NONMUSLIM BELUM TENTU KAFIR dan TIDAK MA

122 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)
(2)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahiim,

Alhamdulillah, buku berjudul Non Muslim belum tentu Kafir dan Tidak Masuk Syurga ini dapat kami terbitkan dan sudah ada ditangan sobat pembaca. Secara teknis penulisan buku ini masih menyalahi metode ilmiah, tentang cara penyaduran khususnya dan masih utuhnya tulisan-tulisan orang dan sumber di luar penulis yang sengaja dimasukkan dalam buku ini. Sehingga buku ini masih bersifat bunga rampai dan penulis mohon maaf dan mohon keikhlasan penulis dan sumber lain yang sengaja kami sadur dan kutip di dalam buku ini. Buku ini merupakan wujud perenungan penulis selama kurang lebih sejak tahun 2000, dengan berdiskusi lintas agama lewat internet dan browsing dalam mempelajari tema ini kita dapatkan beberapa sumber internet yang menguatkan hipotesa saya dalam masalah ini.

(3)

Ternyata, mayoritas ulama muslim menyatakan bahwa kafir karena ketidaktahuan (kebodohan) adalah kafir yang dimaafkan. Orang yang tidaktahu, tidak mengerti dan orang yang tahu dan mengerti hukum yang dikenakan pada mereka sangat berbeda. Hal inilah yang penulis ketengahkan dan penulis sengaja publikasikan karena wacana atau ilmu ini sangat jarang dibahas dan dibicarakan para dai dan ulama dalam pendidikan dan syiarnya.

Sebagai penutup, Islam adalah rahmatan lil alamin. Ajaran Islam yang penuh rahmat kepada seluruh alam mestinya dapat membahagiakan seluruh alam semesta. Islam yang rahmat akan terkotori oleh cara-cara berpikir dan tindakan yang sama sekali jauh dari rahmat, contohnya anarki, kebencian, dan pengkafiran orang secara sembarangan. Dengan memahami bahwa mayoritas nonmuslim belum tentu kafir, atau sebaliknya bagi agama Kristen misalnya memandang mayoritas non kristiani belum tentu kafir, maka stigma bahwa agama-agama itu saling mencurigai akan sirna menjadi kehidupan bermasyarakat yang sejuk, saling kenal mengenal secara utuh.

(4)

DAFTAR ISI

BAB I IDE PEMIKIRAN (Muhammad diutus Allah tidak untuk

menghakimi hati seseorang) ……….……….. 3 BAB II Konsep Wahdat al-Adyan; ANTARA MONO DAN MULTI

sebuah renungan kritis……… 11 BAB III NON MUSLIM JUGA BISA MASUK SURGA?... 14 BAB IV HUKUM ORANG AWAM (bodoh) “TIDAK TAHU” DALAM

KEISLAMAN ……… 18

BAB V BEBERAPA PEMIKIRAN TENTANG HUKUM KEYAKINAN

DALAM ISLAM……… 21

BAB VI Konsili Vatikan II (DALAM AGAMA KATHOLIK) PERNYATAAN TENTANG HUBUNGAN GEREJA DENGAN

AGAMA-AGAMA BUKAN KRISTIANI ……… 25

BAB VII Untaian Mutiara Dalam Memahami Ayat Hukum……… 30 BAB VIII PERDEBATAN TENTANG KESELAMATAN DI LUAR

GEREJA KATHOLIK………. 42

BAB IX KESELAMATAN BAGI GOLONGAN ORANG AWAM

YANG “TIDAK TAHU”……….. 60

BAB X ISLAM ETIC IS UNIVERSAL RELIGION (Katolik Islami, Kristen Islami, Budha Islami, Hindu Islami dll.) 86

BAB XI PROTOTIPE MANUSIA BERKEYAKINAN……… 106

(5)

BAB I IDE PEMIKIRAN

Muhammad diutus Allah tidak untuk menghakimi hati seseorang

DE PEMIKIRAN

Muhammad diutus Allah tidak untuk menghakimi hati seseorang Landasan dalam Qur’an:

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal shaleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2 : 62)

Riwayat Asbabun nuzul ayat Qur’an tersebut (terjemahan bebas) sbb:

” ada seorang sahabat nabi Muhammad (fulan) bertanya kepada nabi, “Bagaimana nasib sahabatnya yang beragama yahudi, nasrani, shabiin kelak di hari pembalasan? Nabi pada awal menjawab, “mereka semua tidak akan selamat.” Mendengar sabda nabi itu si fulan bermuram durja mukanya. Kemudian turunlah ayat (QS. 2: 62) tersebut untuk

mengingatkan kepada nabi Muhammad bahwa hanya Allah-lah yang berhak mengklaim keselamatan seseorang di hari pembalasan kelak. selanjutnya kala menerima ayat itu Muhammad segera sadar dan meralat sabdanya kepada fulan dengan membacakan ayat itu. Maka, sahabat tersebut langsung berwajah cerah dan berbahagia.

Tafsir ayat ini, mayoritas ulama tafsir memang menyatakan bahwa yang dimaksud “mukmin, yahudi, nasrani. shabiin itu adalah mereka yg hidup sebelum Muhammad datanglah yang akan selamat. Bukan setelahnya. Tapi bagi penulis setelah mendalami kajian tentang HUKUM ORANG AWAM (bodoh) “TIDAK TAHU” DALAM

KEISLAMAN, yang mayoritas ulama menyatakan KESELAMATAN BAGI GOLONGAN ORANG AWAM

YANG “TIDAK TAHU” dan setelah mendalami dan menyaksikan khusuknya umat agama2 menyembah Tuhannya masing2 dan beramal sholeh, maka ayat tersebut masih berlaku bagi mereka yang tergolong orang awam karena ketidaktahuannya dan

(6)

Penulis juga mencoba membuat prototipe MANUSIA BERKEYAKINAN sbb: PROTOTIPE MANUSIA BERKEYAKINAN

1. Beriman : Orang yang Iman kepada Allah YME dan beramal sholeh = (selamat)

2. Kafir : Orang yang ingkar kepada Allah YME = (tidak selamat)

3. Munafik : Orang yang bermuka dua (ingkar dan iman) = (selamat dan tidak selamat dengan syarat)

4. Dholim : Orang yang banyak berdosa = (selamat dengan syarat) 5. Awam : Orang yang beriman tapi bodoh (selamat dengan syarat)

Tingkat Keselamatan Berdasarkan Pengetahuan, Keimanan dan Amal (Tahu dan mengerti Islam, Iman kepada Allah YME dan beramal baik)

1. Orang yang Tahu, Mengerti, Iman dan Beramal baik (taqwa) 2. Orang yang Tahu, Mengerti, Iman tapi tidak beramal baik (dholim) 3. Orang yang Tahu, Mengerti , Tidak Iman tapi beramal baik (kufur) 4. Orang yang Tahu, Mengerti , Tidak Iman dan tidak beramal baik (kufur) 5. Orang yang Tahu, Tidak Mengerti , Iman dan Beramal baik (awam)

6. Orang yang Tahu, Tidak Mengerti , Iman dan Tidak Beramal baik (dholim) 7. Orang yang Tahu, Tidak Mengerti, Tidak Iman tapi Beramal baik (kufur) 8. Orang yang Tahu, Tidak Mengerti, Tidak Iman dan Tidak Beramal baik

(kufur)

9. Orang yang Tidak Tahu, Tidak Mengerti, Iman dan Beramal baik (awam) 10. Orang yang Tidak Tahu, Tidak Mengerti, Iman dan Tidak Beramal baik

(dholim)

11. Orang yang Tidak Tahu, Tidak Mengerti, Tidak Iman tapi Beramal baik (kufur)

12. Orang yang Tidak Tahu, Tidak Mengerti, Tidak Iman dan Tidak Beramal baik (kufur)

ADA sebuah hadist driwayatkan:

“Dari Miqdad bin ‘Amr ; ia pernah bertanya kepada Nabi : Bagaimana jika ia berperang dengan kaum kafir, lalu berkelahi dengan seorang diantaranya hingga tangannya terputus dan dalam satu kesempatan sang musuh berhasil dijatuhkan lalu saat akan dibunuhnya dia berseru “Aslamtu lillah” – aku Islam kepada Allah – namun masih dibunuhnya, apa jawab Nabi ?

(7)

Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-in, orangorang

Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi

keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. (QS. 22:17)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra. :

Bahwa Sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami pada hari kiamat? Rasulullah saw. bersabda: Apakah kalian terhalang melihat bulan di malam purnama? Para sahabat menjawab: Tidak, wahai Rasulullah. Rasulullah saw. bersabda: Apakah kalian terhalang melihat matahari yang tidak tertutup awan? Mereka menjawab: Tidak, wahai Rasulullah. Rasulullah saw. bersabda: Seperti itulah kalian akan melihat Allah. Barang siapa yang menyembah sesuatu, maka ia mengikuti sembahannya itu. Orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, orang yang menyembah berhala mengikuti berhala.

Tinggallah umat ini, termasuk di antaranya yang munafik. Kemudian Allah datang kepada mereka dalam bentuk selain bentuk-Nya yang mereka kenal, seraya

berfirman: Akulah Tuhan kalian. Mereka (umat ini) berkata: Kami berlindung kepada Allah darimu. Ini adalah tempat kami, sampai Tuhan kami dating kepada kami. Apabila Tuhan datang, kami tentu mengenal-Nya. Lalu Allah Taala dating kepada mereka dalam bentuk-Nya yang telah mereka kenal. Allah berfirman: Akulah Tuhan kalian. Mereka pun berkata: Engkau Tuhan kami. Mereka mengikuti-Nya.

Dan Allah membentangkan jembatan di atas neraka Jahanam. Aku (Rasulullah saw.) dan umatkulah yang pertama kali melintas. Pada saat itu, yang berbicara hanyalah para rasul. Doa para rasul saat itu adalah: Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah. Di dalam neraka Jahanam terdapat besi berkait seperti duri Sakdan (nama tumbuhan yang berduri besar di setiap sisinya). Pernahkah kalian melihat Sakdan? Para sahabat menjawab: Ya, wahai Rasulullah. Rasulullah saw. melanjutkan: Besi berkait itu seperti duri Sakdan, tetapi hanya Allah yang tahu seberapa besarnya. Besi berkait itu merenggut manusia dengan amal-amal mereka. Di antara mereka ada orang yang beriman, maka tetaplah amalnya. Dan di antara mereka ada yang dapat melintas, hingga selamat. Setelah Allah selesai memberikan keputusan untuk para hamba dan dengan rahmat-Nya Dia ingin

(8)

dibolehkan kepada Allah. Kemudian Allah Taala berfirman: Mungkin, jika Aku

mengabulkan permintaanmu, engkau akan meminta yang lain. Orang itu menjawab: Aku tidak akan minta yang lain kepada-Mu. Maka ia pun berjanji kepada Allah. Lalu Allah memalingkan wajahnya dari neraka. Ketika ia telah menghadap dan melihat surga, ia pun diam tertegun, kemudian berkata: Ya Tuhanku, majukanlah aku ke pintu surga. Allah berkata: Bukankah engkau telah berjanji untuk tidak meminta kepada-Ku selain apa yang sudah Kuberikan, celaka engkau, hai anak-cucu Adam, ternyata engkau tidak menepati janji. Orang itu berkata: Ya Tuhanku! Dia memohon terus kepada Allah, hingga Allah berfirman kepadanya: Mungkin jika Aku memberimu apa yang engkau pinta, engkau akan meminta yang lain lagi. Orang itu berkata: Tidak, demi Keagungan-Mu. Dan ia berjanji lagi kepada Tuhannya. Lalu Allah mendekatkannya ke pintu surga. Setelah ia berdiri di ambang pintu surga, ternyata pintu surga terbuka lebar baginya, sehingga ia dapat melihat dengan jelas keindahan dan kesenangan yang ada di dalamnya. Dia pun diam tertegun. Kemudian berkata: Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam surga. Allah Taala berfirman kepadanya: Bukankah engkau telah berjanji tidak akan meminta selain apa yang telah Aku berikan? Celaka engkau, hai anak cucu Adam, betapa engkau tidak dapat menepati janji! Orang itu berkata: Ya Tuhanku, aku tidak ingin menjadi makhluk-Mu yang paling malang. Dia terus memohon kepada Allah, sehingga membuat Allah Taala tertawa (rida). Ketika Allah Taala tertawa Dia berfirman: Masuklah engkau ke surga. Setelah orang itu masuk surga, Allah berfirman kepadanya: Inginkanlah sesuatu! Orang itu meminta kepada Tuhannya, sampai Allah mengingatkannya tentang ini dan itu. Ketika telah habis keinginan-keinginannya, Allah Taala berfirman: Itu semua untukmu, begitu pula yang semisalnya. (Shahih Muslim No.267)

Titik Temu (kalimat Sawa’)

“Katakanlah olehmu (Muhammad): wahai Ahli Kitab! Marilah menuju ke titik

pertemuan (kalimah sawa’) antara kami dan kamu: yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak memperserikatkan-Nya kepada apa pun, dan bahwa sebagian dari kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai “tuhan-tuhan ” selain Allah. “(QS. 3:64)

Budi Munawar Rachman dalam artikelnya yang berjudul Filsafat Perennial dan Masalah Klaim Kebenaran berpendapat; Salah satu kesadaran yang sangat berakar dalam

pandangan seorang Muslim: Agama Islam adalah sebuah agama universal untuk sekalian umat manusia. Landasan prinsip-prinsip tersebut adalah Tunggal, meskipun ada berbagai manifestasi lahiriahnya yang beraneka ragam. Ini juga yang telah menghasilkan

pandangan antropologis bahwa pada mulanya umat manusia adalah Tunggal, karena berpegang kepada Kebenaran Tunggal (Tuhan). Tapi kemudian manusia berselisih paham, justru setelah penjelasan tentang Kebenaran itu datang, dan mereka berusaha memahami Kebenaran itu, setaraf dengan kemampuan atau sesuai dengan keterbatasan mereka. Sehingga di sinilah mulai terjadi perbedaan penafsiran terhadap kebenaran Yang Tunggal itu. Perbedaan itu itu kemudian dipertajam oleh kepentingan pribadi dan

kelompok (vested interest).

(9)

Pokok pangkal kebenaran universal yang tunggal itu ialah paham Ketuhanan Yang Maha Esa, atau Tauhid. Tugas para rasul adalah menyampaikan ajaran tentang Tauhid ini, serta ajaran tentang keharusan manusia tunduk patuh hanya kepada-Nya saja (Islam).Dan, justru berdasarkan paham ketauhidan inilah, Alqur’an mengajarkan paham kemajemukan keagamaan (religious plurality). “Tidak ada paksaan untuk beragama, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa ingkar kepada Thaghut (syaitan dan apa saja yang disembah selain Allah), dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amatkuat yang tidak akan putus.”(QS. 2:256)

Dalam pandangan teologi Islam, sikap ini dapat ditafsirkan sebagai suatu harapan kepada semua agama yang ada: Bahwa semua agama itu pada mulanya menganut prinsip yang sama. Karena alasan inilah Alqur’an mengajak kepada “titik pertemuan” atau dalam istilah Alqur’annya adalah: kalimatun Sawa’. “Katakanlah olehmu (Muhammad): wahai Ahli Kitab! Marilah menuju ke titik pertemuan (kalimah sawa’) antara kami dan kamu: yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak memeperserikatkan-Nya kepada apa pun, dan bahwa sebagian dari kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai “tuhan-tuhan ” selain Allah. “(QS. 3:64)

(10)

Sketsa gambar itu adalah hasil renungan saya yang dapat diartikan sebagai berikut: Islam adalah Dinullah (Agama Allah yg Real) diberikan kepada manusia lewat seluruh para nabi dan rasul. Islam-lah yg dibawa Adam, Ibrahim, Musa, Nuh, Isa sampai Muhammad. Bukti mudahnya adalah arti kata Islam itu sendiri adalah Islam

mengandung arti berserah diri, tunduk, patuh dan taat sepenuhnya kepada kehendak Allah. Kepatuhan dan ketundukkan kepada Allah itu melahirkan keselamatan dan kesejahteraan diri serta kedamaian kepada sesama manusia dan lingkungannya.

Silahkan artikan kata Agama yang lain, tidak sedalam dan sejalan dgn substansi ajaran Allah. Jadi, secara substansi (esoteris) Non-Muslim adalah masih mempunyai sifat Islami dan beragama Islam kalau mereka masih sepakat kepada Kalimat Kalimatun Sawa’= kalimat titik temu yaitu IMAN KEPADA ALLAH YANG ESA. ALLAH artinya TUHAN secara Dzat maupun sifatNYA.

dari landasan Qur’an dan Hadist dan Ijtihad di atas Islam mengajarkan dengan pasti bahwa:

1. Muhammad diutus Allah tidak untuk menghakimi hati seseorang.

2. Keselamatan seseorang di akherat kelak adalah mutlak hak Allah semata. 3. Islam melarang meng”kafir”kan secara sembarangan seseorang (non muslim).

Syiar yang Rahmatan lil alamin tidak mengenal slogan pengkafiran yang

sembarangan. Jangan sebut mereka (non muslim itu kafir), sebut saja mereka ahli kitab dari Nasrani, Yahudi, Budhis, Hinduis dll.

4. Orang mukmin, yahudi, nasrani, shabiin, majusi dll sebagai seorang manusia mempunyai derajat yang sama di mata Tuhan.

(11)

BAB II

Konsep Wahdat al-Adyan; ANTARA MONO DAN MULTI

sebuah renungan nakal

Pandangan beberapa ulama Islam popular yang kontroversial, seperti Hallaj, al-Rumi, dan ibn Arabi tentang konsep wahdat al-adyan, yaitu konsep yang menyatakan bahwa pada dasarnya sumber agama adalah satu, yaitu Tuhan yang sama, yang juga menghadirkan polemik kontroversi antara monotheisme dan politheisme paling tidak cukup menarik untuk disimak dan direnungi.

Al-Hallaj pernah mengatakan: “Kufur dan iman hanya berbeda dari segi nama, bukan dari segi hakikat, karena keduanya tidak ada perbedaan.” Oleh karena itu, maka al-Hallaj menyalahkan orang yang menyalahkan agama orang lain (Abd al-Hakim Hasan. 1954: 375). Barang siapa mencaci maki orang dengan mengatakan agamanya batal, maka berarti ia telah menghukumi agamanya sendiri. Lebih ekstrim lagi ia mengatakan: “Ketahuilah bahwa Yahudi, Nasrani, Islam dan sebagainya adalah julukan yang berbeda-beda”. Hal ini tersirat dalam syairnya:

“Aku memikirkan agama-agama dengan sungguh-sungguh. Kemudian sampailah pada kesimpulan bahwa ia mempunyai banyak sekali cabang. Maka jangan sekali-kali mengajak seorang terhadap suatu agama, karena sesungguhnya akan menghalangi untuk sampai pada tujuan yang kokoh. Tetapi ajaklah mereka melihat asal/sumber segala kemuliaan dan makna, maka dia akan memahaminya.” (Abd. al-Hafidz bin Muhammad Madani Hasyim, t.th. : 39).

Demikianlah, konsep wahdat al-adyan yang memandang bahwa sumber agama adalah satu, yakni Tuhan yang sama, memandang bahwa wujud agama hanyalah bungkus lahirnya saja.

Selanjutnya al-Hallaj juga berpendapat:

“If the well-Guided was pleased with indirect information how searches the route not suffice himself whit an indirect race. From the Burning Bush on the side of Sinai What he heard speak from the Bush was not the Bush nor its seed, but Allah. And my role is like this Bush.”(al-Hallaj, 1974 : 28 ).

Pandangan ini merupakan konsekuensi dari kesadaran diri atas “kehadiran” Tuhan di setiap tempat, dalam semua agama. Karena pada dasarnya agama yang dipeluk oleh seseorang secara tidak langsung merupakan “bukan hasil pilihan sendiri” (Abu al-Wafa al-Ghanami al-Taftazani, 1983 : 132). Senada dengan itu John Hock berpendapat bahwa 99% keyakinan agama tergantung kepada tempat di mana seseorang dilahirkan. Seseorang yang lahir di Thailand sangat mungkin beragama Budha, yang lahir di Saudi Arabia sangat mungkin beragama Islam dan sebagainya (John Hick t.th. : 1-2)

(12)

nampaknya ada sesuatu yang kontradiktif. Bagaimana mungkin dapat terjadi, tauhid menghendaki konsep keesaan Tuhan secara mutlak, sementara wahdat al-adyan mempersilahkan kehadiran konsep ketuhanan vang bagaimanapun bentuknya (Louis Lassignon, t.th. : 316). Bagi al-Hallaj, Tuhan itu satu, unik, sendiri, dan terbukti satu. Dalam sya'irnya al-Hallaj menulis :

“He is Allah the living. Allah is One. Unique, Alone and testifid as One. Both the One and the progession of Unity of the One are in Him and form Him. From Him comes the distance that separates others From His Unity. The knowledge if Tawhid is an autonomous abstract cognizance.”(al-Hallaj, 1974 : 52-53).

Baginya, Tuhan tidak bisa disifati apapun. Pensifatan pada-Nya hanya akan membatasi-Nya (Louis Lassignon, t.th. :.319). Maka konsep Tuhan yang satu harus pula dipahami secara unik, karena Tuhan adalah kesatuan yang mutlak dari keseluruhannya. Menurut al-Hallaj, penyembahan melalui konsep monotheisme, ataupun politheisme, tak masalah bagi Tuhan. Pada dasarnya keduanya hanya berkaitan dengan logika, yakni antara yang satu dan yang banyak. Dari situ juga ditelusuri akan dijumpai kepercayaan-kepercayaan yang apabila ditafsirkan akan mengarah kepada satu Tuhan (Kautsar Azhar Noer, t.th. : 321).

Konsep wahdat al-adyan ini juga dikembangkan oleh Ibn Arabi dengan agama universalnya, yaitu suatu agama yang mistikal dan bukan sekedar theistikal, yakni suatu faham bahwa Tuhan tidak dapat disifati dan dibatasi oleh suatu apapun. Ibnu Arabi mengatakan :

“Sungguh hatiku telah menerima berbagai bentuk. Tempat pengembalaan bagi kijang dan biara bagi pendeta, rumah bagi berhala dan ka'bah bagi yang thawaf, sabak bagi taurat dan cinta… cinta itulah agama dan imanku.”(Ibnu Arabi, 1980: 77-78 ).

Pemikiran Ibn Arabi mengenai wahdat al-adyan ini dapat kita lacak dari pemahaman logikanya mengenai makna yang satu wahid) dan yang banyak (al-katsir), di sini Ibn Arabi memulainya dengan konsep wahdat al-wujud, dasar filosofis dalam memahami Tuhan dalam hubungan-Nya dengan alam. Tuhan tidak bisa dipahami kecuali dengan memadukan dua sifat yang berlawanan padanya. Bahwa wujud hakiki hanyalah satu, yakni Tuhan, Al-Hallaq. Meski wujud-Nya hanya satu, Tuhan menampakkan dirinya [tajjala] dalam banyak bentuk yang tidak terbatas pada alam. (Kautsar Azhari Noer, 1995 : 74)

Lebih lanjut ia berpendapat, hubungan ontologis antara yang satu dan yang banyak menggunakan penjelasan matematis. Bilangan-bilangan berasal dari yang satu (dari pengulangannya) menurut pengelompokkan yang telah diketahui. Yang satu mewujudkan satu bilangan. Sedang bilangan menyebarkan yang satu. Hukum bilangan hanya ada karena adanya yang dibilang, dihitung. Setiap unit bilangan adalah realitas seperti sembilan dan sepuluh sampai kepada yang terkecil dan yang tertinggi hingga tanpa batas. Tak satupun dari unit itu yang merupakan kumpulan (dari satu-satu) semata, namun pada pihak lain, masing-masing unit merupakan kumpulan satu-satu (Ibnu Arabi, 1980 : 77-78)

(13)

“Aku seorang Muslim, tetapi aku juga seorang Nasrani, Brahmanisme, dan Zaratustraisme. Aku pasrah kepada-Mu wahai al-Haqq yang Mulia ... aku hanya mempunyai satu tempat ibadah masjid atau gereja atau rumah berhala. Tujuanku hanya pada Dzat Yang Mulia.(Ahmad Amin, 1993 : xi-xix).

Sisa hidupnya sebagaimana digambarkan oleh anaknya (Sultan Walad) ditandai oleh keintiman mistik untuk mencapai tingkat “manusia sempurna” yaitu seorang dari orang-orang vang mencerminkan sifat-sifat Illahi (Ahmad Amin, 1993 : x1 - xix).

Filsafat al-Rumi diilhami oleh gagasan monistik. Dia mengatakan “Matsnawi” adalah kedai kesatuan (wahdah) : setiap sesuatu yang engkau lihat dari sana selain yang Esa adalah berhala. Mengenai medan pertempuran dalam kehidupan, ia pahami bahwa seluruh pertentangan dan perselisihan itu hanya berperan melaksanakan tugasnya dalam menjaga fungsi keharmonisan alam semesta yang hanya disadari oleh para sufi (Ahmad Amin, 1993 : xi-xix).

Beberapa pernyataan al-Hallaj, ibn-Arabi dan Rumi di atas memang mengandung pengertian yang saling bertolak belakang. Namun kebertolak-belakangannya bukannya tidak mungkin mengandung pengertian hakekat kebenaran. Puncak-puncak pikiran orang-orang unik yang didapat dari hasil pengembaraan pengalaman keagamaannya patut menjadi sebuah harapan hakiki. Paling tidak, dalam merenungi kenyataan diciptakannya perbedaan di muka bumi ini oleh Allah, dapat kita dapati hakekat tujuan dan maknanya.

Perbedaan multikultural adalah rahmat Allah. Di mana dalam perbedaan itu kita diwajibkan saling kenal-mengenal, bukannya saling menghujat dan menyalahkan. Apalagi untuk bermusuhan dan saling membunuh. Setelah kita saling kenal maka kita akan bisa saling mengetahui, memahami dan mengasihi satu sama lainnya tanpa syarat. Hanya keimanan yang terwujud dalam kepatuhan dan kepasrahan serta amalan kita saja yang nanti akan dinilai oleh Allah. Dan Kalimatun Sawa yang mengandung kembalinya segala perbedaan itu ke asalnya yang Hakiki adalah wujud puncak dari kepatuhan atas segala perbedaan yang diharapkan.

Persepsi kebenaran manusia adalah nisbih. Kebenaran adalah hanya Haq Allah. Dan penulis mengakhiri kolom ini dengan pernyataan;

“Kepada orang-orang yang sholeh, baik itu beragama Kristen, Katholik, Islam, Hindu, Budha, Khonghucu, Santho, Yahudi, Kejawen, aliran dinamisme maupun animisme, dll di segenap penjuru bumi dan di dalam ruang waktu kapan pun, smoga mereka mendapat curahan kebahagiaan dan keselamatan Tuhan di hari akhir kelak. Sebab, mereka semua secara tulus telah berusaha beribadah dan menggapai wajah Tuhan dengan mengharap kasih, cinta, dan ridho-Nya. Apakah orang-orang yang begitu tulus dan sholeh tersebut tidak terselamatkan, gara-gara klaim setiap agama yang mengaku bahwa golongan mereka sendirilah yang terselamatkan? Apakah Allah yang katanya Maha Adil dan Maha Kasih akan bertindak demikian,

menghukum orang-orang yang sedemikian tulus mengharapkan Kasih dan sayang-Nya?”

(14)

BAB III

NON MUSLIM JUGA BISA MASUK SURGA? Aug 20, '07 3:33 AM for everyone

Siapakah mereka yang Masuk Surga!

Selama ini kita umat Islam mengenal kafir sebagai orang yang bukan beragama Islam, dan seperti diketahui kata kafir berarti suatu cap kalau orang itu bakal dipastikan masuk neraka! Artinya jika seseorang terlahir dari keluarga Islam dan tercetak kata Islam di KTP-nya karcis untuk masuk surga sudah di tangan. Tapi apa benar demikian? Coba lihat ayat ini..

“Sesungguhnya orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Sabiin, dan orang-orang Nasrani; barangsiapa yang beriman kepada Allah, kepada Hari Kemudian, dan berbuat kebaikan, maka tidak ada rasa khawatir padanya dan tidak perlu bersedih hati.” (5:69/2:62)

“Ahli Kitab ada yang baik, mereka mengagungkan wahyu Allah sepanjang malam, mereka ada yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka menyuruh berbuat baik, dan mereka adalah orang saleh! Apa saja kebaikan mereka maka tidak diingkari pahalanya” (3:113-115)

(15)

“Ahli Kitab ada yang beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada umat Islam dan kepada mereka, mereka rendah hati dan tidak memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga murah!” (3:199)

Melihat dalil diatas berarti dapat juga orang yang berlabel agama non muslim dapat diridhoi atau diberkati oleh Allah. Memang betul ada ayat Qur'an yang mengatakan bahwa Islam diakui sebagai agama yang diridhoi, “Sesungguhnya agama disisi Allah ialah Islam” (3:18)

Saya sebagai muslim meyakini itu...namun Islam disini saya lebih melihatnya sebagai institusi yang diridhoi. Sekarang pertanyaannya kalau begitu apa sudah terjamin sekedar memasuki institusinya saja kita manusia bakal selamat ke surga? coba lihat apa yang dikatakan oleh Allah saat bicara tentang siapa-siapa saja yang masuk surga... “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka Tuhan yang Maha Pengasih akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Q.S. Maryam:96) “Berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, bahwasanya mereka itu akan memperoleh surga yang di bawahnya mengalirlah beberapa sungai.” (Q.S. Al-Baqarah:25)

Terlihat dari banyaknya ayat-ayat Qur'an, syarat pertama masuk surga adalah mereka yang disebut ‘beriman’ dan bukan mereka yang berlabel ‘agama Islam’. Syarat kedua adalah beramal saleh atau berbuat kebaikan.

(16)

“Barangsiapa kafir kepada Allah setelah beriman, kecuali mereka yang dipaksa kafir, padahal hatinya tetap tenang dalam beriman, namun orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah akan menimpanya!” (16:106)

Kesimpulannya bagi saya adalah bahwa agama Islam bukanlah agama simbol dan ritual. Simbol dan ritual dalam institusi agama Islam adalah alat untuk menyempurnakan hati dan bukan jadi tujuan utamanya. Dengan kata lain, agama Islam adalah agama yang tujuan utamanya mengukir hati manusia menjadi baik dan mulia, bukan mengukir simbol dan ritual menjadi agung! Siapa yang Kafir?

Pertanyaannya sekarang siapakah orang kafir kalau gitu? Penelusuran saya terhadap Qur'an, malah didapat makna kafir yang lain, penjelasan umumnya bukannya ditekankan pada label ‘non islam’ tetapi lebih banyak ditekankan kepada kondisi hati manusia yang sengaja dibuat buruk atau digelapkan terhadap kebenaran!

“Mereka menentang untuk mentaati lalu diresapi ke Hati mereka karena kekafiran” (2:93) “Orang yang dalam Hatinya ada penyakit, maka akan menambah kekafiran yang telah ada dan mereka akan mati dalam kekafiran!” (9:125)

Mereka ini dipertegas lagi oleh Al Qur’an memakai kata ‘kaum penyangkal’, bukan dengan kata ‘non muslim’! “Perumpamaan orang kafir adalah seperti mengajak bicara orang yang Buta dan Tuli “ (11:24)

“Kaum penyangkal diberi peringatan atau tidak sama saja!” (2:6-7)

“Perumpamaan menyeru orang kafir adalah seperti memanggil yang tidak mendengar selain panggilan dan seruannya saja. Mereka, tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak mengerti” (2:171)

“Sama saja bagi mereka engkau memperingati atau tidak memperingati, mereka tidak beriman juga.” (36:10)

Kalau mau dibuat perumpamaan, kafir mungkin bisa saya artikan dalam kisah berikut...kalo di depan ada jalan rusak berat, lalu kita diperingati...tapi karena hati kita ngotot dan benci sama itu orang yang memperingati, maka saya gak mau dengar apalagi nurut...ya karena itu, saya jalan terus aja, cuek...lalu BRUUKK! yaa jeblos deh...Intinya hati yang kafir menyebabkan kita buta sama kebenaran, menyangkalnya hanya karena kita sombong dan penuh kebencian.

(17)

(baca:pajak!) bagi kepentingan hidup dan eksistensi para elit di organisasi perjuangan tersebut! Orang-orang seperti ini biasa shalat, puasa atau naik haji tetapi mereka biasa menzalimi manusia lain untuk kepentingan dirinya sendiri, membenarkan dan memanipulasi dalil-dalil untuk kepentingan diri sendiri...mereka menutup diri dari nasihat dan pertimbangan orang, gampang menghina dan mengecilkan manusia lain...dan yang mereka ingin dengar adalah apa yang sesuai dengan keyakinan dirinya sendiri..bukankah ini ciri-cirinya orang kafir juga...?

Sumber:

(18)

BAB IV

HUKUM ORANG AWAM (bodoh) “TIDAK TAHU” DALAM KEISLAMAN

Kebodohan bukan sifat yang selalu melekat pada manusia dalam tiap kondisinya. Tetapi ada bentuk kebodohan yang melekat pada manusia sebagai akibat dari perbuatannya sendiri yaitu kelalaiannya dalam upaya menghilangkan kebodohan tersebut dengan cara belajar. Oleh karena itu hukum kebodohan dalam masalah agama berubah sesuai dengan perubahan hukum kebodohan yang dapat dimaafkan karena sebab-sebab syariat;pertama, adalah sebab kesulitan untuk melepaskan diri dari kebodohan tersebut. Kedua, adalah tidak adanya kelalaian mukallaf dalam tindakannya yang muncul dari kebodohan yang dimaafkan tersebut. Jadi kebodohan tidak dapat dijadikan alasan kecuali jika ada kesulitan dan kendala untuk menghindarinya jika kesulitan dan kendala itu hilang dan ia dapat mengetahui hukum agama tetapi ia lalai maka kebodohannya tidak dapat dimaafkan.

Syekh Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Orang yang meninggalkan kewajiban dan melanggar larangan bukan berdasarkan keyakinan dan bukan pula karena kebodohan yang dapat dimaafkan, tetapi karena kebodohan dan berpaling dari kewajibannya mencari ilmu dengan kemampuan yang ada pada dirinya atau ia telah mendengar diwajibkannya hal ini dan diharamkannya hal itu dan ia tidak melaksanakannya karena ia berpaling dan bukan karena keingkarannya pada kerasulan. Kedua bentuk penyimpangan ini banyak terjadi karena meninggalkan kewajiban mencari ilmu yang diperintahkan kepadanya hingga ia meninggalkan kewajiban dan melakukan larangan tanpa mengetahui bahwa perbuatan itu telah diwajibkan dan yang lain diharamkan atau kabar telah sampai kepadanya dan ia tidak berusaha mengikutinya karena fanatik terhadap mazhabnya atau karena mengikuti hawa nafsunya maka tindakan ini telah meninggalkan keyakinan yang diwajibkan tanpa alasan syar’i. Ibnu al-Luham mengatakan “Jika kami mengatakan bahwa orang bodoh dapat dimaafkan maka yang kami maksudkan dengan pernyataan ini adalah apabila ia tidak lalai dan tidak meremehkan dalam mempelajari hukum. Sedangkan apabila ia lalai maka ia tidak dimaafkan.” (Syadzarat adz-Dzahab juz 7 h. 31 dan Mu’jam al-Mu’allifin juz 2 h. 510).

(19)

yang memungkinkan baginya utk mengetahui kebenaran dan ia berpaling darinya dengan mukallaid (kebodohan) yang tidak memungkinkan baginya utk mengetahui kebenaran itu. Kedua bentuk taklid ini ada dalam realitanya maka seorang mukallid (bodoh) yang memungkinkan baginya mengetahui kebenaran tetapi ia berpaling dan melalaikannya maka ia tidak dimaafkan di hadapan Allah..” Bentuk kebodohan ini adalah kebodohan yang terjadi akibat berpaling dari dan menghindari ilmu. Kebodohan bentuk ini merupakan kebodohan yang dapat dihindari dan dihilangkan; karena mukallaf yang tetap dalam kebodohan ini adalah pilihannya dan keberadaannya yang tanpa ilmu merupakan kehendaknya. Maka seseorang yang bodoh yang tidak mengetahui hukum agama karena ia berpaling dari ilmu yang memungkinkan baginya untuk memperolehnya sama dengan orang yang ingkar yang melihat kebenaran tetapi ia tidak melaksanakannya. Berdasarkan analisis terhadap pendapat beberapa ulama dapat dilihat bahwa sebagian mereka berpendapat bahwa kebodohan yang dapat dihindari oleh mukallaf tidak dapat dijadikan alasan baik karena kelalaian si mukallaf sendiri dalam mencari ilmu dan ia lebih memilih tetap dalam kebodohan tersebut maupun karena kebodohan tersebut berkaitan dengan masalah-masalah yang hukumnya telah diketahui secara jelas dan umum di kalangan masyarakat.

Imam Suyuthi Rahimahullah berkata, “Setiap orang yang tidak mengetahui mengenai sesuatu yang telah diharamkan dan diketahui oleh mayoritas masyarakat ia tidak dimaafkan kecuali orang tersebut baru mengenal Islam atau hidup di daerah terpencil yang sulit mengetahui hal tersebut.”

Imam al-Muqarri Rahimahullah mengatakan, “Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan kepada para ulama utk menjelaskan hukum-hukum, Maka tidaklah diterima kebodohan seseorang yang memungkinkan baginya untuk mempelajarinya.”

(20)

tersebut tidak dapat dijadikan alasan dan karena itu pula mukallaf akan menerima segala akibat sesuai dengan perbuatannya.. Allahu a’lam.

Sumber Al-Jahl bi Masail al-I’tiqad wa Hukmuhu Abdurrzzaq bin Thahir bn Ahmad Ma’asy Al-Islam -Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

(21)

BAB V

BEBERAPA PEMIKIRAN TENTANG HUKUM KEYAKINAN DALAM ISLAM

Semua penjelasan yang dibutuhkan manusia untuk mengetahui, meyakini dan mempercayai masalah-masalah tauhid kenabian dan hari akhir, masalah halal dan haram telah dijelaskan Allah dan Rasul-Nya. Karena masalah-masalah tersebut merupakan masalah-masalah yang paling penting yang harus disampaikan oleh Rasulullah saw dengan jelas dan beliau telah menjelaskannya. Hal itu juga merupakan hujjah terbesar yang ditegakkan Allah bagi hamba-hamba-Nya melalui Rasul-Nya yang menyampaikan dan menjelaskannya kepada mereka. Kitab Allah yang diriwayatkan para sahabat dan tabi’in dari Rasulullah saw baik lafal maupun maknanya dan hikmah yang merupakan sunnah Rasulullah saw yang juga diriwayatkan dari nabi telah mencakup semua persoalan di atas. Dengan demikian jelaslah bahwa syar’i dalam hal ini adalah Rasulullah saw telah menjelaskan semua hal yang dapat menjaga manusia dari berbagai kerusakan dan tidak ada yang lebih merusak manusia selain kekafiran dan kemaksiatan. Rasul telah memberikan penjelasan tersebut yang menggugurkan alasan untuk tidak mempercayai nya. Allah SWT berfirman:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum sesudah Allah memberikan petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang mereka harus jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”.

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan utk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepada ni’mat-Ku dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.”

“selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

“Katakanlah ‘Ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul hanyalah apa yang dibebankan kepadanya kewajiban kamu adalah apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu ta’at kepadanya niscaya kamu mendapatkan petunjuk. Dan tiada lain kewajiban Rasul hanya menyampaikan .”

(22)

menjawab Betul demikian..” Berdasarkan hal di atas maka masalah-masalah tersebut adalah pengetahuan-pengetahuan dan petunjuk-petunjuk yang pasti. Oleh karena itu orang yang hidup di Daar al-Islam dan dalam lingkungan keimanan ia tidak mempunyai alasan untuk tidak mengetahui dan menentang perintah-perintah Allah tersebut.

Imam as-Syafi’i mengatakan, “Ilmu itu terdiri dari dua macam; pertama ilmu umum yaitu ilmu yang pasti diketahui oleh seorang yang sudah baligh yang tidak hilang akalnya .. seperti salat lima waktu, kewajiban puasa Ramadhan, haji bagi orang yang mampu, zakat harta, diharamkannya zina, pembunuhan, pencurian dan khamr serta persoalan-persoalan lain yang masuk dalam pengertian ini yang telah diperintahkan kepada hamba-hamba Allah untuk mengetahuinya dan mengamalkannya, mentaatinya dengan jiwanya dan hartanya dan mencegah dari hal-hal yang telah diharamkan bagi mereka.” “Bentuk pengetahuan ini secara keseluruhan terdapat dalam kitab Allah dan diketahui secara umum di kalangan kaum muslimin. Orang-orang awam sekarang mengetahuinya dari orang-orang terdahulu, mereka meriwayatkan dari Rasulullah saw dan tidak ada pertentangan dalam cerita mereka dan tidak pula dalam hal kewajiban yang diperintahkan kepada mereka. Ilmu umum ini merupakan ilmu yang tidak mungkin salah dalam pemberitaannya dengan penafsirannya dan tidak boleh bertentangan dalam kasus ini..”

Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan, “Secara umum Allah dan Rasul-Nya tidak meninggalkan masalah halal dan haram tanpa menjelaskan keduanya. Akan tetapi sebagiannya lebih jelas dari sebagian yang lain. Maka masalah yang keterangannya telah jelas terkenal di kalangan masyarakat dan diketahui secara umum sebagai ajaran agama sesuai kebutuhan tidak ada keraguan di dalamnya sehingga tidak ada pula alasan bagi siapapun yang hidup di negeri Islam untuk tidak mengetahuinya.” Oleh karena itu ketika para ulama ushul memperbincangkan masalah ‘kebodohan’ yang dapat dijadikan alasan dan yang tidak, mereka mengatakan bahwa kebodohan akan Pencipta Yang Maha Tinggi dan kenabian Muhammad saw merupakan kebodohan yang bathil yang tidak dapat dijadikan alasan berpaling dari Islam. Ketentuan-ketentuan syariat yang tidak mungkin menjadikan kebodohan terhadapnya dipandang sebagai alasan untuk mengingkarinya secara umum dapat dibagi menjadi dua bagian.

Pertama, kebodohan dalam masalah pokok-pokok agama dan masalah-masalah akidah yang global seperti kebodohan orang kafir terhadap Dzat Allah SWT dan sifat-sifat kesempunaan-Nya serta kenabian Muhammad saw. Kedua, masalah agama yang secara niscaya diketahui, diikuti selanjutnya seluruh hukum syari’at yang telah diketahui dan tersebar di negara-negara Islam seperti salat, zakat, puasa, haji, haramnya zina, pembunuhan, khamr dan pencurian. Beberapa pejelasan mengenai masalah ini

(23)

mengingkari keesaan Allah dan mendustakan Rasul-Nya baik karena keingkarannya maupun karena kebodohannya dan taklidnya kepada orang-orang yang mengingkarinya.

2. Kebodohan yang tidak dapat dijadikan alasan dalam masalah ini mensyaratkan adanya penegakan hujjah dan penyampaiannya seperti terwujudnya bentuk konkret secara syar’i dari penegakan hujjah seperti Daar Islam dan lingkungan ilmu dan iman tempat terdapat para da’i dari kalangan para ahli yang mengetahui Alquran dan sunnah sehingga masalah-masalah tersebut menjadi umum dan dikenal di kalangan kaum muslimin. Mengenai syarat ini banyak dalil-dalil Alquran dan sunnah yang menjelaskannya dan karena alasan kebodohan tetap berlaku bagi seorang hamba hingga hujjah Allah ditegakkan dan orang yang meninggalkannya akan dihukum sesuai dengan pelanggarannya. Allah SWT berfirman, ” selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.”. Firman-Nya yang lain, “Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” Pendapat yang mengatakan bahwa kebodohan dalam masalah-masalah yang besar ini yang dalil-dalilnya telah jelas tidak dapat dimaafkan secara mutlak meskipun belum ditegakkan hujjah adalah tidak benar. Dalil-dalil Alquran maupun sunnah juga menolak pendapat tersebut. Ini merupakan mazhab imam-imam Ahlus Sunnah wal Jamaah. Syekh Muhammad bin Abdul Wahab mengatakan “Pokok-pokok agama yang telah dijelaskan oleh Allah dan ditetapkan dalam kitab-Nya adalah hujjah dan karena itulah hujjah Allah adalah Alquran. Maka orang yang telah mengetahui Alquran ia telah mengetahui hujjah.” Syekh Hamad bin Mu’ammar ra berkata “Setiap orang yang sampai kepadanya Alquran tidak ada alasan baginya untuk meninggalkannya. Karena pokok-pokok besar yang merupakan pokok agama Islam telah dijelaskan oleh Allah di dalam kitab-Nya dan dengannya Allah menegakkan hujjah bagi hamba-hamba-Nya.”

(24)

ini sangat bertentangan dengan syariat dan merupakan kekafiran terhadap Allah SWT.

4. Kebodohan orang-orang yang hidup di daerah terpencil mengenai sebagian amalan yangbercampur dengan ibadah selain kepada Allah. Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan penjelasan di atas adalah bahwa kebodohan atau ketidaktahuan dalam masalah agama dan orang bersangkutan tidak dapat menghindarinya maka kebodohan itu dapat dijadikan alasan dan dimaafkan sampai datang penjelasan agama baginya. Dalam konteks ini tidak dapat dibedakan apakah kebodohan itu mengenai masalah-masalah agama yang sudah jelas dalil-dalilnya ataupun masalah-masalah-masalah-masalah lain yang tidak dikenal secara umum . Arus utama dalam pembicaraan di sini adalah tentang tegaknya hujjah syar’iyyah dan kemungkinan mendapatkan ilmu tentang agama dan mencapai pemahaman terhadapnya. Syekh Muhammad Shalih al-Utsaimin mengatakan “Kebodohan sebagai alasan telah ditetapkan bagi hamba Allah karena Allah telah befirman ‘Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu’. “. Rasulullah saw bersabda “Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya tidak ada seorang pun dari umat ini yang mendengar tentang diriku baik yahudi maupun Nashrani kemudian ia tidak beriman kepada apa yang aku bawa tidak lain ia adalah termasuk penghuni neraka.”Nash-nash yang menjelaskan masalah ini banyak kita temukan. Dengan demikian orang yang tidak mengetahui agama ia tidak akan disiksa karena kebodohannya dalam masalah apa pun dari agama ini.

==============

(25)

BAB VI

Konsili Vatikan II (DALAM AGAMA KATHOLIK)

PERNYATAAN TENTANG HUBUNGAN GEREJA DENGAN AGAMA-AGAMA BUKAN KRISTIANI

1. (Pendahuluan)

PADA ZAMAN KITA bangsa manusia semakin erat bersatu dan hubungan-hubungan antara pelbagai bangsa berkembang. Gereja mempertimbangkan dengan lebih cermat, manakah hubungannya dengan agama-agama bukan kristiani. Dalam tugasnya mengembangkan kesatuan dan cinta kasih antar manusia, bahkan antar bangsa, gereja disini terutama mempertimbangkan manakah hal-hal yang pada umumnya terdapat pada bangsa manusia, dan yang mendorong semua untuk bersama-sama menghadapi situasi sekarang.

Sebab semua bangsa merupakan satu masyarakat, mempunyai satu asal, sebab Allah menghendaki segenap umat manusia mendiami seluruh muka bumi[[1]]. Semua juga mempunyai satu tujuan terakhir, yakni Allah, yang penyelenggaraan-Nya, bukti-bukti kebaikan-Nya dan rencana penyelamatan-Nya meliputi semua orang[[2]], sampai para terpilih dipersatukan dalam Kota suci, yang akan diterangi oleh kemuliaan Allah; di sana bangsa-bangsa akan berjalan dalam cahaya-Nya[[3]].

Dari pelbagai agama manusia mengharapkan jawaban tentang teka-teki keadaan manusiawi yang tersembunyi, yang seperti di masa silam, begitu pula sekarang menyentuh hati manusia secara mendalam: apakah manusia itu? Manakah makna dan tujuan hidup kita? Manakah yang baik dan apakah dosa itu? Dari manakah asal penderitaan dan manakah tujuannya? Manakah jalan untuk memperoleh kebahagiaan yang sejati? Apakah arti maut, pengadilan dan pembalasan sesudah mati? Akhirnya apakah Misteri terakhir dan tak terperikan itu, yang merangkum keberadaan kita, dan menjadi asal serta tujuan kita?

2. (Berbagai agama bukan kristen)

(26)

peristiwa-peristiwa hidup manusia; bahkan kadang-kadang ada pengakuan terhadap Kuasa ilahi yang tertinggi atau pun Bapa. Kesadaran dan pengakuan tadi meresapi kehidupan bangsa-bangsa itu dengan semangat religius yang mendalam. Adapun agama-agama, yang terikat pada perkembangan kebudayaan, berusaha menanggapi masalah-masalah tadi dengan faham-faham yang lebih rumit dan bahasa yang lebih terkembangkan. Demikianlah dalam hinduisme manusia menyelidiki misteri ilahi dan mengungkapkannya dengan kesuburan mitos-mitos yang melimpah serta dengan usaha-usaha filsafah yang mendalam. Hinduisme mencari pembebasan dari kesesakan keadaan kita entah melalui bentuk-bentuk hidup berulah-tapa atau melalui permenungan yang mendalam, atau dengan mengungsi kepada Allah penuh kasih dan kepercayaan. Buddhisme dalam pelbagai alirannya mengakui, bahwa dunia yang serba berubah ini sama sekali tidak mencukupi, dan mengajarkan kepada manusia jalan untuk dengan jiwa penuh bakti dan kepercayaan memperoleh keadaan kebebasan yang sempurna, atau – entah dengan usaha sendiri entah berkat bantuan dari atas – mencapai penerangan yang tertinggi. Demikian pula agama-agama lain, yang terdapat diseluruh dunia, dengan pelbagai cara berusaha menanggapi kegelisahan hati manusia, dengan menunjukkan berbagai jalan, yakni ajaran-ajaran serta kaidah-kaidah hidup maupun upacara-upacara suci.

Gereja katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, Tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya[[4]].

Maka Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka.

3. (Agama Islam)

(27)

telah bangkit. Maka mereka juga menjunjung tinggi kehidupan susila, dan berbakti kepada Allah terutama dalam doa, dengan memberi sedekah dan berpuasa.

Memang benar, disepanjang zaman cukup sering timbul pertikaian dan permusuhan antara umat Kristiani dan kaum Muslimin. Konsili suci mendorong mereka semua, supaya melupakan yang sudah-sudah, dan dengan tulus hati melatih diri untuk saling memahami, dan supaya bersama-sama membela serta mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang, nilai-nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan.

5. (Agama Yahudi)

Sementara menyelami Misteri gereja, Konsili suci ini mengenangkan ikatan rohani antara Umat perjanjian Baru dan keturunan Abraham. Sebab Gereja Kristus mengakui bahwa – menurut rencana ilahi penyelamatan yang bersifat rahasia – awal mula iman serta pemilihannya sudah terdapat pada para Bapa Bangsa, Musa dan para Nabi. Gereja mengakui, bahwa semua orang beriman kristiani, putera-putera abraham dalam iman[[5]], terangkum dalam panggilan Bapa bangsa itu, dan bahwa keselamatan Gereja dipralambangkan secara misterius dalam keluarnya bangsa yang terpilih dari tanah perbudakan. Oleh karena itu Gereja tidak dapat melupakan, bahwa ia telah menerima Wahyu Perjanjian Lama melalui bangsa itu, dan bahwa karena belas-kasihan-Nya yang tak terhingga Allah telah berkenan mengadakan Perjanjian Lama dengannya. Gereja tetap ingat, bahwa ia menerima santapannya dari akar zaitun yang baik, dan bahwa cabang-cabang zaitun yang liar, yakni kaum kafir, telah dicangkokkan pada pohon zaitun itu[[6]]. Sebab Gereja mengimani, bahwa Kristus, Damai kita, melalui salib telah mendamaikan bangsa Yahudi dan kaum Kafir dan telah menyatukan keduanya dalam diri-Nya[[7]]. Selalu pula Gereja mengenangkan kata-kata rasul paulus tentang sesama sukunya: “mereka telah diangkat menjadi anak, dan telah menerima kemuliaan, dan perjanjian, dan hukum Taurat dan ibadah dan janji-janji; mereka keturunan para bapa leluhur, yang menurunkan Kristus menurut daging” (Rom 9:4-5), Putera Perawan Maria. Gereja mengingat juga, bahwa dari bangsa Yahudi lahirlah para Rasul, dasar dan saka guru Gereja, begitu pula amat banyak murid pertama, yang mewartakan Injil Kristus kepada dunia.

Menurut Kitab suci Yerusalem tidak mengenal saat Allah melawatnya[[8]], dan sebagian besar orang-orang Yahudi tidak menerima Injil; bahkan banyak juga yang menentang penyebarannya[[9]]. Tetapi, menurut Rasul, orang-orang Yahudi tetap masih dicintai oleh Allah demi para leluhur, sebab Allah tidak menyesalkan kurnia-kurnia serta panggilan-Nya[[10]]. Bersama dengan para nabi dan Rasul itu juga Gereja mendambakan hari yang hanya diketahui oleh Allah, saatnya semua bangsa serentak akan menyerukan Tuhan, dan “mengabdi-Nya bahu-membahu” (Zef 3:9)[[11]].

(28)

Meskipun para pemuka bangsa Yahudi beserta para penganut mereka mendesak kematian Kristus[[12]], namun apa yang telah dijalankan selama Ia menderita sengsara tidak begitu saja dapat dibebankan sebagai kesalahan pada semua orang Yahudi yang hidup ketika itu atau kepada orang Yahudi zaman sekarang. Walaupun Gereja itu umat Allah yang baru, namun hendaknya orang-orang Yahudi jangan digambarkan seolah-olah dibuang oleh Allah atau terkutuk, seakan-akan itu dapat disimpulkan dari Kitab suci. Maka hendaknya semua berusaha, supaya dalam berkatekese dan mewartakan Sabda Allah jangan mengajarkan apa pun, yang tidak selaras dengan kebenaran Injil dan semangat Kistus. Selain itu Gereja, yang mengecam segala penganiayaan terhadap siapapun juga, mengingat pusaka warisannya bersama bangsa Yahudi. Gereja masih menyesalkan kebencian, penganiayaan, pun juga unjuk-unjuk rasa antisemitisme terhadap bangsa Yahudi, kapan pun dan oleh siapa pun itu dijalankan, terdorong bukan karena motivasi-motivasi politik, melainkan karena cinta kasih keagamaan menurut Injil.

Kecuali itu Kristus, seperti selalu telah dan tetap masih diyakini oleh gereja, demi dosa-dosa semua orang telah menanggung sengsara dan wafat-Nya dengan sukarela, karena cinta kasih-Nya yang tiada taranya, supaya semua orang memperoleh keselamatan. Maka merupakan tugas Gereja pewarta: memberitakan salib Kristus sebagai lambang cinta kasih Allah terhadap semua orang dan sebagai sumber segala rahmat.

6. (Persaudaraan semesta tanpa diskriminasi)

Tetapi kita tidak dapat menyerukan nama Allah Bapa semua orang, bila terhadap orang-orang tertentu, yang diciptakan menurut citra kesamaan Allah, kita tidak mau bersikap sebagai saudara. Hubungan manusia dengan Allah Bapa dan hubungannya dengan sesama manusia saudaranya begitu erat, sehingga Alkitab berkata: “Barang siapa tidak mencintai, ia tidak mengenal Allah” (1Yoh 4:8).

Jadi tiadalah dasar bagi setiap teori atau praktik, yang mengadakan pembedaan mengenai martabat manusia serta hak-hak yang bersumber padanya antara manusia dan manusia, antara bangsa dan bangsa.

Maka Gereja mengecam setiap diskriminasi antara orang-orang atau penganiayaan berdasarkan keturunan atau warna kulit, kondisi hidup atau agama, sebagai berlawanan dengan semangat kristus. Oleh karena itu Konsili suci, mengikuti jejak para Rasul kudus Petrus dan Paulus, meminta dengan sangat kepada Umat beriman kristiani, supaya bila ini mungkin “memelihara cara hidup yang baik diantara bangsa-bangsa bukan Yahudi” (1Ptr 2:12), dan sejauh tergantung dari mereka hidup dalam damai dengan semua orang[[13]], sehingga mereka sungguh-sungguh menjadi putera Bapa di sorga[[14]].

(29)

mengundangkannya dalam roh Kudus. Dan kami memerintahkan, agar apa yang telah ditetapkan bersama dalam Konsili ini diumumkan demi kemuliaan Allah.

(30)

BAB VII

Untaian Mutiara Dalam Memahami Ayat Hukum

Muhaddits Abad Ini Al Allamah Muhammad Nashiruddin Al Albani (wafat tahun 1421 H)

Beliau berkata dalam At Tahdzir min Fitnatit Takfir(hal. 56):

” … ﴿ ﻮَﻤَﻧ ﻞَّﻣْ ﻲَﺤْﻜُﻣ ﺐِﻣَا ﺄَﻧﺰَﻟَ ﻼﻠّھُ فَأُﻮْﻠَـﺌِﻛَ ﮫُﻣُ ﻼْﻛَﺎﻓِرُﻮﻧَ ﴾؛ ﻒﻣا ﻼﻣراد بﻼﻜﻓر ﻒﯿھا؟ ﮫﻟ هو ﻼﺧرﻮﺟ ﻊﻧ ﻼﻤﻟة؟ أو أنه غير ذلك؟، فأقول: لا بد من الدقة في فهم الآية؛ فإنها قد تعني الكفر العملي؛ وهو الخروج بالأعمال عن بعض أحكام الإسلام. ويس ﻦﺑ ﷲا ﺪﺒﻋ نآﺮﻘﻟا نﺎﻤﺟﺮﺗو ،ﺔﻣﻷا ﺮﺒﺣ ﻢﮭﻔﻟا اﺬھ ﻲﻓ ﺎﻧﺪﻋا ًﺎﻌﯿﻤﺟ نﻮﻤﻠﺴﻤﻟا ﻊﻤﺟأ يﺬﻟا ،ﺎﻤﮭﻨﻋ ﷲا ﻲﺿر سﺎﺒﻋ– ﺔﻟﺎﻀﻟا قﺮﻔﻟا ﻦﻣ نﺎﻛ ﻦﻣ ﻻإ– ﻲﻓ ﺪﯾﺮﻓ مﺎﻣإ ﮫﻧأ ﻰﻠﻋ ﺮﯿﺴﻔﺘﻟا. ﮫﻌﻤﺳ قﺮﻃ ﮫﻧﺄﻜﻓ– ﺬﺌﻣﻮﯾ– ﺤﻄﺳ ًﺎﻤﮭﻓ ﺔﯾﻷا هﺬھ نﻮﻤﮭﻔﯾ ًﺎﺳﺎﻧأ كﺎﻨھ نأ ﻦﻣ ًﺎﻣﺎﻤﺗ مﻮﯿﻟا ﮫﻌﻤﺴﻧ ﺎﻣ ﺮﯿﻏ ﻦﻣ ،ًﺎﯿ ﮫﻨﻋ ﷲا ﻲﺿر لﺎﻘﻓ ،ﻞﯿﺼﻔﺗ: “ﮫﯿﻟإ نﻮﺒھﺬﺗ يﺬﻟا ﺮﻔﻜﻟا ﺲﯿﻟ”، و:”ﺔﻠﻤﻟا ﻦﻋ ﻞﻘﻨﯾ ًاﺮﻔﻛ ﺲﯿﻟ ﮫﻧأ”، و:”هو كفر دون كفر”، ولعله يعني: بذلك الخوارج الذين خرجوا على أمير المؤمنين علي رضي الله عنه، ثم كان من عواقب ذلك أنهم سفكوا دماء المؤمنين، وفعلوا فيهم ما لم يفعلوا بالمشركين، فقال: ليس الأمر كما قالوا! أو كما ظنوا! إنما هو: كفر دون كفر…”.

“……Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Kekufuran apakah yang dimaksud dalam ayat ini? Apakah kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam ataukah tidak? Aku berkata, (kita) harus teliti dalam memahami ayat ini. Dan terkadang yang dimaksud oleh ayat adalah kufur amali, yaitu melakukan beberapa perbuatan yang mengeluarkan pelakunya dari sebagian hukum-hukum Islam.

Pemahaman kita ini didukung oleh Habrul Ummahdan Penafsir al-Qur’an Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, yang telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin -kecuali kelompok-kelompok sesat- bahwa beliau adalah seorang imam yang tiada bandingnya dalam tafsir al-Qur’an. (dengan penafsiran beliau terhadap ayat ini -pent) seakan-akan beliau ketika itu telah mendengar apa yang kita dengar pada hari ini bahwa di sana ada sekelompok orang yang memahami ayat ini dengan pemahaman yang dangkal tanpa perincian.

(31)

Mungkin yang beliau maksudkan dengan hal itu adalah kaum Khawarij yang memberontak terhadap Amirul Mukminin Ali radhiyallahu ‘anhu, dan termasuk akibat dari perbuatan mereka adalah tertumpahnya darah kaum mukminin, mereka melakukan perbuatan keji terhadap kaum mukminin yang tidak mereka lakukan kepada kaum musyrikin, maka beliau berkata terhadap mereka, “Bukanlah perkara itu sebagaimana yang mereka katakan dan mereka duga, akan tetapi yang dimaksud adalah kufrun duna kufrin(kekafiran yang tidak mengeluarkan dari islam).”

Samahatusy Syaikh Al Allamah Abdul Aziz bin Baaz (wafat tahun 1420 H)

Beliau berkata dalam surat kabar Asy Syarq Al Ausath nomor 6156 tanggal 12/5/1416,

“Aku telah meneliti jawaban yang sangat bermanfaat yang diberikan oleh shohibul fadlilah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani -semoga Allah memberikan taufik padanya- yang beredar pada surat kabar Asy Syarq Al Ausath dan Al Muslimun sebagai jawaban atas seseorang yang telah bertanya kepada beliau tentang pengkafiran terhadap orang yang tidak berhukum kepada hukum Allah secara mutlak tanpa perincian. Maka aku temukan jawaban yang berharga di dalamnya, sesuai dengan kebenaran dan hal tersebut merupakan jalannya orang-orang mukmin.

Beliau (Syaikh Al Albani -pent) menjelaskan bahwa tidak boleh bagi siapapun mengkafirkan seseorang yang tidak berhukum kepada hukum Allah dengan hanya melihat perbuatannya semata tanpa mengetahui apakah dia menghalalkan perbuatan tersebut dengan hatinya, dan beliau beralasan dengan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhudan imam-imam salaf selain beliau.

(32)

kekufuran yang dilakukannya merupakan kekufuran ashghar dan demikian pula kezaliman dan kefasikan yang dia lakukan.”

Faqihuz Zaman, Al Allamah Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

(wafat tahun 1421 H)

Dalam sebuah kaset berjudul At Tahrir fii Mas’alatit Takfir pada tanggal 22/4/1420 beliau ditanya:

إذا ألزم الحاكم الناس بشريعة مخالف ىﺮﯾ ﮫﻨﻜﻟ ﺔﻨﺴﻟاو بﺎﺘﻜﻟا ﻲﻓ ﺎﻣ ﻖﺤﻟا نﺄﺑ ﮫﻓاﺮﺘﻋا ﻊﻣ ﺔﻨﺴﻟاو بﺎﺘﻜﻠﻟ ة هﺬھ ﻲﻓ هدﺎﻘﺘﻋا ﻲﻓ ﺮﻈﻨُﯾ نأ ﺪﺑﻻ مأ ًاﺮﻓﺎﻛ اﺬھ ﮫﻠﻌﻔﺑ نﻮﻜﯾ ﻞھ ،ىﺮﺧأ تارﺎﺒﺘﻋﻻ وأ ةﻮﮭﺷ ﺔﻌﯾﺮﺸﻟا اﺬﮭﺑ سﺎﻨﻟا ماﺰﻟإ المسألة؟

“Apabila seorang hakim mewajibkan manusia untuk mengikuti aturan yang menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah padahal dia mengetahui kebenaran adalah segala yang berada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah akan tetapi dia memaksa manusia untuk mengikuti aturan ini karena itulah yang sesuai dengan keinginannya atau pertimbangan yang lain, maka apakah dengan perbuatannya tersebut dia kafir atau harus meneliti keyakinannya dalam masalah tersebut?”

بﺎﺟﺄﻓ: “… مﺎﺴﻗأ ﺔﺛﻼﺛ ﻰﻟإ ﻢﺴﻘﻨﯾ ،ﺰﯾﺰﻌﻟا ﮫﺑﺎﺘﻛ ﻲﻓ ﺎﻤﻛ ﻮﮭﻓ ؛ﷲا لﺰﻧأ ﺎﻣ ﺮﯿﻐﺑ ﻢﻜﺤﻟﺎﺑ ﻖﻠﻌﺘﯾ ﺎﻣ ﻲﻓ ﺎﻣأ: ،ﻢﻠﻇو ،ﺮﻔﻛ نأ ﮫﻤﻠﻋ ﻊﻣ هاﻮﮭﻟ ًﺎﻌﺒﺗ ﷲا لﺰﻧأ ﺎﻣ ﺮﯿﻐﺑ ﻢﻜﺤﯾ ﻞﺟﺮﻟا نﺎﻛ اذﺈﻓ ،ﻢﻜﺤﻟا اﺬھ ﺎﮭﯿﻠﻋ ﻲﻨُﺑ ﻲﺘﻟا بﺎﺒﺳﻷا ﺐﺴﺣ ﻰﻠﻋ ،ﻖﺴﻓو بأن الحق فيما قضى الله به ؛ فهذا لا ﻲﺸﻤﺗ ًﺎﻣﺎﻋ ًﺎﻤﻜﺣ عﺮﺸﯾ نﺎﻛ اذإ ﺎﻣأو ،ﻢﻟﺎﻇو ﻖﺳﺎﻓ ﻦﯿﺑ ﮫﻨﻜﻟ ﺮﻔﻜﯾ ﻢﻠﻌﺑ ﻞﮭﺟ ﻢھﺪﻨﻋ مﺎﻜﺤﻟا ﻦﻣ ًاﺮﯿﺜﻛ نﻷ ،ًﺎﻀﯾأ ﺮﻔﻜﯾ ﻼﻓ ﮫﯿﻓ ﮫﯿﻠﻋ ﺲﺒﻟ ﺪﻗو ﺔﺤﻠﺼﻤﻟا ﻦﻣ ﻚﻟذ نأ ىﺮﯾ ﺔﻣﻷا ﮫﯿﻠﻋ نﺎﻛ اذإو ،ﺔﻔﻟﺎﺨﻣ ﻚﻟﺬﺑ ﻞﺼﺤﯿﻓ ،ًاﺮﯿﺒﻛ ًﺎﻤﻟﺎﻋ ﮫﻧوﺮﯾ ﻢھو ،ﻲﻋﺮﺸﻟا ﻢﻜﺤﻟا فﺮﻌﯾ ﻻ ﻦﻤﺑ ﻞﺼﺘﯾو ﺔﻌﯾﺮﺸﻟا عﺮﺸﻟا ﻢﻠﻌﯾ بﺎﺘﻜﻟا ﻲﻓ ءﺎﺟ يﺬﻟا ﻖﺤﻠﻟو ﻚﻟذ ﻲﻓ ﻢﻟﺎﻇ ﮫﻧأ ﺪﻘﺘﻌﻧ ؛ﮫﯿﻠﻋ سﺎﻨﻟا ﻲﺸﻤﯾ ًارﻮﺘﺳد ﮫﻠﻌﺟو اﺬھ عﺮﺷ وأ اﺬﮭﺑ ﻢﻜﺣ ﮫﻨﻜﻟو والسنة أننا لا نستطيع أن نكفر هذا، وإنما نكفر من يرى أن الحكم بغير ما أنزل الله أولى أن يكون الناس عليه، أو مثل حكم الله عز وجل فإن هذا كافر ﻰﻟﺎﻌﺗ ﷲا لﻮﻘﺑ بﺬﻜﯾ ﮫﻧﻷ: ﴿ ﺄَﻠَﯿْﺳَ ﻼﻠَّھُ ﻰﻟﺎﻌﺗ ﮫﻟﻮﻗو ﴾ َﻦﯿِﻤِﻛﺎَﺤْﻟا ِﻢَﻜْﺣَﺄِﺑ: ﴿ ﺄَﻔَﺤُﻜْﻣَ ﻼْﺟَﺎﮭِﻠِﯾَّةِ ﻲَﺒْﻏُﻮﻧَ ﻮَﻤَﻧْ ﺄَﺤْﺴَﻧُ ﻢِﻧَ ﻼﻠّھِ ﺢُﻜْﻣًا ﻞِّﻗَﻮْﻣٍ يُﻮﻘِﻧُﻮﻧَ ﴾.

(33)

mengetahui hukum syar’i namun mereka menganggap sebagai seorang yang sangat alim. Oleh karena itu penguasa tadi terjerumus dalam kesalahan.

Apabila penguasa itu mengetahui syariat akan tetapi dia berhukum dengan aturan yang menyelisihi aturan Allah yang menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah kemudian menjadikannya pedoman/undang-undang agar manusia melaksanakannya, kami berkeyakinan bahwa dia adalah seorang yang zalim dalam perbuatannya dan zalim terhadap apa yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, sesungguhnya kami tidak mampu untuk mengkafirkan pelaku perbuatan tadi, hanya saja yang kami kafirkan adalah orang yang menganggap manusia itu lebih baik berhukum dengan selain hukum Allah atau menganggap hukum Allah ‘azza wa Jalla itu sama dengan hukum manusia maka dia kafir karena mendustakan firman Allah ta’ala,

َﻦﯿِﻤِﻛﺎَﺤْﻟا ِﻢَﻜْﺣَﺄِﺑ ُﮫﱠﻠﻟا َﺲْﯿَﻟَأ

“Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?” Dan firman-Nya:

ْﻟا َﻢْﻜُﺤَﻓَأَنﻮُﻨِﻗﻮُﯾ ٍمْﻮَﻘﱢﻟ ﺎًﻤْﻜُﺣ ِﮫّﻠﻟا َﻦِﻣ ُﻦَﺴْﺣَأ ْﻦَﻣَو َنﻮُﻐْﺒَﯾ ِﺔﱠﯿِﻠِھﺎَﺠ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?.”

Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab saudi

الفتوى رقم (6310): س: ما حكم من يتحاكم إلى القوانين الوضعية، وهو يعلم بطلانها، فلا يحاربها، ولا يعمل على إزالتها؟ ج: “الحمد لله وحده، والصلاة والسلام على رسوله، وآله وصحبه؛ وبعد: الواجب التحاكم إلى كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم ﺪﻨﻋ ﻰﻟﺎﻌﺗ لﺎﻗ ،فﻼﺘﺧﻻا: ﴿ فَﺈِﻧ ﺖَﻧَاﺰَﻌْﺘُﻣْ ﻒِﯾ ﺶَﯾْءٍ فَرُدُّﻮھُ ﺈِﻠَى ﻼﻠّھِ وَﻻﺮَّﺳُﻮﻟِ ﺈِﻧ ﻚُﻨﺘُﻣْ تُﺆْﻤِﻧُﻮﻧَ بِﻼﻠّھِ وَﻼْﯾَﻮْﻣِ ﻻﺂﺧِرِ ﻰﻟﺎﻌﺗ لﺎﻗو ،﴾ ًﻼﯾِوْﺄَﺗ ُﻦَﺴْﺣَأَو ٌﺮْﯿَﺧ َﻚِﻟَذ: ﴿ ﻒَﻟاَ وَﺮَﺒِّﻛَ لاَ يُﺆْﻤِﻧُﻮﻧَ ﺢَﺘَّىَ ﻲُﺤَﻜِّﻣُﻮﻛَ ﻒِﯿ ْاوُدِﺟَﻲ َال َّﻣُﺚ ْﻣُﮭَﻨْﯿَﺐ َرَﺟَﺶ اَﻣ ﴾ ﺎًﻤﯿِﻠْﺴَﺗ ْاﻮُﻤﱢﻠَﺴُﯾَو َﺖْﯿَﻀَﻗ ﺎﱠﻤﱢﻣ ﺎًﺟَﺮَﺣ ْﻢِﮭِﺴُﻔﻧَأ ﻲِﻓ. ﮫﯿﻠﻋ ﷲا ﻰﻠﺻ لﻮﺳﺮﻟا ﺔﻨﺳ ﻰﻟإو ﻰﻟﺎﻌﺗ ﷲا بﺎﺘﻛ ﻰﻟإ نﻮﻜﯾ ﻢﻛﺎﺤﺘﻟاو ﺪﺑ ﮫﯿﻌﺿﻮﻟا ﻦﯿﻧاﻮﻘﻟا ﻦﻣ ﺎﻤھﺮﯿﻏ ﻰﻟإ ﻢﻛﺎﺤﺘﻟا ًﻼﺤﺘﺴﻣ ﺎﮭﯿﻟإ ﻢﻛﺎﺤﺘﯾ ﻦﻜﯾ ﻢﻟ نﺈﻓ ،ﻢﻠﺳو ﻮﮭﻓ ؛ﺐﺼﻨﻣ وأ لﺎﻣ ﻲﻓ ﻊﻤﻃ ﻊﻓا نﺎﻤﯾﻹا ةﺮﺋاد ﻦﻣ جﺮﺨﯾ ﻻو ،ﻖﺴﻓ نود ًﺎﻘﺴﻓ ﻖﺳﺎﻓو ،ﺔﯿﺼﻌﻣ ﺐﻜﺗﺮﻣ”.

Fatwa nomor 6310: Soal:

“Apakah hukum seseorang yang meminta untuk dihukumi dengan undang-undang positif padahal dia mengetahui kebatilannya, namun dia tidak memerangi dan tidak berusaha untuk menghapusnya?”

(34)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya dan para sahabatnya, wa ba’du.

Wajib bagi setiap muslim untuk meminta dihukumi dengan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallamtatkala terjadi perselisihan.

Allah ta’alaberfiman:

ِﻟَذ ِﺮِﺧﻵا ِمْﻮَﯿْﻟاَو ِﮫّﻠﻟﺎِﺑ َنﻮُﻨِﻣْﺆُﺗ ْﻢُﺘﻨُﻛ نِإ ِلﻮُﺳﱠﺮﻟاَو ِﮫّﻠﻟا ﻰَﻟِإ ُهوﱡدُﺮَﻓ ٍءْﻲَﺷ ﻲِﻓ ْﻢُﺘْﻋَزﺎَﻨَﺗ نِﺈَﻓًﻼﯾِوْﺄَﺗ ُﻦَﺴْﺣَأَو ٌﺮْﯿَﺧ َﻚ

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Dan juga Allah ta’alaberfirman:

َﺑ َﺮَﺠَﺷ ﺎَﻤﯿِﻓ َكﻮُﻤﱢﻜَﺤُﯾ َﻰﱠﺘَﺣ َنﻮُﻨِﻣْﺆُﯾ َﻻ َﻚﱢﺑَرَو َﻼَﻓﻞْﺴَﺗ ْاﻮُﻤﱢﻠَﺴُﯾَو َﺖْﯿَﻀَﻗ ﺎﱠﻤﱢﻣ ﺎًﺟَﺮَﺣ ْﻢِﮭِﺴُﻔﻧَأ ﻲِﻓ ْاوُﺪِﺠَﯾ َﻻ ﱠﻢُﺛ ْﻢُﮭَﻨْﯿ

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

Maka hanya boleh meminta dihukumi dengan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila seseorang tidak minta dihukumi dengan keduanya tanpa menganggap boleh karena dorongan rakus harta dan kedudukan, maka dia pelaku kemaksiatan, seorang yang fasik akan tetapi tidak keluar dari keimanan.

Al Allamah Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr hafizhahullah ﺦﯾرﺎﺘﺑ دواد ﻲﺑأ ﻦﻨﺳ حﺮﺷ سرد ﻲﻓ يﻮﺒﻨﻟا ﺪﺠﺴﻤﻟا ﻲﻓ ﻞﺌُﺳ: 16/11/1420 :

؟ﻚﻟذ زاﻮﺠﺑ دﺎﻘﺘﻋﻻاو ﻲﺒﻠﻘﻟا لﻼﺤﺘﺳﻻا ﻰﻟإ جﺎﺘﺤﯾ مأ ؟ﮫﺗاذ ﻲﻓ ﺮﻔﻛ ﺔﯿﻌﺿﻮﻟا ﻦﯿﻧاﻮﻘﻟﺎﺑ ﺔﯿﻣﻼﺳﻹا ﺔﻌﯾﺮﺸﻟا لاﺪﺒﺘﺳا ﻞھ عا ﻊﻣ ًﺎﻣﺎﻋ ًﺎﻌﯾﺮﺸﺗ ﻦﯿﻧاﻮﻘﻟا ﻞﻌﺟو ،ﷲا لﺰﻧأ ﺎﻣ ﺮﯿﻐﺑ ةﺮﻣ ﻢﻜﺤﻟا ﻲﻓ قﺮﻓ كﺎﻨھ ﻞھوتقاد عدم جواز ذلك؟

فأجاب: “يبدو أنه لا فرق بين الحكم في مسألة، أو عشرة، أو مئة، أو ألف –أو أقل أو أكثر – اﺬﮭﻓ ،ﺐﻧﺬﻟا ﻦﻣ ﻒﺋﺎﺧ ﮫﻧاو ،ﺔﯿﺼﻌﻣ ﻞﻌﻓ ﮫﻧأو ،ًاﺮﻜﻨﻣ ًاﺮﻣأ ﻞﻌﻓ ﮫﻧأو ،ﺊﻄﺨﻣ ﮫﻧأ ﮫﺴﻔﻧ ﺮﺒﺘﻌﯾ نﺎﺴﻧﻹا ماد ﺎﻣ ؛قﺮﻓ ﻻ كفر دون كفر.

وأما مع الاستحلال –ولو كان فًﻻﻼﺣ ﮫﺴﻔﻧ ﺮﺒﺘﻌﯾ ،ﷲا لﺰﻧأ ﺎﻣ ﺮﯿﻐﺑ ﻢﻜﺤﻟا ﺎﮭﯿﻓ ﻞﺤﺘﺴﯾ ،ةﺪﺣاو ﺔﻟﺄﺴﻣ ي- ﮫﻧﺈﻓ ؛ ًاﺮﻓﺎﻛ نﻮﻜﯾ“.

(35)

merupakan perbuatan kekufuran tanpa melihat orangnya? Atau membutuhkan penghalalan dari hati dan adanya keyakinan bolehnya hal tersebut? Apakah terdapat perbedaan dalam berhukum dengan selain hukum Allah dalam kasus tertentu, dengan menetapkan undang-undang positif sebagai aturan secara umum diiringi keyakinan tidak bolehnya hal tersebut?”

Maka beliau menjawab:

Tidak ada perbedaan seseorang itu berhukum dengan selain hukum Allah sekali, sepuluh kali, seratus kali atau seribu kali, baik kurang dari itu atau lebih banyak dari itu. Selama seseorang menganggap dirinya salah, melakukan perbuatan mungkar dan maksiat serta dia takut akan dosa dari perbuatannya tersebut, maka perbuatannya ini adalah kufur duna kufrin (kufur yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam -pent)

Namun jika diiringi dengan penghalalan, yaitu menghalalkan berhukum dengan selain hukum Allah dan dirinya menganggap hal itu halal maka dia telah kafir (keluar dari Islam -pent) meski dia melakukannya hanya dalam satu kasus.

Segala puji bagi Allah ta’ala.

Selesai diterjemahkan secara bebas tanggal 3 Jumadil Awal 1427 H. ***

(36)

Berhukum Dengan Selain Hukum Allah Oleh Ust. Abu Muawiah Senin, 10 November 2009

Berikut penyebutan nama beserta perkataan para ulama yang menyebutkan adanya rincian dalam masalah hukum orang yang berhukum dengan selain hukum Allah. Pada artikel yang telah berlalu (di sini) kami telah menyebutkan ucapan ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, Ibnu Jarir Ath-Thobary, Asy-Syaikh Al-Albany dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah, dan berikut ucapan selain mereka:

1. Imam Ibnul Jauzy rahimahullah. Beliau berkata dalam Zadul Masir (2/366), “Pemutus perkara dalam masalah ini adalah bahwa barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan karena juhud terhadapnya padahal dia mengetahui bahwa Allah menurunkannya, seperti yang diperbuat oleh orang-orang Yahudi maka dia kafir. Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengannya karena condong kepada hawa nafsu tanpa juhud maka dia adalah orang yang zholim lagi fasik”.

2. Imam Al-Qurthuby rahimahullah. Beliau berkata, “Dan penjelasan hal ini adalah bahwa seorang muslim jika dia mengetahui hukum Allah -Ta’ala- pada suatu perkara lalu dia tidak berhukum dengannya maka : kalau perbuatan dia ini karena juhud maka dia kafir tanpa ada perselisihan, dan jika bukan karena juhud maka dia adalah pelaku maksiat dan dosa besar karena dia masih membenarkan asal hukum tersebut dan masih meyakini wajibnya penerapan hukum tersebut atas perkara itu, akan tetapi dia berbuat maksiat dengan meninggalkan beramal dengannya”. Lihat Al-Mufhim (5/117)

3. Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau berkata dalam Minhajus Sunnah (5/130) setelah menyebutkan firman Allah -Ta’ala- dalam surah An-Nisa` ayat 65, “Maka barangsiapa yang tidak komitmen dalam menerapkan hukum Allah dan RasulNya pada perkara yang mereka perselisihkan maka sungguh Allah telah bersumpah dengan diriNya bahwa orang itu tidak beriman, dan barangsiapa yang komitmen kepada hukum Allah dan RasulNya secara bathin dan zhohir akan tetapi dia berbuat maksiat dan mengikuti hawa nafsunya (dengan meninggalkan hukum Allah-pent.) maka yang seperti ini kedudukannya seperti para pelaku maksiat lainnya (yakni masih beriman-pent.)”. Lihat juga Majmu’ Al-Fatawa (3/267) dan (7/312)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Kaum Kafir