• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORITIS

3. Isi Materi Pendidikan Akhlak

Agar anak memiliki akhlak yang baik perlu ditanamkan beberapa hal sebagai berikut:

a. Jujur

Jujur adalah menyampaikan sesuatu sesuai kenyataan yang sesungguhnya, baik perkataan maupun perbuatan. (Tatapangarsa,1991:149). Sikap jujur teremasuk salah satu akhlak mahmudah, untuk itu kita harus mengupayakan diri kita untuk selalu bersikap jujur. Allah sangat menganjurkan orang bersikap jujur, hal ini sesuai dengan Q.S Al Ahzab: 71-70.

ْسِفْغَي َو ْمُنَىاَمْعَا ْمُنَى ْحِيْصُي .اًدْـيِدَس ًلاْىَق اْىُىْىُق َو َالله اىُقـَّتا اىُىَما َهْـيِرَّىا اَهُّـيَاـي

:باصحلاا .اًمْيِظَع اًشْىَف َشاَف ْدَقـَف ًَىْىُسَز َو َالله ِعِطـُّي ْهَم َو ،ْمُنَبْىُـوُذ ْمُنَى

07

-

07

Artinya: Hai orang-orang yang beriman bertakwalah engkau kepada Allah, dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar(Departemen Agama, 2005: 427)

Jujur adalah modal untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Jujur juga akan membawa keberuntungan, karena dengan sifat jujur seseorang akan memberikan kepercayaannya pada orang tersebut. Biasanya orang yang jujur akan diberikan kepercayaan kembali oleh orang yang memberikan kepercayaan kepadanya, karena dia merasa senang dan tidak kecewa dengan hal teresebut.

Kejujuran adalah seimbangnya antara batin dan lahir sehingga orang yang jujur adalah orang yang benar dalam perkataannya, dalam segala perbuatannya, dan juga benar dalam segala kindisinya (Khalil, 2009:137). Jadi orang yang jujur

merupakan orang yang baik, karena kata-katanya, perbuatannya, juga segala kondisinya selalu benar. Orang yang jujur akan tenang, karena dia tidak punya beban karena telah mengucapkan ataupun melakukan sesuatu yang tidak benar.

Jujur perlu dibiasakan sejak dini, karena hal itu mudah dan ringan dilakukana jika sudah terbiasa, tetapi sebaliknya jika kita tidak terbiasa akan terasa berat dan sulit. Anak perlu dilatih untuk berani bersikap jujur, jangan menghukum anak yang telah berani jujur dengan apa yang telah dilakukan. Jika dia memang salah dan berani jujur anak cukup diarahkan atas kesalahannya agar dia tidak takut untuk jujur dikemudian waktu. Hal tersebut kemudian dengan bertahap akan membentuk anak yang jujur dan terbiasa dengan melakukan hal itu.

b. Ikhlas

Ikhlas artinya murni atau bersih, tidak ada campuran (Tatapangarsa, 1991:151). Maksudnya apa yang dia lakukan murni untuk beribadah pada Allah, dan bersih dari niat-niat lain.Seseorang yang melakukan pekerjaan dengan niat selain karena allah maka dia tidak akan mendapat pahala darinya, dia hanya akan mendapatkan apa yang dia inginkan selain dari allah tetapi itupun belum pasti ia dapatkan. Contoh seseorang yang bersedekah karena ingin mendapatkan pujian dia hanya akan mendapatkan pujian dari beberapa orang saja, mungkin sebagian

malah mengejeknya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasul yang diriwayatkan Imam Bukhori yang berbunyi:

اموا

يىو ام ئسما ونى امواو ةيىىاب ه امعلأ

Artinya: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang

hanya mendapatkan sesuai niatnya.( Bukhori juz 4: 48).

Ikhlas termasuk akhlak mahmudah yang perlu kita biasakan. Jika hal tersebut terasa berat perlu dilatih sedikit demi sedikit dengan melakukan yang ringan terlebih dahulu.

c. Qana’ah

Qana’ah artinya menerima dengan rela apa yang ada atau

merasa cukup dengan apa yang ia miliki (Tatapangarsa,1991:153).

Qana’ah disini bukan berarti menerima apa yang ia miliki tanpa

usaha dan hanya berpangku tangan tanpa melakukan apapun. Jadi seseorang harus berusaha dengan sungguh-sungguh kemudian menerima dengan rela apapun hasilnya, karena itu adalah kehendak allah Swt. Kita semua harus meyakini jika allah sudah bertanggung jawab untuk memberikan kebutuhan semua makhluknya. Kita harus berusaha dan menerima dengan ikhlas atas pemberian-Nya.

Dalam QS. Hud ayat 6 dijelaskan:

ُُمَلْعَ يَو

ُ لُكيِفٍباَتِكٍنيِبُماَمَوْ نِمٍةَّباَديِفِضْرلأالاِإاىَلَعِهَّللاَهُ قْزِر

َُ تْسُماَهَعَدْوَ تْسُمَو

اَهَّرَق

Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi

melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya.

Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata

Seseorang kadang salah memahami makna qona’ah itu sendiri, karena beberapa orang menganggap orang yang qona’ah

berarti orang yang putus asa dengan keadaannya, orang yang tidak

mau usaha untuk mengubah diri. Qana’ah dalam pengertiannya

yang luas sebenarnya mengandung lima perkara, yaitu: 1) Menerima dengan rela apa yang ada.

2) Menerima dengan tuhan tambahan yang pantas, disertai dengan usaha atau ikhtiar.

3) Menerima dengan sabar ketentuan Tuhan. 4) Bertawakal kepada allah.

5) Tidak tertarik oleh tipu daya dunia.

d. Tanggung jawab

Tanggung jawab artinya bersedia untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan dengan sebaik mungkin. Tanggung jawab menurut kamus umum Bahasa Indonesia adalah, keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab menurut kamus Bahasa Indonesia adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab,mananggung segala sesuatunya, atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya.

Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.

Tanggung jawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian kehidupan manusia, bahwa setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab. Apabila ia tidak mau bertanggung jawab, maka ada pihak lain yang memaksakan tanggung jawab itu. Dengan demikian tanggung jawab itu dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi pihak yang berbuat dan dari sisi kepentingan pihak lain.

Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan mengabdian atau pengorbanannya. Untuk memperoleh atau meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan, penyuluhan, keteladanan, dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tanggung jawab itu dapat dibedakan menurut keadaan manusia atau hubungan yang dibuatnya. Atas dasar ini, lalu dikenal beberapa jenis tanggung jawab, yaitu :

1) Tanggung Jawab terhadap Diri Sendiri

QS. Al-An’am ayat 142:

ُهَّللٱبَلَو۟اىُعِبَّتَت

ُمُكَق

۟اىُلُكبَّمِمَزَر

ۚ ًش

ْرَفَو

ِمََٰعْوَأْلٱًةَلىُمَح ا

َهِمَو

هيِبُّم

ۚۥُهَّوِإْمُكَلٌّوُدَع

ِهََٰطْيَّشلٱ

ِتََٰىُطُخ

Artinya: Dan diantara binatang ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang disembelih. Makanlah dari rezeki yang telah diberikan allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya setan

itu musuh yang nyata bagimu (Departemen Agama, 2005: 146).

Tanggung jawab terhadap diri sendiri yaitu kesadaran

setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi. Dengan demikian bisa memecahkan masalah-masalah kemanusian mengenai dirinya sendiri. Contohnya: Rudi membaca sambil berjalan. Meskipun sebentar-bentar ia melihat ke jalan tetap juga ia lengah dan terperosok ke sebuah lubang. Ia harus beristirahat dirumah beberapa hari. Konsekuensi tinggal dirumah beberapa hari merupakan tanggung jawab ia sendiri akan kelengahannya.

2) Tanggung Jawab kepada Keluarga

Q. S At Tahrim ayat 6:

ُُةَراَجِْلْاَوُُساَّنلاُاَهُدوُقَوُاًراَنُْمُكيِلْهَأَوُْمُكَسُفنَأُاوُقُاوُنَمآَُنيِذَّلاُاَهُّ يَأُاَي

ُاَمَُنوُلَعْفَ يَوُْمُهَرَمَأُاَمَُهَّللاَُنوُصْعَ يُ َّلاٌُداَدِشٌُظ َلَِغٌُةَكِئ َلََمُاَهْ يَلَع

َُنوُرَمْؤُ ي

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai ( perintah ) Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (Departemen Agama, 2005: 560).

Keluarga merupakan masyarakat kecil. Keluarga terdiri dari suami-istri, ayah-ibu dan anak-anak, dan juga orang lain yang menjadi anggota keluarga. Setiap anggota keluarga wajib

bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan. Contohnya: Dalam sebuah keluarga biasanya memiliki peraturan-peraturan sendiri yang bersifat mendidik, suatu hal peraturan tersebut dilanggar oleh salah satu anggota keluarga. Sebagai kepala keluarga (Ayah) berhak menegur atau bahkan memberi hukuman. Hukuman tersebut merupakan tanggung jawab terhadap perbuatannya.

3) Tanggung Jawab terhadap Masyarakat

Pada hakekatnya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain, sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk sosial. Karena membutuhkan manusia lain maka ia harus berkomunikasi dengan manusia lain tersebut. Sehingga dengan demikian manusia di sini merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab tersebut. Wajarlah apabila segala tingkah laku dan perbuatannya harus

dipertanggung jawabkan kepada masyarakat. Contohnya: Safi’i

terlalu congkak dan sombong, ia mengejek dan menghina orang lain yang mungkin lebih sederhana dari pada dia. Karena ia termasuk dalam orang yang kaya dikampungnya. Ia harus bertanggung jawab atas kelakuannya tersebut. Sebagai

konsekuensi dari kelakuannya tersebut, Safi’i dijauhi oleh masyarakat sekitar.

مُكىِم هُكَتلَو

َنىَهىَيَو ِفورعَملبِب َنورُمأَيَو ِريَخلا ىَلِإ َنىعدَي ٌةَّمُأ

َنىحِلفُملا ُمُه َكِئَٰلوُأَو ۚ ِرَكىُملا ِهَع

﴿

٤٠١

Terjemahannya:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang

menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.” (Departemen Agama, 2005: 63).

4) Tanggung Jawab terhadap Bangsa dan Negara

Suatu kenyataan lagi, bahwa setiap manusia adalah warga dari suatu negara. Dalam berfikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia terikat oleh norma-norma atau ukuran-ukuran yang dibuat oleh negara. Manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatan manusia itu salah, maka ia harus bertanggung jawab kepada negara.

Setiap orang harus ikut menjaga negara masing-masing agar tetap baik dan tentram. Sekarang banyak ulah manusia yang merugikan negara atau orang lain, seperti penjelasan surat Ar-Ruum ayat 41:

ُُداَسَفْلايِفِّرَ بْلاِرْحَبْلاَواَمِبْتَبَسَكيِدْيَأ

ُر

َُهَظ

َُ نوُع ِجْرَ ي

ُْمُه

لاْمُهَقيِذُيِلَضْعَ بيِذَّلااوُلِمَعَّلَعَل

ُِساَّن

Artinya: (Telah tampak kerusakan di darat) disebabkan terhentinya hujan dan menipisnya tumbuh-tumbuhan (dan di laut) maksudnya di negeri-negeri yang banyak sungainya menjadi kering (disebabkan perbuatan tangan manusia) berupa

perbuatan-perbuatan maksiat (supaya Allah merasakan kepada mereka) dapat dibaca liyudziiqahum dan linudziiqahum; kalau dibaca linudziiqahum artinya supaya Kami merasakan kepada mereka (sebagian dari akibat perbuatan mereka) sebagai hukumannya (agar mereka kembali) supaya mereka bertobat dari perbuatan-perbuatan maksiat (Departemen Agama, 2005: 408).

Contohnya: Kasus kriminal yang banyak diberitakan, seseorang yang mencuri untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Hal itu harus dipertanggungjawabkan kepada pemerintah, ketika perbuatan itu diketahui ia harus berurusan dengan pihak kepolisian dan pengadilan.

5) Tanggung Jawab terhadap Allah Swt

Allah SWT menciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tanggung jawab, melainkan untuk mengisi kehidupannya. Manusia mempunyai tanggung jawab langsung terhadap perintah Allah SWT. Sehingga tindakan atau perbuatan manusia tidak bisa lepas dari pengawasan Allah SWT yang dituangkan dalam kitab suci Al Qur'an. Allah menjadikan manusia sebagai kholifah di bumi, sehingga manusia harus benar-benar bersikap baik dan menjaga bumi ini. Hal ini dijelaskan dalam QS. Al- Baqoroh 30:

ًةَفْيِيَخ ِضْزَ ْلأا يِف وِعاَج ْيِّوِإ ِةَنِئَلاَمْيِى َلُّبَز َهاَق ْذِإ َو

ُهْحَو َو َءاَمِّدىا ُلِفْسَيَو اَهْيِف ُدِسْفُي هَم اَهْيِف ُوَعْجَتَأ اْىُىاَق

ُضِّدَقُو َو َكِدْمَحِب

نْىُمَيْعَت َلا اَم ُمَيْعَأ ْيِّوِإ َهاَق َلَى

ََ

ُحِّبَسُو

Artinya: Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada Malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. Berkata mereka : Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalam nya dan

menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau ? Dia berkata : Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (Departemen Agama, 2005: 6)

Selain sebagai kholifah manusia juga memiliki tanggung jawab untuk beribadah kepada allah, karena allah menciptakan manusia adalah untuk beribadah kepadanya, dijelaskan dalam QS. Al-Dzariat ayat 56:

نوُدُبْعَ يِل لاِإ َسْنلإاَو َّنِجْلا ُتْقَلَخ اَمَو

Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia

melainkan untuk beribadah kepadaku.(Departemen Agama,

2005: 523).

Pelanggaran dari hukuman-hukuman tersebut akan segera diperingatkan oleh Allah dan jika dengan peringatan yang keraspun manusia masih juga tidak menghiraukannya maka Allah akan melakukan kutukan. Contohnya: Seorang muslim yang taat kepada agamanya maka ia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan kepada Allah. Karena ia menghindari hukuman yang akan ia terima jika tidak taat pada ajaran agama. Kedua yang harus dilakukan seorang muslim kepada Allah SWT adalah memiliki rasa tanggung jawab atas amanah yang diberikan padanya. Pada hakekatnya kehidupan inipun merupakan amanah dari Allah SWT. Oleh karenanya seorang mukmin senantiasa meyakini apapun yang Allah berikan padanya, maka itu merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban dari Allah.

e. Rendah hati (tawadhu’)

Rendah hati adalah tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah yang lainnya. Orang yang

tawadhu’ adalah orang menyadari bahwa semua kenikmatan yang

didapatnya bersumber dari Allah SWT. Yang dengan pemahamannya tersebut maka tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya kesombongan dan merasa lebih baik dari orang lain, tidak merasa bangga dengan potensi dan prestasi yang sudah dicapainya. Ia tetap rendah diri dan selalu menjaga hati dan niat segala amal shalehnya dari segala sesuatu selain Allah. Tetap menjaga keikhlasan amal ibadahnya hanya karena Allah. Sikap rendah hati ini sangat dianjurkan, dan telah dijelaskan dalam QS. Al-Furqon ayat 63:

َُنوُلِهاَْلْااوُلاَقاًملََسُداَبِعَوِنَْحَّْرلاَنيِذَّلاَنوُشْمَيىَلَعِضْرلأااًنْوَهاَذِإَوُمُهَ بَطاَخ

Artinya, "Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan 'salâm'." (Departemen Agama, 2005: 365)

Dokumen terkait