• Tidak ada hasil yang ditemukan

Universitas Sumatera Utara Medan

[email protected]

Seri

Universitas Darma Agung Medan

[email protected]

Pendahuluan

Dengan tumbuh dan berkembang pesatnya teknologi dan informasi yang semakin modern pada zaman ini, tentu saja akan membawa kemudahan bagi masyarakat dalam melakukan segala aktivitas dalam semua bidang kehidupan yang digeluti. Salah satu bidang kehidupan yang sangat terbantu dengan kemajuan teknologi dan informasi ini adalah bidang komunikasi.

Apa itu komunikasi? Mengutip Sumadiria (2014:3), “ketika seseorang, sebut saja Anton, menyapa temannya yang bernama Budi, dan Budi mengangguk lalu mengambil dan menyerahkan sesuatu kepada Anton, itulah komunikasi.” Kata komunikasi sendiri berasal dari bahasa Inggris communication yang berakar dari bahasa Latin communicatio yang artinya sama, yang maksudnya adalah kesamaan dalam makna (Sumadiria, 2014:3). Sedangkan Wood (2013:3) mengatakan bahwa komunikasi adalah “sebuah proses sistematis dimana orang berinteraksi dengan dan melalui simbol untuk menciptakan dan menguraikan makna.

Saat ini, komunikasi telah berkembang dengan sangat cepat dan pesat karena didukung oleh teknologi yang canggih serta masyarakat modern yang haus akan informasi. Salah satu bidang komunikasi yang tengah digemari oleh masyarakat sekarang ini adalah komunikasi massa. Apa yang disebut dengan komunikasi massa adalah komunikasi

yang dapat menjangkau banyak orang dalam waktu yang sangat singkat dengan menggunakan bantuan media dan teknologi yang disebut media komunikasi massa. Menurut Bittner (1980:10) dalam Sumadiria (2014:19), “komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang.

Film merupakan salah satu media dari komunikasi massa karena perannya dalam menyebarkan informasi serta memberikan penghiburan kepada masyarakat luas yang heterogen. Film adalah kumpulan gambar-gambar yang bergerak dan bersuara yang menyampaikan pesan ataupun menceritakan mengenai suatu kisah tertentu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia online (2015), film adalah:

“1. selaput tipis yang dibuat dari seluloid untuk tempat gambar negatif yang akan dibuat potret atau untuk tempat gambar positif yang akan dimainkan di bioskop: gulungan – yang disita itu berisi cerita sadisme; 2. lakon (cerita) gambar hidup: malam itu ia hendak menonton sebuah – komedi;” (http://kbbi.web.id/film)

Melalui film, masyarakat mendapatkan berbagai informasi, pesan, maupun hiburan. Melalui film juga, pendapat negatif ataupun tanggapan negatif mengenai seseorang ataupun suatu kejadian dapat diubah.

Wikipedia (2015) melansir:

“Films are cultural artifacts created by specific cultures. They reflect those cultures, and, in turn, affect them. Film is considered to be an important art form, a source of popular entertainment, and a powerful medium for educating—or indoctrinating—citizens. The visual basis of film gives it a universal power of communication.” (http://en.wikipedia.org/wiki/Film)

[Film-film adalah peninggalan kultural yang diciptakan oleh budaya-budaya tertentu. Film mencerminkan budaya, dan pada akhirnya, mempengaruhi budaya. Film dianggap sebagai suatu bentuk seni yang penting, sebuah sumber hiburan yang populer, dan sebuah medium yang sangat berpengaruh untuk mendidik atau untuk mengindoktrinasi warga. Dasar visual dari film membuatnya menjadi sebuah kekuatan universal dalam komunikasi.]

Dari sekian banyak jenis film, kebanyakan film adalah film yang bersifat fiksi yakni film yang dibuat bukan berdasarkan kisah nyata, atau film yang dikarang-dikarang, yang sengaja dibuat untuk menghibur

penonton saja. Tetapi, tak sedikit pula film-film yang dibuat berdasarkan cerita nyata ataupun yang bersifat non-fiksi yang diangkat dari kejadian yang benar-benar terjadi dalam kehidupan seseorang.

Terorisme adalah suatu aksi kekerasan brutal yang sedang meresahkan warga dunia akhir-akhir ini. Dimulai dengan aksi teror, penculikan, pembunuhan, dan juga pengeboman orang-orang yang tak bersalah dengan mengusung suatu tujuan tertentu. Para pelaku yang melakukan aksi ini tak segan-segan merenggut nyawa orang lain demi tujuan yang ingin dicapainya. Tentunya kita masih ingat dengan kasus Bom Bali 1 dan juga Bom Bali 2 yang mengusung nama agama Islam dan telah merenggut nyawa banyak orang yang tidak bersalah, baik itu yang beragama Islam maupun yang non-Islam. Salah satu aksi terorisme yang sampai saat ini masih segar di pikiran kita juga adalah aksi para pelaku terorisme yang melakukan aksi pengeboman bunuh diri, yang terjadi di Amerika 11 September 2001 pada bangunan World Trade Centre.

Kini, telah lebih dari 10 tahun peristiwa yang menggemparkan tersebut terlewati. Namun, lagi-lagi masyarakat dunia digemparkan dengan adanya aksi terorisme yang melakukan teror dengan cara menculik, memperkosa, membunuh, dan memenggal serta membakar warga sipil yang tak bersalah, hanya karena dianggap hal tersebut pantas untuk dilakukan karena agama yang dipeluk berbeda oleh orang-orang tersebut. Dari dunia maya, tersebar begitu banyak video yang merekam aksi kejam para teroris ini dalam memberikan pesan kepada masyarakat untuk tidak menghalang-halangi jalan yang ingin mereka capai.

Film, sebagai salah satu bagian dari media massa, mampu membingkai sebuah peristiwa yang terjadi, ke dalam sebuah tontonan yang sangat menarik untuk ditonton. Bahkan, sebuah film yang bagus, mampu memberikan pesan moral yang baik terhadap penontonnya dan hingga memberikan sudut pandang yang baru bagi penontonnya dalam menilai suatu kejadian. Lalu, bagaimanakah dengan aksi-aksi terorisme tadi? Adakah film yang mengangkat tema terorisme dan menjadikannya sebuah tontonan yang disengaja untuk dipertontonkan ke masyarakat? Jawabannya tentu ada.

Salah satu film yang menarik ditonton, yang juga menyinggung tema terorisme dan dampak yang muncul pasca peristiwa teror terhadap sesama pemeluk agama Islam adalah film yang berjudul My Name Is Khan. My Name Is Khan atau yang juga disingkat menjadi MNIK adalah

sebuah film yang muncul ke pasaran pertama sekali pada 10 Februari 2010 dengan melakukan debutnya di Abu Dhabi. Film yang diproduseri oleh Hiroo Johar dan Gauri Khan serta diarahkan langsung oleh Karan Johar.

Diperankan oleh dua artis kondang India, Shah Rukh Khan dan Kajol, film ini dibuat berdasarkan cerita yang ditulis oleh Shibani Bathija dan merupakan salah satu film yang sangat sukses di pasaran. Dalam proses pembuatannya, film ini menghabiskan dana kira-kira $6,2 juta dolar Amerika. Kemudian film tembus ke jajaran film box office dan meraup keuntungan sebesar $32 juta dolar Amerika. (http:// en.m.wikipedia.org/wiki/ My_Name_Is_Khan).

Film ini bercerita mengenai kehidupan seorang pria yang bernama Rizvan Khan (diperankan oleh Shah Rukh Khan), yang pindah dan tinggal bersama adiknya di Amerika setelah kematian ibunya. Sesampainya di Amerika, Rizvan bertemu dengan seorang janda beranak satu bernama Mandira (yang diperankan oleh Kajol) dan kemudian mereka menikah. Melalui pernikahan, secara otomatis Mandira dan anaknya memakai nama Khan sebagai nama belakang mereka. Mereka pun menjalani kehidupan yang bahagia.

Sampai pada suatu hari, aksi teroris yang dilakukan oleh sekelompok orang yang membawa agama Islam, menyerang Amerika pada tanggal 11 September 2001, dan mengacaukan kehidupan mereka yang bahagia. Mereka mulai mengalami perlakuan yang tak menyenangkan dari masyarakat setempat dan dituduh dengan prasangka-prasangka yang buruk bahkan oleh tetangga mereka sendiri. Puncaknya, anak Mandira dari suaminya yang terdahulu terbunuh oleh sekelompok anak-anak lain di sekolah.

Mandira yang merasa dirinya telah hancur, frustasi, sangat marah dan menuduh semua peristiwa ini terjadi karena kesalahan Rizvan. Karena namanya Khan! Mandira juga mengatakan bahwa dirinya tidak ingin lagi bersama-sama dengan Rizvan. Rizvan dengan polosnya bertanya kepada Mandira, apa yang harus ia lakukan untuk tetap bersama-sama dengan Mandira. Mandira mengatakan bahwa yang harus dilakukan oleh Rizvan adalah ia harus menemui orang nomor satu di Amerika, yaitu Presiden Amerika dan katakan kepada presiden bahwa namanya adalah Khan dan ia bukan seorang teroris!

ditonton karena dibumbui oleh kisah cinta, pengorbanan, prasangka-prasangka buruk yang berkembang di dalam sebuah masyarakat, aksi terorisme, serta dampak-dampak yang timbul pasca serangan teroris, dan juga efek yang timbul hanya dari penggunaan sebuah nama.

Lebih jauh lagi, yang membuat penelitian ini menarik untuk diteliti adalah karena film ini merupakan objek penelitian yang sangat cocok untuk dibahas sekarang ini. Aksi-aksi terorisme yang terjadi sekarang sangat meresahkan warga masyarakat dan dunia. Kemudian aksi-aksi para teroris yang mengangkat nama agama Islam tentu saja dengan disengaja atau tidak telah mencoreng nama agama Islam itu sendiri. Dengan memperlihatkan kepada masyarakat betapa banyak aksi-aksi kekejaman yang dilakukan oleh teroris yang menamakan diri mereka sebagai beragama Islam ini, tentu telah membuat masyarakat yang beragama lain menjadi memiliki prasangka yang buruk terhadap seluruh umat beragama Islam, seperti apa yang terlihat dalam film My Name Is Khan.

Mengingat bahwa bahasa dan komunikasi adalah dua hal yang sangat dekat dan tak dapat dipisahkan, seperti dikatakan oleh Kuswarno (2008:6) bahwa “Bahasa dan komunikasi memang merupakan dua bagian yang saling melengkapi dan sulit untuk ... terpisah satu sama lain. Komunikasi tidak akan berlangsung bila tidak ada simbol-simbol (bahasa) …”. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan kajian semiotik dalam mengupas Pesan-Pesan Sosiokultural dalam film My Name Is Khan.