• Tidak ada hasil yang ditemukan

Islam Berkemajuan: Model Dakwah Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH DAN GAGASAN KEBEBASAN BERAGAMA DI INDONESIA

A. Profil Gerakan Dakwah Muhammadiyah 1. Latar Sejarah Kelahiran Muhammadiyah

4. Islam Berkemajuan: Model Dakwah Muhammadiyah

143

mua‟malah-duniawi dikembangkan islah atau tajdid dinamisasi sesuai prinsip ajaran Islam. Konsep atau patokan bid‟ah tidak pada wilayah mu‟amalah organisasi. 4) Dalam berbangsa dan bernegara Muhammadiyah berpijak pada nilai dasar ajaran Islam sebagai pandangan reformisme Islam dan ijtihad. Bagi Muhammadiyah politik dan kehidupan bernegara merupakan „umur al-dunyawiyyah sehingga dapat dikembangkan pembaharuan dan kreasi-inovasi. 387 Muhammadiyah mempertegas jati dirinya bukan posisi gerakan Islam yang ekstrim, radikal, liberal apalagi sekuler. Dalam pembentukan masyarakat, pandangan moderat merujuk pada konsep Ummatan Wasathan sekaligus “Syuhada „ala al-Nafs”, seperti terkandung dalam al-Qur‟an al- Baqarah 143 dan menjadi ciri “khairah ummah” (Q.S Ali Imran:110) melekat dengan karakter Muhammadiyah. Paham wasathiyah Muhammadiyah tidak hanya tercermin pada sikap tengahan (toleransi, ukhuwah) tetapi juga harus berkemajuan, sebab watak rahmatalil‟alamin dari Islam sendiri harus memberi nilai positif yakni membangun kehidupan yang serba maju dalam segala aspek sehingga lahir peradaban yang ungul dan utama. Dengan demikian paham keagamaan Muhammadiyah adalah paham keagamaan “moderasi Islam berkemajuan”.

4. Islam Berkemajuan: Model Dakwah Muhammadiyah

Dakwah yang dikembangkan oleh Muhammadiyah saat ini adalah mengambil spirit dan model Islam berkemajuan. Gagasan Islam berkemajuan merupakan spirit dan konstruksi dakwah kebangkitan Muhammadiyah Abad Ke-2. Islam berkemajuan merupakan ijtihad atau jawaban atas kritik yang dialamatkan ke Muhammadiyah selama ini. Diakui atau tidak bahwa gerakan

387 Nashir, “Muhammadiyah Gerakan Wasithiyah Berkemajuan”, Suara Muhammadiyah, No.

144

dakwah Muhammadiyah dianggap oleh sebagian kalangan mengalami kemandegan atau kejumudan. Daya dorong transformasi dakwah agak melambat, terutama merespon problematika kontemporer di masyarakat.

Seperti kritik yang dilontarkan oleh Azyumardi Azra, sikap Muhammadiyah selama ini adalah sikap reaktif dan sering kontraproduktif, tidak arif cenderung denfensif konfrontatif dalam merespon perubahan terhadap gagasan baru atau fenomena baru terkait persoalan sosial keagamaan. Seharusnya, Muhammadiyah melakukan selfevaluation atau selfassessment, tetapi Muhammadiyah bersikap seperti Kakek “kebakaran jenggot”. Padahal sikap ini sudah tidak releven dengan kultur masyarakat pluralistik. Sementara paham keagamamn Muhammadiyah monolitik (salafiyah).388 Muhammadiyah cenderung lambat merespon perubahan. Kondisi itu disebabkan, mereka sudah terlalu mapan dalam pemahaman keagamaan dan doktrinnya. Muhammadiyah lebih cenderung menonjolkan doktrin ke-Muhammadiyahannya daripada ke-Islamannya, sementara masyarakat butuh solusi dari perubahan cepat.389

Menjawab kritikan tersebut muncul gagasan Islam berkemajuan. Berkemajuan mengandung arti proses dan sekaligus tujuan yang bersifat ideal untuk mencapai kondisi unggul, berada di garis depan atau memimpin disemua bidang kehidupan material dan spiritual, jasmani dan rohani. Berkemajuan menyiratkan adanya keberlangsungan dan progres sebagai perwujudan dari usaha yang terus menerus untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang bermakna (sustainable development with meaning).390 Gagasan Islam

388 Azyumardi Azra, Islam Subtantif, (Jakarta: Mizan, 2000), 47.

389 Ibid., 48.

390Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Indonesia Berkemajuan: Rekonstruksi Kehidupan

145

berkemajuan mempunyai dua landasan, yaitu landasan filosofis-teologis dan landasan sosiologis. Menurut Burhani:

“Landasan teologis dari Islam berkemajuan adalah ajaran KH. Ahmad Dahlan tentang Q.S. Al-„Ashr. Etos dari Q.S. Al-„Ashr bukan sekedar berbicara tentang kewajiban menyatuni orang-orang miskin, tetapi juga kewajiban berproses untuk membentuk peradaban utama. Dimensi waktu menjadi suatu yang dominan dalam Al-Ashr, dan ini yang dibutuhkan ketika manusia hidup disuatu era dimana waktu menjadi sangat nisbi, terutama karena percepatan teknologi komunikasi dan transportasi”.391 Muhammadiyah berkemajuan, secara filosofis-ideologis diadopsi dari konstruksi teologi al-Ashr. Teologi al-„Ashr merupakan salah satu bagian dari ajaran KH. Ahmad Dahlan.392 Dari segi makna wal-ashri dapat dimaknai demi waktu yang begerak kedepan, demi waktu yang begerak maju menuju masa depan atau demi kehidupan yang senantiasa bergerak maju bukan beregrak ke masa lampau atau berkemunduran. Dalam kamus bahasa Arab al-„Ashr memiliki makna “maju”, “baru”, “modern”. Kata „Ashara berarti memodernkan, membuat sesuatu menjadi baru dan menjadikan modern bernafaskan Islam berkemajuan. Surat al-„Ashar menjelaskan bahwa setiap masa (peradaban) itu memiliki kesamaan, manusialah yang berperan mengisi dan memanfaatkannya.393

Manusia yang berperan aktif mengisi dan memanfaatkan waktu “peradaban” secara inovatif, keratif dengan selalu one step a head dari kondisi sekarang, disebut manusia berkemajuan.394 Menurut Hilman, teologi al-„Ashr sebagai salah satu etos gerakan sosial Muhammadiyah. Dalam intrepretasi saudara

391Ahmad Najib Burhani, Muhammadiyah Berkemajuan: Pergeseran dari Pluralisme ke

Kosmopolitansime, (Jakarta: Mizan, 2016), 217.

392 Al-Ashr merupakan nama pengajian dan sekolah kader “Wal „Ashri” yang dibuat oleh KH. Ahmad Dahlan dengan dikoordinatori KRH. Hadjid, menurutnya, Kia Dahlan menerangkan dan mengulang-ulang Surat al-Ashr lebih dari 7 bulan. KRH. Hadjid, Pelajaran KH.A Dahlan: 7

Falsafah Ajaran dan 17 Kelompok ayat al-Qur‟an, (Yogyakarta: LPI PPM, 2008), 80. Azaki

Khoirudin, Teologi al-„Ashr: Etos dan Ajaran KH Ahmad Dahlan yang Terlupakan, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2015), 5.

393 Ibid., 5-6.

394

146

Khoiruddin, etos Surat al-„Ashr bukan sekedar bicara tentang kewajiban menyantuni orang-orang miskin, tetapi kewajiban berproses untuk membentuk peradaban utama.395

Istilah berkemajuan sudah digunakan oleh KH. Ahmad Dahlan pada saat awal pendirian Muhammadiyah. Seperti “Dadijo kjai sing kemadjoen, odjo kesel anggonmu nyjamboet gawe kanggo Muhammadiyah”.396

Dalam Statuten pertama tahun 1912 disebutkan dalam frasa tujuan Muhammadiyah, yaitu: “b. Memajoekan hal agama kepada anggauta-anggautanya”.397 Istilah ini juga terdapat dalam tulisan KH. Ahmad Dahlan tahun 1923 yang berjudul “Tali Pengikat Hidup Manusia”.

“Djika lalai akan tali pengikat ini kedjadiannja roesak dan meroesakkan. Ini soeatoe kenjataan jang tiada boleh dimoengkiri lagi. Pikirkanlah pemimpin-pemimpin!. Sesoedahnya Roesoel (oetoesan-oetoesan) dan sahabat-sahabatnja dan sesoedahnya pemimpin –pemimpin “kemadjoen Islam” pada djaman dahoeloe sehinggasekarang ini, soedalah sementara lamanja pemimpin-pemimpin bekerdja”.398

Karakter Islam berkemajuan tidak mengacu pada identitas tertentu, tetapi berkemajuan mengarah pada visi dan cara berfikir ke depan.399 Syamsuddin mendefinisikan Islam berkemajuan adalah visi keislaman Muhammadiyah yang tidak terikat dimensi ruang dan waktu, karena itu terbatas tetapi lebih kepada dimensi gerak, menggerakan kehidupan umat dan bangsa hari harus lebih baik

395 Khoirudin, Teologi al-„Ashr, XV.

396 Pernyataan ini dirujuk dari buku MT. Arifin, Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah dalam

Bidang Pendidikan., (Surakarat: Bagian Penalran, LPM UMS, 1985), 74. Dalam, Burhani, Muhammadiyah berkemajuan, 39.

397 Fachruddin, “Statuten Reglemen dan Extac der Besluit dari Perhimpunan Muhammadiyah

Yogyakarta” dalam Boeh Fikiran Kijahi H.A.Dachlan (Jakarta: Global Base Review & STIEAD Press, 2015), 170. Burhani, Muhammadiyah Berkemajuan, 38.

398

Burhani mengutip tulisan ini dari buku “Boeh Fikiran Al-Marhoem Kijahi H.A.Dachlan Ketoea

Moehamdijah Waktoe Masih Hidoepnya: Tali Pengiket Hidoep Manoesia” dalam Buku Abdul

Munir Mulkhan, Boeh Fikiran Kijahi H.A.Dachlan, (Jakarta: Global Base Review & STIEAD Press, 2015), 3-15. Burhani, Muhammadiyah Berkemajuan, 38.

399

147

dengan hari kemarin, hari esok harus lebih baik dengan hari ini.400 Diperkuat oleh Yunahar Ilyas menekankan dimensi terkuat dari Islam berkemajuan pada gagasan, dia membedakan dengan Islam Nusantara yang memiliki dimensi sangat kuat pada tempat dan waktu.401

Menurut Najib, geneologi Islam berkemajuan memiliki titik singgung dengan gagasan Muslim Progresif Omid Safi.402 Titik singgung tersebut terutama pada gagasan Islam beyond tolerance dan Islam beyond religion of peace. Salah satu rekomendasi Muktamar Ke-47 di Makasar, terkait dengan keberagamaan moderat, Muhammadiyah menganjurkan warganya ikut serta membendung perkembangan kelompok takfiri yakni mereka yang mudah menuduh orang lain sebagai kafir hanya karena perbedaan pandangan dan sikap. Takfiri dipandang sebagai penolakan kemajemukan, kebebasan beragama dan menunjukkan keangkuhan dalam beragama. Terkait konflik Sunni-Syi‟ah, Muhammadiyah merekomendasikan agar warga Muhammadiyah dan umat Islam Indonesia tidak terbawah dalam pertentangan politik Timur Tengah yang menghadapkan antara kelompok Sunni-Syi‟ah.403

Landasan Islam berkemajuan selain filosofis-teologis juga memiliki landasan sosiologis. Kemunculan Islam berkemajuan dilatari kondisi obyektif

400 Ibid., 40.

401 Ibid., 43-44. Lihat http;//islamlib.com/lembaga/muhamadiyah/sebuah-kisah-tentang-islam

yang-gembira, diakses tanggal 10 Agustus 2017.

402 Muslim Progresif memiliki sikap: pertama, beyond apologetics, kedua no more pamphlet Islam,

ketiga Islam beyond tolerance, keempat Islam beyond religion of peace. Dan elemen penting dari Muslim Progresif adalah “the determination no hold Muslim societies accountable for justice and

pluralism” (kemaun keras untuk mempertahankan masyarakat Muslim sebagai tempat keadilan

dan pluralism). Omid Safi, Progressive Muslim: On Justice, Gender, and Pluralism, (England: Oneworld Oxford, 2003), 2. Burhani, Muhammadiyah Berkemajuan, 6-7.

403 Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Tanfidz Keputusan Muktamar Muhammadiyah Ke 47

148

masyarakat yang sedang mengalami percepatan teknologi komunikasi dan transportasi, kedua trand ini merupakan identitas utama era globalisasi.404

Berdasarkan tipologisasi yang dibuat oleh Alvin Toffler, bahwa pergeseran masyarakat saat ini masuk era dunia ke-tiga “Third World” faktor utama penggerak perubahan adalah teknologi informasi.405 Menurut Mituso Nakamura, globalisasi mengakibatkan terjadinya perjumpaan antar berbagai peradaban dan budaya. Perjumpaan ini menghasilkan pengembangan intelektual, teknologi dan kreatifitas seni. Hal ini terjadi karena globalisasi memaksa berbagai individu, kelompok, bangsa untuk melakukan intropeksi diri, mendefinisikan ulang dan membangun kembali identitasnya agar bisa beradaptasi dengan berbagai tantangan perubahan, hal itu termasuk Muhammadiyah tidak bisa mengelak dari tuntutan perubahan akibat globalisasi.406

Kehidupan global yang sekuler-liberal dan penuh nafsu ekspansi secara ekonomi, politik dan budaya juga memerlukan pencerahan menuju keadaban. Relasi antar bangsa dan antar negara masih diwarnai kekerasan, perang dan invansi, seolah menguatkan adanya neo-kolonialisme. Kondisi ini tentu tidak dapat dibiarkan perlu solusi tepat dan berorientasi kemajuan, sehingga posisi Muhammadiyah menjadi sangat strategis menjadi gerakan pencerahan peradaban. Nashir menggunakan istilah Islam pencerahan untuk menyebut spirit Islam berkemajuan. Istilah ini terdapat pada pernyataan pikiran Muhammadiyah abad

404

Untuk mengkaji lebih luas terkait Muhammadiyah menghadapi arus globalisasi baca, Zuly Qadir, Muhammadiyah Studies: Reorientasi Gerakan dan Pemikiran Memasuki Abad Kedua, (Yogyakarta: Kanisius, 2010), 158-160.

405 Menurut Toffler munculnya gelombang ketiga dilatarbelakangi oleh kuatnya dorongan

teknologi informasi dan tuntuan sosial seluruh dunia untuk memperoleh kebebasan yang lebih besar dan individuasi. Alfin Toffler, The Future Shok “The Third Wave (New York: Bantam Book, 1980)

406Mitsuo Nakamura, “Muhammadiyah Berkemajuan Dan Kebangkitan Ketiga dari

149

kedua. Gerakan pencerahan (tanwir) merupakan praksis Islam berkemajuan untuk membebaskan, memperdayakan dan memajukan kemanusian kehidupan. Gerakan pencerahan dihadirkan sebagai problem solver dari persolan yang terjadi di masyarakat. Gerakan pencerahan berkomitmen untuk mengembangkan relasi sosial berkeadilan tanpa diskiriminasi, memuliakan martabat manusia menjunjung tinggi toleransi dan kemajemukan dan membangun pranata sosial yang utama.407

Menurut Khoiruddin, untuk mewujudkan praksisme Islam berkemajuan dalam Muhammadiyah, warga Muhammadiyah wajib menyadari pentingnya waktu dengan beramal salih serta tanggungjawab sosial dengan sebaik-baiknya. Watak Islam berkemajuan antara lain: pertama, visioner yakni berfikir maju, berwawasan luas dan berpandangan maju ke depan. Kedua, berbudaya maju seperti tepat waktu, tepat janji, membaca, pembelajaran, kreatif, dinamis, rajin, tertib, budaya kerja keras, budaya jujur, budaya adil, budaya bersih, budaya menolong. Ketiga, mengembangkan kesenian yang edukatif, etis, dan religius yang menyebar luas dan mewarnai negeri. Keempat, pendidikan yang maju, sekolah, perguruan tinggi, pesantren, dan pendidikan lain yang berkualitas. Kelima, kualitas kesehatan yang tinggi. Keenam, kehidupan sosial yang baik. Ketujuh, ekonomi maju dengan tingkat kesejahteraan tinggi. Kedelapan, hukum ditegakkan keadilan bisa merata dirasakan masyarakat. Kesembilan, semua orang merasakan nyaman, aman, dan tidak tertekan karena ada perlindungan hukum dan keamanan. Sepuluh, organisasi yang rapi, efektif dan effesian.408

Karakter Islam berkemajuan tercermin dari rekomendasi hasil keputusan Muktamar Makasar yang menujukkan strategi dakwah baru di Muhammadiyah.

407 Haedar Nashir, Gerakan Islam Pencerahan, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2015), 8-9. Baca, Nashir, Memahami Ideologi Muhammadiyah, 240.

408

150

Diantaranya terkait dakwah politik kebangsaan, dirumuskan satu konsepsi dan komitmen kebangsaan bahwa Indonesia dan Pancasila bagi umat Islam merupakan “dar al-„ahd wa al-syahadah” (negara yang merupakan hasil konsensus dan tempat pembuktian untuk menjadi negeri yang aman dan damai). Sebuah negara yang dilindungi, diridhahi oleh Allah SWT untuk menuju tercapainya kehidupan maju, adil, makmur, bermartabat dan berdaulat sejalan dengan cita-cita baldatun thayyibatun warabbun ghafur.409 Dalam konteks dakwah, saat ini dikembangkan dakwah pencerahan berbasis komunitas, dakwah pelayanan kelompok difabel dan minoritas, peningkatan tradisi ilmiah dan dialog Sunn-Syi‟ah dalam mengatasi konflik di Indonesia.410

Menurut Abdul Mu‟thi Islam berkemajuan memilik lima elemen penting: 1) tauhid yang murni, 2) memahami al-Qur‟an-Sunnah secara mendalam, 3) melembagakan amal sholih yang fungsional dan solutif, 4) berorientasi kekinian dan masa depan, bersikap toleran, moderat dan suka bekerjasama.411 Sementara dalam buku Tanfidz Tanwir Muhammadiyah, menjelasakn karakter keislaman Muhammadiyah senada dengan karakter Islam berkemajuan, yaitu Islam yang kosmopolitan, sebuah kesadaran bahwa umat Muhammadiyah adalah bagian dari warga dunia yang memiliki rasa solidaritas kemanusiaan universal dan rasa tanggungjawab universal kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan dan pemisahan jarak yang bersifat primordial dan konvensional.412

409 PP Muhammadiyah, Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah, (Mukatamar

Muhammadiyah ke 47 Makasar 3-7 Agustus 2015), 21.

410

Burhani, Muhammadiyah Berkemajuan, 44.

411 Abdul Mu‟thi “Pengantar”, Kiyai Suja‟, Islam Berkemajuan: Kisah Perjuangan KH. Ahmad

Dahlan dan Muhammadiyah masa Awal, (Tanggerang: Al Wasat Pub. House, 2009).

412PP Muhammadiyah, Tanfidz Keputusan Tanwir Muhammadiyah, (Samarinda, PP

151

Strategi dakwah berkemajuan Muhammadiyah difokuskan pada model dakwah pencerahan berbasis komunitas.413 Model dakwah komunitas didasarkan pada al-Qur‟an:

َِّللَّبِث ٍَُُِْ٘ ْؤُر َٗ ِشَنَُْْْىا َِِػ َُ ََْْْٖ٘ر َٗ ِفٗ ُشْؼََْىبِث َُٗ ُشٍُْؤَر ِطبَّْيِى ْذَج ِشْخُأ ٍخٍَُّأ َشَْٞخ ٌُْزُْْم

َْ٘ى َٗ

َُُ٘قِعبَفْىا ٌُُٕ ُشَثْمَأ َٗ ٍَُُِْْ٘ؤَُْىا ٌٍُُِْْٖ ٌَُْٖى ا ًشَْٞخ َُبَنَى ِةبَزِنْىا ُوَْٕأ ٍََِآ

Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang di lahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.414

Tujuan dakwah komunitas adalah untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan makmur secara lahir maupun batin, fisik maupun psyikis dan material maupun spiritual dengan memperhatikan kekhususan watak, karakter dan potensi-potensi yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat atau komunitas tertentu. Adapun tujuan khususnya adalah meningkatkan pemahaman masyarakat makna kemakmuran dan kesejahteran dalam ajaran Islam. Meningkatkan kesadaraan masyarakat untuk hidup bersih dan sehat, meningkatkan harmonisasi dalam keluarga, meningkatkan kemandirian ekonomi, meningkatkan kecerdasan masyarakat dalam bidang ipetks dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berpartisipasi mewujudkan politik yang bersih dan sehat.415

Sasaran dakwah komunitas Muhammadiyah difokuskan pada komunitas daerah perbatasan, lingkungan perumahan mewah, komunitas pabrik. Untuk mewujudkan tujuan dakwah komunitas, maka ada beberapa program dan bentuk kegiatan dakwah komunitas Muhammadiyah, yaitu bina masyarakat cerdas, bina

413 Burhani, Muhammadiyah Berkemajuan, 44.

414 Al-Qur‟an, 3: 110.

415 Tim Penyusun, Dakwah Komunitas: Gagasan Awal Pengembangan Dakwah Muhammadiyah

152

masyarakat mandiri, bina masyarakat bersih dan sehat, bina keluarga sakinah, pemberdayaan ekonomi rakyat dan sekolah demokrasi.416