• Tidak ada hasil yang ditemukan

Islam Pinggiran: Rifaiyah dan Yakar

B. Islam Arus Utama dan Pinggiran

2. Islam Pinggiran: Rifaiyah dan Yakar

Kelompok Islam tipe kedua disebut dengan Islam pinggiran karena akibat dari ide dan atau tindakannya yang tidak populer dari kacamata pandang umat pada umumnya, dan cenderung dipandang negatif oleh kelompok arus utama. Kelompok Islam tipe kedua disebut dengan Islam sempalan karena arah pemikiran keagamaan (aspek ide) dan pola kegiatannya (aspek tindakan atau metode gerakannya) menyempal dari pemikiran dan kegiatan ummat Islam pada umumnya, dan biasanya bersifat minoritas. Dari kacamata Islam arus utama, tingkatan penyempalan ide dan atau tindakannya kelompok sempalan berbeda-beda, mulai dari yang sangat ekstrim sampai pada yang cukup ekstrim.

Sebenarnya jika melacak sejarah perkembangan kelompok- kelompok agama, khususnya Islam di Indonesia, kategori Islam arus

3

Simpulan ini setidak-tidaknya dapat dilihat dari anatomi latar belakang paham agama dari pimpinan terasnya periode saat ini Misalnya KH. Sahal Mahfud (Ketua), Syam (Sekjen) adalah dari NU, Ketua bagian Fatwa, KH Ma’ruf Nima (NU), Selain itu ada pula dari Muhammadiyah seperti Profesor Dr. Din Syamsudin, Profesor Dr.Yunahar Ilyas, dan Amidhan.

utama/mapan dan pinggiran/sempalan bersifat dinamis. Artinya, mengalami perubahan seiring dengan perubahan internal dan persepsi pihak ekstenal kelompok. Faktor internal terkait dengan kian meningkatknya moderasi pada aspek ide dan tindakan atau metode gerakannya, juga kian banyaknya pendukung akibat kemampuan mempertahankan keberadaannya di tengah-tengah pergumulannya dengan Islam arus utama. Faktor eksternal terkait dengan perubahan pandangan kelompok lain terhadap mereka. Karena itu tidak mengherankan jika sebuah kelompok Islam yang pada awal pertumbuhannya dikenal sebagai Islam pinggiran pada akhirnya berposisi sebagai Islam arus utama, atau setidak-tidaknya tidak dipersoalkan lagi ide dan tindakannya. Muhammadiyah misalnya, setidaknya pada awal perkembangannya dapat dikategorikan sebagai kelompok pinggiran dan sempalan karena ide dan gerakannya tidak lazim dilihat dari pemahaman umat Islam pada masa itu, namun seiring dengan perjalanan waktu dan perubahan yang terjadi pada aspek internal dan atau tindakannya, akhirnya ia menjadi kelompok Islam utama. Hal ini nampak pula pada kasus Rifaiyah, dan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII)4 yang di lokasi penelitian lebih dikenal sebagai Yakari (Yayasan Karyawan Islam). Sementara kelompok Islam pinggiran atau sempalan yang lain masih tetap dipandang sempalan dan pinggiran, terutama

4

Gatra dalam edisi khusus 6 Desember 2003 misalnya, memasukkan Rifaiyah dan Darul Hadits (LDII ) sebagai Islam pinggiran, selain kelompok/tokoh yang lain seperti Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging, Syekh Ahmad Mutamakin, Ki Saleh Darat, Islam Wetu Telu, Islam Kajang, Syiah, AhIdamyah, Az-Zaitun, Inkar Sunnah, Rufaqa, Salamullah, Jaringan Islam Liberal. Akhir-akhir ini muncul kelompok Islam yang dapat dikategorikan sempalan seperti Al-Qiyadah Al-Islamiyah.

kelompok Islam yang tumbuh pada era reformasi seperti Lasykar Jihad, Front Pembela Islam, Majelis Mujahidin, Hisbut Tahrir, Salamullah (Lia Eden), sampai pada Al-Qiyadah Al-Islamiyah.

Rifaiyah: Rifaiyah ditautkan dengan nama tokohnya yaitu KH. Ahmad Rifai. Beliau sendiri tidak pernah mendirikan organisasi seperti halnya yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), atau KH. Hasyim Asy’ari (NU). Sebaliknya Rifaiyah didirikan oleh para kader KH Ahmad Rifai. Nama lain dari kelompok ini adalah Islam Alim-Adil.5 KH. Rifai sendiri lahir di Desa Tempuran Kabupaten Semarang, sekarang masuk Kabupaten Kendal, pada tahun 1786 atau 1200 H, tepatnya 9 Muharam dan meninggal dalam usia 86 tahun dalam hitungan kalender hijriyah, 25 Robiul Akhir 1286 di Ambon, setelah pemerintah kolonial Belanda melakukan pengasingan kepadanya (Djamil, 2001).

Ia adalah putra dari pasangan KH Muhammad Marhum bin Abi Sujak dan Siti Rahmah, ayahnya seorang Penghulu Landerad di Kendal. Rifai kecil banyak diasuh oleh kakaknya, Ibu Rajiyah,

5

Terma Alim-Adil yang biasa diartikan dengan Ulama Akherat, ini merupakan ungkapan pengikut Rifaiyah dan ini diambil dari kitab-kitab Tarajumah. Yang dimaksud dengan kitab-kitab Tarajumah sendiri menunjuk kepada berbagai kitab yang dikarang oleh KH. Ahamad Rifai. Ada sekitar 62-an buah judul kitab rangkuman berbagai soal keagamaan yang diambil dari Al-Qur’an dan Al-Hadits serta kitab-kitab berbahasa Arab yang dikarang oleh ulama-ulama terdahulu, khususnya dari kalangan Mazhab Pii. Penamaan kelompok Alim-Adil juga biasa digunakan oleh pemerintah setelah merdeka. Misalnya dalam Surat Keputusan Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah bernomor 012 Tahun 1982 ketika melakukan larangan terhadap pengikut kelompok ini dengan nama Alim-Adil. Uraian lebih lanjut lihat dalam Djamil (2001).

isteri ulama’ besar di Kaliwungu Kendal, KH. Asy’ari, hal ini karena ayahnya meninggal ketika ia masih berusia 6 tahun. Masa remaja banyak dihabiskan di daerah pengembangan Islam tersebut.

Pendidikan agama diperoleh dari Indonesia dan luar negeri. Di Indonesia terutama menuntut ilmu di pesantren kakaknya, ia belajar ilmu agama klasik seperti nahwu-sharaf, fikih, badi’, bayan dan hadits. Adapun pendidikan di luar negeri diperoleh dari Haramain (Makkah dan Idamnah) dan Mesir. Pendidikan di luar negeri ini dilakukan selama 20 tahun (8 tahun di Haramain dan 12 tahun di Mesir) ketika dan setelah ia berangkat haji pada tahun 1829 (berarti dalam usis 43 tahun, namun ada yang menyatakan ia naik haji ketika usia 30 tahun). Di Haramain ia berguru kepada ulama yang terkenal pada masanya seperti Syeikh Abdul Azis Al-Habsyi, Syeikh Utsman, Syekh Abu Ubaidah, dan Syeikh Abdul Malik, sementara di Mesir berguru kepada Syeikh Ibrahim Al-Bajuri.

Setelah mengenyam pendidikan di luar negeri ia mulai rajin menerjamahkan dan menulis buku, dan dapat dikatakan ia termasuk ulama’ yang produktif menulis. Ada sekitar 70-an lebih buku yang ditulisnya, baik yang ditulis ketika masih di Jawa maupun di pengasingan. Sebagian besar tulisannya merupakan terjamahan bebas dari buku-buku Bahasa Arab ke Bahasa Jawa dalam bentuk Arab-Melayu pegon. Kajiannya mencakup berbagai bidang disiplin ilmu agama yaitu ilmu Tauhid, Ushul Fiqh-Fiqih (ibadah, muammalah), Akhlak-Tasawuf, Pendidikan, dan Ilmu Al-Qur’an.

Misiologi agama (dakwah) sudah dilakukannya ketika masih di Kendal sebelum perjalanan ke luar negeri, kegiatan itu lebih

intensif lagi dilakukan setelah menuntut ilmu dari luar negeri dan menikah dengan janda asal Kalisalak serta menetap di desa tersebut. Dari desa inilah ia menerjamahkan buku-buku yang disebutnya dengan Kitab Tarajjumah, dan mendirikan pondok pesantren. Dari sumber-sumber yang ada (Amin, 1994) misiologi KH Rifai nampaknya memiliki ciri khas pada zamannya, yaitu: (1) Misiologi yang bertumpu kepada upaya pembaharuan dan pemurnian Islam melalui berbagai media seperti pengajian. Pengajian yang dilakukan meluas ke berbagai daerah selain Kendal terutama sebelum ke luar negeri, seperti Wonosabo dan Pekalongan. (2) Menghimpun dan membina pemuda untuk dijadikan kader, juga kelompok pekerja seperti petani, pedagang dan pegawai. (3) Dialog dan diskusi dengan anggota kerabat tentang kondisi agama, sosial dan politik kolonial Belanda dan strategi menghadapinya, (4) Menganjurkan perkawinan endogami di antara anggota kelompok pengajian supaya terjalin hubungan yang erat dan dapat mengembangkan ilmu yang diperolehnya di daerahnya masing-masing. (5) Melakukan khuruj dalam bentuk kunjungan rumah (home visit) orang-orang yang dianggap miskin materi dan agama. (6) Memperbaharui arah kiblat dalam shalat. (7) Dalam setiap pengajian ia terus mendengungkan agar masyarakat tidak patuh kepada pemerintah kolonial Belanda. (7) Penerjamahan buku. (8) Menciptakan dan menjadikan terbang (rebana/jawan) sebagai media misi. ’Terbangan’ ini dilengkapi dengan lagu, syair, dan nadzam yang biasanya diambil dari kitab karangannya. Kesenian ini memiliki 3 fungsi yaitu: untuk mengingat pelajaran yang bernilai religius, hiburan pada saat hajatan

anggota, dan mengembangkan budaya lokal-islami sebagai bagian dari resistensinya terhadap budaya Eropa ketika itu.

Setelah melakukan misiologi (dakwah) yang relatif lama, akhirnya beliau diasingkan ke Ambon pada 19 Mei 1859. Pengasingan dilakukan akibat resistensinya terhadap penjajah. Resistensi beliau terhadap pemerintah kolonial dilakukan melalui berbagai kesempatan seperti pengajian. Ia berpendirian bahwa kolonial Belanda adalah kafir. Selain itu beliau aktif menyarankan kepada masyarakat agar tidak menaati pemerintah kolonial (Amin, 1994). Walaupun resistensi kepada kolonial Belanda tidak dilakukan secara fisik, namun kegigihannya dalam melawan Belanda dapat dianggap luar biasa, hal ini setidaknya dapat dilihat dari 2 hal yaitu: (1) konsisten terhadap pandangan ideologisnya bahwa kolonial Belanda adalah kafir, dan karenanya tidak boleh ditaati, termasuk terhadap elit politik dan orang-orang yang bekerja sama dengan pemerintah kolonial. Meskipun ajarannya dianggap sesat dan perlakuan lainnya oleh pemerintah kolonial seperti pemenjaraan dan pengasingan, penyitaan buku karangannya yang dianggap berbahaya bagi kolonial Belanda, dan dilarang melakukan dakwah di Kendal, ia tetap konsisten dengan pendiriannya. (2) menyebarluaskan pandangannya kepada murid-muridnya dan masyarakat agar jangan sekali-kali taat kepada pemerintah kolonial Belanda dan orang-orang yang bekerja sama dengannya. Girah perlawanannya kepada kolonial semakin tinggi setelah penyitaan buku dan setelah dipenjara tahun 1866. Doktrinasi antikolonial Belanda ini dilakukan sampai ujung hayatnya, di pengasingan

misalnya dia sempat mengirim surat wasiat kepada menantunya, Kyai Maufuro di Keranggongan (sekarang Desa Karanganyar Kecamatan Limpung) Batang dan keluarganya agar jangan taat kepada pemerintah kolonial Belanda dan orang-orang yang bekerja sama dengannya. Sebab orang seperti itu dianggap melanggar atau membangkang terhadap (ajaran) Islam (Djamil, 2001).

Pemerintah kolonial Belanda sendiri memusuhinya karena ajaran-ajaran KH Ahmad Rifai yang sangat kental antikolonial. Hal ini dikhawatirkan akan melahirkan pemberontakan sebagaimana dilakukan tokoh-tokoh sebelumnya seperti Pangeran Diponegoro. Ajaran penting yang langsung menghadapkannya dengan pemerintah kolonial Belanda adalah tentang konsep keimanan, khususnya pandangannya yang menyatakan bahwa perbuatan mengabdi kepada Belanda dan pembantunya merupakan pembangkangan terhadap agama, dan pembangkangan terhadap agama akan menjerumuskan pelakunya ke dalam dosa besar yang akan cenderung kufur, walaupun tidak berarti halal darahnya, namun pelaku masih diberi kesempatan untuk bertaubat. Pandangan seperti ini menurut Djamil (2001) berimplikasi kepada pandangan Belanda yang menganggapnya sebagai tokoh yang berbahaya tinggi, dan bahkan dua kitabnya, yang membahas khusus tentang iman dan kufur dan langsung berkaitan dengan kepentingan dan permusuhan kepada Belanda, diterjamahkan ke dalam Bahasa Belanda oleh penasehat sastra Jawa, A.B.Cohen Stuart sebagai laporan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Kedua kitab tersebut yaitu Syarh al-Iman dan Nadham Wiqayah.

Setelah KH Rifai diasingkan, para muridnya kemudian berupaya menghindar dari tekanan kolonial Belanda dan menyebar ke daerah lain di luar Kalisalak seperti Cirebon dan Indramayu di Jawa Barat; Wonosobo, Temanggung, Batang dan Bumi Minotani di Jawa Tengah. Mereka inilah yang kemudian berusaha membentuk organisasi Rifaiyah. Di Kabupaten Bumi Minotani Rifaiyah berpusat di Kayen yang terletak di Jalan antara Sukolilo-Bumi Minotani. Salah satu wilayah yang cukup banyak anggotanya ialah di Desa Baturejo, khususnya di Dusun Bombong.

Sebelum bernama Rifaiyah, metamorfosis pemikiran KH Ahmad Rifai setelah kemerdekaan menyatu dalam kelompok Islam Alim-Adil. Sampai pada masa Orde Baru kelompok ini masih dicurigai sebagai kelompok Islam yang sesat, sikap seperti ini merupakan warisan kolonial Belanda. Misalnya di Jawa Tengah, pada tahun 1982 Kejaksaan Tinggi propinsi ini melarang kegiatan organisasi yang merupakan metamorfosis ajaran KH Rifai yaitu Islam Alim-Adil. Larangan ini juga dipicu oleh sikap pengikut KH Rifai yang dianggap menentang terhadap pemerintahan yang sah sehingga ajarannya dianggap meresahkan masyarakat oleh penguasa. Kasus ini terjadi di Batang (1959), Pekalongan (1972), dan Demak (1982). Dalam hal ini informan saya, Ham (55 tahun) menyatakan:

Dulu pernikahan oleh KUA atau naib tidak sah karena dulu pemerintah dikuasai oleh kolonial Belanda. Sebab yang ditunjuk oleh Belanda tidak memperhatikan syarat dan rukun nikah, dan naibnya bekerja sama dengan Londo, padahal bagi pak Kyai (KH.Ahmad Rifai, penulis) orang yang bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda adalah pembangkangan terhadap agama yang berarti dosa besar. Setelah Indonesia merdeka masih banyak dari kami

(pengikut Rifauyah, NI) memberlakukan ajaran pak Kyai tersebut secara hitam-putih. Akibatnya kami dianggap menentang pemerintah yang sah itu...

Akibat pelarangan tersebut kemudian pengikut KH Ahmad Rifai mulai melakukan perubahan interpretasi ideologis, dari sikap nonkooperatif menjadi kooperatif agar keberadaannya diakui pemerintah, mereka kemudian mendirikan organsiasi Rifaiyah. Hal ini nampak dari penegasan yang tercantum dalam Bab 3 pasal 5 dari Anggaran Dasar-nya bahwa organsiasi ini selain berfungsi sebagai wadah penyaluran ide dan kegiatan anggota juga dalam berusaha mensukseskan pembangunan nasional.

Secara kelembagaan Rifaiyah bersifat hirarkis dari pusat sampai desa. Di tingkat pusat, yang ada di Batang, disebut dengan Pimpinan Pusat Rifaiyah, kemudian dibawahnya ada Pimpinan Wilayah Rifaiyah (tingkat propinsi), Pimpinan Daerah Rifaiyah (tingkat kabupaten/kota), Pimpinan Cabang Rifaiyah (tingkat kecamatan), dan Pimpinan Ranting Rifaiyah (tingkat desa/kelurahan).6

Setelah menjadi organisasi, Rifaiyah menegaskan diri berazaskan Islam, beraqidah Islamiyah yang berhaluan Ahlus Sunnah Wal-Jamaah dan bermadzhab Syafi’ie, serta bersifat sosial

6

Tercantum dalam Anggaran dasar dan Anggaran Rumnah Tangga Rifaiyah, yang dihasilkan dari Keputusan Muktamar ke-V No.07/MK-Rif’ah/XII/97, bab VII pasal 10. Seperti halnya Muhammadiyah yang menempatkan pimpinan pusatnya di Yogyakarta, tempat kelahiran pendiri dan awal lahirnya Muhammadiyah. Rifaiyah juga tidak menempatkan kantor pimpinan pusatnya di Jakarta, namun di tempat awal gerakan KH Rifai yaitu di Batang, dan ini ditegaskan dalam Bab I pasal 1 dari Anggaran Dasar-nya.

keagamaan (Bab II pasal 3 Anggaran Dasar). Berdasarkan hal tersebut, orang-orang Rifaiyah sekarang berusaha menonjolkan kesamaannya dengan kelompok Islam yang lain. Misalnya pernyataan, ’Rifaiyah tidak ada bedanya dengan Islam yang lain dalam pemahaman dan praktek keagamaan.’ Ini sering dinyatakan juga oleh pengikut Rifaiyah di Baturejo. Pak Nur menyatakan:

Semua kelompok Islam sama, wong Allahnya satu, nabinya satu Nabi Muhammad, agamanya sama Islam, syahadat, shalat, puasa, zakat dan hajinya sama. Begitu juga dengan Rifaiyah. Rifaiyah tidak ada bedanya dengan Islam yang lain dalam pemahaman dan praktek keagamaan. Al-Qur’an dan Hadits-nya sama. Bedanya hanya dalam penafsiran. Teman saya banyak yang di NU, dan MD (sebutan untuk Muhammadiyah, penulis), semua tidak ada masalah.

Sejarah Rifaiyah di Baturejo dirintis sejak tahun 1890 oleh Kyai Abdus Syukur. Beliau berasal dari Dukuh Dungan Kalirejo Sukolilo. Ia kawin dengan Panisah, putri Ranawijaya Pandu dari Baturejo. Ibu Kyai Abdus Sukur bernama Aisyah, dari Ngetilang Grobogan Purwodadi. Atas inisiatif Bu Aisyah, Abdus Syukur, dan isterinya, mondok di Pondok Pesantren Rejosasri, pondok yang mengajarkan kitab-kitab KH Ahmad Rifai yang diasuh oleh KH Abdul Manan, seorang murid KH Abdul Kohhar yang merupakan murid langsung dari KH Ahmad Rifai. Aisyah juga mengangkat anak adiknya Panisah yaitu Karjiman alias Subakir, dan disuruh mondok juga di Rejosari sampai umur 25 tahun. Setelah itu Karjiman pindah pondok ke Purwosari Kendal. Karjiman punya anak 7 orang yaitu Syafarin, Siti Nimaah, Siti Hajar, Ham, Mestiah, Rabiatun, dan Murni. Karjiman merupakan pendiri awal Rifaiyah di

Baturejo, yang setelah meninggal dilanjutkan oleh putera tertuanya, Syafarin, dan sepeninggalnya sampai sekarang diganti oleh Nur, adik dari P. Syafarin.

Rifaiyah di Baturejo sekarang merupakan bagian dari Pimpinan Daerah Rifaiyah Kabupaten Bumi Minotani yang berkantor di Yayasan Pendidikan Islam Rifaiyah Jl Raya Bumi Minotani-Kayen Km 12,2 Sundoluhila Kayen. Dalam Rifaiyah ada organisasi otonom (ortom) bagian perempuan yang bernama Umri singkatan dari Umroh Rifaiyah. Kata Umroh ini diambil dari nama lain putri KH Ahmad Rifai yaitu Umroh alias Fatimah.

Pokok ajaran KH Ahmad Rifai yang terus diperlihara oleh anggota Rifaiyah khususnya di Baturejo. Setidaknya ada tiga (3) hal yang membedakannya dengan kelompok Islam lain yaitu tentang: (1) Rukun Islam, (2) persoalan iman dan dosa besar, (3) pernikahan. Pertama, menurut pemahaman mereka Rukun Islam ada satu yaitu syahadat. Adapun puasa, shalat, zakat dan haji merupakan kesempurnaan atau kewajiban sebagai muslim. Pandangan seperti ini memang berbeda dengan pemahaman kelompok Islam mapan seperti NU atau Muhammadiyah, dan lainnya yang berpandangan bahwa Rukun Islam ada 5 yaitu syahadatain, shalat, puasa, zakat, dan haji. Dalam hal ini Rifaiyah beralasan seperti dikemukakan P Nur:

...kalau diqiaskan (dianalogikan, penulis) dengan rukun shalat, kalau satu saja dari rukun shalat itu ditinggalkan maka shalatnya tidak sah. Karena itu kalau shalat dan lainnya dimasukkan sebagai rukun Islam, (sebagaimana pemahaman Islam mapan, penulis), maka akan mengakibatkan Islamnya seseorang tidak sah. Sebenarnya pandangan kami tentang Rukun Islam ini dibandingkan dengan pandangan kelompok Islam lainnya hanya

sekedar perbedaan lughowi (bahasa dan logika), sementara hakikatnya sama saja yaitu sama-sama memberikan kewajiban bagi muslim untuk melaksanakan shalat, puasa, zakat dan haji.

Dengan pandangan seperti itu berarti orang Islam yang sudah mengucapkan kalimat syahadatain, meskipun ia tidak melaksanakan shalat, puasa, zakat atau haji, maka yang bersangkutan tetap menjadi Islam. Sebab keempat hal tersebut bukan rukun, namun ’kelakuan Islam’ atau ’kewajiban Islam.’ Bagi mereka yang sudah mengucapkan syahadatin namun tidak melaksanakan kewajiban Islam tersebut maka ia berdosa.

Kedua, dalam persoalan iman, dengan mendasarkan diri pada pandangan KH. Ahmad Rifai, Rifaiyah (dalam Djamil, 2001) berpandangan bahwa: (a) iman itu mengandung unsur pembenaran dalam hati, dilanjutkan dengan sikap pasrah dan ketaatan kepada agama dalam bentuk perbuatan. (b) kemaksiatan yang dilakukan seseorang mengakibatkan berkurangnya keimanan dan menjadikan seseorang itu fasik. Dalam hal ini KH. Ahmad Rifai menyatakan bahwa orang yang melakukan dosa besar menjadi kafir,7 namun orang tersebut tidak dianggap halal darahnya, karena masih ada kesempatan untuk membersihkan dirinya melalui taubat. Pandangan seperti ini melahirkan sikap antikolonial Belanda, dan mengabdi kepadanya merupakan perbuatan maksiat dan pembangkangan agama yang dapat mengakibatgkan orang tersebut terjerumus ke dalam dosa besar (c) Ada empat macam kafir yaitu: kafir Yahudi,

7

Pandangan seperti ini mirip dengan pandangan kaum Khawarij, salah satu aliran teologi Islam priode klasik yang muncul pada abad ke-7. Aliran ini menegaskan bahwa orang yang berdosa menjadi kafir dan orang kafir darahnya halal. Selanjutnya lihat dalam Abu Zahrah, t.t.: 105-106.

kafir munafik, kafir kebodohan, dan kafir fasik. Kafir Yahudi adalah orang yang mengimani sebagian dari isi kitab suci karena disesuaikan dengan kemauan nafsunya. Kafir munafik adalah mereka yang mengucapkan syahadatain, namun membenci terhadap ilmu yang bermanfaat dan tidak suka mencegah kemaksiatan. Adapun kafir kebodohan adalah orang bodoh yang tidak merasa`bersalah perbuatan salahnya akibat kebodohannya, dan kafir fasik adalah mukmin yang sering melakukan dosa besar.8

Mengenai dosa besar, ada 10 dosa besar yang menyebabkan kekafiran seperti yang tercantum dalam Kitab Ri’ayatul Himmah yaitu: (a) beraqidah bahwa tidak ada Allah. (b) tidak mempercayai Nabi-nabi Allah. (c) takabur kepada hukum Allah yang sudah ada dalilnya dalam Al-Qur’an dan Hadits seperti shalat, puasa, zakat dan haji. (d) sujud kepada berhala, matahari, api dan makhluk lainnya. (e) tidak percaya kepada sabda Nabi yang jelas sanadnya. (f) percaya bahwa sesuatu mempunyai kekuatan dari luar Allah seperti keris atau orang yang sudah meninggal. (g) meragukan adanya hari Qiyamat. (h) menghalalkan yang haram seperti makan anjing, dan mengharamkan yang halal dari sesuatu yang hukumnya sudah jelas. (i) benci kepada hukum Allah yang sudah jelas keterangannya. (j) menghina dan mengejek Al-Qur’an dengan membuangnya.

Selain itu ada dosa besar yang yang tidak menjadikan kafir tapi fasik misalnya tokoh agama melakukan dosa besar atau tidak

8

Kajian lebih jauh mengenai pengelompokan dan jenis-jenis dosa besar dan kafir dapat dilihat dalam KH. Ahmad Rifai, Kitab Ri’ayatul Himmah Jilid 2.

menjalankan perintah agama. Di sisi lain, kalau dosa kecil dilakukan satu kali dan orang tersebut melaksanakan perintah agama, maka dosa kecil itu akan hilang, jumlahnya ada 21 jenis. Dalam Kitab Ri’ayatul Himmah yang disusun KH.Ahmad Rifaai (t.t.) disebutkan, ke-21 jenis dosa kecil tersebut sebagai berikut: (1) mengumpat orang Islam lainnya, (2) laki-laki melihat dengan nafsu kepada wanita dan sebaliknya, (3) marah-marah ketika berbicara, (4) membukan aurat dengan sengaja, (5) melihat hal-hal yang haran dengan sengaja, (6) mendengarkan suara atau pembicaraan yang jelek (kedosan), (7) mendatangi pertemuan atau tempat yang mempertujukkan hal-hal yang haram atau mungkar, (8) memakai pakaian haram, (9) membicarakan (ngarasani) kejelekan orang mukmin lainnya, (10) tidak saling menyapa dengan orang Islam lainnya dalam waktu 3 hari tanpa adanya udzur syar’i, (11) menjual barang yang jelas haram hukumnya, (12) berbuat maksiyat dengan sengaja, (13) tanpa adanya keadaan darurat, tidak melakukan adzan di masjid, (14) tanpa ada keadaan darurat membiarkan sesuatu najis yang dapat menyebabkan pindah ke tempat/orang lain (15) menjadikan kain sutera sebagai hijab (16) mendengarkan suara gamelan yang haram (17) menjual orang Islam kepada orang kafir yang menguasai negara (Belanda ketika itu), (18) menjual barang dengan tidak menyebutkan atau menyembunyikan cacatnya, (19) menjual barang-barang yang termasuk najis (20) membuang air kecil menghadap kiblat, dan membuang air besar dengan membelakangi kiblat, (21) membuat lukisan khewan.

Ketiga, dalam hal pernikahan sebenarnya tidak ada perbedaan dengan kelompok Islam lainnya. Bedanya, kelompok ini menegaskan bahwa pernikahan yang dilakukan naib yang bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda ketika itu hukumnya tidak sah. Sebab orang yang bekerja sama dengan Belanda digolongkan sebagai pembangkang agama, dan itu dosa besar. Kalau muslim melakukan dosa besar terus menerus maka ia menjadi kafir,

Dokumen terkait