• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. Durasi pengobatan.

2.3. Ischaemic Compression Tehnique

Taut band adalah bagian muscle belly yang mengeras, kaku dan ketika diraba akan terasa berbeda dengan bagian otot yang lain. Taut band merupakan kontraktur yang terlokalisir dalam muscle belly tanpa aktivasi dari motor end plate dan kekakuan yang terjadi tidak menyeluruh pada sebuah otot dapat menurunkan tingkat ekstensibilitas dan fleksibilitas pada otot tersebut. Perlengketan dalam struktur otot yang terjadi berakibat pada fascia dan

myofilament dalam sarcomer taut band maka ada peningkatan konsentrasi secara abnormal dari asetilkolin dalam end plate taut band. Perlengketan ini berdampak

penurunan sirkulasi darah sehingga kebutuhan akan nutrisi dan oksigen pada area taut band berkurang (Muscolino, 2012).

Ischaemic compression technique merupakan teknik relaksasi otot yang ditujukan terhadap gangguan berupa trigger dan tight. Tekanan terehadap titik

trigger menyebabkan pembuluh darah di area tersebut mengalami vasokonstriksi. Aliran darah ke area tersebut mengalami penurunan sehingga suplai oksigen dan ion serta nutrisi. Pembuluh darah akan mengalami perubahan permeabilitas setelah tekanan dilepaskan sehingga terjadi vasodilatasi menyebabkan pelepasan sisa metabolisme meningkat dan suplai oksigen dan nutrisi lebih lancar (Aad, 2010).

Manipulasi terhadap otot akan melepaskan perlengketan pada fascia dan jaringan myofilamen didalam sarcomer sehingga menghilangkan trigger points

dan tightness otot. 2.3.1. Eek fisiologi

Perubahan fisiologi terhadap jaringan yang diberikan ischaemic compression technique yaitu perubahan sirkulasi, perubahan aliran darah, dilatasi kapiler, perubahan temperatur cutaneus, dan metabolisme. Sedangkan penelitian baru-baru ini menjelaskan bahwa pengobatan myofascial dapat menghasilkan efek penyembuhan scar dan collagen (Cantu and Grodin, 2001).

1. Efek terhadap aliran darah dan temperatur

Peningkatan aliran darah dan temperatur cutaneus terjadi secara signifikan setelah diberikan ischaemic compression technique..

35

Peningkatan aliran darah tersebut akan bertahan selama 30 menit dan setelah 30 menit terjadi penurunan aliran darah (Cantu and Grodin, 2001).

Reaksi pembuluh darah normal terhadap stimulus mekanikal telah diamati secara mikroskopik. Saat diberikan ischaemic compression technique pada area tersebut maka area tersebut akan pucat dalam waktu 15 sampai 20 detik. Setelah beberapa menit kemudian stimulus tersebut menghasilkan hiperemia pada area yang distimulasi. Penelitian mikroskopik menunjukkan bahwa tekanan yang dihasilkan oleh ischaemic compression technique dapat dengan cepat membuka kapiler-kapiler darah sehingga terjadi peningkatan aliran darah. Reaksi kapiler berdilatasi oleh stimulus tersebut akan diikuti oleh peningkatan temperatur cutaneous

(Cantu and Grodin, 2001).

2. Efek terhadap metabolisme

Myofascial release technique juga dapat mempengaruhi proses metabolik, termasuk tanda-tanda vital dan hasil sisa-sisa metabolisme tubuh. Ekskresi asam secara konsisten tidak berubah, begitupula kandungan nitrogen, inorganik phosphorus atau sodium chlorida tidak mengalami perubahan (Cantu and Grodin, 2001).

3. Efek terhadap sistem autonomik

Mekanikal friction yang dihasilkan oleh ischaemic copression technique dapat merangsang struktur-struktur didalam jaringan konektif

khususnya sel mast. Rangsangan pada sel mast akan menghasilkan

histamin merupakan vasodilator. Vasodilatasi akan meningkatkan aliran darah ke area yang diobati dan ke area lain yang menerima histamin

melalui aliran darah. Peningkatan permeabilitas kapiler dan venule (vena kecil) dapat menghasilkan diffusi yang lebih cepat dan lebih komplit untuk membuang produk sisa-sisa metabolisme dari jaringan ke darah. (Cantu and Grodin, 2001).

4. Efek terhadap aktivitas fibroblastik

Penelitian menunjukkan bahwa ishaemic compression technique dapat menghasilkan mobilisasi pada jaringan lunak dimana gerakan yang terkontrol dapat mempengaruhi proses penyembuhan. Jaringan lunak tubuh dapat dibangkitkan melalui gaya internal dan gaya eksternal. Tanpa adanya stress pada jaringan tersebut maka kekuatan regangan akan menurun. Beberapa ahli telah mengobservasi efek gerakan terhadap aktivitas

fibroblastic dalam proses penyembuhan jaringan konektif, dimana jaringan

fibril membentuk hampir seluruh jaringan yang regenerasi. Adanya gaya eksternal dapat menyusun jaringan fibril yang terbentuk. Cyriax dan Russell percaya bahwa gerakan pasif yang lembut pada jaringan lunak akan mencegah perlengketan abnormal dari jaringan fibril tanpa mempengaruhi penyembuhan jaringan (Cantu and Grodin, 2001).

37

1. Lakukan tekanan pada titik trigger dimana penderita merasa tidak nyaman atau terasa nyeri. Titik tersebut merupakan area target compression.

2. Compression dilakukan 20 sampai 30 detik

3. Manipulasi berupa mobilisasi dilakukan bersamaan compression

4. Istirahat 5 sampai 10 detik

5. Compression dilakukan dengan sedikit lebih selama 30 detik 6. Dilakukan beberapa kali sampai gejala nyeri berkurang 2.3.2. Efek terapi

1. Compression akan menimbulkan ischemia, terjadi peningkatan aliran darah setelah tekanan dilepaskan.

2. Neurological inhibition, dimana terjadi inhibisi terhadap nyeri lokal. 3. Gerakan mekanikal stretching akan melepaskan adhesi myofascial

4. Penekanan akan meningkatkan aktivasi pelumasan jaringan lunak 5.Gerakan massage menimbulkan efek sedative melalui mechanoreceptor.

6. Pelepasan atau relaksasi secara spontan trigger points.

2.3.3. Mekanisme Penurunan Nyeri dengan Ischaemic Compression tehnique

Nyeri otot secara lokal yang diakibatkan oleh trigger points, hal ini disebabkan oleh gangguan metabolism terutama defisensi enzim yang menimbulkan oksidatif metabolism otot di mitochondria. Otot yang mengalami

tight yang berlangsung lama menimbulkan adhesi myofascial (Chen et al. 2014).

Ischaemic compression technique efektif terhadap nyeri lokal otot yang mengalami trigger dan tight. Compression pada jaringan akan menimbulkan efek sedative, Tekanan terehadap titik trigger menyebabkan pembuluh darah di area tersebut mengalami vasokonstriksi. Aliran darah ke area tersebut mengalami penurunan sehingga suplai oksigen dan ion serta nutrisi. Pembuluh darah akan mengalami perubahan permeabilitas setelah tekanan dilepaskan sehingga terjadi vasodilatasi menyebabkan pelepasan sisa metabolime meningkat dan suplay oksigen dan nutrisi lebih lancar. Otot yang menjadi relaks menyebabkan nilai ambang rangsang nosiceptor menurun sehingga nyeri menurun (Muscolino, 2012).

Gerakan manipulasi memberikan efek melancarkan sirkulasi darah dan pelepasan adhesi jaringan myofascial. Pelepasan adhesi menimbulkan releksasi dimana fleksibiltas dan ekstensibilitas jaringan fascia dan otot meningkat sehingga aktivitas nosiceptor di otot-otot suboccipital mengalami penurunan sehingga nyeri berkurang (Gazim, 2011).

Dokumen terkait