BAHAN DAN METODA
1. Isolasi dan Identifikasi Mikoriza Vesikular Arbuskula
Waktu Dan Tempat Percobaan
Penelitian ini dilakukan di laboratorium Biologi Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Pada bulan September 2006.
Bahan Dan Alat
Bahan yang digunakan yaitu : tanah gambut hemist dari Desa Ajamu Kabupaten Labuhan Batu yang di ambil dari kedalaman 0 – 30 cm, air sebagai bahan pencuci, glukosa 60%, larutan Melzer (Ki 1.5 g, I 0.5 g, Clhoralhidrat 100 g, aquades 22 ml), PVLG (Pva 1.66 g, aquades 10 ml ,As.laktat 10 ml, glyserin 1ml), KOH, Hcl, Asam Laktat, Glyserol, Trypan blue serta bahan kimia lainnya untuk keperluan analisis.
Adapun alat yang digunakan yaitu stereoskop, mikroskop, tabung sentrifuse, sentrifuse, pinset spora, preparat, saringan 710µ m- 425µ m- 125 µ m-53µ m untuk mengisolasi spora, dan cawan petri.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode survei. Hasil survei yang diperolah dianalisis dengan statisitik deskriptif yaitu menyajikan tabel-tabel hasil identifikasi genus-genus mikoriza vesikular arbuskula tingkat kolonisasi mikoriza vesikular arbuskula. Berdasarkan panjang akar yang terkolonisasi, selain ini dilakukan juga perhitungan dengan menggunakan rumus-rumus statistik yang mencakup Frekuensi Mutlak yang menunjukan kehadiran suatu spesies dalam suatu sample dan Frekuensi Relatif yang menunjukan kehadiran suatu spesies dalam suatu populasi (jumlah spora per 100 gr tanah)
Frekuensi Mutlak (FM) = sub petak ditemukannya spesies
X 100% Total spesies
Frekuansi Relatif (FR) = Frekeunsi ditemukannya suatu spesies
X 100% Total frekuensi suatu spesies
% Derajat Infeksi = Jumlah akar terinfeksi
x 100% Jumlah akar seluruhnya
Pelaksanaan Penelitian a. Pengambilan dan persiapan contoh tanah
Tanah gambut diambil dari lokasi desa Ajamu Kabupaten Labuhan Batu, tanah diambil secara komposit pada kedalaman 0 – 30 cm hal ini ditujukan untuk
mendapatkan gambaran umum jumlah mikoriza vesikular arbuskula yang mewakili di suatu areal.
b. Isolasi Spora Mikoriza Vesikular Arbuskula Analisis Spora meliputi :
- Di campurkan contoh tanah sebanyak 50 gr didalam 500 ml air dan diaduk sampai merata, biarkan beberapa menit sampai partikel-partikel besar mengendap
- dituang cairan tadi kedalam saringan yang berukuran 710 µ m, 425 µ m,125 µm 53 µ m secara berturut-turut dari atas ke bawah untuk memisahkan partikel-partikel bahan organik yang berukuran besar - Tanah yang tersisa pada saringan terbawah (53 µm) dipindahkan
kedalam tabung centrifuse sebanyak 20 – 25 ml
- Tanah dan air hasil proses tuang saring yang telah dimasukan ke dalam tabung centrifuse ditambahkan gkukosa 60% sebanyak 3 – 5 ml, lalu disentrifuse selama 5 menit dengan kecepatan 2500 rpm - Natan yang mengapung bersama dengan air disaring kembali pada
saringan 53 µ m dan dibilas
- Hasil saringan dituang ke dalam cawan petri dan diamati di bawah stereoskop dan tahapan ini dilakukan pada sample tanah dengan dua kali ulangan
- Spora yang didapat diamati kembali di mikroskop cahaya agar diketahui jenis spesiesnya
c. Identifikasi Spora Mikoriza Vesikular Arbuskula
Setelah melewati masa penyaringan kemudian spora diidentifikasi dengan meletakkan di preparat kemudian diamati jenisnya.
Tahapan pelaksanaan identifikasi mikoriza vesikular arbuskula ini merupakan bagian lanjutan dari tahapan isolasi. Tahapan identifikasi mikoriza vesikular arbuskula dilakukan dengan menggunakan Manual For The Identification of Mychorhiza Fungi (Schenk, N.C and Y.Perez, 1990).
Tahapan dalam identifikasi mikorixa vesikular arbuskula sebagai berikut :
a. Berdasarkan karakteristik morfologi spora secara utuh (warna, bentuk, dan ukuran)
Karakteristik ini sangat penting dan mudah dijadikan pedoman.
a. Bentuk spora : secara umum bentuk spora adalah globose (bulat globe), sub globose, oval dan oblong
b. Bentuk Hyfa : ada yang silindris, kerucut (conical), bergelombang (swollen) dan bercabang banyak
c. Ukuran Spora : ukuran terkecil dari 10 – 50 µm sampai terbesar 200 – 300 µ m. Ukuran spora Glomus berkisar 20 – 200 µ m sementara Gigaspora dan Scutellospora rata-rata 120 – 300 µ m. bentuk sporocarp dapat mencapai ukuran hingga 800 µ m
d. Warna spora : standar “Colourt Chart” yang digunakan berdasarkan warna CYM (cyan, yellow, magenta) standar pewarnaan yang umum digunakan. Warna-warna spora mikoriza berkisar hyaline, kuning, kuning kehijauan, coklat, coklat kemerahan sampai coklat hitam.
b. Berdasarkan proses perkembangan spora Proses perkembangan spora dapat digolongkan dalam 3 cara :
Dari hyfa, dapat dijumpai pada genus Glomus dan Svhlerocytis. Ujung hyfa membesar sampai menncapai ukuran maksimum dengan membentuk chiamydospore
a. Dari bentuk subsensor yang semakin lama semakin membesar hingga mencapai ukuran maksimum yang akhirnya membentuk spora, dapat dijumpai pada Gigaspora dan Scutellospora. Hanya saja pada Scutellospora terdapat Germination Shield
b. Dari soporiferous saccule dapat dijumpai pada Acaulospora dan Entraspora.
c. berdasarkan struktur sub seluler spore
Istilah dalam struktur sub seluler yang lebih sederhana menurut INVAM adalah dua jenis wall yaitu spore wall dan germinal wall. Teknik ini lebih memudahkan dalam mengidentifikasi karena tidak diperlukan lagi istilah-istilah rumit seperti inner waal, membranes wall, evescent wall, amorphous wall, dan coriaceous wall.
a. Spore Wall : Merupakan lapisan terluar dari spora, yang tumbuh dan berkembang membentuk lapisan yang berbeda dari segi warna, kekuatan, dan ketebalan. Pada Glomus, spore wall merupakan cirri yang mudah dikenali karena spore wall merupakan kelanjutan dari perkembangan substending hyfa. Spore wall terdiri dari beberapa lapis (2 – 4 lapis) biasanya bernotasi L1,L2,L3 dan seterusnya. Lapisan ini dulunya disebut
sebagai unit wall. Pada spore wall sering dijumpai ornamen berupa spines, papillae, pits dan reticulation
b. Germinal Wall : disebut juga inner wall karena kondisiya bervariasi dan sebagai tempat melekatnya germination shield. Lapisan ini tidak berpigmen sehingga sering terabaikan dan tidak terhubung dengan lapisan yang berkembang dari substending. Pada spesies Acaulospora, Entraspora dan Scutellospora lapisan ini dapat terlihat jelas. Germinal wall terdiri dari 2 lapis (l1,L2), kedua lapisan ini berdiri sendiri dan saling mendukung.
d. Berdasarkan Struktur Pre-Germinal
Struktur ini adalah tempat terbentuknya germ tube. Pada famili Glomales ditemukan banyak design dan posisi sedangkan pada Scutellospora disebut germination shield.
e. Reaksi Pewarnaan terhadap Melzers dan lapisan Kulit Spora
Pewarnaan dengan melzer akan memperjelas adanya lapisan kulit spora. Spora mikoriza mempunyai lapisan kulit yang berbeda ketebalannya. Reaksi pewarnaan spora inilah yang digunakan sebagai standarisasi taxonomi lanjutan.
d. Trapping Mikoriza Vesikular Arbuskula
Trapping mikoriza vesikular arbuskular pada tanaman kudzu terdiri dari dua tahap yaitu :