AKHLAK PARA SAHABAT DAN KELEBIHANNYA5
B. Umar bin Khattab
1. Islamnya Umar bin Khattab
Umar masuk Islam menurut berita yang sudah makruf diketahui sesudah empat puluh lima orang lelaki dan dua puluh orang perempuan. Artinya jika dihitung-hitung secara gamblang bahwa Umar merupakan orang yang ke enam puluh enam masuk Islam. Dengan bahasa lain Umar masuk Islam sesudah kaum muslimin hijrah ke Abisinia, dan jumlah orang yang hijrah pada waktu itu hampir mencapai sembilan puluh orang lelaki dan perempuan. Demikianlah menurut sebuah pendapat yang umum diketahui. Sesudah mereka hijrah, Umar mendatangi Nabi dan para sahabatnya di Darul Arqam, di Bukit Safa, dan jumlah kaum lelaki dan perempuan empat puluh orang. Dengan demikian juga
DUMMY
bisa kita sebutkan bahwa sesudah Umar masuk Islam ada seratus tiga puluh orang sudah duluan masuk Islam.
Berita yang terkenal sebab-sebab masuk Islamnya Umar adalah karena dia tidak tahan lagi seruan Muhammad dan dia anggap ini sebuah perbuatan memecah belahkan kaum Quraisy. Sehingga dia menyiksa orang-orang yang sudah masuk Islam. Nabi memberikan perintah bahwa siapa yang sudah siap maka berangkatlah untuk hijrah ke Abisinia, mereka pergi secara terpencar-pencar agar tidak mudah diketahui oleh kaum Quraisy. Setelah Umar melihat mereka pergi, ia merasa sangat terharu dan merasa kesepian berpisah dengan mereka. Menurut sumber dari Umm Abdullah binti Abi Hismah menyebutkan bahwa ketika kami berangkat dan datanglah Umar menghadang kami, dan pada waktu itu Umar masih dalam keadaan syirik. Umar telah banyak menyiksa mereka sebelumnya, dan pada hari itu Umar bertanya, jadi juga berangkat wahai Umm Abdullah? Ya, kami akan ke luar dari bumi Allah ini, karena kalian selalu mengganggu kami, menyiksa kami, dan kalian memaksa kami dan kami tidak sanggup lagi menderita karena perbuatan kalian. Kemudian Umar berkata, semoga Allah memberi jalan ke luar kepada kalian dan Allah akan menyertai kalian. Saya lihat Umar begitu terharu melihat kami dan saya belum pernah melihat Umar sebelumnya, demikian pengakuan Umm Abdullah. Kemudian dia pergi, dan saya lihat dia sangat sedih atas kepergian kami. Setelah itu suamiku datang dan saya ceritakan percakapanku dengan Umar. Mungkin Umar akan masuk ke dalam Islam. Kata suaminya, “Umar tidak akan mungkin masuk Islam sebelum keledai Khattab masuk Islam lebih dulu”.
Suatu pagi dengan pedang terhunus di tangannya dia hendak membunuh Muhammad. Namun dalam perjalanan ke Darul Arqam, Umar bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah dan menanyakan, “Umar mau ke mana?” Saya mau mencari Muhammad, dia telah memecahbelahkan kaum Quraisy dan menghancurkan agama nenek moyang kita. Dan saya akan membunuhnya. Nu’aim menjawab,
DUMMY
“Anda menipu diri sendiri wahai Umar. Apakah anda kira Abdul Manaf akan membiarkan anda bebas berkeliaran kemana-mana setelah membunuh Muhammad?” Lebih baik anda pulang dulu ke rumah anda urus dulu keluarga anda, luruskan mereka lebih dahulu. Bereskan dulu adikmu Fathimah binti Khattab dan ipar dan sepupumu Sa’id bin Zaid. Mereka sudah menjadi pengikut Muhammad. Mereka itulah yang harus engkau hadapi pertama kali. Begitu mendengar ucapan Nu’aim bin Abdullah, Umar naik darah dan langsung ke rumah adiknya, Fathimah. Ketika itu di sana ada Khabab bin Al-Arat yang sedang memegang lembaran-lembaran Al-Qur'an dan membacakan surat Thaha. Begitu mereka merasa ada Umar datang, maka Khabab bersembunyi di kamar mereka dan Fathimah menyembunyikan kitab itu.
Setelah masuk ke dalam rumah, Umar meminta adiknya mana lembaran yang dibaca tadi? Fathimah menjawab, “Tidak!” Kata Umar lagi, “saya telah mendengar apa yang engkau baca tadi, dan apakah anda berdua telah menjadi pengikut Muhammad?” Ia kemudian menghantam Sa’id bin Zaid dengan keras dan Fathimah lari membantu suaminya dan ia tidak luput terkena hantaman Umar hingga wajahnya bercucuran darah. Melihat tindakan Umar yang begitu brutal, mereka menjawab, “Ya kami telah memeluk agama Islam, dan kami beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad”.
Melihat darah yang ke luar dari muka adiknya maka Umar merasa menyesal dan menyadari apa yang telah diperbuatnya. “Kemarikan kitab yang saya dengar kalian baca tadi”, katanya. “Akan saya lihat apa yang diajarkan Muhammad!” Fathimah berkata, “Kami khawatir anda akan menyia-nyiakannya”. “Jangan takut”, kata Umar. Lalu ia bersumpah atas nama dewa-dewanya bahwa dia akan mengembalikannya jika ia sudah selesai membacanya. Kemudian Fathimah memberikan kitab tersebut dan Umar membacanya sebagian, dan selanjutnya dikembalikan kepada Fathimah. Lalu Umar berkata: “Sungguh indah dan mulia
DUMMY
sekali kata-kata ini!” Mendengar kata-kata Umar, Khabab yang tadi bersembunyi langsung ke luar dan berkata kepada Umar:
“Umar, demi Allah, saya sangat mengharapkan agar Allah memberi
kehormatan kepada anda dengan ajaran Rasul-Nya ini”. Kemarin saya mendengar Rasulullah berdoa: “Ya Allah, perkuatlah Islam ini dengan Abul Hakam bin Hisyam dan Umar bin Khattab”. Karena itu berhati-hatilah wahai Umar. Kemudian Umar memanggil Khabab, “antarkan saya di mana Muhammad?” Saya akan menemuinya dan masuk Islam. Khabab menjawab, silakan anda pergi ke rumah Arqam bin Abi Arqam di bukit Safa, Muhammad dan para sahabatnya ada di situ. Kemudian Umar mengambil pedangnya dan langsung pergi ke tempat Muhammad.
Umar tiba di tempat Rasulullah dan langsung mengetuk pintu. Rasulullah dan para sahabatnya berada di dalam rumah dan salah seorang sahabat mengintip dari dalam dan melihat Umar di luar bersama dengan pedangnya. Ia kembali ketakutan dan berkata: “Rasulullah, Umar bin Khattab datang dengan membawa pedang”. Tetapi Hamzah bin Abdul Muthalib menyela: “Izinkan dia masuk. Kalau kedatangannya dengan tujuan yang baik, maka kita layani dengan baik, jika kedatangannya bertujuan jahat, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri”. Ketika itu Rasulullah Saw. berkata:
“Izinkan dia masuk”. Sesudah diberi izin Rasulullah berdiri
dan langsung menemui Umar di salah satu ruangan, dan beliau menggenggam bajunya dan manarik kuat-kuat seraya berkata: “Ibn Khattab, apa maksudmu datang kemari?” Rupanya anda tidak akan berhenti sebelum Allah mendatangkan bencana kepada anda”.
“Ya Rasulullah”, kata Umar. “Kehadiran saya di sini adalah
untuk menyatakan keislamanku kepada Allah dan Rasul-Nya serta segala yang datang dari Allah”. Ketika itu Rasulullah bertakbir
Allahu Akbar! Sehingga didengar oleh para sahabatnya yang sudah
dipahami bahwa Umar telah mengucapkan dua kalimah syahadat.8 Setelah Umar masuk Islam, dia mengumumkan keislamannya secara terang-terangan di depan kaum Quraisy. Setelah masuk
DUMMY
Islam, besok paginya dia langsung ke rumah Abu Jahal. Ia mengetuk pintu Abu Jahal. Ia membukakan pintu seraya berkata: “Selamat datang, kemenakanku! Ada apa?” Saya menjawab, “Saya datang untuk memberitahukan kepada anda bahwa saya telah beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya Muhammad dan saya percaya akan apa yang dibawanya”. Ia membanting pintu di depanku, sambil berkata: “Sial kau! Dan engkau membawa berita celaka”. Setelah itu Umar pergi ke Ka’bah untuk menemui seseorang yang agar orang itu mengabarkan berita keislamanku. Lalu dia berjumpa dengan Jamil bin Ma’mar al-Jumahi. Pagi itu setelah berjumpa dengannya dia berkata, apa yang engkau tahu Jamil? Bahwa saya sudah masuk ke dalam agama Islam. Ia tidak membantah dan tidak mengatakan apa-apa di depan Umar tetapi terus mengikutinya. Dan Ketika Jamil sudah berada di depan Ka’bah, dia berteriak, hai kaum Quraisy, Umar sudah menyimpang dari agama leluhurnya! Lalu Umar berkata dari belakangnya, Bohong! Tetapi yang benar bahwa saya sudah masuk agama Islam dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
Suatu hari Umar bertanya kepada Rasulullah Saw., “Ya Rasulullah, bukankah hidup dan mati kita di tangan Allah, bukankah kalau kita mati dalam mempertahankan kebenaran?” Rasulullah menjawab, memang benar wahai Umar, memang hidup dan mati kita dalam kebenaran. “Kalau begitu”, kata Umar lagi, “Mengapa kita sembunyi-sembunyi?” Demi yang mengutus anda, demi kebenaran, kita harus ke luar!” Tak lama kemudian Rasulullah ke luar dalam dua rombongan, yang satu dipimpin oleh Rasulullah yang di dalamnya ada Umar, dan yang satu lagi dipimpin oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Keduanya lambang keperkasaan Islam dan terus ke Ka’bah dan orang-orang musyrik/ kafir Quraisy melihat mereka dengan wajah sendu dan tidak ada yang berani mendekat.
Setelah Umar masuk Islam, maka situasi kota Mekkah agak berubah dan kaum Quraisy semakin terpojok dan kekuatan Islam
DUMMY
bertambah kuat. Islam semakin cemerlang ketika Islam masuk ke dalam dada Umar bin Khattab. Islam disebarkan secara terang-terangan dan kaum Quraisy Mekkah akan berpikir dua kali jika berhadapan dengan Umar dan umat Islam yang lain, karena umat Islam semakin hari semakin bertambah. Satu demi satu pemuda, pedagang, orang kaya, dan pemuka Quraisy masuk Islam dengan penuh kesadaran.