• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Isolasi Dan Identifikasi MVA Dari tanah Gambut

Jenis serta jumlah MVA yang ditemukan pada tanah gambut Ajamu, Labuhan Batu sangat sedikit yaitu hanya mencapai 5 genus dari glomus. Hal ini disebabkan kondisi tanah gambut yang tergenang sehingga menyebabkan populasi MVA sedikit. Seperti halnya yang telah diteliti oleh Pakpahan (2004) yang menyatakan kandungan air yang tinggi pada tanah gambut menyebabkan berkurangnya populasi MVA. Selain itu glomus merupakan jenis spora yang paling dominan pada tanah gambut.

Dari hasil pengamatan beberapa jenis MVA, masing-masing MVA memiliki infektifitas yang berbeda. Derajat infeksi akar tertinggi yaitu pada glomus sp4 dan glomus sp5 yaitu 90 %. Sedangkan derajat infeksi terendah yaitu glomus sp1 sebesar 70 %, hal ini tidak berkorelasi dengan nilai FM dan FR. Walaupun glomus sp1 memiliki sebaran yang banyak tetapi belum tentu memiliki tingkat infektifitas yang tinggi, sebab infeksi MVA dipengaruhi oleh factor lingkungan, cahaya, kelembaban tanah dan pemupukan, hal in sesuai dengan dengan pernyataan Fakuara (1988) bahwa intensitas infeksi MVA dipengaruhi oleh faktor pemupukan, pestisida, intensitas cahaya, musim, kelembaban tanah dan tingakat kerentanan tanaman. Brundrett (1991) juga menjelaskan bahwa intensitas matahari dan suhu sangat berpengaruh terhadap kapasitas derajat infeksi MVA pada akar tanaman.

2. Uji Potensi MVA Pada Tanaman Kedelai

Pada pengamatan berat kering atas tanaman kedelai, hasil sidik ragam menunjukkan pemberian MVA jenis Gigaspora roseae sangat berpengaruh nyata untuk meningkatkan bobot kering atas tanaman yaitu sebesar 8.65 g, dibandingkan dengan kontrol. Hal ini sangat sesuai dengan pernyataan Smith and Read (1997) bahwa keberadaan MVA sangat bermanfaat dalam penyerapan air dan unsur hara terutama fosfor. Keadaan yang sama ditunjukkan pada parameter berat kering bawah tanaman. Pengaruh MVA sangat nyata dalam bobot akar tanaman, hal ini sesuai dengan pernyataan Foth (1994) bahwa hifa MVA pada bagian luar akan berperan bagi tanaman pada perluasan penetrasi akar.

Kurangnya kualitas isolat MVA dari hasil isolasi dibandingkan dengan isolat tanah mineral dikarenakan isolat MVA dari hasil isolasi merupakan isolat yang tidak unggul. Mikoriza yang didapat merupakan berasal dari bawaan angin atau tanah sehingga kompatibilitas yang dihasilkan tidak berimbang dengan isolat tanah mineral yang sudah terbukti kualitasnya.

Pada parameter derajat infeksi akar, pengaruh MVA sangat berpengaruh nyata dibandingkan dengan kontrol. Hal ini diakibatkan sebelum penanaman kedelai tanah gambut diberi kapur dolomit dan diinkubasi selama ± 1 bulan bertujuan untuk menetralkan pH tanah dan juga agar tanah lebih kondusif untuk perkembangan MVA. Sesuai dengan pernyataan Nurlaeny dkk (1996) bahwa pengapuran dapat meningkatkan derajat infeksi akar oleh MVA pada tanaman jagung dan kedelai. Pada data derajat infeksi memiliki sebaran nilai yang bervariasi pada masing-masing perlakuan. Jenis MVA yang diinokulasikan

berbeda maka menyebabkan derajat infeksinya juga berbeda. Pendapat ini juga diterangkan oleh Smith and Read (1997) bahwa derajat infeksi tergantung dari spesies MVA dan jenis tanaman inang.

Serapan P tanaman menunjukkan peningkatan yang cukup dinamis dibandingkan dengan kontrol, yaitu sebesar 24.84 mg. Hal ini sesuai dengan pernyataan Salisbury and Ross (1995) keuntungan MVA bagi tanaman yaitu meningkatkan penyerapan fosfat meskipun penyerapan hara lainnya meningkat pula. Pada Tabel 10 dapat dilihat tidak semua tanaman yang diinokulasikan MVA dapat meningkatkan serap P tanaman, ini terlihat pada perlakuan glomus sp3. Nilai serapan P hanya mencapai 15 mg hal ini berarti kemampuan masing-masing MVA dalam penyerapan hara berbeda.

Dari Tabel 7 tentang berat kering atas tanaman kedelai, nilai paling tinggi terdapat pada perlakuan MVA jenis Gigaspora rosea sebesar 8.65 g, tetapi pada Tabel 10 mengenai serapan P, nilai tertinggi terdapat pada perlakuan glomus sp5 dan tidak berbeda nyata dengan MVA jenis Gigaspora rosea. Disini terlihat adanya perbedaan antara parameter berat kering atas dan serapan P tanaman, hal ini menunjukkan tidak semua perlakuan menghasilkan hasil yang sama pada setiap parameter.Sesuai dengan pernyataan Powell and Bagyaraj (1984) bahwa secara umum MVA yang diinokulasikan ke tanaman memiliki respon yang berbeda-beda pada setiap parameter yang diukur.

Ketersediaan P meningkat seiring dengan pemberian MVA, hal ini menunjukkan aktifitas misellium pada MVA menghasilkan enzim fosfatase yang diperlukan dalam menguraikan P, berjalan dengan aktif. Kisaran ketersedian P

dapat dilihat pada Tabel 11, nilai yang ditunjukkan berdasarkan kemampuan masing-masing MVA dalam menguraikan P tak tersedia menjadi tersedia.

Berdasarkan analisa awal tanah gambut parameter P- tersedia tanah sebesar 26 ppm, tetapi setelah proses penanaman nilai P-tersedia memiliki sebaran yang beeragam. Ada yang menunjukkan peningkatan dan ada juga yang menurun. Peningkatan P pada tanah setelah penanaman diakibatkan oleh peranan MVA dalam pelepasan P dari tanah dan juga pengaruh proses degradasi bahan organik pada tanah gambut yang mana dalam proses ini hara P secara langsung ikut tersedia.

3.Pengaruh Berbagai Dosis Pupuk Rock Fosfat Dan MVA Terhadap Produksi Tanaman Kedelai

Berdasarkan hasil sidik ragam bahwa interaksi pupuk rock fosfat dan MVA berpengaruh sangat nyata pada bobot polong berisi, hal ini tertera pada Lampiranl . sedangkan pada bobot polong hampa (Tabel 13) pemberian pupuk rock fosfat dan MVA dapat menurunkan bobot polong hampa tanaman kedelai serta dapat meningkatkan bobot polong seluruhnya. Sesuai dengan pernyataan Asmah (1995) bahwa pemakaian batuan fosfat dan MVA dapat meningkatkan hasil tanaman dan kesuburan tanah.

Tidak nyatanya interaksi antara pupuk rock fosfat dan MVA terhadap bobot biji dikarenakan masih kurangnya dosis pupuk rock fosfat yang digunakan. Menurut Triana (2000) dosis 400 ton/Ha untuk rock fosfat belum mencukup i untuk menghasilkan polong yang memuaskan.

Pada hasil sidik ragam menyebutkan interaksi pupuk rock fosfat dan MVA berpengaruh nyata pada bobot tajuk dan jumlah polong berisi tetapi tidak nyata

pada parameter jumlah polong kosong, hal ini disebabkan berbedanya respon yang didapat pada masing-masing parameter.

Pemberian 100 % pupuk rock fosfat pada tanaman kedelai tidak mengganggu proses derajat infeksi akar. Ini disebabkan pupuk rock fosfat memiliki daya kelarutan yang rendah sehingga pelepasan P terjadi sangat lambat sehingga tidak akan mengganggu proses infeksi MVA ke akar. Seperti yang disebutkan oleh Asmah (1995) pemberian batuan fosfat dapat meningkatkan derajat infeksi akar oleh MVA.

Dokumen terkait