PENANAMAN MODAL DI NEGARA HUKUM REPUBLIK INDONESIA
A. Islam dan Negara Hukum Republik Indonesia
1. Pengertian dan Sumber Hukum Dalam Perspektif Islam
Dalam terminologi Ushul Fiqh, yang dimaksud dengan Hukum Syar‟i adalah “ucapan” (khithâb) pembuat hukum (syâri’) yang berhubungan dengan perbuatan subyek hukum (mukallaf) seperti perintah/tuntutan (tolab) atau pilihan (takhyîr). Sedangkan dalam terminologi Fiqh, Hukum Syar‟i adalah konsekuensi/akibat yang ditimbulkan dari “ucapan” pembuat hukum (syâri’) terhadap perbuatan subyek hukum seperti timbulnya kewajiban (al-wujûb), timbulnya keharaman (al-hurmah) dan timbulnya kebolehan (al-ibâhah).1
Sebagaimana telah dimaklumi, sumber hukum utama dalam Islam adalah
Al-Qur‟an. Abdul Wahhab Khalaf mengatakan bahwa macam-macam hukum yang terdapat dalam Al-Qur‟an adalah sebagai berikut.
Pertama, hukum-hukum tentang keyakinan (ahkâm i’tiqâdiyyah), yang mengatur tentang kewajiban meyakini adanya Allah, Malaikat, Kitab, Utusan dan Hari Akhir. Kedua, hukum-hukum tentang tata-krama (ahkâm khuluqiyyah), yang
1Abdul Wahhab Khallaf, ‘Ilm Ushûl al-Fiqh, (Kuwait; Al-Dar Al-Kuwaitiyyah, 1928), cet.
mengatur tentang anjuran menjalankan keutamaan (al-fadâil) dan menghindari kehinaan (al-radzâil). Ketiga, hukum-hukum tentang perbuatan (ahkâm ‘amaliyyah), yang mengatur tentang segala hal yang keluar dari subyek hukum (mukallaf); ucapan, tindakan, akad dan transaksi.2
Ahkâm ‘amaliyyah dalam Al-Qur‟an terdiri atas dua macam; Ibadah (ahkâm al-‘ibâdât) dan Mu‟amalat (ahkâm al-mu’âmalât). Ahkâm al-mu’amalat sendiri meliputi beberapa aspek sebagai berikut: 1) ahkâm al-ahwâl al-syakhshiyyah, yaitu hukum yang berhubungan dengan sendi-sendi keluarga atau rumah-tangga;2) ahkâm al-madînah, yaitu hukum yang berhubungan dengan aktivitas individu seperti jual-beli, pinjam-meminjam, sewa-menyewa dan sejenisnya; 3) ahkâm al-jinâiyyah, yaitu hukum yang berhubungan dengan tindak kriminal; 4) ahkâm al-murâfa’ât, yaitu hukum yang berhubungan dengan putusan hukum, kesaksian dan sumpah; 5) ahkâm al-dustûriyyah, yaitu hukum yang berhubungan dengan sistem hukum; 6) ahkâm al-dauliyyah, yaitu hukum yang berhubungan dengan aktivitas negara Islam terhadap negara lain serta aktivitas Non-Muslim di negara Islam; 7) ahkâm al-iqtishâdiyyah wa al-mâliyyah, yaitu hukum yang berhubungan dengan perekonomian.3
Lebih lanjut, Abdul Wahhab Khallaf mengatakan bahwa dari sejumlah aspek tersebut tidak semua dijelaskan secara rinci oleh Al-Qur‟an. Al-Qur‟an menjelaskan
secara rinci hanya pada aspek Ibadah dan Hukum Keluarga, karena dalam hal ini banyak mengandung unsur-unsur yang bersifat tal ta’abbudy dan tidak bisa dijangkau
2Ibid, h. 32. 3Ibid, h. 32-33.
akal (lâ ‘aqla lahâ). Sedangkan aspek lainnya (ahkâm al-madînah, ahkâm al-jinâiyyah, ahkâm al-murâfa’ât, ahkâm al-dustûriyyah, ahkâm al-dauliyyah dan
ahkâm al-iqtishâdiyyah wa al-mâliyyah), Al-Qur‟an hanya menjelaskan kaidah -kaidah umum (al-qawâid al-‘âmmah) dan prinsip-prinsip dasar (mabâdi al-asâsiyyah), karena aspek-aspek tersebut lebih berhubungan dengan pertimbangan-pertimbangan kemaslahatan.4
2. Relasi Islam dan Negara; Respon Atas Konstitusi RI
Munawir Sadzali membagi tiga kelompok pandangan atas relasi Agama Islam dengan Negara; Pertama, kelompok yang berpendirian bahwa Islam adalah sebuah negara yang sempurna dan lengkap. Segala aspek kehidupan manusia, termasuk kehidupan bernegara, diatur oleh Islam. Yang termasuk dalam kelompok ini di antaranya adalah Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, Rasyid Ridha dan Al-Maududi.
Kedua, kelompok yang berpendirian bahwa Islam tidak mempunyai hubungan dengan masalah ketatanegaraan. Tokohnya antara lain adalah Ali Abd Al-Raziq dan Thaha Husein. Ketiga. Kelompok yang berpendirian bahwa Islam bukanlah Agama yang serba lengkap, yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia termasuk urusan ketatanegaraan. Meski demikian, aliran ini juga menolak anggapan bahwa Islam hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Menurut aliran ini,
Islam tidak menetapkan sistem ketatanegaraan, tapi menyediakan seperangkat tata nilai etika bagi kehidupan bernegara. Diantara tokohnya adalah Husein Haikal.5
Sebagaimana telah disinggung pada bab sebelumnya, bahwa negara Republik Indonesia berdasarkan atas Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pada masa-masa awal pembentukan dan sejarah awal perjalanan Republik Indonesia, terdapat perdebatan tiga ideologi politik yang sekaligus kemudian sangat mempengaruhi substansi Pancasila. Pada pertengahan tahun 1950an, setidaknya terdapat tiga aliran utama yang saling berdebat;: 1) Aliran yang menghendaki sosial-ekonomi sebagai dasar negara dan menolak Pancasila dan Islam, 2) Aliran yang menghendaki agama Islam sebagai dasar negara dan menolak Pancasila dan sosial-ekonomi, dan 3) Aliran yang mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara dan menolak sosial-ekonomi dan agama Islam.6
Menurut Taqiyuddin An-Nabhani, pendiri sekaligus rujukan Hizbut Tahrir, Akidah Islam harus menjadi dasar Negara (asâs al-daulah). Semua aspek kenegaraan
5Munawir Sadzali, Islam dan Tatanegara; Ajaran, Sejarah dan Pemik iran, (Jakarta: UI-Press,
1993), cet. ke-5, h. 1 s.d 2.
6A.M.W. Pranarka, Sejarah Pe mik iran Tentang Pancasila, (Jakarta; CSIS, 1985), cet. ke-1, h.
133-134. Diantara alasan aliran yang menolak dijadikannya Islam sebagai dasar negara adalah; 1) Islam tidak dapat me laksanakan Theo-Demo krasi yang bagus di atas dunia kebendaan ini, 2) Islam berisi unsur-unsur reaksioner, 3) bukan Islam yang mendorong angkat senjata untuk mencapai kemerdekaan, ia hanya menambah semangat perjuangan saja, 4) untuk kehidupan diperlukan musyawarah guna menyusun peraturan-peraturan untuk pergaulan hidup, 5) tiap orang bebas memilih agamanya, 6) golongan agama, tidak merupakan golongan yang bersatu dalam asas dan tujuannya, mereka mempunyai pengertian sendiri-sendiri, 7) partai-partai Islam mempuyai perbedaan tafsiran tentang Islam itu sendiri, dan lain -lain. Sedangkan alasan aliran yang menolak d ijad ikannya Pancasila sebagai dasar negara diantaranya adalah; 1) Uraian mengenai Pancasila asih kurang luas dan kurang diperinci, yang dikemu kakan hanya sifat universalnya saja, 2) dasar Pancasila menemui kegagalannya, selagi para penciptanya masih h idup dan masih men jalan kan kekuasaan penuh, 3) dengan Pancasila, negara kesatuan tidak dapat dipertahankan, dan lain-lain. Lihat selengakapnya A.M.W. Pranarka, Ibid, h. 134-152.
harus dibangun berdasarkan Akidah Islam. Akidah Islam harus menjadi asas undang-undang dasar dan perundang-undang-undangan Syar‟i. Negara harus menerapkan Syariah
Islam atas seluruh rakyat warga negara, baik Muslim maupun Non-Muslim. Kepala Negara harus Muslim dan menerapkan Syariat Islam berdasarkan Al-Qur‟an dan
Hadits. Da‟wah Islam menjadi tugas pokok Negara.7
Dalam konteks negara Indonesia, pemikiran ini dianut oleh Hizbut Tahrir Indonesia. Konsekuensi logisnya adalah kelompok ini tidak mengakui Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara karena bagi kelompok ini Pancasila dan UUD 1945 adalah sistem sekuler dan kufur yang tidak berasal dari Islam. Oleh karenanya, kelompok ini memperjuangkan penerapan Akidah Islam sebagai dasar Negara dengan sistem khilafah.8
Berbeda dengan pendapat kelompok di atas, Musyawarah Nasional Alim Ulama (Munas) Mahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1983 memutuskan bahwa rumusan nilai-nilai yang dijadikan dasar negara Republik Indonesia sudah tuntas dengan ditetapkannya Pancasila dan UUD 1945. Dengan demikian, semua pihak harus hanya memahami dasar negara tersebut menurut bunyi dan makna (bi al-lafdz
wa ma’nâ al-murâd) yang terkandung di dalamnya. Kaum muslimin Indonesia bersama-sama dengan seluruh bangsa Indonesia juga berkewajiban untuk memenuhi
7Taqiyuddin Al-Nabhâni, Mafâhîm Hizb Al-Tahrîr, (ttp: HTI Press, 2001), cet. ke -6, h. 84.
Konsep dan pandangan HTI tentang Negara Khilafah selengkapnya lihat, Taq iyuddin An -Nabhâni, Al-Daulah Al-Islâmiyyah, (Beirut; Dar Al-Ummat, 1953), cet. ke -1.
8“Islam Harus Jadi Dasar Negara”, artikel diakses pada tanggal 14 April 2009 dari:
kesepakatan bersama itu.9 Hal ini adalah karena tidak ada pertentangan antara Pancasila dan UUD 1945 dengan nilai-nilai Islam. Oleh karenanya, upaya mengganti dasar negara yang sudah sah tersebut, sebagaimana dikemukakan oleh KH. Muhyiddin Abdusshomad, bahkan dengan dasar Islam sekalipun, adalah tidak
dibenarkan menurut syara‟.10
B. Tinjauan Islam Atas Hukum dan Kepentingan; Studi Atas Undang-Undang