• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Pengolahan dan Analisis Data

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

2. Irigasi Curah

Pada metode irigasi curah, air diberikan dengan cara menyemprotkan air ke udara dan menjatuhkannya di sekitar tanaman seperti air hujan. Sistem irigasi curah menggunakan pompa air sebagai penghasil tekanan untuk air sehingga irigasi tetes diklasifikasikan sebagai irigasi bertekanan tinggi.

Menurut Rochester (1995) ada tujuh langkah dalam set up sistem irgasi curah yaitu menentukan batas tepi posisi irigasi, tipe posisi sprinkler, spasi antar sprinkler, tipe kepala sprinkler, laju presipitasi air, lama operasi irigasi dan

a. Set up irigasi curah

 Batas tepi posisi irigasi

Batas tepi posisi irigasi curah ditentukan berdasarkan jauh dekatnya lahan dengan jalan raya. Jika lahan dekat dengan jalan raya maka sprinkler diarahkan berlawan dengan arah angin dan menjauh dari jalan raya supaya semprotan air irigasi tidak mengenai pengguna jalan raya. Dalam penelitian ini, batas tepi posisi irigasi tidak diperhitungkan sebab irigasi curah yang digunakan berskala kecil dan letaknya jauh dari jalan raya.

 Posisi sprinkler

Posisi sprinkler merupakan hal yang terpenting dalam sistem irigasi curah karena akan mempengaruhi besarnya keseragaman air yang diterima tiap titik. Menurut Rochester (1995) terdapat dua posisi sprinkler irigasi yaitu triangular dan square spasi. Triangular spacing harus disesuaikan dengan bentuk lahan. Dalam penelitian ini, posisi sprinkleryang digunakan ialah square spacingkarena batas tepi yang berbentuk segi-empat tetap dan sesuai dengan luas lahan yang digunakan.

Gambar 7. Equilateral triangular spacing Gambar 8. Square spacing

 Spasi antar sprinkler

Spasi antara sprinkler,S, merupakan interaksi dari radius penyiraman, Rt,

kecepatan angin dan tipe posisi sprinkler. Kecepatan angin dan tipe spasi digabung menjadi suatu konstanta,ks. Hubungan antara Rt, ksdan S ialah :

Tabel 8. Nilai ks

Kec. Angin (m/jam) Triangular Square

0 – 3 0.60 0.55

4 – 7 0.55 0.50

8 – 12 0.50 0.45

Sumber : Rochester (1995)

Spasi antara sprinkler ialah 65% dari spasi antar lateral pada daerah dengan kecepatan angin 0 km/jam. Spasi antara lateral yang digunakan ialah 0.8 m sehingga spasi antara sprinkler ialah 0.5 m. Spasi antara lateral dibuat sekitar 0.8 m disesuaikan dengan luas lahan yang digunakan yaitu (2 x 2.5 m2) dan arah angin yang bertiup.

Berdasarkan data dari pabrikasi alat, nozzle yang digunakan mampu menyiram sampai dengan radius penyiraman 1.2 m sehingga spasi antar sprinker yang digunakan harus kurang dari 2 x 0.55 x 0.6 = 0.66 m. Spasi antara sprinkler 0.5 m yang digunakan sudah sesuai dengan rumus no 24. Layout sistem irigasi curah dapat di lihat dalam Lampiran 7.

 Tipe kepala sprinkler

Tipe kepala sprinkler ada empat yaitu tipe spray, microspraydan rotary. Kepala sprinkler yang digunakan bertipe spray. Tipe spary tidak dapat berputar seperti tipe rotary tapi dapat menyemportkan air sebesar 360º. Untuk tipe spray diperlukan raiser yang berfungsi mempertinggi kepala sprinkler. Bentuk kepala sprinkler yang digunakan dapat dilihat dalam Lampiran 8.

 Laju presipitasi air

Laju presipitasi digunakan untuk mencegah jatuhnya air tidak lebih cepat dari daya serap tanah dan menentukan waktu yang dibutuhkan sesuai dengan kedalaman air yang diinginkan. Laju presipitasi dapat dihitung dengan menggunakan rumus dibawah ini :

) ( ) / ( 3 . 96 ) / ( 2 ft A menit gal q jam in P e e e  ...(25)

Dalam penelitian ini terdapat tiga perlakuan penyiraman air sehingga laju presipitasi air tiap perlakuan berbeda. Laju presipitasi untuk perlakuan kurang,

sama dan lebih dari kapasitas lapang ialah 1.23 in/jam, 1.82 in/jam dan 2.65 in/jam.

 Lama operasi irigasi

Lama operasi irigasi dihitung dengan membagi volume air yang diberikan dengan jumlah emitter per tanaman dan debit emitter. Dalam penelitian ini, debit sama dengan kapasitas lapang digunakan sebagai kontrol untuk menentukan lama operasi irigasi tetes sehingga waktu yang dibutuhkan ialah 77 ml/ (75 ml/ 3 menit) = 3.08 menit ≈ 3.1 menit.

 Kedalaman irigasi

Kedalaman irigasi curah dapat dihitung dengan menggunakan rumus dibawah ini :

d (mm) = lama pemberian air (jam) x laju infitrasi (mm/jam) ... (26) kedalaman irigasi untuk perlakuan kurang, sama dan lebih dari kapasitas lapang media tanam ialah 1.608 mm, 2.389 mm dan 3.489 mm. Perhitungan laju presipitasi air dan kedalaman air irigasi berdasarkan perlakuan kurang, sama dan lebih dari kapasitas lapang media tanam dapat dilihat dalam Lampiran 11.

b. Keseragaman irigasi curah

Besarnya keseragaman irigasi curah dapat dihitung dengan memasang beberapa gelas penampung air dalam suatu grid dengan jarak tertentu. Selama waktu operasi tertentu, jumlah air yang tertampung dalam gelas diukur volumenya, kemudian dihitung kedalaman airnya dengan cara membagi volume air dengan luas mulut wadah.

Koefisien keseragaman (uniformity coefficient, CU) dapat dihitung dengan rumus nomor 1. CU yang paling baik ialah 75% - 85% dan nilai CU yang dihasilkan dalam penelitian ialah 77.12% sehingga irigasi curah yang digunakan sudah sesuai dengan literatur yang ada.

B. Media Tanam

Media tanam yang baik untuk budidaya jarak pagar ialah media tanam yang mengandung unsur hara yang cukup, bertekstur ringan dan dapat menahan air sehingga menciptakan kondisi yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman. Menurut Anny Mulyani (2008) dalam Potensi Sumberdaya Lahan untuk

Pengembangan Jarak Pagar di Indonesia, jarak pagar dapat tumbuh pada semua jenis tanah, tetapi pertumbuhan yang baik dijumpai pada tanah - tanah ringan atau lahan dengan drainase dan aerasi yang baik (terbaik mengandung pasir 60-90%).

Media tanam yang digunakan merupakan campuran antara tanah, pupuk kandang dan pasir malang dengan perbandingan 3:1:1. Berat dari media tanam ialah 1kg dengan volume media tanam dan udara sekitar 4.71 x 10-3m3.

Kadar air pada kapasitas lapang media tanam dapat dilihat dalam Gambar 8. Pengukuran kadar air pada kapasitas lapang dapat dilakukan dengan memberikan tekanan air pada pF 2.54 atau menjenuhkan air kemudian biarkan sampai air tidak menetes lagi (sekitar 2 hari). Jumlah air yang terkandung dalam 1 kg media tanam pada kapasitas lapang ialah 368 ml. Perhitungan jumlah air pada kapasitas lapang dapat dilihat dalam Lampiran 9.

Gambar 9. Jumlah air dalam 1 kg media tanam

Dokumen terkait