• Tidak ada hasil yang ditemukan

MURTAD DALAM PANDANGAN ELIT MUHAMMADIYAH JAWA TIMUR

185

BAB IV

MURTAD DALAM PANDANGAN

ELIT MUHAMMADIYAH JAWA TIMUR

A. Pandangan Elit Muhammadiyah Jawa Timur Terhadap Murtad

Kajian ini fokus mendiskripsikan hasil penelitian elit Muhammadiyah Jawa Timur memandang murtad. Berdasarkan data dari proses wawancara, ditemukan ragam wacana yang beririsan dengan wacana murtad di lapangan. Ragam wacana tersebut diantaranya adalah, wacana kebebasan beragama, makna ayat ‚La> Ikra>ha fi ‘addi>n‛, sikap terhadap murtad keluarga dan orang lain, hukum mati murtad, faktor pendorong murtad, praktek UU Penodaan Agama, UU Murtad di Indonesia, serta sikap dakwah Muhammadiyah terhadap murtad.

Ragam pemikiran tersebut, kemudian diolah dan didalami oleh peneliti untuk dipetakan secara sistematis. Pemetaan ini bertujuan untuk mempermuda pemahaman pembaca. Dibawah ini dipaparkan pemetaan hasil penelitian terkait murtad dalam pandangan elit Muhammadiyah Jawa Timur.

1. Hakikat Murtad

Menggali hakikat murtad sangat penting untuk dapat mengetahui dan memahami secara dasar pemikiran elit Muhammadiyah Jawa Timur terhadap murtad yang berkembang di masyarakat. Hasil dari wawancara dan diskusi dengan subjek (elit Muhammadiyah Jawa Timur) terkait hakikat murtad, peneliti mendapatkan beragam definisi murtad, yaitu: Menurut A. Jainuri:

Murtad merupakan sebuah proses pasca manusia menyadari dan menemukan sesuatu hal yang bernilai dan dianggap benar terhadap ajaran tersebut. Proses tersebut dapat melalui proses pembelajaran atau belajar,

186

jadi murtad bukanlah kejadian tiba-tiba hadir atau muncul dalam diri seseorang, namun melalui proses pembelajaran terhadap ajaran agama tersebut yang kemudian dalam ajaran tersebut dia menemukan sesuatu dianggap bernilai benar bagi keyakinannya.476

Adapun, menurut Nur Cholis Huda murtad merupakan sikap inkonsistensi terhadap keyakinannya yang diyakini sebelumnya.477 Senada pendapat Khoirul Warizin, murtad berarti tidak menyakini kebenaran agama dahalu, sebab jika dia meyakini kebenaran agama itu tidak mungkin pindah agama.478 Sedangkan bagi Mukayat, murtad adalah proses dari kesadaran dan kebebasan untuk memilih agama dari yang lama ke agama yang baru.479

Hemat Moh. Sholihin, murtad hakekatnya adalah mereka belum menemukan kebenaran sesungguhnya, sebab jika orang sudah menemukan dan memiliki keyakinan kuat sulit dan tidak mudah dipengaruhi.480 Adapun Biyanto, murtad adalah sebuah hak keagamaan berpaling ke agama atau keyakinan lain, asalkan didasarkan oleh kesadaran asasi, sehingga pilihan itu merupakan bagian dari jalan hidupnya.481

Menurut Moh. Maulana Mas‟udi, murtad adalah menemukan pilihan baru dalam beragama atau berkeyakinan dari beragama atau keyakinan terdahulu (Islam). Penemuan baru tersebut dianggap lebih benar dan lebih sesuai dengan pikiran dan hatinya.482 Adapun menurut Suli Da‟im, murtad adalah perpindahan seseorang dari kepercayaan agama atau keyakinan Islam kepada kepercayaan agama atau keyakinan yang lain dikarenakan adanya proses hidayah dari

476 A. Jainuri, Wawancara, Surabaya. 8 Oktober 2016

477 Nur Kholis Huda, Wawancara, Surabaya. 10 Oktober 2016

478

Khoirul Warizin, Wawancara, Sidoarjo. 15 November 2016

479 Mukayat Al Amin, Wawancara, Sidoarjo. 20 November 2016

480 Moh. Sholihin, Wawancara, Sidoarjo. 25 Oktober 2016

481 Biyanto, Wawancara, Surabaya. 24 Oktober 2016

482

187

Tuhan.483 Senada pendapat Syamsuddin, murtad adalah perpindahan dari agama dahalu (Islam) kepada agama/keyakinan baru karena dianggap lebih benar dan nyaman dalam hatinya.484

Menurut Zainuddin Maliki, hakikat murtad adalah penemuan kesadaran beragama baru terkait keyakinan atau ajaran agama yang dianggap benar dan mampu membawa keselamatan dalam hidupnya. Sehingga murtad merupakan hak asasi yang paling asasi karena menyangkut pilihan hingga kematiaan.485 Adapun pendapat Najib Hamid, murtad adalah perpindahan dari keyakinan awal (Islam) kepada keyakinan baru yang diyakini kebenaranya dan tidak dapat dirasionalkan alasannya.486

Sementara pendapat Najih Ihsan, murtad adalah pergantian keyakinan atau beragama dari Islam kepada beragama/berkeyakinan lain atau tidak beragama (atheis).487 Senada pendapat Mahsun, murtad adalah keluar dari Islam kembali kepada kekufuran, karena ukuran dari beragama adalah keyakinan atau aqidah.488 Sementara menurut Saad Ibrahim, murtad adalah terlepasnya ikatan keyakinan beragama dari keyakinan atau beragama Islam kepada keyakinan atau beragama lain (non Islam).489

Menurut Moh. Khoirul Abduh, murtad terus mengalami perluasan makna. Ada murtad karena mengingkari sifat Allah, kebenaran Kenabian, kebenaran al-Qur‟an atau yang sering disebut atheis atau murtad teologis. Adapula murtad dalam konteks perkataan seperti menghina Allah, Nabi Muhammad SAW dan

483 Suli Da‟im, Wawancara. Sidoarjo. 29 Oktober 2016

484 Syamsuddin, Wawancara. Surabaya. 20 Desember 2016

485

Zainuddin Maliki, Wawancara, Surabaya. 10 Desember 2016

486 Najib Hamid, Wawancara, Surabaya. 12 Desember 2016

487 Najih Ihsan, Wawancara, Surabaya. 15 Desember 2016.

488 Mahsun, Wawancara, Surabaya. 10 Desember 2016

489

188

Qur‟an. Dan adapula murtad perbuatan seperti menyembah berhala, meninggalkan sholat fardhu dan puasa Ramadhan.490

Paparan di atas dapat dipahami, bahwa definisi murtad di atas terdapat kesepahaman pada titik pemikiran bahwa murtad adalah keluar, perpindahan, pergantian, berbalik, sikap inkonsistensi, belum menemukan kebenaran, penemuan kesadaran baru, menemukan pilihan baru dari agama atau keyakinan sebelumnya (Islam) kepada agama atau keyakinan baru selain Islam.

2. Wacana Kebebasan Beragama

Wacana kebebasan beragama memang dekat dengan wacana murtad, artinya disaat membicarakan murtad pasti tidak lepas dengan wacana kebebasan beragama. Dari sini peneliti ingin menggali lebih dalam wacana kebebasan beragama dan menemukan beragam konsep kebebasan beragama dalam pandangan elit Muhammadiyah Jawa Timur.

Seperti, pendapat Maliki:

Makna kebebasan agama adalah semua orang mempunyai otonomi untuk menentukan pilihan beragama. Pada dasarnya manusia adalah suci yang ujungnya ketemu kepada maha suci (Tuhan), artinya pada dasarnya manusia itu mengakui keberadaan Tuhan. Awal dilahirkan manusia itu seperti tabularasa putih, maka saat berinteraksi dengan lingkungan tabularasa mulai terwarnai, kemudian Allah memberikan akal untuk melakukan pengendalian terhadap tabularasa. Sehingga manusia sebenaranya sudah diberikan kemampuan untuk mengendalikan, memahami dan menentukan sikap termasuk beragama dan memilih agama dan pindah agama (murtad).491

Lanjut Maliki:

Jadi pada dasarnya Tuhan sendiri sudah memberi ruang otonomi terhadap kebebasan beragama bagi manusia untuk memilih agama, termasuk murtad. Sehingga murtad merupakan bagian dari pemaknaan kebebasan beragama. Manusia diberi hak penuh untuk menentukan keyakinan beragama. Tuhan sudah memberikan gambaran–gambaran konsekwensi

490 Moh. Khoirul Abduh, Wawancara, Jombang. 25 Desember 2016

491

189

dari pilihan beragama. Seandainya Allah berkehendak kepada semua manusia untuk beragama Islam tidak sulit, tetapi kenapa tidak dilakukan, itu artinya Allah sebenarnya memberikan hak kebebasan penuh bagi manusia untuk memilih agama. Sehingga, murtad itu adalah hak prerogratif manusia dan dipertangungjawabkan kepada Tuhan, bukan kepada Ormas atau manusia.492

Selaras pandangan Jainuri, kebebasan beragama secara sosiologis juga dapat bermakna bebas pindah agama (murtad), karena murtad adalah hak sosial-teologis setiap manusia. Dan beragama adalah pilihan bebas manusia maka tidak ada hak bagi kita menghujat atas pilihan orang lain karena keberagamaan itu sangat subjektif berdasarkan keyakinan.493 Diperkuat oleh padangan Warizin, makna kebebasan beragama adalah setiap manusia berhak melaksanakan keyakinan agama masing-masing dengan saling menghormati dan tidak boleh ikut campur dalam urusan agama orang lain, termasuk dalam konteks murtad. Murtad merupakan bagian dari katagori kebebasan beragama. Beragama seseorang tergantung pada keyakinan beragamanya, sehingga bebas saja mereka berpindah agama.494

Senada pendapat al-Amin, makna kebebasan beragama adalah kebebasan memilih agama yang diyakini kebenaranya. Murtad adalah proses dari kesadaran dan kebebasan untuk memilih agama, sehingga murtad termasuk dari makna kebebasan beragama. Artinya Islam membebaskan manusia untuk memilih agama terbaik menurut keyakinannya. Murtad adalah termasuk bagian dari kebebasan beragama, implikasi dari makna kebebasan memilih agama adalah salah satunya murtad.495 492 Ibid,. 493 Jainuri, Wawancara. 494 Warizin, Wawancara. 495 Al-Amin, Wawancara.