• Tidak ada hasil yang ditemukan

Isolasi Senyawa F2-7-3-3 Yang Bersifat Anti Kanker dari Ekstrak Etanol Buah Ranti Hitam Buah Ranti Hitam

Dalam dokumen DISERTASI. Oleh : MURNIATY SIMORANGKIR /KIM (Halaman 126-134)

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil

4.2.3 Isolasi Senyawa F2-7-3-3 Yang Bersifat Anti Kanker dari Ekstrak Etanol Buah Ranti Hitam Buah Ranti Hitam

Senyawa alkaloida F2-7-3-3 hasil isolasi berbentuk serbuk putih dan bersifat anti kanker telah diisolasi dari ekstrak etanol buah ranti hitam melalui cara kromatografi

kolom silika gel 60 mesh secara berulang dengan fase gerak : (i) Etil aseatat; CHCl3 -MeOH= 1 :1; CHCl3-MeOH-Air= 5 : 5: 1, (ii) CHCl3-MeOH= 10 :1 ~ 2:1, (iii) CHCl3-MeOH= 10 :1 secara isokratik dan (iv) AS.asetat : EtOH= 1:30 secara isokratik (Tabel 4.7 s/d 4.21 dan Gambar 4.5 s/d 4.17). Proses isolasi senyawa alkaloida yang bersifat bioaktif dari buah ranti hitam melalui kromatografi kolom SiO2 dilakukan dengan berorientasi pada aktivitas dan uji alkaloida isolat. Terhadap fraksi isolat pada setiap tahap kromatografi kolom SiO2 dilakukan dilakukan uji bioaktivitas dan uji alkaloida dengan reagen Dragendorf (Gambar 4.5 s/d 4.17).

Hasil proses isolasi dari buah ranti hitam diperoleh senyawa alkaloida bersifat aktif anti kanker terhadap sel leukimia L1210. Kromatogram hasil KLT senyawa F2-7-3-3 buah ranti hitam menunjukkan satu noda dengan Rf 0,45 (kloroform : metanol = 4:1) yang diduga senyawa murni dan merupakan senyawa alkaloida steroida dari hasil uji Dragendorff (memberikan warna oranye) dan positif dengan uji steroida (warna merah). Senyawa murni alkaloida steroida F2-7-3-3 yang diperoleh berbentuk serbuk putih sebanyak 313 mg (Gambar 4.18 ).

. a b c Gambar 4.18. Kromatogram KLT Senyawa F2-7-3-3(a), Tekstur Senyawa (b) dan

Hasil uji Steroid (c)

Fase diam : Silika gel GF524 Fase gerak : Kloroform : Matanol(4:1)

Deteksi : sinar uv 254nm Penampak bercak : (a kiri) Serium Sulfat 1% dalam H2SO4 10 % ; (a kanan)

Lar.Dragendorf.

Hasil uji antioksidan dengan metode peredaman radikal bebas DPPH dan uji toksisitas dengan metode BSLT terhadap fraksi F2-7-3-1~F2-7-3-5, menunjukkan bahwa fraksi F2-7-3-3 mempunyai aktivitas antioksidan tertinggi dengan hambatan tertinggi dan nilai IC50 terendah (Tabel 4.17) dan sifat toksisitas tertinggi dengan mortalitas tertinggi (Tabel 4.18) dan nilai LC50 terendah yaitu 17,97 ug/L (Gambar 4,13). Menurut Meyer et al. (1982), suatu zat dikatakan aktif atau toksik bila nilai LC50 < 1000 (ppm). Penggunaan larva udang Artemia salina L, untuk uji aktivitas biologi banyak digunakan untuk studi lingkungan, toksisitas dan penapisan senyawa bioaktif di dalam ekstrak tumbuhan (Wahyuono dan Rahman, 1995). Uji bioaktivitas dengan menggunakan larva udang Artemia salina L, memiliki spektrum aktivitas farmakologi, mudah dilakukan, sederhana, cepat, dan tidak memerlukan biaya besar dengan tingkat kepercayaan 95%. Pada metode BSLT, toksisitas senyawa dinyatakan dengan nilai LC50, yaitu konsentrasi senyawa yang memberikan tingkat mortalitas sebesar 50%. Senyawa aktif akan memberikan mortalitas yang tinggi. Semakin kecil nilai LC50 maka semakin besar toksisitasnya. Suatu sampel dikatakan memperlihatkan tosisitas terhadap larva udang Artemia salina L bila mempunyai LC50<1000 µg/ml. Uji BSLT dapat digunakan untuk uji sebagai penenang, toksisitas, insektisida, dan uji awal untuk senyawa sitotoksik atau anti kanker (Meyer et al., 1982). Menurut Meyer et al. (1982), suatu zat dikatakan aktif atau toksik bila nilai LC50<1000 µg/mL. Hal ini menunjukkan bahwa fraksi F2-7-3-3 merupakan senyawa yang mempunyai bioaktivitas tertinggi dibanding fraksi-fraksi lainnya. Berdasarkan hal diatas, dilakukan uji aktivitas antikanker terhadap senyawa F2-7-3-3.

Penentuan dapat atau tidaknya suatu zat dikembangkan sebagai obat anti kanker didasarkan pada sifat toksisitasnya. National Cancer Institute (NCI) telah menetapkan kriteria aktivitas berdasarkan nilai inhibition Concentration 50 (IC50) yaitu konsentrasi yang dibutuhkan untuk menghambat pertumbuhan sel sebesar 50%.

Suatu zat disebut bersifat sitotoksik bila aktivitas terhadap sel uji mempunyai nilai IC50< 20 µg/ml untuk suatu ekstrak, dan nilai IC50< 4 µg/mL untuk senyawa murni

(Suffnes dan Pezzuto, 1991). Hasil penelitian Prima dan Raditya (2012), ekstrak etanol daun Solanum nigrum L dapat menghambat proliferasi sel kanker payudara.

Line et al (2007) juga melaporkan bahwa ekstrak etanolik ranti pada dosis tinggi (2 dan 5 mg/mL) dapat menginduksi apoptosis sel kanker hati HepG2 melalui peningkatan ekspresi p-JNK dan Bax, pelepasan cytochrome c, dan aktivasi caspase.

Kabayan (2009) melaporkan bahwa kandungan metabolit sekunder seperti solasodine pada tanaman Solanum nigrum L mempunyai efek menghilangkan sakit (analgetik), menurunkan panas, antiradang dan antishok. Solamargine dan solasonine mempunyai efek antibakteri, sedangkan solanine sebagai antimitosis. Senyawa-senyawa ini bisa mengatasi gangguan kanker, yakni kanker payudara, leher rahim, lambung dan saluran pernafasan

Penentuan sifat anti kanker suatu senyawa dilakukan uji sifat farmakologi dan aktivitasnya terhadap berbagai sel secara in vitro atau in vivo. Sel yang digunakan antara lain sel P388 (sel limfositis yang berasal dari kanker pada tikus), lini sel L1210

(sel yang diisolasi dari limfa tikus), sel hela (dari kanker leher rahim manusia), sel KB (nasopharynx carsinoma), sel sarcoma 180 A, sel walker 256. Berbagai macam lini sel leukimia lebih sering digunakan untuk mengelusi mekanisme apoptosis. Hal ini terjadi karena obat antikanker maupun reagen sitotoksik lebih efektif terhadap kanker leukimia daripada penyakit kanker lainnya. Contoh lini sel leukimia lainnya yang sering digunakan adalah lini sel promyelocytic HL-60 serta lini sel Jurkat T (Zhang dkk, 2008). Sejak tahun 1955–1975 lembaga kanker nasional Amerika (NCI, National Cancer Institute) menggunakan lini sel L1210 untuk penapisan awal zat anti kanker, zat yang aktif terhadap lini sel L1210, kemudian di uji secara in vivo pada tikus yang diinokulasi dengan tumor. Program penapisan yang dilakukan NCI berhasil menguji aktivitas 40.000 senyawa. Senyawa yang menunjukkan aktivitas terhadap lini sel L1210 diuji lebih lanjut terhadap suatu panel uji sel tumor tikus sebelum dilakukan uji klinik. Selanjutnya NCI menggunakan suatu desain dalam

penapisan awal untuk mendeteksi aktivitas suatu zat antitumor berdasarkan model seleksi dari beberapa tumor padat pada tikus.

Hasil uji antikanker yang telah dilakukan terhadap senyawa F2-7-3-3 dari buah ranti hitam menunjukkan bahwa senyawa F2-7-3-3 dari buah ranti hitam berpotensi sebagai antikanker terhadap sel Leukimia L1210 karena nilai IC50 yang diperoleh sebesar 1,2738µg/mL<4,0 µg/mL (Tabel 4.20 dan Gambar 4.18). Sedangkan nilai LC50 Doxorubisin yang digunakan sebagai kontrol positif uji antikanker adalah sebesar 0,1540 µg/mL (Tabel 4.22). Doxorubisin biasa digunakan sebagai standart uji sel kenker sebagai anti poliferasi (penggandaan sel). Penentuan dapat atau tidaknya suatu zat dikembangkan sebagai obat antikanker didasarkan pada sifat toksisitasnya. NCI (National Cancer Institute) telah menetapkan kriteria aktivitas berdasarkan nilai IC50 yaitu konsentrasi yang dibutuhkan untuk menghambat pertumbuhan sel sebesar 50%. Suatu zat disebut bersifat sitotoksik bila aktivitas terhadap sel uji mempunyai nilai IC50 < 20 µg/ml untuk suatu ekstrak, dan nilai IC50<4µg/mL untuk senyawa murni (Suffnes dan Pezzuto, 1991). Hasil penelitian Prima dan Raditya (2012), ekstrak etanol daun Solanum nigrum L dapat menghambat proliferasi sel kanker payudara. Line et al (2007) juga melaporkan bahwa ekstrak etanolik ranti pada dosis tinggi (2 dan 5 mg/mL) dapat menginduksi apoptosis sel kanker hati HepG2 melalui peningkatan ekspresi p-JNK dan Bax, pelepasan cytochrome c, dan aktivasi caspase. Kabayan (2009) melaporkan bahwa kandungan metabolit sekunder seperti solasodine pada tanaman Solanum nigrum L mempunyai efek menghilangkan sakit (analgetik), menurunkan panas, antiradang dan antishok. Solamargin dan solasonin mempunyai efek antibakteri, sedangkan solanin sebagai antimitosis. Senyawa-senyawa ini bisa mengatasi gangguan kanker, yakni kanker payudara, leher rahim, lambung dan saluran pernafasan. Berbagai macam lini sel leukimia lebih sering digunakan untuk mengelusi mekanisme apoptosis. Hal ini terjadi karena obat-obatan antikanker maupun reagen sitotoksik lebih efektif terhadap kanker leukimia daripada penyakit kanker lainnya (Zhang et al., 2008). Menurut

penelitian yang dilakukan oleh Eagle dan Foley (1958), sel kanker yang dibiakkan dalam kultur jaringan secara in vitro dapat digunakan sebagai alat penapisan awal untuk mendeteksi sifat antitumor suatu zat. Ada korelasi sebesar 70% antara aktivitas antitumor pada kultur jaringan dengan aktivitas pada tikus yang diinokulasi dengan tumor. Lembaga Kanker Nasional Amerika ( NCI, National Cancer Institute) menggunakan lini sel L1210 untuk penapisan awal zat anti kanker, zat – zat yang aktif terhadap lini sel L1210, kemudian di uji secara in vivo pada tikus yang diinokulasi dengan tumor. Penentuan dapat atau tidaknya suatu zat dikembangkan sebagai obat anti kanker didasarkan pada sifat toksisitasnya. NCI telah menetapkan kriteria aktivitas berdasarkan nilai IC50 yaitu konsentrasi yang dibutuhkan untuk menghambat pertumbuhan sel sebesar 50%. Suatu zat disebut bersifat sitotoksik bila aktivitas terhadap sel uji mempunyai nilai IC50<20 µg/ml untuk suatu ekstrak, dan nilai IC50<4 µg/mL untuk senyawa murni (Suffnes dan Pezzuto, 1991). Hasil penelitian ranti hitam yang telah dilakukan, ternyata ekstrak etanol dan senyawa F2-7-3-3 hasil isolasi dari buah tanaman ranti hitam dapat menghambat proliferasi sel kanker leukimia L1210. An Lei et al.,(2006) menunjukkan bahwa potensi antikanker dari Solanum nigrum didasarkan pada kemampuannya untuk mengganggu struktur dan fungsi membran sel tumor, mengganggu sintesis DNA dan RNA, mengubah distribusi siklus sel , menghalangi jalur anti-apoptosis NF-kappaB, mengaktifkan reaksi cascade caspase dan meningkatkan produksi oksida nitrat pada kanker hati.

Hasil review Atanu et al. (2011), tanaman Solanum nigrum Linn yang termasuk familia Solanaceae mempunyai efek farmakologi antara lain bersifat antioksidan, mempunyai efek hepatoprotektif, anti-inflammatori, antikanker dan antimikroba yang disebabkan oleh kandungan alkaloidanya. Mohy-Ud-Din et al., (2010) melaporkan bahwa glikoalkaloida dan aglikonnya yang terdapat pada tanaman Solanum nigrum Complex adalah Solasonin, α-Solamargin, β-Solamargin dan α-solanin) dan aglikonnya (Solasodin dan Solanidin). Gambar Struktur alkaloidaa tersebut disajikan pada Gambar 4.19.

Glikoalkaloida α-Solanin

(http://www.chemicalbook.com/ChemicalProductProperty_EN_CB9696314.htm) diakses tgl 28 Mei 2015 utk nama alpha-solanine

Glikoalkaloida Solasonin

Glikoalkaloida α- Solamargin

Aglikon Solanidin Aglikon Solasodin

Gambar 4.19. Struktur Kimia Glikoalkaloida Solanin, Solasonin, α-Solamargine dan Aglikonnya (Solasodin dan Solanidin)( Mohy-Ud-Din et al.

(2010).

Hasil penelitian Mohy-Ud-Din et al. (2010) menunjukkan bahwa spesies Solanum dapat dibedakan berdasarkan kemotaksonomi kandungan glikoalkaloida dan aglikonnya.

4.2.4. Elusidasi Struktur Senyawa F2-7-3-3 Buah Ranti Hitam (Solanum blumei

Dalam dokumen DISERTASI. Oleh : MURNIATY SIMORANGKIR /KIM (Halaman 126-134)