• Tidak ada hasil yang ditemukan

Islam Masa Malaya Kolonial

Dalam dokumen ISLAM DALAM MASYARAKAT & POLITIK MALAYSIA (Halaman 102-110)

58 supaya berkat engkau diberi Allah. 102

C. Islam Masa Malaya Kolonial

Kolonialisasi tanah Melayu telah menyebabkan nilai-nilai dan tatanan Islam dalam kehidupan masyarakat tradisional Melayu mengalami kemerosotan. Kebijakan kolonial Portugis selama 130 tahun sejak tahun 1511, cenderung mencegah penyebaran Islam dan perkembangan usaha dagang Muslim. Namun Portugis gagal dalam usaha ini terutama karena terus menerus mendapat perlawanan dari orang-orang Melayu. Belanda yang datang setelah berhasil mengalahkan Portugis pada 1641, agak lebih toleran kepada para penguasa Melayu.113 Pada tahun 1795, Belanda dapat ditaklukkan oleh kekuatan Inggris. Melalui

Anglo-Dutch Treaty pada tahun 1824, kedua kekuasaan itu menetapkan demarkasi bagi

64

wilayah pengaruh mereka di kepulauan Melayu. Di bawah kolonialisasi Inggris, perkembangan ajaran agama Islam dan pengaruhnya pada kehidupan Melayu menjadi terbatas. Meskipun sesungguhnya, dalam perjanjian Pangkor pada tahun 1874, Inggris berjanji tidak akan ikut campur dalam urusan-urusan yang menyangkut adat dan agama Islam.114 Tetapi dalam prakteknya, banyak kebijakan kolonial yang mengarah pada bentuk-bentuk intervensi terhadap wilayah-wilayah yang secara tradisional merupakan domain sultan-sultan Melayu –termasuk Islam.

Kendatipun dibanding dengan Portugis dan Belanda kebijakan Inggris lebih simpatik kepada Islam, Hussin Ali, seorang sarjana Melayu terkemuka, mengatakan: “Di bawah kolonialisasi Inggris, sultan-sultan hanya menjadi simbol kedaulatan politik Melayu dan tanpa kekuasaan apa pun untuk membuat keputusan”.115 Sementara itu, studi yang dilakukan Yegar menyimpulkan bahwa peranan pemerintah Inggris di Malaya tidak hanya terbatas pada “nasihat” dan “bicara”, tetapi telah mengarah pada instruksi yang harus dilaksanakan mengenai semua masalah, termasuk dalam prakteknya, mengenai Islam dan kebudayaan Melayu.116

Berawal dari campur-tangan tak langsung, kolonial Inggris kemudian mengarah pada bentuk-bentuk intervensi lebih langsung dalam berbagai hal yang menyangkut kehidupan Melayu, termasuk Islam. Ada beberapa aspek yang dapat dicatat mengenai intervensi kolonial sehingga ruang gerak, perkembangan dan pelaksanaan Islam menjadi terbatas, antara lain menyangkut hukum Islam, pendidikan Islam dan paradigma politik Islam serta munculnya permasalahan yang terkait dengan demografi penduduk.

114. C.D. Cowan and O.W. Wolters, Nineteenth Century Malaya: Origins of British Political Control, (London: Oxford University Press, 1961).

115 . S. Hussin Ali, Masyarakat Melayu Nasib dan Masa Depannya, (Jakarta: Inti Sarana Aksara, 1985), hlm. 37.

116. Studi Ph.D. Yegar, sebagaimana dikutip oleh Hussin Mutalib, Islam and Etnicity in Malay Politics, hlm. 14 – 15.

65

Pertama, yang berkaitan dengan perkembangan hukum Islam. Sebagaimana

dijelaskan pada sub judul di atas, hukum Islam menempati posisi hukum dasar di kesultanan-kesultanan Melayu. Namun demikian, setelah kekuasaan kolonial mulai kokoh – melalui berbagai perjanjian– pihak Inggris berhasil menekan para penguasa Melayu untuk menerima semua usulan Inggris dalam berbagai hal, termasuk yang berkaitan dengan hukum Islam. Hukum Islam yang telah dirumuskan ke dalam kitab-kitab hukum yang menjadi undang-undang di negera-negara tradisional Melayu, direduksi sedemikian rupa hingga memiliki cakupan yang sempit. Administrasi hukum Islam dibatasi pada hukum keluarga dan beberapa masalah tentang pelanggaran agama. Pada saat yang bersamaan, kolonial Inggris memperkenalkan dan menerapkan sistem hukum dan administrasi hukum sipil yang berbeda dengan sistem hukum dan pengadilan Islam. Dengan demikian, posisi hukum Islam yang telah menjadi hukum dasar negara menjadi berubah. Singkatnya kolonial telah melakukan pengebirian terhadap undang-undang dan hukum Islam.

Pengebirian terhadap perkembangan dan pelaksanaan hukum Islam berawal dengan intervensi Inggris di Pulau Pinang pada tahun 1786, berikutnya di Perak sejak tahun 1874 melalui perjanjian Pangkor yang memberikan wewenang kepada residen untuk mengendalikan mahkamah dalam semua hal kecuali yang berkaitan dengan masalah agama dan adat istiadat Melayu. Wewenang dan kekuasaan yang diberikan kepada residen ini telah menjadi dasar bagi pemberlakuan undang-undang sipil yang kemudian diperkenalkan Inggris. Begitulah seterusnya, undang-undang sipil Inggris menggantikan undang-undang Islam yang sudah ada, secara perlahan namun pasti. Dalam perkembangannya, apa pun perkara sipil –secara tidak langsung– tunduk pada undang-undang Inggris di England. Situasi ini tentu saja merubah corak hidup masyarakat Melayu seiring dengan prinsip-prinsip Inggris yang diserap melalui pelaksanaan undang-undang mereka. Sementara itu, undang-undang dan hukum Islam semakin dipersempit pelaksanaannya pada persoalan-persoalan yang berkaitan dengan keluarga dan bahkan terkadang juga masih ditangani dengan menggunakan prinsip Inggris.

66

Selama kolonialisasi Inggris, meski secara teoritis, sultan adalah pemegang otoritas agama, tetapi dalam prakteknya, kekuasaan legislasi berada pada Dewan Negeri dan Dewan Federal yang dikuasai oleh para pegawai Inggris. Semua legislasi yang berhubungan dengan agama serta hukum Islam harus diundangkan oleh Dewan Negara atau Federal.117 Dalam dewan tersebut memang ada wakil-wakil dari ras Melayu, tetapi posisi mereka dalam dewan itu sangat lemah. Dengan demikian, para sultan tidak memiliki kekuasaan penuh untuk menerapkan hukum Islam.

Dengan upaya lobi mereka kepada para sultan, kolonial Inggris berhasil menetapkan sejumlah undang-undang –yang diambil dari India dan didasarkan pada prinsip-prinsip hukum Inggris– menggantikan hukum Islam. Undang-undang pidana, undang-undang pembuktian dan undang-undang acara pidana diterapkan menggantikan hukum Islam yang menyangkut masalah kriminal, pembuktian, dan acara pidana. Undang-undang kontrak dan undang-undang keringanan khusus diterapkan untuk menggantikan hukum Islam mengenai kontrak. Demikian pula, dalam bidang pertanahan, hukum Islam mengenai hal ini diganti dengan sistem pencatatan hak.118

Selain memberlakukan undang-undang tertulis –seperti yang dijelaskan di atas– hakim-hakim Inggris juga memutuskan perkara berdasarkan undang-undang Inggris bila tidak ada undang-undang tertulis yang dapat digunakan. Dua cara seperti ini disahkan oleh Akta Undang-Undang Civil tahun 1937, dan diberlakukan secara legal di Negeri Melayu Tidak Bersekutu pada tahun 1951, Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1956 dan di seluruh Malaysia pada tahun 1972. Dengan demikian hukum Inggris berada pada posisi istimewa di negeri Melayu.

117 . Ahmad Ibrahim,,”Perkembangan Kodifikasi Hukum Islam di Malaysia”, dalam Sudirman Tebba (ed.),

Perkembangan Mutakhir hukum Islam di Asia Tenggara: Studi Kasus Hukum Keluarga dan Pengkodifikasiannya, (Bandung: Mizan, 1993), hlm. 101.

118 . Penjelasan lebih jauh mengenai hal ini lihat Ahmad Ibrahim,”Menuju Suatu Hukum Islam bagi Muslim Malaysia”, dalam Sudiman Tebba (ed.), Perkembangan Mutakhir hukum Islam di Asia Tenggara, hlm. 78.

67

Dalam bidang peradilan, kolonial Inggris mendirikan lembaga-lembaga peradilan sipil di negara-negara bagian Malaysia yang dikelola oleh para hakim Inggris. Para hakim sipil ini menerapkan prinsip-prinsip hukum Inggris jika tidak terdapat hukum tertulis. Bahkan, jika terjadi perbedaan antara hukum Islam dan prinsip hukum Inggris, mereka memakai hukum Inggris sebagai landasan keputusan. Sehingga apa yang dinyatakan tidak sah oleh peradilan Islam, misalnya, oleh hakim-hakim sipil dinyatakan sah; begitu juga pemberian hak asuh anak kepada ayah yang telah diputuskan oleh peradilan Islam, juga ditolak oleh peradilan sipil. Akibatnya, posisi Peradilan Agama semakin melemah dan menjadi subordinat dari pengadilan umum.

Berdasarkan ordonansi hukum 1946, ditetapkan bahwa bidang kuasa yang diberikan pada Peradilan Agama (mahkamah syari’ah) hanyalah mengenai perkara-perkara yang berkaitan dengan agama Islam, perkawinan dan perceraian. Bila sebelumnya Peradilan Agama berada dalam satu sistem kehakiman negara, maka melalui ordonansi peradilan 1948, struktur Peradilan sAgama terpiah dari peradilan umum. Dengan demikian, ada dua lembaga peradilan, yaitu peradilan sipil dan peradilan umum.

Dalam pada itu, melalui ordonansi Hukum Perdata 1956 digariskan bahwa pengadilan harus menerapkan hukum adat Inggris (common law of England) –sebagaimana yang diterapkan di Inggris— ke dalam semua aturan yang telah dan akan ditetapkan. Dengan ordonansi ini berarti hukum Inggris menggantikan hukum Islam sebagai landasan hukum. Itu juga berarti, hukum Islam hanya menempati posisi subordinat dari sistem hukum yang ada.119

Meskipun demikian bahwa kekuasaan Inggris, dalam berbagai cara, ikut membantu perkembangan Islam seperti pembaharuan-pembaharuan administratif yang menyebabkan terjadinya koordinasi dan regulasi lembaga-lembaga Muslim seperti pengumpulan zakat dan wakaf, sistem peradilan Islam, dan prosedur ibadah haji, namun secara keseluruhan, karena

119. Ahmad Ibrahim,”Menuju Suatu Hukum Islam bagi Muslim Malaysia”, dalam Sudirman Tebba (ed.),

68

kuatnya kontrol Inggris atas tata kehidupan Melayu, termasuk agamanya, menyebabkan pengaruh syari’ah Islam pada kehidupan mereka menjadi terbatasi.

Kedua, dampak lain yang juga terkait dengan kolonialisasi Inggris adalah

kemerosotan paradigma politik Islam. Menurut Azra:

Kolonialisme –yang kemudian disusul dengan penyebaran gagasan-gagasan dan konsep politik modern, seperti nasionalisme dan nation state— merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kemerosotan paradigma politik Islam di kawasan ini sebagaimana direfleksikan dalam bahasa politik yang digunakan.120

Hampir senada dengan Azra, menurut A.C. Milner, di bawah pengaruh kolonial Inggris, di Malaya muncul sebuah gerakan nasionalis sekuler. Para pemimpin gerakan ini mempropagandakan nation state dan hukum sekuler yang bukan saja mengancam sistem politik kesultanan yang dipandang sebagai perwujudan dari sistem politik Islam, tetapi juga mengancam pelaksanaan hukum Islam.121

Kolonial Inggris memang tampak hati-hati dan waspada bahkan cenderung alergi terhadap pandangan, gagasan dan gerakan-gerakan politik yang berideologi Islam. Untuk konteks di Malaysia, hal ini terlihat jelas pada sikap keras kolonial pada

120 . Namun demikian menurut Azra, selain kolonialisasi, gerakan “reformisme” Islam di kalangan masyarakat Melayu yang banyak diilhami gerakan semacamnya di Timur Tengah, juga menjadi faktor penting lainnya bagi kemerosotan paradigma politik Islam. Karena gerakan-gerakan tersebut, selain berupaya memperbaharui praktek keagamaan kaum Muslim, juga menggugat keabsahan konsep dan kultur politik Islam di lingkungan mereka. Lihat Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara, hlm. 84.

121. A.C. Milner, “Rethinking Islamic Fundamentalism in Malaysia”. Dalam Review of Indonesian and

69

Hizbul Muslimin (HAMIM),122 sebuah partai politik yang berideologi Islam dan berjuang ke arah terbentuknya negara Islam. Oleh kolonial, berdasarkan Undang-Undang Darurat yang dikeluarkan pada tanggal 18 Juni 1948, partai ini dilarang dan para tokohnya ditangkap, termasuk ustadz Abu Bakar al-Baqir, sang presiden. Seluruh partai politik yang tidak co-operatif dengan pemerintah diharamkan, termasuk HAMIM.123 Jelas dari sini bahwa pelarangan itu karena HAMIM –yang beriodeologi Islam dan menginginkan terwujudnya sebuah negara Islam– dianggap sebagai bahaya dan ancaman politik oleh Inggris.

Sikap Inggris yang tidak kompromi dengan paradigma politik Islam, turut pula menghantarkan Malaysia pada bentuk negara sekuler. Andai saja negara Islam yang diperjuangkan oleh tokoh-tokoh Melayu sebagai bentuk negara Malaysia setelah

122. Partai HAMIM (Hizbul Muslimin) mengambil inspirasi dari nama “Hizbullah” di dalam al-Quran (al-Mujadilah : 22) serta gerakan Ikhwan al-Muslimin di Mesir dan Masyumi di Indonesia. Partai ini dipimpin oleh Ustadz Abu Bakar al-Baqir berasaskan Islam. HAMIM didirikan oleh beberapa orang ulama yang sebelumnya terhimpun dalam UMNO, namun merasa tidak puas terhadap orientasi nasionalis etnis sekuler yang lebih mendapat tempat dalam perjuangan UMNO, sementara mereka memperjuangan ideologi Islam. Oleh karena tu, bersama pemimpin-pemimpin PKPMM yang berorientasi Islam mereka mendirikan HAMIM pada tanggal 14 Maret 1948 dengan motto memperjuangkan kemerdekaan Melayu… Membangun masyarakat Islam berdasarkan prinsip-prinsip Islam… dan Malaya sebagai sebuah negara Islam. Lihat Mansor Marican, The Political

Accommodation of Primordial Parties: The DMK (India) and the PAS (Malaysia), Ph.D Thesis University of

British Columbia, 1976), hlm. 31-34. Chandrasekaran Pillay, Protection of the Malay Community: A Study of

UMNO’s Position and Opposition Attitudes’ M.Soc. Sc tesis, University Sains Malaysia Penang, 1974, hlm

186-192.

70

meraih kemerdekaannya dari Inggris, besar kemungkinan kemerdekaan sulit diraih, seperti tercermin dalam pernyataan Lord Cromer, designer kolonialisasi Inggris di Mesir:

England was prepared to grant political freedom to all her possessions as soon as generation imbued through English culture were ready to take over, but under no circumstances would the British for a single moment tolerate an independent Islamic State.124

Dengan demikian, itu sebabnya mengapa UMNO lebih mendapat kebebasan bergerak dibanding partai-partai Melayu lainnya. Karena di antara organisasi-organisasi politik awal, UMNO tidak berpegang pada paradigma politik Islam. Sebaliknya organisasi politik ini lebih cenderung mendukung gagasan nasionalisme konservatif. Sebagaimana disinyalir oleh Abdul Rahman:

Sifat konservatif UMNO bukan hanya sekedar mempertahankan tradisi kebangsaan Melayu, tetapi juga mempertahan tradisi kerja sama dengan pihak kolonial. Karenanya pihak Inggris sendiri menghendaki kerjasama penuh dengan UMNO.125 Dengan kebebasan bergerak di bawah naungan Inggris, UMNO menang mutlak dalam Pemilu 1955, sementara Partai Oposisi Islam (PAS) cuma menang satu kursi. Dengan kemenangan ini mudah bagi Inggris untuk menganugerahkan kemerdekaan kepada Tanah Melayu. Menurut Mahathir, “Jika PAS yang memenangkan banyak kursi, mungkin pihak penjajah tidak akan setuju memberi kemerdekaan atau bentuk Tanah Melayu merdeka akan diubahnya”.126 Secara implisit, ungkapan ini menunjukkan bahwa Inggris tidak senang terhadap paradigma

124. Cromer, Modern Egypt, jilid II (London & New York: Macmillan, 1908), hl. 565. 125. Abdul Rahman Haji Abdullah, Pemikiran islam di Malaysia.

126. Dr. Mahathir Mohamed, “Nilai Semangat Kebangsaan”, dalam Utusan Melayu, 4 Juli 1980. Selanjutnya lihat pidatonya, Jadikan Nasionalisme Prinsip Bimbingan, Jabatan Penerangan Malaysia, 1986.

71

Dalam dokumen ISLAM DALAM MASYARAKAT & POLITIK MALAYSIA (Halaman 102-110)