesia, yaitu : pertama. Pendidikan, kemiskinan memiliki kaitan erat dengan pendidikan tidak memadai, karena pendidikan merupakan indikator yang menggambarkan Sumber Daya Manusia, jika pendidikan seseorang rendah, produktivitasnya juga akan cenderung rendah. Kedua.

Pekerjaan, sektor pertanian memiliki korelasi yang kuat dengan kemiskinan.

Kepala rumah tangga yang bekerja disektor pertanian memiliki tingkat konsumsi

2 Wahyuni,”Penanggulangan Kemiskinan dalam Tinjauan Sosiologi Terhadap dampak Pembangunan”, (Makasar : Alauddin Unniversitas Pers, 2012), hal. 34

3 Ari Kristin Prasetyoningrum,”Analisis Pengaruh Indeks Pembangunan Manusia, Pertumbuhan Ekonomi dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Indonesia”, Jurnal Ekonomii Syariah, Volume 6, Nomor 2, 2018,217-240, Hal. 219

(12)

yang lebih rendah. Ketiga. Gender, meskipun kemiskinan terlihat sedikit dengan rumah tangga perempuan, namun pada kenyataannya tidaklah demikian. Rumah tangga yang dengan kepala keluarga laki-laki lebih beruntung dibandingkan rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan. Keempat. Akses terhadap pelayanan dan infrastruktur. Kelima. Lokasi Geografis, dengan adanya ketimpangan antar wilayah.

Selain itu, menurut Houghton dan Kandker ada empat elemen karakteristik penyebab kemiskinan yaitu : pertama, Karakteristik Regional merupakan buruknya infrastruktur, sumber daya alam, cuaca, kondisi lingkungan dan ketidakmerataan manajemen. Kedua, karakteristik komunitas dimana infrastruktur seperti air bersih, jalan, listrik dan lainnya, akses terhadap barang dan jasa seperti pendidikan dan kesehatan, serta struktur sosial dan modal sosial.

Ketiga, karakteristik Rumah Tangga merupakan hal yang berkaitan dengan rasio ketergantungan anggota keluarga yang menganggur, jenis kelamin kepala keluarga, pekerjaan dan income, serta kesehatan dan pendidikan anggota keluarga. Keempat, karakteristik Individu yaitu hal yang berkaitan dengan usia, pendidikan, status perkawinan, dan suku atau daerah.4

Kabupaten Agam merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Barat. Perekonomian masyarakat Kabupaten Agam dibentuk oleh sektor pertanian. Selain itu Kabupaten Agam dalam kemiskinan berada di urutan ke 9

4 Rustanto,”Menangani Kemiskinan.” ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset, 2015), Hal. 4-5

(13)

dari 12 Kabupaten yang ada di Provinsi Sumatera Barat. Kemiskinan di Kabupaten Agam dapat dilihat dari persentase jumlah penduduk miskin yang digambarkan dengan grafik dibawah ini :

Grafik 1.1

Perkembangan Persentase Penduduk Miskin Di Kabupaten Agam Tahun 2010-2019

Dari grafik di atas menjelaskan bahwa persentase penduduk miskin di Kabupaten Agam dalam 10 tahun terakhir mengalami kenaikan dan penurunan.

Kemiskinan dipengaruhi oleh berbagai faktor diantara nya pengangguran, kesehatan penduduk yang menurun, pendidikan, pertumbuhan ekonomi dan lain sebagainya. Faktor Kesehatan harus menjadi perhatian bagi pemerintah, karena berkaitan langsung dengan masyarakat, kesehatan masyarakat menurut Ikatan Dokter Amerika adalah ilmu dan seni memelihara, melindungi, dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui usaha usaha-usaha pengorganisasian masyarakat. Di Indonesia terdapat undang-undang yang mengatur tentang kesehatan masyarakat, yaitu Undang-Undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 1966 bahwa kesehatan masyarakat adalah syarat mutlak

0 2 4 6 8 10 12

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

persentase penduduk miskin

(14)

untuk melaksanakan keadaan kesehatan di suatu negara di mana tiap warga negara berhak akan kesehatan badan, jiwa, dan sosial yang setinggi-tingginya.5

Penelitian yang dilakukan Dicky Wahyudi dan Tri Wahyu Rejekingsih dengan metode deskriptif kuantitatif yang menggunakan variabel pendidikan yang diukur dari penduduk berusia 10 tahun keatas yang telah tamat pendidikan SD dan SMP, menghasilkan bahwa pendidikan menunjukkan pengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan artinya setiap terjadi kenaikan tingkat pendidikan maka tingkat kemiskinan turun, sementara itu kesehatan berpengaruh negatif artinya ketika variabel kesehatan mengalami kenaikan menyebabkan tingkat kemiskinan mengalami penurunan.

Kemudian penelitian yang dilakukan Anggit Yoga Permana dan Fitrie Arianti dengan metode kuantitatif deskriptif yang menggunakan variabel pendidikan yang dilihat dinyatakan dengan penduduk berumur 10 tahun keatas yang lulus pendidikan terakhir SMA ke atas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan artinya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka pengetahuan dan keahlian juga meningkat sehingga mendorong peningkatan produktivitas kerjanya.dengan meningkatnya produktivitas tersebut, akan mendorong meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan. Sementara itu kesehatan yang dinyatakan dengan angka harapan hidup berpengaruh negatif dan

5Avysia Tri Marga Wulan,”Kesehatan Masyarakat Kesehatan Badan dan Penyakit”, (Suarakarta : Borobudur Inspirasi Nusantara, 2017), Hal. 8

(15)

signifikan terhadap kemiskinan artinya kesehatan yang membaik dapat mempengaruhi penurunan tingkat kemiskinan.

Oleh karena itu, kesehatan masyarakat yang membaik dari waktu ke waktu dapat mempengaruhi produktivitas kerja, sehingga masyarakat mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Namun bila tingkat kesehatan rendah maka menambah tingkat kemiskinan serta terhambatnya proses pembangunan nasional. Salah satu indikator melihat perkembangan tingkat kesehatan adalah angka harapan hidup. Angka harapan hidup mencerminkan kualitas hidup masyarakat dan kualitas kesehatan suatu daerah. Menurut Khan dan Raza, angka harapan hidup saat lahir sebagai indikator kesehatan yang bermanfaat dan secara luas sebagai indikator umum pembangunan nasional.6

Kemudian, pendidikan adalah proses pengembangan kualitas pribadi seorang individu. Maka dari itu pendidikan juga dapat dikatakan sebagai penyiapan tenaga kerja, maksudnya adalah sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memeberi bakal dasar untuk bekerja. Pendidikan dapat dilihat dari angka putus sekolah, Putus sekolah adalah proses berhentinya siswa secara terpaksa dari suatu lembaga pendidikan tempat dia belajar. Pegertian anak putus

6 Adhitya Wardhana dan Bayu Kharisma,”Angka Harapan Hidup Di Era Desetralisasi (Kabupaten/Kota Jawa Barat)”, E-Jurnal ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 9.5 (2020), Hal.

405-422

(16)

sekolah adalah seorang anak usia antara 7-21 tahun yang tidak bersekolah karena tidak mampu membayar biaya sekolah.7

Berbagai program yang dilakukan pemerintah untuk mencegah terjadinya kemiskinan dimasyarakat seperti program kartu keluarga sejahtera, pemberian biaya bantuan kesehatan, serta bantuan sembako, dan biaya pendidikan, namun dapat membuat masyarakat ketergantungan pada hal tersebut sehingga kemiskinan sulit terlepaskan.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk menganalis secara nyata data kondisi kesehatan, pendidikan dan kemiskinan di Kabupaten Agam dengan metode deskriptif kualitatif dengan judul “ANALISIS KONDISI KESEHATAN, PENDIDIKAN DAN KEMISKINAN DI KABUPATEN AGAM.”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti mengidentifikasikan masalah dalam penelitian ini yaitu :

1. Kemiskinan merupakan pokok permasalahan yang dihadapi oleh negara yang sedang berkembang, maka peneliti akan menguji kesesuaian teori yang berkaitan dengan kesehatan di Kabupaten Agam terhadap kemiskinan.

7 Lisa Hikmah, “kemiskinan dan Putus Sekolah”, Jurnal Equilibrium, Vol. IV, No. 2, Hal.

367

(17)

2. Kemiskinan di Kabupaten Agam dalam 10 tahun terakhir dilihat dari persentase jumlah penduduk miskin mengalami kenaikan dan penurunan, hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang disebutkan oleh World Bank dan teori dari Houghton dan Kandker.

C. Batasan Masalah

Batasan masalah dalam penelitian ini adalah Analisis Kesehatan, Pendidikan Dan Kemiskinan Di Kabupaten Agam. Dimana periode tahun yang dianalisis yaitu tahun 2010 sampai dengan tahun 2019 atau selama 10 tahun terakhir.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan indentifikasi masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu :

1. Bagaimana kondisi kesehatan dan kemiskinan di Kabupaten agam di tahun 2010-2019 ?

2. Bagaimana kondisi pendidikan dan kemiskinan di Kabupaten Agam di tahun 2010-2019 ?

(18)

E. Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian Tujuan penelitian yaitu :

1. Untuk mengetahui kondisi kesehatan dan kemiskinan di Kabupaten agam di tahun 2010-2019.

2. Untuk mengetahui kondisi kesehatan dan kemiskinan di Kabupaten agam di tahun 2010-2019.

Kegunaan Penelitian yaitu : 1. Kegunaan Teoritis

Kegunaan penelitian ini agar nantinya dapat memberikan sumbangan teori dalam menguji teori-teori Ekonomi yang berkaitan dengan Kesehatan,Pendidikan Dan Kemiskinan Di Kabupaten Agam.

2. Kegunaan Praktis a. Bagi Penulis

Penelitian ini berguna untuk menambah pengetahuan penulis serta sebagai salah satu syarat bagi penulis untuk memperoleh gelar sarajana Ekonomi pada program Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

b. Bagi MahasiswaAgar penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber referensi keilmuan yang berkaitan dengan Kesehatan,Pendidikan Dan Jumlah Penduduk Terhadap Kemiskinan Di Kabupaten Agam.

(19)

c. Bagi Fakultas

Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan bacaan dan perbandingan bagi pembaca yang sedang melakukan penelitian.

F. Penjelasan Judul

Untuk mempermudah memahami penelitian ini perlu adanya ulasan terhadap penegasan arti dan makna dari penelitian supaya dapat menghilangkan kesalah pahaman pembaca dalam menentukan bahan kajian selanjutnya. Maka dapat dijelaskan hal-hal yang menjadi bahan penelitian ini yaitu :

Analisis : Merupakan proses penguraian suatu topik yang komplek dengan merinci ke hal-hal yang lebih kecil sehingga mudah di mengerti8, atau aktivitas yang memuat sejumlah aktivitas seperti mengurai, membedakan, memilah sesuatu untuk digolongkan dan ditemukan kembali menurut kriteria tertentu kemudian dicari maknanya.

Kemiskinan : Kemiskinan menurut Todaro adalah ketidakmampuan untuk memenuhi standar hidup minimum seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan.9

Kesehatan : Kesehatan yaitu keadaan sehat, baik secara fisik, mental,

8 Pirmatua Sirait, “Analisis Laporan Keuangan,” (Yogyakarta : Ekuilibria, 2017), Hal. 32

9Anggit Yoga Permana dan Fitrie Arianti, “Analisis Pengaruh PDRB, Pengangguran, Pendidikan, dan Kesehatan terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2010-2019 “.Journal Of Econmics, Vol. 1, No. 1, Tahun 2012, Hal. 1

(20)

spiritual maupun sosial yang memungkin setiap orang untuk hidup secara produktif, sosial, dan ekonomis.10

Pendidikan : Menurut Siswanto pendidikan adalah segala sesuatu untuk membina keperibadian dan mengembangkan kemampuan manusia untuk pembangunan persatuan masyarakat adil dan makmur dan selalu dalam keseimbangan11. Jadi dapat dikatakan pendidikan merupakan pengembangan kemampuan seseorang untuk menggunakan kemampuan mereka agar menuju pada masa depan yang lebih baik.

Berdasarkan hasil dari penjelasan di atas, kemiskinan merupakan keadaan seseorang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok secara maksimal.

Kemiskinan dapat disebabkan oleh pendidikan yang rendah, karena dengan pendidikan seseorang dapat mengembangkan kemampuan yang dia miliki sehingga nantinya tercapai produktivitas dalam bekerja, kemudian kesehatan, jika kesehatan membaik disuatu wilayah akan mempengaruhi produktivitas masyarakatnya. maka penelitian berupaya untuk mencari dan menjelaskan secara rinci tentang kondisi kesehatan, pendidikan dan kemiskinan Di Kabupaten Agam.

10 Undang-undang No. 36 Tahun 2009, Tentang Kesehatan, pasal 1

11 Saharudin Didu dan Feri Fauzi, “ Pengaruh Jumlah Penduduk, Pendidikan, dan Pertumbuhan Ekonmi terhadap Kemiskinan di Kabupaten Lebak”, Jurnal Ilmu Ekonomi, Vol.6, No. 1, Hal. 100-114

(21)

G. Sistemtika Penulisan

Untuk lebih mengetahui rinci pembahasan dari penulisan ini, maka penulis memberi sistemtika penulisan yang di bagi menjadi beberapa bab, yaitu :

BAB I : PENDAHULUAN

Dalam bab ini menjelaskan tentang latar belakang, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian,dan penjelesan judul.

BAB II : LANDASAN TEORI

Dalam bab ini menjelaskan tentang teori-teori yang berkaitan dengan judul penelitian.

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

Dalam bab ini menjelaskan tentang jenis penelitian, lokasi peneltian, jenis dan sumber data, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini menjelaskan tentang gambaran umum penelitian serta hasil dan pembahasan penelitian.

BAB V : PENUTUP

Dalam bab ini mengemukakan mengenai kesimpulan dan saran dari hasil penelitian.

(22)

13

LANDASAN TEORI

A. Kemiskinan

1. Defenisi Kemiskinan

Secara harfiah menurut Poewardamita, kemiskinan berasal dari kata dasar miskin yang artinya “tidak berharta benda”. Dalam pengertian yang lebih luas, kemiskinan dapat dikondisikan sebagai suatu kondisi ketidakmampuan baik secara individual, maupun keluarga sehingga kondisi ini rentan terhadap timbulnya permasalahan sosial yang lainnya.

Menurut Kuncoro , kemiskikan didefinisikan sebagai ketidak mampuan untuk memenuhi kebutuhan standar hidup minimun. Adapun Kartasasmita mengatakan kemiskinan merupakan masalah dalam pembangunan dengan pangangguran dan keterbelakangan yang kemudian meningkat dan teradinya ketimpangan. Hal tersebut senada dengan yang dikatakan Friedman bahwa kemiskinan sebagai akibat dari ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuatan sosial.12

Menurut Todaro kemiskinan adalah sejumlah penduduk yang tidak mampu mendapatkan sumberdaya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Mereka hidup dibawah tingkat pendapatan riil minimun tertentu atau dibawah garis

12 Bambang Rustanto, “Menangani Kemiskinan”, ( Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA, 2015 ), Hal. 1-2

(23)

kemiskinan. Banyak ukuran untuk menentukan angka kemiskinan, salah satunya adalah garis kemiskinan. Garis kemiskinan merupakan suatu ukuran yang menyatakan besarnya pengeluaran (dalam rupiah). Garis kemiskinan digunakan untuk mengetahui batas seseorang dikatakan miskin. Beberapa faktor yang menyebabkan adanya kemiskinan antara lain :

a. Terbatasnya kesempatan kerja dan berusaha b. Terbatasnya akses terhadap factor produksi c. Rendahnya kepemilikan aset13

Berdasarkan pendapat para ahli, dapat dikatakan bahwa kemiskinan merupakan ketidakmampuan individu untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari,seperti sandang, pangan, dan papan, sehingga dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial.

Teori-teori kemiskinan pada umumnya bermuara pada dua paradigma besar yang juga berpengaruh pada pemahaman mengenai kemiskinan dan penanggulangan kemiskinan. Dua paradigma yang dimaksud adalah Neo-liberal dan demokrasi-sosial. Dua paradigma yang dimaksud ini memiliki perbedaan yang sangat jelas terutama dalam melihat kemiskinan dalam memberikan solusi penyelesaian masalah kemiskinan. Paradigma yang dimaksud adalah sebagai berikut :

13 Rahmi Yulia Putri, Zul azhar, Dewi Zaini Putri, “Analsis Kemiskinan Berdasarkan Gender di Provinsi Sumatera Barat”, Jurnal kajian Ekonomi Pembangunan, Volume 1, Nomor 2, Mei 2019, Hal. 605

(24)

a. Pada paradigma ini individu dan mekanisme pasar bebas fokus utama dalam melihat kemiskinan. Pendekatan ini menempatkan kebebasan individu sebagai komponen penting dalam suatu masyarakat. Oleh karena itu, dalam melihat kemiskinan, pendekatan ini memberikan penjelasan bahwa kemiskinan merupakan persoalan individu yang merupakan akibat dari pilihan individu. Bagi pendekatan ini kekuatan pasar merupakan kekuatan pasar yang perluasan dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat menghapuskan kemiskinan. Bagi pendekatan ini strategi penanggulangan kemiskinan bersifat sementara dan peran negara sangat minimum. Peran negara baru dilakukan dilain stitusi-institusi di masyarakat, seperti keluarga, kelompok-kelompok swadaya, maupun Lembaga-lembaga lainnya tidak mampu lagi menangani kemiskinan.

b. Paradigma non-liberal ini digerakan oleh Bank Dunia dan telah menjadi pendekatan yang digunakan oleh hampir semua kajian mengenai kemiskinan. Teori-teori modernisasi yang menekankan pada pertumbuhan ekonomi dan produksi merupakan dasar teori-teori dari paradigma ini. Salah satu indikatornya adalah pembanguan. Para ilmuwan sosial selalu merujuk pada pendekatan ini saat mengkaji masalah kemiskinan suatu negara.14

14 Sayifullah, Tia Ratu Gandara, “ Pengaruh Indeks Pembangunan Manusia dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Provinsi Banten”, Jurnal Ekonomi Qu, Vol. 6, No. 2, Oktober 2016, Hal. 243

(25)

Menurut Chambers dalam Nasikun, kemiskinan dapat dibagi dalam empat bentuk, yaitu :15

a. Kemiskinan absolut, bila pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan atau tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum atau kebutuhan dasar termasuk pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan yang diperlukan untuk bisa hidup dan bekerja.

b. Kemiskinan relatif, kondisi miskin karena pengaruh kebijakan pembangunan yang belum menjakau seluruh masyarakat, sehingga menyebabkan ketimpangan pada pendapatan atau dapat dikatakan orang tersebut sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada dibawah kemampuan masyarakat sekitarnya.

c. Kemiskinan kultural, mengacu pada persoalan sikap seorang atau sekelompok masyarakat yang disebabkan oleh faktor budaya, seperti tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupan, malas, pemboros, tidak kreatif meskipun ada bantuan dari pihak luar.

d. Kemiskinan Struktural, situasi miskin yang disebabkan karena rendahnya akses terhadap sumber daya yang terjadi dalam suatu sistem sosial budaya dan sosial politik yang tidak mendukung pembebasan kemiskinan, tetapi kerap menyebabkan suburnya kemiskinan.

15 Ali Khomsan dkk, “Indikator Kemiskinan dan Misklasifikasi Orang Miskin”, (Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2015), Hal. 3

(26)

Negara yang terbelakang umumnya sulit melakukan pembangunan, kondisi ini disebut dengan “lingkaran setann kemiskinan.” Menurut Nurkse lingkaran setan mengandung arti deretan melingkar kekuatan-kekuatan yang satu sama lain beraksi dan beraksi sedemikian rupa sehingga menempatkan suatu negara miskin tetap berada dalam keadaan melarat.

2. Penyebab Kemiskinan

Penyebab kemiskinan di pandang dari sisi ekonomi. Pertama, secara Mikro kemiskinan muncul karena adanya sumberdaya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang tidak seimbang. Penduduk miskin hanya memiliki sumberdaya yang jumlahnya terbatas dan kualitas rendah. Kedua, kemiskinan muncul karena adanya perbedaan dalam kualitas sumberdaya manusia. Kulaitas sumberdaya manusia yang rendah berarti produktivitas rendah, dengan upah rendah, rendahnya kualitas sumberdaya manusia disebabkan oleh rendahnya Pendidikan.

Menurut Todaro kemiskinan yang terjadi dinegara-negara berkembang akibat dari interaksi antara 6 karakteristik16 :

1) Tingkat pendapatan nasional negara-negara berkembang masih terbilang rendah, dan laju pertumbuhan ekonominya tergolong lambat.

16 Meti Astuti dan Insri Lestari,”Analisis Pengaruh Tingkat PErtumbuhan Ekonomi dan Tingkat Pengangguran terhadap Tingkat Kemiskinan di Kabupaten/Kota Kulonprogo, Bantul, Gunung Kidul, Sleman, dan Yogyakarta”, Jurnal Ekonomi Islam, Vol. 18 No 2 : Desember 2018.

(27)

2) Pendapatan perkapita negara-negara dunia juga masih rendah dan pertumbuhannya amat sangat lambat, bahkan ada beberapa yang mengalami stagnasi.

3) Distribusi pendapatan sangat timpang atau sangat tidak merata.

4) Mayoritas penduduk di negra-negara berkembang harus hidup dibawah tekanan kemiskinan absolut.

5) Fasilitas dan pelayanan Kesehatan buruk dan sangat terbatas, kekurangan gizi dan benyaknya wabah penyakit sehingga tingkat kematian bayi di negara-negara berkembang sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang ada di negara maju.

6) Fasilitas Pendidikan di kebanyakan negara berkembang maupun isi kurikulumnya relative masih kurang memadai.

Faktor-faktor yang dianggap dapat mempengaruhi terjadinya kemiskinan menurut Nazara, yaitu :17

a. Kemiskinan selalu dikaitkan dengan ketidakmampuan dalam mencapai Pendidikan tinggi, hal yang berkaitan dengan mahalnya biaya Pendidikan, walaupun pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan untuk membebaskan uang bayaran di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), namun komponen biaya Pendidikan lain harus dikeluarkan masih cukup tinggi, seperti uang buku dan seragam sekolah.

17Nunung Nurwati,”Kemiskinan : Model Pengukuran, Permasalahan dan Alternatif Kebijakan:, jurnal Kependudukan Padjajaran, Vol. 10, No. 1, Januari 2008 :1-11, hal. 5-6

(28)

b. Kemiskinan juga selalu dihubungkan dengan jenis pekerjaan tertentu. Di Indonesia kemiskinan selalu terkait dengan sektor pekerjaan di bidang pertanian untuk daerah pedesaan dan sektor informal. Tingginya tingkat kemiskinan diantara kepala rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang bekerja di sektor lainnya.

c. Hubungan antara kemiskinan dengan gender, Di Indonesia sangat terasa sekali dimensi gender dalam kemiskinan, yaitu dari beberapa indikator kemiskinan seperti tingkat buta huruf, angka pengangguran, pekerja di sektor informal dan lainya, penduduk perempuan memiliki posisi yang lebih tidak menguntungkan dari pada penduduk laki-laki.

d. Hubungan antara kemiskinan dengan kurangnya akses terhadap berbagai pelayanan dasar infrastruktur yang baik akan meningkatkan pendapatan orang miskin secara langsung melalui penyediaan layanan Kesehatan, Pendidikan, transportasi, telekomunikasi, akses energi, air dan kondisi sanatasi yang lebih baik.

e. Lokasi geografis berkaitan dengan kemiskinan karena ada dua hal. Pertama, kondisi alam yang terukur dalam potensi kesuburan tanah dan kekayaan alam. Kedua, pemerataan pembangunan, baik yang berhubungan dengan pembangunan antar provinsi di Indonesia.

(29)

Menurut Word Bank ada beberapa faktor-faktor dan analisis penyebab kemiskinan di Indonesia yaitu :

a. Pendidikan, kemiskinan memiliki kaitan yang sangat erat dengan pendidikan yang tidak memadai.

b. Pekerjaan, bekerja disektor pertanian memiliki korelasi dengan kemiskinan.

Kepala rumah tangga yang bekerja disektor pertanian memiliki tingak konsumsi yang lebih rendah dan karena itu memiliki kemungkinan lebih besar untuk menjadi miskin dibandingkan mereka yang bekerja disektor lain.

c. Gender, rumah tangga dengan kepala keluarga masih belum efektif dibanding dengan kepala rumah tangga laki-laki.

d. Akses terhadap pelayanan dan infrastruktur, kemiskinan jelas berkaitan dengan rendahnya akses terhadap fasilitas dan infrastruktur. Misalnya masyarakat yang tinggal didaerah terisolir akan sulit mendapatkan askes terhadap fasilitas dan infrastruktur.

e. Loasi geografis, dengan adanya ketimpangan antar wilayah, lokasi geografis juga berkolerasi dengan kemiskinan.

3. Keterkaitan antara Kesehatan, Pendidikan, dan Kemiskinan

Dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1992, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup secara produktif secara sosial dan ekonomis. Sedangkan menurut Mu’rifah kesehatan pribadi adalah segala usaha dan tindakan seseorang untuk menjaga,

(30)

memelihara, dan meningkatkan derajat kesehatannya sendiri dalam batas-batas kemampuannya,agar mendapatkan kesenangan hidup dan mempunyai tenaga kerja yang sebaik-baiknya.

Penelitian yang dilakukan oleh Amelia Sestu Rahajeng, Sri Muljaningsih, dan Kiky Asmara menghasilkan bahwa kesehatan yang diukur dengan indikator angka harapan hidup berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan, artinya jika angka harapan hidup mengalami kenaikan maka kemiskinan juga akan ikut meningkat. Lain hal nya penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Idris Thahir, Bahruddin Semmaila, dan Aryati Arfah menghasilkan bahwa kesehatan yang diukur dengan angka harapan hidup berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kemiskinan artinya semakin tinggi angka kesehatan akan mengurangi angka kemiskinan.

Kemudian, kemiskinan yang terjadi dilingkungan masyarakat dapat berpengaruh terhadap kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Rendahnya kualitas penduduk merupakan penghalang pembangunan ekonomi suatu negara.

Hal ini disebabkan karena rendahnya tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan pekerja. Pendidikan merupakan faktor penting bagi berhasilnya pembangunan ekonomi. Menurut Schumker pendidikan merupakan sumber daya yang terbesar manfaatnya dibanding faktor-faktor produksi lainnya.18

18 Windhu Putra,”Perekonomian Indonesia”, (Depok : PT Raja Grafindo Persada, 2018), Hal.

94

(31)

Penelitian yang dilakukan oleh abdurrahman dan Muh. Fiqram Alamsyah, menunjukkan bahwa pendidikan tidak berpengaruh signifikan dan negatif terhadap tingkat kemiskinan, artinya jika terjadi peningkatan tingkat pendidikan, maka akan menurunkan tingkat kemiskinan. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Suripto dan Lalu Subayil menghasilkan bahwa tingkat pendidikan yang diukur menggunakan indikator penduduk yang berumur 5 tahun keatas menurut pendidikan yang ditamatkan berpengaruh signifikan dan tidak berpengaruh negatif terhadap kemiskinan.

4. Indikator dan Ukuran Kemiskinan a. Indikator dan ukuran absolut

Indikator kemiskinan yang dikemukakan oleh Bappenas dalam Sahlan berupa : 1) Kurangnya pangan, sandang, dan perumahan yang tidak layak.

2) Terbatasnya kepemilikan tanah dan alat-alat produksi.

3) Kurangnya kemampuan membaca dan menulis.

4) Kurangnya jaminan dan kesejahteraan hidup.

5) Kerentanan dan keterpurukan dalam bidang sosial dan ekonomi.

6) Ketidakberdayaan atau daya tawar kurang yang rendah.

7) Akses keilmu pengetahuan terbatas.19

19 Ari Kristin Prasetyoningrum dan U. Sulia Sukmwati, “Analisis Pengaruh Indeks Pembangunan Manusia terhadap kemiskinan di Indonesia”, Vol. 6. No. 2, 2018, Hal. 257

(32)

b. Indikator dan ukuran relative

Kemiskinan relatif merupakan kondisi masyarakat kerana kebijakan yang belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat sehingga menyebabkan ketimpangan distribusi pendapatan. Kemiskinan absolut ditentukan berdasarkan ketidakmampuan untuk mencukupi kebutuhan pokok minimum. Kemiskinan structural dan kultural merupakan kemiskinan yang disebabkan oleh kondisi struktural dan factor-faktor budaya suatu daerah tertentu membelenggu seseorang.20

5. Variabel kesejahteraan masyarakat yang mempengaruhi kemiskinan a. Pendidikan

Upaya pembangunan di bidang pendidikan bertujuan untuk peningkatan sumber daya manusia. Pendidikan mempunyai peranan penting bagi suatu bangsa dan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan manusia. Rendahnya tingkat pendidikan dapat dirasakan sebagai penghamabat dalam pembangunan, dengan demikian tingkat pendidikan sangat diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk.

b. Ketenagakerjaan

Penduduk yang dipandang dari sisi ketenagakerjaan merupakan suplai bagi pasar tenaga kerja di suatu negara. Namun tidak semua penduduk mampu

20 Ari Kristin Prasetyoningrum dan U. Sulia Sukmwati, “Analisis Pengaruh Indeks Pembangunan Manusia terhadap kemiskinan di Indonesia”, Vol. 6. No. 2, 2018, Hal. 259

(33)

melakukannya karena hanya penduduk yang berusia kerjalah yang bisa menawarkan tenaganya di pasar kerja. Penduduk usia kerja dibagi menjadi dua golongan yaitu angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja sendiri teridiri dari mereka yang aktif bekerja dan mereka sedang mencari pekerjaan, sedangkan yang termasuk bukan angkatan kerja adalah mereka yang masih sekolah, ibu rumah tangga, pensiunan dan lain-lainya.

c. Kesehatan

Kesehatan adalah salah satu variabel kesejahteraan rakyat yang dapat menggambarkan tingkat kesehatan masyarakat sehubungan dengan kualitas hidupnya. Keadaan kesehatan suatu penduduk merupakan salah satu mdal keberhasilan pembangunan bangsa karena dengan penduduk yang sehat, pembangunan diharapakan dapat berjalan lancar.21

6. Pandangan islam terhadap kemiskinan a. Aspek Dasar Kemiskinan dalam Islam

Al-Ghazali mendefinisikan kemiskinan sebagai ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Islam memandang kemiskinan merupakan suatu hal yang mampu membahayakan akhlak, kelogisan pikiran, keluarga, dan juga masyarakat. Islam pun menganggap sebagai musibah dan bencana yang seharusnya memohon perlindungan kepada Allah atas

21 Josep, “Konsep dan strategi pemerintah dalam Penangulangan Kemiskinan,” ( Jakarta : Indocame, 2018), Hal. 25

(34)

kejahatan yang tersembunyi di dalamnya. Jika kemiskinan ini merajalela, maka akan menjadi kemiskinan yang mampu membuatnya melupakan Allah dan juga rasa sosialnya kepada sesama.

Banyak sahabat Rasulullah SAW yang meriwayatkan, bahawasanya Rasulullah SAW sendiri pernah memohon perlindungan Allah SWT dari kemiskinan. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist berikut ini :

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-MU dari fitnah api neraka, dan aku berlindung kepada-MU dari fitnah kekayaan dan juga berlindung kepada-MU atas fitnah kemiskinan.”( HR. Abu Daud, Nasa’I, dan IbnuMajjah).

Dari hadist di atas sesungguhnya Rasulullah SAW berlindung kepada Allah SWT dari semua hal yang melemahkan baik secara materi maupun maknawi, baik kelemahan itu karena hawa nafsu (kehinaan).22

b. Keseimbangan Ekonomi dalam Masyarakat Luar

Islam telah mewajibkan sirkulasi kekayaan terjadi pada semua anggota masyarakat dan sangat mencegah sirkulasi kekayaan hanya sebatas orang tertentu saja, sebagai firman Allah dalam QS. Al-Hasyr (59) :7





















































22 Nurul Huda, “ Ekonomi Pembangunan Islam”, ( Jakarta : Kencana, 2015), Hal. 23

(35)

























“Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada kepada Rasul- Nya, untuk Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang dan orang-orang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja diantara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumnya.”

Dalam ayat diatas dijelaskan bahwa semua harta yang diambil dari kaum kafir tanpa melalui jalan perang, tanpa mengarahkan pasukan unta dan kuda, seperti halnya harta bani nadhir, yang kemudian semua harta yang mereka tinggalkan itu disebut al-fay.

c. Sistem syariah dalam pengentasan kemiskinan 1) Mudharabah (kerja sama mitra usaha)

Mudharabah adalah sebuah bentuk kemitraan di mana salah satu mitra yang disebut “shahibul maal” atau “rabbul-maal”(penyedia dana ) yang menyediakan sejumlah modal tertentu dan bertindak sebagai mitra pasif, sedangkan mitra yang lain di sebut “mudharib” yang menyediakan keahlian usaha dan manajemen untuk menjalankan perdagangan atau jasa.23 Dengan kata lain apabila seseorang mempunyai aset namun dia dapat mengelolanya dengan baik, maka disini dari pada aset yang dimiliki tidak ada manfaat nya, kemudian di serahkan kepada orang yang mempunyai keahlian dalam bidang

23 Bambang Rustanto,” Menangani Kemiskinan”, ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2015), Hal. 138

(36)

tersebut tetapi tidak mempunya modal, jadi disini dapat terjadi kerja sama antara pemilik aset dengan yang mempunyai keahlian. Sehingga aset yang dimiliki dapat menghasilkan barang atau jasa, sehingga dapat membantu meringankan masalah kemiskinan.

2) Musyarakah ( sistem nisbah dan bagi hasil )

Konsep bagi hasil atau Musyarakah ialah pemilik modal menanamkan dananya melalui institusi keuangan yang bertindak sebagai pengelola dana . pengelola mengelola dana-dana tersebut dengan sistem yang dikenal dengan penghimpunan dana, selanjutnya pengelola akan menginvestasikan dana-dana tersebut ke dalam proyek atau usaha-usaha yang layak dan menguntungkan serta memenuhi semua aspek syariah. 24

3) Nisbah ( rasio bagi hasil )

Nisbah adalah rasio bagi hasil yang akan diterima oleh tiap-tiap pihak yang melakukan akad kerj sama usaha, yaitu pemilik dana dan pengelola dana, di mana nisbah ini tertuang di dalam akad yang telah disepakati dan di tandatangani oleh kedua belah pihak.25

24 Bambang Rustanto,” Menangani Kemiskinan”, ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2015), Hal. 138

25 Bambang Rustanto,” Menangani Kemiskinan”, ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2015), Hal. 145

(37)

7. Strategi Penanggulangan kemiskinan

a. Arah Kebijakan Pembangunan dan Kemiskinan

Kemiskinan merupakan masalah pembangunan di berbagai bidang yang mencakup banyak segi, dan ditandai dengan pengangguraan dan keterbelakangan yang nantinya menjadi ketimpangan antar sektor, wilayah dan antar kelompok atau golongan masyarakat sosial. Menurut Maskun kondisi kemiskinan dapat disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan, rendahnya derajat kesehatan, terbatasnya lapangan kerja dan kondisi keterisolasian, motivasi dan kesadaran untuk lepas dairi kemiskinan yang menghimpit.

Dalam rangka penanggulangan kemiskinan, maka kebijakan dituangkan dalam tiga arah kebijakan. Pertama kebijakan tidak langsung yang diarahkan kepada penciptaan kondisi yang menjamin kelangsungan setiap upaya penanggulangan kemiskinan, kedua kebijakan langsung yang ditujukan pada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah, dan ketiga kebijakan khusus yang dimaksudkan untuk mempersiapkan masyarakat miskin itu sendiri dan aparat yang bertanggung jawab lansung terhadap kelancaran program, sekaligus memacu dan memperluas upaya untuk menanggulangi kemiskinan.26

26 Josep, “Konsep dan strategi pemerintah dalam Penangulangan Kemiskinan,” ( Jakarta : Indocame, 2018), Hal. 39

(38)

b. Coping Strategies

Secara umum coping strategis dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam menerapkan seperangkat cara untuk mengatasi berbagai permasalahan yang melingkupi kehidupannya. Dalam konteks keluarga miskin, menurut Moser, strategi penangan masalah ini pada dasarnya merupakan kemampuan segenap anggota keluarga dalam mengelola atau memanajemen berbagai aset yang dimilikinya. Moser mengistilahkannya dengan nama “asset portofolio management”, yaitu pertama aset tenaga kerja misalnya meningkatkan keterlibatan wanita dan anak-anak dalam keluarga untuk bekerja membantu ekonomi rumah tangga. Kedua aset modal manusia misalnya memanfaatkan status kesehatan yang dapat menentukan kapasitas orang unutuk bekerja atau keterampilan dan pendidikan yang menentukan kembali atau hasil kerja terhadap tenaga kerja yang dikeluarkannya. Ketiga aset produktif misalnya menggunakan rumah, sawah, ternak,tanaman untuk keperluan hidupnya, Keempat aset relasi rumah tangga atau keluarga misalnya memnfaatkan jaringan dan dukungan dari sistem mekanisme “uang kiriman”.

Dan kelima aset modal lembaga sosial misalnya memanfaatkan lembaga- lembaga sosial lokal, arisan, dan pemberi kredit informal dalam proses dan perekonomian keluarga.27

27 Josep, “Konsep dan strategi pemerintah dalam Penangulangan Kemiskinan,” ( Jakarta : Indocame, 2018), Hal. 46

(39)

c. Kegagalan Kebijakan Penanggulangan

Pemerintah harus lebih jeli lagi dalam memahami masalah kemiskinan, karena selama ini banyak kebijakan yang ditetapkan pemerintah justru malah membebani rakyat dan secara langsung bukan malah memerangi kemiskinan, tapi malah menjadikan rakyat semakin miskin. Seperti kebijakan pemerintah untuk menetapkan berbagai pajak kepada rakyat yang kini dirasa semakin membebani rakyat.

Menurut sajogyo, pajak bukan lagi berperan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, tapi banyaknya pungutan pajak, malah sering digunakan sebagai ajang korupsi bagi para pejabat di pemerintahan. Kekeliruan lain dari kebijakan pemerintah adalah dengan menyerahkan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia kepada pihak swasta (asing) dengan alasan efisiensi, kelancaran dan persaingan yang kompetitif dalam mekanisme pasar.28

B. Kesehatan

1. Pengertian Kesehatan

Dalam undang-undang No 36 Tahun 2009, kesehatan didefinisikan sebagai keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Kesehatan mempengaruhi tingkat fungsional seseorang, baik dari segi fisiologis,

28Josep, “Konsep dan strategi pemerintah dalam Penangulangan Kemiskinan,” ( Jakarta : Indocame, 2018), Hal. 50

(40)

psikologi dan dimensi sosiokultural. Bersama dengan pendidikan, kesehatan merupakan investasi mendukung pembangunan ekonomi serta memliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan.29

Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar masyarakat, oleh karena itu kesehatan adalah hak bagi setiap masyarakat. Tingkat kesehatan masyarakat sangat berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat, karena tingkat kesehatan memiliki keterkaitan yang erat dengan kemiskinan. Sementara itu tingkat kemiskinan akan terkait dengan tingkat kesejahteraan. Maka kesehatan harus menjadi perhatian utama pemerintah sebagai penyelenggara pelayanan publik. Pemerintah harus menjamin hak masyarakat untuk sehat dengan memberikan pelayanan kesehatan secara adil, merata, memadai, terjangkau, dan berkualitas.30

Juanita, menyatakan salah satu modal dasar dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi adalah kondisi kesehatan masyarakat yang baik. Di dalam pembangunan ekonomi juga harus diperhatikan pelaksanaan pembangunan kesehatan. Keduanya harus berjalan seimbang agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan bagi semua yaitu kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Pembangunan kesehatan yang dimaksud merupakan proses perubahan tingkat kesehatan masyarakat dari tingkat yang kurang baik

29 Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN- SETJEN DPR-RI, Hal. 49

30 Adi Widodo, Dkk, “Analisis Pengeluaran Pemerintah di Sektor Pendidikan dan Kesehatan Terhadap Pengentasan Kemiskinan Melalui Peningkatan pembangunan Manusia Di Provinsi Jawa Tengah”, Jurnal Dinamika Ekonomi dan Pembangunan, Vol. 1, No. 1( Juli 2011), Hal. 28

(41)

menjadi yang lebih baik sesuai dengan standar kesehatan. Oleh sebeb itu pembangunan kesehatan merupakan pembangunan yang dilakukan sebagai investasi untuk membangun sumber daya yang berkualitas.31

Ada semacam anggapan atau hipotesis sementara di kalangan para peneliti bahwa timbulnya kekurangan gizi serta derajat kesehatan yang rendah di masyarakat erat hubungannya dengan kemiskinan. Menurut Tjiptoherijanto, sangat memungkinkan sekali apabila derajat kesehatan diperbaiki secara kecukupan gizi dipenuhi, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi juga akan dinikmati. Pengaruh dari program gizi terhadap produktivitas yang ada kemudiannya juga memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Perbaikan status gizi dan peningkatan derajat kesehatan akan menurunkan tingkat kematian dan kesakitan dan juga akan meningkatkan efisiensi kerja melalui peningkatan individualnya.32

2. Tingkat kesehatan

Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, perilaku kesehatan, pelayanan kesehatan dan kendudukan. Pembangunan di bidang kesehatan merupakan bagian dari investasi yang perlu diperhatikan dan keberhasilan di bidang tersebut akan memberikan andil dalam mempercepat

31 Radhitya Widyasworo,”Analisis Pengaruh Pendidikan, Kesehatan, dan Angkatan Kerja Wanita Terhadap Kemiskinan Di Kanupaten Gresik”, Jurnal Ilmiah, Hal. 7

32 Syarif Makmur, “Pemberdayaan Sumber Daya Manusia.” ( Jakarta : PT Grafindo Persada, 2008), Hal. 149.

(42)

pembangunan nasional. Tingkat kesehatan suatu negara umumnya dilihat dari besar kecilnya angka kematian, karena angka kematian erat kaitannya dengan kualitas kesehatan.kualitas kesehatan yang rendah pada umumnya disebabkan : a. Kurangnya sarana dan pelayanan kesehatan

b. Kurangnya air bersih untuk kebutuhan sehari-hari c. Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan

d. Gizi yang rendah e. Penyakit menular

f. Lingkungan yang tidak sehat (lingkungan kumuh

Dampak rendahnya tingkat kesehatan terhadap pembangunan adalah terhambatnya pembangunan fisik karena perhatian tercurah pada perbaikan kesehatan yang lebih utama karena menyangkut jiwa manusia. Selain itu, jika tingkat kesehatan manusia sebagai objek dan subjek pembangunan rendah, maka dalam melakukan apa pun khususnya pada saat bekerja, maka hasilnya kurang optimal.33

3. Kesehatan dan Produktivitas

Gizi merupakan salah satu aspek kesehatan kerja yang memiliki peran penting dalam peningkatan produktivitas kerja. Rendahnya produktivitas kerja dianggap akibat kurangnya mivasi kerja, tanpa menyadari faktor lainnya seperti gizi pekerja.

33 Amiruddin Idris, “Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia”, (Yogyakarta : DEEPUBLISH, 2018), Hal. 46-48

(43)

Perbaikan dan peningkatan gizi mempunyai makna yang sangat penting dalam upaya mencegah morbiditas, menurunkan angka absensi serta meningkatkan produktivitas kerja.34

Jadi, dapat dikatakan bahwa jika kesehatan di suatu negara membaik maka akan mempengaruhi produktivitas kerja, dimana masyarakat akan terus menghasilkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun jika kesehatan memburuk tentunya terjadi kemiskinan, karena masyarakat tidak dapat bekerja dengan efektif dalam pekerjaannya sehingga akan mengurangi tingkat upah.

4. Angka Harapan Hidup

Angka harapan hidup saat lahir (AHH) didefinisikan sebagai rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditembuh oleh seseorang sejak lahir. Angka harapan hidup mencerminkan derajat kesehatan suatu masyarakat, misalnya angka harapan hidup pada tahun 2016 sebesar 70,90 tahun. Artinya, secara rata- rata bayi yang baru lahir pada tahun 2016 memiliki peluang untuk bertahan hidup sampai dengan 70,90 tahun.35

5. Hubungan Kesehatan Dengan Kemiskinan

Di negara-negara yang tingkat kesehatannya lebih baik, setiap individu memiliki rata-rata hidup lebih lama, dengan demikian secara ekonomis

34 Windhu Putra, “ Perekonomian Indonesia.” (Depok : Rajawali Pers, 2018), Hal. 89-90

35 Badan Pusat Statistik Kabupaten Agam.

(44)

mempunyai peluang untuk memperoleh pendapatan lebih tinggi. Selanjutnya, Lincolin menjelaskan intervensi untuk memperbaiki kesehatan dari pemerintah juga merupakan suatu alat kebijakan penting untuk mengurangi kemiskinan.

Salah satu faktor yang mendasari kebijakan ini adalah perbaikan kesehatan akan meningkatkan produktivitas golongan miskin. Kesehatan yang lebih baik akan meningkatkan daya kerja, mengurangi hari tidak bekerja dan manaikkan output energi.36

C. Pendidikan

1. Pengertian Pendidikan

Pendidikan adalah proses pengembangan kualitas pribadi seorang individu.

Maka dari itu pendidikan juga dapat dikatakan sebagai penyiapan tenaga kerja, maksudnya adalah sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memberi bakal dasar untuk bekerja. Pembekalan dasar beruapa pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja. Pendididkan dilaksanakan melalui lembaga pendidikan baik dalam bentuk sekolah maupun dalam bentuk kelompok belajar. Berdasarkan UU RI No Tahun 1989 tentang sisitem pendidikan Nasional, lembaga pendidikan dilihat dari segi jenjang tingkat pendidikan.

Jenjang tingkat pendidikan adalah suatu tahap dalam pendidikan berlanjut yang

36 Anggit Yoga Permana dan Fitrie arianti, “ Analisis Pengaruh PDRB, Pengangguran, Pendidikan, dan Kesehatan terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2044-2009”, Journal Of Economics, Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012, Halaman 3

(45)

berkelanjutan yang ditetapkan berdasarkan tingkat pengembangan peserta didik serta keluasan dalam bahan pengajaran.37

Dalam upaya mencapai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, sektor pendidikan memainkan peranan yang sangat srategis khususynya dalam mendorong akumulasi modal yang dapat mendukung proses produksi dan aktivitas ekonomi lainnya. Beberapa pengertian Pendidikan menurut para ahli yaitu :38

a) Soekidjo Notoatmodjo mengatakan bahwa pendidikan adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan.

b) Siswanto, Pendidikan adalah segala sesuatu untuk membina keperibadian dan mengembangkan kemampuan manusia, jasmaniah, dan rohaniah yang berlangsung seumur hidup, baik di dalam maupun diluar sekolah, untuk pembangunan persatuan dan masyarakat adil dan makmur dan selalu ada dalam keseimbangan.

c) S.P. Siagian, Pendidikan adalah keseluruhan proses, teknik, dan metode belajar mengajar dalam rangka mengalihkan sesuatu ilmu yang telah ditetapkan sebelumnya.

37 Amiruddin Idris, “Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia“, (Yogyakart : DEEPUBLISH, 2018), Hal. 27

38 Saharuddin Didu dan Feri Fauzi, “ Pengaruh Jumlah Penduduk, Pendidikan, dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Kemiskinan Di Kabupate Lebak”, Jurnal Ilmu ekonomi, Vol. 6, No.

1, Hal. 100-114.

(46)

d) Andrew E. sikula, tingkat pendidikan adalah suatu proses jangka panjang yang menggunakan prosedur sistematis dan terorganisir, yang mana tenaga kerja manajerial mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis untuk tujuan umum.

2. Indikator Pendidikan

Sumber daya manusia yang memiliki latar belakang pendidikan tertentu biasanya akan terlibat prestasinya pada seleksi tentang bidang yang dikuasainya, dengan kata lain hasil seleksi memperkuat dan meyakinkan menejer sumber daya manusia untuk menetapkan orang yang bersangkutan pada tempat yang tepat.

Menurut UU SISDIKBAS No. 20 Tahun 2003, indikator pendidikan terdiri dari tingkat pendidikan dan kesesuaian jurusan :

a) Tingkat pendidikan

Menurut Andrew E. Siskula tingkat pendidikan adalah suatu proses jangka panjang yang menggunakan prosedur dan sistematis dan terorganisir, yang mana tenaga kerja manejerial mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis untuk tujuan-tujuan umum. Demikian Harindja menyatakan bahwa tingkat pendidikan seorang karyawan dapat meningkatkan daya saing perusahaan dan memperbaiki kinerja perusahaan.

b) Kesesuaian jurusan

Kesesuaian jurusan adalah sebelum karyawan direkrut terlebih dahulu perusahaan menganalisis tingkat pendidikan karyawan tersebut agar nantinya

(47)

dapat ditempatkan pada posisi jabatan yang sesuai dengan kualitas pendidikannya. Dengan demikian karyawan dapat memberikan kinerja yang baik bagi perusahaan.39

3. Konsep Pendidikan yang Berorientasi Tenaga Kerja

Konsep pendidikan yang berorientasi tenaga kerja di Indonesia, dipersiapkan untuk menyiapkan lulusan yang siap pakai, siap jual, siap guna dan mandiri.

Langkah yang ditempuh dengan pendidikan berbasis life skill.

Pendidikan yang berbasis kecakapan hidup adalah pendidikan yang membekali kecakapan yang dimiliki oleh peserta didik untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif, kreatif dan inovatif mencari, menemukan solusi shingga mampu mengatasi permasalahannya. Menurut Kaluge kecakapan hidup dapat dipilih menjadi lima yaitu pertama, kecakapan mengenal diri yang sering disebut kemampuan personal. Kedua, kecakapan berpikir rasional. Ketiga, kecakapan sosial, kecakapan akademik, dan keempat, kecakapan vokasional.40

39 Rio Tanjung, “Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Insentif Terhadap Kemiskinan Kinerja Karyawan PT Garuda Plaza Hotel Medan” ,( Universitas Sumatera Utara : Medan, 2011), Hal. 8-9

40 Windhu Putra, “Perekonomian Indonesia Beberapa Teori Ekonomi Pembangunan di Indonesia”, ( Depok : Rajawali Pers, 2018), Hal. 86

(48)

4. Investasi Sumber Daya Manusia dalam Pendidikan

Negara sedang berkembang dihadapkan kepada suatu realitas bahwa produktivitas tenaga kerja rendah. Hal ini disebabkan karena kualitas sumber daya manusia masih rendah. Sedangkan di negara maju, pendidikan dapat menjadi sebagai suatu investasi modal manusia. Akibatnya kualitas SDM nya tinggi sehingga produktivitas tenaga kerjanya juga tinggi.

a) Teori Human Capital

Asumsi dari teori ini adalah bahwa seseorang dapat meningkatkan penghasilannya melalui peningkatan pendidikan. Setiap tambahan satu tahun sekolah, dapat berarti bahwa di satu pihak dapat meningkatkan kempuan kerja dan penghasilan seseorang, tetapi di pihak lain akan menunda penerimaan penghasilan selama satu tahun dalam masa sekolah.

Penerapan-penerapan dari pendekatan teori human capital antara lain dilakukan dalam hal :41

1) Pendidikan dan latihan

Pendidikan dan latihan meningkatkan keterampilan bekerja sehingga meningkatkan produktivitas kerja. Hubungan pendidikan dengan produktivitas kerja dapat tercermin dalam tingkat penghasilan. Pendidikan yang tinggi mengakibatkan produktivitas kerja yang lebih tinggi dan memungkinkan penghasilan yang lebih tinggi pula. Sudah tentu perbedaan tingkat pendapatan

41 Amiruddin Idris, “Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia“, (Yogyakarta : DEEPUBLISH, 2018), Hal.46-48

(49)

tersebut tidak saja disebabklan oleh perbedaan tingkat pendidikan, akan tetapi juga faktor lain seperti pengalaman kerja, keahlian, sektor usaha, jenis usaha, lokasi, dan lain-lain.

2) Migrasi dan Urbanisasi

Di bidang migrasi atau perpindahan penduduk, asumsi dasarnya adalah bahwa seseorang mau atau berusaha pindah kerja dari suatu tempat ke tempat lain untuk memperoleh penghasilan yang lebih besar. Urbanisasi adalah salah bentuk migrasi. Dalam perpindahan biasa dari suatu daerah ke daerah lain pada umumnya seseorang memutuskan pindah setelah memperoleh kepastian bahwa di tempat tujuan terdapat tingkat kesempatan kerja dengan tingkat upah yang lebih tinggi. Lain halnya dengan urbanisasi, banyak orang yang pindah dari desa ke kota tanpa mempunyai tingkat kepastian akan kesempatan kerja. Namun, karena perbedaan tingkat upah yang cukup besar antara wilayah kota dan desa maka hal ini pendorong urbanisasi.

3) Perbaikan Gizi dan Kesehatan

Perbaikan gizi dan kesehatan sangat penting untuk meningkatkan produktivitas sehingga perbaikan gizi dan peningkatan di bidang kesehatan masyarakat menjadi tanggung jawab besar bagi pemerintah. Rendahnya tingkat gizi dan kesehatan ini disebabkan oleh pendapatan yang rendah yang tercermin dalam tingkat pengeluaran keluarga yang rendah dan tingkat upah yang rendah.

b) Internal Rate Of Return (IRR)

Referensi

Dokumen terkait

Keadaan sejahtera dari badan,jiwa dan sosial yang m em ungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan.

Pada Tahun 2019 Kabupaten Kebumen melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sudah melaksanakan kegiatan Sekolah Ramah

Atas dasar itu, maka kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara

1) Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Abstrak — Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang  untuk  hidup  produktif  secara 

b) Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Undang- Undang ini menyatakan bahwa secara khusus perusahaan berkewajiban memeriksakan kesehatan badan,

KESEHATAN adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.. Dalam undang

Efisiensi kinerja dari zat pemeka memiliki persyaratan; (1) memiliki gugus yang dapat mengikatkan zat warna pada permukaan material semikonduktor, (2) posisi HOMO dan LUMO