Untaian Mutiara Dalam Memahami Ayat Hukum
ISLAM ETIC IS UNIVERSAL RELIGION
(Katolik Islami, Kristen Islami, Budha Islami, Hindu Islami dll.)
Suryo Tanggono Mangtab banget ...!! Itulah kehidupan...
Namun persepsiku aku ringkas menjadi Mind, Soul, Body.... Soul dalam pengertian "hati nurani"... ya Ruh Allah itu sendiri...
saat kita 'hidup' memang 'nyawa' dan 'Ruh Allah" bukan sebuah kesatuan... dalam perjalanan ' menyatukan Nyawa kita dengan Ruh Allah adalah proses spiritual dalam bingkai TAUHID..
Jadi saat kita 'berbicara' tentang ALLAH,dalam konteks spiritual dalam bingkai TAUHID maka kita memasuki wilayah 'sifat' dan 'perbuatan' ALLAH. dan kata "ALLAH" sudah tidak ada lagi...
sepertinya kita 'harus mati dulu' untuk mengetahui ALLAH yang sebenarnya... kalau kita masih dalam 'hidup' maka "ALLAH" hanya simbol yang bernama. Pengalaman "mati sak jeroning urip" itulah pemahaman nya...
atau ALLAH dalam pengertian sebagai nilai keILLAHIan
WAHYU, FIRMAN, atau apapun namanya yang terdengar maupun tertulis itu sebuah informasi, ke mana arah menuju ALLAH.... lalu perjalanannya yang kitya lakukan [tarekat] yang akan mengantarkan kita pada makna ALLAH itu...
27 September jam 3:31 · SukaTidak Suka
Wawan Kardiyanto
Kang suryo@ secara substansi pengertian yang kang suryo paparkan sudah kumengerti dan kupahami... dan sy spakat2 saja hehe....
berkenaan dgn gambar presentasi kala sy mengajar tentang APA itu manusia pengertiannya sekaligus pada jawaban pertanyaan APA dan BAGAIMANA... 1. Pertanyaan Apa, jawabannya mesti mengarah kepada MATERI manusia. Dalam gambar itu tafsiran sy ada Body, Nyawa dan Ruhullah.
Yang perlu sy garis bawahi pengertian Materi NYAWA dan RUHULLAH saya pisahkan hanya untuk sekedar menerangkan pra embrio (kurang lebih janin berumur 6-8 mingguan) dan pasca embrio.
NYAWA telah ada sebelum RUHULLAH ditiupkan ketika embrio telah sempurna (6-8 minggu umurnya). Sebelum ditiupkan Ruhullah manusia sudah hidup dan bernyawa tetapi belum "menjadi" manusia dalam hal ini tepatnya NAFS (jiwa). NAFS (jiwa) adalah cetak biru manusia yaitu gabungan antara body, nyawa dan ruhullah, dan NAFS inilah yg nanti dimintai tanggungjawab. Kalimat kang suryo ini: (saat kita 'hidup' memang 'nyawa' dan 'Ruh Allah" bukan sebuah kesatuan) saya beda pendapat. Saat kita 'hidup' NYAWA dan
RUHULLAH melebur bersama body menjadi sebuah satu kesatuan yg bernama JIWA (NAFS).
Proses spiritual menuju TAUHID merupakan substansi JIWA (NAFS) itu diciptakan. Dan kita tidak perlu 'mematikan dan memisahkan' ALLAH apalagi dengan dalih 'simbol'. Hidup ini nyata dan ALLAH itu juga nyata, bukan simbol. Tauhid adalah kepasrahan untuk menyatu dengan ALLAH secara 'NYATA'. 2. Pertanyaan BAGAIMANA, jawabannya adalah ada ayat Qur'an surat As-Sajadah 9 tersebut. AKAL dan Freewill diberikan kepada manusia sebagai pisau bedah untuk mengabdi dan senjata lulus ujian. Tugas manusia dihidupkan adalah sangat mulia yaitu menjadi khalifatu fil Ard (pengelola alam semesta tepatnya BUMI). Kalau manusia berhasil dalam mengelola dirinya dan semesta jadilah ia
insan kamil (manusia yang berhasil dalam hidupnya). itu dulu ya...
27 September jam 19:00 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
Suryo Tanggono
aku setuju banget pada ... ===
NYAWA telah ada sebelum RUHULLAH ditiupkan ketika embrio telah sempurna (6-8 minggu umurnya).
=== ===
...Kalimat kang suryo ini: (saat kita 'hidup' memang 'nyawa' dan 'Ruh Allah" bukan sebuah kesatuan) saya beda pendapat. Saat kita 'hidup' NYAWA dan RUHULLAH melebur bersama body menjadi sebuah satu kesatuan yg bernama JIWA (NAFS).
===
substansinya adalah pada kata HIDUP pada "MATERI".... ha ha ha...
Ingat Big Bang Theory... terjadi karena hukum "materi" dan "anti-materi".... antara akibat yang disebabkan...???
dan itulah hukum dasar....
maka jembatannya adalah proses religius spiritual yang membuat makna berbeda...
===
Hidup ini nyata dan ALLAH itu juga nyata, bukan simbol. Tauhid adalah kepasrahan untuk menyatu dengan ALLAH secara 'NYATA'.
===
dan bahkan lebih dari "pasrah" ... saya ndak tahu, entah apa bahasanya / kata yang mewakilinya....[???]
dan "manunggal dengan sang 'Esa" dalam pemahaman "RUH".... ...
Untuk membedah kemabali :
[ayat Qur'an surat As-Sajadah 9 tersebut]....
sejujuranya saya tidak ingin ada pemenggalan ayat yang tidak mewakili makna keutuhan dalam surat tsb...
dan sejauh ini saya sepakat dan mungkin akan kita bedah lagi dengan paparan yang lebih lengkap dan lebih dalam... sehingga saat memasuki pada al-fath [48] sebagai "ukuruan" dalam menajamkan makna TAUHID.
menang atas diri sendiri [mengendalikan NAFS sebagai energi positif] lalu pada akhirnya kita juga akan kehilangan makna 'kemenangan" .... karena kita "SUDAH SAMPAI"...yaitu insan kamil.
disitulah makna NOTHINGNESS, yang sudah tidak ada RIYA, tidak ada
PAHALA dan DOSA , tidak lagi ber"pikir" pada SURGA dan NERAKA" sebagai harapan dan putus asa.... semua adalah NILAI PASRAH...
28 September jam 6:05 · SukaTidak Suka
Suryo Tanggono
http://www.facebook.com/profile.php?id=100000685757821&v=wall&story_fbid =161856213831364&ref=mf
28 September jam 6:11 · SukaTidak Suka
Wawan Kardiyanto Kang Suryo@
pertanyaan kang Suryo ini: dan bahkan lebih dari "pasrah" ... saya ndak tahu, entah apa bahasanya / kata yang mewakilinya....[???]
kata yang sangat tepat menjawab pertanyaan kang Suryo dalam bahasa arabnya adalah: ISLAM...
...kata ISLAM hakekat artinya adalah:
Pertama, Islam dari kata asal aslama yang merupakan turunan (derivasi) dari kata assalmu, assalamu, assalamatu berarti bersih dan selamat dari kecacatan lahir batin. Dari asal kata ini dapat diartikan bahwa dalam Islam terkandung makna suci, bersih tanpa cacat atau sempuma.
Kedua, kata Islam juga dapat diambil dari kata assilmu dan assalmu yang berarti perdamaian dan keamanan. Dari asal kata ini Islam mengandung makna
perdamaian dan keselamatan, karena itu kalimat assalamu 'alaikum merupakan tanda kecintaan seorang muslim kepada orang lain yang selalu menebarkan doa dan kedamaian kepada sesama.
Ketiga, dari asal kata assalamu, assalmu dan assilmu Islam berarti menyerahkan diri, tunduk dan taat.
Semua asal kata di atas berasal dari tiga huruf, yaitu: sin, lam dan mim (dibaca salima) yang artinya sejahtera, tidak tercela dan selamat.
Dari beberapa pengertian kata di atas dapat disimpulkan bahwa Islam mengandung arti berserah diri, tunduk, patuh dan taat sepenuhnya kepada kehendak Allah. Kepatuhan dan ketundukkan kepada Allah itu melahirkan keselamatan dan kesejahteraan diri serta kedamaian kepada sesama manusia dan lingkungannya.
yup.... selebihnya saya sepakat 100% dengan jenengan. hehe...
Berbahagialah orang2 yang mempunyai spirit ISLAM.... dan menggunakannya sebagai identitas jiwanya....
28 September jam 18:52 · SukaTidak Suka
Suryo Tanggono
Betul sekali Kang Wawan... saya sepakat sekali dengan : ====
kata yang sangat tepat menjawab pertanyaan kang Suryo dalam bahasa arabnya adalah: ISLAM...
...kata ISLAM hakekat artinya adalah: ....dst...
====
dan hendaknya itu sebagai intisari makna kehidupan bukan cuma 'slogan' yang menempel pada 'raga'....
nah....
saya ini dalam perjalanan sebagai manusia yang mendambakan sebagai yang berbusana katholik/nasrani yang 'islami'...buddhis yang 'islami'.... hindus yang 'islami' atau bahkan ahmadiyah yang 'islami'... bahkan seorang 'atheis' yang 'islami'...
he he he he....
kang Wawan... kalau soal dogma dan doktrin sebuah hukum/syariat untuk menandai identitas bahwa saya berbusana 'tertentu'... itu masa lalu kang.... saya tidak mau mundur dan terjebak dalam 'ritual busana'... maka dari itu saya pun menelanjangi 'identitas' dan menanggalkan busana saya...
agak sulit ataui bahkan terlalu sulit bagi sebagian orang....
"pahala dan dosa"....
dan cita cita saya tetap sebagai manusia yang ISLAMI... dalam pengerian NILAI... bukan sekedar busana...
dalam mengamalkan IBADAH yang sesungguhnya secara kafah. 29 September jam 3:24 · SukaTidak Suka
Wawan Kardiyanto
kembali kang Suryo mengulangi lebih suka telanjang daripada berbusana bersih, suci, indah dan menenangkan hahaha...
apa yang kang Suryo yakini saat ini yang seperti ini:
"saya ini dalam perjalanan sebagai manusia yang mendambakan sebagai y...ang berbusana katholik/nasrani yang 'islami'...buddhis yang 'islami'.... hindus yang 'islami' atau bahkan ahmadiyah yang 'islami'... bahkan seorang 'atheis' yang 'islami'..."
insyaallah didengar, dicintai dan diridhoi Tuhan.... saya hanya bisa mendoakan.... Kepada orang-orang yang sholeh, baik itu beragama Kristen, Katholik,
Islam, Hindu, Budha, Khonghucu, Santho, Yahudi, Kejawen, aliran dinamisme maupun animisme, dll di segenap penjuru bumi dan di dalam ruang waktu kapan pun, smoga mereka mendapat curahan kebahagiaan dan keselamatan Tuhan di hari akhir kelak.
Sebab, mereka semua secara tulus telah berusaha beribadah dan
menggapai wajah Tuhan dengan mengharap kasih, cinta, dan ridho-Nya. Apakah orang-orang yang begitu tulus dan sholeh tersebut
tidak terselamatkan, gara-gara klaim setiap agama yang mengaku bahwa golongan mereka sendirilah yang terselamatkan?
Apakah Allah yang katanya Maha Adil dan Maha Kasih akan bertindak demikian, menghukum orang-orang yang sedemikian tulus mengharapkan Kasih dan sayang-Nya?”
(lihat: http://wawankardiyanto.wordpress.com/2008/11/20/antara-monoteisme-dan-multiisme/)
Harapan dan hampir menjadi keyakinan saya bahwa konsepsi seperti itu adalah "benar" khusus bagi yang disebut dalam konsili vatikan II sebagai orang Nasrani ANONIM.... yaitu orang non-nasrani yang sama sekali tidak "TAHU"... kabar Injil....
ketidaktahuan.... yaitu orang non-Muslim yang sama sekali tidak tahu kabar ajaran Islam karena tiada kabar Islam yang sampai kepadanya....
TAHU kadarnya beda dengan mengerti, memahami, dan meyakini.... sebuah KEBENARAN....
Konsep pikiran kita bisa bertingkat2 seperti itu dan ini sangat dipengaruhi oleh input pengetahuan yang hadir dalam rasio dan hati
kita.
01 Oktober jam 17:59 · SukaTidak Suka
Suryo Tanggono hmmmm....
aku mengenal diriku sendiri...
jauh lebih mengenal diri ku dibandingkan orang lain mengenal aku... Ha ha ha ha....
...sampai kapanpun diskusi kita kalau ranahnya hanya BUSANA [agama sebagai lembaga].... nggak akan sama-sama sepakat
Monggo kalau sampean menganggap busana anda paling cocok.... nggak usah membisarakan busana orang lain... itu soal selera .... Namun Hati hati dengan memahami 'kafir'...
=====
[40:10] Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari kiamat): "Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman lalu kamu kafir".
[40:2] Diturunkan Kitab ini (Al Qur'an) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui,
=====
apakah saya menolak pemahaman 'al quran...?? jawabannya Kang wawan tentu sudah tahu... =====
[25:3] Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.
[25:5] Dan mereka berkata: "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu,
dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang."
[25:6] Katakanlah: "Al Qur'an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
======
Kang saya memahami ISLAM sebagai NILAI... sudah melebihi sekedar BUSANA....
Dan ISLAM itu sangat UNIVERSAL ...
jalankan hidup kita menuju "NILAI-ISLAMI" ...
Beruntunglah manusia yang menjalankan syareat dengan memahaminya secara UTUH...
Dan BERBAHAGIALAH semua manusia yang mencapai NILAI KEHIDUPAN YANG ISLAMI....
BUSANA yang BERSIH dan SUCI.... menurut siapa....?
APA ARTINYA KALAU BUSANA yang BERSIH dan SUCI itu pada akhirnya hanya untuk mengamini tindakan tidak terpuji....
seperti PENJAHAT BERDASI....???? Kang Wawan....
Animisme dan Dinamisme itu biarlah sebagai "NILAI TAUHID" sendri yang diluar penalaran TAUHID menurut kita....
itu cuma simbol.... mau banyak atau mau sedikit atau mau TUNGGAL
"MANIFESTASI TUHAN" kita tidak perlu mengomentari 'mereka jelek' atau 'tidak berTAUHID'...
Biarlah KEPSRAHAN yang sudah kita tanamkan menjadi NILAI yang UTUH tanpa ada "RIYA" sekecil apapun....
Toh si sudut hati paling DALAM atau dalm "JIWA" kita semua tetap bersemayam TUHAN.... Kenalilah namaNya.... Kenalilah sifatNya... Kenalilah perbuatanNya.... Bersatulah denganNya... ....
dalam ibadah dalam kesadaran penuh KASIH dan CINTA TUHAN pada kita.... Janganlah kau lewatkan dalam ayunan nafasmu
Janganlah kau lewatkan dalam setiap detak jantungmu.... sepeti Buddha bilang....
seperti satu lilin yang menyalakan seribu lilin... Ha ha ha...
Kang Wawan... itu dulu ya...
---I've added smileys to this comment. Wanna see them? Go to http://c.faci4smilesonline.com/
...Lihat Selengkapnya 01 Oktober jam 18:46 · SukaTidak Suka
Wawan Kardiyantodalam lubuk hati yang terdalam... siapa yang tahu?? hanya diri kita sendiri dan Tuhan kita ALLAH SWT... hehehe...
01 Oktober jam 18:51 · SukaTidak Suka
Suryo Tanggonoitulah intinya... 01 Oktober jam 19:19 · SukaTidak Suka
Submit
Wawan Kardiyantoni serius kang... kang suryo sdh memilih bertelanjang berarti sdh melepas busana akang.. kang suryo memilih katolik yg islami, budha yg islami, hindu islami, bukan sebaliknya yakni islam yg kristiani, budha yg kristiani dstnya... artinya islam sbg nilai sudah mjd keyakinan dan iman sobat.. hy saja iman yg blom utuh, busana ritual bukan hal yg penting buat sobat... lalu 100/sen yakinkah kang suryo isi alquran itu sbuah kebenaran? yakinkah muhammad adalah nabi n rasulullah? jawab dgn tegas kang? hehehe...
04 Oktober jam 6:11 · SukaTidak Suka
Suryo Tanggono oo yang ini...???? ha ha ha ha... bersyahadat...???
Hallah... itu cuma ucapan bibir kang ...!!! Nggak Penting yang penting Hati....
...saya jawab .... Ya....!!! Ya dengan Jujur dan Tulus...
Lalu mau menayakan kapan saya melakukan shalat....??? ha ha ha ha....
Setiap ayunan nafas saya dan detakan jantung saya semaksimal mungkin saya maknakan sebagai dzikir saya....
apakah saya masih harus shalat 5 x sehari... saya sudah melakukan lebih dari itu kang...! 12 Oktober jam 7:55 · SukaTidak Suka
Wawan Kardiyanto surprise...
oke, jalur dan alur pikiran kang suryo sudah saya arahkan hahahaha.... sesuai dengan semestinya hehe....
skaarang kita tinggal diskusi mendalam tentang ritual ibadah dalam Islam sholat dll... begitu juga dengan agama lain....
...piye kang?? siap diskusi tentang mesti atau tidaknya ritual ibadah???Lihat Selengkapnya
12 Oktober jam 18:35 · SukaTidak Suka
Wawan Kardiyantojangan lari kang... ritual ibadah kalau dianggap tidak penting, 1000% saya jamin kang suryo salah besar.... hehe
Suryo Tanggono wah....!!!
1000 %....???
nek iki sampean wis kemaki....!!! sok tahu tentang makna ibadah....!!!! ...ha ha ha ha....
sori kang wawan....!!
sampean sangat dangkal memaknai sebuah makna ibadah.
menjebak dan mengurung makna ibadah hanya sebagai ritual...??? jadi "budak syariat"....???
pemaknaan sampean tentang 'fiqih' hanya dibingkai dengan ritual..?? itu cuma simbol kang....
apa sih tujuan ritual...?? maaf saya juga bisa kemaki... saya tidak membutuhkan itu...
Tapi untuk sampean memang dibutuhkan... karena cara sampean memahaminya memang beru segitu....
Sampean baru maknai 'shalat' sebagai 'shalat'... saya sudah lebih kang....
lebih dari sekedar bahasa dan ritual badani....
jiwa dan ruh saya yang 'shalat', bukan badan saya....!! persis seperti teman saya sekantor....
persis seperti pastor di lingkungan saya....
persis seperti saat seorang pendeta mengajakku "sembayang" di pura.. persis seprti bante / biksu saat saya mulai berbicara makna keniscayaan.... sudahkah sampean mengenal Tuhan lebih dari sekedar asma...?
sudahkah sampean mengenal Tuhan dalam sifat dan perbuatanNya?
sudahkah sampean memasuki 'nothingness'... kekosongan yang kosong...? Sampean sudah mempelajari Big Bang Theory, pelajarilah dengan seksama... antara materi dan anti-materi...?
Sudahkan sampean memahami "manusia" sebagai makhluk hayati dan sebagai makhluk imajener...?
ha ha ha ha... kang wawan....
pernah lihat Tuhan....? pernah lihat syurga....? Saya pernah....!!
baik secara fisik maupu secara 'rasa'... dalam manifestasiNya ...
dalam sifat dan perbuatanNya.... Sori kang....
sampean sudah tidak mempan membujuk rayu ...
ibarat seorang 'sarjana' dicobai / ditest dengan materi anak kelas satu SD... ha ha ha ha....
sori banget kang...
14 Oktober jam 7:33 · SukaTidak Suka
Wawan Kardiyanto
aku ra kemaki mas, tapi yakin seyakin-yakinnya.... and aku ra membujuk rayu....
hanya sekedar kewajiban saling nasehat menasehati dalam kebenaran... (surat al ikhlas)
mas, yang namanya bumi dan matahari dan seluruh materi jagat raya semuanya s...ujud, patuh dan pasrah (islami) menjalani ritual ibadahnya...
matahari towaf berputar sendiri dan mengelilingi pusat bintang galaksi bimasakti....
bumi towaf sendiri dan mengelilingi matahari begitu pula planet lainnya.... galaksi dan super cluster juga towaf...
begitu pula makhluk Allah yg lain...
lha mas suryo dgn kemaki malah menolak ritual ibadah kpd Tuhan...ntar kualat lho hehehe...
jenengan itu dihidupkan tidak hanya berbentuk ruh atau hati.... tapi ada badan.... badan dan jiwa ini perlu bukti ketaatan bakti kita kepada Tuhan.... itulah
kemestian ritual....
kita ini hanya sekedar hamba Tuhan mas.... kita bukan tuhan...
bisakah mas suryo membayangkan saat anda ada di langit tepat di atas ka'bah... sobat akan melihat pas haji, jutaan orang towaf mengelilingi ka'bah.... begitu indah dilihat....
jutaan orang sholat menghadap satu titik bersujud kepada Tuhan dalam satu titik kesatuan Tauhid....
milyaran muslim sedunia sujud dalam satu titik kesatuan Tauhid berdoa, saling mendoakan antar kaum muslimin yang didengungkan setiap hari lima (5) kali.... 17 rokaat
34 kali sujud....
kalau kita bisa melihat dan mendengarkan doa akbar di alam ini... sungguh sangat luar biasa dasyatnya mas...
rugi mas.... kalau kita meremehkan nilai ritual ibadah... 15 Oktober jam 18:13 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
Suryo Tanggono kang wawan...
rugi sekalai kalo saya harus mundur.... dan menilai ritual ibadah sebagai sebuah keharusan.... buat samapean mungkin... dan harus...
Bukankah ritualmu... ritual mereka.... dan ritualku memiliki makna yang sama....???
...Hamba Tuhan....???? ha ha ha ha ha....
seberapa dalam makna mengHAMBA yang sampean pahami....?? Shalat saya bukan pada badan kang....
bukan.... sama sekali bukan....!!
Badan ini hanya 'hayati' hanya sebagai 'ALAT" untuk mempermudah pada penghayatan makna shalat...
bukan di situ kang makna shalat... itu baru salah 'petujunjuk' untuk menuju pada DIA... dan banyak petujuk yang jauuuuhhh lebih memudahkahkan daripada sekedar 'shalat' yang kang wawan anjurkan pada saya...
pernahkah memahami bagaimana Ibrahim shalat? ... Jesus atau Isa shalat...??
....
Atau bahkan Sang Buddha shalat...?? ha ha ha...
Islam sebagai lembaga beda dengan Islam sebagai nilai... saya memilih pada memahami Islam sebagai nilai.... bukan sekedar lembaga yang militan dan dangkal.... Kang....
terima kasih atas niat baik mu....
15 Oktober jam 19:12 · SukaTidak Suka
Wawan Kardiyanto
Ini isi doanya Nabi Ibrahim (Bapaknya nabi2) dalam surat Ibrahim berikut ini:
Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat ...rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian
manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur.
Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.
Segala puji bagi Allah yang Telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (memperkenankan) doa.
Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.
Ya Tuhan kami, beri ampunlah Aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)?E
[Ibrahim: 37-41)
Nabi Ibrahim dan seluruh nabi2 dan juga mungkin Budha dll mereka semua mengerjakan shalat mas....
hanya bentuknya yang berbeda sesuai dengan petunjuk Tuhan pada jaman mereka masing2....
Shalat dlm bhs arab artinya= sebuah perbuatan tertentu yg bertujuan menyembah Tuhan..
jaman Ibrahim sampai Muhammad shalatnya hanya pagi dan petang. Caranya juga dengan bersuci dulu dan ada sujudnya...
Ritual ibadah nabi2 tidak hy shalat, tapi juga puasa dan ada "haji"... Haji adalah ritual warisan Ibrahim....
Ini perintah shalat di Injil mas:
Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah Perjanjian Lama – Kitab Keluaran 34:8
Masuklah, marilah kita sujud menyembah,
berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Perjanjian Lama – Kitab Mazmur 95:6
Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah Perjanjian Lama – Kitab Yosua 5:14
Tetapi Elia naik ke puncak gunung Karmel, lalu ia membungkuk ke tanah, dengan mukanya di antara kedua lututnya
Perjanjian Lama – Kitab I Raja-raja 18:42
Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka. Perjanjian Lama – Kitab Bilangan 20:6
Kemudian ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya lalu ia berlutut dan berdoa – Perjanjian Baru – Injil Lukas 22:41
Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa - Perjanjian Baru – Injil Markus 14:35
monggo... kalau maunya tidak melakukan ritual ibadah...