TRADISIONAL MELAYU
B. Pengaruh Islam dalam Masyarakat Tradisional Melayu
Kuatnya etos Islam pada tahun-tahun terakhir di Malaysia dapat dijelaskan dengan melihat peran Islam dalam budaya Melayu tradisional. Artinya secara historis, pondasi atau elemen-elemen penting bagi munculnya kondisi semacam itu telah ada di Malaysia. Dengan kata lain, meningkatnya kesadaran Islam di Malaysia, bukan tanpa benih, tetapi telah memiliki akarnya sejak periode paling awal di Malaysia, sedikitnya dari masa Kesultanan Malaka. Sejak periode paling awal (masa kesultanan) di Malaysia, agama Islam yang mempunyai dasar filosofis dan rasional yang kuat, telah berpengaruh pada berbagai lini kehidupan Melayu.75 Islam bagi orang Melayu, bukan hanya sebatas keyakinan, tetapi juga telah menjadi identitas dan dasar kebudayaan, serta mewarnai institusi kenegaraan dan pandangan politik mereka. Pendek kata, Islam telah menjadi bagian yang menyatu dengan
75. Masyarakat tradisional Melayu di sini dipahami dalam pengertian yang lebih luas. Melayu tidak dipahami berdasarkan makna yang diberikan konstitusi Malaysia yakni setiap orang yang lahir di dalam Federasi (atau Singapura) sebelum kemerdekaan (atau keturunan orang-orang seperti itu), yang menganut agama Islam, biasa berbahasa Melayu, dan melaksanakan kebudayaan Melayu, melainkan dalam arti sebuah masyarakat dengan sejarah sosial yang khas. Oleh karena itu apa yang dibahas tentang masyarakat tradisional Melayu di sini, selain penekanannya pada masyarakat Melayu yang kemudian menjadi warga negara Malaysia (Semenanjung Malaya), juga tercakup di dalamnya masyarakat Melayu di wilayah-wilayah lain di Asia Tenggara.
44
identitas nasional, sejarah, hukum, entitas politik, dan kebudayaan Melayu. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Islam dianggap sebagai komponen utama budaya Melayu.
Namun demikian, perlu ditekankan di sini bahwa transformasi masyarakat tradisional Melayu ke dalam kehidupan yang lebih bernuansa Islam tidaklah terjadi secara revolusioner, melainkan secara bertahap sesuai dengan sifat islamisasi yang berlangsung di Dunia Melayu. Berbeda dengan penyebaran Islam di India yang disertai oleh penumbangan dinasti-dinasti yang berkuasa, Islam datang ke dunia Melayu melalui suatu proses kooptasi damai yang berlangsung selama berabad-abad. Tidak banyak terjadi penaklukan secara militer, pergolakan politik atau pemaksaan struktur kekuasaan dan norma-norma masyarakat dari luar. Karena itu, dalam proses islamisasi wilayah ini, Islam berhadapan dengan norma-norma, praktek-praktek dan konvensi-konvensi tradisional yang sudah sangat meresap dalam kebudayaan Melayu yang dikenal dan dianggap sebagai “adat”.
Adat76 adalah satu konsep yang menjelaskan keseluruhan
76. Menurut Zainal Abidin Burhan, seorang budayawan yang mengajar di Akademi Pengkajian Melayu Universitas Malaya, “Dibanding kata budaya, adat adalah sebuah konsep yang lebih awal digunakan dalam perbendaharaan kata Melayu, karena kata budaya menurutnya baru digunakan sebagai terjemahan dari culture. Terjemahan budaya dari culture barangkali muncul setelah adanya cultural contact antara Melayu dengan bahasa Inggris. Zainal Abidin Burhan, Kebudayaan Melayu Sebagai Salah Satu Simpul Ingatan Serumpun, disampaikan pada “Seminar Budaya Melayu Sedunia” yang penulis hadiri pada tanggal 4 -6 Agustus 2003 di Pekanbaru.
45
cara hidup Melayu di Alam Melayu. Orang Melayu menyebut fenomena budaya mereka sebagai adat. Dengan adatlah mereka mengatur kehidupan mereka, agar setiap anggota adat hidup beradat, seperti adat alam, adat beraja, adat bernegeri, adat berkampung, adat memerintah, adat berlaki-bini, adat berbicara dan sebagainya.
Adat, sebagian mengalami proses islamisasi, sehingga ada hubungan interaksi timbal balik antara adat dan Islam, namun demikian, sebagian masih tetap cenderung tidak islami. Dengan kata lain, adat dan Islam menjadi kekuatan yang saling berhubungan satu sama lain. Hasilnya –meniru istilah Mutalib– adalah “suatu jenis doktrin Islam bastar (cangkokan) dan beraneka ragam, yang terdiri dari campuran pekat antara praktek-praktek Islam maupun non-Islam yang telah diserap oleh kaum Melayu.”77 Namun demikian, perlu ditekankan di sini bahwa kendatipun beberapa aspek adat cenderung tidak islami, tidaklah tepat menganggap adat seolah-olah selalu bertentangan langsung dengan hukum Islam, sebagaimana kecenderungan banyak penulis Barat, seperti Snouck Hurgronje78 dan Josselin de Jong79. Di samping itu, sesungguhnya tidak ada sesuatu yang khas menyangkut adat Melayu yang biasanya bersifat takhayul dan irasional karena semua masyarakat tradisional baik di Timur maupun di Barat menunjukkan kecenderungan yang sama.80
77. Hussin Mutalib, Islam and Ethnicity in Malay Politics, hlm. 13.
78. Lihat Snouck Hurgronje, The Achenese, terjemahan (Leiden: E.J.Brill, 1906). 79. Josselin de Jong, “Islam versus Adat in Negeri Sembilan” dalam BKI Deel 116, 1960.
80. Berkaitan dengan ini, menurut Azyumardi Azra, banyak orientalis –Di antaranya London, Van Leur dan Winstedt– yang berpandangan bahwa Islam yang berkembang di Dunia Melayu (Asia Tenggara) bukanlah “Islam yang sebenarnya” seperti yang berkembang di Timur Tengah. Karena menurut mereka, Islam di Dunia Melayu adalah Islam yang “sinkretis”, bercampur baur dengan dan didominasi oleh adat dan budaya serta sistem kepercayaan lokal yang kadang tidak sesuai dengan Islam. Seperti dikemukakan Azra, bagi mereka “Islam yang murni” hanyalah Islam Timur Tengah, bukan Islam yang secara geografis terletak di wilayah periferal dari jantung Dunia Islam. Pandangan semacam ini mendapat tantangan keras dari beberapa sarjana seperti Najib al-Attas, Hussein Alatas, dan Nikki Keddie. Pandangan tersebut menurut Keddie, jelas keliru. Karena berdasarkan penelitian comparatif yang dilakukannya, terbukti bahwa shalat yang merupakan rukun Islam, ternyata dilaksanakan secara rutin oleh setiap Muslim di Minangkabau. Ketaatan dalam melaksanakan haji juga terlihat jelas di kalangan Muslim Asia Tenggara. Bila Edwin E.Leob melalui penelitiannya mengatakan bahwa kebanyakan orang Minangkabau percaya pada tukang sihir, dan dukun yang mempunyai kekuatan adi kodrati (supernatural), serta ada praktek-praktek tahayul, maka menurut Keddie, di Afrika Utara dan Timur Dekat juga
46
Dengan demikian, Islam dalam masyarakat Melayu tradisional pada dasarnya adalah bentuk Islam pribumi, yang dianut sebagai prinsip-prinsip akidah dengan ajaran-ajaran ritualnya yang bersifat wajib. Islamisasi orang-orang Melayu, seperti juga yang dialami oleh orang-orang di tempat lain, tidak pernah berlangsung secara sekaligus, monolitik atau absolut, tetapi berlangsung secara bertahap, evolusioner, tidak merata dan merupakan suatu proses yang berjalan secara terus menerus, di mana Islam mulai menjadi bagian yang hampir tak bisa dipisahkan dari adat, budaya dan jiwa Melayu.
Dalam budaya Melayu, unsur-unsur Islam juga menjadi demikian dominan apakah itu dalam bidang seni, bahasa, sastra, folk-lore, musik, pakaian dan kebiasaan. Dalam beberapa hal –sebagaimana yang akan kita lihat nanti– antara keduanya nampak semakin menyatu. Dari beberapa peninggalan sejarah dapat
tidak berbeda. Artinya kepercayaan dan praktek-praktek semacam itu juga terdapat di kawasan tersebut, dan bukan hanya menjadi kecenderungan dan ciri khas dari adat-istiadat masyarakat Melayu. Lihat penjelasan lebih jauh dalam Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara, Sejarah Wacana dan Kekuasaan, (Bandung: Rosdakarya, 1999), hlm.5-8.
47
dicermati bahwa produk budaya yang dibawa oleh Islam seperti tulisan Arab memberi sumbangan yang besar bagi perkembangan budaya Melayu. Informasi tentang Melayu, masyarakatnya, kehidupan sosial-ekonomi, budaya, politik dan keagamaannya sampai pada masyarakat masa kini adalah melalui tulisan Arab. Selain itu, perbendaharaan sastra dan tradisi lisan Melayu juga sarat dengan terma-terma dan nilai-nilai Islam. Besarnya pengaruh Islam dalam sastra digambarkan oleh Chamamah Soeratno sebagai berikut:
Karya-karya seperti Sejarah Melayu, Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Iskandar
Zulkarnain, Hikayat Muhammad Hanafiah, ditulis dengan menggunakan tulisan
Arab atau tulisan Jawi. Di samping tulisan yang menggunakan alfabet Arab, juga terdapat modifikasi berbagai karya Melayu dengan warna Islam. Hikayat
Marakarma yang bercorak Hindu misalnya, diganti dengan judul Hikayat Si Miskin. Juga terdapat pengenalan berbagai karya-karya sastra yang bercorak Islam
seperti Kisah Amir Hamzah yang diterjemahkan dan disadur dalam bahasa Melayu. Juga dilakukan penciptaan karya-karya sastra yang bercorak Islam dengan menggunakan nama-nama peristiwa yang penting dalam sejarah Islam, seperti
Hikayat Raja Khaibar. Selain itu, karya-karya yang mengandung ajaran Islam
sebagaimana kitab-kitab dalam ajaran agama Islam bermunculan dalam dunia perbukuan Melayu, misalnya Kitab Seribu Masalah, Siratalmustaqim, dan sejumlah karya tasawuf.81
Dengan demikian, diterimanya Islam oleh masyarakat dan kekuasaan tak pelak lagi mengakibatkan transformasi budaya dengan tingkat pengaruh yang berbeda-beda. Secara bertahap, Islam telah merobah dan mentransformasikan budaya masyarakat
81 . Siti Chamamah Soeratno, Perkembangan Masyarakat Melayu dan Dakwah Pembangunan: Satu
Tinjauan dari Sisi Peran Islam, dalam Jurnal Kebudayaan dan Peradaban Ulumul Quran No. 1/VII/1996, hlm.
48
tanah Melayu yang telah diislamkan. Budaya Hindu-Budha yang merupakan tradisi Melayu sebelum kedatangan Islam telah mulai digantikan dengan tradisi dan kebiasaan-kebiasaan yang diilhami oleh al-Quran dan sumber-sumber sah Islam lainnya. Sehingga secara bertahap, iman Islam dan etos yang lahir dari keyakinan itu muncul sebagai dasar kebudayaan Melayu.
Naquib Al-Attas memberikan penjelasan menarik tentang hal ini, bahwa Islam menandai suatu tahap yang krusial dalam modernisasi Melayu. Dia mengatakan bahwa adalah Islam yang memberikan nilai-nilai universal yang baru dan positif pada Melayu. Dalam hubungan ini, orang bisa mengatakan bahwa Islam memberi isi pada definisi tentang “kemelayuan” dan pada nilai-nilai Melayu.82 Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Islam kemudian dianggap sebagai komponen utama budaya Melayu.
Selain itu, dilihat dari aspek pendidikan, Islam merupakan pencerahan bagi masyarakat Melayu, karena Islam sangat mendukung intelektualisme yang tidak terlihat pada masa Hindu-Budha. Bila sebelum kedatangan Islam, pendidikan hanya menjadi hak istimewa kaum bangsawan, maka setelah kedatangan Islam, pendidikan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Karena setiap Muslim diharapkan mampu membaca al-Quran dan memahami asas-asas Islam secara rasional. Ini tentu saja memerlukan proses belajar. Dalam banyak kasus, mesjid atau surau menjadi lembaga pusat pengajaran. Bahkan, tidak jarang, istana kerajaan menjadi pusat studi dan pengembangan intelektualisme Islam, tempat di mana berkumpul para ulama dan pelajar dari berbagai daerah untuk mendalami ilmu pengetahuan. Studi Islam semacam ini mendapat dukungan penuh dari
82. Syed M. Naquib Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, (Bangi: University Kebangsaan Malaysia, 1972).