Program ini merupakan kegiatan pemerintah yang ditujukan kepada Wong Sikep karena mereka dimasukkan sebagai komunitas adat terpencil. Adapun yang dimaksud komunitas adat terpencil adalah sekelompok orang atau masyarakat yang hidup dalam kesatuan sosial kecil yang bersifat lokal dan terpencil dan masih terikat pada sumber daya alam dan habitatnya, mereka secara sosial budaya dianggap masih terasing dan terbelakang dibandingkan dengan kelompok masyarakat yang lain. Untuk itu mereka diberdayakan dalam menghadapi perubahan lingkungan dalam arti luas. (Supardian, 2003). Kata ’terpencil’ mempunyai tiga makna yaitu: (1) komunitas yang terpencil secara geografis yang menyebabkan komunitas tersebut terhalang untuk berhubungan dengan wilayah lain dan tidak mampu mengakses berbagai fasilitas modern. (2) komunitas yang tinggal di sebuah wilayah yang terisolasi, namun anggota komunitas itu yang berusaha mengisolasi diri dari pengaruh kebudayaan luar. (3) sebuah komunitas yang wilayahnya relatif tidak terisolasi, namun anggota komunitas tersebut mengisolasi diri dari pengaruh kebudayaan luar. Wong Sikep masuk dalam kategori yang terakhir. Sebab wilayah hunian Wong Sikep mudah dijangkau dan hidup di tengah-tengah kelompok masyarakat yang lain, namun mereka berusaha mempertahankan identitas budayanya.
Program ini ditangani pemerintah pusat sampai tingkat desa. Di tingkat pusat berada di bawah Direktur Pemberdayaan
Komunitas Adat Terpencil dalam Kementerian Sosial RI.6 Sementara pada tingkat pemerintah Kabupaten Bumi Minotani dibentuk Kelompok Kerja (Pokja) yang berada di bawah Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Kesos Permas) yang dituangkan dalam Surat Keputusan Kepala Dinasnya bernomor 467/390/2004 tertanggal 1 April 2004. Pimpinan inti Pokja (ketua, wakil ketua, 1 dan 2, dan sekretaris) terdiri dari pimpinan di Dinas Kesos Permas tersebut. Mereka dibantu oleh sebelas anggota yang terdiri dari pejabat di beberapa instansi pemerintah, seperti Bappeda, Departemen Agama, juga camat Sukolilo dan Kepala Desa Baturejo. Rekrutmen unsur-unsur dari instansi tersebut menunjukkan ruang lingkup peran yang dilakukan untuk memberdayakan Wong Sikep dalam sudut pandang pemerintah. Sementara unsur dari Wong Sikep sendiri tidak masuk dalam bagian Pokja.
Populasi komunitas adat terpencil di Indonesia menurut data Direktur Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil sampai tahun 2003 yang lalu sekitar 287.365 KK atau 1,3 juta jiwa yang tersebar di 26 propinsi, termasuk di Jawa Tengah, yaitu Wong Sikep
6
Upaya penanganan Program Komunitas Adat Terpencil (PKAT) ini didasarkan atas berbagai aturan formal yaitu Surat Keputusan Presiden Nomor 111/1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil; Keputusan Menteri Sosial Nomor 06/PEGHUK/2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil, yang kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam Keputusan Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Nomor 020.A/PS/KPTS/VI/2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil, dan Keputusan Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Nomor 021/PS/KPTS/VI/2002 tentang Pola Kerjasama Pengembangan Sosial Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil Secara Terpadu
yang salah satunya ada di Baturejo Sukolilo Bumi Minotani. Berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh Tim pada tahun 2006 jumlah warga Komunitas Adat Terpencil (KAT), dalam hal ini Wong Sikep sebesar 192 KK atau 692 jiwa, terdiri dari 314 laki-laki dan 378 perempuan.
Tujuan pokok dari program ini dapat disarikan dari ’Arah Kebijakan Teknis dan Strategi Pemberdayaan KAT’ yang dikeluarkan oleh Direktur Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil yaitu, memberdayakan komunitas adat terpencil (Wong Sikep) agar mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dalam berbagai bidang, sehingga mereka mampu menanggapi perubahan sosial budaya dan lingkungan hidupnya. Dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut pemerintah menjabarkannya dalam program kegiatan, kegiatan pemberdayaan itu direncanakan selama 4-5 tahun melalui tiga tahapan yaitu persiapan, pelaksanaan, dan pemantapan kesiapan warga KAT. Tahapan persiapan pemberdayaan meliputi 4 kegiatan yaitu penataan sosial, penjajagan awal, studi kelayakan- etnografis, dan pemantapan. Kegiatan tahapan ini pada intinya berusaha mendata dan memberi bimbingan sosial agar warga KAT siap untuk diberdayakan dan semestinya berlangsung selama satu tahun. Keberhasilan-tidaknya dilihat dari adanya kesiapan warga KAT untuk diberdayakan.
Tahap kedua yaitu pelaksanaan terdiri dari 2 kegiatan pokok yaitu: (1) menentukan tipe penataan perumahan dan pemukiman, apakah bersifat in situ (penataan di tempat aslinya atau ex situ (penataan di lokasi baru). Dalam kasus Wong Sikep masuk
dalam tipe yang pertama. (2) Pelaksanaan pemberdayaan dalam berbagai bidang, intinya berusaha agar warga KAT berubah kebudayaannya, baik pada aspek ide, tindakan, dan fisiknya. Lingkup bidang yang akan diubah dan diberdayakan meliputi:
1. Penataan perumahan dan pemukiman yang mencakup penataan perumahan dan pemukiman, dan penataan prasarana dan sarana sosial, umum serta lingkungan; 2. Penataan administrasi kependudukan, mencakup: pendataan kependudukan, pembuatan KTP, pengenalan dan penataan administrasi pemerintahan. 3. Penataan bidang keagamaan, mencakup: penataan/pembuatan prasarana dan sarana ibadah, pengenalan dan penerapan intensitas aktivitas keagamaan, pembinaan kerukunan kehidupan beragama. 4. Pengenalan dan peningkatan di bidang pendidikan, mencakup: pendidikan dasar, Kejar Paket A dan B, bantuan sarana pendidikan bagi anak-anak warga KAT, bantuan besiswa, pengembangan sistem pengetahuan dan pendidikan lokal. 5. Pelayanan dan peningkatan kesehatan warga, mencakup: pelayanan kesehatan dasar, penataan dan pemeliharaan sanitasi lingkungan, memelihara dan mengembangkan potensi pelayanan/sistem kesehatan lokal. 6. Peningakatan pendapatan, mencakup: pengembangan tanaman pangan, pengembangan tanaman perkebunan, budidaya peternakan, budidaya perikanan, pengelolaan hasil panen, Pengembangan Usaha Kelompok (KUBE), pengenalan dan peningkatan sisten pemasaran hasil, pemanfaatan hasil. 7. Pelayanan Usaha Kesejahteraan Sosial, mencakup: pendampingan sosial, perlindungan atas hak dan kewajiban warga KAT (hak atas tanah, adat, hukum adat, pemeliharaan dan pengembangan budaya lokal, perlindungan hak atas kehidupan yang layak), bantuan/fasilitasi pemberdayaan SDM, usaha dan lingkungan sosial serta jaminan sosial kemasyarakatan, pelayanan sosial mencakup penanganan masalah sosial baik individu keluarga maupun kelompok, pembentukan dan pengembangan organisasi lokal, jaringan kerja dan pranata adat..., penguatan sistem ekonomi..., peningkatan peran kaum perempuan..., pembinaan generasi
muda...,pembinaan bidang-bidang lainnya yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 8. Konsientisasi (Proses Penyadaran), misalnya peningakatan motivasi dalam rangka menumbuhkan kesadaran akan permasalahan yang dihadapi, pentingnya hidup sejahtera serta arah dari program pemberdayaan KAT, pengetahuan, keterampilan serta kreativitas warga... (Direktorat Pemberdayaan KAT, 2003: 7-10). (beberapa titik, koma, dan cara penomoran dari saya, NI)
Bidang pemberdayaan nomor 8 terkait dengan upaya pengubahan pada level ide, sementara pengubahan pada level tindakan dapat dilihat pada bidang pemberdayaan nomor 2-7, dan pengubahan pada level fisik terlihat pada nomor 1. Sebenarnya dalam setiap bidang permberdayaan tersebut mencakup ketiga unsur (tripartit) kebudayaan tersebut, misalnya dalam penataan pemukiman meskipun lebih fokus kepada perubahan fisik, namun dibutuhkan perubahan pada aspek ide (kesadaran), dan tindakan (usaha-usaha yang dilakukan warga KAT untuk menata pemukiman dan perumahannya). Ini nampaknya sejalan dengan pandangan Koentjaraningrat (1989: 204-224) bahwa dalam setiap pranata dari kehidupan manusia dapat dilihat dari ketiga ranah kebudayaan tersebut.
Program KAT yang dilakukan pemerintah kepada Wong Sikep, dan komunitas adat terpencil lainnya, merupakan bagian dari strategi kuasa aparat pemerintah untuk mendominasi dan dijalankan sebagai bagian dari pembangunanisme. Melalui modal simbolik dan ekonomi negara berusaha agar setiap komunitas yang dianggap
terbelakang menjadi ‘maju’. Karena itu ketidakberhasilan program ini, di samping adanya keberhasilannya, dapat ditelusuri lebih jauh dari karakter pembangunan di Indonesia terutama sejak masa Orde Baru. Sebab program KAT merupakan bagian dari proses pembangunan yang ditujukan kepada komunitas yang dianggap terbelakang dengan standar-standar yang ditetapkan pemerintah. Hasil akhirnya adalah supaya komunitas-komunitas yang dianggap terbelakang tersebut berubah kebudayaannya, baik dalam ranah ide dan tindakan, dan fisik. Standar perubahan dari pemerintah, yang bersifat etik, dapat dilihat dari konsep-konsep yang terdapat dalam Program Komunitas Adat Terpencil (PKAT) seperti ’hidup wajar’, ’sejajar dengan warga lain’, dan ’pembinaan’. Konsep hidup secara wajar dan sejajar didasarkan atas indikator-indikator yang telah ditetapkan pemerintah yang sering tidak melibatkan aspirasi ideal secara emik dari pihak komunitas.
Memang ada perubahan strategi dalam PKAT tersebut yaitu dengan munculnya konsep dan kebijakan yang berorientasi kepada kepentingan dan kebutuhan komunitas. Hal ini dapat dilihat dari konsep pemberdayaan, walaupun sering dipasangkan dengan konsep ’pembinaan’. Kecenderungan ini juga dapat dilihat dari strategi yang lain seperti pendekatan kemitraan, partisipasi, dan advokasi sosial (Direktorat Pemberdayaan KAT, 2003: 6-7).7 Secara
7Dalam proses pemberdayaan pihak komunitas diberikan kepercayaan dan peluang untuk mengatasi masalah di lingkungannya secara mandiri. Dalam pendekatan kemitraan antara pemerintah dan komunitas dalam melaksanakan program dilakukan dalam semangat kesetaraan, kebersamaaan, dan kolaborasi. Pendekatan partisipasi mengandaikan bahwa perlu adanya pengembangan prakarsa dan peran
konsepsional strategi program ini lebih berorientasi kepada komunitas, namun dalam kenyataan belum berjalan. Banyak pejabat pemerintah terkait yang masih menggunakan konsep pembinaan dalam setiap pembicaraan, dan Wong Sikep belum pernah dilibatkan sebagaimana menjadi tuntutan dalam keempat strategi program. Wong Sikep terbatas menerima atau menjadi obyek program.
Selain belum terwujudnya perubahan strategi, pada hakikatnya pengelola pembangunan belum bergeser dari paradigma lama sebagai landasan yaitu pembangunan atau modernisasi masyarakat yang lebih berorientasi etik. Sebuah pembangunan yang dalam bahasa Alberto Guerreiro-Ramos (1970) disebut sebagai ‘model keharusan’ (necessary model), sebagai kebalikan dari pembangunan ‘model kemungkinan’ (possibility model).8 Model keharusan didasarkan atas asumsi bahwa kehidupan manusia berjalan melalui proses evolusi yang sekaligus mengandaikan dari komunitas dalam pengambilan keputusan dan melakukan pilihan terbaik untuk peningkatan kesejahteraan sosialnya. Kemudian dalam advokasi sosial, perlu adanya perlindungan terhadap sumber daya komunitas untuk peningkatan harkat-martabat dan mutu hidup komunitas.
8
Teori Kemungkinan menurut Ramos (1970) mempunyai dua ciri utama yaitu (a) pembangunan atau modernitas tidak terdapat di suatu bagian dunia tertentu yang melahirkan masyarakat maju atau masyarakat referensi dan masyarakat tidak maju atau masyarakat pengikut. Sebab teori ini menolak sifat unilinier dalam perubahan manusia. Karena itu pula (b) pembangunan atau modernisasi di setiap masyarakat tidak harus merupakan kontinuitas dari masyarakat di negera-negara maju, setiap negara mempunyai kemungkinannya sendiri, dan karakternya masing- masing. Dengan mendasarkan pada pandangan Ramos tersebut, pembangunan yang berdasarkan teori kemungkinan akan lebih menghargai terhadap komunitas dan kebudayaan lokal.
adanya kontinuitas yang bersifat unilinier. Artinya hanya ada satu hukum keharusan sejarah (determinisme sejarah) perubahan dalam masyarakat. Implikasi dari asumsi ini adalah pembangunan atau modernisasi pada intinya merupakan kelanjutan dari apa yang sudah berlangsung pada masyarakat maju di negara-negara Barat.
Pada tingkat kebijakan, negara mempunyai agenda sendiri untuk memajukan masyarakatnya, membangun komunitas lokal menurut perspektif kebudayaan nasional dan internasional, dan itu dituangkan dalam berbagai program pembangunan seperti PKAT. Walaupun kemudian ada perubahan pada strategi, namun orientasi dasarnya masih berpijak kepada budaya nasional dan internasional, seperti terlihat dalam penentuan indikator dan kriteria keberhasilan. Memang sudah ada pergeseran dalam strategi namun belum terwujud di lapangan. Secara keilmuan, model keharusan, dalam batas-batas tertentu, merupakan kepanjangan tangan dari paradigma positivisme dalam ilmu-ilmu sosial. Satu di antara asumsi epistemiknya adalah nomotetik9 yaitu anggapan bahwa simpulan dan teori dapat digeneralisasikan pada ruang dan waktu lain. Hal ini terutama berimplikasi kepada asumsi dari model keharusan yaitu masyarakat acuan yang maju yang dicapai oleh masyarakat Barat (Eropa dan Amerika utara) merupakan model yang harus dilalui dan menjadi acuan masyarakat berkembang/kurang maju atau pengikut.
9
Asumsi lainnya yaitu bebas nilai dan obyektif, hubungan kausalitas-deterministik, deduktif, apriori. Lihat lebih jauh dalam (Durkheim, 1964; Bohannan dan Glazer, 1988: 235; Koentowijoyo dalam Abdullah dkk, 2003:63-64; Mahzar dalam Heriyanto, 2003: xiv-xv).